Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 58


__ADS_3

[Boss


Ignis - Gatekeeper of hell


Level : ???]


[Boss


Ventus - Gatekeeper of hell


Level : ???]


Set! Set!


Set! Set!


"Hoarrrgg..!!"


Tring...!


Sabitku dan pedang miliknya saling benturan sehingga suara yang dihasilkan dari logam keras itu sangat nyaring. Di sisi lain Norum yang berusaha menyerang yang satunya dengan cakar tajamnya, tampak mereka berdua saling menyeimbangi satu sama lain.


Tring! Set!


Aku mundur selangkah dan menyiapkan serangan terkuat dengan sabit yang sudah dilapisi oleh Mana-ku.


Swoosh...!


Sebuah serangan gelombang kejut terpancar dari sabit ini dan membuat udara sekitarnya menipis sedikit demi sedikit.


Hmm... Wush..! Wush...!


"...!" Aku terkejut melihatnya, dia berhasil menahan seranganku itu dengan menciptakan sebuah pusaran angin yang besar di sekitarnya.


"Ventus berarti angin, Lalu di sana Ignis berarti api. Jadi kami melawan penjaga ahli di bidang sihir elemen mereka masing-masing."


Hmm... Swoosh...!


Si Ventus langsung melancarkan serangan balasan dengan serangan angin berupa tebasan jarak jauh.


Wush..! Wush...!


Set! Bur..! Set! Bur...!


Aku berhasil menghindari semua serangannya itu, tapi jarak kami mulai semakin jauh. Jika jarak sejauh ini hanya menguntungkan bagi pengguna sihir angin.


"Sistem membatasiku menggunakan skill juga!"


Seluruh skill khusus job milikku disegel sistem ini, sehingga satu-satunya kemampuan yang kugunakan dari job ini hanya memanggil The Arcana saja sebagai bala bantuan.


"Hing...!"


Aku langsung melirik ke arah Norum, tampak dia terkena serangan api yang sangat kuat sehingga menyebabkan luka bakar hebat pada tubuhnya.


"Kayaknya aku membuang-buang waktu... keluarlah!"


Aku langsung memanggil si Dami keluar untuk membantuku.


Bur...!


Dami langsung menggunakan sihir tanak miliknya dan memunculkan pelindung tanah yang sangat tebal, guna menghalau seluruh serangan angin dan api penjaga gerbang itu.


Wush..! Bur...!


Burn..! Bur...!


Serangannya datang terus secara bertubi-tubi dan Dami mempertahankan sihir tanah ini sekuat mungkin, tampak Norum berhasil memulihkan diri.


"Baguslah..., egh...!"


Deg!


Tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh pada tubuhku, entah kepalaku semakin sakit dan pandangan mulai kabur.


Deg!


"Kenapa..! Kenapa rasa sakit ini tiba-tiba muncul?!"


Deg!


Perasaan mencekik di dadaku dan kepalaku kayak seperti mau lepas dari tubuhnya karena rasa sakit ini.


Seketika seluruh indra pemuda itu menjadi hening, dengan tatapan kosong dia memandangi penghalang tanah itu yang ada di hadapannya.


"Hm?"


Penyihir hitam kecil itu kebingungan, sebab majikannya tiba-tiba menunjukkan reaksi aneh dan tenang. Pemuda itu bangkit dan berjalan dengan tenang di hadapan kedua penjaga gerbang itu.


Hmm... Wush...!


Hmm... Burn...!


Kedua penjaga itu langsung melancarkan serangan mereka secara bersamaan.


"Menyebalkan!"


Swoosh..! Tring!


Pemuda itu dengan santai mengayunkan sabitnya dengan satu tangan dan menahan semua serangan bertubi-tubi itu.

__ADS_1


Set!


Slash! Slash! Crak!


Dengan gerakan yang sangat cepat sehingga mata yang tidak berkedip pun tidak bisa melihatnya. Pemuda itu langsung melayangkan serangan balasan dengan sabitnya dan berhasil mengalahkan kedua penjaga itu.


"Kalian menghalangi jalanku!"


Suara yang dilontarkan pemuda itu terdengar seperti suara dari berbagai orang, seolah-olah dirinya dirasuki ratusan jiwa atau ribuan jiwa yang bersemayam di dalam dirinya.


Dun....


Gerbang itu langsung terbuka dengan sendirinya yang berarti penjaga telah dikalahkan.


Pemuda itu langsung melirik ke arah penyihir hitam kecil itu, tampak penyihir merinding ketakutan ditatap oleh majikannya sendiri.


Deg!


"Egh...!"


Tiba-tiba dia mengerang kesakitan sembari memegang kepalanya.


"Hah? Apa yang terjadi?"


Pemuda itu langsung melirik ke arah kedua mayat penjaga gerbang itu.


"Gerbangnya terbuka dan mereka sudah mati, apa aku yang mengalahkan mereka?"


Aku langsung melirik ke arah belakangku, tampak di sana ada Dami yang berdiri di sana dengan tubuh gemetaran.


"Kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu?"


Aku meminta dia langsung kembali kepadaku dan Dami pun menghilang. Tapi, keanehan masih ada dan tanda tanya masih menghujani pikiranku, apa yang terjadi sebenarnya? Dan kenapa Dami ketakutan begitu melihatku? Lalu kenapa rasa sakit ini tiba-tiba muncul?


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi padaku."


Aku mencoba melirik di balik penghalang tanah itu dan tidak ada siapa pun di sana, padahal aku memanggil Norum untuk membantuku melawan penjaga ini.


"Grrrgh...!"


"Kamu sudah kembali ternyata," kataku. "Tapi, sejak kapan aku meminta dia kembali?"


Karena tak ingin pusing sementara, aku langsung berjalan ke arah gerbang itu.


Tapi, sebelum itu....


"Ternyata kedua penjaga ini mengeluarkan item juga."


Aku langsung mengambil item terjatuh itu setelah mengalahkan mereka berdua. Ada dua buah Orb yaitu Orb api dan Orb angin dan dua buah item misterius yang aku tidak ketahui sama sekali.


"Mungkin item misterius ini sama waktu di Hades, tapi dua Orb ini kayak aku tahu siapa yang pantas memilikinya... keluarlah!"


Aku memanggil kembali Dami lalu aku juga meminta Kuyang keluar bersama dirinya. Sesaat keluar, mereka langsung menundukkan tubuh mereka, tapi Dami tampak masih ketakutan.


Saat berkata begitu, seketika tubuh Dami berhenti gemetar sejenak. Walaupun rasa takut masih tertanam di benaknya akibat ulahku mungkin, tapi aku merasa itu sesuatu yang mengerikan jika ada orang normal yang melihatku.


"Alasan aku memanggil kalian berdua karena aku punya hadiah untuk kalian, ambillah...."


Aku langsung memberikan kedua Orb itu pada mereka, Dami menerima Orb tipe angin dan Kuyang yang Orb api.


"Hm?"


Tiba-tiba muncul jendela pemberitahuan dari sistem.


[The Arcana - Dami menerima sebuah berkah dari sang Heredis.]


[The Arcana - Kuyang menerima sebuah berkah dari sang Heredis.]


"Kalau hal seperti ini terjadi, maka sistem tidak membatasinya sama sekali."


Setelah semuanya sudah selesai, aku meminta mereka berdua kembali dan langsung berjalan ke arah gerbang itu dan memasukinya.


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 1....


Terlihat medan tempat ini hanya dipenuhi api membara saja dan benar-benar sangat cocok menggambarkan neraka itu sendiri.


"Jadi dia penjaganya...."


Aku melihat seorang wanita seksi dengan memakai pakaian berwarna merah darah sembari tersenyum, terlihat di tangannya itu ada sebuah senjata berupa cambuk berduri.


Hehe~


[Boss


Lust - The seven deadly sins


Level : ???]


Dur....


Tempat ini tiba bergetar dan muncul sesuatu dari balik tanah-tanah itu, terlihat yang muncul adalah beberapa pasukan pria yang tampak seperti Zombie, tapi keadaan tubuh mereka masih utuh dan terlihat mereka semua hanya sekedar korban cuci otak dari penjaga itu.


"Ini akan memakan waktu menghadapinya, kalian semua keluarlah...!"


Wush...!


Seketika tubuhku memancarkan aura hitam yang sangat pekat dan Mana yang terpancarkan dari makhluk-makhluk yang keluar dari tubuhku ini sangatlah kuat.

__ADS_1


"Bereskan mereka semua!"


Set!


"Hoarrgh..!!"


Norum dan The Arcana langsung maju menghadapi semua pasukan dari penjaga itu.


"Walaupun kalah jumlah, tapi dalam hal segi kekuatan dan kerja sama mereka unggul."


Tampak pasukanku berhasil membantai separuh pasukan penjaga itu, terlihat keagresifan dan kemampuan dari The Arcana membuatku kagum kepada mereka semua.


"Setelah semua ini kayaknya aku akan memberikan mereka hadiah."


...•••...


...•••...


...•••...


Di Kantor pusat asosiasi biro keamanan....


Tok... Tok... Tok....


"Masuk!"


Klek... Ngek....


Tampak seorang pria dengan jas hitam dan kacamata hitamnya, dia memasuki ruangan ini sembari membawa sebuah berkas.


"Apa kamu sudah mendapatkan laporannya, Adam?"


"Sudah Master Agus, ini berkasnya," jawab Adam sembari memberikan berkas itu.


(Agus Supriyadi - Master Asosiasi biro keamanan.)


"Tampaknya tidak ada kerusakan parah di sana." Sembari membaca berkas itu. "Bagaimana dengan si Himar itu?"


"Dia sudah pergi lagi dari kemarin, alasan dia datang ke sini karena mencari seseorang."


"Orang itu siapa?"


"Namanya Arkha Peteng seorang Venandi Rank-F."


"Untuk apa seorang Rank-S sepertinya mencari orang pemula itu?"


"Mungkin ada kaitannya dengan kematian adiknya yaitu Gilang Himar. Sesaat aku ingin mengantarnya ke sini, kami singgah dulu di universitas yang baru dibangun oleh guild Si jago merah. Tapi tiba-tiba muncul sebuah portal di sana dan menghisap orang-orang dekat portal itu termasuk anak itu."


"Begitu ya, itu wajar sih. Mengingat Gading aset penting negara kita dan tindakan kriminal adiknya selama ini dia lakukan tak bisa diungkit karena kakaknya ini, tapi aku senang akhirnya ada juga yang mau memutuskan rantai kejahatan ini."


"Tapi, Master, sesaat aku dan Tuan Himar sampai di sana, terjadi sebuah pertarungan singkat dari master guild Si jago merah dan Tuan Himar."


Mendengar ucapan itu membuat Master Agus sedikit terkejut, dia berpikir bahwa kedua orang ini tidak akan melakukan pertarungan semacam itu kecuali jika sesuatu hal yang penting mereka diusik.


"Pasti ada alasan mereka mau cekcok seperti itu, aku melarang keras sesama Rank-S bertarung."


"Mungkin karena anak muda bernama Arkha Peteng itu, tampak guild Si jago merah sangat menjaga pemuda itu. Itu terbukti dari ketua kantor cabang barat guild Si jago merah yaitu Rian kasim, dia mencari-cari informasi mengenai anak itu dan bahkan dia meminta data perburuannya dariku."


Master Agus hanya diam sejenak, tampak dia memikirkan sesuatu. Dan perhatiannya ia ganti karena tak ingin membuat bawahannya ini berpikir berbagai macam hal dengan masalah ini.


"Bagaimana dengan keadaanmu?"


"Sedikit sakit, tapi aku sudah cukup membaik melakukan kembali tugasku."


"Padahal kamu ini seorang Protector Rank-A terbaik di sini dengan kemampuan Barrier-mu yang sangat hebat, tak kusangka kamu terluka dari dua orang yang tidak serius sama sekali dalam pertengkarannya."


"Kalau orang sekelas Anda bisa menghentikan mereka maka tak heran lagi, tapi orang sepertiku menghentikan satu jari mereka berdua saja sudah membuatku kewalahan, karena mereka adalah pilar negara (Rank-S)."


Mendengar itu membuat sang master sedikit tersenyum dan berkata :


"Baiklah, sekarang kamu boleh kembali bertugas."


Adam membungkuk badannya sejenak dan mengangkat kakinya keluar dari ruangan ini.


Klak....


"Sedalam apa pun orang bersembunyi maka dia tidak bisa lepas dari pandangan orang-orang hebat, mungkinkah anak itu...."


...•••...


...•••...


...•••...


Kembali lagi ke dunia Purgatory....


Dun....


Terlihat sebuah gerbang raksasa terbuka dengan sendirinya.


"Ternyata kalian semua hebat juga ya."


"Kami sangat tersanjung atas pujian Anda, Tuanku," ucap Belial.


Tampak para The Arcana menundukkan tubuh mereka di hadapanku. Aku memuji mereka karena berhasil mengalahkan penjaga ini tanpa bantuanku.


"Mungkin penaklukkan ini akan berakhir dengan cepat...."


Aku memandang gerbang ini lalu sekitar tempat ini yang tampak kobaran api di mana-mana.

__ADS_1


"Mungkin juga tidak."


Karena berhasil menaklukkan lantai pertama, aku langsung memasuki gerbang itu dan menuju ke lantai berikutnya.


__ADS_2