
Bur...!
"Aaa..! Hah... hok...!"
Seorang pria besar berhasil dipukul mundur hingga menghantam keras dinding dungeon di belakangnya.
Orang yang memukulnya adalah seorang dengan armor serba hitam sekujur tubuhnya.
"Saat menjadi The Arcana kekuatan Dani turun drastis, padahal kekuatan dia saat aku lawan sebagai boss monster malah seperti setingkat Rank-C ke atas. Apa mungkin perkembangan kekuatannya mengikuti perkembanganku juga seperti Norum."
Aku melihat jendela informasiku dan tertera status Dani di sana.
[Dani (Level 5)
Evolusi : ... (Belum berevolusi)
Skill :
- Pahlawan perang (Pasif) (Level 1)
Sang kesatria akan mengerahkan seluruh kemampuan tempurnya dalam medan perang, ketika dia mendapatkan sebuah perintah dari tuannya maka seluruh status poin miliknya akan meningkat 10%.
- Tekad sejati (Aktif) (Level 1)
Kemampuan yang memperkuat tubuhnya beserta seluruh perlengkapan tempur miliknya 50% dalam durasi waktu tiga menit.
Cool down : 7 menit.]
"Seluruh skill-nya sangatlah menarik dan lagi tidak memerlukan Mana sama sekali, apa dia masih bisa mendapatkan skill baru seperti aku dan Norum? Atau hanya skill ini saja yang bisa ia dapatkan?"
Bur...!
"Aahhh!!!"
"Kayaknya pertarungannya mulai semakin sengit."
Aku melihat Dani berhasil memojokkan ketua bandit itu, dan terlihat ketua bandit itu mulai kelelahan akibat memakai skill-nya itu.
Set!
Bur...!
Dengan cepat Dani maju dan langsung melayangkan tinjunya.
Tapi....
"Aaahhh!!!"
Pria besar ini semakin menekan Mana miliknya hingga melewati batasnya dan tampak Mana yang mengelilingi tubuhnya semakin pekat dan semakin terasa walaupun dari kejauhan.
"Si brengsek itu, masih belum menyerah juga."
Aku melihat Dani mundur sejenak akibat gelombang kejut Mana yang tiba-tiba di keluarkan orang itu.
"Aaahhh!!!"
Set!
Dengan cepat Dani maju dan siap memukulnya.
Tapi....
Punch!
Krak!
Dani terkejut, sebab serangannya berhasil ditahan dan ketua bandit itu tiba-tiba tersenyum.
"Hehe! Aahh!!!"
Seketika ketua bandit itu mencengkram erat tangan Dani dan langsung melemparnya sekeras mungkin hingga membentur dinding itu sangat keras.
Bur...!
"Tampaknya dia mulai kesusahan melawannya."
Aku pun maju dan mengeluarkan belati milikku.
Tapi....
Brak... Brak... Klotak....
Aku berbalik dan melihat Dani bangkit kembali, dan langsung berjalan ke arah pria besar itu.
"Apa kamu masih sanggup melawannya?"
Dani meresponnya dengan hanya mengangguk saja dan langsung menuju ke sana.
"Aku lupa, kalau dia seorang kesatria yang menjunjung tinggi harga dirinya."
[Skill " Tekad sejati" telah diaktifkan.]
"Hah!"
Seketika aku melihat seluruh Mana terkumpul di seluruh tubuh Dani, skill-nya hampir sama dengan orang itu. Tapi perbedaannya, ketua bandit itu saat menggunakan skill-nya dia akan memasuki mode "Berserk" serta Mana dalam dirinya tidak beraturan sama sekali, dan untuk Dani kebalikan darinya Mana dalam dirinya sangatlah tenang dan teratur.
Tiba-tiba Dani mengangkat satu tangannya dan di tangannya itu tiba-tiba muncul sebuah cahaya putih, dan cahaya itu seketika membentuk sebuah pedang panjang.
"Hah! Aku pikir senjatanya tidak akan ikut dengannya, ketika dia sudah menjadi The Arcana-ku."
Dia maju sembari menyeret pedang panjang dan beratnya itu.
"Aahhh!!!"
Ketua bandit itu juga mengeluarkan belatinya yang memiliki efek beracun itu.
"Aku pikir belati itu tidak akan mempan terhadap armor-nya Dani."
__ADS_1
Set!
Set!
Dengan langkah yang sangat cepat, mereka berdua saling melemparkan tebasan senjata masing-masing.
Syut..! Syut..! Swossh...!
Slash..! Slash..! Tring...!
Mereka berdua saling melemparkan benda tajam mereka dan saling membenturkannya hingga terdengar suara dua logam saling benturan satu sama lain.
"Aku tak menyangka dia bisa mengimbangi kecepatan Dani, tapi dia...."
Aku melihat ketua bandit itu mulai mencapai batasnya dengan napas yang sudah terangah-engah.
"Aku rasa pemenangnya sudah jelas."
Mereka terus saling melemparkan serangan masing-masing.
"Aahhh!!!"
Ketua bandit itu menyerang titik menurutnya buta bagi Dani.
Tapi....
Ting...!
"Hah?"
Dengan cepat Dani berhasil menghalangi serangan itu dan langsung mengarahkan pedang panjangnya itu ke arah ketua bandit itu.
Jleb!
"Egh..! Eh... h-hok...!"
Seketika pedang panjang itu berhasil menusuk dirinya hingga tembus ke belakang tubuhnya.
Crak!
Dani langsung menarik pedangnya dan darah mengalir deras dari tubuh lubangnya itu bagai air terjun.
Gedebuk!
Seketika pria besar itu tumbang dan tak bernyawa.
[Level up]
"Ah... level-ku ikut naik ya. Aku pikir EXP tidak akan bertambah jika membunuh manusia, apa orang itu tidak dianggap lagi manusia oleh sistem?"
Dani berjalan ke arahku dan langsung menundukkan badannya sembari memberikan belati pria itu.
"Oh, kamu benar-benar mengerti apa yang aku inginkan."
Aku mengambil belati itu darinya.
Tingkat : ☆☆☆
Belati yang dikutuk oleh sang bawahan Iblis dengan menggabungkan dua taring miliknya.
STR : +8 AGI : +5 INT : +9
Pasif :
- Ketika musuh terkena serangan akan kehilangan satu poin HP perdetik dalam kurung waktu satu menit, serta berkesempatan target tidak akan bisa bergerak dalam dua detik. Efek bisa ditumpuk sampai lima kali.]
"Wow! Efeknya benar-benar hebat."
Aku terkejut melihat status Dani.
[Dani (Level 10)
Evolusi : ... (Belum berevolusi).]
"Dia naik level dengan cepat," pikirku sembari menyimpang belati ini ke inventori. "Kerja bagus, sekarang kembalilah."
Seketika Dani menghilang dan masuk ke dalam tubuhku.
"Hm?"
Aku terkejut melihat Mana yang terkumpul ke ketua bandit itu, Mana itu tiba-tiba mengelilingiku seolah-olah Mana terkumpul itu memanggilku.
Karena merasa aneh, aku pun maju ke mayat itu.
[Dia telah memenuhi syarat untuk menjadi The Arcana-mu.]
"Huh? Dia...."
Aku kaget sembari menatap wajah bajingan ini yang mana membuatku sangat muak dengannya, tapi mendapatkan pasukan kuat mungkin tidak ada salahnya juga.
Sembari menarik napas dalam-dalam dan aku langsung mengucapkan sebuah kalimat:
"Bangkitlah..., dan layani aku yang berdiri di hadapanmu ini."
Seketika Mana yang mengelilinginya barusan tiba-tiba masuk ke dalam diriku, dan seketika aku merasakan dingin di dalam tubuhku.
[Kamu telah berhasil mengikat jiwa tersesat, sekarang jiwa mereka telah menyatu dengan jiwamu.]
Tiba-tiba mayat dari ketua bandit bangkit dan langsung menundukkan dirinya kepadaku.
[Sekarang kamu boleh memberikan dia nama.]
"Bentuknya benar-benar beda dari yang aslinya."
Aku terkejut dengan wujudnya yang sangat berbeda ini, sebab bentuk tubuh dia tidak menyerupai seperti manusia pada umumnya, melainkan dibangkitkan dalam bentuk tubuh besarnya.
"Aku pikir dia akan dibangkitan dalam bentuk normalnya, tapi ternyata tidak. Apa sistem ini hanya membangkitkan dia dalam kondisi terkuatnya?"
__ADS_1
Karena cukup pusing memikirkannya, aku pun mencoba memberikan dia sebuah nama yang cocok padanya.
"Karena kamu sangat besar maka namamu adalah... Bongsor!"
[Nama telah berhasil diberikan.]
[Bongsor (Level 15)
Evolusi : ... (Belum berevolusi).]
[The Arcana : 3]
"Baiklah, sekarang kamu masuklah."
Seketika tubuh dia berubah menjadi hitam semua dan menyusut menjadi kecil lalu masuk ke tubuhku.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Tiba-tiba Pak Adrian muncul dan membuatku cukup terkejut mengetahui dia sudah sampai di sini. Dia terkejut melihat tempat ini terlihat sangat hancur di mana setiap dindingnya hancur akibat pertarungan Dani dan Bongsor.
Pak Adrian langsung menghampiriku.
"Tuan Peteng, kamu tidak apa-apa? Dan di mana orang itu?"
Aku sudah menduga dia akan bertanya seperti itu.
"Aku tidak apa-apa, untuk orang itu... dia langsung tiba-tiba berlari meninggalkanku begitu saja. Mungkin dia lagi masa kritisnya, di mana kemampuannya itu sangatlah berbahaya baginya juga, sehingga membuat dia terburu-buru pergi sebelum di bunuh olehku."
Pak Adrian mencoba memikirkannya dan tentu saja dia akan tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapanku ini.
"Mungkin kamu benar juga, sebaiknya kita keluar dari sini cepat."
"Kita tidak akan menutup dungeon-nya?"
"Aku rasa kita tidak bisa membunuh bosnya begitu saja, sebab kita butuh banyak orang untuk mengalahkan bos monsternya."
"Kalau begitu, aku saja yang akan mengalahkan bosnya."
"Apa! Kamu jangan bercanda! Kita harus menunggu orang-orang dulu berkumpul."
"Pak, kumohon percayalah padaku."
Pak Adrian menatap mataku dengan seksama.
"Tampaknya dia benar-benar serius."
Pak Adrian melihat-lihat sekitar dan menghela napas beratnya lalu berkata:
"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi... aku akan bersamamu melawannya."
"Terima kasih, Pak."
Kami pun berjalan keluar dari sini.
Sesaat beberapa menit, kami kembali ke tempat memilih lima jalan dungeon ini.
"Jadi, di mana letak ruang bosnya, Tuan Peteng?"
"Bosnya berada di sana...," jawabku sembari menunjuk ke jalan di ujung kanan dungeon ini. "Aku merasakan adanya energi sihir yang sangat pekat di sana."
"Kamu benar-benar sudah sangat berkembang ya."
"Yah... begitulah, ini semua berkat latihan kerasku."
"Kalau begitu kita harus bergegas ke sana."
Aku dan Pak Adrian langsung memasuki jalan itu.
Sesaat beberapa menit menelusuri jalan ini, akhirnya kami sudah berada tepat di depan sebuah gerbang besar.
"Kamu benar, Tuan Peteng, jalan ini mengarah ruang bosnya."
Pak Adrian langsung maju dan mendorong gerbang besar itu.
Dum....
Setelah terbuka....
"Hop...!"
Seketika kami mencium bau yang sangat busuk di ruangan ini, tampak ada banyak mayat bau busuk di ruangan ini.
Kami pun memasukinya.
Dum!
Tapi, tiba-tiba gerbangnya tertutup sendiri.
"Setelah kita sudah masuk ke sini maka sudah tidak bisa keluar lagi, dan satu-satunya jalan keluarnya hanya mengalahkan monster besar itu."
Setelah mengucapkan itu, Pak Adrian langsung bersiap-siap menghadapi bosnya.
Dur....
Seketika dungeon bergetar dan bos monsternya bangkit dari tidurnya.
Selain ukuran besar, tubuhnya benar-benar terlihat kacau selain banyak daging terkelupas, ada banyak juga bekas jahitan di tubuhnya.
Haarrhh...!!
"Bersiaplah, Tuan Peteng!"
[Boss
King Zombie - The lord of the graves
Level : 48.]
__ADS_1