
Pukul 11. 41
Persiapan Raid pulau Bali telah siap, tinggal menuju pasukan ekspedisi utama untuk masuk ke dalam dungeon.
Beberapa kapal militer dari Belanda dan Cina telah siap sekitaran pulau Bali, tapi siapa sangka bahwa ada bantuan tambahan dari Australia, mereka mengirim beberapa kapal perang militer mereka dan ini atas permintaan wakil ketua guild mereka yaitu Bindi Aleara.
Tidak tahu apa alasannya atas permintaan mendadak ini, tapi ini sudah bantuan besar bagi Indonesia menerimanya. Sebab Indonesia harus mengerahkan banyak orang Terbangkitkan mereka yang berperingkat Rank-C ke atas guna menghalau monster-monster reptil yang mulai menginvasi hampir seluruh pulau Bali.
(Ardhafa Drio - Master guild Pulau Jaya.)
"Baiklah, semuanya sudah siap. Beranikan lah diri kalian, kalau dari kalian sedikit saja memancarkan ketakutan siap-siap kematian menghampiri kalian! Mengerti!"
"Baik!!"
(Nurhalisa - Master guild Malam Suro.)
"Aku percayakan seluruh anggota kita kepadamu, Arya."
"Jangan khawatir Master, aku akan memimpin mereka dengan baik."
Di sisi lain, ketiga guild besar serta beberapa guild kecil telah siap-siap ikut bertempur juga demi mempertahankan tanah air dari monster-monster.
(Pati Bagenas - Master guild Si Jago Merah.)
"Hm?" Berbalik ke berbagai arah seolah-olah mencari sesuatu, bawahannya melihat itu penasaran dan bertanya kepadanya.
"Ada apa, Master?" Tanya Arjuna.
"Tidak ada, aku hanya... khawatir dengan semua orang di sini. Apa kita benar-benar bisa menaklukkan dungeon ini walau bantuan dari berbagai negara sekalipun."
Arjuna mendengar itu tahu kekhawatiran masternya dan berkata :
"Soal itu... kita percayakan semuanya kepada Dewa."
"Iya, kamu benar," balasnya sembari tersenyum. "Anak itu ke mana. Kenapa saat seperti ini dia tidak muncul."
Semua persiapan telah siap dan semua pertahanan telah dikerahkan. Tinggal menunggu instruksi buat menyerang dungeon itu.
Lalu di sisi lain di kantor asosiasi, tampak master asosiasi biro keamanan cukup panik.
"Apa kalian benar-benar tidak menemukan keberadaan anak itu?!"
"Itu benar Master. Aku sudah menggunakan skill sensor milikku dan aku merasakan jejaknya terakhir kali di sekitar rumahnya, dan setelahnya itu dia menghilang tanpa jejak. Ini seperti waktu itu tiba-tiba menghilang saat memunculkan dungeon."
Mendengar itu Agus hanya bisa pasrah dan memegang kepalanya yang pusing itu.
"Apa yang kamu lakukan sekarang 'Penyelamat'. Kami benar-benar membutuhkanmu sekarang."
Agus terus meratapi semua ini dan bagaimana caranya baginya untuk bisa membantu dalam penaklukkan ini.
Tok... Tok... Tok...
Seseorang dengan jas hitam serta kacamata hitamnya masuk dan memberikan laporan pada masternya. Bahwasanya semua orang telah berkumpul di lokasi tentukan dan tinggal menunggu Agus datang ke sana.
"Aku rasa sang 'Penyelamat' punya alasannya sendiri untuk memasuki dungeon-nya," pikir Agus yang berusaha tenang. "Bersiaplah, kita akan berangkat ke sana."
"Baik!"
Mereka pun berangkat menuju lokasi yang ditentukan dan tampak banyak orang yang bersiap untuk bertempur. Dengan sedikit pidato dari Agus bahwasanya raid kali ini akan mengambil banyak nyawa katanya, tapi tanah air tak boleh jadi sarang monster mengerikan dan bersiap mempertahankan segenap jiwa raga mereka.
Di sisi lain, para Pilar Negara dari Australia dan Malaysia berkumpul di suatu tempat yang tak jauh dari Agus.
"Apa! Kamu serius yang kamu katakan?" Chloe yang kaget mendengar itu.
"Iya itu benar," jawab Adam. "Saat ini Arkha Peteng tidak ditemukan di mana pun dan jejak terakhir dia ditemukan dengan skill sensor berada di sekitarnya."
Bindi mendengar itu dengan seksama dan langsung mengerti kenapa anak bernama Arkha Peteng ini bisa menghilang begitu.
"Mungkin dia memasuki sebuah Hidden dungeon, itu benar kan?"
Adam mendengar itu sedikit terkejut dan mengangguk.
"Aku rasa tak perlu berbohong terlalu jauh mengenai Arkha memasuki sebuah Hidden dungeon, karena dia sendiri yang menyimpulkannya seperti itu, benar-benar hebat. Tapi...aku tidak tahu alasan Master memintaku membohongi keberadaan Arkha sebenarnya pada mereka. Tapi setidak ini membuat mereka tenang sementara," pikir Adam.
"Karena sudah begini mau bagaimana lagi. Karena itu Hidden dungeon, jadi wajar baginya memprioritaskan menaklukkannya mengingat hal itu berada sekitar rumahnya," ucap Maisa.
Setelah mendengar keadaan yang menimpa anggota raid termuda mereka, mereka memutuskan untuk membiarkannya saja.
Setelah semuanya sudah hadir, asosiasi mengumumkan penyerangan ke pulau Bali.
Push... Piuh! Bom!
Sebuah bom asap dengan bau yang tak disukai makhluk kadal itu telah dilempar ke arah depan dungeon dan semua monster langsung menjauh dari lokasi menyebarnya asap itu.
Serangan pembuka telah diluncurkan, semua orang Terbangkitkan langsung maju dan menyerbu semua monster reptil itu.
"Serang!!!"
"Aaaahhh...!!!!"
Crak! Slash!
Piuh! Shut!
Berbagai serangan telah diluncurkan, mereka hanya bisa membunuh monster-monster berada di luar dungeon sembari membukakan jalan bagi para Pilar Negara untuk masuk. Rencana ini dilakukan demi menghemat tenaga pasukan utama mereka sampai mereka masuk ke sarang bos dungeon.
Tampak penyerbuan ini telah berhasil memancing sebagian monster-monster reptil keluar dari portal dan membantu sekawanan mereka.
"Bagus. Saatnya kita pergi," kata Bindi.
Mereka mendengar instruksi itu langsung berlari sekuat mungkin ke arah portal tanpa menghiraukan sekitar mereka. Monster-monster reptil ini merasakan ada penyusup yang mau memasuki sarang mereka.
Tapi...
Haarrgh...!!!
Piuh! Bom...!!!
Sebuah bom asap dilemparkan lagi di sekitar portal dan berhasil membuat para monster reptil kesusahan akan bau asap ini. Sebab ini adalah tanaman berasal dari dungeon bernama Duphantus, yang memiliki efek pelumpuh kuat terhadap monster tipe berdarah panas.
Karena efek tanaman ini hanya sementara saja, karena monster-monster reptil ini mulau berevolusi akan pertahanan mereka terhadap racun.
"*Fiuh*... akhirnya kita berhasil masuk juga," kata Nurhalisa.
Tampak dalam dungeon tidak beda jauh dengan dungeon pada umumnya, hanya tampak dinding goa yang dingin dan lembab.
Herrrh...!!
Terdengar geraman monster, seketika mereka semua bersiap bertempur. Tapi seseorang maju dengan santai sembari memainkan belati miliknya.
"Serahkan mereka padaku. Aku butuh pemanasan sedikit."
Mendengar itu mereka mempersilahkannya.
Set!
Slash! Slash!
"!"
Semuanya terkejut terkecuali rekannya, melihat kecepatannya. Yah dia adalah Faisal Adlya, Protector Rank-S asal mereka. Dengan spesialis kemampuan layaknya Assassin.
"Bukankah dia seorang Protector. Kurasa dia lebih cocok menjadi seorang Venandi, melihat serangannya barusan itu," ucap Drio.
"Ya mau bagaimana lagi, itu sudah keputusannya sendiri. Karena pada dasarnya dia memang bekerja untuk pemerintahan, karena dia dulunya seorang tentara," ucap Maisa Berliana.
Mendengar itu membuat yang lainnya mengerti. Sebab posisi Venandi dan Protector hanyalah sebuah bentuk batasan, ini dilakukan demi menguranginya pertikaian di antara orang-orang Terbangkitkan.
Venandi ada untuk menaklukkan dan menjarah isi dungeon dan ini hanya dilakukan rata-rata orang akan keserakahan dalam diri mereka, dengan kata lain cari untung besar. Sedangkan Protector ada hanya untuk menjadi pengawal bagi orang-orang yang menjelajahi dungeon, mereka tak punya hak untuk mengambil jarahan dan hanya menerima bayaran sesuai kesepakatan di awal sebelum masuk dungeon, hanya sedikit orang mengambil posisi ini sebab keuntungannya sangat kurang, tapi ada sisi lain orang mengambil posisi ini yaitu jalan aman. Orang yang mereka mengambil posisi ini, akan selalu berada di bawah pengawasan pemerintahan dan menjauh dari kecurigaan sebagai "Orang Palsu".
Harrrh...!!!
Tiba-tiba muncul tiga monster reptil dengan tubuh besarnya itu. Faisal melihat itu seketika menyeringai dan bersiap melawannya.
Set! Chin!
Slas! Slash! Slash!
Crak!
Dengan gerakan secepat angin itu telah berhasil memotong kepala monster-monster.
"Hebat sekali. Hei, Drio...," Panggil Nurhalisa.
"Apa?"
"Menurutmu, apa pria itu lebih cepat darimu?"
Drio menanggapi pertanyaan itu langsung memperhatikan dengan seksama pria yang ada di hadapannya itu.
"Aku juga tidak tahu, aku merasa dia belum mengerahkan seluruh kemampuannya."
Merasa sudah aman, mereka segera melanjutkan perjalanan mereka.
Akan tetapi...
Haaaarrrr...!!!
Deg! Deg! Deg!
Tiba-tiba suara teriakan disertai energi Mana yang sangat besar dan mencekam telah membuat tubuh mereka gemetar seketika.
"A-apa itu...?" Tanya Chloe yang masih sedikit ketakutan.
"Hah... hah..." tampak Bindi sedikit merasa tertekan akan energi kuat ini segera memberikan buff penguatan mental seluruh rekannya. "Semuanya baik-baik saja?"
"Iya. Terima kasih," jawab Pati.
Mereka masih tak percaya apa yang dirasakan barusan, ini sama persis waktu mereka rapat di asosiasi dan energi dengan tekanan yang sama terasa juga. Hanya saja, tekanan energi ini jauh lebih besar dan mampu membuat mereka hampir kesulitan berdiri.
"Bodoh! Faisal...!" Panggil Maisa.
Tampak Faisal langsung berlari ke depan dengan raut wajah sulit dibaca, Maisa sudah mengira bahwa tekanan ini akan memicu insting tempur Faisal dan membuat orang itu membahayakan dirinya sendirian.
"Sial! Kita harus segera menyusul si bodoh itu!"
Mereka semua segera menyusul anggotanya yang telah maju duluan.
Tring! Tring! Slash! Crak!
Terdengar suara benturan logam dan tampak Faisal bertarung dengan beberapa monster di depan sana. Karena kecepatan Faisal, membuat yang lainnya sulit menyusulnya.
"...!!"
__ADS_1
Saat sampai di ujung lorong gelap ini, mereka sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapan mereka. Tampak Faisal telah berhasil membunuh beberapa monster reptil, ditambah lagi tampilan dalam dungeon ini sangat berbeda dengan sebelum.
"Tempat ini..."
Mereka masih tak percaya apa yang dilihatnya, tapi terlihat Faisal seketika diam mematung dan tampak wajahnya sedikit ketakutan.
"Faisal! Hei, apa yang..., hah!" Maisa menghampiri Faisal dibuat terkejut apa yang dilihat temannya ini. "Ti-tidak mungkin...!"
Melihat mereka berdua terkejut begitu, mereka pun maju dan sangat terkejut melihat Mana yang terkumpul pada satu titik ini. Mereka tak menyangka jika energi sebesar ini ternyata berpusat pada anak kecil yang duduk di singgasana itu.
"Apa itu bosnya? Tanya Rasthin yang syok melihatnya.
Semuanya pun merasa demikian jika makhluk kuat ini yang akan jadi lawan mereka. Dengan tubuh anak laki-laki remaja dan pakaian seperti pangeran Nusantara dibaluti dengan perhiasan emas. Ini seperti cerita dalam dongen atau pun legenda Nusantara mengenai kerajaan- kerajaan, itu sudah terlihat jelas dalam goa ini berubah seperti itu.
Tak ada satu pun Pilar Negara bergerak, karena mereka tahu jika bertindak gegabah sedikit saja mereka tak akan selamat.
"Kalian..."
"!!!"
Saat bos monster itu mengeluarkan suara, seketika seluruh tubuh manusia-manusia itu merasa sedikit membeku.
"Apa kalian datang ke sini untuk jadi pelayanku?"
Mendengar itu membuat Faisal hampir mengangkat senjatanya dan dicegat oleh Maisa, dan mengisyaratkan temannya ini untuk tak bertindak sendirian.
Bindi masih merasa gemetaran, ia belum bisa melupakan apa yang menimpa negaranya 1 tahun lalu. Kini pertama kalinya ia melihat monster bisa menggunakan bahasa mereka, bahasa manusia.
Tak satu pun dari mereka menjawab, bos monster ini langsung melirik ke arah mayat-mayat anak buahnya.
"Tampaknya kalian ke sini bukan untuk jadi pelayanku... bunuh mereka semua!"
Dur...!
Tiba-tiba tembok di samping istana ini hancur dan memunculkan banyak monster-monster reptil besar dan siap memangsa mereka.
"Sial!!"
Harrrh...!!!
Semua monster itu langsung menyerbu mereka.
Bing!!
Seketika cahaya muncul dan menyilaukan pandangan monster-monster dan membuat gerakan para monster seperti membeku.
"Sekarang!!"
Bindi berhasil mengerahkan sihir debuff pada musuh sekitar dan meminta yang lainnya segera menghabisinya karena efek debuff ini tidak bertahan lama.
Slash! Slash! Crak!
Maisa dengan keahlian pedangnya telah berhasil memotong beberapa monster reptil itu.
"Tombak es!"
Nurhalisa menembak beberapa sihir ke arah monster itu dan berhasil membunuhnya, ditambah keahlian sihir airnya hebat mampu berhasil menahan pergerakan musuh dan memberikan kesempatan pada rekannya untuk membunuhnya.
Set! Set! Chin!
"Bagus! Lisa."
Drio dengan kecepatannya mampu melukai dan membunuh dengan cepat, dengan bantuan item sihir pisau berbentuk cakar harimau itu dan disusul oleh kecepatan Faisal juga yang tak mau kalah olehnya.
Harrrh...!!!
Tiba-tiba monster reptil tipe hidden tiba-tiba muncul dari atas dan menyerang Bindi yang masih mempertahankan sihir debuff-nya.
Akan tetapi...
Shut! Piuh! Piuh!
Crak!
Beberapa anak panah sihir berhasil membunuh monster itu sebelum mengenai target.
"Kamu tidak apa-apa Wakil ketua?"
"Tidak apa-apa, terima kasih, Chloe."
Pertempuran semakin sengit, selain kalah jumlah, mereka juga harus menyisakan Mana mereka untuk melawan bosnya. Tapi tampak bosnya hanya diam di singgasananya, seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan teather di istananya itu.
"Kalau begini terus kita yang akan mati duluan!" Pikir Pati yang khawatir.
Jumlah musuh terus bertambah dan membuat mereka mulai kewalahan.
"Kalau begini tidak ada cara lain," pikir Pati dan bersiap mengerahkan seluruh kekuatannya. "Lisa...!!"
Mendengar panggilan itu, seketika Nurhalisa paham karena tampak Pati telah mengerahkan semua kekuatannya.
"Kalau begini aku pun tak boleh setengah-setengah... Drio!"
"Oke!"
Para warga negara asing ini mengerti dan berusaha melindungi kedua orang ini.
Wushh...!!
Wushh...!!
Seketika tubuh Pati diselimuti api dan tubuhnya juga semakin membesar.
Wush...!!!
Begitu pun Nurhalisa yang tubuhnya tiba-tiba diselimuti bercak darah dan terukir seperti tato dengan gambar khas kuno Jawa.
Kedua orang ini mengalami transformasi tubuh dan energi sihir meluap dari kedua orang ini.
"Hm, menarik," senyum seringai dari bos monster.
Tubuh Pati sekarang bak monster api dan terlihat dia seperti iblis dari neraka dengan dua tanduk besarnya.
Set!
Set!
Dengan cepat Pati dan Lisa maju ke arah bosnya.
Harrrh...!!!
Tapi tidak semudah itu mereka mendekati bosnya karena pengawalnya terus bermunculan.
Punch! Krek! Dur...
Satu pukulan kuat telah melayang ke arah monster yang menghalang itu.
"Majulah, biar kami mengurus mereka."
Rasthin William berhasil menyingkirkan semua monster penghalang itu dan dibantu panahan dari rekannya juga. Sedangkan di sisi lain pun berusaha menyingkirkannya dan membiarkan kedua kartu as mereka mengerahkan semua kemampuannya pada satu target.
Slash! Slash! Crak!
Shut! Shut! Piuh!
Dur...
Serangan demi serangan dilontarkan Pilar Negara ini membuat goa istana bergetar seolah-olah akan runtuh.
Akhirnya mereka berdua berhasil sampai tepat di depan singgasana. Tanpa basa-basa kedua orang ini langsung mengerahkan serangan sihir mereka.
"Terima ini...!!!"
"Aaahh...!!!"
Dur...!!!
Lisa dengan sihir es naga raksasanya dan Pati dengan semburan api mautnya dari mulut. Kedua serangan maut itu telah membuat dungeon ini gemetar hebat.
Tapi...
"!!!"
Mereka berdua terkejut, sebab serangan terkuat mereka tak cukup mampu menyingkirkan bosnya.
Bing!!!
Tiba-tiba cahaya muncul di hadapan bos dungeon itu dan itu ternyata sebuah koin, lalu koin itu kembali kepada bos dungeon itu.
"Menarik. Tapi, kekuatan kalian belum cukup untuk menghiburku. Keluarlah."
Dari langit-langit muncul lingkaran sihir dan memunculkan dua makhluk kuat dengan energi sihir besarnya.
"Kurasa mereka berdua lawan yang cocok dengan kalian."
Merasa dihina oleh bos dungeon itu, Pati langsung ingin menghadapinya secara langsung.
Punch!
Tapi, dia dihalangi oleh monster reptil berbentuk komodo itu dengan postur tubuh tegak seperti manusia. Monster itu berhasil melayangkan tinjunya ke Pati, walau berhasil ditahan tapi tetap saja rasa sakit masih ada.
"Baru kali ini aku merasa sesakit ini walau memasuki mode iblis-ku."
Di sisi lain Lisa harus menghadapi wanita setengah ular ini, tampak wanita ular ini juga pengguna sihir tipe air sama sepertinya. Dan Lisa cukup kewalahan menghadapinya.
"Aku harus segera menyelesaikannya, karena efek samping transformasi ini sangat bahaya."
Dua kubu saling memberikan serangan masing-masing. Memotong, membakar, mencakar dan banyak lagi serangan dilancarkan.
Namun, arah pertarungan ini mulai tampak jelas.
"Aaahh...!!!"
Pati menerima gigitan dari monster komodo itu dan tubuhnya merasa sedikit sulit digerakkan.
Bing! Bing!
Tapi semua efek debuff itu berhasil dilenyapkan berkat sihir Bindi.
Pertarungannya semakin intens dan pemenang telah terwujud. Pilar Negara berhasil menyingkirkan semua monster-monster ini dan hanya menyisakan satu saja.
Tapi keadaan mereka tak memungkinkan untuk melawan bosnya, karena tenaga dan Mana mereka terkuras cukup banyak.
Prok... Prok... Prok...
__ADS_1
Tepuk tangan terdengar dari singgasana itu dan bos dungeon akhirnya turun dari tahtanya.
Tap...
Satu langkahnya telah membuat yang lainnya sulit untuk menghadapinya, bos dungeon itu terus berjalan ke arah mereka.
"Aku sangat terhibur sekali. Kali ini aku memberikan kalian kesempatan lagi. Apa kalian ingin menjadi pelayanku?"
Mendengar itu membuat semuanya kesulitan untuk bersuara, seolah-olah ada sabit maut telah melingkar di leher mereka.
"Hm?"
Dengan wajah polosnya, dia melihat semuanya satu-satu persatu.
"Oh maaf, mungkin kalian sangat kelelahan sehingga sulit untuk menjawabnya. Baiklah, ini hadiah dariku..."
Bing!!
Bos itu memunculkan koin bersinarnya itu dan sihir koin itu menyertai semua manusia itu. Seketika seluruh luka dan rasa lelah mereka, serta Mana dalam diri mereka pulih seutuhnya.
"Nah, karena kalian sudah pulih semua. Jadi, aku ingin mendengar jawabannya sekarang?"
Dengan wajah polosnya itu, belum menggambarkan sosok dirinya dari dalam seperti apa.
Set! Chin!
Tidak ada jawaban sama sekali dari mereka, namun yang dapat malah serangan kejutan dari arah belakang.
Punch! Dur...!
Berhasil menghindari serangan kejutan Faisal dan membalasnya sehingga membuatnya terlempar cukup jauh dan membentur dinding istana goa ini.
Set! Set!
Drio dengan cepat maju dan menyerangnya dengan berbagai arah.
Tapi...
Hap...
"Kakimu benar-benar menyebalkan ya."
Krak!
Dur...! Crak!
"Aaah...!!!"
Dia berhasil ditangkap dan memutuskan kedua kakinya lalu melemparnya cukup jauh. Sungguh keadaan mengenaskan bagi yang mengandalkan kecepatannya buat bertarung, dan penghinaan besarnya baginya kehilangan kedua kakinya.
Karena sudah terlanjur, yang lain pun langsung maju dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka, walau tahu mustahil bagi mereka untuk menang. Tapi mereka masih berharap bisa menemukan satu kelemahan fatal yang bisa jadi pembalik keadaan mereka.
Slash! Crak!
Slash! Crak!
Pati dan Lisa ingin melancarkan serangan terkuat mereka lagi, tapi berhasil dihentikan oleh bos monster itu dengan serangan fatal, sehingga tranformasi mereka terhenti dengan sendirinya.
Shut! Shut! Piuh!
Serangan kejutan jarak jauh telah diarahkan ke bos monster itu.
Set!
Punch!
Dan dengan tinju dadakan dari arah samping membuat bos monster itu tidak bisa menghindari serangan panah itu.
Tapi...
Chin!
"!!!"
Tiba-tiba dia menghilang dan muncul tepat di belakang Bindi.
Kedua rekannya melihat wakil ketua mereka dalam bahaya segera menghampirinya.
"Berhenti!!"
Tapi, Bindi menghentikan kedua rekannya ini, tampak bos monster ini memperhatikan tubuh Bindi dari jarak dekat.
"Apa yang dilakukan Wakil ketua?" Tanya Chloe.
"Sial! Aku tidak tahu, tapi setidaknya kamu harus mempersiapkan seranganmu itu untuk membuatnya menjauh darinya."
Chloe segera mempersiapkan sihir panahnya untuk menargetkan bos monster itu.
Sedangkan di sisi lain, terlihat perbincangan kecil di antara Bindi dan bos Monster itu.
"Kamu..., kamu memiliki energi tidak asing bagiku."
Bindi bingung mendengar itu, tapi dia tidak menanggapi pernyataan bos monster.
"Apa kamu mau menjadi selirku?"
Terkejut mendengar itu, membuat Bindi memanfaatkan kesempatan ini selagi bos monster itu lengah.
"Boleh saja. Tapi... aku ingin kau menyembuhkan dulu teman-temanku."
"Hm?" Sembari berbalik dan melihat orang-orang terluka parah itu. "Tentu. Tapi, saat aku menyembuhkan mereka dulu, bisa-bisa aku diserang terlebih dahulu lagi. Jadi... aku ingin kau yang menerima tawaranku dulu." Sembari mengulurkan tangannya.
Bindi melihat keadaannya membuatnya kesulitan untuk melawan, tapi dia melihat semua tatapan rekan seperjuangannya yang berharap tak ingin jatuh ke tangan monster dengan mudah. Karena tujuan mereka untuk menaklukkan dungeon ini demi melindungi manusia bukan jadi budak monster.
"Baiklah. Aku terima."
"!!!"
Bing!!
Semua terkejut mendengar itu dan wajah polos bos monster ini berubah menjadi kegirangan. Saat tangan mereka bersentuhan, tiba-tiba muncul lingkaran cahaya sihir dari bawah kaki mereka berdua.
"Tidak mungkin..."
Chloe seketika mengeluarkan air matanya, dia tahu bahwa ini jalan terakhir bagi mereka.
"Maaf ya," kata Bindi.
Bing!!!
Cahaya itu semakin membesar dan tampak bos monster ini menyeringai.
"Kamu pikir sihir sekecil ini bisa menghentikan aku?"
"Aku tidak yakin. Soalnya ini satu-satunya sihir pamungkas aku, dan hanya bisa digunakan jika pengguna dan terget bersentuhan."
"Menarik."
Rasthin melihat itu kebingungan dan bertanya ke Chloe :
"Chloe, sihir macam apa itu?"
Chloe tak kuasa menahan tangisnya dan tetap mempertahankan posisi siap menembak.
"Itu sihir yang mampu menghapus targetnya dan mengubahnya menjadi abu yang habis dibakar. Tapi... bayarannya sangatlah mahal, sisa kehidupannya lah yang akan jadi taruhannya."
Bindi pernah menggunakan sihir ini waktu Hidden dungeon muncul di desa terpencil dulu, dia terpaksa menggunakannya demi mengurangi jumlah monster kala itu. Semakin dia menggunakannya maka waktu kehidupannya akan berkurang.
Bing!!!
Mana semakin melimpah sekitar mereka berdua.
Tapi...
"Cukup!"
"!!"
Crang!!
Tiba-tiba sihir itu berhasil dipatahkan dan membuat Bindi sangat terkejut, dan kesulitan bergerak karena ulah sihir monster ini. Seketika bos monster melayang dan menyentuh kepala Bindi.
Shut! Shut! Piuh!
Serangan panah datang dengan cepat dan berhasil ditahan.
Set!
"Menjauh darinya dasar monster!!"
Rasthin dengan amarah besarnya langsung maju dan siap meninju bos monster itu.
"Dasar pengganggu. Menyingkirlah!"
Dur...!
Tiba-tiba Rasthin dan Chloe terlempar cukup jauh, mereka diserang dengan sihir jarak jauh bos monster itu. Bindi melihat itu hanya bisa menangis melihat teman-temannya terluka.
"Karena kamu menolak tawaranku. Maka, aku hanya bisa membawanya bersamaku."
"Aaaahhh...!!!"
Teriakan histeris Bindi membuat semuanya terkejut dan hanya bisa menyaksikan momen tragis ini.
"Wakil ketua... hiks!"
Tak ada satu pun dari mereka sanggup untuk berdiri karena luka fatal mereka terima. Teriakan Bindi terus bergema dan pada akhirnya terdiam.
Gedebuk!
Seketika tubuh Bindi jatuh ke tanah dan bos monster itu memegang sebuah bola kuning bercahaya, dan di tengah bola kuning itu ada sedikit energi hitam.
"Sudah kuduga, energi inilah membuatku merasa sangat tidak asing."
Bos monster itu segera menyerapnya.
Wussh...!!!
Energi besar mengalir ke dalam dirinya dan seketika tubuh berubah bentuk yang awalnya remaja, kini dengan ukuran dewasanya yang gagah.
"Aku rasa di luar sana masih ada energi seperti ini." Bos monster berbalik dan melihat semua musuhnya. "Kali ini aku biarkan kalian istirahat, karena aku masih menginginkan kalian sebagai pelayanku. Renungkan lah itu."
Bos monster itu langsung keluar menuju lorong gelap dungeon.
__ADS_1
Lalu Chloe berusaha bangkit dengan langkah tertatih-tatih, setelah sampai ke wakil ketuanya, dia hanya bisa menangis karena sudah tidak ada napas berhembus lagi dari wakil ketuanya.