
Sesaat sampai di sana....
Terlihat ada banyak kerumunan orang-orang di sana, kebanyakan warga biasa dan tidak ada satu pun orang dari asosiasi biro keamanan.
"Tuan, kau mau ke mana, tempat ini area terlarang."
Seorang wanita yang berkacamata sedang menghalangiku untuk masuk.
"Adik-Adikku ada di dalam sana! Aku harus masuk menyelamatkannya!"
"Tenanglah Tuan, saat ini, anggota kami dari asosiasi akan segera datang."
Tak kusangka ternyata masih ada anggota asosiasi biro keamanan datang ke tempat ini dengan cepat, dan wanita ini hanya orang biasa tanpa sedikit pun kekuatan Mana dalam dirinya.
"Hm?"
Aku melihat ada banyak sekali orang terluka, tapi orang-orang ini memakai perlengkapan berburu dan bisa dipastikan orang-orang ini adalah seorang Terbangkitkan.
"Kenapa di sini banyak sekali orang terluka? Bahkan diantara mereka ada yang mau sekarat seperti terkena semacam racun."
"Itu...."
Seketika beberapa orang keluar dari portal itu, dan diantara mereka ada yang terluka bahkan luka yang mereka dapatkan jauh lebih buruk.
Tampak wanita ini ragu-ragu memberitahukannya, karena sudah sangat geram, pada akhirnya aku langsung menerobos pembatas itu.
"Eh! Tuan, tunggu...."
Saat menerobos pembatas itu, seketika seorang pria besar menghalangi jalanku, bisa diperkirakan orang ini Rank-D ke atas.
"Hei Bung, apa kamu dengar kata nona itu, bahwa kamu tidak boleh sembarangan masuk di sini."
Aku hanya terdiam saja beberapa saat.
"Minggir...."
"Apa? Hei, apa kamu mendengar yang kukatakan barusan, menjauhlah dari sini." Pria itu langsung memegang pundakku dengan tangan besarnya itu.
Dia mencoba mendorongku, karena kesal aku langsung menatap matanya dengan tajam.
"Eh? Apa-apaan bocah ini menatapku seperti itu?"
Seketika pria besar ini mundur secara perlahan dengan wajah pucat dan aku melanjutkan jalanku.
"Hei, kamu kenapa diam mematung di situ."
Seseorang dari timnya memanggil dirinya dan pria besar ini masih memasang wajah pucat ketakutan, serta keningnya basah.
"Big Bro, kenapa wajahmu pucat begitu?"
"Eh! Tidak, tidak ada apa-apa," jawab pria besar itu sembari menatap pemuda yang dia halangi barusan. "Apa-apaan orang itu, aku merasa Dewa Kematian telah mengarahkan sabitnya ke leherku dan kapan saja dia akan mencabut nyawaku."
Aku sudah berada tepat di depan portal.
"Tak kusangka portalnya sangat besar, mungkin portal ini berada di Rank-D ke atas."
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke portal itu.
Tapi....
"Tunggu dulu anak muda...."
Seseorang menahanku sembari menaruh tangannya di pundakku.
"Sial! Siapa lagi...."
Aku langsung membalikkan badan dengan wajah marah.
Tapi, aku terkejut melihat orang yang menghentikanku ini.
"Pak Adrian...."
"Oh, itu kamu ya, Tuan Peteng."
Setelah sekian lama tak bertemu karena insiden "Dungeon Parasit," dan tampak si pak tua ini baik-baik saja.
Pak Adrian menatapku dari bawah hingga ke atas dan berkata:
"Tak kusangka, kamu mengalami perubahan drastis ya."
"Begitu ya, hehe...."
Aku hanya tersenyum dan malu mendapatkan pujian dari orang yang sudah mengalami mimpi buruk bersama-sama.
"Oh iya, Pak, aku tak bisa ngobrol dulu, sebab Adik-Adikku ada di dalam sana, aku harus segera masuk menyelamatkan mereka."
Pak Adrian tetap menahanku dan berkata:
"Tunggu dulu, Tuan Peteng, apa kamu lihat orang-orang itu," ucap Adrian sembari menunjuk orang-orang yang sedang terluka setelah memasuki portal ini.
"Iya, aku melihatnya, mereka terluka berat dan ada juga terkena semacam racun."
"Kamu benar, mereka semua rata-rata para Venandi dan Protector Rank-E hingga Rank-D ke atas. Tapi, mereka semua terluka bukan karena monster dari dalam dungeon ini."
"Kalau bukan monster, lalu apa?"
__ADS_1
"Pasti kamu pernah mendengar atau sudah melihat berita, bahwa ada orang-orang yang melakukan tindakan kriminal di dalam dungeon."
Deg! Deg!
Seketika jantung berdetak sangat kencang lagi saat mendengar itu, aku sangat takut jika Rena dan Reno terluka oleh para bandit itu.
"Pak... aku harus segera masuk, aku takut jika Adik-Adikku kenapa-napa."
Pak Adrian hanya diam melihatku berkata begitu dan dia berbalik sebentar melihat orang-orang terluka itu.
"Tolong tunggu aku di sini sebentar, hanya sebentar saja...."
Pak Adrian langsung menuju ke arah orang-orang terluka itu, dan tampaknya mereka adalah anggota guild dari Pak Adrian. Terlihat mereka marah ke Pak Adrian dan mereka langsung menatapku dengan tajam dari sana.
Terlihat Pak Adrian menjelaskan sesuatu ke mereka, dan seketika mereka jadi tenang. Setelah berbincang beberapa saat dengan mereka, Pak Adrian kembali menghampiriku dan seorang wanita berkacamata ikut di belakangnya.
"Maaf membuatmu menunggu, sekarang kita harus segera masuk."
"Heh? Bapak akan ikut juga?"
"Tentu saja, kami punya hutang nyawa denganmu, kamu ingat Zara, kan."
Aku melihat wanita berkacamata ini, seperti biasa tatapannya kosong terhadapku atau semua orang ia tatap seperti itu.
"Halo, sudah lama ya...."
"Kamu benar-benar berubah ya, saat terakhir kita bertemu," ucap Zara. "Kalau diperhatikan lagi.., dia semakin tampan dengan tubuh terlihat sudah berisi saat terakhir kali aku melihatnya di 'Dungeon itu,' kalau aku berkata begini ke Susan, bisa-bisa dia ngamuk kepadaku."
Kami bertiga langsung memasuki portal.
[Kamu telah memasuki dungeon "Grave Cave."]
...•••...
Saat di dalam dungeon....
Aku melihat semuanya terlihat gelap dan Zara menyalakan sihir apinya sebagai penerang.
Saat di perjalanan kami melihat ada banyak mayat monster berserakan di mana-mana.
"Ini kan... Zombie," kataku.
"Iya benar, ini Zombie."
"Tak heran kenapa nama dungeon ini 'Grave Cave.'"
Pak Adrian mengatakan bahwa dia dan seluruh timnya harus menghadapi monster-monster ini, dan tiba-tiba muncul pihak pemberontak yang tiada lain adalah para bandit itu.
Para bandit langsung menyerang seluruh anggota guild Pak Adrian dan tiba-tiba seluruh anggotanya mengalami sesak dan keracunan, saat ditebas oleh sebuah belati dari salah satu bandit itu.
"Mungkin mereka dijadikan umpan untuk memancing perhatian para Zombie itu, sehingga mereka dengan mudah membantai Zombie-Zombie itu."
Deg!
Saat Zara berkata begitu, seketika jantung semakin berdetak kencang dan kepanikan serta amarah mulai menguasaiku.
Tapi....
"Tenanglah, Tuan Peteng, aku yakin adik-adikmu pasti baik-baik saja."
"Baiklah, terima kasih."
Pak Adrian tiba-tiba menepuk pundakku dan berusaha menenangkanku, yang dikatakannya benar mungkin aku harus tenang dulu, sebab tindakan ceroboh bisa mencelakai Rena dan Reno kapan saja. Aku harap mereka baik-baik saja.
"Entah apa yang dilakukan anak ini setelah insiden itu, tapi aku merasakan Aura yang sangat kuat dan tenang darinya, mungkin setelah masalah ini selesai aku akan mengajari dia cara menggunakan Aura."
Setelah beberapa saat berjalan kami diberikan pilihan menyulitkan dari dungeon ini.
"Pak, di sini ada lima jalan, yang mana kita akan ambil?" Tanya Zara.
"Hmm, mungkin kita akan mengambil yang di tengah...."
"Tidak! Jangan yang tengah, sebab di sana ada segerombolan Zombie yang siap menyergap kalau ada yang memasukinya."
"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa jalan ini sangat berbahaya?" Tanya Zara.
"Itu... karena aku merasakan ada bahaya di sana."
Mungkin jawabanku ini membuat mereka bingung, aku tak punya jawaban lain selain ini.
"Mungkin ini menjelaskan kenapa dia memliki Aura yang sangat kuat, semua indranya sangat tajam dan bahkan aku tidak merasakan apa pun di sana. Aku benar-benar harus mengajari dia cara menggunakan Aura."
Kami bertiga hanya berdiam saja dan berpikir sejenak untuk mengambil jalan yang tepat, dan pak Adrian buka suara duluan:
"Kalau begitu, Tuan Peteng, kamu yang pimpin jalannya."
"Eh, aku?"
"Iya kamu, seperti dulu kan."
"Baiklah."
Semenjak menerima Job dari sistem ini, selain Mana-ku semakin kuat dan seluruh tubuhku juga semakin kuat serta seluruh indraku semakin peka juga.
Aku menggunakan juga "Mata Dewa" untuk melacak jejak Mana para bandit itu dan aku menemukannya.
__ADS_1
"Kita harus segera ke sana, ikuti aku."
Aku langsung berlari menuju jalan bagian kiri tepat dekat dengan jalan yang tengah itu.
Tanpa bertanya sedikit pun, Pak Adrian dan Zara hanya mengangguk dan mengikutiku dari belakang.
...•••...
Crak!
"Sial! Mayat-mayat hidup ini semakin banyak saja!"
Terlihat enam orang dengan perlengkapan berburu mereka, tampak mereka terlihat kewalahan melawan segerombolan zombie ini.
"Bos, kalau begini terus kita semua akan mati."
Terlihat seseorang duduk dengan santai di belakang mereka sambil menghisap sebatang rokok, terlihat ada anak-anak berpakaian "Sekolah dasar" sangat ketakutan di sana.
"Ya... mau bagaimana lagi, kalian harus membersihkannya, dong."
"Kami kewalahan Bos, gunakan para bocah itu untuk mengalihkan mereka!"
"Dasar kalian ini, baiklah...."
Pria ini bangkit dari duduknya dan menuju ke arah para anak-anak kecil yang ketakutan.
"Baiklah, yang mana sekarang selanjutnya, kami sudah kehilangan empat buah, membuang satu buah lagi kayaknya tidak masalah."
Terlihat ada delapan anak-anak yang tampak sangat ketakutan ditatap oleh pria yang wajahnya ada bekas luka dan di leher hingga hampir menyentuh bibirnya.
"Kak... aku sangat takut."
"Jangan khawatir, Kakak dan Kak Susan pasti akan datang menolong kita."
Pria ini menatap dua anak kembar yang saling berpelukan, dan pria ini hanya tersenyum melihatnya.
"Heh... jadi kalian punya kakak yang sudah Terbangkitkan, karena begitu menarik maka aku akan menaruh kalian berdua diurutan terakhir."
Pria bekas luka di lehernya menatap seorang gadis yang tampak menangis dan sangat ketakutan.
"Aku pilih kamu, manis." Langsung menarik lengan gadis kecil itu dengan paksa.
"Tidak!! Aku tidak mau! Tolong lepaskan, aku mau pulang... Mama!!"
Gadis kecil ini ditarik terus menerus secara paksa dan langsung dilempar di tengah kerumunan zombie kelaparan itu.
Harrh...!
"Tidak... tidak! Aaahh...!!"
Gadis kecil teriak histeris dan air matanya semakin membanjiri pipinya, di sisi lain para pria besar ini hanya tertawa melihatnya dan anak-anak yang melihatnya juga semakin ketakutan.
"Huh? Apa yang terjadi kenapa Zombie-Zombie itu hanya diam saja?"
Crak! Crak! Crak! Klotak!
Seketika seluruh tubuh Zombie-Zombie yang mengelilingi gadis kecil terpotong-potong hingga beberapa bagian.
"Semuanya bersiaplah untuk bertarung!"
Sang ketua memerintahkan seluruh anak buahnya bersiaga dan seketika muncul seseorang tepat depan gadis kecil.
"Siapa orang itu? Dan dia muncul entah dari mana."
Seketika suasana semakin mencekam dan pria yang muncul secara tiba-tiba ini mengelus dengan lembut kepala gadis kecil yang bersedih ini.
"Jangan khawatir, sekarang semuanya baik-baik saja."
"Hiks... sungguh... hiks..., apa aku... hiks... bisa pulang ke Mamaku?"
"Iya."
Gadis ini semakin menangis terharu dan memeluk penyelamatnya ini.
"Kakak! Rena! Itu Kakak, Kakak datang menyelamatkan kita!"
Teriakan pria kecil nan polos ini membuat suasana semakin hangat dan mencekam.
"Jadi orang ini adalah kakaknya, tak kusangka dia bisa menghilangkan keberadaannya, pasti orang ini Assassin rank tinggi."
Gulp!
Semua pelaku kejahatan semakin tegang dan keringat membasahi keningnya.
"Bos... apa yang harus kita lakukan? Orang ini pasti Assassin rank tinggi."
Setelah membuat gadis kecil ini tenang, sang penyelamat ini bangkit dan menatap tajam mereka semua.
"Kalian..., kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar!"
Seketika suasana dalam gua ini semakin dingin dan mencekam.
"Egh... apa-apaan tekanan Mana ini!"
Dalam pandangan bos mereka, dia melihat sesosok yang selama ini hanya omong kosong saja untuk diceritakan, dan sekarang sosok ini telah terpampang jelas di matanya.
__ADS_1
"Itu... apa itu Dewa Kematian?"