Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 94


__ADS_3

...10 Oktober 2098...


Pukul 09.10


Bom!!


Suara ledakan dari sebuah mobil yang jatuh ke jurang. Api dan asap menjulang tinggi dan siapa pun bisa melihat dari atas.


Awan mendung ini menandakan sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi.


"Kenapa? Kenapa hal ini terus terjadi?"


Suara kepedihan membuat siapa pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnnya "Mereka" inginkan?


Dia terus bergumam pada dirinya sendiri di balik dunia yang sepi dan hampa, ia hanya bisa melihat pada satu arah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisinya.


"Ya Dewiku... kenapa hal ini terus menimpa pada dirimu. Kenapa 'Mereka' mempermasalahkan tindakanmu, hanya karena kamu mencintai kami semua (anak-anakmu)."


Dia sangat bersedih pada "Dia" dan dirinya karena kedamaian yang diciptakan olehnya tidak bertahan lama baginya.


Sudah ribuan tahun masa telah terlewati dan sudah ratusan lebih pewaris telah gugur demi sang ibu tercinta. Dirinya tidak tahan melihat semua saudaranya harus jadi santapan dan berakhir di tangan musuh-musuh ibunya.


"Apa yang selama ini kulakukan? Selama ini aku hanya bisa menyaksikan keguguran satu-persatu saudara-saudaraku, dan aku masih tak berdaya saat berhadapan dengan 'Mereka'."


Terus merenung dan menyesali semua yang dilihatnya, selama ini ia hanya bisa bertahan di balik semua penderitaan saudara-saudaranya dan tak bisa berbuat apa-apa.


"Oh Dewiku... kuharap tindakanku kali ini benar-benar bisa membantu pewarismu kali ini, walau kamu belum menemukan pewarismu. Tapi aku akan menjalankan tugasnya sementara ini untuk melindungi anak-anakmu."


Sesaat cahaya yang menampilkan semua hal dari luar kini menampilkan pemandangan menyedihkan. Di mana "Wadah"-nya telah hampir menemui akhirnya.


"Hiks...! Tidak...! Kumohon... siapa pun... jangan biarkan... mereka... mengambilnya...! Aku mohon... padamu... Ya Dewa!"


Pip... Pip... Pip...


Tak disadari air matanya berjatuhan melihat pria ini berusaha keras menolong impian istrinya atau mungkin lebih tepat berusaha melindungi impian umat manusia.


"Kumohon... hentikan! Cukup..."


Dia terus menangis melihat perjuangan sia-sia pria ini berusaha meraih sebuah kotak yang jauh darinya. Pria ini terus berharap dan berharap di ujung nyawanya.


"Kumohon... siapa pun... kali ini saja... tolong lindungi kotak itu..."


Berusaha meraih sambil berharap itulah yang diinginkannya. Walau di mata ketiga tindakan ini sia-sia, tapi di mata pria ini, inilah satu-satunya usaha yang bisa yang dia berikan.


Karena tak tahan melihat keadaan menyedihkan ini, ia memutuskan keluar dari persembunyiannya dan berdiri tepat di depan pria sekarat ini.


Seketika pria ini terkejut di balik matanya yang mulai redup itu, ia sangat bersyukur karena akhirnya ada orang yang melindungi usahanya.


"Lindungi... manusia..."


Dua kata terakhir dari mulutnya dan napas terakhir telah berhasil terhembus di tenggorokannya. Orang yang mengambil kotaknya telah menghilang dari lokasi kejadian.


Akan tetapi...


Piuh! Shut!


Sesaat dirinya berhasil menjauh dari "Wadah"-nya seketika sebuah serangan sihir yang sangat cepat melayang ke arah dirinya.


"Akhirnya kamu keluar juga."


Tiba-tiba muncul banyak orang berpakain serba putih dan bertopeng aneh di sekitarnya. Dia memegang erat kotak itu dan dia yakin incaran mereka bukan pada dirinya saja tapi pada kotak yang ada digenggamannya.


"Kalian... kenapa kalian mengikuti 'Mereka'! Kalian harusnya sudah tahu, tindakan kalian ini hanya menghancurkan diri kalian sendiri! Membantu 'Mereka' mengahancurkan saudara-saudara (umat manusia) kalian! Apa kalian tidak merasa sedih melihat sesama kalian diperlakukan seperti ini!"


Mereka semua hanya terdiam mendengar orang itu mengucapkan semua itu. Wanita cantik dengan rambut panjang coklat hitam ini hanya bisa marah melihat semua manusia ini melakukan tindakan keji demi kepuasan musuh-musuhnya.


"Cih! Dasar kalian semua hama! Akan kubasmi kalian semua di sini!"


Wush...!


Seketika energi dahsyat terpancarkan dari tubuh wanita ini dan menatap semua saudara-saudaranya telah ternodai pikiran mereka oleh musuh-musuhnya.


"'Gaia' sangat sedih melihat semua anak-anaknya memusuhi dirinya. Aku akan menghapus kesedihannya... bersiaplah kalian semua!"


Set!!!


"!!!"


Dengan cepat wanita itu dengan cepat maju dan menghadang segerombolan musuhnya. Dengan tombak gagah dan kuat ini, ia berhasil menghempaskan semua musuhnya dengan sekali ayunan.


"Wanita itu sangat kuat! Cepat pasang formasi...!"


Semua orang bertopeng ini langsung membentuk beberapa formasi dan muncullah sebuah lapisan di sekitarn mereka dan melebar sejauh 1 kilomoeter.


"Penghalang dimensi. Kalian pikir trik murahan bisa mengalahkan aku sang 'Guardian Gaia'."


Mendengar harga dirinya yang tinggi itu membuat semua orang bertopeng tak gentar sedikit pun dan tetap memasang formasinya.


"Kami sudah mendengar dari 'Heredis of Magician' bahwa kamu memiliki kemampuan mengendalikan ruang yang sangat hebat."


"Oh, aku sangat tersanjung..."


Set! Woosh...!


Sesaat obrolan singkat itu, sang "Guardian Gaia" maju sembari menghempaskan tombak ke berbagai arah dan berhasil mengalahkan beberpa dari mereka.


"Kalian semua sangat memuakkan!"


"Semuanya tetap pertahankan posisi kalian! Kita korbankan untuk kejayaan Dewa kita!"


"Baik!"


Bing! Bing! Bing!


Seketika medan dalam penghalang ini semakin aneh dan wanita ini merasakan kejanggalan dari penghalang ini.


"Penghalang macam apa ini?"


Gedebuk!


"Hah?"


Satu persatu orang-orang yang memasang penghalang jatuh tak bernyawa. Wanita ini melihat semua itu sangat geram dan tak menyangka setia inikah semua saudaranya pada musuh-musuhnya.


"Tampaknya ini pemisah dimensi..."


Ia mengecek penghalang ini dengan kekuatannya dan dia mengalami penolakan saat berusaha memecahkannnya.


"Penghalang ini hampir sama dengan ruang dimensi abadi milikku. Tapi... bagaimana mereka bisa menggunakan kemampuan tingkat tinggi ini? Seharusnya 'Hukum' yang sudah dipasang para pewaris terdahulu seharusnya mencegah kemampuan batas dimensi ini dilakukan dan hanya aku yang bisa menggunakannya di sini (Bumi)."


Dia berusaha memecahkan penghalang sihir ini dengan kekuatannya, tapi saat ini ia mengalami kondisi yang sangat menyedihkan dan tak bisa bertarung cukup lama.


Crang...!


Dari pojok penghalang ini, terasa pancaran energi sihir yang sangat kuat dan muncul sebuah retakan dimensi cukup besar dan seseorang muncul dari sana.


Penampakan orang itu memakai pakaian seperti pendeta suci dengan warna putih dan berkerudung yang menutupi wajahnya. Ia berjalan dengan santai ke arah sang Guardian.


"Wah~ kayaknya kamu sangat kuat, cantik~."


Shut!


Bing!


Bom!!


Seketika sebuah tombak panas dilemparkan kepadanya dengan kecepatan sulit dihitung, tapi dengan cepat juga muncul sebuah Barrier sehingga berhasil menghalau serangan itu.


"Kamu sangat kasar, cantik~. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang dulu sembari ditemani teh hangat~."


Mendengar ucapan manis itu membuat sang Guardian sangat risih dan berkata :


"Tak ada yang perlu diskusikan di antara kita lagi!"


"Alah~, sayang sekali ya, padahal aku sangat menyukaimu loh~. Kalau tak salah namamu... Custos ya."


Sang Guardian menatap tajam dan seksama wanita misterius ini, dengan sikap tenang wanita kerudung ini membuat dirinya sangat tidak nyaman.


"Jadi orang ini yang disebut 'Heredis of Magician'," pikir Custos sembari tersenyum tipis. "Heredis dari mananya, kalian ini hanya 'Heredis of Fake'. Karena kalian semua hanya 'pencuri' tubuh saudara-saudaraku."


Wanita kerudung ini sedikit terkejut melihat Custos tersenyum tipis padanya.


"Tampaknya ada yang membuatmu tertawa."


"Tidak ada, aku hanya hampir tertawa melihat kalian semua yang berusaha meniru Dewiku. Itu menunjukkan bahwa kalian semua masih belum bisa menandingi kekuatannya."


Mendengar itu, senyuman manis yang ditampilkannya kini menurun dan sesaat ia mulai marah hinaan itu.


Bush...!!!


Seketika energi besar terpancarkan dari tubuh wanita kerudung itu, energinya benar-benar sangat besar dan memenuhi semua yang ada di dalam penghalang ini.


"Kayaknya ada anak yang belum dibaptis harus diberi pelajaran dulu agar dia patuh!"


Tangannya dia arahkan ke depan dan telapan tangannya terbuka lebar dan muncul sebuah cahaya.


Bing!!

__ADS_1


Shut! Piuh!


Custos melihat serangan itu tak bisa ia hindari karena kecepatannya di luar jangkauannya.


"Sial! Keluarlah 'Guardian Power'!"


Wish...!


Dengan cepat muncul sesosok makhluk dengan tubuh yang besar seperti sebuah robot dengan armor-nya yang merahnya.


Swoossh...!!!


Dengan sekali tebasan kuat darinya, membuat cahaya itu terbelah menjadi dua dan ledakan dahsyat dari dua sisi.


"Kekuatan 'Mereka' sekuat ini walau separuh kekuatannya masih disegel oleh 'Hukum'!"


Tampak Custos mulai khawatir karena menurutnya ia tak mungkin bisa menang melawannya.


"Kenapa cantik~, apa kamu ketakutan~"


Custos merapatkan giginya karena kesal--tak berdaya menghadapi salah satu dari "Mereka".


"Aku sangat kagum dengan para pewaris karena bisa mengalahkan beberapa dari 'Mereka'. Padahal kekuatan kami ini sama-sama berasal dari 'Dia' (Dewi)."


Dalam keadaan desak itu, seketika memori ingatan masa lalunya terlintas begitu saja.


...•••...


"Jadi kamu ya 'Guardian Gaia'."


Seorang pria muda menatap dirinya dengan senyuman tulusnya. Dia hanya bisa memasang ekspresi datar karena melihat berapa kali senyuman seperti itu datang padanya.


"Jadi kamu yang ketujuh. Kuharap kali ini tidak buruk seperti sebelum-sebelumnya."


"Ternyata benar yang dikatakan pendahuluku, kamu sangat dingin. Tapi... kali ini kamu akan sangat terkejut denganku."


"Oh, aku harap itu bukan bualan semata yang seperti dilakukan para pendahulumu."


Pria muda ini hanya bisa tertawa mendengarnya dan menganggap itu hanya sebuah kalimat bentuk keakraban mereka.


"Jangan khawatir, kali ini kita pasti mengalahkan saat 'Mereka' berhasil datang ke sini."


"Caranya?"


Pria muda ini langsung menatap wanita ini dan tatapannya seketika berubah jadi sangat serius.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Kamu..."


"Hah?"


"Kamulah kunci keberhasilannya."


Wanita ini masih bingung akan apa yang diucapkan partnernya ini.


"Kalau begitu beritahu aku cepat, jangan bertele-tele."


"Seperti yang kubilang bahwa kamu kunci keberhasilannya. Aku sudah memikirkannya dan sangat beresiko tapi sangat berhasil juga."


"Maksudmu?"


"Aku berhasil menciptakan sebuah kemampuan dan sudah disetujui oleh 'Dia'."


"Kalau kamu harus minta persetujuan darinya, pasti ini kemampuan yang penuh pengorbanan."


"Begitulah, mengingat kemampuanmu yang bisa memisahkan dimensi realita ke dimensi abadi milikmu. Dengan kemampuan unikmu ini yang mana hanya kamu bisa saja yang masuk, kali ini kemampuan milikku bisa menyeret energi kehidupan apa pun ke sesuatu tempat."


Tampak wanita ini mengerti maksud temannya ini dan mulai berpikir akan rencana gilanya ini.


"Kalau begitu... kamu akan membawa 'Mereka' beserta dirimu ke dalam dimensi milikku. Setelah itu aku akan mengurus mereka gitu."


"Iya, tapi saat aku berhasil membawa 'Mereka' kamu tak perlu ikut campur dalam pertempuranku dengan 'Mereka'. Aku ingin kamu tetap mempertahankan dimensimu sampai diriku hancur."


Mendengar itu membuat wanita terkejut dan marah.


"Apa maksudmu hancur hah!"


"Sudah kubilang sebelumnya, bahwa ini akan sangat beresiko tapi sangat berhasil juga. Seperti yang kamu ketahui, kita dianugerahi kemampuan masing-masing oleh 'Dia'. Kemampuan milikmu mampu mengatur waktu dan ruang kehidupan sesuka hatimu yang mana kemampuan itu sangat berperan penting ke depannya, sedangkan kemampuan milikku sangat berkaitan dengan kematian tapi..."


Sesaat dia menghentikan kalimat dan tampaknya ia sudah tahu dari mana asal kekuatannya itu.


"...Kematian tidak bisa dimanipulasi."


"Kamu sangat mengerti ya."


"Yang penting kemampuan ini sudah sangat menolong kita semua walau sangat berbahaya."


"Kalau begitu... ceritakan mengenai skill barumu ini."


Pria muda ini mulai memberitahukan semuanya bahwa skill-nya ini sangat beresiko karena dia akan mengorbankan seluruh energi kehidupannya dengan kata lain, dia siap menghancurkan jiwanya.


"Tunggu dulu! Kalau jiwamu hancur maka..."


"...Ya, keberadaanku mungkin bisa hilang. Tapi jangan khawatir, keberadaanku mungkin sepenuhnya tidak hilang, karena kamu tahukan kita diciptakan seperti apa oleh 'Dia'."


"Soal itu aku tahu, kita diciptakan dengan cinta dan kasih sayang darinya."


Pria muda ini tersenyum dengan tulus, ia tak menyesali keputusannya sama sekali.


"Jika aku berhasil menggunakan skill ini maka aku akan memasuki kegilaan dan seluruh kekuatan 'Kematian' akan melahapku hingga habis, tentu saja kekuatanku tidak dibatasi lagi oleh 'Hukum' hingga waktuku habis."


"Jadi itu alasanmu ingin menyeret 'Mereka' ke dalam dimensiku dan memintaku hanya mengawasimu hingga hancur."


"Jika aku tak berhasil mengalahkan 'Mereka' walau memasuki mode ini. Sisanya kuserahkan padamu, Custos."


"Seperti biasa kamu dan pendahulumu sangat merepotkanku. Kalau begitu berjuanglah, Arno."


"Terima kasih," balasnya sembari terseyum.


Wuss...


Angin musim semi bertiup dengan lembut dan membuat kedua makhluk berkekuatan dahsyat ini tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Jadi, kamu namakan apa skill berbahayamu ini?"


"Pascimmu destum, kamu tahu artinya kan walau ini sangat jauh dari kenyataanya."


"Ya aku tahu, walau maknanya mengubah takdir tapi tetap saja, takdir kita tidak bisa diubah walau hanya satu perngorbanan saja."


"Aku pernah dengar kata pepatah seperti ini 'Jika setetes air belum bisa memenuhi satu kolam, maka setetes air itulah yang akan memenuhi satu kehidupan'. Dari sini seharusnya kamu sudah mengerti, jika pengorbananku belum mengubah semuanya tapi setidaknya berhasil membantu beberapa orang. Dan beberapa orang yang kumaksud itu adalah... para penerusku."


Custos hanya bisa menghela napas atas keras kepala temannya ini.


"Lakukan sesukamu, tapi jangan lakukan tindakan sia-sia lagi, itu membuatku sangat marah."


"Jangan khawatir, jika usahaku hanya bisa menutupi satu lubang maka para penerusku yang akan menutupi lubang yang lainnya. Hanya itu yang bisa kuberikan padanya nanti."


Walau kebersamaan ini terasa lama, tapi perasaan Custos menurutnya ini hanya sesaat. Karena ia akan kehilang teman seperjuangannya lagi.


...•••...


"Kenapa di saat seperti ini aku mengingat si menyebalkan itu."


Walau hal ini sangat merepotkan untuk diingat kembali, tapi ia sangat senang karena pada akhirnya dirinya tidak sendirian untuk memperjuangkan semua ini.


"Alah~, bonekamu itu kuat juga bisa membelah kekuatanku."


Kesal mendengar itu walau kenyataannya memang para Guardian miliknya layaknya seperti boneka yang dikendalikan atas keinginannya. Tapi menurutunya, semua Guardian miliknya sudah selayaknya disejajarkan dengan para pejuang karena membantunya selama ini melindungi semua hal berharga baginya.


"Untuk wanita terlihat alim sepertimu, ternyata jauh lebih busuk kelihatannya."


"Sungguh~, alangkah baiknya kamu bergabung dengan kami cantik~. Aku sudah mendengar semua dari rekan-rekan yang sudah datang kemari, mereka semua berhasil dihancurkan olehmu saat teman hitammu itu selalu menyeretnya ke tempat aneh."


"Kamu juga akan bernasib sama dengan semua rekanmu itu."


"Oh iya~, walau kami datang ke sini menggunakan 'wadah', tapi itu setidaknya memberikan kami banyak informasi cara menghadapi kedua 'Guardian Gaia' yang menyebalkan itu. Asal kamu lihat di sekitarmu, inilah hasil dari kerja kerasku meneliti kemampuan unikmu ini..."


Custos terkejut mendengar itu, ia tak menyangka sudah sejauh ini "Mereka" bertindak melawan dewinya.


"Sudah sejauh inikah langkah 'Mereka', dengan kondisiku yang sekarang, jangankan menghadapi salah satunya, tapi aku tak bisa bertahan melawan salah satunya selama setengah jam lebih."


Wanita kerudung itu tersenyum melihat sedikit kegelisahan dari Custos, tampaknya ia puas dengan usahanya untuk menghancurkan musuhnya ini.


"Walau ruang dimensi ciptaanku ini tidak sebaik milikmu, tapi setidaknya aku berhasil memisahkan realita di luar sana, sehingga kita bisa bertarung sepuas mungkin walau tempat ini hancur sekalipun."


Custos sudah memperkirakan semua selama ini, yang dihadapi dirinya bersama para pewaris hanya sebuah cangkang rapuh yang bisa ditinggalkan kapan pun. "Mereka" bisa datang kembali lagi ke sini dengan "Wadah" baru dan menghancurkan atau melewati celah setiap "Hukum" yang dibuatnya.


"Sudah berapa lama aku sudah bertahan melewati semua ini, dengan keadaan sekarang yang menyedihkan ini, aku tak yakin bisa menahannya lebih lama lagi."


Sudah mengetahui keadaannya ini, karena Custos sudah melihat semuanya. Keadaan "Dia" sudah hampir mencapai batasnya dan "Hukum" yang dibuat oleh "Dia" juga sudah tak bisa mencegah "Mereka" untuk masuk ke sini dengan kekuatan penuhnya.


Tapi Custos masih berharap bahwa semua ini tidak akan sia-sia seperti yang dikatakan semua para pewaris terdahulu.


"Sang cahaya harapan besar..."


Tanpa sadar Custos bergumam, sekarang dia teringat bahwa masih ada satu harapan tersisa dan orang itu akan jadi penentu seluruh takdir dari semua ini.

__ADS_1


"Ya, seperti yang dikatakan semua para pewaris terdahulu bodoh itu, semuanya akan bersinar pada waktunya. Karena kekuatan 'Dia' juga sudah mulai mencapai batasnya."


Custos yang dirinya sebagai "Heredis of Gaia", pewaris kedua dari "Mother Goddess of Earth" kini tak menyesal dengan keputusannya dan sangat bangga bisa menjadi orang yang diberi tanggung jawab besar ini.


"Aneh... kamu selalu tersenyum-senyum sendiri, kayaknya semua hal ini mulai membuatmu gila."


"Tidak, akhirnya semua usahaku tidak sia-sia."


"Apa maksudmu?"


"Kalian semua akan menemui akhir menyedihkan kalian semua nanti."


Tampak wanita kerudung mulai kesal, tapi ia menahan dirinya kali ini karena ucapan musuhnya ini membuatnya penasaran.


"Tampaknya kamu punya kartu AS terakhir untuk mengahancurkan kami semua ini."


"Ya begitulah, tindakan terakhir ini akan menghancurkan kalian semua sampai diri kalian benar-benar hancur."


"!"


Bing! Bing! Bing!


Serangan cahaya yang cepat datang secara bertubi-tubi ke arah Custos.


"Keluarlah! 'Guardian Light'!"


Bing!!!


Cahaya jauh lebih menyilaukan tiba-tiba muncul tepat dibelakang Custos.


Syit! Syit! Syit!


Bom! Bom! Bom!


"?"


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seluruh serangan sang musuh tiba-tiba hancur berkeping-keping. Tampak sesosok orang dengan armor kuningnya, penampilannya hampir sama dengan sebelumnya. Dan dikedua tangannya tampak sesuatu yang melilit dan lilitan itu telah menyebar di sekitar Custos.


"Muncul lagi satu boneka menyebalkan."


"Kuharap kamu tidak kesepian menghadapiku."


"Jangan khawatir cantik~, aku tak pernah kesepian menghadapimu."


"Kalau begitu..."


Shut! Piuh!


Lemparan tombak yang sangat kuat dialiri Mana yang melimpah, menambah kekuatan dan kecepatan tombak itu menuju targetnya.


Bom!!


Set!!


Serangan dadakan itu berhasil ditahan dan dengan cepat Custos maju sembari memunculkan sebuah pedang dan siap menyerang musuhnya.


Tring!


Pedang itu masih berhasil ditahan oleh sang musuh.


"Kamu benar-benar banyak kejutan cantik~."


"Cih!"


Slash! Slash! Slash!


Tring! Tring!


Serangan bertubi-tubi terus dilancarkan tapi semua itu masih sia-sia dihadapannya.


Set!


Custos langsung mundur dengan napas terangah-engah.


"Sesuai perkiraanku, kamu telah mencapai batasmu. Ratusan pertempuran tanpa henti kamu hadapi, sungguh membuatku tercengang melihatmu masih bisa bertahan sampai sekarang."


Custos menatap tajam wanita j*l*ng ini, semua yang dikatakannya sangat benar. Karena dunia dimensi abadi miliknya sangat berbeda dengan dimensi realita sekarang. Di mana ia harus bertarung sembari mempertahankan dimensi buatannya, sehingga hal itu ia harus menerima beberapa cedera ketika menghadapi musuhnya.


Setiap musuh dibawa oleh "Heredis of Death" semuanya sangatlah banyak dan kuat-kuat. Tidak banyak para pewaris terdahulu harus mati tanpa perlawanan sebelum kegilaan melahapnya.


"Alasan kami terus membawa 'Mereka' ke dimensiku, ini demi 'Dia'. Karena kenapa dunia ini bisa bertahan karena 'Dia' menggunakan seluruh energi kehidupannya, tugasku sebagai Guardian-nya harus menjauhkan 'Mereka' dari dunia realita. Karena dunia ini bisa bertahan atas pengorbanan dari 'Dia' juga."


Custos mulai mencapai batasnya dan dia mulai sulit mengangkat dirinya untuk bisa bertarung lagi.


"Waktuku terbuang melihatmu sekarat begini. Akan kuakhiri sekarang."


Bing!!!


Bola cahaya besar muncul dari langit dan energi dahsyat terpancarkan begitu saja dari bola besar itu.


"Akan kujadikan ini usaha terakhirku... keluarlah seluruh 'Guardian Life'!"


Bing!!!


Muncul cahaya sihir besar tepat di bawah kaki Custos, dan setiap sisi lingkaran itu muncul para Guardian dengan penampilannya masing-masing.


"Mereka semua aku ciptakan berdasarkan dari semua inti kehidupan..."


Wish, Power, Light, Nature, Spirit, Cosmos dan Emotion. Custos memahami dasar penciptaan dunia ini (Bumi), tapi satu hal yang ia tidak pahami yaitu 'Kematian'. Apa 'Kematian' bagian dari kehidupan? Ia berusaha memahami seperti apa itu 'Kematian', tapi ia tak memahaminya. Dirinya merasa sangat iri dan mengejek para pewaris 'Kematian', mereka diberikan kemampuan hebat tapi sangat menyebalkan baginya karena di antara pewaris ini tidak ada satu pun memahami 'Kematian' itu seperti apa, padahal mereka selalu menggunakannya dan tak ada siapa pun mengetahui dasarnya.


Tapi menurutnya, 'Kematian' itu sudah bagian kehidupan dan itulah pemahamannya. 'Kematian' ada tapi tidak ada juga, itulah yang selalu dikatakan semua para pewaris terdahulu.


Bing!!!


Wussh...!!


Angin berhembus tak beraturan dan energi besar dari dua kubu telah memenuhi ruang dimensi ini.


Swooosh...!!!


Bola cahaya itu langsung dihantamkan ke bawah dan Custos siap menghadapi bencana ini.


Bom!!!


Di luar dari dimensi ini telah membasahi bumi ini.


Pip... Pip... Pip...


Tetesan tangisan ibu bumi telah jatuh dan membasahi anak-anaknya. Tangisannya semakin menggelegar sehingga membuat langit hampir runtuh.


...Custos......


Sang ibu hanya bisa diam menangis melihat anak-anaknya harus mati di tangan semua mantan temannya. Ia hanya bisa berdiam diri di tempatnya yang sepi dan tak bisa berbuat apa-apa.


...•••...


...•••...


...•••...


Waktu telah berlalu sangat lama semenjak kejadian itu, tampak seorang pria besar dengan kulit hitam kecoklatan dan bekas luka di lehernya. Dengan tubuhnya yang tinggi sungguh membuat langkahnya, sedikit berat di tanah.


Ia berjalan ke ara sebuah rumah sembari membawa sebuah kotak aneh di tangannya.


Tok... Tok... Tok...


"Sebentar!"


Klek... Ngek...


Tampak sesosok anak muda membukakan pintu dari dalam dan ia sangat terkejut melihat seorang pria dengan tinggi hampir dua meter.


"Maaf, apa ini rumah keluarga Pranadipa?"


"Iya, dan saya anaknya. Ada apa ya, Pak?"


"Aku harus menyampaikan kabar tidak mengenakkan ini, bahwa kedua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan tunggal."


Kabar buruk yang datang bagai petir menyambar pohon hingga tumbang, pria muda ini syok mendengar kematian orang tuanya dan masih sulit mempercayainya bahwa mereka meninggalkan dirinya beserta kedua adiknya begitu saja. Walau sulit dipercaya, tapi ia sudah melihat kenyataanya terlebih dahulu sebelum ucapan jujur ini lagi datang menghujani.


"Dan cuma ini barang yang aku temukan dari mereka."


Pria besar ini memberikan sebuah kalung batu berwarna ungu dengan corak berbintik-bintik putih. Dengan berat hati, ia menerima peninggalan orang tuanya.


"Kalau begitu aku permisi."


Pria asing ini langsung melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu. Saat telah menjauh, seketika sosok dirinya berubah dengan orang memakai armor birunya.


[Pemilik baru telah dikonfirmasi.]


Suaranya seperti sebuah mesin A.I yang berat.


[Telah memenuhi syarat. Atas perintah "Heredis of Gaia" yang terakhir. Kami "Guardian Life" akan mengikuti pemilik baru ini, ia akan jadi "Wadah" para Guardian untuk melindungi dunia ini.]


Setelah perintah telah dikonfirmasi sepenuhnya, ketujuh Guardian muncul dan menghilang begitu saja.


Cahaya-cahaya kecil ini telah terbang ke angkasa dan akan selalu mengawasi setiap penjuru. Tugas terakhir akan menjadi paling akhir dari semua takdir buruk ini.

__ADS_1


__ADS_2