Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 104


__ADS_3

Sesaat di dalam dunia Sea of Souls...


Tiba-tiba muncul lingkaran cahaya dari bawah dan memunculkan seorang pemuda. Ia kebingungan melihat sekitarnya dan hanya ada lautan tanpa ujung.


"Jadi seperti ini dalamnya, mengingatkanku saat berada di Hades ketika menaiki perahu."


Aku berdiri di sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan anehnya lagi, sistem tak merespon sama sekali panggilanku. Aku memunculkan semuanya mengenai sistem senjata, shop dan semua yang diberikan sistem olehku.


"Biasanya sistem akan muncul untuk memberiku peringatan, kenapa kali ini dia hanya diam saja."


Semuanya dinonaktifkan dan aku pun tak bisa memasuki mode Heredis, sekarang aku hanya orang biasa tanpa pegangan apa pun untuk melindungi diriku.


Karena gak ada penjelasan dari sistem sama sekali, aku hanya berjalan ke arah depan tanpa tahu harus ke mana aku pergi.


Setelah beberapa langkah, aku berada di ujung pulau dan memandangi lautan luas ini.


"Sesuai nama dunianya, hanya ada lautan saja. Tapi... aku harus ngapain di sini, kalau gak petunjuk sama sekali."


Srut...! Srut...!


Tiba-tiba air laut ini surut ke bawa dan aku melihat ada sebuah jembatan. Tampak jembatan itu hanya disusun dengan bongkahan batu-batuan besar saja. Ini mengingatkanku pada kisah Ramayana yang menyusun jembatan dengan batu seperti ini sampai seberang.


Tanpa pikir panjang, aku langsung berjalan mengikuti ujung jembatan ini sebelum air naik lagi.


Tap... Tap... Tap...


Beberapa langkah yang panjang, akhirnya aku sampai di ujung jembatan ini dan terlihat hanya ada pulau kecil lagi yang tak berpenghuni.


"Hm?" Aku mengarahkan pandanganku ke berbagai arah dan merasa tidak asing dengan tempatnya. "Bukanya pulau sama dengan pulau sebelumnya, apa aku hanya kembali ke sini lagi?"


Karena tidak tujuan dari sistem ini memberikan ujian seperti ini padaku. Aku berjalan menyusuri pulau ini sampai menemukan sebuah petunjuk.


"Om Swastiastu..."


"?"


Terdengar suara asing di pulau ini dan aku mencari arah sumber suara itu.


"Om Awignamamastu Namo Sidam..."


Suara itu terus bergema di pulau ini, terdengar seseorang seperti telah berdoa pada sesuatu.


"Om Varkatunda Mahakaya Suryakotisamaprabha..."


Suaranya semakin jelas saat aku mendekatinya, saat sampai ke arah sumber suara itu. Aku cukup terkejut melihatnya. Tampak sosok pria tua dengan tubuh kurus dan rambut putihnya dan dia hanya berdiam diri di tempatnya sembari meditasi.


"Nirwignam Kuru Me Dewa Subha Karyesu Sarvada."


Seketika dia menghentikan doanya dan membuka matanya. Kayaknya kehadiranku sedikit mengganggunya beribadah.


"Maaf, aku menganggu Anda sedang lagi beribadah."


"Tidak apa-apa," balasnya sembari berdiri dari duduknya sehabis meditasi. "Tampaknya kamu ke sini buat melaksanakan ujian kan?"


Aku hanya mengangguk saja dan pria tua itu mengajakku ke suatu tempat. Saat sampai di tempat tujuan, tampak ada sebuah pohon besar dan di bawah pohon itu ada sebuah altar kecil dan kami berdua menaikinya.


Pria tua ini menyuruhku untuk di atas altar ini dan begitu pun dia ikut juga duduk. Setelah beberapa saat dia langsung bermeditasi lagi, aku hanya diam memperhatikannya.


Banyak waktu telah terlewati, pria tua ini masih diam saja dengan meditasinya dan aku di seberangnya seolah-olah tak dipedulikan sama sekali olehnya.


Karena tak tahan, akhirnya aku mengajaknya duluan bicara :


"Maaf Tuan..."


"...Sadu. Kamu bisa memanggilku seperti itu karena aku sendiri pun sudah lupa dengan namaku sejak dulu."


"Baiklah, Sadu. Ujian seperti apa yang harus kulakan. Aku harus segera menyelesaikan ujiannya karena aku tak punya banyak waktu."


"Kamu anak muda yang terburu-buru, aku bisa merasakan jiwa sangat gelisah. Tenanglah, dan berada lah di sini sampai jiwamu mencapai kecerahan."


Mendengar itu entah kenapa membuatku kesal dan aku langsung berdiri menatapnya dari atas.


"Maaf kalau aku lancang. Aku tak punya banyak waktu buat meditasi segala, karena di luar sana banyak orang-orang menghadapi bencana! Dan mereka sangat membutuhkan diriku saat ini!"


Mendengar itu, akhirnya Sadu membuka matanya dan mengangkat kepalanya dan menatap diriku dari bawah.


"Seperti inilah kondisimu saat ini."


"Hah?"


Aku sangat bingung mendengar dia mengucapkan itu.


"Apa hanya kamu memiliki kekuatan besar maka kamu mengira semua orang-orang akan bergantung kepadamu?"


"Bukankah itu sudah jelas. Seseorang yang punya kekuatan besar wajib menanggung semuanya agar semua orang bisa tenang."


Seketika Sadu tersenyum, tapi senyumannya bukan karena pujian melainkan sebuah ejekan, seperti itulah yang kupikirkan.


"Kamu benar-benar pemuda keras kepala ya. Hanya karena kekuatan besar diberikan kepadamu, maka kamu berpikir bisa melakukan semuanya seorang diri. Lihatlah dirimu sekarang, kamu berdiri angkuh di hadapanku dengan mata tajam ke arah pak tua tak berdaya ini."

__ADS_1


Mendengar itu aku langsung sangat terkejut dan membuat posisiku setara lagi dengan Sadu. Kali ini kami saling berhadapan dengan mata saling menatap.


"Aku tahu kamu sangat khawatir dengan orang-orang di luar sana. Tapi... ini sudah menjadi takdir mereka hadapi demi memperjuangkan apa yang berharga baginya. Begitu pun dengan kami, kami siap membuang segalanya demi mempertahankan harapan kami."


Aku hanya diam saja mendengarnya dan tak tahu harus berkata apa karena pikiranku saat ini hanya dipenuhi kekhawatiran di luar sana.


"Sepertinya kamu benar-benar belum siap melaksanakan ujiannya."


Aku terkejut mendengar itu dan bertanya kepadanya :


"Apa maksudmu! Aku harus segera melaksanakan ujiannya agar aku bisa keluar dari sini."


"Tanpa melaksanakan ujian pun kamu bisa keluar. Tapi, kamu sudah tak layak lagi sebagai pewaris dari ■■■■■■ dan semua kekuatan diberikan kepadamu akan ditarik kembali jika tak melaksanakan ujian ini."


Aku hanya bisa mengepal kedua tanganku sekuat mungkin mendengar ancaman itu. Sebab, aku masih membutuhkan kekuatan ini buat menemukan orang tuaku. Aku tak boleh berhenti di sini.


Akhirnya aku bersujud kepadanya dan berkata :


"Kumohon, bimbing aku. Aku benar-benar membutuhkan kekuatan ini untuk melindungi orang-orang kusayangi, dan lagi... buat memberikan hukuman pada mereka mencelakai orang-orang kusayangi!"


Mendengar ketulusan itu membuat Sadu tersenyum lembut dan meletakkan tangan rapuhnya itu di atas kepalaku yang menyentuh.


"Akhirnya aku bisa merasakan sedikit ketenangan dari jiwamu. Bangunlah."


Aku menuruti kata-katanya dan kali ini aku tak berani menatapnya dan fokus menatap ke bawah.


"Kamu pasti mendengar banyak kisah dongen atau legenda mengenai memperjuangkan hal berharga baginya. Seperti Rama yang rela membangun jembatan yang panjang demi menyelamatkan Sita yang diculik, dan ada pun perang perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh lima Pandawa, mereka tahu jika kekuasaan jatuh di tangan salah maka hanya ada keburukan yang ada dan mereka rela melakukan pertumpahan darah ini demi memperjuangkan hal berharga baginya."


Diam dan hanya diam, aku seperti cucu yang mendengar dongeng kakek sebelum tidur. Tapi ini membuatku sedikit demi sedikit merasa tenang, entah kenapa dan seperti itulah kurasakan.


"Apa kamu tahu sumber dari semua kejahatan di dunia ini?"


"Tidak," jawabku sembari menggelengkan kepala.


"Itu karena Atma mereka telah ternodai."


"Atma?"


"Itu sebutan lain bagi jiwa setiap makhluk hidup. Dan kamu tahu kenapa Atma sangat berkaitan dengan manusia, kenapa tidak disangkut kan dengan yang lainnya seperti hewan dan tumbuhan."


"Bukannya sudah jelas kan, karena manusia memimpin dunia ini dan bertanggung jawab atas nasib dunia ini juga."


Sadu mengangguk dengan perlahan dan berkata :


"Jawaban yang menarik. Tapi menurutmu, apa ada manusia yang memiliki ekor dan telinga seperti hewan atau, manusia yang memiliki kulit seperti batang pohon. Apa itu masih dikatakan sebagai manusia?"


Arah topik ini mulai semakin berat dan aku tak tahu lagi harus berkata apalagi, dan aku hanya bisa menjawab sebisanya yang ada di pikiranku.


"Oh, sangat menarik. Jadi kamu memandang mereka bukan manusia."


"Iya."


"Tapi... bagaimana jadinya jika mereka memiliki Atma sama persis dengan manusia, dan hanya membedakan mereka hanya fisik mereka bukan manusia. Apa itu masih dalam kategori manusia?"


Mendengar itu aku hanya bisa menghela napas dan menjawabnya :


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi fisik hanya seperti sebuah boneka yang dikendalikan oleh jiwa, dan jiwa tidak bisa dikategorikan sebagai manusia. Lalu ada kalanya jiwa akan melepaskan benang pengikat mereka dan mencari yang baru."


Sadu tersenyum mendengar itu dan berkata :


"Itu benar. 'Manusia' memiliki arti lebih dari sekedar makhluk hidup. Bagiku, 'manusia' hanyalah sebuah gelar dengan tanggung jawab besar. Gelar itu diberikan bukan karena fisiknya. Tapi melainkan bagaimana kau memperlakukan makhluk hidup sekitarmu. Jadi kita tak punya hak sepenuhnya menilai diri kita sebagai 'manusia', melainkan yang pantas menilai 'manusia' kita adalah... makhluk hidup yang memandang kita seperti apa."


"Memanusiakan ya..."


Semua pernyataan Sadu sangat dalam dan membuat pikiranku terbuka sejenak. Apa selama ini orang-orang yang memandangku sebagai "manusia" atau bukan? Aku pun bingung dengan diriku sendiri, karena semua kejadian ini, aku pun sulit menilai diri sendiri seperti apa aku di mata orang lain.


Sadu bangkit dari meditasinya dan berkata :


"Berdirilah, akan kutunjukkan kenapa Atma manusia mudah ternodai."


Tlak!


Aku pun berdiri dan Sadu mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya.


Bing!


Tiba-tiba cahaya menyilaukan pandangan muncul dan membawaku ke tempat asing yang mana aku sangat terkejut melihatnya.


"Ini... apa ini benar masa lalu?"


"Iya."


Aku melihat banyak orang kelaparan, sakit-sakitan dan tempat tinggal yang kotor. Ini mengingatkan akan masa lalu dari Aran saat dia kecil dulu.


"Akhirnya muncul juga orang naif yang penuh kebaikan."


Mendengar Sadu berkata itu, kami berdua menatap ke arah seorang pemuda remaja yang membawa banyak makanan serta obat-obatan herbal, ditambah lagi kondisi dia pun tidak jauh beda dengan yang lainnya.


"Apa aku masih sempat?!"

__ADS_1


Tampak dia sangat panik dan segera memberikan semua barang bawaannya ke semua orang.


"Oh Arjuna, terima kasih. Berkatmu kami akhirnya bisa hidup lagi."


Pemuda itu hanya bisa tersenyum atas pujian itu dan memberikan semua makanan yang dibawanya. Hanya saja, membuatku heran kenapa dirinya jauh lebih buruk dari pada orang-orang mereka tolong.


"Hehe..."


Aku mendengar Sadu tertawa, tawanya atas melihat pemuda ini yang sangat peduli sekitarnya.


"Kamu ingat yang kukatakan bahwa 'manusia' hanyalah sebuah gelar saja."


"Iya. Lalu?"


"Dan di hadapanmu inilah contoh orang yang berusaha memberikan 'manusia'-nya ke sekitarnya, tapi bukan untuk dirinya sendiri."


Mendengar itu aku langsung mengerti maksud Sadu, bahwa anak muda bernama Arjuna sangat baik pada yang lain tapi lupa akan kondisinya yang sangat prihatin kan juga.


"Jadi... 'manusia' sesungguhnya, jika kamu berusaha memperjuangkan apa yang ada pada dirimu serta sekitarmu. Ini tidak ada bedanya kita harus berjuang bersama untuk mencapai 'manusia' sesungguhnya."


"Itu benar. Dan yang kamu saksikan sekarang ini adalah tindakan seseorang bodoh yang berusaha menjadi 'manusia' bagi sekitarnya hanya bertindak sendirian, dan pandangan sekitarnya terhadap dirinya hanyalah tidak lebih sebuah alat pancing untuk menarik kenyamanan."


Melihat orang-orang ini membuatku geram, mereka sudah berada dititik terbawah yang seharusnya mereka berusaha bersama mencari solusi buat keadaan mereka. Tapi di sisi lain ada orang bodoh yang bertindak tanpa pikir panjang dan melakukannya hanya karena disebut "kebaikan".


Namun "kebaikan" sesungguhnya ialah kamu mampu memandang semuanya secara luas dan menempuh sebuah keputusan bijak demi menghadapi permasalahan tersebut.


Tlak!


Bing!!


Sadu membawaku lagi ke suatu tempat, tampak sebuah rumah kayu yang terlihat sangat rapuh dan hampir roboh jika sekali tendangan kuat.


"Hok...! Hok! Hoeek...!!!"


Aku sangat terkejut melihat Arjuna terbaring sakit dengan tubuh kurusnya dan aku melihat sekitarnya tak ada seorang pun yang ada.


"Saat ini waktu telah berlalu banyak dan yang menimpa anak muda hanyalah rasa sakit. Dan tak ada satu pun orang sekitarnya yang peduli."


Sadu langsung berjalan ke arah pintu dan kami berdua keluar dari rumah itu dan aku sangat terkejut melihat ini. Tampak orang-orang yang dulunya keadaan mereka mengenaskan kini hidup mereka bisa dibilang makmur.


Lalu suara batuk dari Arjuna semakin keras dan terdengar sampai di luar rumah. Dan orang yang melewati rumahnya hanya bisa berdiam dan tidak sedikit dari mencemooh keadaan Arjuna.


"Kapan di mati sih!"


"Iya. Kalau dia keluar, nanti hanya membawa penyakit saja."


Mendengar itu membuatku marah, bisa-bisanya mereka bicara seperti itu pada orang yang telah membantu mereka.


"Inilah hasil dari orang yang berusaha menjadi 'manusia' di hadapan semua orang yang mana di pikiran mereka, bahwasanya mereka juga 'manusia' sama seperti orang yang berjuang itu. Tapi kenapa perbedaannya sangat jauh berbeda padahal mereka sama-sama memiliki gelar 'manusia', dan itulah menjadi dasar Atma makhluk hidup ternodai yaitu... perbedaan."


"Namun pada akhirnya, tidak ada satu pun 'manusia' di antara mereka kan."


"Iya. Seperti kamu katakan bahwa untuk menjadi 'manusia' kamu harus berjuang bersama dengan orang sekitarmu. Tapi kenyataannya itu hanyalah sebuah pikiran naif juga, dan pada akhirnya juga mereka berusaha saling menjatuhkan satu sama lain jika perbedaan sudah muncul."


Yang dikatakan Sadu ada benarnya. Namun pada akhirnya kita akan jatuh walau berjuang bersama sekalipun hanya karena muncul sebuah perbedaan kecil saja. Dan kamu akan dipandang "manusia" sekitarmu jika kamu memiliki apa yang sama dengan mereka juga.


"Jadi, predikat orang yang memegang gelar 'manusia' sesungguhnya seperti apa?"


Sadu memandangku dan menunjuk ke arah langit dan aku mengikut arah tunjuknya tidak menemukan apa pun.


"Langit?"


"Bukan. Tapi pandangan dan...," menunjuk ke arah bawah tanah. "Perasaan. Lalu...," sembari menunjuk sekitar seperti pohon, orang-orang lewat dan sebagainya. "Pendengaran. Itulah 'manusia' sesungguhnya."


Aku masih bingung maksud dari Sadu dan dia melanjutkannya lagi :


"Untuk menjadi 'manusia' sesungguhnya, kamu harus sangat memahami ketiga hal itu. Pandangan, melihat semua hal yang ada dunia dan tak ada batas sekalipun menghalangi untuk memandangi apa pun, karena cahaya pertama masuk ke diri 'manusia' yaitu pandangannya. Pendengaran, belum yakin dengan apa yang kamu lihat, maka suara lah yang akan jadi saksi berikutnya untuk menuntunmu ke arah mana kamu inginkan. Belum yakin dengan kedua hal itu maka satu-satunya yang tersisa hanyalah Perasaan, cuma inilah yang satu-satunya yang tersisa dari 'manusia' yang dipegang. Sebab, karena perasaan lah yang menciptakan seperti apa 'manusia' itu, walau pendengaran dan pandangan tidak mampu mengubah predikat 'manusia' itu seperti apa. Tapi perasaan mampu mengubahnya dengan mudah, karena seperti itulah dasar dari banyak bermacam-macamnya 'manusia' karena ada yang percaya apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar dan begitu pun apa dia rasakan. Karena kebanyakan orang hanya percaya salah satunya dan tak mampu memahami ketiganya, maka mereka bukanlah 'manusia' lagi."


"Pandangan, pendengaran, perasaan..."


Semua yang dikatakan Sadu sangatlah dalam dan itu semua masuk akal. Aku pernah baca salah satu buku filsuf mengenai kehidupan dan jiwa, bahwa katanya, jika seseorang mati sekalipun maka hanya tiga dibawa oleh jiwa kita yaitu Penglihatan, Pendengaran dan Perasaan. Ketiga hal inilah yang akan jadi saksi bahwa kita benar-benar hidup dunia ini.


Tlak!


Bing!


Sadu langsung membawaku lagi ke waktu lain dan kali ini aku dibuat terkejut apa yang di hadapanku ini.


"Siapa dia?"


"Siapa lagi kalau bukan si naif bodoh itu."


"Eh!"


Aku cukup terkejut mengetahuinya, sebab kharisma yang dipancarkannya sangat berbeda dengan apa dirinya yang dulu.


"Sekarang saat ini dia telah menjadi Heredis of Death."


Belum sampai situ kejutannya ternyata dia adalah salah satu pendahuluku. Aku tak menyangka jika orang sepertinya terpilih oleh "Dia" pewaris berikutnya.

__ADS_1


"Mulai dari sini sebaiknya kamu perhatikan baik-baik. Cara dia sekarang memperlakukan sekitarnya dengan cara 'manusia'-nya sendiri."


__ADS_2