
Saat di rumah sakit....
Saat ini aku berada di salah satu kamar pasien dan sedang berbaring dengan santai.
"Bosan juga ya, padahal luka sudah sembuh sepenuhnya tapi dokter menahanku sebentar untuk pemeriksaan lanjutan."
Karena bosan aku membuka jendela informasi.
"Level-ku tidak bertambah sedikit pun saat membunuh orang." Sembari melihat tanganku. "Ini pertama kalinya aku membunuh orang, dan entah kenapa aku tidak merasakan apa pun."
Aku terus menatap diriku yang membuatku berpikir, sistem yang aku terima ini apakah ada orang yang di baliknya? Kalau pun ada seseorang yang mengendalikan aku melalui sistem ini, maka aku akan menggunakan sistem ini juga untuk diriku bukan orang yang memberikan sistem ini.
"Saat membunuh para bajingan itu, aku mendapatkan hal menarik... shop!"
[Kamu telah memenuhi syarat untuk membuka Shop.]
Sistem jual belinya terbuka seketika saat pemberitahuan tiba-tiba muncul saat di dalam dungeon itu.
Aku melihat semua item yang ada di shop ini.
"Semua memiliki harga item equipment-nya rata-rata harganya lima ratus ribu ke atas semua, bahkan ada seratus juta. Untuk semua harga potion-nya semua kualitasnya bintang 3 ke atas dengan rata-rata tiga ratus ribu ke atas."
Melihat harga-harga ini membuat jiwa miskinku meronta-ronta.
"Hmm, dengan harga selangit mana mungkin aku bisa membelinya. Bagaimana dengan sistem pembayarannya...."
[Peringatan!
Untuk membeli item yang ada di "Shop" kamu memerlukan "Soul Poin" sebagai mata uang pembayarannya. "Soul Poin" kamu bisa dapatkan dari hasil menjual item-item yang kamu miliki, atau membunuh makhluk-makhluk yang memiliki jiwa.]
"Membunuh makhluk yang memiliki jiwa, berarti... membunuh orang-orang itu...."
Tok... Tok... Tok....
"Permisi...."
Seorang suster masuk dan membawa beberapa berkas.
"Tuan, hasil pemeriksaannya sudah keluar," ucap suster itu sembari memberikan berkasnya kepadaku. "Syukurlah Tuan, kata dokter lukanya tidak menembus hingga ke dalam, dan tidak ada racun serta komplikasi lanjutan terhadap luka anda."
"Begitu ya, terima kasih Sus---"
Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat tidak asing bagiku dari sebelah kamarku ini. Aku mendengar dua suara seseorang saling berbicara.
"Bu, kumohon bertahanlah, kali ini aku pasti membawakan uang yang banyak untuk Ibu. Jadi, kumohon bertahanlah."
"Nak..., Ibu sudah tahu keadaan Ibu sendiri, kamu simpan saja uang yang kamu kumpulkan untuk Adikmu agar bisa sekolah."
"Ibu jangan bilang begitu, aku janji... Ibu pasti bisa sembuh. Iwan bilang dia tidak akan mau sekolah sebelum Ibu sembuh dan dia mau hanya Ibu yang selalu mengantarnya pergi sekolah. Jadi... hiks... bertahanlah...."
__ADS_1
"Sudah, sudah... jangan menangis, Ibu akan berusaha untuk sembuh."
Aku mendengar percakapan yang penuh kesedihan antara anak yang berjuang keras mencari biaya untuk pengobatan ibunya dan seorang ibu yang berjuang melawan penyakitnya.
"Tuan, apa yang terjadi, kenapa kamu tiba-tiba diam?"
"Eh! Tidak, tidak ada apa-apa kok. Oh iya Suster, aku tak sengaja mendengar keributan dari sebelah, ada apa ya?"
"Oh itu, di sebelah ada seorang gadis muda yang berjuang mati-matian agar ibunya bisa sembuh dari penyakitnya."
"Kalau boleh tahu penyakit ibunya apa?"
"Ibunya mengidap kanker stadium akhir dan dokter terbaik di rumah sakit ini yang mana dia juga seorang Terbangkitkan seperti Anda, dia tidak bisa mengangkat penyakitnya."
Saat mendengar itu aku terkejut, sebab Santia mengatakan bahwa dia sangat butuh Kristal Mana untuk penyembuhan ibunya.
"Suster, apa aku bisa pulang sekarang?"
"Sebenarnya Anda bisa pulang dari tadi, karena menunggu instruksi dari dokter yang membuatnya lama, sekarang Anda bisa pulang."
Aku langsung turun dari kasur dan mengambil semua barang-barangku.
"Kayaknya Tuan terlihat terburu-buru, kalau boleh tahu ada apa ya?"
"Sebenarnya aku ingin melihat orang yang di sebelah, aku merasa tidak asing dengan suaranya."
"Oh, kalau begitu ikut denganku saja, kebetulan aku akan melakukan pemeriksaan pasien di sebelah juga."
Saat berjalan di lorong rumah sakit, akhirnya aku tiba di depan kamar pasien A-190 dan melihat melalui kaca pintunya, terlihat seorang gadis yang menangis tersedu-sedu sembari memegang tangan ibunya yang terlihat lemas, dan ibunya berbaring lemas di sana dan tertidur.
"Tuan, tidak mau masuk?"
"Kurasa waktunya tidak tepat. Aku dengar Kristal Mana bisa digunakan sebagai pengobatan, apa itu benar?"
"Itu benar Tuan, salah satu dokter kami seorang Protector Rank-A dengan kemampuan penyembuhan yang hebat, katanya dia butuh Kristal Mana untuk diminumkan kepada pasien dan dia akan mengendalikan Kristal Mana yang cair itu, lalu mengeluarkannya kembali bersama penyakitnya."
"Begitu ya."
Tak kusangka ada metode seperti itu untuk menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh medis modern. Tidak heran, kenapa Ibuku sering mengagumi orang yang memiliki kemampuan Healer.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan dokter itu."
"Sayang sekali Tuan, dokter sedang mengadakan rapat penting mengenai pengobatan baru agar tidak ada pasien seperti ibu di dalam sana."
"Hmm, kalau begitu, di mana aku harus menyerahkan Kristal Mana-nya."
"Maaf Tuan, anda bilang Kristal Mana?" Suster itu kebingungan dan tidak percaya apa yang aku ucapkan barusan.
"Aku bilang, di mana aku bisa serahkan seluruh Kristal Mana yang kupunya, aku memberikannya semuanya untuk pengobatan ibu itu."
__ADS_1
Suster itu kaget dan melihat keadaanku yang terlihat tidak membawa kristal.
"Maaf Tuan, kalau boleh tahu... hubungan Anda dengan keluarga pasien, apa ya?"
Memastikan identitas seseorang yang memberikan bantuan kepada pasien, sudah menjadi hal wajar kalau di rumah sakit.
"Sebenarnya, aku adalah teman dari anak ibu itu," jawabku sembari menunjuknya. "Aku sudah berutang nyawa padanya dan dia sudah membantuku beberapa kali, kali ini aku ingin membalas budinya. Kalau dia tahu bahwa bantuan ini dariku dia akan menolaknya, dia tipe orang yang tak ingin merepotkan orang lain."
"Baiklah, aku mengerti. Tolong ikuti saya segera."
Suster itu langsung membawaku ke tempat penitipan untuk menyerahkan seluruh Kristal Mana yang kumiliki. Kristal Mana ini aku masukkan ke inventori saat membantu Santia mengambil Kristal Mana-nya juga selagi dia tidak memperhatikannya.
...•••...
Tok... Tok... Tok....
"Permisi...."
Beberapa orang berjas putih rumah sakit dan suster memasuki salah satu kamar pasien mengidap kanker ganas.
Gadis itu yang berada di samping ibunya, dia langsung berdiri dan memohon pada dokter yang merawat Ibunya.
"Dokter, kumohon... apa ada cara lain agar Ibuku bisa bertahan, berikan aku waktu... pasti aku akan mendapatkan Kristal Mana-nya yang banyak," ucap gadis itu dengan air mata mengalir deras.
"Tenanglah Nona Santia, kami datang sini dengan kabar bagus dan kami akan segera memulai pengobatan ibumu."
"Serius..?!" Sembari menutup mulutnya yang tidak percaya apa yang di dengarnya. "Tapi... aku tidak punya cukup uang."
"Soal itu kamu tidak perlu khawatir, semuanya sudah ditanggung oleh seseorang."
"Seseorang, siapa dia, Dokter?" Tanya gadis ini yang kebingungan.
"Maaf, kami tidak bisa memberitahukanmu ini atas permintaan dia juga, katanya dia adalah temanmu yang sudah membantunya beberapa kali."
"Teman? Tapi...."
"Hok... hok...."
"Ibu!"
"Syukurlah Nak, Dewa masih memberikan Ibu kesempatan untuk hidup, setelah sembuh... Ibu ingin bertemu dengan temanmu itu."
"Kalau begitu, kami akan segera membawa ibumu untuk melakukan pengobatan," kata dokter.
Gadis ini hanya mengangguk dan melihat ibunya dibawa ke ruangan lain untuk pengobatan.
"Oh Dewa, pertemukan aku dengan penolongku ini, aku ingin berterima kasih secara langsung dengannya."
...•••...
__ADS_1
Saat di luar rumah sakit....
"Hachi*, kurasa mereka sudah mulai membicarakan aku. Tabunganku habis setengahnya, ya... tidak ada salahnya membantu orang kesusahan. Berbahagialah gadis kecil, semoga ibumu sembuh dan sehat selalu."