
"Dialah orang yang selama ini membantuku sehingga menjadi seperti yang sekarang."
Aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, tapi di sisi lain aku sangat kagum akan kehebatan para pendahuluku ini. Berapa tahun mereka habiskan untuk sampai sekuat sekarang.
"Lukanya sudah pulih dan racun yang ada di dalam tubuhnya aku sudah netralisir. Tapi... kenapa dia belum sadar ya?"
Kami langsung fokus lagi ke kisah masa lalu Aran, aku melihat master Aran yaitu Master Arum dan sekaligus salah satu pendahuluku juga. Tampak Master Arum memperhatikan dengan seksama kondisi Aran kecil, dan kayaknya dia tahu apa yang terjadi dengan kondisi si Aran kecil.
"Hmm, kenapa anak kecil semanis ini harus mengalami hal seperti ini. Benar-benar nasib yang malang."
Master Arum meletakkan tangannya tepat di atas kepala Aran kecil dan dia juga menggumamkan sesuatu :
"Divcalem...."
Bing!
Seketika tangan yang ia letak di atas kepalanya Aran kecil bercahaya dan itu membuatku cukup terkejut melihatnya.
"Apa yang dilakukannya?"
"Master mencoba untuk menyadarkan diriku. Dia menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan aku dari mimpi burukku. Mimpi yang kurasakan saat itu benar-benar mengerikan dan sulit rasanya aku bisa lepas darinya," ucap Aran sembari menatap Master Arum dengan tersenyum. "Tapi, aku sangat senang bisa bertemu dengannya dan dia juga salah satu orang yang membuatku punya tujuan hidup yang baru."
Aku mengerti kenapa dia sangat senang melihat masternya lagi. Begitu pun dengan aku juga, jika aku bisa melihat lagi kedua orang tuaku walau hanya dalam mimpi sekalipun, pasti rasanya sangat senang karena rindu yang sudah lama terbendung di hati.
Sesaat Aran kecil membuka matanya secara perlahan dan menengok ke arah kiri dan kanan. Tampak ia mencari sesuatu dengan matanya yang masih terlihat sedikit buram saat melihat.
"I... Ibu...."
"Alah~, kamu sudah bangun manis~."
Aran kecil berusaha bangun dengan tubuhnya yang masih lemah itu. Tapi, Master Arum melarangnya untuk banyak bergerak, sebab tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.
"Aku di mana? Ibu... Dage... ada di mana?"
Master Arum sudah menduga ia akan mencari keluarganya, tapi Master Arum memutuskan hanya diam saja dan kembali meracik obatnya.
"Hm?"
"Ada apa? Kamu terlihat penasaran akan sesuatu."
"Ya. Kenapa dia tidak menggunakan sihir penyembuhan untuk memulihkanmu secara cepat? Kan itu lebih bagus tanpa harus bersusah payah membuat obat sendiri."
Aran hanya diam sejenak setelah mendengar ucapanku barusan, lalu dia menatap masternya penuh arti dan berkata :
"Itu sederhana saja. Karena dia sudah menyatuh sepenuhnya dengan 'Kematian'..."
Aku bingung dan heran, kenapa Aran mengatakan bahwa masternya sudah menyatuh sepenuhnya dengan "Kematian"? Lalu Aran melanjutkan lagi penjelasannya :
"Itulah penyebab Master Arum tidak bisa menggunakan sihir semacam pemulihan terhadap makhluk hidup yang memiliki jiwa."
Jadi itu penyebabnya kenapa aku tak punya skill penyembuh untuk orang lain seperti Heal dan hanya ada skill pemulihan untuk diri sendiri semacam Regeneration.
__ADS_1
"Aku masih bingung. Kenapa kamu mengatakan dia telah menyatuh sepenuhnya dengan 'Kematian'?"
Mendengar itu membuat Aran menghela napasnya secara berat. Tampak penjelasan kali ini cukup berat untuk didengar.
"Kita hentikan hal ini dulu sementara," ucap Aran sembari menjentikkan jarinya dan gambaran masa lalunya seketika menghilang, dan aku berada di tempat sebelumnya yaitu di atas gunung. "Dalam pandanganmu atau menurut zamanmu sekarang, 'Kematian' itu seperti apa?"
"Kalau soal itu...." Aku hanya diam sejenak sembari memikirkan jawaban dari pertanyaan ini. Sebab arti "Kematian" itu sendiri sangatlah luas dan misteri.
"Sebenarnya ada banyak pandangan sih. Secara menurut sains, 'Kematian' merupakan berhentinya proses aktivitas dalam tubuh biologis seorang individu yang ditandai dengan hilangnya berbagai fungsi utama di tubuh tersebut. Sedangkan 'Kematian' dalam pandangan berbagai aliran agama dan kepercayaan lainnya, bahwa 'Kematian' adalah muara akhir dari setiap kehidupan makhluk di dunia, dengan kata lain--bahwa itu adalah proses awal di mana makhluk hidup yang berjiwa akan meninggalkan tubuhnya dan dibawa menuju alam baka. Apa itu benar?"
Aran hanya diam saja sembari memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya secara perlahan. Setelah diam beberapa saat akhirnya ia buka suara sembari mengelus jenggot putih panjangnya itu.
"Itu benar, tapi tidak benar juga."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Sesuai kata-katamu bahwa ada banyak pandangan, dan kali ini menurut pandanganku. Menurutku 'Kematian' itu bukanlah akhir, melainkan awal mula dari semuanya..."
Aku semakin dibuat bingung olehnya, apa maksud dia bahwa awal segalanya berasal dari "Kematian"?
"Ada orang bilang bahwa lawan dari 'Kematian' yaitu 'Kehidupan', dan sebaliknya lawan lain dari 'Kematian' yaitu 'Kelahiran'. Padahal 'Kehidupan dan Kelahiran' sangatlah jauh berbeda, tapi mereka berdua memiliki satu jalan atau tujuan yang sama. Tapi, kedua hal ini kenapa harus disetarakan dengan 'Kematian'?" Tanya Aran sembari menatapku dan aku hanya menggelengkan kepala saja. "Karena pada dasarnya 'Kematian' itu sendiri, hanya satu dan sangat muklat, sehingga tidak ada satu pun yang bisa menyainginya."
"Jadi... 'Kematian' itu seperti kegelapan tanpa dasar?"
"Ya, bisa dibilang seperti itu," jawab Aran sembari mengangguk. "'Kematian' hanya sebuah fondasi dan pokok utama dalam penciptaan, seperti seorang penulis yang ingin menulis sebuah cerita. Mereka harus memikirkan terlebih dahulu akhir dari cerita karya mereka sebelum menulis cerita sepenuhnya, ini dilakukan agar menjaga cerita tetap seimbang dan tidak melenceng dari akhir ceritanya yang sudah dibuat di awal-awal. Seperti halnya 'Kematian', ia akan jadi fokus utama dan menjadi tujuan utama setiap aspek penciptaan seperti 'Kehidupan dan Kelahiran'."
Semakin mendengarnya semakin membuatku bingung dan di sisi lain Aran hanya tersenyum melihatku kebingungan, seperti bocah lima tahun yang mendengar pembicaraan orang dewasa dan Aran melanjutkan lagi penjelasannya :
"Ia tidak berwujud tapi bisa membuat siapa pun buta, ia tidak bersuara tapi bisa membuat siapa pun tuli, kehadirannya tak terasa sama sekali tapi selalu membuat perasaan tidak nyaman, dan ia tak berbau tapi membuat napas ini selalu merasa sesak. Itulah 'Kematian' tidak ada yang tahu seperti apa dirinya dan selalu ada tapi juga tidak ada. Orang yang sudah menyatu dengan 'Kematian', ia akan terikat olehnya dan bagian dari dirinya juga, sehingga secara perlahan dirimu akan merasakan kehampaan dan tiada arti apa-apa lagi dalam pandangan dan pikiranmu selamanya."
"Jadi... orang yang sudah menjadi Heredis maka dia..."
Aran hanya mengangguk saja dan itu membuatku sangat terkejut. Aku tak menyangka bisa terikat dengan hal serumit ini dan itu membuatku sangat marah dan sedih juga, tapi tak ada perlu disesali lagi--sebab aku sudah memutuskan untuk menggunakan kekuatan ini untuk diriku sendiri.
Aran yang melihatku mengepalkan tangan sekuat mungkin dan melihat mataku yang memandang arah depan, tatapan yang penuh arti dan tiada keraguan di dalamnya sehingga itu membuatnya tersenyum.
"Anak ini... dia benar-benar 'Sang cahaya harapan besar'. Aku sangat iri dengannya dan aku juga sangat bangga padanya, karena ia telah menjadi tombak dan perisai terakhir kita," pikir Aran sembari tersenyum. "Tapi, ada satu hal agar kita sebagai pemegang kekuatan ini agar tidak terseret lebih dalam oleh 'Kematian'."
Mendengar itu membuatku terkejut sekaligus penasaran dan bertanya kepadanya :
"Dan apa itu?"
"Kamu harus mengikat lebih banyak 'Kehidupan' yang telah kehilangan kebebasannya."
"Maksudmu jiwa-jiwa yang telah menjadi gelap dan menjadi pengikut, yaitu The Arcana?"
"Ya, itu mereka. Mereka para 'Kehidupan' yang telah kehilangan kebebasannya karena disebabkan oleh perbuatannya sendiri, mereka membiarkan jiwanya menanggung semua kegelapan yang ada. Orang yang sudah menodai jiwanya karena melanggar hal tabu."
"Hal tabu? Apa mereka melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan."
Aran hanya mengangguk saja dan kembali melanjutkan penjelasannya :
__ADS_1
"Mereka melanggar sumpahnya sendiri. Sumpah adalah sebuah perjanjian yang seharusnya tidak boleh atau lebih tepatnya tidak seharusnya dilanggar. Sebab, saat melakukan sumpah, sama saja bagi mereka melakukan sebuah taruhan dan jiwanya sebagai jaminannya."
"Kamu bilang mereka melakukan perjanjian, kepada siapa mereka melakukan perjanjian?"
"Mereka melakukan perjanjian kepada diri mereka sendiri. Seharusnya kamu sudah tahu dari sini, bahwa di dalam diri setiap makhluk berjiwa pasti ada sesuatu hal yang sangat misterius."
Mendengar itu membuatku berpikir sejenak. Sesaat memikirkannya seketika aku terbelalak dan mengetahui maksud Aran.
Yang dimaksud melakukan dengan perjanjian dengan diri sendiri adalah mereka telah melakukan perjanjian dengan "Kematian" itu sendiri. Seperti yang dikatakan Aran, bahwa "Kematian" sesuatu yang sangat misterius, karena ia selalu ada sekaligus juga tidak ada.
Kata Aran, bahwa para jiwa yang kehilangan kebebasannya tidak akan lagi bisa kembali ke "Kehidupan" yang sebenarnya dan mereka akan selalu terikat dengan "Kelahiran" lama mereka yang telah melakukan sumpah, dan tidak akan bisa lepas sampai kapan pun. "Kehidupan dan Kelahiran"-nya telah menyatu sepenuhnya dan di saat itu juga, "Kehidupan"-nya tidak akan bisa mencari "Kelahiran" baru lagi untuk hidup dan kebebasan barunya.
"Apa yang terjadi pada mereka (The Arcana) jika sang Heredis mati?"
Aran terdiam sejenak dan memikirkan jawaban tepat dari pertanyaanku ini.
"Mereka akan bebas dari 'Kematian'..."
Jawaban singkat itu membuatku sedikit mengerti. Bahwa mungkin para jiwa gelap ini bisa lepas dari "Kematian" sepenuhnya, ketika mereka melayani sang "Kematian" itu sendiri dengan tulus dan mengikutinya ke mana pun pergi.
Aran melanjutkan lagi jawabannya barusan :
"Sesaat mereka telah menjadi pengikut dari sang 'Kematian', maka kondisi mereka dalam keadaan antara hidup dan mati. Aku tidak tahu di antara 'Kehidupan'-nya atau 'Kelahiran'-nya, siapa yang hidup dan siapa yang mati..."
Seketika aku teringat dengan "Kucing Schrödinger". Di mana seekor kucing, sebotol racun, dan sebuah sumber radioaktif ditempatkan dalam kotak tertutup. Jika monitor internal mendeteksi radioaktivitas maka botol tersebut hancur, melepaskan racun dan membunuh kucing itu. Namun, ketika seseorang melihat ke dalam kotak, orang tersebut akan melihat kucing itu antara hidup atau mati bukan keduanya sekaligus.
"Tapi sisi baiknya, mereka bisa menggunakan sihir penyembuh ke makhluk lainnya, sehingga kita bisa melakukan pertolongan kepada makhluk hidup lainnya juga."
"Begitu ya, baguslah kalau begitu. Kalau disimpulkan dari pembicaraan tadi, jadi kita ini adalah salah satu wujud 'Kematian' itu sendiri."
"Bisa dikatakan seperti itu, kita ini hanya manifestasi darinya. Hanya sebuah atau salah satu kepingan darinya."
Wussh....
Angin gunung yang sangat sejuk ini membuat siapa pun akan merasa tenang. Setelah obrolan itu, kami diam sementara waktu sembari memandangi pemandangan indah di atas gunung.
"Aku tidak tahu apa alasan kekuatan sebesar ini dipercayakan kepadaku. Tapi, satu hal yang aku ketahui, bahwa 'Dia' telah memberikan kekuatannya kepada kita untuk mencegah 'Mereka' datang ke sini. Aku tidak tahu apa alasan 'Dia' dan 'Mereka' berselisih sehingga melibatkan orang-orang lemah seperti kita dan menjadi korban tak bersalah dari dua kubu tersebut. Yang membuatku bingung, kenapa 'Mereka' mengincar orang yang memberikan kekuatan ini kepada kita, dan 'Dia' dipanggil sebagai penghianat oleh 'Mereka'. Satu hal yang bisa kusimpulkan, bahwa 'Dia' bagian dari 'Mereka' juga, dengan kata lain makhluk luar Bumi yang biasa dipanggil sebagai Dewa. Aku penasaran apa alasan Dewa yang membantu kita selama ini, dan memberikan kekuatannya kepada kita?"
Aran terdiam cukup lama saat aku mengatakan semua iti, tampak ada terlintas di benaknya mengenai informasi yang ingin kuketahui. Tapi kayaknya dia tidak semudah itu memberikan aku informasi mengenai orang yang memberikan kekuatan ini kepadaku, seperti Charon dan Malik yang memiliki batasan memberikan informasi kepadaku.
"Aku tidak bisa memberitahukanmu karena belum waktunya untukmu terlibat lebih jauh. Tapi satu hal yang bisa kuberitahu, 'Dia' sangat menyanyangi kita semua yaitu anak-anaknya."
Mendengar itu membuat semakin penasaran akan sosok "Dia" ini. Apa maksud Aran bahwa kami adalah anak-anak dari "Dia"?
"Aku tahu kamu sangat penasaran. Tapi, jangan sampai rasa penasaranmu itu mencelakaimu, ada bagusnya ketidaktahuan adalah sebuah berkah."
Aku hanya menghela napas dan berkata :
"Kamu benar, aku merasa masih terlalu jauh dari para pendahuluku. Aku akan membuat diriku melampui batasnya sejauh mungkin, sehingga tidak ada siapa pun bisa menggapainya."
Aran hanya tersenyum mendengar itu dan memintaku untuk kembali lagi ke topik utama, yaitu ke masa lalu Aran. Sesaat Aran mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya.
__ADS_1
Tlak...!