Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 19


__ADS_3

"Aaaa...!!! Bos! Monsternya bangun...!"


"Cepat kalian ambil posisi!"


Mereka semua berkumpul dengan cepat, hanya tinggal empat dari mereka setelah yang satunya berhasil dibunuh.


Haarrhh...!!!


"Bersiaplah semuanya dia datang..., 'Iron Body'!"


Sang ketua yaitu Gilang Himar memakai skill miliknya dan menahan monster itu, dengan perisai miliknya didukung skill yang memperkuat dirinya dia bisa menahan monster itu.


"Sekarang!! Serang kepalanya!!"


Ketiga orang di belakangnya ini bersiap mengeluarkan serangan terkuatnya ke monster besar di hadapannya itu.


Tapi....


Set!


Slash! Craak!!


"Aaaaahh...!!! Tanganku...!!!"


"Sial!! Bocah itu...!!"


Pemuda yang dikiranya mati kini menunjukkan gerakan yang sangat cepat dan memotong satu tangan salah satu anggotanya.


"Apa-apaan gerakannya yang cepat itu!"


Haarrhh...!!!


Gilang terus menahan monster besar itu yang mendorongnya hingga mundur.


"Andi!! Musnahkan bocah itu, cepat!!"


"Baik Bos!"


Mage ini mengumpulkan jumlah Mana di tangannya dan siap menembakkan sihir angin terkuatnya.


"Terimalah ini, bocah!!"


Wosshh... Bom!!


"Apa berhasil?"


Di rasa serangannya berhasil kena, seketika sesuatu aneh muncul dari belakangnya.


Jleb!


"Ukh...! Kamu..."


Craak!


Pemuda yang dikira sudah mati olehnya, ternyata berhasil menghindari serangannya dan langsung menusuknya hingga ke dalam dari belakang.


"Tidak, Andi!! Kalian berdua cepat bunuh bocah itu!!"


"Tapi Bos...."


"Cepat!! Kita akan mati kalau begini terus!"


Kedua anggotanya ini langsung maju dan menghadapi pemuda yang membunuh teman mereka.


Tapi....


Set!


Slash! Slash!


Craak! Craak!


Mereka berdua berhasil dibunuh dalam sekejap.


"Apa!"


Gilang terkejut melihat semua anggotanya mati ditangan pemuda yang menurutnya jauh lebih lemah darinya.


"Apa anak ini benar-benar Venandi Rank-F? Gerakan yang sangat cepat dan senjata belati, itu ciri khas seorang Assassin rank tinggi. Apa dia 'orang palsu?'"


Haarrhh...!!!


Monster itu terus memojokkannya dan di sisi lain ada orang gila yang sudah merenggut semua nyawa anggotanya lalu maju ke arahnya, sekarang tinggal gilirannya disantap olehnya.


"Egh... apa yang harus kulakukan?!"


Saat menahan monster besar di depannya, dia melihat pemuda yang semakin dekat dengannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat pemuda itu.


"Tunggu dulu! Anak itu benar-benar mati, tapi kenapa dia...."


Gilang melihat orang mendekatinya benar-benar sudah mati dia sudah menyaksikan banyak orang mati, atau lebih tepatnya dia sudah banyak menyaksikan korbannya mati dan sebelum mati.


Gilang langsung melirik ke arah gadis yang ingin dia nodai sebelumnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat gadis itu.


Gadis kecil yang nampak polos menyeringai penuh kesenangan kepadanya, seolah-olah sedang menonton pertunjukan menarik.


"Kamu!!!"


"Hehe~, akhirnya kamu sadar juga ya, Tuan Himar~."


"Egh... aaahh...!!"

__ADS_1


Gilang cukup kewalahan menghadapi monster besar itu dan dia tampak kelelahan, gadis ini langsung bertepuk tangan berapa kali dan monster besar serta pemuda itu berhenti bergerak.


"Ya~, dengan begini kita bisa bicara santai kan, Tuan Himar~."


Tampak raut wajah panik dari pria besar nan berotot ini, napasnya terengah-engah serta jantung berdetak kencang diiringi keringat yang membasahi keningnya.


"Kamu... apa kamu yang melakukan semua ini?!"


"Yap~, tepat sekali, Tuan berotot."


Pria besar ini semakin ketakutan dan dia mundur dengan cepat.


Tapi....


"Baby-ku yang pertama, tangkap dia."


Set!


Dengan cepat pemuda pucat ini maju dan mencengkram kepala Gilang.


Bur...!


Langsung menghantamkannya ke tanah cukup kuat, hingga tanah yang dipijaknya hancur.


"Hok... hok...huh..., kumohon maafkan aku, maafkan aku...."


Gadis ini maju ke arah Gilang yang terkapar akibat dihantam cukup keras kepalanya di bawah tanah. Dia memandang sangat hina pria besar di hadapannya ini.


"Kumohon ampuni aku..., aku akan berikan semua Kristal Mana ini, bila perlu semua harta yang kumiliki, asalkan kamu mau melepaskanku."


"Heh~~ tawaran yang menggiurkan. Tapi, sudah berapa banyak orang yang kau berikan tawaran semacam ini, dan apa orang-orang itu sudah menerima bayarannya... kurasa tidak, karena kamu telah merenggut mereka semua."


Seketika raut wajah terkejut terpampang dari Gilang dan seketika juga berubah merah dengan urat kelihatan di kepalanya dan berkata:


"Kamu dasar j*l*ng...!! Asalkan kamu tahu, Kakakku adalah Rank-S di negara ini! Kalau dia tahu kamu membunuhku, maka jangan harap bisa lepas darinya, brengsek!!"


Set!


Dengan cepat pemuda pucat ini maju dan menarik rambutnya.


"Ah~... aku benar-benar takut...."


"Haha, akhirnya kamu tahu diri, sekarang cepat lepaskan aku dan... kita lupakan semua yang ada di si---"


Tiba-tiba raut wajahnya berubah saat melihat gadis di depannya ini menampakkan raut wajah seringai penuh kesenangan.


"Pfft... hahaha... hahaha!!!"


Suaranya menggema di mana-mana dan itu membuat suasana semakin merinding bagi Gilang.


"Kamu pikir aku akan takut dengan kakakmu."


"Aku dan dia sudah memiliki hubungan pertarungan yang sangat panjang, loh~."


Seketika keringat dinginnya berjatuhan ke pipinya dan matanya bergetar sedemikian.


"Apa kamu... 'The Voodoo Master!'"


Gadis ini hanya tersenyum memandang wajah ketakutan pria di hadapannya.


"Tidak.... tidak...! Aaaa....!!"


Slash!


Craak!


Seketika kepalanya lepas dari tubuhnya dan suasana semakin dingin dan tenang.


"Hup... hoek...., Abang, aku sudah tidak kuat lagi dan... berhentilah berpura-pura jadi mayat hidup! Itu membuatku semakin takut."


"Aku pikir kamu menyukainya."


"Mana mungkin aku menyukainya!"


"Tapi, kamu hebat loh, dengan bakat akting-mu itu kamu bisa jadi artis layar lebar."


"Sudah, jangan dibahas aku malu," ucapnya sembari memegang pipinya. "Jadi, kita apakan mereka?"


Sekarang di ruang bos ini sudah ada korban, yang mana akan jadi pusat perhatian banyak orang jika ada yang datang ke sini.


"Abang, kamu sedang apa?"


Pemuda ini menyeret satu persatu dan mengumpulkan semua mayat ini dalam satu tumpukan.


"Kita harus menyingkirkan mereka secepat mungkin, sebelum ada yang datang kemari. Kawan, kemarilah!"


Monster besar itu tiba-tiba bergerak dan menjawab panggilan pemuda yang memanggilnya ini.


"Sekarang keluarlah dari sana, Norum."


Tiba-tiba muncul sesuatu warna hitam dari tubuh monster besar itu, dan membentuk serigala.


"Grrrh... heh... heh...."


Terlihat serigala itu kelelahan dan pemuda ini memintanya masuk ke dalam tubuhnya.


Herrh....


"Abang, apa monster itu masih hidup?"


"Iya, dia masih hidup."

__ADS_1


"Tapi, kenapa?"


"Dia akan menjadi pelindung kita dari kejadian ini."


Gadis ini terlihat kebingungan dan berkata:


"Kalau begitu kita harus keluar dari sini, kamu sangat terluka." Santia langsung mengambil barang-barangnya.


"Iya, kita harus cepat keluar dari sini. Tapi, Kamu mau ke mana?"


"Aku harus mengambil kristalnya."


"Jangan, tinggalkan saja."


"Tapi...."


"Kalau kamu mengambilnya, itu sama saja kamu mengekspos dirimu bahwa kamu membunuh mereka."


Seketika wajah sedih terpampang dari gadis ini.


"Ya aku tahu ini merugikan kita, tapi kamu sudah dengarkan... siapa saudara dari bajingan ini."


Herrh....


Monster besar itu bergerak ke arah tumpukan mayat itu.


"Eh, monsternya bergerak."


"Sebaiknya kamu jangan melihat pemandangan ini. Karena..."


Krauk! Krauk! Krauk!


Monster besar itu memakan semua tumpukan mayat itu, dan gadis ini melihatnya sembari menutup mulutnya yang ingin muntah lagi.


"Sebaiknya kita segera keluar dari sini. Sebenarnya, berikan saja satu serangan kuat ke monster itu maka dia mati, karena 'jantung dungeon' miliknya telah retak akibat tusukanku. Aku ingin sekali membunuh monster itu saat dia sudah sekarat, tapi aku langsung mengingat keadaan kita yang lagi dalam masalah, sehingga aku punya ide untuk bisa keluar dari situasi rumit ini."


"Heh... Abang, benar-benar hebat ya."


"Itu sudah hal biasa jika kamu keadaan terpojok. Oh iya, kali ini aku butuh air matamu."


"Air mata?"


...•••...


Saat di luar dungeon....


"Lihat ada orang keluar dari sana."


Terlihat seorang gadis membopong seseorang yang tampaknya terluka berat.


"Tolong!! Siapa pun, tolong aku!!"


Orang-orang Terbangkitkan yang ada di sekitar dungeon, berbondong-bondong datang kemari karena teriakan barusan.


"Ada apa, Nona?"


"Tuan, tolong Abang saya, dia terluka parah!"


"Astaga! Protector kemampuan healer kemari cepat, ada orang terluka di sini."


Seorang dengan kemampuan Healer datang dengan cepat dan melakukan penyembuhan ke pemuda ini.


"Tuan, cukup... aku sudah mendingan."


"Kamu yakin sudah baik-baik saja, Nak?"


"Iya, aku baik-baik saja." Seketika wajahnya jadi panik. "Tuan! Tolong Ketua Gilang, dia berada di dalam sana melawan bosnya."


"Oh iya, kamu kan anggota yang ikut party Gilang, sekarang dia sudah menemukan bosnya, dan kenapa kalian berdua keluar?"


"Tuan, Tuan Himar menyuruh kami keluar secepat mungkin dan meminta bantuan orang-orang dari luar, tapi... kami dihadang banyak monster saat ingin keluar kemari, sehingga membuat Abang-ku terluka," ucap gadis itu.


"Begitu ya, kami mengerti. Semuanya mari cepat masuk dan membantu mereka."


Niu... Niu... Niu....


"Aku sudah memanggil ambulans, cepat masukkan anak itu."


Setelah di masukkan ke ambulans, ambulans itu langsung tancap gas ke rumah sakit.


"Kuharap rencana ini bertahan hingga aku menjadi kuat, karena aku belum siap menghadapi mereka yang tingkat Rank-S."


...•••...


...•••...


...•••...


Paris, Prancis


Craang!


"Tuan! Apa yang terjadi, kenapa gelasmu jatuh?"


"Aku tidak tahu, tiba-tiba tanganku mati rasa. Ningti, kapan aku bisa kembali ke Indonesia?"


"Lusa, apa ada terjadi sesuatu di sana,Tuan Himar?"


Pria ini hanya menggelengkan kepala saja dan kembali memandang jendela.


"Gilang, kuharap tidak terjadi sesuatu padamu."

__ADS_1


__ADS_2