
Di dalam dunia "Hades", lantai 9....
"Di mana ini?"
Aku berada di tempat yang penuh kehampaan seperti lantai tujuh dan di depan sana hanya ada gerbang saja.
"Di mana penjaganya?"
Aku membalik pandanganku berbagai arah dan hanya ruang gelap di sini selain gerbang itu yang berwarna saja.
Dun....
"...!"
Tiba-tiba lantai ini gemetar dan bisa dipastikan bahwa penjaganya akan keluar.
"Akhirnya kamu datang juga...."
Aku mendengar suara seseorang dan mencari sumber suara itu ke berbagai arah, dan aku tidak menemukan orang yang berbicara itu.
"Kamu tidak akan melihatku sampai kamu bisa melewati lantai sembilan ini."
"Kalau begitu, apa aku harus melawan tiruan dirimu?"
"Tidak, awalnya aku ingin memberikanmu tantangan seperti itu, tapi 'Pencipta' kami memintaku mengubah ujianmu di lantai ini..."
Dun....
Sekali lagi lantai sembilan ini bergetar dan getarannya jauh lebih hebat dari sebelumnya.
"Bersiaplah, ujiannya sudah dimulai."
"Apa! Tunggu du... egh!" Aku langsung memegang kepalaku dengan erat dengan kedua tanganku.
Tiba-tiba rasa sakit hebat menghujani kepalaku dan rasanya ingin pecah kapan saja. Tubuhku semakin lemas dan pandangan juga semakin kabur...
Gedebuk!
...•••...
...•••...
...•••...
"Huh! Di mana aku?"
Tiba-tiba aku berada di tempat yang sangat asing bagiku, aku berada di ruangan yang penuh dengan kertas-kertas berserakan di mana-mana dan lagi tulisannya aneh.
"Ini seperti waktu itu." Aku berjalan dan tak sengaja menabrak sesuatu. "Heh, aku menembusnya?"
Aku langsung memandang kedua tanganku yang tampak samar-samar dan tubuhku juga terlihat samar.
"Apa aku berada diingatan seseorang lagi? Tapi rasanya ini sangat berbeda dari sebelumnya, aku masih bisa menggerakkan bebas tubuhku, apa aku melakukan 'Astral Projection?'"
Brak...!
"Aris! Apa kamu tidak keluar dari ruanganmu ini lagi?"
Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan ini dan tampak dia memanggil seseorang dari dalam ruangan ini.
"Putoles! Sudah kubilang berapa kali, lain kali ketuk pintu dulu, jangan main asal nerobos ruangan orang...!"
Aku langsung berbalik dan tampak seorang pria keluar dari balik ruangan kecil itu.
"Dan lagi, jangan panggil aku dengan nama itu, panggil aku dengan nama lengkapku yaitu Aristoteles!"
"Aristoteles...."
Aku terkejut mendengar nama itu, sebab dia adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung. Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi. Sudah banyak pengetahuan yang dia ajarkan dan sampai sekarang ilmu itu masih diterapkan.
Tak heran kenapa ruangan ini penuh dengan banyak kertas, ternyata seorang ilmuan yang terkenal itu.
"Ayolah, Aris, kamu ini sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri dan lagi, jika aku mengetuk pintumu maka kamu tak akan mendengarnya mengingat kebiasaanmu di sini yang akan lupa di sekitarnya jika sudah fokus, kamu sangat cocok dikejutkan agar bisa sadar."
Aristoteles menghela napasnya sembari memegang kepalanya dan menggelengkannya.
"Jadi, ada alasan apa kamu datang ke sini lagi?"
"Itu...." Langsung maju dan berlutut sembari memeluk kaki temannya itu. "Aris.., bantu aku, aku bingung harus bagaimana...."
"Heh?! Cepat bangun, bangun, kenapa ini... kayak kamu takut melihat dunia akan hancur saja, sebenarnya apa yang terjadi?"
Pria itu langsung bangkit dan menunjukkan pose anehnya sembari memasang wajah sedihnya.
"Kamu benar, Saudaraku, dunia akan hancur..., dunia akan hancur jika cintaku tak tersampaikan kepadanya."
"Dia pria yang sangat unik, ya," kataku.
Aku melihat Aristoteles kebingungan melihat temannya ini dan aku pun sama bingungnya melihat tingkah aneh pria ini.
"Woi! Katakan langsung ke intinya, kamu membuang-buang waktuku."
"Cih, kamu ini... tidak mengerti penderitaan saudaranya saja."
"Terserah apa katamu, langsung katakan saja!"
__ADS_1
"Baiklah, jangan marah begitu, ehem...." Sembari menarik napas dalam-dalam. "Aris... tolong buatkan aku puisi cinta, aku mohon."
"Eh...!" Sembari menjauh. "Maaf, tidak bisa, aku tidak suka laki-laki."
"Woi! Kau ini sedang berpikir apa, aku datang ke sini untuk minta bantuamu membuatkan aku puisi untuk wanita tercintaku."
"Oh...." Langsung berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu.
Duk... Duk....
Pria itu langsung berlari ke arah Aristoteles dan langsung berlutut lagi sembari memeluk kaki temannya itu.
"Aris.., kumohon tolonglah sahabatmu yang lagi mengejar cintanya ini...."
"Heh, heh, apaan ini, lepaskan!"
"Aku tidak mau, sampai kamu mau membuatkan aku sebuah puisi cinta."
Tampak Aristoteles menggaruk kepalanya dan terlihat wajahnya sudah pasrah akan keadaannya.
"Baiklah, kamu menang."
"Jadi, kamu mau membantuku?" Dengan wajah gembira.
"Iya, jadi lepaskan tanganmu itu, aku jadi kesulitan bergerak."
Pria itu langsung melepas pelukannya dan berdiri lagi.
Tampak Aristoteles sedikit kesal melihat kelakuan sahabatnya ini yang kekanak-kanakan lalu dia langsung menuju meja kerjanya dan mengambil selembar kertas, dan sebuah bulu dengan ujungnya cairan tinta hitam yang sudah dicelupkan di botol kecil berisikan cairan tinta hitam.
"Kayaknya ini bakal lama melihatnya, sebaiknya aku keluar dari ruangan ini untuk melihat keadaan di luar bagaimana tampaknya." Sembari berjalan berjalan ke arah pintu. "Heh? Ada apa ini? Kayak ada semacam penghalang yang menghalangiku."
Aku langsung berbalik dan aku terkejut melihatnya, sebab ada sesuatu yang muncul dari dadaku dan itu seperti sebuah rantai penghubung antara aku dan Norum.
Tapi, warna rantai ini putih dan aku mengikuti arah ke mana rantai ini.
"Rantainya terhubung ke... Aristoteles, apa kejadian ini semua ingatan dia waktu masih hidup, dan apa tujuannya memperlihatkanku?"
Karena belum menemukan jawaban tepat dengan kejadian aneh ini, maka aku hanya bisa melihat semua kenangan ini hingga selesai.
"Ujian apa yang dimaksud dari penjaga lantai sembilan itu?"
Karena teringat kata-kata dari penjaga itu, aku mencoba mencari keganjilannya di sini.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kertas yang tertempel di dinding, lalu aku maju untuk melihatnya lebih dekat.
"Heredis..., hm?!"
Aku sangat terkejut, sebab kenapa aku bisa membaca tulisan Yunani kuno ini, padahal aku tak pernah membaca dan belajar bahasa Yunani, tapi itu membuktikannya juga bahwa bahasa mereka berdua aku pahami seperti bahasa pada umumnya aku dengar.
Lalu aku kembali membaca kertas yang bertuliskan "Heredis" itu, sebab kenapa kata itu bisa muncul di abad "Sebelum Masehi" ini?
Aku mencoba membaca tulisan bagian di bawah kata "Heredis" ini dan menemukan sebuah penjelasan mengejutkan bagiku.
..."Heredis" orang yang diberkahi kekuatan Dewa oleh Dewa itu sendiri, kekuatan yang memiliki sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Kekuatan ini diberikan dengan alasan yang sangat kuat, bukan hanya membuat penggunanya melampaui kekuatan umat manusia, tapi... kekuatan ini ada untuk mengalahkan "Makhluk penjajah" dari luar yang telah lama mengusik kehidupan kita....
"'Makhluk penjajah,' apa maksudnya itu?"
Aku mencoba mencari berbagai kertas yang terhubung pada kertas sebelumnya, tapi apa daya aku hanya sebuah jiwa bebas yang tidak bisa menyentuh barang-barang ini.
"Kayaknya aku harus menyerah, deh."
Aku kembali kedua orang itu yang tampak meributkan sesuatu.
"Ayolah, Aris, bantu aku lagi."
"Apaan, sih! Kan aku sudah membuatkan puisinya, sekarang kamu ingin aku membantumu mendekati wanita itu, sebenarnya wanita itu siapa yang telah berhasil memikat hatimu?"
"Dia..., hehe...." Langsung menutup wajahnya karena malu.
Aristoteles melihat itu semakin jijik kepadanya.
"Sekarang aku mengerti siapa wanita itu, apa dia... Clearita?"
"Tepat sekali! Tak kusangka, selain otakmu yang encer itu ternyata kamu juga seorang peramal."
"Aku tak pernah percaya dengan adanya ramalan, tapi sebaiknya kamu menyerah saja, karena wanita itu---" Tiba-tiba dia menghentikan kalimatnya dan tiba-tiba tersenyum.
"Hei, kenapa kamu tiba-tiba tersenyum begitu, seram tahu tiba-tiba kamu tersenyum begitu dan apalagi kamu ini orangnya jarang terlihat senyum."
"Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya sangat senang, sebab ada ide tiba-tiba terlintas di pikiranku. Jadi, apa kamu mau coba?"
"Tidak, tidak, melihatmu seperti itu, aku merasa ada sesuatu hal aneh terjadi padaku nanti."
"Sudah, tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." Sembari berdiri dari kursinya. "Baiklah, aku akan pergi duluan jika kamu tidak mau."
Aristoteles langsung berjalan ke arah pintu dan keluar.
"Heh, Aris, tunggu aku." Langsung berlari menyusul temannya itu.
Brak....
Pintu langsung ditutup dan hanya aku saja sendirian di sini.
Bun...!
__ADS_1
"Eh? Apa yang terjadi sekarang?"
Tiba-tiba aku berada di tempat lain, tampak Aristoteles dan Putoles berjalan ke sebuah rumah.
"Sebaiknya kamu mempersiapkan diri dan aku akan bersembunyi di dekat pohon itu, kuharap kamu bisa membacanya dari jauh."
"Jangan khawatir, mataku sangat tajam."
"Baiklah, semoga sukses."
Aristoteles langsung berlari ke arah pohon itu dan tampak Putoles menarik napas berapa kali, guna menenangkan dirinya.
Di sisi lain, Aristoteles melempar beberapa kerikil di balik jendela rumah tanpa kaca itu, lalu muncul seorang wanita dari balik jendela itu.
"...?" Sembari melihat kerikil itu dan mencari tahu siapa melemparnya.
Aristoteles menunjukkan dirinya sementara dan mengisyaratkan wanita itu untuk keluar menuju balkon rumahnya, wanita itu mengerti dan langsung berjalan ke arah balkon rumahnya.
Sesaat sampai di balkon rumahnya, dia terkejut melihat seseorang pria berdiri di bawah sana dengan menatap dirinya dengan serius.
"Ehem...." Sembari menarik napas dan melihat tulisan puisi dari jauh yang dibawa Aristoteles.
...Wahai gadis manis di atas sana, sekarang aku berdiri tepat di bawah kakimu....
...Kapal berlayar tenang di lautan luas, bulan purnama bersinar terang di kala malam, cahayanya membuat mata ini terpesona melihatnya, tapi... angin malam yang dingin terus menerpa kulit tipis ini. Hati ini terasa dingin di kala tak melihatmu, tapi memandang senyummu membuat mata ini hidup lagi....
...Di lautan luas yang tenang, angin malam terus berhembus, tapi kapal akan tetap berlayar sampai mencapai tujuannya. Aku akan bersabar menunggu, walau banyak rintangan yang harus kulewati, tapi hati ini akan tetap bertahan hingga waktunya tiba....
...Wahai gadis manis di atas sana, kumohon padamu, terimalah diri ini yang penuh kesederhanaan dan kekurangan....
Pok... Pok... Pok....
Wanita itu tepuk tangan mendengar puisi dan tersenyum, Putoles melihat itu sangat senang.
"Puisi yang sangat indah, Putoles. Tapi, akan sangat indah jika puisi itu ditulis olehmu sendiri."
"Apa maksudmu, Clearita. Ini puisi buatanku sendiri."
"Kamu yakin? Aku tak suka pria yang selalu berbohong, loh."
Putoles mendengar itu langsung menghela napas dan tampak dia ingin pasrah saja.
"Baiklah, aku menyerah, tapi... apa kamu akan mempertimbangkannya?"
"Hmm...." Sembari memegang dagunya dan mengarahkan bola matanya ke atas. "Baiklah, aku terima."
Putoles langsung bersorak atas dirinya dan memanggil temannya itu keluar dari persembunyiannya.
"Hei, kenapa wajahmu cemberut begitu?"
"Tidak ada, hanya saja... ini jadi tidak menarik."
"Apa maksudmu?"
"Padahal aku berharap kamu ditolak dan terus pulang ke rumah dengan menangis di kamarmu seperti anak kecil."
"Heh! Jadi selama ini, itu yang kamu tertawa kan. Tapi, harapanmu tidak akan terwujud Saudaraku, sebab Dewa sudah merestui hubungan kita."
"Terserah kamu." Sembari memalingkan wajahnya.
"Aristoteles, apa kamu bisa membuatkan aku sebuah puisi tentang keluarga?" Tanya Clearita.
"Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Putoles.
"Sebenarnya, aku sudah lama kenal Aristoteles ini, karena kami ini teman dari kecil."
"Oh, begitu ya."
"Karena kalian ada di sini, sebaiknya kalian masuk ke rumahku dulu karena aku sudah membuat beberapa kue."
"Kue! Kebetulan aku sangat lapar." Langsung berlari ke arah pintu rumah.
"Ketuk pintu dulu, jangan main asal menerobos rumah orang!"
Terlihat hubungan mereka sangat harmonis dan Aristoteles muda ini menatap ke suatu arah.
"Kenapa dia menatap ke arah sini, apa dia bisa melihatku?"
Aku langsung berbalik dan tidak menemukan apa pun yang dia tatap, atau dia benar-benar bisa melihatku?"
"Seandainya waktu bisa diputar kembali... tidak, aku ingin waktu berhenti, karena aku ingin waktu bahagia ini ada selamanya...." Langsung mengarahkan pandangannya ke arah langit dan tampak wajahnya sangat sedih. "Tapi, aku sudah menerima sebuah tanggung jawab besar dan aku harus melakukannya, agar semua orang-orang yang ada di dunia ini selamat. Jika, aku tak bisa menghadapi 'Mereka' maka... aku sudah meninggalkan sesuatu berharga bagi manusia masa akan datang, aku telah mencatat semua teori dan ilmu pengetahuan yang aku miliki dan pengetahuan ini akan dikembangkan dari generasi ke generasi, dan aku harap di suatu masa akan ada metode atau teknologi canggih yang bisa memusnahkan 'Mereka.' Cuma ini yang bisa aku lakukan untuk membantu 'Heredis' berikutnya."
"Aris..., kenapa hanya diam saja di sana, lihat... kuenya sangat enak, loh."
Mendengar itu Aristoteles tersenyum dan langsung berjalan ke arah pintu rumah itu.
"Suara itu... dari pikiran Aristoteles, kenapa aku bisa mendengarnya, apa ini keinginan 'Pencipta' dunia 'Hades' itu sendiri?"
Bun...!
Tiba-tiba tempat mulai menghilang dan digantikan yang baru.
Sesaat terganti, sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku, sebuah pemandangan buruk terlihat tepat di depan mataku.
"Apa-apaan ini! Ini seperti waktu itu...!"
__ADS_1