Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 81


__ADS_3

Akhirnya aku bisa melihat kisah perjalan dari Aran menjadi seorang Heredis.


"Di mana ini?"


"Di sinilah tempat harta rahasia itu."


Aku melihat Aran muda berjalan ke arah sebuah pintu yang sudah sangat usang dan ditutupi lumut dan berbagai tanaman merambat. Lokasi dari harta rahasia ini ternyata letaknya sangat jauh dari istana dan lebih mengejutkannya, ternyata berada tepat di bawah tanah atau berada di bawah rumah kecil yang selama ini Aran habiskan waktunya dengan Master Arum.


Aran muda itu membuka pintu dengan sebuah kunci yang sudah diwariskan oleh ayahnya kepadanya. Kata Aran, bahwa sudah ada banyak generasi pemegang kunci ini sudah datang ke sini dan tidak ada satu pun dari mereka menemukan dan mendapatkan apa pun di dalamnya.


"Aku baru menyadarinya setelah menginjak usiaku lima puluh tahun. Saat itu Ayah pernah mengatakan padaku, saat kami hanya berdua saja, katanya dia tidak menemukan apa pun di dalam sana dan hanya ada sebuah gulungan kertas kosong yang tak berisi tulisan apa pun. Tapi, selama ini sudah direncanakan oleh Master, tepat pada 200 tahun yang lalu. Saat itu Master bertemu Leluhurku dan menawarkan sebuah bantuan dan pengetahuan luas, agar dirinya bisa menjadi penguasa yang hebat dan hal itu disepakati oleh Leluhurku."


"Jadi apa yang didapatkan Arum dari kesepakatan itu?"


"Master hanya menginginkan salah satu dari keturunannya saja. Tapi tak semudah itu Master memilih di antara keturunan Leluhurku, Master memberitahukan Leluhur sebuah tempat di mana keturunannya yang terpilih akan datang ke tempat itu dengan memberikan sebuah kunci sebagai syarat, bahwa dirinya yang sudah terpilih untuk menuju tempat itu. Saat itu Leluhur langsung menyetujuinya saja dan tidak bertanya sedikit pun mengenai tujuan Master memilih keturunannya, pikirnya itu akan sangat lancang terhadap orang yang memberikan berkah terbesar kepadanya dan keturunannya."


Mendengar itu membuatku sedikit penasaran cara metode pemilihan pewaris ini. Apa cuma Master Arum yang melakukan metode mewarisi kekuatannya seperti ini? Kurasa tidak. Sebab, ada banyak pewaris yang mewarisi kekuatan ini dengan cara yang berbeda.


Kami sekarang terfokus di mana Aran muda ini berhasil membuka pintu tersebut dan memasukinya. Saat masuk, tempat ini benar-benar kosong dan hanya ada sebuah selembar gulungan kertas yang tak berisi apa-apa.


Saat Aran muda membuka gulungan itu dan memperhatikan isi dari gulungan itu, yang tidak ada setetes tinta pun yang menggoresnya. Tapi, Aran muda ini mengambil sebuah pisau dan mengiris tangan untuk mengeluarkan darah, dan darah itu membasahi gulungan tersebut dan tiba-tiba muncul sesuatu yang tertulis akibat darah yang menetes di atasnya.


[Syarat telah terpenuhi, apakah kamu mau menerima warisan ini?]


"Hm?"


"Sama persis yang kamu alami, kan," ucap Aran.


"Iya. Tapi, aku tak menyangka, bahwa cara mewarisi kekuatan kematian ini seperti ini, sedangkan aku yang mewarisinya harus menghadapi kematian dulu baru mendapatkannya."


"Ada banyak cara mewarisi kekuatan ini ke penerusnya. Ada secara langsung yang mewarisi kekuatan ini ke penerusnya yaitu saat berhadapan secara langsung, ada juga yang melalui perantara seperti yang dilakukan Master Arum sekarang, dan ada juga kekuatan ini langsung diwariskan ke penerusnya melalui 'Dia' itu sendiri atau dengan kata lain, mengembalikan kekuatan ini ke pemilik aslinya yaitu 'Dia' dan biarkan dia sendiri yang memilih pewaris selanjutnya."


Mendengar informasi itu membuatku semakin penasaran akan kekuatan ini dan meneliti lebih dalam lagi, tapi mengingat perkataan Aran sebelumnya bahwa rasa penasaran bisa mencelakaiku lebih dalam lagi, jika aku menggalinya lebih dalam.


"Jadi, bagaimana cara kamu mewarisi kekuatan ini ke penerusmu?"


"Aku tidak mewarisi kekuatan ini, karena aku terlalu sibuk mengembangkan kekuatan umat manusia. Jika di antara pewaris tak menemukan penerusnya, maka otomatis akan diserahkan ke 'Dia' yang akan memilih pewaris selanjutnya."


"Begitu ya. Tapi... aku merasa di antara ketiga metode cara mewarisi kekuatan ini yang kamu sebutkan barusan, aku merasa tidak ada satu pun yang termasuk saat aku mewarisinya. Aku merasa cara aku menerima warisan ini jauh sangat berbeda dengan apa yang kamu sebutkan barusan. Apa hanya perasaanku saja?"


Aran hanya terdiam saja mendengar itu, tampaknya ia mengetahui soal ini, aku merasa informasi ini sangat rahasia untukku dan aku tidak tahu alasan pendahuluku ini selalu menyembunyikan banyak hal dariku.


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri."


"Ya, aku mengerti."


Bing!


Aran muda menyetujui dan menerima apa yang tertulis di dalam gulungan kertas itu. Tiba-tiba gulungan itu bercahaya dan menghilang begitu saja. Tapi di sisi lain, aku merasakan Mana yang sangat kuay dari Aran muda ini dan tampaknya ia sudah menjadi seorang Heredis dari sang "Kematian".


Tlak...!


Kami berpindah-pindah dari waktu ke waktu, aku melihat semua perjalanan hidup Aran sebagai seorang Heredis. Seperti yang dikatakan Aran, bahwa dia hanya fokus mengembangkan Chi-nya dan memanfaatkan warisan yang diterimanya dari pendahulunya sebagai pendorong, seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh seluruh pendahulu sebelum Aran, kini sudah ada di dalam kepala Aran sekarang. Dia memanfaatkan seluruh pengetahuan itu untuk mengembangkan dan memahami arti manusia itu sendiri.


"Tunggu dulu!"

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kamu mendapatkan semua pengetahuan yang dimiliki para pendahulu setelah kamu jadi Heredis. Lalu aku apa? Aku tidak mendapatkan semua pengetahuan itu dan hanya melihat masa lalu mereka saja. Padahal akan sangat bagus jika aku memiliki semua pengetahuan itu, dan itu membuatku semakin menjadi kuat dengan cepat dengan semua pengetahuan itu juga."


Aran hanya memasang ekspresi datar dan menganggap semua ucapanku itu hanya sebuah lelucon saja. Aran mengatakan bahwa ada alasan dari semua itu dan satu hal lagi, jika aku menerima semua memori mereka, maka akan menyebabkan sakit kepala yang sangat hebat.


"Yah... memang itu akan terjadi sih. Mengingat rasa sakitnya tak tertahankan, sampai-sampai aku melakukan sesuatu yang tidak kusadari, seolah-olah aku dirasuki sesuatu."


Saat mengucapkan itu, seketika ekspresi Aran sangat kaget dan panik melihatku, dan berkata :


"Kamu bilang, kadang dirimu tak sadarkan diri saat melakukan sesuatu?!"


"Iya," jawabku yang kebingungan melihat dia sangat panik.


"Sial! Ini terlalu cepat baginya!"


Aran bergumam lagi dan samar-samar suara terdengar sangat kesal, tampaknya sesuatu yang sangat gawat telah terjadi sesuatu tanpa kusadari. Lalu aku bertanya padanya mengenai dirinya terlihat panik seperti itu, tapi ia menjawabku untuk tidak khawatir dan katanya ini hanya masalah yang seharusnya para pendahulu urus untuk penerusnya.


Tlak...!


Kami berpindah lagi, aku hanya melihat Aran menghabiskan waktunya untuk berlatih saja dan seorang wanita cantik muncul dari belakang sembari membawa sesuatu.


"Sudah kuduga, kamu pasti di sini saat luang," ucap wanita cantik itu.


"Wanita itu namanya Mei Ming, sekaligus dia adalah Istriku."


"Jadi dia istrimu ya. Tak kusangka kamu sangat pandai menarik wanita cantik."


"Begitu ya, hehe," balas Aran sembari tersenyum.


Aran mengatakan, saat ini usianya sudah tiga puluh dua tahun dan saat itu juga istrinya hamil anak pertamanya.


Tlak...!


Setelah beberapa waktu, Aran sudah menginjak usia lima puluh tahun lebih dan dia memiliki satu orang putra dan seorang putri.


"Istriku meninggalkan aku dengan kedua anak kami dengan cepat. Dia meninggal saat aku sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, aku sangat sedih atas kepergiannya dan penyebab dia cepat meninggal karena diriku juga."


Aku sangat terkejut mendengar itu dan bertanya kepadanya mengenai, kenapa dirinya menjadi penyebab kematian istrinya.


"Saat itu aku terlena akan kehidupan bahagiaku ini dan tak sadar bahwa diriku seorang Heredis. Saat berdekatan dengannya dan berhubungan, tanpa sadar aku telah menyerap energi kehidupannya secara perlahan dan kupikir waktu itu dia hanya sakit biasa, dan membuatkan dia potion setiap harinya. Tapi itu semua sia-sia, sebelum terjadi hal yang sama pada kepada Putra dan Putriku, aku meminta mereka untuk mencari kehidupannya sendiri setelah menginjak usia lima belas tahun. Memang ini terdengar kejam, tapi inilah caraku menyelamatkan mereka, tapi kedua Anakku ini mengerti aku meminta mereka menjauh dariku. Tapi aku sangat bangga akan usaha mereka, karena mereka telah menemukan cara untuk menggunakan Chi secara efisien tanpa harus kehilangan energi kehidupan terlalu banyak, dan metode itulah yang diterapkan sampai sekarang oleh generasimu."


"Pasti sangat berat menjauh dari keluargamu. Berarti aku harus segera meninggalkan keluargaku juga, karena aku juga seorang Heredis," ucapku dengan sedih karena takdir kejam ini membuatku harus menjauh dari Adik-Adikku.


Aran yang melihatku murung begitu, seketika dia menepuk kepalaku dan mengatakan bahwa jangan khawatir saat diriku mendekati orang-orang terdekatku, dan karena hal yang dialami Aran tidak akan pernah terjadi pada diriku.


"Apa maksudmu hal seperti ini tidak akan terjadi padaku?"


"Seperti sebelumnya yang kukatakan, biarkan para pendahulumu ini yang mengurus semuanya dan kamu sebagai penerusnya, tinggal jalankan apa yang sudah diinstruksikan kepadamu. Karena semua yang sudah dialami para pendahulumu, sudah dicegah satu-persatu masalah yang akan menimpa penerusnya nanti."


Mendengar itu membuatku sedikit semangat dan senang. Tapi di sisi lain, aku sangat prihatin apa yang menimpa para pendahuluku ini, sampai mana mereka harus berkorban untuk penerusnya yang akan datang, serta seluruh nyawa-nyawa yang mereka lindungi dari para dewa asing itu.


Tlak...!


Seketika tempat ini berubah dan kami kembali ke tempat sebelumnya lagi, yaitu berada di atas gunung tempat latihan Aran.

__ADS_1


"Baiklah, kurasa sampai sini saja aku bisa perlihatkan semuanya."


"Eh, sudah selesai? Kurasa ada yang terlewatkan."


"Aku tahu itu. Aku tak ingin memperlihatkan diriku yang kalah secara menyedihkan saat melawan 'Mereka'. Aku merasa adalah Heredis paling terburuk sepanjang masa, karena tak bisa memberikan perlawanan sedikit pun pada 'Mereka'."


"Kurasa kamu bukanlah orangnya begitu. Malahan menurutku, kamu sangat hebat dan tak pernah kulihat orang seperti dirimu."


"Terima kasih," balas Aran sembari tersenyum. "Sekarang kita kembali ke masalah utamanya, yaitu caramu menggunakan Chi yang sangat berisiko. Kalau kamu bukan seorang Heredis, mungkin kurang lima tahun kamu akan mati karena caramu menggunakan Chi itu."


Aran memintaku memberikan tinjuku padanya dan aku mengikuti apa yang dikatakannya. Aku mengarahkan tinjuku ke arahnya dan dia pun juga mengarahkan tinjunya kepadaku, sehingga tinju kami masing-masing saling berhadapan dan bersentuhan.


Bussh...!


"Eh? Apa yang...?"


Tiba-tiba aku melihat Aura milik Aran keluar dari tubuhnya dan Aura-nya ini benar-benar sangat kuat. Seketika Aura miliknya merayap ke arah tinjuku yang bersentuhan dengannya dan lama-kelamaan, Aura miliknya telah menyelimuti diriku sepenuhnya.


"Sekarang bagaimana perasaanmu?" Tanya Aran.


Aku memeriksa keadaanku dan rasanya tubuhku semakin menjadi kuat, seolah aku mendapatkan sebuah Buff yang sangat hebat.


"Itu sisa Aura milikku selama aku hidup dan itu hanya bertahan sementara saja, gunakan semua Aura itu untuk memulihkan dirimu dan mengalahkan monster hijau besar itu. Dan satu hal lagi..."


Belum sampai situ, Aran meletakkan jarinya telunjuknya ke keningku dan tiba-tiba seluruh informasi dan berbagai macam metode menggunakan Aura dengan tepat, muncul dan tertanam diingatanku.


"Itu semua pengetahuan pribadi yang aku miliki. Cara menggunakan Chi yang tepat dan berbagai macam seni bela diri yang aku gunakan dan kembangkan selama ini, karena aku tak punya waktu untuk mengajarimu satu-persatu," ucap Aran sembari menghela napasnya yang terasa sangat berat itu, seolah-olah beban yang dipikulnya kini sudah terangkat. "Dengan ini aku tak perlu khawatir lagi, yang akan menimpamu sekarang."


Aku sangat terharu akan hadiah yang kuterima ini dan tak menyangka, menghabiskan waktu dengan orang yang senasib denganmu sangatlah menyenangkan.


"Terima kasih atas semua pemberiannya, Leluhur," ucapku dengan hormat sembari membungkuk padanya.


"Ya sama-sama. Kalau kamu tidak keberatan, apa aku bisa meminta sesuatu?"


Mendengar itu aku hanya mengiyakan saja dan Aran tersenyum mendengar itu. Dia mengangkat tangannya ke langit, dan tiba-tiba muncul sesuatu yang bercahaya. Setelah cahaya itu meredup, tampak sebuah telur seukuran kucing dewasa tepat di atas tangannya.


"Tolong terima dia," kata Aran sembari memberikan telur itu dan aku menerimanya dengan senang hati. "Cuma dia satu-satunya pengikutku yang masih selamat, tolong jaga dia baik-baik. Aku sangat yakin, dia akan sangat membantumu."


"Kamu jangan khawatir, aku pasti menjaganya dengan baik dan membuat dirinya menjadi sekuat mungkin."


Brak!


Aran senang mendengar itu dan di sisi lain, ruang dimensi ini telah menunjukkan retakan dengan kata lain waktu kami telah habis.


"Sekali lagi, terima kasih atas semuanya."


"Ya, jaga dirimu baik-baik di luar sana. Ingatlah satu hal ini, kamu jangan sampai terbawa oleh arus yang dibuat oleh 'Kematian', ia akan merenggut dirimu sepenuhnya."


"Akan kuingat baik-baik pesan itu."


Brak!


Bing!


Seketika cahaya menyilaukan itu menutup pandanganku dan semua yang terjadi serta waktu yang kualami selama ini, telah berjalan kembali.

__ADS_1


__ADS_2