
...14-03-2030...
"Hm? Berita heboh apa ini."
Aku menemukan sebuah berita yang menggemparkan di internet, aku membaca di situ bahwa katanya ada sekelompok orang Terbangkitkan melakukan berbagai macam tindakan kriminal di dalam dungeon.
Karena ini dungeon yang tidak memiliki kamera di mana-mana seperti di luar, maka beberapa oknum menggunakan ini sebagai kesempatan emas mereka untuk memuaskan hasratnya.
"Begitu ya... kurasa aku harus hati-hari mengenai ini." Sembari men-scroll layar komputer.
Dan kali ini aku menemukan sebuah berita menarik lagi, di sini tertulis, bahwa ada seorang yang Terbangkitkan ditangkap oleh asosiasi biro keamanan. Katanya orang-orang ini ditangkap karena melakukan tindakan tidak manusiawi semacam pembunuhan terhadap rekan tim sendiri.
Status mereka sudah dicek oleh asosiasi biro keamanan dan tertulis di situ bahwa mereka Rank-D ke bawah. Tapi, pada kenyataannya mereka merupakan Rank-C ke atas yang sudah teridentifikasi sejak dulu oleh asosiasi pemerintahan.
Dari kejadian ini orang-orang mulai khawatir dan hati-hati mencari rekan setim yang dapat dipercaya.
...•••...
...•••...
...•••...
...17-04-2030...
Pukul 09.11
Sudah dua puluh menit kami menjelajahi dungeon ini, kami terus menghadapi monster laba-laba setiap jalan yang aku tunjuk. Ditambah lagi, selalu ada bangkai monster laba-laba yang sudah mati sebelum kami datang.
"Ketua, kenapa monster-monster ini mati?" Tanyaku.
"Oh ini, mungkin mereka saling memangsa satu sama lain, kamu tahukan ini dungeon... yang mana tidak ada mangsa alami mereka selain sesamanya."
Yang dikatakannya masuk akal tapi..., ini sungguh ganjil setiap jalan yang aku tunjuk seolah-olah sudah diketahui oleh mereka, sebab saat aku mencoba menunjukkan jalan lain dan mereka lebih memilih jalan yang mereka pilih sendiri tanpa arahanku sama sekali.
Aku sudah mencoba menggunakan "Penglihatan batin" dan aku melihat ada monster lain di jalan lain selain laba-laba ini.
Jadi benar, ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Baiklah semuanya, kita istirahat sebentar di sini."
Akhirnya kami berhenti sejenak, semenjak berjalan terus dan membantai laba-laba yang datang pada kami.
"Tuan Pemandu dan Nona Santia, ini makanannya dan selamat menikmati."
"Eh, iya... terima kasih," balas Santia.
Entah kenapa aku teringat dengan kasus itu, di mana ada sekelompok orang memanfaatkan orang yang dianggap lemah terus langsung membuangnya setelah tidak dibutuhkan. Ini seperti dua ekor rusa dirawat oleh keluarga singa, setelah rusa itu besar mereka akan langsung memangsanya.
Setelah beberapa menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kami akhirnya sampai tepat di depan gerbang bos monsternya.
"Akhirnya kita sampai, bersiaplah semuanya aku akan membukanya."
Salah satu dari mereka maju dan membuka gerbangnya.
"Hm!" Aku langsung mengarahkan kepalaku ke kiri dan kanan.
"Ada apa, Tuan Pemandu?" Tanya ketua tim Gilang.
"Tidak, aku hanya merasa ada yang aneh di sini."
"Alangkah baiknya kamu tidak pernah memperhatikan hal-hal kecil seperti itu, itu membuat semuanya semakin tidak nyaman."
"Huh?"
Apa maksud dari perkataannya itu, semenjak menerima sistem warisan ini selain tubuhku tambah kuat, seluruh indraku juga semakin tajam dan peka.
Kali ini aku mencium sesuatu aneh di sini.
__ADS_1
"Bau ini... mesiu, tapi di mana?"
Gerbang semakin terbuka lebar dan terlihat ruangan yang sangat besar. Terlihat semuanya semakin kegirangan, sebab harta karun terbesar ada di depan mata yaitu sekumpulan Kristal Mana kualitas tinggi.
"Bos, lihat ini semuanya...."
"Ssshh...." Isyarat diam dari ketua mereka sembari menunjuk ke atas.
Kami semua langsung melihat ke atas dan betapa terkejutnya aku melihat makhluk besar dengan ukuran yang sangat panjang.
[Boss
Centipider - The leader of cave monster
Level : 40.]
"Kalian semua jangan ribut, bos monsternya terlihat tertidur setelah kekenyangan memakan monster-monster yang ada di sini," jelas ketua tim ini.
Aku terpaku sejenak melihat monster besar ini dan berpikir seandainya monster ini yang aku lawan di dungeon sebelumnya, mungkin aku sudah mati.
Tapi... dari mana dia tahu bahwa monster ini tidur?
"Kalau begitu, ambil semua yang ada di sini dan bawa keluar untuk kita dapat uang yang banyak."
"Siap, bos!"
"Ano... Pak Himar...."
"Ya, Nona Santia?"
"Bukankan Bapak sudah berjanji akan memberikan aku 5% dari Kristal Mana ini."
Tunggu dulu! Bukankan itu terlalu banyak, dan kenapa mereka semua tiba-tiba terdiam, dan lagi suasananya terasa semakin mencekam.
"Oh... tentu saja, silahkan diambil."
Gadis ini sangat polos, dia langsung pergi memungut Kristal Mana dan langsung menyimpannya di tas yang dibawanya.
"Kalau begitu Bos, aku akan mengambil bagian sana."
"Iya, cepatlah. Tuan Pemandu, kamu tidak ikut mengambil?"
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai pemandu kalian, bukan membantu menjarah dungeon ini."
"Bukankah lebih baik banyak orang lebih bagus, lihat Nona Santia, terlihat kesusahan," ucapnya sembari menunjuk ke arah Santia.
Aku pun melihat Santia yang tampak kelelahan mengambil Kristal Mana yang ukuran besar itu.
"Baiklah, tapi aku tidak membawa sesuatu untuk mengangkut kristal-kristal ini."
"Ini ambillah." Gilang melempar tas miliknya.
"Tapi, bagaimana denganmu?"
"Jangan khawatir, bagianku sudah ada pada mereka. Cepatlah, bantu gadis itu, biar aku mengawasi monster besar ini."
Aku langsung pergi ke Santia dan membantunya mengambil Kristal Mana-nya.
"Eh, Tuan Arkha... maaf, merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, tapi... kamu mau apa kan kristal sebanyak ini?"
"Ini... untuk biaya pengobatan Ibuku."
"Pengobatan?"
__ADS_1
"Iya, Ibuku dirawat di rumah sakit milik asosiasi biro keamanan."
"Kalau boleh tahu, Ibumu sakit apa?"
"Ibuku... mengidap kanker stadium akhir, bahkan Protector Rank-A yang memiliki kemampuan Healer terbaik tidak bisa menyembuhkannya. Katanya dia butuh Kristal Mana yang banyak untuk diminumkan ke Ibu dan dia bisa menyembuhkannya secara langsung berkat bantuan kristal itu." Seketika air matanya keluar.
"Maaf, aku bertanya yang tidak perlu."
"Hmm," balasnya sembari menghapus air matanya. "Tuan tidak perlu minta maaf, berkat Anda perhatian begini sudah membuatku senang, ini mengingatkanku dengan Adikku. Sisa dari kristal ini, bisa aku jual dan menggunakannya untuk menyekolahkan Adikku."
Nasib yang serupa denganku tapi tak sama keadaannya, karena obrolan ini aku langsung berbalik ke belakang dan melihat mereka menghilang satu persatu.
"Ada apa, Tuan Pemandu?" Tanya ketua Gilang yang masih berdiri di sana.
"Tidak ada apa-apa, tapi... yang lain ke mana?"
"Oh... mereka sudah mengumpulkan banyak dan menunggu di luar."
Aku melihat hanya tinggal satu yang masih mengambil kristalnya.
"Bos... bisa bantu aku sebentar!"
"Iya... aku ke sana!"
Katanya mau mengawasi bos monsternya, kenapa mau ikut membantu mereka? Kan bisa memanggil yang di luar untuk membantunya.
"Ada apa, Tuan Arkha?"
"Tidak, hanya saja... apa ini belum cukup?"
"Sebenarnya sedikit lagi...."
"Kalau begitu, bawa secukupnya saja kita harus segera pergi dari sini."
"Memangnya apa yang terjadi, kenapa kamu terlihat terburu-buru begitu?"
"Itu karena--"
Bom!!!
"Kyaa!! Apa itu?!"
"Sudah kuduga...."
"Tuan, apa maksud perkataanmu?"
"Kita dijebak."
"Apa!!"
"Lihat...." Sembari menunjuk arah ledakan itu.
"Tidak!! Jalan keluarnya!"
"Yang aku khawatirkan bukan tertutupnya jalan keluar, tapi...." Sembari menatap ke atas.
Suara ledakan yang besar membangunkan makhluk yang seharusnya tidak diganggu.
Dengan delapan matanya terbuka secara bersamaan dengan cahaya merah terpancar dari matanya.
Haarrhh...!!!
"Tidak...!! Monsternya bangun!"
Terlihat Santia gemetaran sangat hebat saat menatap monster itu dan aku juga merasakan yang sama.
Monster dengan bentuk tubuh panjang menyerupai kelabang dengan mata kulit seperti laba-laba, disertai mulut besar yang terbuka lebar. Monster itu merayap di dinding dungeon dan turun ke bawah.
__ADS_1
Haarrhh...!!!
"Sial! Bakal merepotkan nih...!"