Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 61


__ADS_3

Washinton, Amerika serikat.


Pukul 10.12


Di sebuah gedung besar dan mewah....


Di luar gedung tampak sebuah mobil mewah dengan warna abu-abu dan keluar seorang pria gagah dengan jas mewahnya, dan di sampingnya seorang wanita cantik dengan pakaian sedikit ketat dan rok mini.


Mereka berdua memasuki gedung itu dengan tenang, sesaat masuk--tampak banyak orang-orang hebat di dalam sana dan memancarkan kharisma mereka masing-masing.


Semua orang di dalam sana menatap kedua orang yang baru masuk ke sini, tapi... mereka berdua disambut dengan tatapan tajam, kesal, serta niat membunuh yang sangat kental terasa di suasana ini.


Mereka berkumpul disebuah ruangan cukup besar dan di tengah ruangan itu ada sebuah meja bundar, dengan setiap sisi meja itu ada sepuluh kursi yang sudah ditempati masing-masing oleh orang-orang kuat ini.


Pria yang datang terakhir itu dengan entengnya dia langsung duduk dengan santai di kursi kosong yang terakhir itu, semua tatapan orang yang duduk di sana tidak suka akan dirinya.


"Kamu dari mana saja kemarin?"


"Itu bukan urusanmu," ucapnya dengan acuh tak acuh.


Semuanya yang mendengar itu semakin menggeram dan semua tangan mereka mengepal di atas meja bahkan di bawah meja.


"Woi! Gara-gara kamu kami hampir semua mati, brengsek!"


Pria berjas mewah itu hanya diam saja dan sibuk mengotak-atik gadget miliknya.


Prak...!


"Dasar sialan!" Sambung pria yang kesal itu dan langsung bangkit dari duduknya sembari memukul meja itu.


Pria jas mewah itu masih sibuk akan teknologi kotak canggihnya itu, tapi dia berhenti sebentar sesaat kegaduhan dari seseorang mulai membuatnya tidak nyaman.


"Kamu bisa tutup mulutmu itu! Kamu membuat suasananya jadi sedikit berbau."


Ucapan dari pria berjas mewah itu mengalir dengan tenang dan tajam seperti pisau. Pria yang kesal itu mulai semakin geram dan dia hampir keluar dari posisinya, tapi... seorang pria dengan tampan Asia timur berusaha menenangkannya dan itu berhasil ia tenangkan.


"Tuan Himar, tindakan Anda kemarin hampir membuat kita semua terbunuh, tapi keberuntungan telah terjadi waktu itu juga--sebab 'Mereka' menunda kedatangannya dan memutuskan hari ini akan datang," ucap pria berdarah Asia timur itu.


Gading Himar masih sibuk dengan teknologinya itu dan tidak peduli apa yang disampaikan pria yang ada di seberangnya.


"Sekarang kalian masih hidup kan, kenapa masih membahas hal yang sudah berlalu," ucap Gading dengan santai.


Semua orang yang ada di meja bundar ini saling menatap satu sama lain dan ada yang menghela napas, memancarkan niat membunuh yang kuat sehingga menyesatkan udara sekitar, dan ada yang tidak peduli sama sekali.


"Bajingan ini...!" Gumam pria kesal itu.


Seketika suasana menjadi hening dan tidak ada siapa pun yang membuka suara duluan. Keheningan itu semakin terasa dingin dan hanya suara napas dan detak jantung masing-masing terdengar di ruangan itu.


Keheningan ini bertahan semakin lama dan menunggu kedatangan orang yang paling istimewa--tamu penting yang tidak bisa mereka tolak.


Mereka semua diminta berkumpul atas salah satu permintaan dari "Mereka."


Brak...!


Tiba-tiba muncul sebuah retakan dimensi dipojok ruang ini, dan muncul sebuah portal kecil dari sana.


Tap....


Deg!


Satu langkah telah menginjak ruangan ini dan langkah itu telah membuat suasana di ruangan ini semakin terasa sesak dan mencekam.


Bak....


Bak....


Seketika semua orang yang duduk di sekitar meja bundar itu langsung bangkit dan menundukkan kepalanya kepada sosok orang yang keluar dari portal kecil itu.


Kehadiran orang ini membuat ruangan ini semakin hening, Mana yang dipancarkan olehnya telah mencekik leher mereka semua dan tidak ada siapa pun dari mereka mengangkat kepalanya untuk menatap matanya.


Tap... Tap... Tap....


Orang itu berjalan menuju ke arah sebuah kursi tinggi dan terlihat dia seperti seorang raja duduk di singgasananya, orang itu duduk sambil mengamati orang-orangnya dan tersenyum dengan tipis.


"Duduklah...."

__ADS_1


Satu kata darinya membuat semua orang-orang kuat ini semakin tak berkutik, suaranya bagai angin topan yang datang menerjang mereka sehingga tak bisa berbuat apa-apa di tengah angin kencang itu.


Mereka semua serentak langsung duduk dan tak berani menatap mata dari orang itu. Tampang orang itu seperti orang pemalas dengan mata pandanya dan dia adalah seorang pria yang sedikit kacau secara sikap.


"Hoamm...!" Menguap.


Suaranya menggema dengan keras di ruangan ini, dan tidak siapa pun dari mereka menyela.


"Padahal aku lagi asik-asik menyelesaikan event langka di game 'Guardian of Soul' malah mereka semua memaksaku mewakili mereka, katanya 'Cuma kamu tidak ada kerjaan sama sekali,' menyebalkan tau gak...!"


Semua orang yang di sini hanya mendengar omongan dari pria tampan malas itu, semua ocehan darinya dia lontarkan tanpa peduli di sekitarnya.


"Sudahlah, semua sudah terlanjur. Jadi, langsung ke intinya saja, laporkan sekarang...."


Salah satu dari berdiri dan memberi hormat sembari menunduk.


"Hormatku padamu, Tuanku. Aku ingin memberikan laporan mengenai project baru kami, kami melakukan sebuah project penyerapan sumber kehidupan pada manusia."


"Oh, menarik, lalu...?"


"Kami telah dua tahun melalukan project ini dan sudah banyak energi kehidupan kami kumpulkan dan siap diberikan pada Anda, cara kerja project kami ini--dengan cara membuat para manusia saling menyerang satu sama lain, dengan kata lain membentuk sebuah ajang pertarungan di sebuah arena dengan iming-iming hadiah besar, dan kami bisa melakukan penyerapan pada peserta sekaligus penonton yang ada di sana tanpa disadari oleh mereka."


"Bukannya yang kamu dapat hanya sedikit dari project itu, itu sangat lama menurutku."


"Maaf membuat Anda kecewa, kami memikirkan jalur aman terdahulu... karena kami tak ingin pihak pemerintahan mengetahui project ini. Kami akan berusaha meningkatkan project ini sebaik mungkin, agar Anda bisa mendapatkan lebih banyak lagi," ucapnya sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kami tak ingin membuat kekacauan dulu sebelum orang yang kami incar itu ditemukan."


"Terima kasih, atas kesempatan Anda." Sembari memberikan hormat dengan membungkukkan badannya.


Dia kembali duduk di kursinya dan pria tampan pemalas meminta selanjutnya untuk melaporkan.


Semua orang yang di meja bundar itu memberikan laporan mereka masing-masing dan semua tindakan ini bertujuan untuk melakukan penyerapan energi kehidupan setiap manusia.


Tujuan dari project ini adalah demi membangkitkan "Mereka" dari tidurnya. Gading Himar yang terakhir memberikan laporan, dia berdiri dan memberikan hormat dengan membungkukkan badannya.


"Sekarang kamu yang terakhir...."


"Aku dan seluruh bawahanku dengan melakukan sebuah project yang disebut 'Stigma'...."


Gading mengangguk dan melanjutkan lagi laporannya.


"Kami melakukan sebuah eksperimen pada manusia dan mungkin tindakan kami sedikit melenceng dari tujuan utama. Tapi, aku melakukan ini atas permintaan dari 'Beliau'...."


Mendengar itu membuat pria yang duduk di singgasana ini sedikit penasaran.


"Apalagi yang si J*l*ng itu lakukan kepada manusia ini," pikirnya pria tampan malas itu.


"Dia memintaku untuk menciptakan sebuah pasukan super dengan yang mudah dikendalikan, maka dari itu... seluruh energi kehidupannya akan digunakan untuk penelitian ini."


Ucapan Gading terdengar sangat lancang di telinga mereka, dan terlihat ucapan itu diucapkan dengan tenang dan merasa hal itu perlu dia lakukan sekarang.


Pria tampan malas ini hanya diam mendengarnya dan langsung menghela napas sembari menggaruk kepalanya dengan perasaan sedikit kesal.


"Lakukan sesukamu, aku tak ingin repot dengan urusan itu."


Gading hanya tersenyum dan memberi hormat sembari membungkukkan badannya, lalu kembali duduk di kursinya.


"Dengan ini aku sudah selesai dengan tugasku." Sembari berdiri dari kursinya. "Kalian semua tahu kan, kami ini buka makhluk seperti kalian...."


Semua orang meja bundar itu hanya diam saja dan itu sudah dianggap mendengarkan dengan serius.


"Kalian semua manusia selalu menyebut kami seorang inkarnasi atau anak Dewa dan itu tidak salah. Tapi, kami ini sebenarnya entitas makhluk tertinggi yang berada di luar sana atau biasa kalian sebut adalah Dewa. Karena wujudku ini tidak menggambarkan entitas tinggi itu maka itu sangat wajar, sebab ada hukum yang kami harus ikuti demi kelancaran tujuan kami...."


Pria tampan malas itu masih melanjutkan pidatonya dan mereka semua tidak terkejut lagi akan entitas terkuat ini, sebab mereka semua adalah pengabdi setia dari entitas tertinggi itu.


"Kami tak bisa datang dengan wujud asli kami ke dunia ini dan membutuhkan wadah tepat untuk beradaptasi di dunia ini, serta membutuhkan sumber nutrisi juga yaitu jiwa kalian para manusia...."


Deg!


Mendengar itu membuat orang-orang meja bundar itu seketika gemetaran, mereka semua tahu bahwa di mata orang itu baginya mereka hanya sebuah santapan yang disajikan kepadanya.


"Menggunakan tubuh manusia ada serunya juga, tapi itu membuat kekuatan kami sangat terbatas. Daripada disebut anak Dewa atau yang lain, kami lebih suka disebut sebagai... Heredis...."


Sebuah kata asing terdengar di telinga mereka dan itu membuat mereka semua bingung sekaligus penasaran.

__ADS_1


"Kami lebih suka disebut itu karena seseorang telah menggunakan nama itu dengan teknik uniknya, dan kami mencoba tekniknya dan sangat membantu sekali tujuan kami. Kami memiliki sebutan masing-masing dan aku adalah... Heredis of Fool."


Setelah pidato cukup panjang itu, pria tampan pemalas ini langsung berjalan ke arah pojok ruangan itu dan membuka sebuah portal kecil menuju dimensi lain.


Bak....


Bak....


Semua orang di meja bundar itu langsung berdiri dan memberi hormat sembari membungkukkan badannya.


"Lakukan tugas kalian dengan serius, karena kalian sudah menerima hadiah dari kami."


Sebuah ucapan yang penuh ketegasan dan pria tampan malas itu langsung memasuki portal itu dan menghilang dari tempat ini.


Suasana menjadi hening seketika, semua orang meja bundar itu langsung duduk di kursi mereka masing-masing. Tampak wajah kelegaan dari mereka dan tidak percaya bisa lolos dari maut mengerikan tepat di depan mata mereka.


"Memang benar kita telah menerima kekuatan luar biasa dari mereka, tapi... apa kita akan termasuk dalam menunya juga?"


Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, mereka tahu bahwa tujuan ini sangat jauh dari moral kemanusiaan. Tapi, demi kepuasan sendiri--siapa pun pasti akan melakukannya.


"Katanya mereka mencari seseorang, apa orang itu adalah bagian dari mereka juga?"


Sebuah pertanyaan yang membuat mereka penasaran, siapa orang itu dan apa tujuan mereka datang ke sini? Banyak pertanyaan terlintas dari pikirannya dan akan menjadi sebuah tanda tanya bagi mereka selama hidupnya.


Bak....


"Kamu mau ke mana?"


Tampak Gading berdiri dari kursinya dan bersiap meninggalkan tempat ini.


"Mau keluarlah," jawabnya dengan santai. "Aku tak ingin menghabiskan waktuku dengan obrolan kosong ini."


Gading langsung pergi dan meninggalkan meja bundar ini dan keluar melalui pintu ruangan itu.


"Si brengsek itu tetap saja selalu menyebalkan!" Ucap pria kesal itu.


"Yang dikatakannya benar, kita harus melalukan tugas kita sekarang. Aku tak ingin menjadi makanan mereka suatu saat nanti." Setelah mengatakan itu dia langsung berdiri dan meninggalkan tempat ini.


Yang tersisa di ruangan saling menatap satu sama lain dan memutuskan juga harus kembali mengurus urusan masing-masing.


Semua orang terkuat itu telah meninggalkan ruang rapatnya dan pergi melaksanakan sebuah tugas yang sangat serius bagi mereka.


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 7....


Aaahh...!!!


[Boss


Pride - The seven deadly sins


Level : ???]


Set!


Dengan cepat sebuah sabit panjang dan memancarkan Mana yang sangat kuat.


Swoosh..! Crak!


Sebuah serangan yang sangat kuat telah berhasil dilancarkan dan berhasil membelah tubuh penjaga lantai itu.


Dun....


Seketika gerbang itu terbuka dan jalan menuju lantai selanjutnya telah terbuka.


"Melawan yang ketujuh ini jauh lebih merepotkan, sekarang tinggal lantai selanjutnya dan seperti apa penjaganya nanti di lantai delapan."


Aku memandang gerbang itu dan bejalan ke arah penjaga lantai itu dan mengambil item misterius yang dijatuhkannya.


Setelah mengambil itemnya, aku langsung berangkat menuju ke lantai selanjutnya dan siap menghadapi pertarungan berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2