Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 89


__ADS_3

Pukul 12.08


Di suatu tempat di kantor pusat asosiasi biro keamanan...


"Tak kusangka di dalam asosiasi masih ada saja orang-orang yang ingin memanfaatkan kesulitan orang lain," ucap Agus sembari memegang keningnya. "Jadi... apa kamu sudah mengurus mereka."


"Sudah Pak, tim kami sekarang menahan mereka. Sekarang tinggal menunggu keputusan Anda untuk menghukumnya."


"Untuk saat ini mereka hanya orang-orang biasa dan sangat terikat dengan hukum negara, tapi..." Tampak Agus sedikit kesal sembari mengepal tangannya sekuat mungkin. "Kamu harus memberikan pelajaran yang sangat membekas diingatan mereka, mengerti?!"


Pria berjas hitam dan kacamata hitam itu hanya mengangguk saja dan segera pergi melaksanakan tugasnya.


Brak...


Sesaat ruangan ini kembali hening dan hanya ada suara detak jantung dan hembusan napasnya yang sedikit menggebu.


"*Huff*..."


Pria berusia 50 tahun lebih ini hanya bisa menghela napasnya karena saat ini keadaanya sangat tidak memungkinkan baginya bergerak leluasa, sebab keberadaan dirinya harus sangat tertutup dari "Mereka" dan tugas terakhir dari masternya harus ia laksanakan demi umat manusia.


Tut... Tut... Tut...


Tiba-tiba telepon di atas meja kerjanya berbunyi dan ia segera mengangkat teleponnya.


Pip.


"Ya, bicaralah."


"Pak, ada seseorang ingin bertemu secara pribadi dengan Anda."


"Siapa dia?"


"Dia adalah Tuan Pati Bagenas."


Mendengar itu Agus langsung mengerti alasan kedatangan salah satu guild master besar di tanah air ini dan meminta bawahannya meminta Pati datang segera ke ruangannya.


Tok... Tok... Tok...


Setelah beberapa saat suara ketukan pintu terdengar dan Agus mendengar menyuruh segera masuk.


Brak... Ngek...


"Kurasa kedatanganku tidak mengganggumu, Master."


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja. Jadi, apa kamu ingin membahas mengenai anak itu lagi?"


Mendengar itu membuat Pati sedikit terkejut dan terbelalak, ia tak menyangka bahwa niat kedatangannya sini sudah diketahui olehnya.


"Seperti biasa Anda sangat hebat, Master. Itu memang benar, aku masih tak percaya apa yang kudengar mengenai anak itu, Arkha Peteng. Apa itu benar, kekuatannya sudah melebihi kami semua?"


Agus menatap pria tangguh ini dengan seksama dan hanya mengangguk saja, Pati melihat itu hanya bisa terkejut saja dan tak percaya apa yang diketahuinya ini.


"Apa Anda tahu alasan anak itu bisa sekuat itu dengan cepat?" Lanjut tanya Pati.


"Soal itu aku tak bisa memberitahukanmu, walau aku tahu hanya separuhnya saja tapi tetap saja itu di luar hakku. Kamu tunggu saja sampai evaluasinya datang atau orangnya sendiri memberitahukannya."


"Begitu ya, hal ini sudah aku tanyakan salah satu anggota guild-ku yang terjebak bersama Arkha dan melihat kekuatannya secara langsung, tapi ia tak bisa mengungkapkannya karena ini permintaan darinya juga untuk tidak memberitahukan semuanya apa yang ia lihat."


"Jadi kamu belum mendapatkan info apa pun dari anggotamu itu?"


Pati hanya menggelengkan kepalanya dan berkata :


"Kalau dia sudah sehebat itu, apa ada kemungkinan dia bisa menguasai Guardian Spirit dengan cepat. Kalau iya, maka hal itu akan sangat baik bagi kita untuk menyelesaikan dungeon Rank-S ini."


Agus hanya terdiam sesaat dan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah jendela ruangannya.


"Kurasa tak semudah itu baginya menguasai kemampuan itu," kata Agus sembari berbalik dan menatap Pati. "Karena syarat untuk kemampuan itu sangatlah rumit dan Moris yang sebagai pengguna pertamanya mengatakan bahwa ia hanya bisa menguasai Guardian Spirit kurang dari 30% saja, dan apalagi Arkha yang tidak tahu apa-apa mengenai kemampuan ini tapi mendapatkannya, pasti akan sangat sulit baginya."


"Oh iya, Anda bilang bahwa Arkha pengguna ketiganya, siapa yang kedua?"


"Orang itu..." Agus kembali berbalik ke arah jendela dan menatap ke arah luar. "Dia adalah saudara sepanti asuhan dengan Moris yaitu Angga Pranadipa dan dia juga adalah ayah angkat dari Arkha Peteng."


Mendengar itu membuat Pati terbelalak. Agus kembali melanjutkan penjelasannya bahwa kemampuan ini "Guardian Spirit", kemampuan yang hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang sangat dipercaya saja.


"Dipercaya? Apa maksud Anda?"


Agus terdiam sejenak lalu berkata :


"Tampaknya kamu sangat penasaran megenai kemampuan anak itu (Akha Peteng). Aku akan memberikan sedikit faktanya padamu dan sepenuhnya aku tak akan memberi tahukannya, karena kemampuan besar pasti ada tanggung jawab besar juga."


Tampak Pati sedikit gugup dan menelan ludahnya, ia akan mendengarnya dengan serius apa yang diucapkan oleh pria tua di hadapannya ini.


Agus menjelaskan bahwa kemampuan yang dimiliki Arkha adalah kemampuan yang sulit dipahami oleh manusia dan kemampuan itu sangat mendekati sosok dewa itu sendiri.


"Mendekati sosok Dewa..."


Tampak Pati tak percaya mendengar itu dan Agus kembali melanjutkan penjelasannya bahwa sama halnya dengan kemampuan "Guardian Spirit" yang didapatkan oleh Moris, tapi "Guardian Spirit" hanya sebatas 'pinjaman' saja dan akan dikembalikan ke pemilik aslinya.


"Sampai sini saja yang bisa kuberitahu kan saja, karena ada hal yang harus kamu lakukan di posisimu sekarang," lanjut Agus.


Pati terdiam sejenak dan memikirkan apa yang ia dengar ini, ia tak percaya bahwa ada banyak misteri yang masih tersembunyi kan di bumi ini.


"Jujur saja aku masih belum paham sepenuhnya, tapi aku merasa hal ini seperti sudah direncanakan oleh seseorang."


Tampak Pati masih mencoba mencerna ini, tapi ia sedikit mengetahuinya bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres dan mendengar penjelasan dari Agus membuatnya sedikit terpikirkan juga.


"Ya ini terlihat sangat jauh dari kata kebetulan, tapi ini sangatlah hebat bagi orang sepertiku yang sudah mengetahuinya. Kamu tak perlu terlalu memikirkan hal ini."


"Baiklah, terima kasih waktunya, Master," ucap Pati sembari membungkuk sejenak.


Agus hanya mengangguk saja dan Pati segera mengangkat kakinya keluar dari ruangan ini.


Brak...


Ruangan ini kembali sepi dan pria tua kembali ke kursinya dan duduk dengan santai. Tampak ia terpikirkan sesuatu dan tiba-tiba beberapa keping kenangan terlintas begitu saja dipikirannya.


"Hm?"


...•••...


Di suatu tempat asing...


Terlihat tempat ini seperti kuil-kuil kuno dalam dongeng fantasi, tampak ada banyak Kristal Mana terpasang di setiap dindingnya dan beberapa Kristal yang bercahaya di mana-mana.


Agus Supriyadi (40 tahun)


"Kita ada di mana ini, Master?"


Tampak dua orang berjalan di lorong tempat ini dan terlihat ada seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda. Mereka terus menyusuri lorong yang dipenuhi Kristal bercahaya ini.


"Ayolah, tolong kamu jangan memanggilku dengan formal begitu, kamu ini jauh lebih tua dariku dan sudah seperti terlihat ayahku sendiri."


"Soal itu aku tak bisa, bagaimanapun kamu sudah ditunjuk sebagai ketua baru kami dan usia tidak membatasi seseorang untuk menjadi seorang pemimpin."


"Padahal usiaku baru menginjak dua puluh tiga dan lagi aku juga baru bergabung ke organisasi, lalu aku juga belum masuk sebagai salah satu 14 anggota 'Pillar Chair'."


"Tapi kamu sekarang sudah masuk sebagai anggota 'Pillar Chair' kan."


"Iya, aku sudah masuk sebagai anggotanya, tapi..."


Dia langsung berbalik dan menunjukkan wajah tembem kesalnya. "Bukan sebagai pemimpinnya! Aku hanya ingin sebagai anggota terbelakang yang tugasnya hanya bisa membantu saja."


Agus melihat tersenyum dan menepuk kepala wanita muda itu dengan lembut.


"Melihatmu marah begini mengingatkanku pada keponakan kecilku," ucap Agus sembari menurunkan tangannya dari kepala wanita muda itu. "Tapi, bukan Master Rum yang memilihmu menjadi pemimpin kami tapi Dewa sendiri yang memilihmu. Seharusnya hal ini kamu sudah tahu kan."


"Ya... soal itu aku tak bisa membantah lagi. Saat Master Rum meninggal, tiba-tiba 'Artifak Sakral' muncul di hadapanku dan masuk ke dalam diriku."


Mereka kembali melanjutkan jalannya sampai ke ujung lorong ini.


"Memangnya kita mau ke mana, Master. Tampaknya tempat ini baru pertama kali aku melihatnya."


"Oh tempat ini, ini tempat di mana para master terdahulu sering ke sini. Saat aku menerima 'Artifak Sakral' itu, tiba-tiba seluruh ingatan dan pengetahuan master terdahulu langsung mengalir begitu saja dalam kepalaku dan bersamaan muncul informasi mengenai tempat ini juga."


Agus mendengar itu sedikit terkejut dan sangat penasaran apa yang diterima master mudanya dari para pendahulunya.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai diujung lorong ini dan tampak sebuah kolam air yang sangat jernih, serta di sekelilingnya ada banyak Kristal Mana yang bercahaya, lalu ada sebuah altar kecil di depan kolam itu.


"Baiklah, kita sudah sampai."


Wanita muda itu maju ke arah altar kecil itu dan Agus masih sedikit terpesona akan tempat ini. Tapi perhatiannya langsung terfokus pada masternya yang sedang merapal sesuatu di depan altar itu.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya?"


Bing!


Tiba-tiba altar kecil itu bercahaya dan sang master muda memunculkan sesuatu benda dari tubuhnya dan membuat tubuhnya bercahaya juga.


"Itu kan... 'Artifak Sakral'."


Tampak bentuk "Artifak Sakral" itu berupa koin kecil yang berwarna emas dan artifak itu melayang ke arah altar kecil itu dan berdiam tepat di atas altar sembari melayang.


"Master, apa yang kamu lakukan dengan 'Artifak Sakral' itu?"


Master muda berbalik dan hanya tersenyum lalu berkata :


"Aku menggunakan salah satu kemampuan artifak ini yaitu 'World of Sage' di mana kemampuan ini mampu menunjukkan sesuatu hal yang akan terjadi pada dunia ini, mau itu buruk atau pun baik, semuanya akan diperlihatkan olehnya."


"Jadi kamu akan menggunakannya sekarang?"


"Iya, tapi kita akan menunggu dulu Master Pedang, Master Tongkat dan Master Cawan datang ke sini."


Mendengar itu, Agus menurutinya dan fokus memandangi koin emas yang bersinar itu.


...•••...


10 menit kemudian...


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara langkah kaki yang ramai di lorong itu, terlihat ada enam orang telah sampai di ujung lorong ini.


"Tak kusangka ada tempat seperti ini di organisasi kita," ucap salah satu master itu.


"Baguslah, Master sekalian sudah datang," ucap master wanita muda itu. "Aku langsung ke intinya saja, pertemuan ini aku masukkan sebagai pertemuan darurat."


Orang-orang yang baru datang terkejut, ketiga master yang seumuran atau lebih dari Agus memperhatikan keadaan sebagai hal gawat. Sebab posisi keempat master memegang dan saling mempercayai masing-masing hubungan mereka, sebab sedikit pertikaian di antara mereka maka bumi mengalami kekacauan sesaat, maka dari itu mereka dikenal sebagai "4 Pilar Bumi".


"Mari ikuti aku, aku akan menunjukkan sesuatu hal," lanjut master muda itu.


Mereka mengikutinya ke arah kolam itu dan sang master muda berdiri tepat di depan altar dan memulai merapal.


Bing!


Sesaat cahaya pada koin mengarah pada kolam itu dan muncul sebuah gambar asing dari atas genangan air kolam itu. Tampak gambar itu bergerak seperti halnya seseorang menonton video melalui TV.


"Aaaghh...!!!"


"Lari..!! Aaaa...!!!"


Hoaaarrrg!!!


Jleb! Crak!


Tampak gambar itu menunjukkan kekacauannya yang sangat buruk terjadi di seluruh penjuru dunia. Monster, bencana, makhluk aneh dan lagi kekuatan manusia telah hilang sepenuhnya melawan mereka semua.


Para master serta orang-orang yang mengikuti mereka dan Agus pun dibuat sangat terkejut apa yang ditampilkan ini. Mereka tak menyangka bahwa ada kekacauan hal seperti dalam hidup manusia.


Setelah beberapa saat rekaman kilas mengerikan itu terhenti dan koin emas itu berhenti bercahaya dan jatuh ke tangan master wanita muda itu.


"Master Koin, apa ini yang kamu tunjukkan?" Tanya Master Pedang. "Hal ini tak pernah terjadi dalam kehidupan manusia, bahkan hal ini jauh lebih mengerikan daripada 9 tahun lalu."


"Hal ini belum sama sekali dilihat oleh pendahuluku, apa ini salah satu kemampuan artifak itu?" Tanya Master Tongkat.


"Itu benar, ini salah satu kemampuan artifak ini. Aku mengumpulkan kalian semua karena era kepunahan umat manusia telah tiba..."


"!!!"


Mendengar itu mereka sangat terkejut dan tak percaya apa yang diucapkan master muda ini.


"Yang kalian lihat adalah... masa depan yang menimpa umat kita," lanjut master wanita muda.


"Maaf kelancanganku, Master Koin. Apa hal ini bisa terbuktikan atau bisa dihindari gitu?" Tanya orang yang mengikuti Master Pedang.


"Soal bukti aku tak bisa membuktikannya, tapi para Master Koin terdahulu telah melihat masa depan ini berulang kali dan bahkan mereka sampai-sampai harus menyusuri untuk melihat masa lalu dan sekarang, hanya untuk mengubah masa depan itu."


"Jadi... ini penyebab Master Koin terdahulu yaitu Rum, harus mati karena kehabisan energi karena melihat hal ini," ucap Master Cawan.


"Itu benar Master Cawan, Master Rum meninggal karena mengikuti jejak pendahulu generasi pertama yaitu mencoba mengubah takdir masa depan dengan ramalan ini. Tapi sayang, takdir adalah takdir, segala tindakan kita tak bisa mempengaruhi takdir tersebut."


"Apa Master punya sesuatu untuk mencegah hal ini sementara?" Tanya Agus.


"Ada, yaitu sang 'Penyelamat'..."


Mereka sedikit terkejut dan bingung apa maksud dari master muda.


"Cuma dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan umat manusia dan bumi," lanjut master muda itu.


"Lalu sang 'Penyelamat' itu ada di mana sekarang?" Tanya Master Tongkat.


"Soal itu aku tak mengetahuinya, tapi aku sudah melihat melalui kemampuan artifak ini dan kemampuan 'Penyelamat' sangatlah hebat, mungkin dia mendekati sosok Dewa itu sendiri atau... dia adalah Dewa itu sendiri."


Mereka masih dibuat terkejut dengan pernyataan ini dan sang master mengaktifkan kembali artifak dan altar itu lagi.


Bing!


Cahaya dari koin emas itu bersinar lagi dan mengarah ke arah kolam lagi. Mereka memperhatikan lagi apa yang ditampilkan oleh artifak ini.


"Jadi ini anak muda ini jadi pelindung tempat ini sekarang."


Tampak ada dua puluh orang dengan energi besar serta makhluk-makhluk mengerikan berdiri tepat di belakang mereka. Mereka semua memandangi sesosok orang dengan pakaian berjubah hitam dan ditutupi topi hitam beruncing di setiap sisinya serta masker hitam yang menutupi mulutnya. Orang itu memegang sebuah sabit di tangan kirinya dan sebuah pistol aneh dengan laras sedikit panjang, setiap kedua senjata itu memiliki sebuah bola berwarna merah tua menempel di senjata itu.


Lalu di samping sosok berjubah hitam itu ada sesosok mengerikan dengan bulu serba hitam dan berdiri dengan dua kakinya dan dua tangan besarnya disertai kuku tajamnya, lalu surai lebat berwarna merah dilehernya. Di belakang sosok berjubah hitam itu juga ada banyak makhluk aneh nan mengerikan dengan energi sihir yang sangat besar.


Setelah pertunjukan itu, akhir berhenti dan tampak sang master muda kelelahan. Agus melihat itu langsung menghampirinya karena khawatir akan pemimpin mudanya ini.


"Terima kasih."


Agus hanya mengangguk saja dan mencoba membantunya berdiri lagi.


"Seperti yang kalian lihat itulah 'Penyelamat' yang kumaksud, tapi... aku merasakan kebencian besar 'Penyalamat' ini pada umat manusia dan itu yang membuatku sangat khawatir."


"Jadi maksud Master Koin, akan ada kemungkinan 'Penyelamat' ini tidak berpihak pada umat manusia dan ikut bergabung dengan kelompok mengerikan itu," ucap Master Cawan.


Master muda ini hanya mengangguk saja dan tampak wajah kekhawatiran mereka. Situasi ini berada di tengah-tengah jurang dan sedikit kesalahan akan membawa banyak perubahan besar pada umat manusia.


"Satu hal lagi yang perlu kuberitahu kan lagi pada kalian, bahwa kehancuran dari '4 Pilar Bumi' tinggal dua langkah lagi," ucap master wanita muda.


Tak sampai dengan ramalan itu, master muda ini masih membuat semua orang yang ada di sini syok lagi.


"Apa maksud Anda, Master Koin?!" Tanya orang yang mengikuti Master Tongkat.


"Seperti yang kalian lihat dari kilas ramalan itu, salah satu dari 20 orang itu akan mendatangi organisasi kita dengan membawa banyak monster mengerikan, hal ini aku sudah melihatnya kemarin dan... semua orang yang di organisasi akan musnah."


Mendengar berita buruk bertubi-tubi ini membuat harapan mulai semakin hampir putus, seolah-olah takdir kejam ini selalu berpihak pada yang lemah dan menguntungkan orang yang kuat saja.


"Tapi... aku punya cara dan itu sangat merugikan kita semua, tapi dengan cara ini bisa menahan orang asing itu sementara untuk keluar di permukaan umat manusia," lanjut master muda itu.


"Maksudmu dengan 'Formasi Bintang' begitu," ucap Master Pedang.


Master muda itu hanya mengangguk saja dan para master saling menatap satu sama lain dan mengangguk.


"Kurasa tidak ada jalan lain," kata Master Pedang.


"Lagian ini demi umat manusia juga," kata Master Cawan.


"Jadi apa alasanmu meminta membawa salah satu 'Pillar Chair' kami?" Tanya Master Tongkat.


"Selain 'Formasi Bintang' aku meminta setiap 'Pillar Chain' Master sekalian untuk menemukan sang 'Penyelamat' dan membuatnya berada di pihak umat manusia."


"Begitu ya, karena 'Formasi Bintang' membutuhkan 12 orang sebagai penyalur energi dan satu orang sebagai pusat energi, dan satunya lagi tidak ngapain-ngapaian dan ia hanya bertindak sebagai pencegah jika formasi gagal," jelas Master Tongkat.


Dur...!!!


Sesaat mereka mendiskusikan cara untuk melaksanakan formasi ini, tiba-tiba tempat ini mengalami guncangan.


"Sedang terjadi sesuatu di atas sana!" Kata Master Pedang.


"Dia sudah datang."


"Apa! Jadi orang itu sudah datang!" Kata Master Cawan.


Mereka bergegas keluar dari tempat ini sebelum sepenuhnya runtuh atau mereka akan ikut terkubur di tempat ini.

__ADS_1


Bom!! Dur...!!


Sesaat keluar mereka dikejutkan dengan pemandangan mengerikan, api di mana-mana dan mayat dari anggota organisasi ada di mana-mana serta monster bermunculan entah dari mana.


"Aku akan mengumpulkan para 'Pillar Chair'!" Master Pedang langsung bergegas mengumpulkan anggota yang lainnya dan diikuti oleh Master Tongkat dan Master Cawan.


"Sial! Aku tak bisa berdiam dir--"


Sesaat langkah terhenti oleh tangan mulus wanita muda itu.


"Kamu mau ke mana?"


"Apa Master tidak lihat, aku ingin membantu saudara-saudara kita!"


"Tidak bisa, apa kamu lupa tugas yang kami percayakan pada kalian berempat."


"Tapi..."


Agus langsung menepuk pundak orang itu dan dia hanya bisa pasrah melihat teman-temannya mati.


Bom!!!


Bing!


Tampak sebuah "Formasi Bintang" telah diaktifkan dan para master "Pillar Chair" berusaha menahan bentuk formasi ini, tapi sayang orang yang mereka mau segel dengan mudahnya menghancurkan formasi itu dengan satu pukulan.


"A-apa-apaan orang itu...!"


Tampak sosok asing itu menyerupai pria tua dengan rambut putih dan jenggot putih disertai pakaian sepeti seorang raja, dan matanya yang berwarna merah darah.


Orang itu dengan santai membantai para 'Pillar Chair' dan master lain yang ada di sana.


"Sial!!"


Agus yang tak tahan melihat ini ingin ikut terjun melawan orang asing itu, tapi langkahnya terhenti oleh tangan masternya.


"Sudah saatnya kita berpisah di sini."


"Hah?"


Tiba-tiba muncul lingkaran sihir tepat di bawah kaki keempat orang itu.


"Tolong temukan 'Penyelamat' itu dan bantulah dia, aku merasakan kesedihan darinya dan perasaan itu sama persis yang aku rasakan dulu, yaitu kehilangan keluarga yang sangat dicintai."


Bing!


Sesaat lingkaran sihir itu bersinar, Agus yang tak sempat mengatakan apa pun menghilang begitu saja bersamaan muncul cahaya itu. Dia hanya melihat senyuman tulus dari masternya.


...•••...


"Sesaat setelah itu, aku langsung di teleport ke Indonesia, tanah kelahiranku sendiri. Aku tak tahu alasan Master memindahkanku ke sini, tapi mungkin dia sudah melihat banyak hal untuk menemukan 'Penyelamat' itu, dan... cuma tersisa aku saja yang mencari sang 'Penyelamat' karena yang lainnya berhasil ditemukan oleh 'Mereka'."


Agus masih tak menyangka jika saudara-saudara "Pillar Chair" tersisa berhasil ditemukan dan sudah pasti perkiraannya bahwa mereka sudah berakhir di tangan "Mereka".


"Tapi setidaknya usaha mereka tidak sia-sia, mereka menghubungiku sebelum ditangkap melalui telepati sumpah setia 'Pillar Chair' dan mendapatkan informasi bahwa kemunculan orang-orang asing itu telah bertambah."


Agus terus mengepal tangannya dan tak akan melupakan apa yang menimpa saudara-saudara organisasinya dan cuma dia satu-satunya harapan terakhir mereka.


"Kalian jangan khawatir, aku sudah menemukan sang 'Penyelamat' dan aku meminta kalian terus mendukungku di alam sana."


...•••...


...•••...


...•••...


Sesaat di lantai Kota Asgard...


Kota yang tidak jauh berbeda dengan Atlantis, kota yang dipenuhi oleh teknologi-teknologi hebat nan modern serta sesuatu hal yang sulit dipahami oleh akal manusia, maka tak heran tempat ini menjadi tempat bersemayam para dewa.


"Hah... Hah..., tak kusangka berpikir keras saja mampu menguras tenagaku sebanyak ini."


Tampak pemandangan yang sangat berantakan, ada banyak makhluk dan mesin bergerak telah hancur dan musnah. Lalu di ujung sana ada seseorang yang sudah menjadi dengan pose kalahnya.


"Aku tak menyangka juga bahwa ujian kali ini adalah pertarungan komando dan batasan untuk mengerahkan legion-ku hanya 20, sedangkan mereka ada berempat dan batas mengerahkan legion mereka yaitu 70..."


Dengan kata lain para The Arcana-ku harus melawan 280 pasukan mereka, walaupun ada beberapa The Arcana milikku sangat kuat tapi ini pertarungan formasi yang mana membutuhkan sinergi yang kuat dan tepat agar pertarungan bisa unggul, dan lagi aku sebagai komando mereka tak bisa ikut dalam pertarungannya dan hanya bisa memerintah mereka saja.


"Tapi untung saja aku mendapatkan Slayer, sehingga ia bisa mengisi tiga peran sekaligus sebagai penyerang damage."


Dur...


Muncul altar kecil dan benda kecil itu, sesaat ingin ke sana tiba-tiba muncul pesan sistem.


[The Arcana - Dani telah berevolusi.]


[The Arcana - Dami telah berevolusi.]


[The Arcana - Bongsor telah berevolusi.]


[The Arcana - Frankenstein telah berevolusi.]


"Akhirnya di antara mereka ada yang berevolusi..."


Tiba-tiba keempat The Arcana ini muncul dari tubuhku dan menundukkan tubuh mereka kepadaku.


[Apa kamu menerima perubahan mereka?]


[Yes/No]


Aku memperhatikan mereka berempat dengan seksama dan menyeringai.


"Ya."


[Memulai proses evolusi...]


Busss...!


Tiba-tiba angin mengelilingi mereka disertai Mana hitam yang pekat menempel pada diri mereka.


[Evolusi berhasil.]


[Dani (Level 22)


Evolusi : The Dark Paladin.]


Bentuk tubuhnya serta armor-nya telah berubah yang awalnya serba hitam kini ada corak dan garis putih setiap armor-nya, dan wajah yang ditutupi terus helm hitam sekarang menampakkan wajahnya sepenuhnya.


"Hm, apa dia manusia dulunya?"


[Dami (Level 21)


Evolusi : The Dark Sage Witch.]


Jubah hitam penyihirnya yang tampak lusuh kini telah terganti dengan pakaian bak penyihir sekolahan dengan warna hitam dan garis-garis ungu di setiap sisi kainnya dan memakai memakai topi piring penyihir pada umumnya, di tambah lagi sekarang wajah tak tertutupi oleh kegelapan.


"Dia manis juga dan lagi wajah mereka berdua kembar. Itu jelas sih, pada dasarnya mereka berdua saudara."


[Bongsor (Level 17)


Evolusi : The Warrior Berserk.]


Untuk bentuk tubuhnya tidak ada perubahan hanya saja rambutnya sangat panjang dan menyentuh pantatnya, dan lagi telinganya sangat panjang menyerupai Elf.


"Dibandingkan dia menyerupai Elf, malahan dia seperti iblis dengan telinga panjangnya itu."


[Frankenstein (Level 19)


Evolusi : Mortiferum Corpus.]


Untuk dia ada banyak perubahan pada tubuhnya dan ada banyak muncul tulang-tulang keras dari tubuhnya, terutama di punggungnya tampak seperti duri landak dan sekarang Frankenstein harus sedikit membungkuk ketika berdiri. Tapi setidaknya tulang-tulang ini jadi pertahanan utamanya dalam bertarung.


"Benar-benar sangat cocok untuknya."


Setelah mengkonfirmasi semuanya, aku meminta mereka kembali ke dalam tubuhku dan berjalan lagi ke arah altar itu.


"Kali ini aku dibawa ke mana lagi."


Aku mengulurkan tanganku dan sesaat menyentuh benda kecil itu, tiba-tiba benda itu bercahaya.


Bing!

__ADS_1


__ADS_2