Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 52


__ADS_3

"Apa mereka para Putri kegelapan?"


Aku memperhatikan sekeliling ruangan ini dan tampak ini sebuah kamar yang sangat mewah, dengan hiasan kain serba merah dan ada banyak bunga-bunga melati di sini serta bau khas kembang.


"Apa maksudmu aku akan datang ke sini, seolah-olah kamu sudah tahu aku akan datang ke sini."


Wanita gaun kebaya merah itu tersenyum lalu berkata:


"Aku tahu kamu datang ke sini karena itu sudah takdir."


Ucapannya membuatku semakin bingung dan entah kenapa aku merasa tidak nyaman berada di sini. Sikap tenang dan berwibawa benar-benar seperti seorang putri bangsawan.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi...," kataku sembari mengeluarkan kedua belatiku. "Aku akan membereskan hal ini secepatnya!"


Tampak wanita tengah itu hanya diam saja dan tenang, sedangkan dua wanita berada di samping tampak sedikit pucat saat aku mengeluarkan belatiku, dan mundur satu langkah ke belakang.


"Kita tidak perlu melakukan kekerasan di sini, kami tahu kamu sangat kuat dan itu membuat kami bertiga tak ingin melawanmu," ucap wanita kebaya merah itu.


Mendengar itu membuatku tidak menurunkan kelengahanku dan terus waspada terhadap mereka terutama gadis berkebaya merah itu.


"Jadi, apa kalian yang menyeret kami masuk ke sini dengan menggunakan tangan-tangan itu?"


Saat aku bertanya seperti itu, tampak mereka bertiga sangat terkejut mendengarnya.


"Apa maksudmu? Kami tak melakukan hal itu, sebab kami sudah berada atau lebih tepatnya sudah disegel di sini cukup lama oleh Raja kami," ucap wanita kebaya merah itu.


Mendengar itu membuatku sangat terkejut, kalau bukan mereka lalu siapa yang punya kekuatan yang bisa menyeret seseorang dalam dungeon? Kejadian ini baru terjadi dan pasti akan sangat viral di media internet, sebab belum ada insiden di mana portal bisa menghisap orang-orang secara tiba-tiba setelaha kemunculannya secara tiba-tiba juga. Biasanya portal akan menghisap seseorang jika portal itu sudah lebih dari dua puluh menit di sana.


"Lalu, apa maksudmu sedang menunggu kedatanganku?"


Wanita berkebaya merah itu bangkit dan berjalan ke arah sebuah cermin.


"Apa yang dilakukannya, lalu nama mereka... sangat unik."


[Si Sulung - Princess of darkness


Level : ???]


[Si Tengah - Princess of darkness


Level : ???]


[Si Bungsu - Princess of darkness


Level : ???]


Sesaat wanita kebaya merah itu sampai di sana, tampak dia mengambil sesuatu di atas meja cermin dan berjalan ke arahku.


"Sebaiknya kamu melihat ini...." Sembari memberikan benda itu.


Aku ragu-ragu menerimanya, tapi aku tak merasakan niat bahaya darinya dan menerima sebuah cincin darinya.


"Cincin? Untuk apa aku mau mengambil benda ini?"


"Semenjak Raja kami meninggal dan menyegel seluruh pelayannya di kediaman ini, katanya bahwa penerusnya akan datang ke sini dan meminta kami menitipkan cincin itu."


"Kenapa kamu berpikir bahwa aku penerusnya?"


"Sederhana saja, kamu memiliki aura yang sama persis dengan Raja kami."


Mendengar itu membuatku sedikit terpikirkan oleh sesuatu, bahwa Aristoteles pernah menitipkan sesuatu pada Belial dulu dan sampai sekarang aku tidak tahu barang yang dititipkannya itu.


"Dia bilang bahwa aku memiliki aura seperti Raja mereka, yang berarti Raja mereka adalah seorang Heredis sepertiku dengan kata lain pendahuluku."


Aku mencoba memakai cincin itu.


Bing!


"Hah? Ada apa ini?"


Tiba-tiba cincin itu bersinar.


Deg!


"Ergh..! Hok... hok...!"


Tiba-tiba dadaku rasanya sesak dan kepalaku tiba-tiba terbebani sesuatu.


...•••...


"Semuanya maafkan aku, aku harus mengurung kalian di sini."


"Apa kami sudah tidak berguna bagi Anda lagi?" Tanya wanita kebaya merah itu.


Ada banyak orang dengan ciri khas yang unik, tampak mereka menundukkan badannya kepada seorang pria dengan armor hitam keemasannya dan sebuah tombak serta perisai di tangannya.


"Tidak, kalian sangat berarti bagiku."


"Kalau begitu, biarkan kami tetap berada di sisi Anda walaupun harus mengorbankan jiwa kami."


Ucapan wanita kebaya merah itu mewakili keinginan di dalam hati setiap pelayan yang lainnya.


"Aku tidak bisa membawa kalian bersamaku, aku tak ingin kalian hancur sia-sia. Maka dari itu...." Sembari melepaskan cincinnya yang ada di jarinya. "Aku titipkan ini dan berikan pada penerusku."


Wanita kebaya merah itu menerima cincin itu dengan wajah sedih.


"Lalu, kami harus apa? Anda akan pergi sendirian melawan musuh umat kita dan mungkin Anda...." Tiba-tiba air matanya membasahi pipinya. "Sudah tiada! Dan kami harus bagaimana tanpa Anda wahai sang Raja?"


Pria itu hanya tersenyum mendengarnya lalu berkata:


"Kalian harus mengikuti 'Dia,' karena dia adalah 'Sang cahaya harapan besar' umat kita."


...•••...


Aku langsung bangkit kembali dengan kepala masih sangat pusing, tampak mereka tidak melakukan apa pun pada diriku yang tiba-tiba tidak berdaya tadi.


"Apa itu ingatan dari Heredis sebelumnya?" Sembari memegang kepalaku. "Hei, apa kedatanganku di sini suatu kebetulan atau sudah direncanakan oleh kalian?"


"Tidak, kami tidak melakukan apa pun. Tapi, kami terus menunggu di sini sampai orang yang dimaksud penerus Raja kami ada di sini, dan kami tahu kedatanganmu karena kamu terlihat seperti Raja kami," ucap wanita kebaya merah itu.


Aku masih bingung dan berusaha mencerna semua informasi yang datang menghujani kepalaku, aku tidak tahu apa alasan sistem ini membuatku mengingat masa lalu setiap orang lagi.


"Cincinnya... menghilang?"


Aku terkejut melihat cincin itu tiba-tiba menghilang di jariku, dan lebih mengejutkannya lagi tiba-tiba mereka bertiga menundukkan tubuh mereka di hadapanku.


"Tuanku... tidak, Yang mulia, tolong bawalah kami bersamamu dan gunakanlah kami sesuka hatimu, kami sudah berada di sini cukup lama dan itu membuat kami semakin sengsara semenjak Raja kami pergi. Kedatangan Yang mulia di sini suatu berkah bagi kami, tolong terimalah hambamu yang hina ini," pinta wanita kebaya merah itu dengan tulus.


"Kenapa ini...?"


Karena kepalaku masih pusing dan sulit mencerna informasi yang ada, tapi hatiku terasa jauh lebih ringan dan perasaanku entah kenapa sulit aku rasakan lagi.


[Mereka telah memenuhi syarat untuk menjadi The Arcana-mu.]


[Silahkan berikan perintahmu sebagai tanda menerima kesetiaan mereka.]


"Baiklah, aku menerima kalian berdiri di sisiku dan tunjukkanlah kesetiaan kalian kepadaku."

__ADS_1


"Terima kasih, Yang mulia."


Bush...!


Seketika ruangan ini gemetar dan pancaran Mana muncul di mana-mana dan langsung masuk ke dalam tubuhku.


Wush....


"Rasanya... sangat dingin."


Setelah semuanya berhasil masuk ke dalam tubuhku dan aku merasa tubuhku ada peningkatan yang hebat.


[Kamu telah berhasil mengikat jiwa tersesat, sekarang jiwa mereka telah menyatu dengan jiwamu.]


[Sekarang kamu boleh memberikan mereka nama.]


"Mulai sekarang namamu Suzanna (Si sulung,) Sulastri (Si tengah) dan yang terakhir kamu Sukmawati (Si bungsu.)"


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Suzanna (Level 24)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


[Sulastri (Level 20)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


[Sukmawati (Level 19)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


[The Arcana : 17.]


"Itulah nama kalian dan jangan memanggilku lagi dengan sebutan itu, itu membuatku tidak nyaman."


"Baik, Yang mu... tidak, Tuanku."


Aku memperhatikan mereka bertiga yang tampak seperti manusi biasa pada umumnya dan sangat berbeda dengan Bongsor, yang tampak dirinya seperti monster dengan wujud manusia.


"Aku ingin bertanya sesuatu...."


"Ya, Tuanku?" Jawab Suzanna.


"Kalian ini apa... manusia? Monster? Atau semacam lainnya?"


"Sebenarnya kami juga tidak tahu, siapa diri kami yang sebenarnya dan yang kami tahu dari dulu bahwa keberadaan kami sudah seperti ini sejak diciptakan."


"Begitu ya," kataku. "Jawabannya sama dengan Belial, tapi kenapa dia mengatakan 'Umat kita,' apa dia menyetarakan kedudukan makhluk lain dengan manusia? Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi yang terpenting mereka sangat berbahaya untuk hidup di sisi manusia."


Setelah cukup lama berada di ruangan ini, akhirnya aku keluar dari ruangan ini dan berjalan ke arah pintu besar itu.


"Heh? Siapa mereka?"


Tiba-tiba ada delapan monster yang berdiri di depanku.


Dep....


Seketika mereka semua langsung menundukkan tubuhnya dengan pandangan di bawah.


"Tuan, mereka adalah pelayan sama sepertiku, tolong terima mereka juga dan mereka akan sangat berguna bagi Anda," ucap Suzanna.


"Bukannya mereka ada sepuluh?"


Aku berkata seperti karena mereka mungkin para penghuni pintu-pintu itu yang telah dikalahkan oleh para The Arcana-ku.


Aku tak menyangka jika kekuatan para The Arcana dari dunia Hades ini sangat kuat, dan itu membuatku sangat beruntung mendapatkannya.


"Lain kali aku akan memberikan perintah jelas agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."


[Mereka telah memenuhi syarat untuk menjadi The Arcana-mu.]


Aku berjalan ke arah mereka yang tampak masih menundukkan badannya.


"Hm, kamu yakin dia akan sangat berguna bagiku?"


Aku menatap ke arah monster yang tampak seperti nenek-nenek yang sangat tua dengan badan membungkuk.


"Iya, Tuanku, dia sangat berguna bagi Anda. Jujur saja, di antara kesepuluh pelayan ini (kecuali Putri kegelapan) dialah paling kuat urutan ketiga lalu diatasnya yang sudah mati itu dan yang urutan pertama adalah yang sudah jadi pelayan Anda."


Aku sedikit kagum mendengar itu, jadi aku tak boleh memandang seseorang dari luarnya saja. Aku memperhatikan sejenak penampilan nenek tua itu.


"Aku merasa familiar dengan sosok ini," pikirku. "Ngomong-ngomong, apa kemampuan dia yang itu?"


"Itu benar Tuanku, kemampuan utama dia adalah bisa melepaskan kepalanya dari tubuhnya."


"Oh, menarik. Kalau begitu, mulai sekarang namamu... Kuyang."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Kuyang (Level 20)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Lalu aku berjalan ke arah samping dan menatap orang dengan tinggi dua meter lebih itu.


"Heh, buntung?"


Entah kenapa aku tiba-tiba teringat dengan trauma kecilku, itu terjadi karena aku menonton film horor dengan hantu tanpa kepala pada tengah malam dan sampai sekarang itu membuatku merinding mengingat.


"Kayaknya aku tak akan bisa nonton film horor lagi," pikirku. "Baiklah, mulai sekarang namamu... Jeruk Purut."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Jeruk Purut (Level 15)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Lalu aku langsung menatap ke arah samping dari Jeruk purut, tampak makhluk kecil yang paling kecil di antara mereka.


"Kucing?" Sembari menundukkan badan. "Dia benar-benar kucing, jadi nama yang cocok untukmu... Nigreos, yang berarti hitam."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Nigreos (Level 10)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Kucing hitam itu langsung mengangkat kepalanya dan tampak matanya sangat tajam dengan warnah merah tua.


"Meong...."


Aku tersenyum dia meresponku dan langsung mengelus kepalanya. Setelah itu aku berdiri kembali dan melanjutkan ke sampingnya lagi.


"Hm?"


"Ada apa, Tuanku?"

__ADS_1


"Apa mereka selalu bertiga?"


"Iya, Tuanku. Mereka sebenarnya satu jiwa tapi dengan tiga tubuh, mereka perisai handal dari Raja kami sebelumnya."


Jadi mereka seperti para The Damned Six, yang memiliki lebih dari satu tubuh dengan jiwa yang terpecah belah beberapa bagian untuk mengisi tubuh yang lainnya.


"Begitu ya, kalau begitu namanya... Tameng saja."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Tameng (Level 16)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Lalu lanjut lagi di sampingnya, tampak seorang wanita dengan pakaian khas penari dengan selendang terikat di tubuhnya.


"Namamu adalah... Jaipong."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Jaipong (Level 15)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Di sampingnya lagi tampak seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun mini tradisional yang dikenakannya.


"Sangat cantik, tapi nama ini sangat cocok denganmu... Susuk."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Susuk (Level 19)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Dan terlihat seorang pria yang sangat besar dengan lemak sangat banyak di tubuhnya, tampak dia telah memakan sesuatu yang sangat banyak.


"Dia kanibal, Tuanku."


"...!" Aku sangat terkejut mendengar itu, sebab aku teringat dengan sebuah kasus menggemparkan di internet bahwa ada seorang psikopat gila yang mengincar nyawa orang-orang di dalam dungeon, lalu memakan mereka setelah dibunuh dengan alasan bahwa dia akan bertambah kuat jika memakan orang-orang ini.


"Memikirkannya saja membuatku mual," pikirku. "Nama ini sangat cocok untukmu... Sumanto."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Sumanto (Level 17)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


Lalu yang terakhir, tampak dia sangat normal dari yang lainnya. Dia seperti seorang pria muda yang sangat sopan dengan pakaian rapi.


"Hei, angkat kepalamu...."


Dia menuruti perintahku, padahal aku belum menjadikannya bawahan.


"...!" Aku terkejut dan terbelalak melihat matanya, wajahnya sangat normal tapi matanya memiliki warna ungu dengan bentuk pupil berbeda.


"Apa dia bisa mengubah tubuhnya?"


"Tebakan Anda benar, Tuanku. Itulah salah satu kemampuan uniknya."


"Sangat menarik." Sembari seringai dan menatap kembali pemuda jadi-jadian itu. "Namamu mulai sekarang... Parakang."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Parakang (Level 19)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


[The Arcana : 25.]


Dur....


Seketika kediaman ini bergetar dan aku melihat sekumpulan Mana berkumpul di atasku.


Bush...!


Dan langsung masuk ke dalam tubuhku secara cepat.


Wush...!


"Egh..! Tekanan ini... sangat kuat!"


Aku sedikit kewalahan menangani energi Mana yang sangat besar  yang tiba-tiba masuk ke tubuhku ini.


[Kamu telah berhasil mengikat jiwa tersesat, sekarang jiwa mereka telah menyatu dengan jiwamu.]


[Selamat, kamu telah berhasil melewati kesengsaraan dan 10 poin di tambahkan di setiap stats-mu.]


Aku sedikit terkejut atas pemberitahuan sistem ini, sistem memberikan aku bonus tiba-tiba setelah sekian lama tidak menerima quest darinya kecuali quest harian.


Dur....


Tiba-tiba kediaman ini bergetar lagi dan semua penghuni kediaman ini langsung masuk ke tubuhku dengan sendirinya.


"Pertunjukan menarik, anak muda."


Aku langsung berbalik karena suara itu sangat tidak asing bagiku.


"Kamu! Dari mana saja kamu, aku tak melihatmu ada di sekitar sini?"


Kakek tua itu hanya tersenyum sembari mengangkat satu tangannya.


"Itu tidak penting, Nak. Kamu harus segera pergi dari sini."


"Heh, tunggu! Ada yang ingin aku ta..."


Tlak....


Seketika kakek tua itu menjentikkan jarinya.


"...nyakan..., hah?"


Tiba-tiba aku berada di tengah hutan lagi.


"Aku keluar? Tapi, rumah besar itu ada di mana?"


Aku memandangi sekelilingku dan tempat ini sama dengan yang aku datangi, tapi rumahnya sudah menghilang.


"Tampaknya benar-benar sudah menghilang, apa karena semua pelayannya sudah tidak ada...?"


[MP : 2704/3070 (+25%).]


Tiba-tiba muncul pemberitahuan dari sistem yang tampaknya Mana-ku terus berkurang setiap menitnya.


"Kayaknya mereka dalam bahaya, sehingga Sparta harus memulihkan dirinya terus menerus, pasti ada musuh kuat yang mereka hadapi."


Set!

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari secepat mungkin ke arah mereka.


__ADS_2