
Zill melangkah tergesa menuju kamar, dimana ia mengurung Revand dan Sherlin semalaman. Khawatir, jika keduanya kelaparan, karena ini sudah lewat jam sarapan pada umumnya. Belum lagi ia sampai di kamar yang ia tuju, salah satu staff hotel tergopoh-gopoh menghampiri nya.
"Ada apa..?"
Tanya Zill, sembari menghentikan langkahnya.
"Dari tadi ada panggilan dari kamar 157, mereka ingin keluar dari kamar direktur. Apakah anda bisa mengkonfirmasi permintaan mereka tersebut...?"
Zill mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, memeriksa sejenak.
Seharusnya, Sherlin bisa menghubungi ponselku langsung, kenapa dia tidak melakukan nya..? Apa dia sadar dengan apa yang aku lakukan tadi malam...?
Zill membathin.
"Pak direktur..?"
Suara staff hotel tersebut kembali terdengar. Zill tergagap.
"Oke, serahkan urusan itu padaku. Tapi, kenapa penampilan kamu seperti itu..? Sedang tidak bertugas..?"
"Maaf pak direktur, sebenarnya saya sudah selesai bertugas, saya tugas malam, hanya saja saya tidak bisa pulang jika tidak bertemu dan menyampaikan ini langsung dengan direktur, maaf jika saya sudah berganti pakaian bebas,"
Zill manggut manggut. Gara gara pikiran nya kacau, dia jadi banyak mengabaikan beberapa hal.
"Baiklah. Silahkan pulang. Saya akan urus masalah ini..!"
"Terima kasih pak direktur..!"
Salah satu staff hotel itu membungkuk hormat pada Zill, lalu pamit dari hadapan Zill. Sepeninggal staff nya, Zill langsung segera mencapai kamar dimana Sherlin dan Revand berada. Dan membuka kunci pintu nya. Usai membuka kunci, Zill tidak langsung membuka pintu tersebut. Bagaimana pun, ia tidak ingin melihat pemandangan, yang sekira kira membuat hatinya tergores, atau jantung nya berhenti berdenyut. Ia hanya menekan bell pintu kamar tersebut.
Pintu terbuka. Sherlin berdiri dihadapan Zill. Celakanya, wanita itu tidak sempat menutupi bagian lehernya yang memperlihatkan beberapa tanda kepemilikan disana. Beberapa tanda kepemilikan, yang salah satunya, Zill lah yang melakukan nya. Hal ini membuat wajah Zill memerah. Ia segera membuang tatapan nya kearah lain. Perasaan nya jadi berkecamuk.
"Kalian bisa keluar atau tetap tinggal semau kalian sekarang, untuk sarapan, kalian bisa memesan nya, lalu pelayan akan mengantarkan makanan itu kesini, atau kalian bisa langsung kerestoran hotel ini di bawah..!"
"Zill. Apa kita bisa bicara..?"
Sherlin bicara seperti itu dengan nada serius. Lagi lagi, Zill terlihat salah tingkah.
"Maaf, aku sekarang harus kekantor, ada rapat, nanti kita atur waktu aja buat bicara ya, ohya, ada pesan dari Rei, ponselmu nggak bisa dihubungi, dia bilang hari ini kamu libur kerja aja dulu, kalau kamu merasa tubuh kamu masih terasa lemas, kamu bisa menghubungi aku, agar aku bisa meminta dokter khusus untuk memeriksa kalian berdua..!"
Sherlin menarik nafas. Sejujurnya ia gelisah jika tidak membahas ini secepatnya, tentang apa yang ia lakukan tadi malam pada pria ini saat ia di bawah pengaruh obat perangsang tersebut, tapi ia bisa maklum. Zill pasti sangat sibuk sekarang.
"Baiklah. Kita atur waktu lain kali aja, makasih sebelumnya Zill, ponselku mati, batere nya habis maaf,"
Zill mengangguk, tanpa menatap wajah Sherlin. Entah kenapa, setiap melihat hasil karya yang ia lakukan di leher jenjang Sherlin, ia tidak bisa menahan perasaan salah tingkah yang menyerbu nya seketika.
Sial, sabar Zill, kuasai diri kamu..
__ADS_1
Zill membathin, sembari bersiap ingin beranjak dari hadapan Sherlin. Akan tetapi, suara Revand terdengar dan menghentikan gerakan nya.
"Kami akan langsung pulang, terima kasih sebelumnya untuk semua yang anda lakukan, tapi ada yang ingin saya bicarakan dengan anda..!"
Zill menatap wajah Revand yang menyembul dari punggung Sherlin. Dari tatapan pria itu, Zill bisa merasa kan ada aura cemburu tersirat di sana. Seperti nya Revand menyadari apa yang sudah ia perbuat pada istri nya tersebut.
"Baik. Kita atur waktu lain kali, gue harus pamit..!"
"Gue..?"
Revand mengulang kalimat yang tadi diucapkan Zill. Sejak tadi malam gaya bicara pria ini jadi berubah. Biasanya selalu formal, tapi kini berubah jadi santai. Revand diam diam heran juga. Apakah itu berarti, pria ini telah menganggap nya sebagai teman..?
Tidak, sebelum aku mendengar penjelasan kamu tentang apa yang kamu lakukan pada istri ku, aku belum bisa menganggap kamu sebagai teman Zill, meski kamu sudah membantu kami tadi malam..
Revand bicara seperti itu didalam hati, sambil menyahut salam perpisahan dari Zill, yang sudah beranjak pergi dari hadapan mereka berdua.
"Dia aneh Vand.."
Tentu saja Sherlin, karena dia sadar dengan apa yang ia perbuat padamu tadi malam..
Revand menyahuti ucapan istrinya, hanya dalam hati. Sambil lagi lagi menekan bagian leher sang istri, yang ada tanda kepemilikan, hasil perbuatan Zill. Sherlin jadi tersadar..
"Astagaaaaaa, aku bodoh banget sih, bisa bisanya lupa kalo leher ku penuh tanda kepemilikan gini, pantes wajah Zill jadi aneh gitu, ya ampun mau dikemanakan mukaku kalo ketemu dia..!"
Sherlin bergegas menutup pintu kamar hotel, sembari mengucapkan kalimat tersebut.
Sahut Revand cuek. Sherlin memukul pundak suaminya pelan.
"Ini semua gara gara kamu..!"
"Eh, impas ya, kamu juga melakukan hal yang sama padaku,"
Sahut Revand sewot.
"Tapikan aku nggak sadar Vand..!"
Revand menangkup wajah sang istri dengan lembut dan mencondongkan wajah nya kearah wajah sang istri dengan jarak yang begitu dekat.
"Sekarang lakukan hal yang bisa menunjukkan rasa cinta kamu kepada ku, dalam keadaan sadar...!"
Katanya dengan tatapan mata serius.
"Apaan sih. Tadi udah ngelakuin nya dalam keadaan sadar, masih minta bukti juga. Nyebelin kamu..!"
"Boleh dong sedikit meminta sama istri aku sendiri..? Daripada nunggu kamu yang minta..?"
Sherlin menatap wajah suaminya sesaat, ada sinar kecemburuan tersembunyi dimata itu dengan jelas.
Cuma melihat Zill, dia bisa bereaksi begini lagi, aku tuh mencintai kamu Vand, masih cemburuan juga..
__ADS_1
Sherlin membathin. Namun ia mengalah. Sudahlah. Saat ini rumah tangga nya nyaris saja porak poranda akibat perbuatan Gisella. Ia tidak ingin membuat hal yang sekira kira membuat mereka bersiteru lagi. Perlahan wanita itu menjinjitkan kakinya, tubuh Revand yang tinggi membuat ia sedikit kesulitan untuk menjangkau bibir sang suami. Apa yang akan dilakukan Sherlin membuat Revand gemas.
Dipeluknya tubuh mungil sang istri, lalu di l*matnya bibir Sherlin dengan penuh perasaan. Akhirnya, Revand juga yang tidak sabar menunggu. Harus diakui, Revand lebih dua kali merasa penuh gairah jika berhadapan dengan sang istri, atau ini karna ia merasa didominasi rasa cemburunya pada Zill..? Entah lah.
***
Revand sudah berdiri didepan pintu ruangan bosnya. Sejak tadi perasaan nya tidak nyaman. Namun, jika tidak memenuhi panggilan sang bos, sama saja Revand akan mendapat masalah.
"Duduk..!"
Saat Revand sudah melangkah masuk kedalam ruangan bosnya setelah sebelumnya mengetuk pintu, suara pria tersebut dingin saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Mulai hari ini kamu turun jabatan Revand..!"
Revand terperangah mendengar ucapan yang dilontarkan bosnya.
"Maksud bapak..?"
"Kurang jelas...? Mulai sekarang kamu bukan direktur di perusahaan ini lagi, Gisella yang menggantikan kedudukan kamu, kamu tidak saya pecat, karena mengingat dedikasi kamu selama diperusahaan ini, tapi. Saya kecewa dengan kinerja kamu yang sekarang..!"
"Pak. Ini tidak adil. Meskipun saya mungkin sudah mengecewakan bapak, tapi saya tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini, kenapa bapak tiba tiba menurunkan jabatan saya..?"
"Karena kamu tidak mau bekerja sama dengan Gisella untuk menghancurkan reputasi perusahaan lawan kita..!"
"Saya punya alasan kuat untuk hal itu pak. Rumah tangga saya taruhan nya, apa bapak juga akan mengorbankan rumah tangga bapak untuk pekerjaan...?"
"Saya kira, kamu sudah paham bahwa bisnis itu kejam Revand. Disituasi tertentu, kamu harus rela berkorban ketika kamu tidak bisa memberikan dedikasi yang maksimal. Karena kamu tidak bisa, maka kamu harus menerima konsekuensi nya. Kamu turun jabatan. Gisella yang akan mengambil alih kendali semua yang pernah kamu tangani, saya masih memberikan kamu kesempatan, jika kamu mau bekerja sama dengan Gisella, maka kedudukan kamu akan saya pertimbangkan kembali..!"
Revand berdiri dari hadapan bosnya. Wajah nya merah padam. Ia tidak menyangka, seluruh perjuangan nya untuk memajukan perusahaan ini sama sekali tidak dianggap oleh bosnya. Apa salah menjaga pernikahan nya..? Kenapa harus mengorbankan pernikahan nya untuk membuat perusahaan jadi lebih baik..?
"Saya kecewa sama bapak. Selama ini, saya selalu kagum dengan bapak. Tapi ternyata, bapak merubah pendapat saya tentang bapak. Terima kasih untuk semua yang pernah bapak berikan selama saya bekerja disini, dengan segala hormat saya, saya Revand Saputra Kurniawan, mengundurkan diri dari perusahaan ini, surat pengunduran saya akan saya buat segera. Semoga perusahaan ini bisa lebih baik tanpa saya..!"
"Oh, jadi kamu tidak tahu terima kasih Revand..? Diberi kesempatan, kamu tidak tahu diri. Baik. Saya ubah kata kata saya. Saya tidak menurunkan jabatan kamu, tapi saya memecat kamu dengan sangat tidak hormat...!! Keluar kamu dari kantor ini sekarang juga..!!"
Emosi Revand sebenarnya tersulut. Namun percuma saja. Tidak ada gunanya ia meladeni pria dihadapannya ini. Toh, tidak akan merubah apapun. Detik berikutnya, Revand keluar dari ruangan tersebut. Sebelum diusir dua kali oleh bosnya..
Hatinya boleh dikata hancur saat ini. Karir yang susah payah ia bangun dari bawah, hilang begitu saja demi mempertahankan pernikahan nya.
Kamu tega Gisella. Aku sudah tulus percaya bahwa kamu bisa berubah, tapi nyatanya, kamu tega melakukan ini hanya karena cintamu membabi buta padaku..
Berulang kali, Revand mengucapkan kalimat itu didalam hati, sembari kembali masuk kedalam ruangan nya, untuk segera mengemasi barang-barang nya...
Note: Jika satu pintu rezeki tertutup. Percaya lah, akan ada pintu rezeki yang lain yang akan terbuka, selama kita selalu berusaha untuk mencari rezeki yang halal.
👉 Jangan lupa Vote nya ya sahabat, like n klik favo jika suka❤️ Yang selalu stay disini, yang like, yang komen mendukung, yang setia beri vote kalian TERBAIK 💝
👉 Durasi event umum birthday saya di-markas besar GSB masih tersisa 3 hari lagi, yang belum sempat ikutan buruan posting jawaban ya, karena durasi tidak akan diperpanjang, yang sudah berpartisipasi terima kasih ❤️ yang ingin berpartisipasi follow akun FB saya MITHAVIC HIMURA cek status saya untuk rules event.
bersambung.
__ADS_1