Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 85


__ADS_3

...10 Oktober 2098...


Pukul 07.33


Di suatu tempat di laboratorium...


Grak!


Tampak sebuah ruangan yang sangat berantakan. Berserakan kerta di mana-mana di lantai ruangan tersebut. Tampak seorang wanita dengan jas putih lab-nya yang sedang mencari sesuatu.


"Di mana?! Di mana mereka meletakkan benda itu!"


Wanita itu terus mencari sesuatu dengan wajah sedikit panik. Ia terus menggerogoh setiap sisi ruangan itu mulai dari meja, laci, lemari dan semua tempat penyimpanan yang ada di ruangan itu.


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan itu. Terlihat seorang pria dengan pakaian tentaranya dan menggendong senjata apinya. Ia berjalan ke arah ruangan yang terbuka itu sembari menodongkan senjatanya ke arah depan.


Ia berjalan dengan hati-hati dan bersiap menyergap penyusup yang memasuki tempatnya. Sesaat sudah berada di depan pintu ruangan itu, ia mengintip sedikit di celah pintu yang terbuka sedikit itu.


Sesaat melihat apa yang ada di dalam, ia sangat terkejut karena seseorang telah memporak-porandakan ruangan itu dan melihat seseorang yang tidak asing baginya.


Ketika mengetahui siapa orang itu, ia langsung masuk dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam.


"Kyaa!!" Seketika wanita itu kaget karena seseorang menerobos tempatnya dengan keras. "Kamu bikin aku kaget saja, kamu kenapa sih?"


"Justru aku bertanya seperti itu, Sayang. Kamu sedang apa di sini dan membuat tempatnya berantakan, ditambah lagi ini ruangan pengumpulan data kalian. Bukannya kamu bilang tak memiliki akses masuk ke ruangan data? Hanya atasan kalian saja yang bisa masuk ke sini."


Wanita itu hanya terdiam saja dan masih sibuk menggerogoh sesuatu. Tapi wajahnya yang menampakkan kesedihan yang jelas, sehingga pria itu langsung megerti apa yang terjadi pada wanitanya.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu terlihat khawatir begitu?"


Wanita itu masih terdiam sembari sibuk mencari sesuatu. Karena tak banyak waktu lagi, ia lebih menjelaskannya secara singkat.


"Kamu tahu tujuan awal penelitian kami, kan?"


"Iya aku tahu, kalian melakukan eksperimen untuk menciptakan senjata biologis menggunakan monster dan inti monster (Krimon), kan."


"Itu benar, tapi ternyata semua itu hanya tindakan alibi kecil untuk mengurangi pengawasan dari asosiasi."


"Jadi maksudmu... masih ada eksperimen lain selain ini?"


Wanita itu hanya mengangguk saja dan melanjutkan pencariannya lagi. Pria ini yang mengerti situasinya ikut membantu mencarinya, walau ia tidak tahu barang seperti apa yang harus dicarinya.


Selang beberapa menit pencarian itu, pria ini tak sengaja menggeser satu persatu buku yang sejajar dengan rapi sesuai abjad.


"Eh? Kotak kecil apa ini?"


Ia menemukan sebuah kotak kayu kecil dengan warna emas dan setiap ukiran kayu itu, ada semacam tulisan aneh nan kuno serta sebuah simbol misterius yang ada di tengahnya.


"Sayang, aku menemukan kotak aneh," ucapnya sembari menyodorkan kotak itu ke arah wanita itu.


Wanita itu melihatnya dan sangat terkejut dan matanya berkaca-kaca.


"Syukurlah Ya Dewa, akhirnya ketemu. Terima kasih, Suamiku."


Wanita itu mengambilnya dan memperhatikan setiap sisi kotak itu, dan menurutnya kotak inilah yang ia cari selama ini.


"Kayaknya tidak bisa dibuka, deh," ucap pria itu sembari menodongkan senjata api selaras panjangnya itu ke arah kotak itu. "Mundurlah, Sayang. Aku akan merusak kotak ini sedikit, agar bisa terbuka."


"Jangan!" Sesaat pelatuk mulai ditarik, wanita itu menahan suaminya untuk menembak. Tampak wanita ini sangat tahu betul seperti apa kotak ini jika dirusak. "Kita tak boleh sembarang merusaknya, sebab kotak ini dilapisi mantra sihir pelindung. Siapa pun yang mencoba membukanya atau memaksa membukanya, sihir pelindung di kotak ini akan melukai orang yang mencoba merusaknya. Satu-satunya untuk membuka kotak ini adalah dengan cara merusak segelnya atau melepaskan segelnya melalui orang yang memasang segel ini."


Pria ini sangat bersyukur dalam hati, karena ia orang biasa yang tak punya sihir apa-apa dalam dirinya. Itu hanya mempersulit keadaan tubuhnya nanti jika dirusak oleh kekuatan magis itu.


"Jadi, kepada siapa kamu ingin membuka segel ini? Apa ke pemiliknya?" Tanya pria itu.


"Tentu aku tahu siapa yang bisa merusak segelnya ini. Kita harus pergi sekarang, cuma dia menurutku yang bisa membuka kotak ini."


"Maksudmu... Pak Agus?"


Wanita itu mengangguk dan meminta suaminya ikut bersamanya. Karena keselamatan diri mereka tidak akan lagi selamat jika ketahuan membawa benda berharga ini.


Mereka berdua memutuskan keluar dari laboratorium raksasa ini melalui pintu darurat tanpa diketahui siapa pun. Dan menaiki mobil mereka yang diparkir tepat dengan pintu keluar.


Brrek...!


Mereka langsung tancap gas dan meninggalkan lokasi sesegera mungkin, sebelum orang-orang itu menyadari tindakan mereka.


...•••...


Pukul 08.11


Sesaat di perjalanan...


Tampak sebuah mobil yang melaju cukup kencang dan hati-hati.


"Apa sekarang aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya pria itu sembari menyetir.


Wanita itu hanya termenung memandangi jendela kaca mobil sembari memeluk erat kotak itu. Setelah beberapa saat kesunyian ini, ia akhirnya buka suara :


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa ada eksperimen lain selain pembuatan senjata itu. Pembuatan senjata sihir dari bahan monster sudah hal wajar setiap perusahaan besar seperti PT. Hanjar. Tapi... saat aku dikirim dan diikutkan dalam eksperimen pusat, aku tak percaya... apa yang aku lihat di sana...!"


Terdengar suara istrinya gemetar dan sang suami tak tega jika harus meminta istrinya menceritakan traumanya. Tapi karena ia seorang prajurit, sudah tugasnya untuk mendengar semua informasi itu demi keamanan bersama.


"Eksperimen apa yang mereka lakukan di sana?"


Wanita masih gemetar mengingat kejadian itu, tapi ia harus membulatkan tekadnya demi hidupnya juga.


"Mungkin kamu akan marah saat mendengar ini. Bahwa eksperimen yang mereka lakukan di pusat lab adalah... menggunakan manusia."


Sesuai perkataan istrinya, seketika sang suami marah dan terlihat dari kedua tangannya yang meremas erat setir mobil itu.


"Lanjutkan!"


Karena sudah terlanjur, wanita itu melanjutkannya bahwa eksperimen yang menggunakan manusia sebagai bahan utamanya ternyata ada tujuannya. Ia mengatakan bahwa yang meminta eksperimen ini sekaligus yang punya ide untuk eksperimen ini adalah Gading Himar, seorang Venandi Rank-S di Indonesia.


"Tak kusangka si brengsek itu melakukan hal hina seperti itu! Seharusnya ia menggunakan kekuatannya untuk melindungi umat manusia!"


Kekesalan mulai memuncak dari sang suami jika mendengar dan mengetahui bahwa pilar negara ini telah melukakan hal hina seperti ini.


"Tapi... saat aku melakukan eksperimen di sana. Masih ada seseorang lagi selain Gading. Dia adalah seorang wanita dengan rambut pirangnya dan penampilannya sangat seksi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan sangat terkejut, ternyata wanita itu mampu menyerap energi kehidupan seseorang sampai mati. Kurasa bukan cuma dia seorang saja yang bisa melakukan itu, mungkin rekan-rekan mereka masih ada di belakangnya, dan eksperimen ini mungkin ada tujuannya dengan mereka."


"Mungkin wanita itu bukan manusia, semenjak munculnya dungeon, sekarang hal mustahil pun bukan lagi hal mengejutkan karena bisa terwujud di zaman sekarang. Dan menggunakan manusia sebagai sumber nutrisi, mereka akan jadi ancaman seluruh umat manusia, kita harus segera memberitahukan hal kepada Pak Agus."


Sang istri setuju dengan hal itu dan sang suami kembali bertanya mengenai kotak yang dipegangnya sedari tadi itu.


"Kotak ini... cuma inilah satu-satunya menghambat eksperimen mereka. Walau hanya sementara."


"Memangnya apa isi dari kota itu?"

__ADS_1


"Isi dari kotak ini adalah... sebuah kunci."


"Kunci?"


"Ya, ada dua belas kunci dan salah satunya ada padaku. Setiap kuncinya telah ada di setiap penjuru pusat lab eksperimen di dunia dan di Indonesia salah satunya. Aku tidak tahu untuk apa kunci ini, tapi menurutku ini barang penting dan aku sudah melihat isinya sekali saat wanita pirang itu memberikannya kepada ketua lab."


"Kalau ada barang sepenting itu, kenapa ketuamu itu menyimpannya di tempat ceroboh seperti itu. Apa kamu tidak merasa aneh dengan hal itu?"


"Soal itu..."


Tampak sang istri sedikit murung atas kecerobohannya ini. Sang suami tahu akan sikap istrinya ini dan ia yang memiliki firasat tajam, sudah merasa aneh semenjak melihat kotak ini pertama kali.


Keheningan mulai terjadi di dalam mobil lagi dan hanya suara mesin mobil berderu di dalamnya. Setelah keheningan itu, seketika air mata jatuh membasahi kedua pipi sang istri.


"Sayang, apa kita boleh pulang dulu? Aku sangat rindu dengan anak-anak dan ingin sekali melihat wajah mereka dan menciumnya."


Mendengar permintaan berat hati itu dan tak tega menolaknya, ia menyadari bahwa situasinya saat ini sangatlah tidak baik jika mereka harus pulang sekarang. Tapi kerinduan yang memuncak dan tidak tahu kapan mereka akan merasa merindukan lagi anak-anaknya.


"Ya, ayo kita pulang. Aku juga sangat rindu dengan mereka."


Brreck!


Kecepatan mobil ditambah sedikit karena waktu mereka tidak banyak.


...•••...


Pukul 08.23


Sesaat sebuah mobil sampai di sebuah rumah...


Sang istri langsung menuju ke arah rumahnya, tapi ia berhenti sejenak di depan pintu untuk menghapus kesedihan di wajahnya dan mulai mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


"Ya... sebentar!"


Terdengar suara malaikat hatinya dari dalam rumah mereka, sungguh itu membuat hatinya semakin sedih saat mengetahui nasib dirinya dengan suaminya.


Sang suami yang ada di sampingnya menepuk pundaknya dan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Melihat itu sang istri harus tegar di hadapan anak-anaknya agar mereka tidak khawatir.


Krek! Ngek...


Tampak seorang pemuda membukakan pintu dan ia sungguh terkejut saat mengetahui siapa yang mengetuk pintunya.


"Eh! Ibu, Ayah!"


Tampak wajah kegembiraan dari anak muda mereka yang menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka berdua segera memasuki istana yang menjadi tempat teraman keluarga mereka.


"Di mana si Kembar?" Tanya sang ayah.


"Mereka masih tidur. Padahal sudah beberapa kali aku bilang ke mereka untuk jangan langsung pergi bermain setelah sarapan, jadi mereka malah langsung tertidur setelah bermain."


Mendengar itu membuat kedua orang tua ini tersenyum setelah mengetahui tindakan gemas malaikat kecil mereka.


"Apa kamu sedang belajar, Sayang?" Tanya ibu sembari melirik ke arah meja ruang tamu.


"Aku lagi belajar untuk persiapan mengikuti tes masuk kuliah nanti. Bulan depan tesnya sudah dimulai, jadi aku harus siap untuk menghadapinya."


Mereka berdua semakin bahagi jika anak sulung mereka sangat giat belajar, tapi di sisi lain mereka sangat sedih karena tak akan melihat kebahagiaan itu lagi.


"Baiklah, lanjutkan belajarmu. Ayah dan Ibu harus mengambil sesuatu di kamar dulu," ucap ibu.


Pemuda itu hanya mengangguk saja dan kembali ke mejanya. Sedangkan orang tuanya harus naik ke lantai atas untuk menuju ke kamar mereka, guna mengambil sesuatu di sana.


"Kita juga harus membuktikan kejahatan mereka, karena kita tidak tahu... bahwa sampai mana kita akan bertahan."


Cup!


Kedua mata bulat itu saling memandang sesaat dan bibir lembut yang saling bersentuhan dengan lembut. Setelah itu mereka berpelukan untuk melepaskan kesedihan sesaat.


"Kamu jangan khawatir, kita pasti akan kembali dan berkumpul bersama anak-anak lagi."


"Hmm," balasnya sembari mengangguk dan menghapus air matanya.


Sang istri langsung mengambil semua dokumen data mengenai eksperimen itu dan mengumpulkannya dalam sebuah map. Sang suami yang memandangi kamarnya dengan sesaat, cukup membuat dirinya bersedih karena menurutnya ia akan meninggalkan beban berat bagi anak-anaknya.


Karena tak ingin kesedihan itu melukainya, ia pun menaruh sebuah harapannya di dalam sebuah laci kecil di lemarinya.


"Sayang, kenapa kamu memasukkan pistolmu ke dalam situ?"


"Aku juga tidak tahu, kenapa harus menyimpannya di sini. Tapi aku merasa, suatu saat benda ini akan menyelamatkan setiap perjuangan Arkha nanti."


Mendengar itu membuat sang istri tersenyum sesaat dan segera meninggalkan kamar mereka lagi. Tapi sebelum mereka meninggalkan kediaman ini, mereka harus singgah di salah satu kamar buah hati kembar mereka.


Sang ibu yang membuka pintu kamar secara perlahan dan melihat dua buah hatinya yang lucu telah tertidur dengan lelap setelah bermain sampai puas.


Karena kerinduannya yang sangat besar, sang ibu menghampiri mereka berdua secara perlahan dan mengelus kepala mereka dengan lembut agar tidak bangun.


Cup... Cup...


"Jaga diri kalian baik-baik," gumam.


Ia memberikan sebuah ciuman lembut di kening malaikat kecil kembar mereka. Sang istri yang melihat suaminya berpaling darinya, ia tahu bahwa suaminya juga tak sanggup meninggalkan anak-anak mereka. Dan lebih memilih untuk menahan kesedihan ini, walau ia berjanji pada dirinya bahwa ia tak mau kesedihan ini membuatnya terluka. Tapi hati seorang ayah tak akan tega meninggalkan anak-anaknya yang masih polos dan belum tahu apa tentang dunia ini.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap sang istri sembari menepuk pundak suaminya.


"Tidak apa-apa," balasnya sembari menghapus air matanya.


Setelah beberapa saat, mereka kembali turun ke lantai bawa sembari membawa barang-barang yang diperlukan. Anak sulung yang melihat itu sangat heran dan bangkit dari duduknya.


"Ayah dan Ibu mau pergi lagi? Aku pikir kalian sudah pulang tadi."


"Maaf ya, Sayang. Ayah dan Ibu hanya mengambil beberapa hal yang tertinggal di kamar. Oh iya, apa kamu sudah makan? Ibu akan membuatkan sesuatu."


"Aku sudah makan kok. Tapi tampaknya kalian sangat terburu-buru, apa terjadi sesuatu?"


Medenger itu membuat kedua pasangan ini saling memandang sesaat dan mereka tahu seperti apa sifat putra sulungnya ini, bahwa ia sangat sensitif terhadap hawa kebohongan dan kejujuran dari ucapan mereka saat berbicara dengannya.


"Tidak terjadi apa-apa kok. Kami hanya terburu-buru karena Ibu melupakan data penting ini."


"Begitu ya."


Walau terdengar seperti itu, tampaknya putra sulungnya masih tak percaya pada ucapan mereka kepadanya.


"Nak, ambillah ini dan gunakan dengan baik," ucap ayah sembari memberikan sebuah kartu dan buku tabungan.


"Bukankah ini uang tabungan Ayah dan Ibu, kenapa diberikan kepadaku. Lalu kalian pakai apa nanti?"


"Kamu jangan khawatir soal itu, Ayah masih punya tabungan nasional yang dipegang oleh pemerintah. Yah... walau cairnya agak lama sih, tapi sekali cair uangnya banyak, kok."

__ADS_1


Anak sulung mereka mengangguk dan mengingat baik-baik pesan orang tuanya itu.


Sesaat kedua orang tuanya sudah di depan pintu keluar rumah, mereka berbalik dan melihat seisi rumah mereka yang nyaman ini. Berbagai perasaan dan kenangan ada di sini, putra sulungnya yang melihat kedua orang tuanya bersikap aneh malah membuatnya semakin curiga akan ada hal sesuatu terjadi pada mereka.


Menyadari ditatap seperti itu oleh putra mereka, sang ayah maju ke hadapannya dan memegang kedua pundaknya dan berkata :


"Nak, apapun yang terjadi pada Ayah dan Ibu, kamu harus selalu menjaga dan melindungi Adik-Adikmu. Ayah minta padamu untuk menjaga diri kalian sebaik mungkin saat kami tidak ada di sini."


Mendengar itu membuat Arkha kebingungan dan membuat dirinya mulai khawatir apa yang menimpa kedua orang tuanya ini.


"Memangnya Ayah dan Ibu mau pergi ke mana?"


Sang ayah mendengar pertanyaan itu sungguh sangat berat baginya, karena ia tak sanggup meninggalkan anak-anaknya dan melepaskan kedua tangannya dari bahu putranya itu. Sang ibu melihat itu langsung menjawab pertanyaannya :


"Kami pergi tidak jauh kok, Sayang...," jawab ibu lalu mencium kening Arkha. "Ibu dan Ayah akan pergi sebentar saja, jadi... jaga Adik-Adik kamu dengan baik ya."


Mendengar jawaban itu membuat hati Arkha sedikit tenang. Dia hanya mengangguk saja dan kedua orang tuanya pergi meninggalkannya. Dan melangkahkan kaki mereka berdua menghadapi hal berbahaya.


Brreck!


Arkha yang melihat kedua orang tuanya pergi dengan tergesa-gesa sungguh membuat dirinya sangat khawatir pada mereka.


"Kuharap tidak ada hal buruk menimpa Ayah dan Ibu."


...•••...


Pukul 09.08


Terlihat sebuah mobil melaju dengan cepat disebuah jalan tol...


Brreck!


Terlihat dua pasangan ini sangat khawatir yang menimpa mereka, tapi rasa keadilan mereka jauh lebih besar dibandingkan rasa takutnya. Walau mereka tahu bahwa mereka tak bisa lolos lagi dari cengkeraman mereka.


"Hiks...!" Tampak wanita itu menangis sembari memeluk erat kotak. "Aku minta maaf! Gara-gara keegoisanku, kamu harus terlibat dan harus juga meninggalkan anak-anak kita."


"Kamu ini bicara apa. Hal yang kamu lakukan sudah benar, kamu pasti tak tega melihat orang-orang yang kamu eksperimen kan mati sia-sia, kan? Kali ini jangan sia-sia kan harapan keadilan mereka, dan jika aku berada di posisimu maka aku pun akan melakukan hal yang sama."


Mendengar itu membuat hati wanita ini sangat senang dan dia sangat bersyukur telah disatukan dengan pria hebat seperti dirinya.


Ngreeeckk!!!


"Kyaa!!!"


"Egh...!!"


Tiba-tiba mobil mereka melayang dan tampak beberapa orang muncul tepat di depan mobil mereka, dengan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya dan topeng yang menutupi wajahnya.


"Me-mereka sudah ada di sini!"


"Kita harus keluar dari sini cepat!"


Sesaat kedua pasangan ini berusaha keluar, tiba-tiba mobil mereka yang kendarai dilempar ke dalam jurang.


Bom!!


Sehingga membuat mobil yang dikendarainya meledak dan begitu pun dengan mereka berdua yang tidak ada yang selamat.


Akan tetapi...


"Huk...! Huk! Sayang..."


Tampak sang suami masih bertahan dengan sisa tenaganya, ia berusaha keluar dari mobil terbakar itu dan menangis melihat wanita tercintanya telah tiada tepat di depan matanya.


Hap...


Ia berusaha meraih kotak itu dengan susah yang sudah lepas dari tangan sang istri. Tapi apa daya, dengan keadaannya yang diujung tanduk membuat dirinya sangat kesulitan.


"Hiks...! Tidak...! Kumohon... siapa pun... jangan biarkan... mereka... mengambilnya...! Aku mohon... padamu... Ya Dewa!"


Tak ingin harapan istri tercintanya sia-sia, ia pun berusaha keras dengan harapan terakhirnya itu sebelum kehilangan dirinya sepenuhnya.


"Hah?"


Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, sebelum napas terakhirnya berhembus di kerongkongannya. Akhirnya harapannya itu tidak sia-sia, ia melihat seseorang dalam pandangan terakhirnya yang kabur itu telah mengambil kotak itu.


Pria ini merasa sangat lega karena orang asing ini telah mengambil kotak itu, ia merasa bahwa orang asing ini bukanlah bagian dari musuhnya. Sesaat napas terakhirnya telah siap dihembuskan, pria ini mengatakan dua hal:


"Lindungi... manusia..."


Setelah mengatakan itu, akhirnya sisa kehidupan dirinya di dunia telah menghilang sepenuhnya. Bersamaan orang asing telah menghilang dari tempatnya setelah mengambil kotak itu.


Pip... Pip... Pip...


Tetesan tangisan bumi telah jatuh dan membasahi anak-anaknya. Tangisannya semakin menggelegar sehingga membuat langit hampir runtuh.


...•••...


Pukul 09.48


Di sisi lain...


Jeder!!!


Tiba-tiba suara keras raungan langit telah membuat telinga siapa pun hampir pecah.


Jeder!!!


"Kyaaa!!!"


"Aaahh... Ayah! Ibu!"


Suara gemuruh langit sedang membangungkan dan membuat kaget sekaligus ketakutan anak kecil kembar yang sedang tertidur pulas.


Tap! Tap! Tap!


Krek! Ngek!


"Ada apa?!"


Tampak pemuda yaitu kakak si anak kembar ini datang dengan sedikit panik, mendengar adik-adiknya berteriak.


"Kakak...!"


"Aku takut petir!"


Si kembar langsung memeluk kakaknya ini dengan erat dan sang kakak berusaha menenangkan adik-adiknya ini.


"Tidak apa-apa, Kakak sekarang ada di sini."

__ADS_1


Tapi di sisi lain, hatinya semakin tidak nyaman semenjak hujan ini turun cukup deras. Karena ia mengingat orang tuanya yang tampak sangat khawatir.


"Ayah... Ibu..."


__ADS_2