Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 87


__ADS_3

Sesaat di dalam dunia Ancient Ruins...


[Kamu telah berada di zona persiapan. Kamu hanya boleh melewatinya jika sudah memakai mode Heredis.]


"Hmm, tempat ini..."


Aku melihat sekeliling dan hanya ada tembok-tembok yang berjajar dengan rapi.


"Bukannya ini dungeon pada umumnya."


Aku sedikit terkejut melihatnya, sebab tempat ini seperti pada dungeon umumnya yang sering aku masuki di luar sana. Sekarang aku berada di sebuah lorong gelap dan hanya diterangi api obor yang tertancap di setiap dindingnya.


[Kamu ingin memasuki dari mode Heredis?]


[Yes/No]


"Ya..."


Bussh...!


Seperti biasa aura hitam nan dingin ini telah menyelimuti diriku. Tapi satu hal yang membuatku heran, perasaan setiap memasuki mode ini telah hilang secara perlahan.


"Apa tubuhku sudah mulai terbiasa dengan kekuatan ini?"


[Kamu telah memasuki mode Heredis, sekarang kamu bisa memasuki dunia Ancient Ruins.]


Seperti biasa, aku harus mengecek statusku dulu dan Norum sebelum masuk, dan menambahkan beberapa SP yang kudapat setelah naik level.


Aku langsung memunculkan jendela status :


[Nama : Arkha Peteng


Job : Heredis of Death (Ruler of Soul : Tingkat 2)


Umur : 20 tahun


Level : 68


Jenis kelamin : laki-laki


STR : 531 (+50%)   INT : 424 (+50%)


AGI : 429 (+50%)    DEX : 388 (+50%)


VIT : 493 (+50%)    LUK : 386 (+50%)


HP : 23100/23100 (+50%)


MP : 4240/4240 (+50%)


SP : 7.]


Aku memperhatikan dengan seksama statusku ini dan tampak stats-nya mulai tak seimbang.


"Karena aku sekarang punya senjata jarak jauh yang sangat hebat, maka aku akan kufokuskan SP ini ke DEX untuk memperkuat serangan jarak jauhku dan akurasi serangannya, serta instingku agar mudah menghindari serangan berbahaya mengarah kepadaku. Lalu LUK untuk memunculkan selalu serangan bertumpuk atau critical, agar banyak kerusakan yang bisa diterima oleh musuh, persentasi kemunculan critical-ku sangat kecil karena LUK-ku sangat rendah."


[DEX : 388 (+50%) > 392 (+50%)


LUK : 386 (+50%) > 389 +(50%)


SP : 0]


Karena sudah memfokuskan SP-ku ke DEX dan LUK, maka "Pistol penghancur jiwa" milikku akan semakin kuat.


"Bukannya juga semakin tinggi LUK maka drop item aku dapatkan maka akan banyak ya?" Aku langsung teringat dengan game RPG yang sering kumainkan dulu. "Kurasa hal itu tidak berlaku deh di sistem ini, sebab kemunculan item yang setiap aku bunuh monster mungkin hanya keberuntungan saja. Karena sistem ini hanya berfokus untuk memperkuat diriku."


Aku langsung membuka jendela status Norum dan aku terkesan melihat statusnya. Sebab status miliknya jauh di atasku dan itu membuatku sedikit iri padanya.


[Nama : Norum


Evolusi : Blaowolf


Level : 79


Jenis kelamin : Jantan


STR : 611     INT : 506


AGI : 519      DEX : 463


VIT : 552      LUK : 479


HP : 35100/ 35100


MP : 5160/ 5160.]


"Walapun Norum bagian dari diriku, tapi tetap saja kenapa aku selalu iri melihat ini."


Aku menghela napas sembari menutup jendela status ini dan mulai melangkahkan kakiku keluar dari zona persiapan ini.


[Kamu telah memasuki dunia Ancient Ruins, seluruh sistem akan dinonaktifkan kecuali sistem penyimpanan item.]


[Peringatan!


Kamu bisa keluar dari dunia Ancient Ruins jika berhasil menaklukkan 10 lantai dari dunia ini, dan kamu bisa keluar dari dunia ini jika HP milikmu di bawah 10%, kamu akan diberikan pilihan untuk melanjutkan atau keluar dari sini. Jika memilih menyerah maka kamu tak akan bisa memasuki dunia ini lagi dan sudah dianggap gagal.]


Melihat pesan peringatan ini yang masih sama seperti dunia sebelum-sebelumnya. Aku langsung berjalan ke depan menyusuri lorong gelap yang hanya diterangi cahaya warna kuning kejinggaan ini.


Setelah beberapa saat berjalan, aku melihat ujungnya dan tampak cahaya cukup terang di sana.


"Apa-apaan tempat ini, apa aku di dalam air?"


Sesaat sampai di sana, sungguh membuatku terkejut. Sebab langit-langit dunia ini seperti warna laut dan bergerak seperti disentuh sesuatu atau ditiup angin.


Aku cukup lama memandangi langitnya dan seperti aku melihat lautan luas dari dalam lautnya sendiri.


Kring... Kring...


Suara gemericik benda-benda kecil sesaat orang itu selalu berjalan. Langkahnya yang sangat tenang seperti air, dan berisik seperti gelombang laut. Kedatangannya menandakan bahwa sudah saatnya ia melakukan tugasnya.


"Tak kusangka, aku kedatangan tamu."


Aku sangat terkejut dan langsung berbalik ke arah suara itu.


"Orang itu..."


Kring... Kring...


Suara gemericik benda-benda kecil seperti lonceng itu tertempel di pakaian dikenakannya.


"Apa dia penjaganya?"


Entah kenapa aku tak mendengar suara keras lonceng kecil itu dari tadi. Padahal jarakku dengannya sangat dekat dan aku tak merasakan kehadirannya sama sekali dari tadi juga, apa aku terlalu fokus dengan langitnya? Sehingga perhatianku teralihkan sementara.


"Tampaknya kamu sangat terpesona dengan pemandangan laut ini," ucap orang itu sembari menatap langit laut itu.


Aku kembali menatap langit indah itu, warnanya sangat indah yang perpaduan biru muda dan putih. Ditambah ada cahaya seperti matahari yang membuatnya semakin terlihat indah.


"Iya, ini sangat indah," kataku.


Aku langsung menatap penjaga itu dan aku merasa ia tersenyum kepadaku di balik wajahnya yang ditutupi topeng batunya itu.


"Aku pikir tamu yang akan datang ke sini orangnya sangat arogan, ternyata dugaanku salah. Ternyata kamu orangnya sangat tenang, tapi sangat panas di dalamnya. Sudah seperti gunung merapi yang berada di bawa laut, yang selalu meletus tapi ketenangan atas lautnya masih sama."


Aku mengerti apa yang dia katakan itu dan aku tak menyangkal apa yang dikatakannya itu, bahwa itu semua benar. Karena kekuatan sistem ini membuatku entah kenapa semakin tenang, tapi hatiku selalu merasa gelisah setiap saatnya dan mungkin itu ada kaitannya dengan masalah sekarang.


"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri namaku Cetus. Aku yang menjaga tempat ini."


"Namaku Arkha Peteng."


Cetus memperhatikan diriku dengan seksama dan aku tidak penasaran lagi dengan apa yang dia lihat dalam diriku.


"Jadi kamu sama seperti kita ya. Tapi belum sepenuhnya sempurna..."


Mendengar itu membuatku rasa penasaranku terbuka dan apa maksudnya aku belum sepenuhnya sempurna? Walaupun aku bertanya seperti itu kepadanya, ada kemungkinan sistem ini ikut campur lagi menahan informasi yang aku terima.


"Tapi ya... setidaknya kamu sudah berjuang keras seperti kami."


Setelag mengatakan itu, Cetus langsung berjalan ke arah kanan dan aku mengikutinya dari belakang. Tampak jalanan ini sangat biasa dan ada banyak batu serta tumbuhan koral di mana-mana.


Blup... Blup...


"Hm?"


Aku sedikit terkejut karena tiba-tiba ada beberapa ekor ikan melayang tepat di depanku.


"Jadi kita benar-benar berada di dalam laut ya."


"Itu benar. Tempat ini disebut 'Sea ​​of ​​Eternity', segala hal sesuatu yang ada di sini adalah kemuklatan dan akan selalu seperti ini selamanya."

__ADS_1


Jadi tempat ini hampir sama persis dengan dunia Purgatory dan Hades yang masuki sebelumnya. Hanya saja Hades dan Purgatory, dunia yang didasarkan tempat untuk "Hukum" dan akan dikembalikan seperti semula jika sudah terlaksana hukum tersebut.


Sedangkan tempat ini aku merasa sangat jauh berbeda dengan dua dunia tersebut. Kata Cetus bahwa segala hal di sini muklat dan akan selamanya ada, jadi tempat ini tidak ada hukum yang bisa mengatur sepenuhnya dan akan selalu berada di tempat yang sama, seolah-olah waktu ditempat ini terhenti.


"Jadi segala hal sesuatu di tempat ini akan tetap berada di waktu yang sama, walau sudah dihancurkan."


"Ya bisa dibilang begitu. Kamu sudah mengerti garis besar tempat ini, bahwa waktu ditempat ini akan berjalan pada poros yang sama, tak berubah dan tidak akan berhenti juga."


Jadi pada akhirnya tempat ini seperti lingkaran yang hanya berputar di tempat yang sama. Saat aku perhatikan langitnya, memang benar bahwa arah perubahan gerakannya tetap sama tidak maju ataupun mundur. Begitu pun ikan-ikan serta makhluk laut lainnya, mereka hanya berputar di sekitar sini dan berada di tempat yang sama terus-menerus.


Setelah berjalan cukup jauh, kami akhirnya sampai di suatu tempat dan aku melihat ada sepuluh tangga dengan banyak anak tangga yang tak bisa dihitung.


"Baiklah, hanya sampai sini saja aku bisa mengantarmu."


"Apa kamu tidak menanyakan alasan aku bisa masuk ke sini?"


"Aku tak perlu mengetahuinya, sebab sudah ada perintah yang aku terima dari ■■■■■■ bahwa siapa pun yang datang ke sini, berhak menerima seluruh peninggalannya."


Mendengar nama orang itu disensor lagi malah membuatku semakin penasaran akan sosok orang yang menciptakan dunia-dunia yang aku masuki ini.


"Begitu ya, itu memang benar. Aku datang ke sini karena menginginkan sesuatu."


Aku berjalan ke arah tengah-tengah di antara para tangga itu dan melihatnya satu persatu. Tampak tangga-tangga ini akan membawaku ke suatu tempat, dan tidak seperti dunia sebelumnya aku menaklukkannya mulai dari bawah dulu atau secara berurutan. Tapi dunia ini sangat berbeda, aku bebas memilih lantai mana yang aku bisa masuki untuk menyelesaikannya.


"Oh iya, Nak. Satu hal yang perlu kamu ketahui..."


Aku berbalik ke arah Cetus dan memperhatikan pesan yang akan diberikan kepadaku.


"Jangan terlalu memaksakan diri dalam hal segala sesuatu yang tidak bisa kamu gapai, jika kamu tetap memaksakan diri maka... itu hanya meninggalkan bekas luka di hatimu yang sulit disembuhkan."


Mendengar itu membuatku terbelalak dan tersenyum di balik masker hitamku ini. Yang dikatakannya memang benar, bahwa selama ini aku selalu kesal akan diriku yang merasa kurang mampu.


"Terima kasih atas nasihatnya. Tapi tetap saja aku harus memaksakan diri agar bisa mencapai tujuanku."


Setelah mengatakan itu, aku langsung menginjakkan kakiku di salah satu tangga tersebut.


Brek...


Tiba-tiba tangga yang aku injak barusan terputus dari tempatnya Cetus berdiri sekarang.


"Jadi Begitu, tangganya akan tersambung kembali jika aku berhasil menyelesaikan lantai ini."


Aku kembali melangkahkan kakiku ke depan dan menginjak satu persatu anak tangga hingga ke puncak tangga ini.


Cetus yang melihatku dari bawah tangga tampak hanya diam saja dengan ekspresi yang tidak diketahui di balik topeng batunya itu.


"Anak muda yang malang..."


Cetus berjalan ke arah tangga yang terputus itu dan mencoba melihat Arkha lebih dekat walau pemuda itu tidak terlihat punggungnya lagi.


"Tapi setidaknya... kamu telah berhasil menunjukkan tekad yang sudah dilalui setiap pendahulumu. Kami sangat berharap padamu wahai 'Sang Cahaya Harapan Besar', kamulah satu-satunya harapan terakhir kami."


...•••...


Sesaat di lantai Gunung Olympus...


Setelah menaiki anak tangga cukup lama, aku dibuat kagum lagi akan pemandangan ini.


"Jadi tangga ini mengarahkanku di tempat ini ya."


Aku melihat padang hijau nan luas dan melihat ke arah bawah di mana tangga itu berasal. Tampak awan-awan putih yang tebal telah mengelilingi tempat ini. Lalu aku melihat sebuah bangunan besar telah runtuh dan hanya terlihat puing-puing dan pilar-pilar kokoh yang masih berdiri.


[Selamat datang di reruntuhan Kerajaan Olympus.]


Melihat pesan sistem ini sungguh membuatku heran sekaligus bingung, bahwa aku berada di tempat di mana nama-nama ini tidak asing di luar sana.


"Reruntuhan Olympus, berdasarkan mitosnya bahwa kerajaan ini berdiri di atas gunung raksasa. Berarti tempatku berdiri sekarang..."


Aku melihat sekelilingku lagi dan hanya langit luas membentang di mana-mana.


"Jadi ini benar, aku berada di atas Gunung Olympus. Kupikir hal ini hanya mitos, tapi bukan hal aneh lagi jika sistem ini pelakunya."


Aku langsung berjalan ke arah reruntuhan itu dan aku melihat hanya ada puing-puing kerajaan ini berserakan di mana-mana.


"Aku tak merasakan kehadiran kehidupan di sini. Apa memang benar ini ujian dari sistem?"


Aku terus berjalan ke arah depan dan menoleh ke segala arah.


Krak...


"Hm? Apa ini?"


Bing!


"!!!"


Tiba-tiba benda yang kuinjak itu bercahaya dan membuatku buta sementara.


Bom!!!


"Egh!"


Shut! Brak!!


Tiba-tiba aku terpental cukup jauh karena benda meledak secara mendadak.


"Uhuk... uhuk...! Tak kusangka ternyata itu jebakan dan lagi..."


[HP : 19690/22200 (+25%)]


Aku melihat status HP-ku yang berkurang drastis karena ledakan itu.


"Tak heran kenapa rasanya sesakit ini."


Aku mencoba untuk bangkit lagi.


Akan tetapi...


Krak... Bing!


"!!!"


Set!


Bom!!!


Aku langsung menghindar dengan cepat sebelum ledakan itu mengenaiku lagi.


"Jadi ada banyak perangkap di si--"


Krak...


Tak sengaja kakiku menginjak sesuatu lagi.


"Sial!"


Shut! Piuh! Piuh!


Tiba-tiba sesuatu yang melesat dengan cepat diiringi cahaya kilat mengarah kepadaku.


Dor! Dor! Dor!


Aku langsung mengeluarkan pistol milikku dan menembak ke arah serangan cahaya itu.


Shut! Crak!


[HP : 18979/22200 (+25%)]


"Kalau begini terus, aku hanya bisa mati karena perangkap-perangkap ini... keluarlah!"


Tiba-tiba sebuah pesan mendadak dari sistem telah muncul.


[Peringatan!


Kamu tak bisa mengeluarkan The Arcana selama proses ujian berlangsung.]


"Apa!"


Aku sungguh terkejut melihat ini dan mengeluarkan inventori-ku untuk memulihkan diri dengan HP potion.


[(- Buku ilmuwan sejati X1) X


(- Excalibur X1) X


(- Cincin Maharaja X1) X


(- Colt Revolver M-1836 X1) X


(- Rune Stone (Biru tua) - 145 X1) X

__ADS_1


(- Rune Stone (Ungu) - 10 X1) X


(- Rune Stone (Kuning) - 77 X1) X


(- Potion HP 20% X7) X


- Potion MP 20% X10.]


"Kenapa HP potion di silang dalam inventori? Dan hanya MP potion saja tidak."


Sekali lagi muncul peringatan sistem sesaat memunculkan inventori dari tadi.


[Peringatan!


Kamu tak bisa menggunakan item pemulihan dan skill pemulihan selama ujian berlangsung.]


Melihat sistem peringatan sungguh membuatku frustasi, sebab aku butuh pemulihan agar aku bisa bergerak leluasa tanpa rasa sakit.


"Tak kusangka ujian kali ini akan jauh lebih merepotkan."


Aku terdiam di tempat cukup lama karena bergerak sembarangan akan hanya memicu jebakan tanpa sengaja.


"Apa aku bisa menggunakan Aura-ku?"


Karena teringat dengan kejadian waktu Goblin itu yang mana Aura dan Mana gak sinkron sama sekali.


"Karena waktu itu sistem mendeteksi Aura Aran sebagai suatu hal asing. Sekarang bagaimana dengan Aura-ku."


Aku langsung mempraktekkannya dan memejamkan mata, sesaat aku merasa Aura-ku telah menyebar ke seluruh tubuh dan aku merasa rasa sakitnya mereda sesaat.


"Jadi bisa ya, walaupun pemulihan rasa sakitnya sangat kecil karena aku belum mahir menguasai Aura sepenuhnya, tapi setidaknya ini sangat membantu."


Aku menoleh ke berbagai arah dan hanya batu-batu polos nan hancur ada di sini.


"Aku tak bisa merasakan jejak Mana di sini dan apalagi perangkap itu terkonsentrasi dari Mana juga."


Sesaat mencoba mencari sesuatu, aku langsung teringat dengan seni bela diri milik Aran yang berfokus pada sensor dan kelincahan.


"Seni bela diri Fēng, gerakan kelima...," gumamku.


...SUARA OMBAK...


Wush...


Tiba-tiba seluruh indraku semakin peka dan aku bisa merasakan setiap gerakan kecil dari kerikil yang berjatuhan di bangunan.


Setelah beberapa saat, aku masih belum bisa menemukan jejak-jejak perangkap di sini.


"Bahkan dengan ini pun belum bisa. Kalau begitu... tidak ada cara lain selain menggunakan 'Pengikat jiwa'."


Saat menggunakan skill teleportasi ini, muncul lagi peringatan dari sistem.


[Peringatan!


Kamu tidak bisa menggunakan segala kemampuan yang bisa memindahkanmu dengan instan.]


"Ternyata hal ini pun tidak bisa juga. Satu-satunya cara sekarang yaitu menerobosnya."


Aku menarik dalam-dalam napasku dan menghembuskannya, dan bersiap untuk menghadapinya.


"Pengondisian."


[Buff telah diberikan, sekarang STR, AGI, dan VIT meningkat 20% dalam kurung waktu enam menit.]


Belum sampai di situ, aku menggunakan seni bela diri lagi untuk menambah kecepatanku.


"Seni bela diri Fēng, gerakan ketiga...," gumamku.


...DAUN BERJATUHAN...


Seketika otot-otot kakiku semakin mengencang dan aku merasa kakiku semakin ringan. Seni bela diri Fēng sangat berbeda dengan seni bela diri Sîwáng yang gerakan kedua, seni bela diri Fēng berfokus pada kelincahan, kecepatan dan kepekaannya sedangkan seni bela diri Sîwáng berfokus pada keseimbangan dari seluruh segala aspek di tubuh seperti kekuatan, kecepatan, pertahanan dan kepekaan. Dalam hal kecepatan Fēng lebih unggul, makanya aku harus menggunakan seni bela diri.


"Sayang sekali aku tak bisa menggunakan seni bela diri lebih dari satu, karena Chi atau Aura-ku masih sangat sulit dikendalikan dan belum stabil sepenuhnya."


Setelah persiapan selesai aku memandang ke arah depan dan mulai fokus.


Set! Shut!


Dengan kecepatan bagaikan angin, aku langsung melesat dengan cepat ke depan.


Krak! Krak! Krak!


Bing! Bing! Shut!


Bom!! Bom!! Piuh!!


Berbagai perangkat telah aktif saat aku menginjak dan menyentuh di mana pun di tempat ini.


"Sial, tadi itu hampir saja."


Aku terus maju dan kewalahan menghindari setiap jebakan ini yang semakin banyak saat maju ke depan.


Bom!! Piuh!!


Berlari sambil menghindar sungguh memakan banyak stamina dan membuatku hampir kelelahan.


Setelah beberapa rintangan dilewati, akhirnya aku sampai diujung dari tempat ini, aku melihat ada sebuah altar kecil berdiri dengan sebuah benda kecil di atas.


Set! Set! Set!


"Akhirnya sampai juga, hah... hah..."


Aku mengatur napasku terlebih dahulu, walau aku memasuki mode ini tapi tetap saja sungguh membuatku sangat lelah melewati setiap jebakan itu.


Setelah istirahat cukup, aku maju ke arah altar kecil itu.


"Apa ini? Apa itu kepingan harta warisan leluhur?"


Aku mencoba mengambil benda itu.


Tapi tiba-tiba...


Bing!!!


"!!!"


"Harrrhg!!!"


Bom!!!


Tiba-tiba sekeliling benda kecil itu memancarkan cahaya dan meledak cukup kuat.


"Terima kasih, Kawan."


"Grrrh..."


Aku berhasil selamat berkat Norum yang langsung keluar dan menarikku dari belakang, dengan menggigit jubahku.


"Jika terkena ledakan itu, HP-ku pasti akan langsung habis."


Setelah gumpalan asap itu menghilang, aku melihat benda kecil itu masih utuh dan berhati-hati mendekatinya jika masih ada jebakan lagi.


"Kuharap kali ini tidak ada kejutan lagi."


Aku mencoba meraih tanganku lagi ke benda kecil itu dan berhasil mendapatkannya.


"Akhirn--"


Bing!


"Apa!"


"Grrrgh!!"


Tiba-tiba benda kecil bercahaya dan aku sulit melepaskan benda itu dari tanganku.


Bing!!


Sesaat cahaya semakin besar dan membuat pandanganku terhalang.


...•••...


...•••...


"Huh? Di mana ini?"


Tiba-tiba aku berada di tempat asing dan tampak tempat ini sangat kumuh, dan orang-orang di sini sangat kurus dan kayak kekurangan nutrisi.


"Apa aku kembali ke masa lalu lagi?"

__ADS_1


__ADS_2