
Di dalam dungeon....
"Semuanya perhatikan langkah kalian, kita tidak tahu bahaya seperti apa yang ada di hutan ini," ucap Rama.
Kami sudah menempuh perjalanan lebih dari satu jam dan ada banyak tanaman racun serta monster tipe serangga.
Tapi, itu semua berhasil dikalahkan berkat aturan dan arahan formasi dari Rama, di mana dia meminta para Tank dan Fighter bertugas menjaga berbagai arah lalu para Mage dan Support yang akan melindungi punggung mereka.
"Formasi ini sudah cukup menutup kekurangan kekuatan tempur kita tanpa perlengkapan tempur sekali pun..., hm?" Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mendekat ke arah kiri kami dengan cepat. "Karena kabut ini mengandung Mana juga, berarti ada seseorang menanam sihir ini guna mencegah indra kita agar semakin tumpul. Tapi, efek kabut ini tidak berpengaruh sama sekali denganku."
"Abang, kenapa kamu berhenti, apa ada sesuatu?"
Aku langsung menatap semua orang yang menatapku juga, dan entah kenapa aku berpikir harus menolong mereka keluar dari sini, padahal aku tak memiliki niat membantu orang yang tidak memiliki hubungan denganku sama sekali.
"Bukan hanya kekuatannya saja terwariskan, tapi kepribadian mereka juga mulai mencuci otakku. Aku benar-benar merasa frustasi," pikirku. "Semuanya tolong dengarkan permintaanku ini jika kalian ingin hidup, jika aku beri aba-aba kalian langsung menunduk."
"Woi, apa maksud dari perkataanmu itu, kamu pikir kita akan mati, hah!"
Semuanya kebingungan mendengar itu dan malah aku tak dapat respon baik dari mereka, apa ini karena rank milikku jauh lebih rendah dari mereka sehingga pikirnya orang lemah tak perlu memberikan nasihat.
"Kenapa di saat begini masih memikirkan kasta, tapi... setidaknya orang yang mereka percaya mulai memikirkan perkataanku ini."
"Semuanya dengarkan perkataan, Tuan itu," ucap Rama.
"Tapi...."
Semuanya tampak ragu-ragu menyetujui permintaan ketuanya ini, tapi ini sudah perintah darinya sehingga harus dituruti walau terpaksa.
Aku meminta mereka diam sejenak dan fokus merasakan sesuatu yang mendekat itu.
Piuh..!
"Tinggal sedikit lagi...," pikirku.
Piuh..! Piuh..!
"Sekarang!"
Wush... Piuh! Piuh! Brak!
Seketika muncul serangan bertubi-tubi ke arah kiri kami dan semuanya berhasil menunduk sesaat aku memberikan mereka aba-aba.
Piuh! Piuh! Brak!
"Aaahh.!! Apa ini.?!"
Semuanya sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa di situasi berbahaya ini.
"Abang! Kenapa kamu tidak menunduk, itu sangat berbahaya!"
Aku memandang mereka yang tampak kebingungan kenapa serangan cepat ini tidak mengenaiku sama sekali, bahkan serangan super cepat mengarah ke arah kami ini telah melubangi pohon-pohon di sekitar kami.
[Pengorbanan (Aktif)
Kamu bisa menggunakan setiap skill yang dimiliki oleh The Arcana, selama kamu memenuhi syarat untuk menggunakan skill tersebut.]
"Aku bisa tidak kenapa-napa berkat skill khusus job ini yang aku gunakan untuk meminjam skill pasif milik Dami yaitu 'Master element,' lalu aku bisa menggunakan sihir element angin dan membentuk pelindung sehingga 'Batang kayu' tajam yang dilemparkan itu bisa dilesatkan berbagai arah berkat pelindung angin ini, penguasaanku terhadap pasif ini sangat kurang dan ini pertama kalinya aku menggunakan skill peminjam ini."
Piuh! Piuh! Brak!
Piuh! Piuh! Brak!
Selang beberapa menit serangan itu dilancarkan, akhirnya berhenti juga dan sekaligus membuat semua orang kebingungan, dengan serangan itu dan aku termasuk juga yang menurutnya baik-baik saja dari serangan mematikan itu.
"A-apa... apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa orang itu berdiri dengan sangat santai tadi?"
Berbagai pertanyaan yang ingin dilontarkan di mulut mereka tapi hal itu mereka urungkan, sebab di hadapan mereka ada orang yang terlihat sangat menakutkan bagi mereka.
Ketua tim ini yaitu Rama, langsung maju ke arahku dan kami bertatapan beberapa saat.
"Tuan, siapa kamu sebenarnya dan kenapa kamu tidak kenapa-napa dari serangan mematikan itu, dan dari mana kamu tahu bahwa serangan mematikan seperti itu akan datang?"
Pertanyaan yang dilontarkan ketua tim ini telah mewakili semuanya yang ada di pikiran mereka, sehingga mereka sangat penasaran akan hal itu.
"Belakangan ini aku sangat lelah direndahkan, lagi pula ini di dalam dungeon yang berarti tidak ada perhatian khusus dari luar jika aku menggunakan kekuatanku yang sebenarnya," pikirku. "Jawabannya sederhana, karena aku kuat."
__ADS_1
"...!"
Sesaat mendengar jawaban itu membuat mereka sangat terkejut dan tatapan mereka kepadaku sebelumnya merendahkan, tiba-tiba menundukkan pandangan itu dan tidak berani berpapasan mata denganku.
"Berarti... rank Anda bukan F, tapi... rank Anda yang sebenarnya apa?"
Tiba-tiba entah kenapa si Rama ini semangatnya menurun, ya... aku tahu sebab dia merendahkan orang yang seharusnya dia tidak lakukan kepada orang sepertiku.
Aku hanya menghela napas lalu menepuk pundaknya dan berkata:
"Ini bukan waktunya wawancara, kita harus keluar dari sini secepat mungkin."
"Kalau begitu... Anda yang harus memimpin kami, aku merasa tidak cocok dengan ini dan kekuatanku bisa dibilang jauh dari Anda."
"Hei, jika seorang pemimpin diukur dari kekuatannya maka hanya ada kehancuran, seorang pemimpin dilihat dari bagaimana mereka mengambil keputusan bijak dalam hal mempertahankan kesetiaan, jika sang raja sakit-sakitan di tempat tidurnya tapi dia masih memiliki akal sehat untuk mengambil keputusan tepat untuk rakyatnya, maka hal itu masih pantas dianggap pemimpin juga. Dan kamu sudah menunjukkan semuanya barusan, aku pikir tidak akan semudah mengatur orang-orang panik ini tapi... kamu bisa melakukan itu dengan mudah."
Mendengar itu membuat Rama ini sedikit hidup dan itu sudah tampak dari matanya.
"Kalau begitu, tolong perlindungannya juga dari Anda."
Aku hanya mengangguk saja dan terlihat semua orang yang di sini mulai tampak semangat lagi, ini mengingatkanku saat menjelajahi dungeon distorsi sebelumnya bersama Pak Adrian beserta anggota guild-nya.
"Abang! Tanganmu... berdarah!"
Mendengar teriakan Santia, aku langsung memandang tanganku yang masih memegang batang kayu berduri ini, tampaknya kayu ini mengandung racun mematikan dan itu sudah terasa sakit saat menyadarinya.
"Semuanya jangan sentuh kayu-kayu berduri itu, karena itu sangat beracun," ucapku.
"Apa, beracun! Support kemampuan penyembuhan kemari cepat, sembuhkan tangan Tuan ini!" Perintah Rama yang sedikit panik.
"Tidak perlu, kalian tidak perlu panik." Aku langsung membuang batang kayu berduri itu dan seketika luka serta racun di tanganku menghilang. "Lihat, sembuh, kan."
Mereka semua sangat terkejut melihat ini, sebab aku bersyukur mendapatkan skill pasif baru yaitu "Keabadian," yang mana memberikan efek kebal segala efek buruk dan regenerasi kuat. Sehingga luka semacam ini bisa disembuhkan dengan cepat.
"Kak Zara benar, dia sangat kuat dan baru kali ini aku melihat kemampuan hebat seperti itu," pikir Brian.
Aku melihat yang Brian menatapku penuh kekaguman, mungkin ini penyebab skill milikku ini.
Kami langsung melanjutkan kembali perjalanan dan di setiap jalan ada banyak monster tipe serangga yang kami harus hadapi, tapi mereka semua bisa mengatasinya tanpa aku harus turun tangan langsung.
Setelah tiga jam berada di dungeon ini membuat kami sangat kelelahan, sebab kami tidak ada makanan dan minuman untuk bertahan hidup di hutan berbahaya ini.
Aku memperhatikan daerah sekitar dan tampak tempat ini bagus untuk istirahat sejenak.
"Aku rasa harus membeli beberapa MP potion untuk mereka, sebab shop ini tidak menjual makanan sama sekali."
Aku membuka shop dan membeli sebelas MP potion kualitas rendah, ini sudah cukup untuk memulihkan kelelahan mereka.
"Semuanya minum ini...." Sembari mengeluarkan MP potion itu dari inventori dan memberikan mereka.
"Tuan, kamu juga bisa memakai sihir ruang juga?!"
Sekali lagi mereka sangat terkejut, sebab sihir seperti ini sangat langka di mata mereka dan baru hanya beberapa orang yang bisa melakukan sihir unik lainnya.
Gulp... Gulp....
Mereka semua langsung meminumnya dan seketika kelelahan mereka menghilang, tentu saja itu membuat mereka bingung sebab belum ada ramuan pemulihan instan semacam ini ditemukan di zaman kita saat ini, potion-potion dijual di luar sana kemampuan pemulihannya hanya di bawah 10%.
"Jika aku bertanya sekali lagi maka aku sangat lancang padanya, tapi...," pikir Brian sembari melihat botol ukuran kecil itu yang digenggamnya. "Minuman atau obat ini sangat manjur, bagaimana jadinya jika dia menjual ramuan ini, mungkin banyak guild besar ingin merekrutnya."
Setelah beberapa saat istirahat, aku melihat mereka sehat secara fisik tapi... mental mereka belum siap maju ke medan pertempuran selanjutnya.
...Datanglah kepadaku.......
"..?!" Aku langsung berbalik ke arah belakang. "Apa itu tadi?"
Tiba-tiba aku teringat alasan aku masuk ke sini karena ingin menyelidiki sesuatu di sini. Aku melihat mereka belum siap bertempur dan tidak ada bahaya yang kurasakan menuju kemari, itu sudah membuatku lega sementara.
"Abang, kamu mau pergi ke mana?" Tanya Santia.
"Aku harus pergi mengecek keadaan sekitar dan jangan khawatir, di sini tidak ada bahaya menuju ke sini tapi... kalian tetap harus waspada karena kita berada di dalam dungeon."
Set!
Aku langsung berlari meninggalkan mereka dan menuju ke arah sumber keanehan itu.
__ADS_1
"Kamu sangat dekat dengan Tuan itu dan kamu juga memanggilnya Abang, apa dia saudaramu?" Tanya Rama.
"Oh, dia, sebenarnya dia bukan saudaraku tapi aku sudah anggap dia seperti kakakku sendiri, ini terjadi sejak dia menyelamatkanku dari dungeon dan para kriminal itu," jawab Santia. "Awalnya aku pikir dia orang yang sangat lemah dariku, tapi saat aku dan Abang dijebak oleh para kriminal itu di ruang bos, Abang menunjukkan kekuatan aslinya dan berhasil mengalahkan bos dungeon itu seorang diri."
Mereka semua terbelalak dan terkejut mendengar jawaban Santia, mereka tidak percaya bahwa ada orang yang sangat kuat bersembunyi di sekitar mereka.
"Maaf kalau lancang, kalau dia bisa menyembunyikan kekuatannya maka dia 'Orang palsu?'" Tanya salah satu dari mereka.
"Awalnya aku juga berpikir dia 'Orang palsu,' tapi melihat dia mati-matian melawan bos dungeon itu seorang diri sekaligus juga melindungiku, dari situlah kupikir dia orangnya sangat baik tidak seperti rumor yang tersebar bahwa 'Orang palsu' orangnya sangat kejam," jawab Santia.
"Yang dikatakan Nona itu benar, kalau dia orangnya sangat kejam maka dia membiarkan kita semua mati dari serangan kayu beracun itu dan hanya menyisakan Nona itu selamat seorang diri," ucap Rama.
Mendengar ucapan Rama membuat semua orang yang ada di sini mulai berpikir kembali mengenai orang si Rank-F palsu ini, dan tak ingin mencari masalah lebih dalam lagi mengenai "Orang palsu," sebab banyak misteri mengenai kemampuan orang seperti itu.
...•••...
Setelah beberapa langkah cepat....
"Aku rasa jarak ini sudah cukup jauh dari mereka, tapi aku tak bisa mengabaikan mereka begitu saja karena dungeon ini sangat berbeda dari dungeon lainnya. Sebaiknya aku tinggalkan penjaga untuk melindungi mereka...."
Aku mengeluarkan The Arcana - Sparta dan delapan prajurit perak kebiruan muncul secara bersamaan di hadapanku dalam posisi menundukkan tubuh mereka kepadaku.
"Baiklah, aku memberi kalian tugas untuk mengawasi dan melindungi manusia-manusia itu dari mara bahaya, jika ada sesuatu yang bahaya mendekati mereka... kalian langsung singkirkan hal itu, sekarang pergilah!"
Set! Set! Set!
Dengan cepat para Sparta pergi melaksanakan perintahku dan menuju ke arah Santia dengan yang lainnya.
"Dengan ini aku tak perlu khawatir untuk sementara dan untung juga aku sudah menyelesaikan quest harian sebelum berangkat, jika tidak... maka terpaksa aku harus menyelesaikan quest ini di sini agar tidak kena hukuman lagi."
Set!
Aku langsung melanjutkan lagi langkahku dan menuju ke arah suara yang barusan aku dengar tadi.
Setelah beberapa langkah dan kabut di sini semakin kebal serta pohon-pohon juga terasa semakin banyak.
"Hah? Kenapa ada rumah di sini?"
Aku sangat terkejut, sebab langkahku terhenti di depan sebuah rumah adat besar dan terlihat sangat mewah.
"Dari sini kah, asal suara itu?"
Aku langsung berjalan ke arah rumah besar itu dan Mana yang dipancarkan dari rumah itu sangat besar dan kuat.
Sesaat sudah berada di depan sebuah pintu besar atau bisa dibilang pintu utama rumah ini, lalu aku mendorong pintu besar itu untuk bisa masuk.
Bing...!
"Apa ini?!"
Tiba-tiba muncul cahaya yang sangat menyilaukan saat membuka pintu besar ini.
"Apa itu tadi?"
Aku mengedipkan beberapa kali mataku untuk mengatur penglihatanku dengan jelas karena cahaya menyilaukan itu.
"Di mana ini?"
Aku sangat terkejut, tiba-tiba aku berada di sebuah ruangan yang sangat luas dan banyak pintu-pintu di kiri dan kanan.
"Di depan sana, pintu itu jauh lebih sangat besar."
Aku berjalan menuju ke arah pintu besar itu, tapi....
"Akhirnya, ada pengunjung juga."
Aku langsung berbalik karena tiba-tiba muncul suara seseorang dari belakangku.
"Sejak kapan dia ada di sana? Aku tidak merasakan kehadirannya sama sekali tadi."
"Kamu tidak perlu waspada begitu, Nak. Aku hanya pembantu di kediaman ini dan tidak punya kekuatan untuk bertempur juga."
Setelah mendengar itu membuatku sedikit tenang, tapi tetap saja aku harus waspada terhadap makhluk-makhluk dari dungeon ini. Dia terlihat seperti kakek-kakek yang sangat tua dengan tubuh membungkuk dan sebuah sapu pembersih di tangannya.
"Ini... aku sedang berada di mana?"
__ADS_1
"Kamu berada di kediaman para Putri Kegelapan."
"Putri Kegelapan..?"