
"Hah?"
Tiba-tiba aku berada lagi di padang rumput yang sangat luas. Angin sepoi-sepoi ini membuatku sangat nyaman walau barusan aku melihat pemandangan yang sangat menyedihkan tadi.
Aku berjalan menyusuri padang hijau ini dan kulihat ada banyak bunga dandelion yang berterbangan ditiup oleh angin.
"Tempat ini sangat berbeda dengan sebelumnya."
Aku merasa tempat ini jauh lebih damai dari sebelumnya. Terlihat dari kejauhan tampak sebuah kota dan jauh dari kota itu tampak istana yang sangat besar dan megah.
Terdengar suara keceriaan berasal dari sana dan anak-anak sangat bersemangat terdengar juga dari sana.
"Apa eranya sudah berubah lagi?"
Ini mengingatkanku dengan kejadian waktu Aristoteles di mana dia mengucapkan kata yang aku sendiri tidak mengerti apa arti kata itu.
"Katanya akan ada festival hari peringatan pahlawan."
"Serius? Bakalan banyak makanan enak di sana, dong."
Aku melihat orang-orang berdatangan dari luar kota dan mengikuti jalan setapak ini. Ada yang membawa kereta kuda mereka dan barang-barang diangkutnya, tampaknya mereka adalah pedagang.
Ada banyak orang berdatangan ke kota itu dan aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
"Festival? Pahlawan? Siapa yang mereka peringati..., eh?"
Saat ingin ke sana... tiba-tiba muncul rantai putih dari dadaku dan itu membuatku tidak bisa menjauh dari sesuatu.
"Rantai ini... apa Arthur masih hidup?"
Aku sangat terkejut mengetahui rantai putih tiba-tiba muncul dari dadaku dan itu pertanda bahwa orang yang memiliki memori ini masih hidup di dunianya ini.
Aku langsung berlari mengikuti panjangnya rantai ini dan terasa rantainya mulai semakin renggang dan itu pertanda bahwa "Dia" telah ada di sini.
"Di mana dia?"
Saat sampai diujung rantai ini, aku tak melihat Arthur sama sekali di sini dan hanya melainkan sebuah pedang berkarat yang ditumbuhi lumut serta lumpur tanah yang sudah mengeras yang tertancap sangat dalam di tanah.
"Pedang? Kenapa bisa ada di sini?"
Aku melangkah ke arah pedang itu, tapi aku urungkan langkah itu karena seorang pria tua dengan janggut putihnya telah duluan menghampiri pedang.
Dia sedang duduk santai di atas batu tepat di depan pedang itu, terlihat dia memandangi pedang itu cukup lama.
"Apa yang dilakukannya?"
Kakek tua itu mengangkat sebuah botol dan membuka penutupnya, lalu dia meminum isi dalam botol itu dengan lahap.
Aku hanya diam menunggu melihat kakek tua itu hanya memandangi pedang itu tanpa henti, seolah-olah dia tenggelam dalam pikirannya.
"Sudah kuduga, kamu pasti ada di sini."
Aku langsung berbalik ke arah suara itu dan tampak seorang pria tua juga dengan pakaian bangsawan kelas atas dan mahkota mewahnya.
"Kamu ini seorang raja, tidak pantas berkeliaran seperti ini di tempat terbuka tanpa pengawal, apa kamu kabur lagi?"
Raja itu hanya tertawa mendengar itu dan tampak mereka sangat akrab dan status tidak mempengaruhi hubungan pertemanan erat ini.
"Sudah kuduga kamu pasti akan berkata seperti itu saat setiap kali aku keluar dari istana."
"Itu bukan aku tapi seseorang, dasar raja bodoh!"
Kakek tua itu langsung melempar botolnya ke arah sang raja dan raja itu langsung menangkapnya dan membuka tutup botolnya lalu meminumnya.
"Seperti biasa seleramu sangat buruk." Langsung melempar balik botol itu.
Kakek tua berhasil menangkapnya dan langsung memasukkan benda itu ke dalam tas yang dibawanya.
"Itu obat dan sangat bagus untuk pria tua seperti kita."
Mereka berdua tersenyum dan memandang pedang berkarat itu yang tertancap di sana. Keheningan langsung terjadi pada mereka dan hanya fokus menatap pedang itu.
Angin bertiup dengan lembut dan membuat suasana sangat hidup dan tenang.
"Saat melihat pedang ini membuatku sangat tenang walau teringat dengan kejadian sepuluh tahun lalu, yang mana kita menghadapi sebuah bencana yang kita tidak tahu sendiri bencana seperti apa itu. Apa yang kamu rasakan saat melihat pedang ini, Mer?"
__ADS_1
Aku sangat terkejut saat raja itu mengucapkan nama dari kakek tua itu.
"Mer? Merlin? Lalu yang raja itu... apa Uther?"
Sontak aku teringat apa terjadi setelah insiden pertarungan besar antara Heredis dengan para Dewa itu. Waktu itu Aristoteles menghadapi mereka dan di saat terakhirnya dia mengucapkan sebuah kata yang sama seperti Arthur.
"Setiap mereka berdua melancarkan serangan sihir, mereka selalu mengucapkan sebuah kata asing yang bahkan aku sendiri tidak mengerti."
Ini sangat berbeda dengan skill milikku yang mana hanya memiliki sebuah nama biasa dengan bahasa biasa juga yang sudah dikenal mana pun.
"Mungkin kata-kata yang asing mereka ucapkan sama dengan bahasa pada batu itu."
Memikirkan ini membuatku sedikit pusing dan kupikir hal itu perlu dilewatkan sementara ini, karena ada sebuah percakapan dari kedua orang tua itu.
"Aku juga merasa seperti itu, padahal saat itu kita lagi sedang berperang oleh sesuatu yang aneh dan kita semua tiba-tiba terbangun di atas tanah yang menjadi lokasi perang kita. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saat kita semua dilanda kebingungan saat itu juga kita melihat seseorang dengan zirah serba hitamnya yang berdiri dengan gagah sembari memegang pedangnya yang tertancap di tanah di tengah-tengah tanah medan tempur ini."
"Yah, semuanya sudah sadar di saat itu juga orang itu menghilang dan tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi pecahan cahaya kecil dan terbang di langit, dan hanya menyisakan pedangnya saja di sana. Pada insiden itu, aku memutuskan bahwa dia adalah pahlawan kita yang telah menyelamatkan kita dari kehancuran."
"Padahal kita tidak tahu nama dia dan asalnya dari mana, tapi semua orang setuju-setuju saja menerima dia menjadi penyelamat dan pahlawan. Malahan ada yang menganggap dirinya sebagai utusan Dewa."
"Pahlawan akan dikenang selamanya melalui namanya dan pahlawan akan cepat terlupakan jika tak memiliki nama. Kupikir sejarah mengenai dirinya akan tersingkirkan dengan cepat di generasi yang akan datang."
"Ya."
Selagi mereka mengobrol, di sisi lain aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada era Heredis-Heredis sebelumku.
"Saat pendahuluku mulai terpojok, mereka langsung menggunakan kata asing itu dan langsung muncul sebuah cahaya menyinari tubuhnya. Aku tidak tahu apa itu, tapi kenapa aku tak bisa mengucapkan kata asing itu ya?"
Kata-kata terakhir dari mereka selalu terngiang-ngiang di kepalaku dan saat ingin mengucapkannya, tiba-tiba aku merasa tertahan oleh sesuatu dan hanya bisa kuingat saja kata asing itu di pikiranku.
"Mungkin sistem membatasi diriku, karena mungkin belum waktunya untukku menggunakan sihir asing itu."
Sihir tinggi maka resikonya tinggi juga, sudah terlihat jelas di depan mataku dua kali yang mana sihir itu sangat beresiko menurutku. Dirinya akan dilupakan dari peradaban dan keberadaan dirinya akan dihilangkan sepenuhnya.
"Dipikiran orang-orang sudah melupakan orang yang menyelamatkan mereka, tapi perasaan yang sangat dekat dengan sang penyelamat itu mungkin sulit dihilangkan terutama orang yang sangat dekat dengannya."
Beban sebagai yang penanggung kekuatan besar menyulitkan siapa pun, bukan berarti kamu tak akan menyanggupinya tapi kamu adalah orang yang terpilih orang yang punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun.
"Aku berpikir bahwa diriku yang tidak memiliki apa-apa ini tidak akan pernah bisa mendapatkan kemajuan apa pun. Semenjak menerima sistem ini, aku merasa sudah seperti orang-orang yang aku kagumi di luar sana."
Setelah merenung cukup lama, aku kembali memperhatikan mereka berdua lagi dan sepertinya mereka berdua mulai meninggalkan tempat ini.
Kakek tua itu berdiri dari duduknya dan berkata:
"Kamu tidak perlu khawatir, dia anaknya sangat baik dan sangat rajin berlatih. Tapi, aku sangat kasihan saat dia selalu memandangi anak-anak yang memiliki keluarga lengkap."
"Aku terpaksa melakukan itu, kamu pasti tahu sendiri kan apa yang terjadi jika ada konflik keluarga kerajaan di dalam istana."
"Ya aku tahu itu, tapi... apa kamu tak ingin mengubah keputusanmu? Aku bertanya seperti ini demi kebaikan Arthur juga."
"Aku tak akan pernah merubah keputusanku, aku akan tetap menjadikan dia pewaris tahtaku dan maka dari itu aku memintamu membawanya sejauh mungkin dari wilayah istana, agar dia bisa menjalani hidupnya dengan bebas sementara ini dan sekalian juga dia belajar dari orang-orang di sekitarnya, dan mengerti seperti apa sifat orang-orang yang akan dia pimpin nanti."
Merlin mendengar jawaban itu langsung menggelengkan kepalanya dan menepuk pundak Uther sembari berjalan.
"Aku membimbing dia menjadi raja yang hebat kelak dan tidak akan pernah menjadi raja bodoh sepertimu."
Uther yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak dan langsung merangkul Merlin sembari berjalan.
Aku tersenyum melihat ikatan persahabatan mereka sangat kuat.
"Aku sudah tidak terkejut lagi atas kelahiran Arthur kedua karena kisah mereka akan sama persis dengan buku cerita sekarang..., hm?"
Tiba-tiba pedang itu bercahaya.
...Sentuhlah......
"...?"
Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dan langsung mencari sumber suara itu, tapi aku tidak menemukan sumbernya.
Aku berjalan ke arah pedang itu dan mencoba untuk menyentuhnya.
"Apa yang terjadi?"
Tiba-tiba pedang itu menghilang saat aku sentuh dan sekitarku juga seketika berubah menjadi gelap gulita.
__ADS_1
Bing...!
Muncul sebuah cahaya menyilaukan dan cahaya itu semakin membesar sehingga membuatku sulit melihat sama sekali.
"Hah? Apa aku sudah di luar?"
Aku langsung dikirim oleh sistem di suatu tempat dan tampak di sekitarku ditumbuhi pohon-pohon yang sangat lebat.
"Aku benar-benar berhasil kel---"
Deg!
"Akgh..! Efek dari mode ini mulai muncul...!"
Aku langsung bersandar ke salah satu pohon dan langsung duduk dan meditasi, Pak Adrian mengatakan padaku bahwa Aura bisa digunakan untuk meredakan rasa sakit pada tubuh.
...•••...
20 menit kemudian....
"Fiuh*...."
Aku berhasil mengurangi rasa sakit yang disebabkan efek samping mode Heredis, aku menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diriku lagi agar rasa sakit ini tidak terasa sementara waktu.
"Dengan ini aku bisa berjalan sekarang."
Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah depan saja, aku mendengar suara mesin beroda lewat tadi dan pasti hutan ini dekat dengan salah satu jalan tol di kota ini.
Sesaat sampai diujung hutan, aku melihat ada jalan beraspal yang sangat panjang dan di samping jalan itu ada sebuah jurang cukup dalam.
"Jalan ini...."
Aku langsung berjalan menuju ke tepi jurang itu dan memandang jurang yang sangat dalam itu.
"Di sinilah kalian berdua berakhir."
Aku langsung mengepalkan kedua tanganku dan berusaha untuk menahan air mataku keluar, tapi aku tak bisa melakukannya jika melihat tempat ini secara langsung.
"Ayah... Ibu... aku janji akan mendapatkan keadilan untuk kalian dan mencari orang yang telah melakukan hal ini pada kalian!"
Tanpa sadar salah satu tanganku memegang kalung peninggalan mereka yang aku kenakan selama ini. Tangisku tak berhenti dan tak bersuara saat berada di sini, aku sudah mencari petunjuk di mana-mana mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibu saat itu.
Sebelum saat-saat terakhir aku melihat wajah mereka, tampak sangat khawatir dan mencoba menjauhkan sesuatu dari kami yaitu anak-anaknya.
Sejak aku sudah Terbangkitkan, aku mencoba mencari data serta petunjuk apa yang mereka kerjakan saat bertugas. Tapi semua itu ditutup rapat-rapat oleh pemerintah dan berusaha menjauhkan sesuatu dari orang biasa sepertiku.
"Huff*...."
Aku menghela napas dan berusaha setenang mungkin dan memikirkan serta menyusun informasi yang sudah aku kumpulkan selama ini.
"Saat SMA aku tak sengaja melihat kertas laporan milik Ibu di meja kerjanya waktu itu, dan di situ tertulis bahwa ada sebuah penelitian dan proyek bernama 'Stigma.' Lalu Ayah juga mendapatkan tugas penjagaan dari atasannya dan dia diperintahkan menjaga keamanan di salah satu Lab, sejak saat itu Ayah dan Ibu selalu berangkat bersama saat bekerja dan pulang larut malam."
Saat mengingat semua informasi itu, sesaat aku merasa geram mengingat nama itu. Nama sebuah perusahaan yang mensponsori penelitian mereka.
"Perusahaan yang mensponsori penelitian mereka kalau tidak salah namanya... PT. Hanjar. Apa aku harus menyelinap ke sana untuk menggali informasinya?"
Aku memikirkan sebuah rencana untuk mengumpulkan informasi mengenai proyek bernama "Stigma" dan penyebab kenapa orang tuaku terlibat dengan hal ini.
"Walaupun hanya sebuah perusahaan, tapi orang-orang yang bekerja di dalam sana rata-rata orang yang sudah Terbangkitkan dan semua rank mereka rata-rata C ke atas. Bakalan sangat sulit untuk masuk ke sana walau masuk lewat jalur tes biasa dan lagi statusku hanya F, pasti ditolak mentah-mentah oleh mereka."
Aku berpikir untuk menerobos saja, tapi itu hanya tindakan bodoh dan hanya memperburuk keadaan orang-orang terdekatku.
"Mungkin yang pertama harus kulakukan adalah memperbarui status Venandi-ku...."
Aku memandangi langit dan sangat cerah, aku menghirup udara segar di sini dan sangat damai sesaat.
"Sebelum itu aku harus pulang dulu, pasti Susan akan mengomeliku habis-habisan, hehe."
Aku langsung melangkahkan kakiku menjauh dari tepi jurang itu dan langkahku terhenti sejenak dan berbalik ke arah jurang itu.
"Ayah, Ibu, kalian tidak perlu khawatir di sana, kami bertiga baik-baik saja. Kami juga sudah makan dengan teratur dan gosok gigi sebelum tidur, walaupun si kembar sangat suka makanan instan dan itu membuatku dimarahi Susan karena katanya tak menjaga keseimbangan makanan mereka, mungkin aku sedikit ceroboh soal makanan mereka tapi aku selalu mengawasi dan selalu menjaga kedua Adikku...."
Aku membalikkan badanku lagi dan berjalan ke depan.
"Terima kasih sudah menjadikan aku anak kalian... 'Pengikat jiwa!'"
__ADS_1
Chin!
Tiba-tiba pemuda itu menghilang dari tempatnya dan kehadiran dirinya di tempat itu tak terasa lagi.