Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 84


__ADS_3

Orang-orang asosiasi yang mengawalku masuk untuk menuju ke sebuah ruangan isolasi, mereka merasakan amarahku yang mendalam ketika berada di tempat ini dan itu membuat mereka tidak nyaman berada di sampingku.


Aku masuk ke ruangan itu dan hanya ada dua buah kursi dan satu meja. Yah... ini tempat interogasi pada umumnya dan hanya satu lampu sebagai penerang, tapi sekitarku tak ada sama sekali kaca satu sisi yang biasanya aku lihat di film-film. Dan hanya empat buah kamera setiap sisinya dan sebuah speaker suara yang digantung.


"Tolong Anda duduk dulu, kami akan memanggil seseorang untuk menanyakan beberapa hal pada Anda."


Aku hanya mengangguk saja dan orang itu keluar dari ruangan ini dan hanya menyisakan diriku saja.


"Tempat ini benar-benar hebat, aku bisa merasakan setiap dindingnya dilapisi dengan Kristal Mana yang sudah dihaluskan."


Melihat tempat ini, tampaknya tempat interogasi bukanlah tempat yang cukup aman bagi siapa pun.


Klek!


Aku berbalik ke arah pintu dan tampak seorang pria yang sangat tidak asing bagiku.


"Aku tak menyangka kamulah orang yang dimaksud orang-orangku, Tuan Arkha Peteng."


"Adam Buana."


Dialah orang yang memperingatiku mengenai kedatangan Gading Himar di rumah sakit waktu itu. Dan siapa sangka, ia orang yang akan menginterogasi diriku.


"Padahal sejak pertama kali bertemu, aku sudah punya firasat mengenai dirimu," ucap Adam sembari duduk di kursi yang berlawanan denganku. "Berdasarkan laporan dari bawahanku, bahwa kamu mendapatkan 'Berkah' lagi semenjak insiden dungeon parasite itu. Apa itu benar?"


"Iya."


Dia hanya menanyakan pertanyaan mendasar dan tidak mengintimidasi sama sekali. Mungkin karena aku masih muda, anak yang berusia 20 tahun. Jadi ada sedikit keringanan dalam hal tekanan mental, walau di dalam diri anak muda tersebut ada monster yang bersemayam yang keluar kapan saja, jika mentalnya terganggu.


"Baiklah, kita sudahi sampai sini saja. Minggu depan kamu harus melakukan pembaruan statusmu di sini."


"Eh? Hanya itu? Pertanyaannya sangat manusiawi sekali."


Adam hanya tersenyum mendengar itu dan berkata :


"Aku tahu kamu bukan orang yang seperti itu. Karena aku bisa merasakan sedikit aura hidup seseorang selama ia hidup. Dan kamu bukanlah orang yang jahat, tapi...," Arya menghentikan perkataannya sejenak dan menatap mataku dengan seksama. "Ada kemarahan yang terpendam selama ini aku rasakan dari sorot matamu. Apa yang membuatmu kesal begitu?"


"Apa ini bagian dari interogasi?"


"Yah... sebenarnya masih ada satu pertanyaan yang ingin kuberikan. Tapi aku tidak yakin kamu akan menjawabnya."


"Tanyakan saja, selama itu tidak menyinggungku."


"Baiklah, pertanyaan yang kutanyakan adalah... apa alasanmu menyembunyikan kekuatanmu selama ini?"


Aku hanya diam saja mendengar pertanyaannya itu, karena ini akan sangat menyakitkan jika diingat lagi.


"Aku tahu alasannya pasti sangat kuat, tapi kamu akan dicap sebagai kriminal jika menyembunyikan kekuatan sebesar ini dengan status Venandi-mu yang sekarang," lanjut Adam.


"Itu memang benar bahwa aku punya alasan kuat menyembunyikannya, salah satunya yaitu... kalian, asosiasi biro keamanan," jawabku dengan sorot mata yang penuh kebencian.


Adam mendengar itu sangat terkejut dan ia juga merasakan kemarahan mendalam dari dalam diriku. Lalu ia kembali bertanya apa alasanku membenci orang-orang dari asosiasi.


"Dua tahun lalu..."


"Dua tahun lalu?"


"Iya, dua tahun lalu, apa kalian mengingat insiden itu?"


Adam mendengar itu langsung menelan ludahnya, ia berusaha mengingat insiden apa yang membuat pemuda ini sangat benci dengan asosiasi.


"Tampaknya kamu tidak ingat," lanjutku.


"Maaf mengecewakanmu, tapi tolong jelaskan secara rinci apa yang terjadi dua tahun lalu?"


Mendengar itu membuat kemarahanku hampir lepas saat mengingat kejadian itu, di mana merekalah yang membuatku harus berbohon setiap saat ke Adik-Adikku.


"Di jalan tol... kecelakaan tunggal... korban bernama... Angga Pranadipa dan Ayu Pranadipa. Mereka berdua adalah orang tuaku."


"Pranadipa... jangan-jangan...!" Pikir Adam yang sangat terkejut. "Aku ingat insiden itu, tapi apa alasan anak ini membenci kami?"


Adam berusaha mencari tahu informasi yang selama ini yang terjadi semenjak kejadian itu, tapi ia tak menemukan satu pun petunjuk alasan anak muda sangat marah, dan informasi yang dia terima hanya sebuah laporan kecelakaan tunggal yang korbannya pasangan suami-istri.


"Sekarang... di mana kalian menyimpannya...!"


"Maaf? Apa maksudmu?"


Brak! Wush...!


Tiba-tiba energi mengerikan terpancarkan dari tubuh pemuda ini dan itu membuat ruangan ini bergetar sedemikan rupa. Adam yang merasakan tekanan dari dekat membuatnya semakin tidak nyaman terus berada di sini.


"Energi ini... sama seperti dengan Master. Tapi energi dia...," pikir Adam yang panik di dalam hatinya. "Sangatlah mencekam dan dingin."


"Aku bilang...! Di mana kalian menyimpan tubuh kedua orang tuaku...!!"


Wussh...!!


Energi yang dipancarkan pemuda semakin menjadi dan mulai sulit dikontrol lagi.


"Apa maksudmu kami menyimpan tubuh kedua tubuh kedua orang tuamu...! Kami tak pernah melakukan hal seperti menyimpan tubuh manusia!"


Adam berusaha menyakinkan pemuda yang amarahnya mulai dipuncak, tapi pemuda ini mendengar itu semakin marah dan siap menghancurkan apa yang ada di sini.


Set!


Suk! Bush! Dur...!


"Aagh..!!"


Dengan tekanan yang sangat kuat dan gerakan yang sangat cepat, pemuda ini berhasil meraih kerah Adam dan mendorongnya sekuat mungkin ke arah dinding hingg dinding tersebut hancur.


"Apa-apaan kekuatan ini! Bahkan dinding yang dilapisi Kristal Mana kualitas tinggi bisa hancur seketika!" Pikir Adam yang berusaha lepas dari genggaman pemuda ini.


...•••...


Di suatu tempat ruang monitor pengawasan...


"Ini gawat! Kita harus mengirim tim untuk membantu ketua!"


Mereka melihat melalui monitor yang tampak ketua mereka sedang terpojok oleh seorang pemuda yang memiliki energi sihir besar itu. Tampak orang-orang dari ruang monitor panik, tapi tampak seorang pria paruh baya memasuki ruangan ini.


"Master! Kita harus membantu ketua...!"


"Tidak perlu."

__ADS_1


"Apa! Ta-tapi Master...!"


"Jangan khawatir, Adam akan baik-baik saja. Sekarang kita harus melihat apa yang membuat anak ini sangat marah."


Mereka hanya bisa diam saja dan mengikuti perintah atasannya.


...•••...


"Aagh..! Tuan... kumohon..! Tenangkan dirimu dulu!"


Brak!


Pemuda itu semakin menekan Adam ke arah dinding itu sampai membuat napasnya sedikit sesak.


Pip... Pip...


"...?!"


Pemuda itu tiba-tiba meneskan air matanya dan tampak tatapannya selain ada amarah besar, tapi ada juga kesedihan mendalam yang sulit dibendung.


"Kumohon... hiks! Kembalik... kembalikan orang tua kami...!"


Secara perlahan, pemuda itu melepaskan kerah Adam dan menurunkannya. Adam yang sedikit ketakutan saat merasakan kekuatan hebat itu, tapi rasa takutnya kalah sama rasa simpatinya terhadap anak muda yang bersedih ini.


"Kumohon tenangkan dulu dirimu. Dua tahun lalu, kami memang menerima laporan kecelakaan tunggal itu dan kami mengira itu pasti ulah dari Hidden dungeon yang sudah retak sehingga ada monster muncul menyebabkan kecelakaan, tapi saat kami ke sana dan mengecek lokasi, kami tidak menemukan dungeon sama sekali dan hanya menemukan sebuah mobil yang terbakar jatuh ke jurang, ditambah lagi... kami tidak menemukan adanya mayat di dalam sana dan sekitar lokasi kecelakaan."


Mendengar itu, membuat pemuda itu tersadar seketika dan langsung menatap pria di hadapannya.


"Maksud Anda... tidak mungkin orang tuaku tidak ada di sana. Padahal kalian telah mengambil mereka!"


"Mengambil? Kami tak pernah melakukan hal itu, saat ada insiden seperti itu terjadi, kami akan mengirim mereka langsung ke keluarga terdekat mereka. Apa maksudmu jika asosiasi mengambil tubuh kedua orang tuamu?"


"Saat itu... beberapa orang datang ke rumahku dengan mobilnya dan memperlihatkan mayat orang tuaku padaku, mereka mengatakan bahwa orang tuaku mengalami kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa mereka. Aku ingat jelas, mereka membawa kedua orang tua kami saat itu dan mereka berkata bahwa ini untuk autopsi dan mereka langsung pergi begitu saja setelah itu, aku melihat jelas pakaian mereka kenakan dan sama persis apa yang kamu kenakan sekarang juga..."


Adam dan orang-orang di ruang monitor sangat terkejut mendengar itu, mereka tak menyangka jik ada anggota mereka melakukan hal itu.


"Setelah satu tahun kecelakaan itu, aku berusaha menghubungi orang yang membawa orang tuaku tapi tak ada respon sama sekali. Akhirnya aku memutuskan datang langsung ke sini dan meminta kejelasan mereka mengenai orang tuaku, tapi mereka justru meminta bayaran yang mahal untuk mengurus hal ini katanya. Saat itu aku tak berpikir panjang dan langsung menghabiskan separuh tabungan orang tuaku untuk membayarnya, aku melakukan itu asal mereka kembali kepada kami. Setelah aku melaporkan hal ini, orang-orang kalian datang ke rumahku dan katanya mereka meminta bayaran lagi untuk melanjutkan investagasi lagi, aku langsung menuruti mereka saja dan memberikan mereka uang lagi. Tabungan hidup kami habis dan sampai-sampai aku harus menjual berbagai benda yang ada di rumah dan bekerja serabutan tanpa henti. Satu bulan berlalu, aku kembali ke sini dan mencari orang-orang yang mengurus investigasi orang tuaku, saat aku tanya orang di sini bahwa orang yang aku cari tidak ada sama sekali di sini dan mereka tak ada di sini juga sebulan yang lalu..."


Mendengar itu membuat hati mereka semakin teriris dan tak menyangka jika ada orang-orang sampah seperti ini di antara mereka. Master yang mendengar ini hanya menunjukkan ekspresi masam dengan mengepal.


"Aku sangat syok, hidup kami sudah menderita semenjak orang tua kami tidak ada dan sekarang tubuh mereka pun juga belum kembali pada kami. Mau sampai kapan aku harus berbohon ke Adik-Adikku... hiks! Makam yang kami kunjungi setiap saat hanyalah makam yang tak berisi sama sekali, aku selalu membawa mereka untuk berziarah ke makam kosong itu, hatiku sangat sakit setiap kali mereka berdoa di depan makam yang tak ada sama sekali orang tua kami di dalamnya. Kumohon... hiks...! Kembalikan orang tua kami...!"


Adam hanya terdiam dengan rasa simpati besarnya, ia tak menyangka jika anak muda ini harus memikul beban seberat ini di pundaknya.


Adam meminta pemuda menenangkan dirinya dulu dan memintanya memberitahukan secara detail ciri-ciri mereka.


"Kamu bilang mereka memakai pakaian seperti kami. Apa kamu mengingat ciri-ciri mereka, seperti wajah atau bekas luka dan sebagainya yang paling menonjol dari mereka?"


Pemuda ini berusaha mengingat ciri-ciri orang-orang yang menipunya, tapi sayang... ia tidak ingat jelas mengenai orang-orang yang membawa orang tuanya. Katanya mereka berpenampilan seperti para asosiasi itu lengkap dengan kacamata hitam mereka dan masker hitam menuntup mulutnya.


"Tapi... aku ingat jelas orang yang menipuku saat datang ke sini waktu itu. Dia orangnya sangat gemuk dan kira-kira dia berusia 40 tahun-an lebih."


Adam saat mendengar ciri-ciri orang yang menipu pemuda ini saat di sini dua tahun lalu. Tampak ia sangat marah saat mengetahui siapa pria bajingan itu.


"Ternyata dia pelakunya! Jangan harap kamu bisa lolos dariku, brengsek!" Pikir Adam yang sangat marah di dalam hatinya. "Bagaimana kamu bisa yakin jika orang tuamu benar-benar sudah mati? Padahal mayat yang diperlihatkan padamu mungkin itu bukan orang tuamu, mungkin orang lain. Sebab ada kemampuan yang bisa mengubah bentuk suatu objek sesuai keinginannya."


"Soal itu... aku sudah sangat yakin mereka sudah tiada sepenuhnya. Sebab, orang yang membawakan kalung Ibuku sudah mengatakan semuanya. Mungkin kamu tidak percaya, tapi aku orangnya sangat sensitif terhadap hawa kejujuran dan kebohongan yang diucapkan seseorang kepadaku. Dan orang itu mengatakan semuanya dengan jujur, dari awal juga aku sudah tahu kamu jujur padaku tadi, tapi karena termakan amarah yang membuatku menutup mata sementara."


"Apa orang itu berpakaian seperti kami juga?"


Pemuda itu mengatakan bahwa saat ini dirinya sangat bingung dan apa tujuan mereka melakukan hal ini kepada dirinya dan keluarganya. Mengambil dan memberikan petunjuk, ini sudah seperti permainan puzzle yang harus ia pecahkan setiap kepingannya. Dan ia mengatakan bahwa ciri-ciri pria yang membawa kalung kepadanya, kulitnya hitam kecoklatan dan tingginya hampir mencapai dua meter, serta ada pun bekas luka mendalam di bagian lehernya.


"Siapa pria itu? Aku tidak pernah mendengar tentangnya dalam asosiasi," pikir Adam.


Hening sejenak dan mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah beberapa saat, Adam membuka suaranya dan berkata :


"Kamu jangan khawatir. Orang yang menipumu dan mengambil uangmu, aku sudah tahu siapa dia. Lalu soal orang-orang yang membawa orang tuamu, kami akan mencari tahu tentang mereka. Mungkin kamu bisa memberitahukan beberapa hal kepadaku, sehingga itu bisa menjadi petunjuk bagi kami untuk menyelidikinya."


Pemuda itu memberitahukan semuanya dan pekerjaan orang tuanya. Bahwa orang tuanya mulai jarang pulang semenjak mereka melakukan sebuah tugas mengenai sebuah proyek penelitian.


"Proyek penelitian apa yang mereka lakukan?"


"Aku tidak tahu jenis penelitian seperti apa itu, tapi aku tahu nama dari penelitiannya yaitu 'Stigma'. Dan saat Ibu ikut dalam penelitian itu, Ayah juga dipanggil untuk tugas menjaga sebuah lab. Setelah mereka menerima tugas itu, mereka jarang pulang dan hanya datang ke rumah tiga kali seminggu..."


Adam mendengar itu dengan seksama dan tampaknya ia mulai mengerti dari tombak masalah ini. Sebab selama ini, dia dan timnya menyelidiki kasus-kasus hilangnya orang-orang dan terdapat juga kasus di mana, banyak orang yang mati secara misterius tanpa luka sedikit pun.


"Apa orang tua anak ini terlibat dengan 'organisasi itu'? Sebab sudah ada banyak laporan buruk semenjak organisasi ini ada. Tapi kami bahkan asosiasi biro keamanan tak bisa menyentuh mereka sedikit pun, karena organisasi ini didirikan oleh pemerintahan itu sendiri."


"Ada pun perusahaan yang mensponsori penelitian mereka kalau tidak salah namanya... PT. Hanjar," lanjut pemuda itu.


"PT. Hanjar...!" Tampak Adan kaget mendengar nama perusahaan itu. "Bukankah itu perusahaan yang menjual potion dan senjata sihir kualitas terbaik di negara ini. Dan kalau gak salah juga, perusahaan ini sangat dekat dengan organisasi itu. Walau tampaknya hubungan mereka di luar seperti bisnis antar perusahaan. Tapi firasatku mengatakan, bahwa ada hal lain di balik hubungan mereka."


Setelah mendengar semua ini, tampaknya Adam telah berhasil menemukan salah satu benang merah yang belum putus di antara benang merah yang sudah kusut dan putus itu.


"Terima kasih sudah memberitahukan informasi itu dan jangan khawatir, kami akan menemukan orang tuamu."


Pemuda itu hanya mengangguk saja dan ia berjalan menuju pintu ruangan ini dengan perasaan yang masih berat itu.


"Anak yang malang. Tapi berkatmu, kami akhirnya memiliki secercah harapan dalam kasus ini."


...•••...


Di sisi lain...


"Menarik," kata pak tua itu. "Suruh Adam datang ke ruangan segera."


"Baik!"


Pak tua itu langsung berjalan meninggalkan ruangan ini.


...•••...


...•••...


Tok... Tok... Tok...


"Ya masuklah!"


Krek! Ngek...


Seorang pria masuk dan tampaknya ia tahu apa yang ingin dibahas oleh masternya ini.


"Tampaknya Anda sudah tahu masalah ini," ucap Adam.

__ADS_1


"Ya, tak kusangka anak semudah itu harus menghadapi cobaan seberat ini. Bagaimana dengan orang yang memeras anak itu?"


"Aku sudah menyuruh beberapa tim untuk menangkap dirinya, aku takut ia akan kabur dan menyewa beberapa orang yang berperingkat tinggi."


"Keputusanmu itu sudah sangat tepat. Aku sangat benci dengan orang-orang yang memanfaatkan harta anak yatim piatu!"


Adam tahu betul rasa kesal ini dan begitu pun dengan dirinya yang sangat kesal terhadap orang seperti itu.


"Mengenai masalah anak itu dan kasus yang terjadi belakangan ini, tampaknya sangat berkaitan."


"Itu benar Master, aku merasa orang tua anak muda ini telah terlibat dengan mereka."


"Angga Pranadipa dan Ayu Pranadipa ya..."


"Apa Anda mengenal orang tuanya?"


"Aku mengenalnya cukup baik, terutama si Angga ini. Aku tak menyangka jika anak adopsinya ini sudah tumbuh sehebat itu."


Master Agus menatap bawahannya dengan seksama dan tampaknya ia tahu apa yang di pikirkan Adam.


"Mengenai pria yang disebutkan oleh anak muda itu, dia benar-benar ada di asosiasi," lanjut master Agus.


"Aku tak pernah mendengar tentang dirinya semenjak aku berada di asosiasi."


"Itu sangat wajar, sebab nama orang itu adalah Moris Manuel. Ia salah satu ketua keamanan di asosiasi dan informasi mengenai dirinya, aku telah menutupnya dengan rapat."


"Maaf kalau lancang, kenapa keberadaan dirinya harus dirahasiakan?"


"Aku merahsiakan dirinya, demi melindungi orang-orang terdekatnya, tapi ini juga demi melindungi keamanan kita semua. Sebab, Moris memiliki kemampuan yang disebut, 'Spirit Guardian'."


"Spirit Guardian?"


"Itu salah kemampaun atau lebih tepatnya berkah dari Dewa secara langsung, dia bukan seorang Inkarnasi tapi berkat kemampuannya itu telah menyamai para Inkarnasi lainnya. Moris sendiri mengatakan bahwa ia bertemu dengan seseorang dengan pakaian menyerupai Dewa Kematian, dan orang itu menganugerahkan seorang penjaga untuk melindungi dirinya."


"Jadi ini alasan Anda merahasiakan data mengenai dirinya."


"Ya, karena kita tidak tahu ada banyak orang dengan kemampuan misteriusnya, dan mungkin salah satu kemampuan itu bisa menyerap kemampuan milik orang lain yang sudah mati."


"Anda bilang itu dulu, berarti dia sudah..."


Master Agus hanya mengangguk saja dan semua rasa penasaran Adam sudah terjawab. Tapi satu hal yang membingungkan mereka bahwa, orang ini yaitu Moris. Kenapa ia muncul tepat di hadapan pemuda itu?


"Soal itu aku juga tidak tahu," kata master Agus. "Padahal aku melakukan pemakamannya sangat tertutup dan tempatnya dijaga ketat dan rahasia. Mungkin ini ada kaitannya dengan Angga."


"Maksud Anda, Angga Pranadipa?"


"Ya, mereka berdua anak yatim piatu sejak lahir dan berasal dari panti asuhan yang sama. Hubungan mereka berdua bisa dibilang sudah seperti saudara kandung, aku mengenal baik Angga melalui si Moris ini. Tapi kalau gak salah dengar juga, Moris pernah mengatakan bahwa ia akan memberikan kemampuannya ini kepada saudaranya yaitu Angga, jika dirinya sudah tiada. Dan tepat setelah mengatakan itu tepat satu minggu berlalu, Moris meninggal secara misterius dan kejadian ini sudah sangat lama, lima tahun lalu."


"Tapi, Master, aku sudah bertemu beberapa kali dengan Angga Pranadipa. Tapi aku tidak merasakan sedikit pun Mana darinya, yang berarti dia hanya orang biasa."


"Dia memang orang biasa, tapi firasatku mengatakan semenjak Moris meninggal, aku merasakan adanya keberadaan lain yang berdiri di sampingnya selama ini."


Setelah berbincang cukup lama, Master Agus meminta Adam segera menyelidiki dan menangani kasus ini segera. Karena petunjuk sudah ada di tangan mereka walau petunjuk itu kecil, tapi bisa menyelamatkan banyak nyawa orang.


Krek!


Setelah Adam meninggalkan ruangan ini dan hanya menyisahkan Master Agus saja di ruangan ini.


"PT. Hanjar dan organisasi itu kalau tidak salah namanya... 'Bumi Jaya'. Ternyata mereka berdua memiliki hubungan yang sangat dalam, ditambah lagi..."


Bush...!


Seketika energi Mana yang dipancarkan dari tubuhnya keluar dan membuat tekanan dalam ruangan ini semakin sesak bagi siapa pun yang merasakannya.


"Para orang tua perut buncit itu! Telah melindungi mereka selama ini! Mentang-mentang asosiasi kami tidak diperbolehkan ikut campur dalam urusan pemerintahan, tapi tindakan mereka sekarang telah kelewatan. Jangan harap kalian bisa menerima maaf dariku!"


Asosiasi biro keamanan yang didirikan khusus bagi orang yang Terbangkitkan, asosiasi ada banyak disetiap negara dan dibangun untuk mengendalikan orang-orang Terbangkitkan yang menyalahgunakan kemampuan mereka. Asosiasi berperan untuk keamanan masyarakat yang tidak ada bedanya dengan tentara dan polisi, tapi orang-orang mereka tugaskan yaitu yang sudah Terbangkitkan juga. Ada pun orang biasa dalam asosiai yang hanya bertugas mengurus bagian-bagian kecil dalam asosiasi.


Asosiasi mereka sejajar dengan pemerintahan negara. Karena kesepakatan bersama telah disetujui semua negara, bahwa asosiasi tidak diperbolehkan ikut campur dalam urusan pemerintahan seperti politik dan lainnya, mereka hanya diperbolehkan ikut campur dalam hal kemiliteran hanya sebagai bantuan tambahan saja jika militer tak bisa menangani sesuatu hal.


Master Agus mencoba menenangkan dirinya dan meredam energi kuat yang dipancarkannya ini.


"Untuk sementara ini, aku harus tenang dulu, selama tidak ada kaitannya dengan 'Mereka'. Tapi, energi yang dipancarkan anak muda itu sangat mirip dengan 'Mereka', apa dia penyelamat yang dimaksud oleh 'Master'-ku? Aku, Master dan kedua belas saudaraku hanya menerima sedikit saja kekuatan seperti 'Mereka' dan anak muda itu melalui 'Artifak Sakral'. Tapi 'Artifak Sakral' sudah jatuh di tangan 'Mereka' dan berhasil melenyapkan saudara-saudaraku dan mengalahkan 'Master' kami..."


Agus terdiam sejenak setelah mengingat insiden mengerikan itu, ia tak menyangka bahwa hanya dirilah yang masih selamat. Dia selamat berkat masternya yang menggunakan kemampuan terakhirnya untuk menteleportasi Agus ke tempat lain. Masternya meminta dia untuk menemukan sang "Penyelamat" dan bertahan hidup sampai ketemu dengan orang yang dimaksud, cuma orang itu yang bisa mengalahkan "Mereka" menurut masternya.


"Jika memang anak muda itu yang dimaksud oleh Master, maka aku akan membantu dia dan membuat dirinya berpihak di sisi kita semua yaitu manusia. Cuma orang yang memiliki kekuatan setingkat 'Mereka' yang bisa melawannya..."


Agus menatap salah satu telapak tangannya dan mengeluarkan sedikit Mana, tangannya bersinar seperti cahaya mentari.


"Lagian waktuku tidak lama lagi, aku akan berusaha dengan sisa hidupku untuk memperjuangkan umat manusia dari 'Mereka'."


...•••...


...•••...


Di suatu tempat di sebuah rumah...


Tampak seorang pemuda menuju ke arah rumah itu dengan wajah sedikit terlihat sedih, sesaat sampai di depan pintu rumah itu, ia berusaha menenangkan dirinya dan memperbaiki ekspresinya agar orang-orang yang disayanginya di dalam rumah itu tidak khawatir.


Tok... Tok... Tok...


Krek! Ngek...


Tampak seorang anak gadis kecil membukakan pintu dan menyambut dirinya dengan hangat.


"Wah! Akhirnya Kakak pulang."


Aku hanya tersenyum saja saat disambut dengan hangat oleh Adikku dan masuk ke dalam rumah. Aku melihat keadaan lantai rumah ini sedikiti berantakan, tampaknya si Kembar melakukan sesuatu.


"Kalian sedang melakukan apa?"


Reno keluar dari dapur sembari membawa beberapa botol air.


"Eh, Kakak sudah pulang, jadi akhirnya kita semua bisa pergi."


"Pergi? Pergi ke mana?"


"Apa Kakak lupa ini hari apa?" Tanya Rena.


Aku mencoba mengingat hari ini, dan saat mengetahui ini hari apa, sungguh membuatku tersedih di dalam hati. Ternyata ini hari meninggalnya orang tua kami, pada tanggal 10 Oktober dan kami selalu berziarah pada hari ini.


"Maaf, Kakak hampir lupa. Kalau begitu, mari kita pergi ke tempat Ibu dan Ayah."

__ADS_1


Si Kembar hanya mengangguk saja dan mereka membawa sekangtung bunga kembang dan beberapa botol air putih, untuk makam orang tua kami.


"Ayah, Ibu, kumohon kalian jangan pernah meninggalkan kami. Aku berjanji, akan membalas perbuatan orang yang melalukan hal ini pada kalian. Aku berjanji akan membuat mereka merasakan rasa sakit yang sulit dilupakan oleh mereka!"


__ADS_2