SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 24. PERINGATAN...!


__ADS_3

Gisella membanting laptop nya keatas tempat tidur. Wajah gadis itu terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak. Rencana yang ia fikir akan berhasil justru gagal lagi. Revand dan sang istri kembali berbaikan. Itu terlihat ketika tadi secara tidak sengaja ia melihat pasangan itu berjalan bersama keluar kamar hotel, dengan ekspresi ceria seperti tidak terjadi apa apa.


Hebat juga cinta mereka. Udah berulang kali gue ganggu pun, mereka tetap balik rukun. Kayaknya emang perlu trik lebih ekstrim lagi supaya gue bisa ngedapatin Revand. ..


Gisella membatin. Lalu segera meraih tas kecilnya, setelah itu keluar kamar.


Awalnya, Gisella ingin mengikuti kemana hari ini Sherlin dan Revand berjalan jalan. Pasangan baru itu masih menikmati sesi bulan madu mereka yang tinggal beberapa hari lagi habis waktunya. Gisella ingin merusak kembali kemesraan dan keromantisan hubungan Revand dan Sherlin. Bagaimana pun, seperti nya Gisella menjilat ludah nya sendiri, karena ia merasa apa yang ia rasakan sekarang benar benar sebuah perasaan cinta.


Gisella benar benar jatuh cinta pada Revand...!


Ketika Gisella sibuk menguntit Sherlin dan Revand, pandangan nya teralihkan oleh sosok Zill. Niat Gisella untuk mengikuti Sherlin dan Revand terhenti. Otaknya bekerja. Sebuah ide berkelebat. Gadis itu tersenyum penuh arti...


Gisella memutar arah, memotong jalur hingga kini ia bisa menghadang langkah pria bernama Zill itu.



"Hallo. Direktur Zill Yura Mahendradatta...!"


Sapa Gisella dengan senyum yang dibuat senatural mungkin. Disapa oleh seseorang dengan memakai bahasa Indonesia, membuat Zill seketika menoleh..



"Siapa...?"


Gisella mengulurkan tangannya kearah pria tersebut. Namun Zill tidak bergeming. Wajah tanpa ekspresi itu menyiratkan bahwa, kehadiran Gisella mengganggu sesi perjalanan nya.


Pria ini ganteng juga, sayang masih lajang, beda sama Revand..."


Gisella membatin sembari menatapi wajah dingin dihadapan nya.


"Kalau mau tau aku siapa, ya kenapa kita nggak kenalan dulu aja, baru kita mampir ke sebuah cafe, terus ngobrol.."


Gisella bicara masih dengan senyum yang bermain dibibir nya, mencoba meluluhkan ekspresi dingin pria dihadapannya.


"Aku tidak punya waktu.."


Tolak Zill sembari ingin berbalik dan bersiap melangkah pergi. Namun spontan Gisella menangkap lengan pria itu tapi dengan spontan juga, Zill menghempaskan nya hingga tubuh Gisella terjajar kebelakang.


Sialan...! Kasar banget sih ni cowok...!


Gisella memaki dalam hati.

__ADS_1


"Jangan menyentuh ku sembarangan. Aku paling tidak suka ada orang yang tidak aku kenal melakukan itu padaku...!"


"Gue kira, Revand pria yang paling jutek kalo disentuh, ternyata pria ini lebih gila dibandingkan Revand..!


"Sorry, tadi itu spontan. Aku cuma mau ngobrol sebentar sama kamu, karena mungkin kita ini sama sama ingin perusahaan kita lebih maju lagi disegala sisi, jadi kenapa kita nggak kecafe sebentar buat ngobrol...?"


Gisella berusaha untuk sabar meskipun ia ingin sekali memaki pria ini karena sudah bersikap kasar padanya. Zill menatap Gisella sesaat.


"Aku tidak tertarik membahas seputar bisnis dengan wanita yang merusak rumah tangga orang lain...!!"


Paras Gisella berubah, ketika Zill mengucapkan kalimat tersebut.


"Apa maksud kamu...?"


"Aku memang tidak kenal sama kamu, tapi aku cukup tau reputasi kamu dibalik karir cemerlang kamu itu.."


Semakin merah padam lah wajah Gisella mendengar ucapan yang berikutnya dikatakan oleh Zill.


"Tapi saya keberatan kalau anda menuding saya wanita seperti itu, anda bahkan tidak tahu saya, tapi anda mempercayai gosip itu begitu saja..?"


Cara bicara Gisella berubah menjadi formal pertanda wanita itu cukup tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh pria berwajah dingin itu dihadapan nya.


Zill memperbaiki posisi nya, menghadap kearah Gisella lalu menatap wajah wanita itu dengan tatapan serius.


Kini Gisella semakin tersudut. Rasa percaya dirinya yang tadi tinggi bisa membuat Zill bicara dengan nya terkikis sirna. Zill tahu cerita masa lalu nya dengan ayahnya...? Padahal setahunya kejadian itu sudah berlalu lama, dan saat itu Zill belum kembali ke Samarinda seperti tahun ini.


Gisella juga tahu Zill tidak pernah berkomunikasi dengan orang tuanya selama tidak kembali ke Samarinda, hal itu tentu saja diketahui oleh Gisella lewat ayah pria ini. Memang, dulu Gisella pernah bermain api dengan ayah Zill. Siapa yang tidak silau dengan apa yang dimiliki ayah Zill...? Setara dengan mantan bosnya, dan juga bos dia dan Revand sekarang.


Pemilik perusahaan batubara yang sukses di pulau Kalimantan..! Sayangnya, ayah Zill mencampakkan nya ketika nyaris saja Gisella berhasil menguasai sedikit aset pria tersebut. Ayah Zill memilih setia kembali pada sang istri, dan memberinya peringatan, untuk tidak mengusiknya lagi sembari memberikan kompensasi yang cukup besar berupa uang dalam jumlah yang banyak.


Hal itu membuat Gisella kesal luar biasa. Tapi, hubungan gelapnya itu tidak terendus media. Semua bukti pun tidak ada karena, ayah Zill bukan mantan bosnya yang suka sekali mengabadikan momen perselingkuhan mereka berdua sebagai koleksi pribadi.


Jika Gisella mengaku pernah berhubungan dengan ayah Zill pun, ia rasa tidak ada yang akan percaya kecuali istri pria itu sendiri. Tapi kenapa Zill bisa tahu..?


"Semua orang punya masalalu kan. Itu mungkin sebagian dari masalalu saya, dan anda tidak berhak untuk menghakimi saya.."


"Yah. Benar. Meskipun itu orang tua ku, aku memang tidak ada hak menghakimi kamu, tapi aku berhak menutup akses komunikasi ku dengan kamu, jadi jangan pernah berharap, aku mau ngobrol satu meja dengan kamu...!!"


Balas Zill sembari ingin memutar tubuh nya lalu segera ingin meninggalkan Gisella. Tapi Gisella menahan nya dengan berkata...


"Kalau ada seorang pria tergoda dengan pelakor, kenapa selalu pelakor yang disalahkan...? Kenapa anda tidak berfikir bahwa ayah anda juga salah...? Atau kesalahan ini juga bermula pada ibu anda yang mungkin tidak bisa membuat ayah anda bahagia...? Anda benar benar berfikir, semua ini salah saya..? Bukan salah ayah anda..?"

__ADS_1


Zill berbalik kembali ketika mendengar ucapan Gisella. Wajahnya mengelam. Sorot matanya menyimpan kemarahan.


"Ayahku memang salah sudah tergoda dengan wanita sepertimu, ibuku mungkin juga salah karena lalai menjaga cinta orang yang dicintai nya, tapi yang lebih bersalah itu kamu Gisella...!! Tidak ada hal yang bisa membenarkan seorang pelakor merusak rumah tangga orang lain...!! Pelakor buat aku itu seperti wanita yang tidak laku. Mengais sisa sisa dari milik wanita lain. Apa bagusnya hal itu...? Kamu bangga..? Kamu masih ingin bahwa kamu tidak berhak untuk disalahkan...?"


Wajah Gisella merah padam. Ucapan Zill tepat menohok hatinya. Menerbitkan amarah disertai perasaan sakit.


"Tapi anda harus ingat satu hal, seharusnya jika memang sudah berkomitmen untuk apa tergoda dengan wanita lain...? Kalian pria semua sama saja. Walau setia, atau alim sekali pun, naluri kalian memang suka mencari selingan jika ada kesempatan, jadi apa saya salah mempergunakan kesempatan itu...? Kalau kalian para pria memang setia, tentu tidak akan pernah tergoda oleh wanita lain...!!"


"DIAM KAMU...!! Kamu pikir, hati manusia yang rapuh disaat tertentu itu kuat...? Pelakor seperti kamu itu ibarat iblis, begitu banyak pria lajang yang bisa kamu kejar, kenapa kamu mengejar pria yang sudah menjadi milik orang lain...? Kamu pikir, kamu akan rela jika milikmu diganggu...?"


"Anda tidak berhak menyebut saya iblis, karena anda tidak tahu saya secara detail...! Anda tidak tahu apa yang saya lewati hingga saya bisa seperti itu. Yang jelas, membuat pria berkomitmen tergoda itu salah satu bukti bahwa, saya lebih hebat dari segi daya tarik dibandingkan wanita yang menjadi pasangan pria tersebut...!!"


Telapak tangan Zill terangkat dan ingin menampar Gisella. Wajah nya merah padam. Emosi menyulut hati Zill. Betapa pongah wanita yang sekarang berdiri dihadapannya ini. Wanita yang pernah membuat rumah tangga orang tua nya nyaris hancur.


Namun, Zill mengurung kan niatnya untuk menampar pipi Gisella. Bagaimana pun, Gisella wanita. Tidak baik buat seorang pria melakukan kekerasan seperti itu meski dengan alasan sedang marah sekalipun.


"Pergi jauh jauh dari hadapanku...! Jangan harap aku bisa bersikap lunak terhadap kamu. Satu lagi, jika kamu bersama suami Sherlin hanya untuk merusak rumah tangga mereka, seperti yang dulu kamu lakukan pada rumah tangga orang tuaku, lebih baik lupakan saja niat kamu itu. Sherlin wanita yang baik. Doa orang baik akan mudah terijabah. Paham ...!!"


"Kamu suka dengan Sherlin...?"


"Jangan gila kamu...! Kamu fikir aku seperti kamu yang suka merusak rumah tangga orang lain...?"


"Tapi Revand tidak suka dengan anda yang bersahabat dengan istrinya, itu artinya dia tahu, ada hal yang patut diwaspadai dari diri anda,"


Sinis suara Gisella saat mengatakan kalimat tersebut.


"Aku hanya bersikap baik pada seseorang yang baik itu saja...!!"


Habis berkata begitu, Zill berbalik dan benar benar melangkah pergi meninggalkan Gisella. Tidak perduli Gisella yang masih berusaha menahan nya. Bagi Zill tidak ada celah meskipun sebagai teman kepada wanita yang pernah membuat rumah tangga orang tua nya nyaris hancur.


Zill tidak sebaik itu untuk bersikap welcome pada wanita seperti itu. Ia paling tidak suka seorang wanita yang menghalalkan segala cara untuk tujuan tertentu apapun alasan nya.


Sementara itu Gisella benar benar dibuat kesal bukan main dengan anak mantan pacar gelapnya dimasalalu ini.


Lu fikir lu itu hebat Zill...? Lu juga pria, kalau gue buat lu jadi suka dengan Sherlin lu mau apa ..? Andai lu udah married mungkin gue akan membungkam mulut sombong lu itu dengan merusak rumah tangga lu. Sayang, lu masih lajang, tapi tenang aja, perlakuan lu hari ini, membuat gue jadi benar benar ingin menghancurkan lu dan Sherlin sekalian. Lu akan menyesal sudah berurusan dengan gue ..


Hati Gisella sibuk bicara seperti itu sembari mengepalkan kedua tangannya, walaupun tubuh tinggi Zill sudah lenyap dari pandangan nya...


Note: Jangan pernah menginginkan apa yang bukan hak kita. Karena jika itu kita lakukan, kita akan kehilangan nurani kita sebagai manusia. Manusia bisa disebut manusia, jika ia bisa memanusiakan manusia.


👉 SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA BUAT MUSLIM DISELURUH DUNIA. JADIKAN SEJARAH IDUL ADHA SEBAGAI TOLAK UKUR KITA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DIRI KITA DIHADAPAN ALLAH SWT.

__ADS_1


👉 JANGAN LUPA LIKE VOTE KLIK FAVO BERI RATE JIKA SUKA YA💝 BUAT KALIAN YANG SETIA BACA KARYA SAYA INI, TERIMA KASIH YANG TIDAK TERHINGGA DARI SAYA💖💝 YANG GAK SUKA, SAYA GAK MAKSA BUAT BACA KARYA SAYA😊 KARENA SAYA HANYA INGIN KARYA SAYA DIBACA OLEH PEMBACA YANG BENAR BENAR SUKA KARYA SAYA💝


BERSAMBUNG


__ADS_2