Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 09


__ADS_3

Pukul 22.20


"Sudah semalam ini, pasti mereka menungguku."


Sembari berjalan dan sudah sampai tepat di depan pintu rumah.


TOK... TOK... TOK....


Pintu itu terbuka setelah beberapa ketukan.


"Kakak! Rena, Kakak sudah pulang!"


Seorang gadis kecil berlari menuju ke arahku dengan cepat.


"Kakak, kenapa lama sekali pulang?"


Tanpa sadar air mataku menetes membasahi kedua pipiku dan langsung memeluk mereka berdua, aku tak menyangka masih bisa melihat mereka lagi dalam keadaan sehat dan aku pikir kemarin adalah hari terakhir bagiku.


"Kakak, kenapa kamu menangis?" Tanya Rena yang kebingungan dan disambung Reno yang bertanya:


"Iya, kenapa Kakak menangis?"


Aku segera menghapus air mataku dan berkata:


"Tidak, ini hanya... mata Kakak sakit, jadi keluar terus air matanya, hehe."


"Rena, Reno, makanannya sudah si--"


Seorang gadis muncul dari dapur memanggil kedua Adikku, saat dia melihatku seketika mulutnya ditutup dengan kedua tangannya dan air mata membasahi kedua pipinya. Tiba-tiba dia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.


"Syukurlah..! Hiks... kamu baik-baik saja...!"


Ya, dia adalah Susan, aku meminta tolong ke dia bahwa kalau aku sudah tidak ada dia yang akan mengurus Rena dan Reno. Memang benar sungguh menyusahkan baginya, tapi tidak ada orang lain yang bisa kuminta tolong selain dia.


"Maaf...," kataku sembari membalas pelukannya.


Setelah beberapa saat, Susan melepaskan pelukannya dan menunjukkan ekspresi marah.


"Ya! Kamu memang pantas meminta maaf kepadaku, bisa-bisanya mengambil tindakan sebodoh itu. Kalau kamu melakukan hal bodoh lagi, kali ini aku tidak akan pernah memaafkanmu, bodoh!"


Aku hanya tersenyum melihat dia memarahiku seperti biasa.


"Ma... tidak, terima kasih."

__ADS_1


"Kalian kenapa sih menangis-nangis gitu?" Tanya Rena yang semakin kebingungan.


"Hehe tidak..., oh iya, makanannya sudah siap, ayo pergi sana cepat."


"Sudah siap, hore... kalah begitu aku duluan," Reno yang duluan lari meninggalkan kami menuju ke dapur.


"Eh! Awas ya, kalau kamu menyentuh pudingku." Rena yang menyusulnya ke dapur.


Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua dan aku sangat bersyukur kematian orang tua kami tidak mengganggu kesehariannya, walau sedih rasanya jika mereka sudah tidak ada di sini menemani kami.


"Hei, kenapa diam saja, ayo kemari cepat nanti tidak ada bagianmu, loh."


"Nanti aku akan ganti uangmu."


"Kamu ini bicara apa sih, kan besok ulang tahun si kembar, jadi aku harus membuat mereka nyaman dan agar besoknya mereka bangun dalam keadaan ceria."


"Terima kasih," kataku yang hanya tersenyum kecil.


"Kenapa masih diam di sana, ayo cepat...," balas Susan sembari menarik aku ikut ke dapur.


Setelah beberapa saat makan malam selesai dan si kembar sudah tidur di kamarnya.


"Apa mereka sudah tidur?"


"Kalau begitu, aku pulang ya."


"Aku temani...."


"Tidak usah, lagi pula jaraknya dekat dan kamu sudah tau itu."


"Walaupun dekat, tapi tidak baik seorang wanita pulang tengah malam sendirian."


Susan hanya menghela napas dan berkata:


"Baiklah, terserah kamu."


Aku pun mengantar dia pulang ke apartemennya, sesaat di perjalanan kami berbincang-bincang mengenai pekerjaan kami sebagai orang yang sudah Terbangkitkan.


Kata Susan dia memutuskan pensiun dari pekerjaannya sebagai Protector Rank-A, bisa diketahui insiden yang menimpa kami itu sangat membekas di hati dan akan menjadi mimpi buruk berkepanjangan.


Walau semuanya telah terlupakan, tapi itu tetap saja menjadi kenangan samar-samar yang terburuk.


Aku memutuskan berbohong ke asosiasi biro keamanan, ini kulakukan demi menjaga timbulnya trauma yang kami alami yang selamat dari insiden mengerikan itu.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku. Tapi, apa kamu yakin akan tetap menjadi Venandi? Kan masih ada pekerjaan aman dengan gaji yang cukup."


"Tidak, aku akan tetap dengan pekerjaan ini, sebab aku tidak kuliah dan apalagi biaya hidup sekarang mahal-mahal, dan lagi... aku tidak punya bakat apa pun. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


"Setelah lulus kuliah nanti, aku sudah memutuskan menjadi guru di sekolah dasar."


"Memang profesi yang sangat cocok untukmu."


Dia hanya meresponnya dengan wajah malu dan setelah itu kami berpisah. Saat di perjalanan pulang jendela informasi tiba-tiba muncul di hadapanku.


[Quest harian:


- Push-up (0/100)


- Sit-up (0/100)


- Squat (0/100)


- Berlari sejauh 10 kilometer (0 Km)


- Bermeditasi selama 1 jam (0,00,00)


...Batas waktu...


...12.00.00...


PERINGATAN!


Akan ada hukuman sebagai balasannya jika seluruh quest belum terselesaikan hingga waktu habis.]


"Heh... apa-apaan quest ini, orang baru keluar dari rumah sakit sudah disuruh melalukan hal berat. Tapi, aku sudah bertekad untuk menjadi yang teratas dan tidak ada salahnya juga melakukan olahraga sekarang. Apa lagi sudah jam setengah satu, aku masih punya banyak waktu hingga berburu lagi. Sekalian juga... mengungkapkan kejanggalan kematian dari orang tuaku."


Sembari mengeluarkan benda yang ada di saku bajunya, sebuah kalung batu berwarna ungu dengan corak berbintik-bintik putih dan aku menatapnya sejenak.


"Aku sudah putuskan, aku akan benar-benar akan menjadi kuat yang akan melampaui semua orang yang ada di Bumi ini."


...•••...


...•••...


...•••...


"HEHEHE.... akhirnya, aku punya pewaris yang menarik."

__ADS_1


__ADS_2