Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 62


__ADS_3

Di dalam dunia Purgatory, lantai 8....


"Eh?"


Aku sangat terkejut saat masuk ke sini, tidak seperti lantai sebelumnya yang mana dikelilingi api, tapi tempat lantai ini hanya ada tanah kering dan bongkahan batu biasa di mana-mana.


Karena terasa aneh di sini, aku berjalan ke depan ke arah gerbang itu dan membuat bingung juga, aku tidak merasakan kehadiran penjaga gerbangnya.


Dun....


"...?"


Tiba-tiba gerbangnya terbuka dengan sendirinya, seolah-olah ada yang membukanya dari dalam.


"Padahal aku belum menemukan siapa pun di sini, tapi kenapa itu terbuka sendiri, apa ini jebakan?"


Keraguan melanda dan berharap di depan sana hanya sebuah tipu daya untuk menarik mangsanya jatuh ke dalam lubang.


Boom! Boom!


Seketika terdengar sebuah langkah yang sangat berat dan membuat tempat ini sedikit terguncang.


"Suaranya berasal dari sana."


Aku memandang ke arah gerbang itu dan suara itu berasal dari sana, getarannya semakin jelas dan suara gemuruh itu semakin terdengar.


"Apa! Bukankah mereka...."


Aku sangat terkejut saat melihatnya, empat monster keluar dari gerbang itu dan membuatku lebih terkejut lagi yaitu mereka adalah penjaga lantai sebelumnya yang aku kalahkan.


[Boss


Lust - The seven deadly sins


Level : ???]


Tampilan bak wanita malam yang suka menggoda siapa pun, dengan tubuh seksi nan mulus siapa pun pasti akan terpikat akan pesonanya. Di tangannya ada sebuah cambuk berduri yang sudah melingkar di salah satu tangannya.


[Boss


Gluttony - The seven deadly sins


Level : ???]


Tampan seperti seseorang mengalami busung lapar, sebenarnya dia adalah salah satu penjaga yang paling membuatku jijik, sebab dia bisa memakan apa pun yang bisa dimakannya. Tapi itu semua keahliannya dengan dukungan sihir miliknya membuatnya sangat terampil dalam pertarungan, dengan sebuah tongkat sihir di tangannya dia bisa membuat sebuah sihir pertahanan yang sangat hebat.


[Boss


Greed - The seven deadly sins


Level : ???]


Dia terlihat seperti seorang kakek-kakek dengan tubuh membungkuk terus menerus, walau penampilan seperti itu dia tidak mudah di dekati. Didukung dengan skill hebatnya yang mampu mengendalikan Mana di sekitarnya dan mengubahnya menjadi sebuah duplikat jiwa.


Senjata miliknya sebuah peti mati yang sering dia gendong di tangannya dan senjata itu sangat membantu skill miliknya.


[Boss


Sloth - The seven deadly sins


Level : ???]


Sesuai namanya tentu saja tampan pun begitu juga dengan mata panda melingkar di sekitar matanya. Bukan berarti dia lemah dari yang lainnya, justru dia paling berbahaya di antara mereka berempat, sebab skill miliknya yang mampu melancarkan serangan ilusi yang menjadi kenyataan. Didukung dengan senjata berupa aksesoris yaitu sebuah cincin dengan batu berwarna ungu muda di tengahnya.


Setelah terkejut melihat mereka membuatku semakin waspada terhadap mereka berempat, sebab kekuatan mereka sudah meningkat drastis dari sebelumnya.


"Tunggu dulu, ada yang aneh...."


Aku langsung maju ke arah mereka, sesaat maju ke sana tiba-tiba mereka berempat menyingkir dari gerbang itu dan langsung berlutut ke arahku dengan pandangan ke arah bawah tanah.


"Sudah kuduga, kalian semua pasti yang asli."


Aku teringat saat berada di dunia Hades, saat aku tiba-tiba berada di tempat Arane yang asli selagi melawan tiruannya waktu itu.


Karena tidak merasakan permusuhan dari mereka, aku pun langsung masuk ke gerbang itu.


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 9....


Sesaat sudah berada di dalam lantai delapan, aku pun langsung maju ke arah gerbang dan merasa tidak ada perlu dikhawatirkan lagi.


Dun....


Tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan aku sudah tahu apa yang akan terjadi dengan selanjutnya.


Boom! Boom!


Terdengar suara langkah berat dari balik gerbang itu, setelah beberapa langkah berat itu aku melihat semua penjaga sebelumnya aku kalahkan.


Aku langsung maju ke arah mereka dan terlihat ada lima penjaga yang keluar dari sana. Saat tepat berada di depan mereka, seketika mereka semua menyingkir dari gerbang itu dan langsung berlutut kepadaku.


[Boss


Ignis - Gatekeeper of hell


Level : ???]


[Boss


Ventus - Gatekeeper of hell


Level : ???]


Mereka berdua adalah kedua penjaga gerbang utama, mereka sangat kuat dan kerja samanya sangat akurat. Dengan perpaduan antara sihir api dan angin, membuat kombo itu sangat mematikan jika seseorang melawannya. Aku mengalahkan mereka, tapi... apa bisa dibilang ini kemenanganku? Aku tak ingat sama sekali saat mengalahkan mereka berdua.


[Boss


Wrath - The seven deadly sins


Level : ???]


Dia seperti seorang iblis api dengan dua tanduk tajam di atas kepalanya serta seluruh tubuhnya dikelilingi bara api menyala. Tentu saja serangan utama dia api, tapi skala kekuatan dan panas api miliknya berapa kelvin dan itu sangat mengerikan. Dia memiliki sebuah senjata berupa Orb kecil dengan jumlah 7 buah, dia bisa melemparkan Orb-Orb itu kepada target dan terjadi sebuah ledakan mematikan dan sangat panas.

__ADS_1


[Boss


Envy - The seven deadly sins


Level : ???]


Seorang prajurit es itulah menurutku saat pertama kali melihatnya, dengan armor es serta tombak es juga membuat dia terlihat menakutkan. Dengan kekuatan es serta kecepatannya siapa pun pasti akan kewalahan menghadapi dirinya.


[Boss


Pride - The seven deadly sins


Level : ???]


Dan yang terakhir dari penjaga ini sekaligus yang paling terkuat di antara mereka. Dia lawan paling merepotkan bagiku, dengan tampilan seperti seorang bangsawan dan sebuah pedang di tangannya. Kemampuan bertarungnya sangatlah hebat dan mungkin aku sangat beruntung bisa menang waktu itu, sebab dia tidak mengeluarkan sedikit pun skill miliknya saat melawannya.


Karena sama seperti sebelumnya, aku langsung ke arah gerbang itu, tapi langkahku terhenti karena Pride mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Tuan, tolong terimalah," ucap Pride.


"Ternyata dia bisa berbicara."


Aku melihat di kedua tangannya itu ada dua buah item yang sama seperti sebelumnya saat aku mengalahkan para penjaga itu.


Tampak bertanya aku langsung mengambilnya dan memasukkannya ke dalam inventori, setelah itu aku langsung melanjutkan perjalananku.


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 10....


"Tempat ini...."


Aku sedikit terpaku melihatnya, sebab tempat ini jauh lebih megah dari sebelumnya. Di depan sana ada sebuah singgasana yang mewah, aku langsung maju ke sana.


Dur....


Tiba-tiba muncul sebuah altar kecil dengan beberapa bentuk lubang menyerupai, aku sudah tahu ini dan aku langsung memunculkan semua item itu dan memasukkannya ke sana.


Dur...


Setelah memberikan semuanya, altar itu masuk ke dalam tanah lagi dan muncul sebuah notifikasi dari sistem.


[Kamu telah berhasil menyelesaikan ujian ini dan reward akan segera diberikan kepadamu.]


[- 100 poin setiap stats


- Kenaikan level "Ruler of soul"


- Mendapatkan dua skill partner.]


"Skill partner... sangat bagus buat Norum yang mulai kesulitan bertarung dengan skill miliknya sekarang."


[Skill partner :


- Duri kematian (Aktif) (Level 1)


Sang partner memunculkan sebuah pertahanan kuat di sekitar tubuhnya dengan memunculkan duri-duri di sekitar tubuhnya dengan mengubah seluruh bulu di tubuhnya. Meningkatkan pertahanan serangan fisik sebesar 30% dan pertahanan serangan sihir sebesar 20%.


Penggunaan 50 poin Mana satu kali pakai.


- Lolongan kematian (Aktif) (Level 1)


Serangan sihir yang dilancarkan dari mulutnya dengan mengumpulkan energi sihir sebanyak mungkin dan melepaskannya pada terget diinginkan, dengan memberikan kerusakan sebesar 50% dan memberikan efek stun sebanyak 1 detik pada target yang mendengarkan lolongannya dengan jarak radius 7 meter.


Penggunaan 50 poin Mana satu kali pakai.


Cool down : 12 menit.]


"Wow, dengan skill seperti ini pasti membuat Norum semakin terbantu dalam pertarungannya."


Setelah melihat skill baru Norum, aku langsung membuka statusku dan status Norum juga.


[Nama : Arkha Peteng


Job : Heredis of Death (Ruler of Soul : Tingkat 2)


Umur : 20 tahun


Level : 65


Jenis kelamin : laki-laki


STR : 528 (+50%)   INT : 421 (+50%)


AGI : 426 (+50%)    DEX : 385 (+50%)


VIT : 490 (+50%)    LUK : 383 (+50%)


HP : 22900/22900 (+50%)


MP : 4210/4210 (+50%)


SP : 0.]


[Nama : Norum


Evolusi : Blaowolf


Level : 75


Jenis kelamin : Jantan


STR : 607     INT : 502


AGI : 515      DEX : 455


VIT : 548      LUK : 472


HP : 34700/ 34700


MP : 5120/ 5120.]


"Dengan status seperti ini, apa aku sudah sangat kuat?" Sembari menatap kedua tanganku dan mengepalkannya. "Tidak! Ini belum cukup!"

__ADS_1


Aku memandang status itu dan aku tidak mendapatkan EXP sama sekali saat mengalahkan setiap monster di sini, ini sama seperti di dunia sebelumnya di mana level-ku tidak meningkat sama sekali kecuali membasmi monster di luar.


"Karena ini ujian, maka sistem menonaktifkan juga sistem perkembangan."


Setelah melihat-melihat status, pandanganku langsung tertuju di sebuah singgasana di depan sana.


[Tunjukkan dominasimu di dunia ini dan tunjukkan semua pencapaianmu.]


Sebuah kalimat yang sudah akrab di mataku, aku langsung berjalan ke arah singgasana itu. Sesaat sudah sampai di sana, aku diam sejenak memandang kursi megah itu dan entah kenapa ini membuatku sulit merasakan sesuatu lagi.


Setelah berdiri memandangi sejenak, aku langsung duduk di sana.


Dun... Dun... Dun....


Terdengar sebuah dentuman keras di mana-mana dan itu tidak menggangguku sama sekali sejak duduk di sini.


Seluruh energi Mana ini berkumpul pada satu tempat dan masuk ke dalam tubuh pria muda ini dengan tenang, terasa aura yang sangat kuat darinya sehingga udara di sekitarnya terasa sangat sesak.


Dun!


Seketika puncak menara Purgatory bercahaya dan semua yang berada di luar menara ini melihat cahaya itu menjulang tinggi ke atas langit.


"Hehe! Ternyata pilihanmu sangat tepat, bahwa anak itu memang 'Sang cahaya harapan besar,'" ucap Malik yang berada dekat jurang neraka itu.


Dun!


Setelah beberapa dentuman terdengar akhirnya berhenti, pemuda yang duduk di sana menampakkan sebuah tatapan kosong. Dirinya telah tenggelam kesadaran yang sulit digapai makhluk hidup mana pun.


...•••...


...•••...


...•••...


"Hah? Tempat ini...."


Tiba-tiba aku berada di tempat yang sangat gelap dan tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apa aku akan melihat memori dari Heredis sebelumnya?"


Bing...!


Sebuah cahaya yang sangat terang tiba-tiba muncul dan menerangi kegelapan ini. Aku langsung berada di sebuah tempat yang sangat asing lagi, terlihat tempat ini dipenuhi padang rumput yang sangat luas.


Wussh....


Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut dan rumput-rumput ini menari dengan tenang dibantu oleh angin.


"Di mana ini?"


Aku berjalan menyusuri rumput hijau ini dan entah kenapa setiap berjalan aku merasakan angin bertiup ini, padahal aku hanyalah sebuah arwah yang tidak bisa menyentuh atau merasakan apa pun di sini.


"Hiat...!"


Aku mendengar teriakan seseorang dan mengikuti arah suara itu.


"Apa dia pendahuluku?"


Aku melihat seorang pria muda perkiraan usianya sama sepertiku. Dia sedang mengayunkan sebuah pedang kayu, tampak dia sedang berlatih.


"Hiat...!"


Swosh..! Swosh...!


Dia mengayunkan terus pedang itu tanpa jeda dan aku sedikit kagum melihat keuletannya itu. Dia berlatih dengan pedang kayu yang sudah sangat usang dan tampak sudah mau patah kapan saja.


"Dia benar-benar sangat tekun."


Aku melihat kedua tangannya sudah dibaluk perban dan perban itu sangat kotor.


"Arthur..! Hei, Arthur...!"


Kami berdua langsung berbalik ke arah suara itu dan tampak seorang pria muda dengan pakaian mewahnya, dia berlari dan mendatangi pemuda pedang kayu ini.


"Seperti biasa, kamu pasti akan berlatih di sini."


Tampak pemuda berpakaian bak bangsawan ini terengah-engah dan langsung bersandar di sebuah pohon.


"Uther, kamu ini seorang pangeran dan tidak pantas duduk seperti itu, dan... apa kamu bolos dari latihanmu lagi?"


"Ayolah... Art, aku bosan menghabiskan waktuku di balik rumah besar itu dan lagi...." Langsung bangkit dari sandarannya. "Bagaimana kalau kita mengunjungi Merlin?"


Mendengar itu membuat pria pedang kayu itu menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kamu jangan mengunjungi dia, kamu tahu kan seberapa marah dia jika diganggu ketika melakukan penelitiannya."


"Justru itulah aku ingin ke sana, dia menghabiskan waktunya selama ini di laboratorium miliknya dan jarang sekali keluar, kecuali jika ada yang ingin ditelitinya di luar sana. Aku ingin mengajak kalian bersenang-senang, tidak ada salahnya bersantai seharian, kan."


Pria pedang kayu itu mengernyitkan alisnya dan langsung memukul kepala pangeran itu dengan tangan dibaluk perban kotor.


Jitak!


"Aw..! Kenapa kamu memukulku?" Sembari memegang kepalanya yang dipukul itu.


"Aku ini kesatria yang mengawalmu setiap saat, walau kerajaan terlihat sangat damai tapi... kapan saja musuh akan muncul dan menyerang, maka dari itu...." Sembari mengangkat pedangnya dan mengarahkannya kepada sang pangerang. "Tugasmu sebagai calon pemimpin, yaitu belajar dan berlatih dengan serius!"


Mendengar itu membuat sang pangerang terbelalak dan dia langsung menghela napas dan berkata:


"Baik..., baik...." Sembari menyingkirkan pedang kayu itu di hadapannya dengan tangannya. "Bagaimana kalau kita bertanding di tempat latihan."


"Oke, aku terima. Setelah latihan, kita kunjungi Merlin dan mengganggu dia."


Pangerang tertawa dan langsung merangkul kesatria pelindungnya ini, terlihat hubungan mereka sangat dekat seperti saudara kandung.


Mereka berdua langsung berjalan meninggalkan padang rumput luas ini dan terlihat jauh di depan sana aku melihat sebuah istana yang sangat besar.


"Arthur, Uther dan Merlin, bukankah nama-nama itu cerita legenda dari King Arthur. Tapi... yang kulihat sangat berbeda dari yang diceritakan."


Bing...!


"Egh...!"


Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan dan membuat pandanganku terhalang.

__ADS_1


__ADS_2