
Gisella menghubungi semua orang yang ia bayar untuk membantu rencana nya. Ia tidak mau, rencana nya kali ini gagal. Rencana utamanya saja sudah diporakporandakan oleh Zill. Kini, ia yakin orang orang diluar sibuk membicarakan nya. Bagaimana, jika bosnya tahu hal itu, lalu percaya dengan semua yang diucapkan oleh Zill...? Gisella pasti akan kehilangan kursi direktur yang baru saja dimiliki nya.
Zill keparat..!! Awas lu Zill...!!
Wanita itu tidak henti hentinya memaki didalam hati, sembari bergegas menuju kamar dimana ia menempatkan Revand, yang sedang pingsan didalam.
Diwaktu yang bersamaan, Sherlin yang ditemui oleh salah satu orang suruhan Gisella, merasa curiga karena dari tadi wanita yang menemuinya itu seperti terus menahan nya untuk tidak beranjak. Berbagai obrolan dilakukan, bahkan saat Sherlin ingin menyaksikan langsung kenapa Zill membuat pernyataan membongkar semuanya dihadapan publik, ia juga seperti ditahan.
"Acara didepan seperti nya ada yang merusak, saya harus memeriksa situasi didepan, anda bisa melanjutkan nanti kan obrolan nya..?"
Untuk yang kesekian kali Sherlin bicara seperti itu.
"Tidak ada apa apa didepan, Presdir baru itu hanya mempublikasikan hal yang disembunyikan selama ini, ohya, anda sebegitu inginnya memastikan situasi didepan terkendali, artinya anda hanya memikirkan Presdir Zill saja, membuat kami berfikir, gosip itu benar, apa anda juga menyukai Presdir Zill..?"
Wajah Sherlin memerah mendengar apa yang diucapkan oleh wanita dihadapan nya. Wanita yang mengaku salah satu wartawan, yang meliput tentang menu utama restoran ia dan Rei.
"Jangan bicara sembarangan, acara ini penting untuk sahabat saya, saya dan suami saya berusaha untuk membuat acara ini berjalan dengan baik, karena saya mendengar hal yang tidak seharusnya saya dengar, wajar saya ingin memastikan situasi didepan..!"
Sherlin berusaha untuk memberi penjelasan pada wanita dihadapan nya. Karena jika tidak, hal itu akan jadi berita hot dari wartawan yang ada didepan nya ini. Ketika sang wartawan wanita, ingin merespon ucapan Sherlin, tiba tiba saja ponsel Sherlin di tas yang diletakkan Sherlin diatas meja disudut ruangan itu berbunyi. Karena pakaian nya tidak memiliki saku yang pas untuk ponsel nya, Sherlin meletakan ponselnya ditas kecil yang dibawanya. Wanita itu ingin beranjak untuk meraih tas kecil miliknya.
Namun, sang wartawan wanita itu menahan.
"Mari kita ketempat dimana suami anda berada, kami ingin mewawancarai kalian ditempat yang lebih baik, bisakah anda membantu kami untuk mendapatkan berita yang ingin kami cari. Karena, Presdir Zill, sudah membongkar semua nya, tidak heran dong kami selaku wartawan juga ingin kebenaran berita itu..!"
"Tapi, suami saya bertugas didepan..?"
"Suami anda sudah menunggu ditempat yang disediakan, sekarang ini kami juga ingin mewawancarai direktur Gisella, tapi rekan kami belum menemukan dia..!"
Gisella, lagi lagi, kamu merancang sesuatu untuk membuat orang lain hancur, kamu pasti ingin melakukan hal buruk pada Revand. Aku harus berada didekat Revand sekarang...
Berfikir sampai disitu, Sherlin segera meminta sang wartawan wanita untuk membawanya menuju lokasi dimana Revand berada. Jika sudah, mendengar tentang Gisella, entah kenapa, Sherlin harus serta merta langsung berada didekat suami nya itu. Bagaimana, jika Gisella lagi lagi bisa mengendalikan fikiran Revand...?
Wartawan wanita itu segera meminta Sherlin untuk mengikuti nya. Terlalu tergesa gesa, Sherlin sampai melupakan tas kecil nya, dimana ponsel nya terus saja berbunyi.
"Sherlin angkat dong, kamu dimana..!"
Zill yang setengah berlari untuk mencapai ruang penyimpanan makanan,terus saja berusaha untuk menghubungi Sherlin. Namun sia sia. Ia berbalik menghubungi Rei, menanyakan, apakah Rei sudah menemukan Revand, namun pemuda itu juga mengatakan, Revand belum diketahui dimana keberadaan nya, bahkan dihubungi pun ponsel pria itu mati.
Usai menghubungi Rei, Zill menghubungi kepala keamanan, meminta penjagaan diperketat dua kali lipat, tamu tamu undangan pun di himbau untuk tidak pulang dahulu, Zill meminta ibunya untuk mengulur waktu.
Ketika ia sampai diruang penyimpanan makanan, Zill menemukan Gita yang juga baru tiba disana.
"Kamu cari siapa...?"
Gita bertanya seperti itu pada Zill.
"Apa Sherlin ada didalam...?"
Wajah Gita sedikit berubah mendengar Zill melontarkan pertanyaan tersebut, dengan ekspresi yang terlihat sangat khawatir. Ada perasaan cemburu, merayapi hati gadis itu. Namun, Gita berusaha untuk bersikap profesional.
__ADS_1
"Aku malah cari kak Gisella, ada yang mau aku tanyakan pada dia...!"
Spontan Zill menatap wajah Gita, saat gadis itu mengucapkan kalimat tersebut.
"Kamu ketemu Gisella..? Dimana dia..?"
"Kamu nggak tau kalau dia datang...?"
"Saya tidak mengundang nya, dia menyelusup masuk, menyamar sebagai siapa saya tidak tahu, kamu sudah mendengar hal yang saya sampaikan tadi bukan...?"
"Ah, iya. Tapi, aku nggak nyangka kalo dia datang tanpa diundang, berarti kak Gisella mau menghancurkan acara kamu..?"
"Benar, bantu saya mencari dia, jika kamu menemukan dia, tolong hubungi saya secepatnya, kamu yang sudah bicara dengan dia disini, artinya kamu tahu sosoknya seperti apa..!"
"Kenapa kita nggak mencari nya bersama aja...? Kamu juga mencari dia kan...?"
"Saya harus memastikan Sherlin baik baik saja dulu, baru mencari Gisella..!"
Gita tidak bisa menahan Zill, untuk masuk kedalam ruangan penyimpanan makanan, untuk sesaat, gadis itu hanya bisa terdiam. Berusaha untuk menetralisir perasaan nya, untuk bisa berjiwa besar.
Segitu khawatirnya kamu dengan Sherlin Zill, sampai kamu menomor duakan diri kami sendiri yang di jadikan target kak Gisella. Baik, aku akan membantumu untuk mencari kak Gisella..
Ucap Gita didalam hati, sembari beranjak dari tempat nya. Membiarkan Zill, yang memeriksa ruang penyimpanan makanan, namun pemuda itu hanya menemukan tas kecil milik Sherlin disana, beserta suara ponsel yang terus menerus berbunyi karena ia terus menghubungi wanita tersebut.
"Ponselnya didalam tas, benar juga, tadi dia memakai pakaian tanpa saku, tapi kemana dia.."
Sementara itu, Gisella sudah masuk kedalam kamar dimana Revand ia kurung setelah dibuat pingsan. Pintu kamar langsung dikunci Gisella. Apapun yang terjadi diluar, ia tidak perduli. Malam ini, ia harus bisa memasukan ilmu itu ketubuh Revand.
Tanpa ingin membuang waktu, Gisella naik keatas tempat tidur, dimana tubuh Revand dibaringkan disana. Jari jemari nya dengan cekatan membuka kancing kemeja yang dikenakan Revand. Tidak hanya membuka kemeja milik Revand, Gisella juga membuka pakaian nya sendiri. Nafsunya sudah semakin membara, karena efek ilmu Ki Robius yang ada didalam tubuh nya.
Ketika Gisella ingin melepas celana yang dipakai Revand, tiba tiba saja tubuh itu bereaksi. Bukan hanya bereaksi, tapi juga bergerak. Sadar, Revand seperti nya akan siuman dari pingsannya. Gisella mengucapkan mantra yang diberikan Ki Robius pada nya. Mantra untuk meminta bantuan dari jarak jauh ketika situasi nya sedang genting.
Kedua kelopak mata Revand terbuka. Pria itu mengerenyit menahan sakit, dipunggung yang terkena pukulan tiba tiba tadi. Rasa sakit itu membuat tubuhnya sulit untuk digerakkan. Ketika ia masih berusaha untuk menetralisir perasaan sakit disekujur tubuh nya, terutama bagian punggung nya, ia kaget melihat seorang wanita sedang berada diatasnya, menekan bagian dadanya yang sudah polos, dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ia mengerti.
Revand merasa kan ada perasaan panas merasuki tubuh nya. Rasa panas itu membuat dirinya terbakar, terbakar dan seperti ingin menuntutnya melakukan hal yang memuaskan.
"Gisella..?"
Gisella menekan makin kuat bagian dada Revand, hingga pria itu seperti kesulitan untuk bernafas.
"Aku bukan Gisella sayang, aku Sherlin..!"
Gisella berusaha untuk mengalihkan pikiran dan hati Revand pada sang istri, ia tahu ilmu jarak jauh milik Ki Robius juga sudah merasuki tubuh Revand, namun Revand seperti nya juga melakukan perlawanan.
"Kamu bukan Sherlin. Kamu Gisella..!!!"
Revand berteriak lantang, seiring rasa sakit yang menyerangnya dibagian kepala dan dadanya. Pria itu berusaha untuk membaca ayat kursi agar ilmu itu tidak sepenuhnya masuk memperdayakannya.
"Gisella itu menjebak kamu sayang, dia memukul kamu sampai pingsan, aku disini untuk menyelamatkan kamu. Tatap aku, aku istri kamu, mari kita lakukan hal intim untuk membuat Gisella tidak mempengaruhi pikiran kamu, dia itu jahat...!"
__ADS_1
Gisella mengucapkan kalimat tersebut, seolah olah ia menjelma menjadi Sherlin. Ia sengaja membangkitkan emosi Revand, agar ilmu milik Ki Robius, bisa sepenuhnya masuk kedalam tubuh pria tersebut, dan ia bisa dengan mudah melakukan rencana nya, memasukkan ilmu yang ada ditubuh nya ketubuh Revand, melalui hubungan intim mereka nantinya.
Untuk sesaat Revand berusaha untuk menetralisir perasaan nya, kata kata Sherlin masih berulang di benaknya.
Jangan turuti kebencian kamu pada Gisella Revand, itu yang dicari Gisella, rasa benci kamu itu membuat hati dan fikiran kamu buta, tenangkan fikiran kamu, istighfar, kuasai hati dan fikiran kamu..
Suara Sherlin, bercampur dengan suara suara asing yang mempengaruhi pikiran Revand. Belum lagi aksi gila Gisella yang masih menekan bagian dadanya. Kedua telapak tangan wanita itu begitu panas menyentuh kulit dadanya. Sembari melakukan itu, Gisella juga merunduk, ingin mencium bibir Revand.
Kedua tangan Revand mencengkram erat seprai tempat tidur hingga porak poranda. Semakin ia berusaha melawan, semakin banyak rasa sakit yang diterimanya. Wajah pria itu sudah bermandikan keringat.
Ketika Revand tidak tahan dengan serbuan rasa sakit yang diterimanya, karena ia berusaha untuk melawan kekuatan yang masuk dari dua arah, pria itu menekap kedua telinganya, lalu berteriak sekeras-kerasnya. Bersamaan dengan itu, tubuh Revand melenting keatas, membuat Gisella yang masih menekan bagian dadanya terlempar jatuh kebawah tempat tidur. Revand bangkit. Pria itu menekap kepalanya dengan kedua tangan nya. Berusaha melawan semua bisikan bisikan asing yang ingin mengalahkan suara Sherlin yang ada didalam fikirannya. Suara sang istri, yang menuntun nya untuk bisa menguasai rasa benci dihatinya. Bertarung dengan suara asing yang berusaha untuk membuat ia lupa diri karena rasa benci.
" HENTIKAAAN...!!"
Lagi, Revand berteriak lantang. Hal ini membuat Gisella tercekat. Ia kaget dengan reaksi Revand yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Revand, jangan terus melawan, itu bahaya Vand..!! Ikuti kata aku aja, aku ini istrimu, jangan melawan lagi..!"
Gisella berteriak seperti itu, sembari ingin menghampiri Revand, mencoba untuk menarik Revand yang sempoyongan keatas tempat tidur. Namun Revand berkelit, kedua tangan nya melempar apa saja yang dapat ia jangkau. Kamar itu jadi berantakan, akibat ulah Revand, Revand tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Yang ia ingin cuma satu, bisa membuat suara suara di kepala nya itu hilang, tapi itu tidak mudah, seluruh tubuh nya juga memanas, reaksi ilmu rapalan yang di berikan Gisella saat menekan dadanya juga, membuat darahnya mengalir lebih cepat. Ia terangsang sangat hebat, seolah menenggak obat perangsang bergelas gelas.
"Sherlin, maaf, aku tidak kuat lagi, aku tidak mau berhubungan intim dengan Gisella, tapi aku juga tidak bisa menahan serangan ini terus menerus, ini menyakitkan Sherlin, aku tidak sanggup lagi..!"
Revand beringsut menuju jendela kamar hotel tersebut, tangan nya berusaha membuka jendela, Gisella terbelalak dengan apa yang ingin dilakukan Revand. Ia tidak menyangka, Revand bisa nekat melakukan hal itu.
"Revand, sadar...!! Apa yang ingin kamu lakukan...!!"
Teriaknya keras. Revand hanya menatap sekilas wanita didepan nya yang terkadang berubah menjadi wajah Gisella, tapi bisa juga tiba tiba berubah menjadi wajah Sherlin.
"Aku capek Gisella..!!"
"Aku Sherlin Revand, bukan Gisella..!!"
"DIAM...!!"
Revand membentak dengan suara keras. Ia mengacungkan tangan nya kehadapan wanita dihadapan nya.
"Kamu menginginkan aku Gisella..? Mayat ku pun tidak akan aku serahkan sama kamu ..!!"
Habis berkata begitu, Revand nekat membuka lebar jendela kamar hotel tersebut. Kamar itu berada dilantai 25 hotel milik keluarga besar Mahendradatta. Jika Revand menjatuhkan diri dari jendela tersebut, bisa dipastikan bagaimana rupa tubuhnya nanti dibawah sana....
Note: Cinta tidak akan menyakiti seseorang yang dicintai nya, karena cinta hadir untuk melindungi bukan untuk membuat hancur orang yang dicintai, atau justru membuat orang yang dicintai tersakiti karena cinta yang dipaksakan keinginan nya..
👉 masih setia stay disini..? beri jejak kalian (like,vote,komen mendukung) agar SANG PELAKOR tetap update ❤️ yang setia ngasi jejak kalian warrrrrbiasah 💝😘
👉 jangan lupa baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ❤️
Bersambung
__ADS_1