Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 88


__ADS_3

Aku berjalan dan melewati semua orang-orang menderita ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"


Aku terus berjalan tanpa tujuan sembari melihat-lihat keadaan, sesaat berjalan tiba-tiba muncul rantai putih yang panjang dari dadaku, yang berarti bahwa ada pendahuluku di sekitar sini.


"Akhirnya muncul juga, berarti pendahuluku ada di sekitar sini."


Aku mengikuti arah panjang rantai putih ini dan sampai di ujung rantai itu, aku melihat anak laki-laki yang tampak hampir mati, terlihat tubuhnya sangat kurus dan melihat keadaannya ia sulit menggerakkan tubuhnya.


"Apa dia... pendahuluku? Tapi..."


Aku sangat terkejut melihat keadaan menyakitkan ini, melihat anak kecil yang tak berdaya dan tak seorang pun berada di sisinya.


"Dilihat keadaannya, tampaknya tempat ini dalam keadaan perang."


Aku bisa berpikir seperti ini, karena saat di perjalanan tadi aku melihat orang-orang berpakaian armor seadanya serta tombak, perisai dan pedang dibawah olehnya.


"Jika keadaan perang berlangsung maka suplai makanan yang tersedia mungkin sangat sedikit. Sehingga para rakyatnya harus menderita karena perang ini juga."


Setelah mengetahui keadaannya, terlihat anak laki-laki kecil ini berusaha untuk bangkit yang berarti ia tak ingin mati seperti ini.


"Huk... huk...!"


Dia terbatuk-batuk dan tampak darah keluar dari mulutnya. Ia berusaha bangkit sembari memegang tembok rumah yang ada di sampingnya.


"Egh! Aku... harus... hidup..."


Ia berkata seperti sembari berjalan tertatih-tatih, aku sangat prihatin melihat keadaannya. Tapi karena aku hanya arwah bebas yang tak bisa ikut campur dalam kenyataan, maka aku hanya bisa mengamatinya saja.


Dia berjalan terus sembari memegang tembok di sampingny, sesaat berjalan langkahnya terhenti karena ada tiga orang dengan berpakaian seperti orang arab abad zaman dulu, dengan penutup wajah yang hanya menampakkan matanya saja yang terbuka dan sebuah kain yang menutupi kepalanya.


Anak kecil itu hanya menatap orang-orang itu dengan tatapan kosong saja, dan salah satu orang itu menatap anak kecil dengan seksama juga.


"Ada apa Ketua?" Tanya salah orang yang ada di samping orang yang menatap anak kecil itu dengan seksama.


"Anak ini... dia sangat hebat," kata orang itu sembari memperhatikan anak kecil sekarat yang  ada di depannya.


Kedua bawahannya saling memandang satu sama lain dan menunjukkan sikap keheranan mereka terhadap ketuanya yang tertarik pada orang yang mau mati ini.


Sang ketua maju dan menghadapi anak kecil yang terengah-engah saat berjalan sembari memegang tembok di sampingnya ini. Sang ketua menunduk dan mata mereka saling menatap satu sama lain tanpa sedikit pun keraguan di antara mereka.


"Siapa namamu, Nak?"


Anak kecil itu terdiam sementara, saat orang dewasa di depannya mengajaknya berbicara.


"Nama? Aku... tidak punya nama."


Mendengar itu membuat sang ketua terbelalak sementara dan tersenyum di balik penutup mulut kainnya itu.


"Begitu ya, aku mengerti," kata sang ketua sembari bangkit dari tunduknya. "Apa kamu mau ikut dengan kami, Nak?"


Mendengar ajakan itu membuat anak kecil ini sedikit kaget dan bertanya :


"Apa... aku... bisa dapat makanan?"


Mendengar pertanyaan polos itu hanya membuat sang ketua tersenyum dan menjawab pertanyaannya.


"Kamu akan dapat banyak makanan saat ikut kami."


Mendengar itu membuat anak kecil bersemangat dengan tenaga kecilnya, sesaat ia mencoba melangkahkannya kakinya ke arah sang penolongnya, tiba-tiba dirinya jatuh kehilangan kesadaran.


Hap!


Sesaat sebelum tubuh mungil dan kurusnya menyentuh tanah, sang ketua menangkap dirinya dan mengangkat tubuhnya yang seringan tumpukan kapas dan membawanya bersamanya.


"Ketua, kenapa Anda mau repot-repot mau mengurus anak sekarat ini?"


"Bukankah anak ini hanya akan menghambat misi kita di sini, jika dibawa bersama kita."


Mendengar keluhan kedua bawahannya, membuat keputusan sang ketua tidak goyah sedikit pun untuk membawa anak ini bersamanya, ia tahu kekhawatiran para bawahannya itu bahwa hal ini bisa saja mengganggu jalannya misi mereka nanti.


"Kalian tak perlu khawatir, walaupun misi kita gagal di sini tapi setidaknya kita berhasil membawa anugerah terbesarnya di tempat ini bersama kita," ucap sang ketua sembari menatap anak kecil yang dibawanya.


Mendengar jawaban itu hanya membuat kedua bawahannya hanya menaikkan kedua alis mereka dan tidak tahu jalan pikiran dari ketuanya ini.


Setelah melihat peristiwa menyedihkan menimpa pendahuluku ini, aku sedikit senang melihat orang-orang ini mau menolongnya.


"Jika keadaan sekarat seperti itu siapa pun bisa dianggap malaikat karena sudah menolongnya, bahkan penjahat kejam sekalipun bisa dianggap malaikat jika ia berhasil menolong orang sekarat itu."


Melihat keadaan tempat ini yang sangat menyedihkan membuatku harus bersyukur karena tak terlahir di zaman ini.


Bing!


Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan, yang berarti bahwa aku akan dikirim ke tempat lain dari sini.


...•••...


...•••...


...•••...


Bing!


"Hah? Aku kembali ke sini."


Aku cukup terkejut, sebab aku kembali ke tempat di mana sepuluh tangga ada. Aku berbalik dan melihat tangga yang kunaiki sebelumnya telah hancur dan tidak bisa dinaiki lagi.


"Berarti setiap ujian lantainya selesai maka tangga lantai tersebut telah hancur ya. Setelah dipikir-pikir sudah berapa lama aku ada di sini, waktu di dunia yang sistem buat sangat tidak jelas, sebab waktu aku ada di Hades butuh beberapa jam agar bisa keluar, sedangkan di Purgatory aku butuh satu minggu untuk bisa keluar. Kalau di sini berapa lama aku ada di sini? Padahal aku sudah janji akan kembali tepat pada malam hari."


Mengingat itu membuat berpikir bahwa menyelesaikan ujian sistem ini akan mempercepat waktu untuk bisa keluar, tapi kurasa hal itu akan berbeda lagi jika kembali ke masa lalu dan butuh berapa lama aku di dalam masa lalu itu.


Aku langsung melangkahkan kakiku ke salah satu tangga itu, tepat di depan tangga itu langkahku terhenti dan berbalik sementara.


"Kalau aku kembali ke sini, aku tidak melihat Cetus sama sekali. Apa dia kembali ke tempatnya?"


Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri dan para penjaga seperti Cetus sangatlah misterius, sebab dialah orang ketiga yang aku temui tanpa merasakan sedikit pun energi kehidupannya.


Karena waktuku tidak banyak, aku langsung melangkahkan kakiku ke tangga itu dan menaikinya sampai ke puncak. Di saat bersamaan juga tampak seseorang dari kejauhan mengawasi anak muda ini.


"Tak kusangka, anak ini hanya butuh waktu singkat untuk bisa berdaptasi separuh kekuatannya. Tapi jalannya masih panjang dan waktunya sangat sedikit."


...•••...


Sesaat di lantai Kota Atlantis...


Berhasil sampai ke ujung tangga ini, sekali lagi aku dibuat kagum akan apa yang kulihat ini. Terlihat pemandangan sebuah tempat yang menurutku sangat hebat.


"Wow, baru kali ini aku lihat tempat seperti ini secara langsung."


Terlihat juga tempat ini seperti kota-kota pada umumnya yang ada di luar sana, hanya saja terlihat dari teknologi mereka gunakan jauh lebih maju.


[Selamat datang di reruntuhan Kota Atlantis.]

__ADS_1


"Atlantis?" Melihat sekali lagi tempat ini untuk memastikan bahwa kota kuno yang ada di buku-buku sejarah ini sedikit berbeda dari bayangan yang sering diceritakan pada umumnya. "Tak heran kenapa ada teknologi yang sangat maju di sini, jadi Kota Atlantis yang sering diceritakan itu."


Sembari memandangi tempat ini, aku berjalan tanpa arah dan waspada bahwa akan ada jebakan seperti lantai sebelumnya.


"Kali ini tidak ada apa-apa. Padahal seharusnya di sini banyak jebakan, mengingat kota ini sangat canggih."


Aku terus berhati-hati melangkahkan kakiku dan berjalan ke depan. Tapi sungguh sangat aneh, karena tak ada sedikit pun bahaya datang kemari.


Jrak...


"Hm? Apa itu?"


Tiba-tiba aku mendengar sesuatu dan kayaknya bahaya sudah mengintai diriku sedari tadi.


"Grrrgh...!"


Norum merasakan sesuatu hal aneh ini juga dan aku mengeluarkannya dari tubuhku. Dan cuma Norum yang bisa kupanggil sebagai bantuanku di sini, sebab aturan larangan di lantai sebelumnya masih berlaku di lantai ini juga.


"Kamu juga merasakannya kan, Kawan."


"Guk! Grrrgh...!"


Jrak! Jrak!


Suara itu semakin terdengar jelas dan aku merasa ia mendekati kami, tapi kehadirannya sangat tidak terasa sama sekali.


"Tidak ada cara lain kalau begini... Kawan!"


"Grrrgh...! Auww...!"


[Partner telah menggunakan skill "Langkah kematian".]


Sesaat medan kematian yang dilebarkan Norum menyebar dengan cepat sejauh tujuh meter. Dengan ini kami berdua bisa merasakan dengan cepat suatu kehadiran yang memasuki medan ini.


Jrak! Jrak! Piuh!


Tiba-tiba sebuah serangan tak terlihat datang kepadaku dan sosok yang membunyikan suara-suara itu muncul.


"Akhirnya muncul juga dan tak kusangka akan sebanyak ini."


"Grrrgh..."


Aku sedikit terkejut melihat sosok makhluk-makhluk ini yang tampak seperti manusia dengan dua kaki dan tangan, tapi separuh bagian tubuhnya menyerupai ikan dengan sisik dan sirip yang muncul di tubuhnya.


[People Atlantis


Level : 48.]


"Jadi mereka semua ini penghuni di sini ya."


Tapi sesuatu hal aneh juga, aku merasa tatapan mereka hidup tapi di sisi lain aku merasa mereka seperti boneka kendali jarak jauh.


"Hehe, sistem ini sangat hebat."


Aku memperhatikan sekitarku dan terlihat dari level mereka rata-rata 40 lebih dan hanya sedikit di antaranya mencapai 60.


Shut! Piuh!


Satu serangan panah darinya dan yang berarti pertarugan telah dimulai.


Errgh...!


[Target terkena efek "Kematian." Seluruh HP dan MP target akan berkurang 1% perdetik, selama target tidak keluar dari wilayah "Kematian".]


[Efek "Kematian" telah diberikan kepadamu dan Partner sebagai peningkatan seluruh stats.]


"Kalian ingin bermain tembak-tembakan, maka aku juga akan ikut bermain."


Sulit mendekati mereka walau sudah terkena efek kematian, tapi gerakan mereka sangat lincah.


Dor! Dor! Dor!


Aku berhasil mengenai beberapa dari mereka dan ada mati sekali terkena tembakan ini.


"Berapa kali pun aku menembak, Mana-ku tidak berkurang sedikit pun. Apa pistol ini dikhususkan sistem saja?"


Aku mencoba mengaktifkan bola merah tua yang menempel di bawah gagang pistol.


Bing!


Sesaat menyala tiba-tiba energi Mana yang melimpah dari pistol terkumpul pada satu titik dan siap dilepaskan.


Dor! Bom!!


Aku sangat terkejut melihatnya, sebab ledakan dari tembakan pistol ini sangat besar walau hanya sedikit suntikan Mana yang kuberikan.


"Berbeda dengan sabit ini, aku hanya butuh sedikit memberikan Mana-ku ke pistol ini untuk memberikan kerusakan besar."


Tapi perbedaan sabit dan pistol ada kelebihannya masing-masing, bahwa sabit bisa memberikan kerusakan besar walau konsumsi Mana-nya sangat besar untuk mengaktifkan bola merahnya, sedangkan pistol ini memberikan damage kecil jika jarak jauh dan damage-nya akan membesar jika target semakin dekat.


"Karena waktu tidak banyak maka kita harus membereskan hal ini dengan cepat, Kawan."


"Grrgh..."


Set! Set!


Aku dan Norum langsung maju menghadapi mereka semua, walau di antara mereka ada yang memilih menjauh sembari memberika serangan jarak jauh.


Shut! Piuh! Piuh!


Set!


Kami berhasil menghindarinya, sabitku dan cakar tajam Norum telah berhasil membunuh beberapa dari mereka.


Swoosh...! Crak!


Slash! Slash! Crak!


Walau berhasil mengalahkan beberapa dari mereka, sungguh membuat kami sedikit kewalahan. Selain menang jumlah, mereka juga sangat lincah dan sulit memprediksi arah serangan dari berbagai arah mengingat mereka sangat kompak.


Shut! Piuh!


Tiba-tiba sebuah panah datang melesat ke arahku.


"Dasar bajingan!"


Bing!


Dor! Bom!!


Berhasil mengatasi Damage Dealer jarak jauh mereka, aku kembali menghadapi mereka yang bertarung jarak dekat ini yang menggunakan tombak sebagai senjata mereka.


"Pengondisian."

__ADS_1


[Buff telah diberikan, sekarang STR, AGI, dan VIT meningkat 20% dalam kurung waktu enam menit.]


"Harrgh...!!"


Jlab! Jlab! Crak!


Norum yang terdesak dan diserbu secara bersamaan membuatnya harus menggunakan skill miliknya yaitu "Duri kematian" untuk melindungi dirinya sekaligus memberikan serangan kepada lawannya.


Tring! Tring!


Shut! Piuh! Piuh!


Aku harus terus menyerang sembari menghindari serangan jarak jauh mereka, dan ini sungguh membuat stamina-ku mulai berkurang.


"Sial!!"


Egh...!


[Target telah terkena efek ketakutan selama 60 detik dan pertahannya telah menurun 50%.]


Beberapa musuh ini berhasil terkena skill milikku yaitu "Kehadiran kematian" yang membuat mereka sulit bergerak beberap saat.


Swoosh...! Crak!


Aaaa!!!


Bing!


Dor! Bom!!


"Hah... hah... dari mana mereka muncul? Jumlahnya tak berkurang sedikit pun."


Shut! Piuh! Piuh!


Mereka tidak memberiku sedikit waktu istirahat.


"Apa itu?"


Sesaat menghindari serangan mereka, tiba-tiba perhatianku teralihkan ke arah sebuah cahaya yang sangat terang seperti matahari itu tepat di atas kepala kami.


Karena merasa aneh dengan cahaya itu yang tidak menyilaukan mata walau ditatap berapa lama sekalipun.


Dor!


Aaaa...!!!


Aku menembak ke arah atas dan seketika para penghuni ini merasa kesakitan ini.


"Jadi ini penyebab mereka muncul terus."


Set!


Aku langsung melompat dan mengumpulkan 70% Mana-ku ke sabit dan siap menebas cahaya itu.


Swoosh!!!


Jrang! Jrang!


Sesaat berhasil di tebas dengan sekuat mungkin, seketika cahaya itu menghilang dan warna langitnya kembali seperti lautan lagi.


Tap!


Aku melihat para penghuni telah menghilang sepenuhnya, kami berdua benar-benar kewalahan menghadapi makhluk abadi itu.


"Jadi ini ilusi, atau bukan? Soalnya sangat nyata dan bisa melukaiku juga atau lebih buruknya membunuhku."


Dun...!


Tiba-tiba sebuah muncul sesuatu dari tanah dan tampak sebuah altar kecil dan benda kecil itu di atasnya.


"Akhirnya selesai juga."


Aku langsung maju ke altar itu dan tanpa sedikit was-was, karena aku merasa tidak ada jebakan pada altar ini.


Bing!!


Sesaat menyentuh benda kecil itu, tiba-tiba bercahaya dan membuat pandanganku buta sementara.


...•••...


...•••...


...•••...


"Lagi?"


Tiba-tiba aku berada di tempat asing lagi dan kali ini aku berada di sebuah ruangan yang sangat mewah dan sedikit gelap.


"Siapa mereka?"


Aku melihat seorang pria gendut dan seorang wanita dengan, mereka berdua telanjang dan hanya beralaskan selimut kasur saja.


Tap... Tap... Tap...


"Hm?"


Langkahnya seringan seperti kucing dan selalu berjalan di kegelapan, matanya yang menusuk nan dingin bagai tombak es, serta sebilah kilat dingin yang menempel di salah satu tangannya. Dia mendekati dua orang itu dengan tenang tanpa disadari oleh merek.


Sesaat tangannya terangkat, belati dinginnya itu terkena cahaya rembulan melalui celah-celah kecil jendela dan bersinar dengan cepat saat terangkat.


Jleb! Crak!


"Aagh...! *Hup...!"


Tikaman dingin dari belati kecil itu telah berhasil menembus tenggorokam pria gendut itu tanpa bersuara sedikit pun, dan mulutnya langsung dibungkam dengan tangan hangat orang asing itu.


Pembunuhan sempurna tanpa disadari oleh orang yang tak terlibat olehnya. Orang asing itu berjalan ke dalam kegelapan lagi tanpa jejak dan suara sedikit pun.


Aku hanya tercengang melihat hal itu dan wanita yang ada di samping pria gendut itu terbangun, karena merasakan tubuhnya basah oleh sesuatu dan membuat tersadar dari lelapnya.


"Kyaaa!!!"


Teriakannya membuat para orang-orang ber-armor lengkap dengan senjata datang ke ruangan ini dan sangat terkejut melihat orang mereka layani telah tersimbah darah.


Aku berjalan keluar dan mengikut rantai putih ini, sesaat keluar dari rumah ini aku melihat orang itu telah berdiri dengan tenang di tepi sungai.


"Jadi ini pendahuluku ya."


Aku melihat pendahuluku membilas belatinya di sungai itu, setelah selesai ia berdiri dan menatap bulan dengan seksama. Setelah ditatap, ia membuka penutup mulut kainnya itu dan menampakkan wajahnya sepenuhnya.


"Hah?"


Tiba-tiba ia berbalik ke arahku, mata kami saling bertemu dan aku tak yakin apa dia bisa melihatku atau dia hanya menatap ke arah rumah itu? Satu hal membuatku terkejut, ia tersenyum dan tampak senyumannya itu bukan ditujukan kepada korbannya.

__ADS_1


Bing!


Sesaat cahaya itu tiba-tiba muncul dan membawaku lagi ke tempat lain.


__ADS_2