Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 30


__ADS_3

Sebelum itu....


Aku berlari menulusuri jalan gua panjang ini, Pak Adrian dan Zara mengikutiku dari belakang.


Sembari menggunakan "Mata Dewa," aku melihat banyak titik merah kemungkinan itu adalah para Zombie, dan ada beberapa titik biru yang besar sedang melawan para Zombie itu kemungkinan mereka para bandit, dan ada beberapa titik kecil warna biru yang merapat pada dinding dengan tubuh gemetaran kemungkinan mereka para sandera.


"Dengan kecepatan ini, mereka semua akan dalam bahaya." Aku langsung membalik kepalaku ke belakang. "Pak! Aku akan duluan, tolong susul aku dengan cepat."


"Tunggu dulu, Tuan Pe--"


Set! Wossh...!


Mereka berdua kaget melihatku yang berlari secepat mungkin dan meninggalkan mereka di belakang.


"Pak, apa benar dia masih Venandi Rank-F?"


"Aku juga tidak tahu, semenjak 'Insiden itu,' mungkin dia sudah berlatih sangat keras untuk menjadi sekuat mungkin."


Aku berlari terus menelusuri jalan gelap ini, setelah beberapa saat, aku melihat ada cahaya di depan sana.


Deg!


Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak di dadaku.


"Tidak! Rena, Reno, bertahanlah...!"


Setelah sampai di ujung sana, aku terkejut melihat ada segerombolan Zombie yang mengepung mereka.


"Apa-apaan ini?"


Aku melihat lagi ada tujuh orang dewasa dengan perlengkapan berburu mereka.


"Tidak!! Aku tidak mau! Tolong lepaskan, aku mau pulang... Mama!!"


Terlihat salah satu dari mereka menarik seorang gadis kecil secara paksa dan dibawa menuju segerombolan Zombie itu, lalu langsung dilempar di tengah kerumunan Zombie kelaparan itu.


Harrh...!


"Tidak... tidak! Aaahh...!!"


"Dasar bajingan biadab!!"


Set!


Dengan cepat aku langsung berlari ke arah gadis kecil itu sembari memakai skill "Jalan bayangan," dan membunuh semua Zombie itu tanpa kesusahan dengan "Belati taring putih" milikku.


Crak! Crak! Crak! Klotak!


"Huh? Apa yang terjadi kenapa Zombie-Zombie itu hanya diam saja?"


Seketika seluruh tubuh Zombie-Zombie yang mengelilingi gadis kecil itu terpotong-potong hingga beberapa bagian.


Aku menonaktifkan kembali skill "Jalan bayangan" dan melihat gadis kecil ini sangat ketakutan, aku mencoba menenangkannya dengan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Jangan khawatir, sekarang semuanya baik-baik saja."


"Hiks... sungguh... hiks..., apa aku... hiks... bisa pulang ke Mamaku?"


"Iya."


Gadis kecil ini semakin menangis terharu dan langsung memelukku.


"Kakak! Rena! Itu Kakak, Kakak datang menyelamatkan kita!"


Aku langsung menoleh ke arah suara itu dan ternyata suara itu berasal dari Reno.


"Syukurlah, kalian berdua baik-baik saja."


Merasa lega melihat kedua Adikku baik-baik saja dan gadis kecil ini juga sudah tenang. Aku pun bangkit dan menatap tajam mereka semua.


"Kalian..., kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar!"


Tanpa sadar seluruh Mana milikku keluar dan suasana dalam gua ini semakin dingin dan mencekam.


"Egh... apa-apaan tekanan Mana ini!"


Di sisi lain, Pak Adrian dan Zara sudah sampai di sini, dan mereka terkejut melihat pemandangan ini.


"Apa-apaan tekanan Mana ini, apa ini benar Mana dari Arkha?"


Zara yang kaget dan kebingungan melihat ini, begitu pun juga Pak Adrian yang kebingungan melihatnya dan berpikir:


"Jika tekanan Mana ini berasal darinya, maka... seluruh Zombie ini dibantai olehnya juga."


Aku langsung melirik ke arah Zara dengan tatapan kosong.


"Huh? Kenapa dia... menatapku seperti itu?"


Zara gemetar ditatap olehku dan Pak Adrian melihatnya, mencoba memahami maksud dari tatapanku ini dan dia juga melihat banyak anak-anak yang sangat ketakutan jadi sandera oleh para bandit itu.


"Zara, gunakan sihir milikmu."


"Sihir? Sihir apa?"


"Sihir yang bisa membuat targetmu tertidur sementara."


"Sihir itu ya...." Sembari menatap anak-anak itu. "Aku mengerti."


Zara memulai sihirnya, dia terdiam sembari merapal kan mantranya.


"Bos, penyihir itu ingin melakukan sesuatu."


"Jangan hanya diam saja! Cepat serang penyihir itu!"

__ADS_1


Seketika dengan cepat diantara mereka ada yang pengguna Damage Dealer jarak jauh dan seorang Mage tipe sihir penghancur.


Seketika beberapa anak panah yang dilapisi Mana serta beberapa sihir bola api mengarah pada Zara.


"Jangan harap semudah itu!!"


Pak Adrian langsung maju dan menghadapi semua serangan itu.


Syat! Syat! Syat! Bom!!


Seketika semua serangan itu berhasil ditebas dan di hancurkan oleh Pak Adrian dengan pedang berlapiskan energi Aura-nya.


"Bos, ternyata... pak tua itu lagi!"


"Sial! Ternyata pak tua itu memanggil bantuan, tapi... kenapa orang itu hanya diam saja?" Sembari menatap di belakangnya. "Begitu ya, ternyata kamu tak ingin adik-adikmu takut padamu."


Set!


Pria bekas luka yang ada di lehernya ini, dengan cepat ia berlari menuju ke arah si kembar dan mengeluarkan belatinya, dan mengarahkan ke leher Reno.


"Hahaha!! Kamu pasti tak ingin adik-adikmu, melihatmu sebagai pembunuh kan!" Sembari mengarahkan belatinya ke leher Reno.


"Ka.. kak..!!"


Terlihat Reno sangat ketakutan dan menangis, Rena yang di sampingnya tak bisa berbuat apa-apa.


Aku sangat geram melihatnya dan melirik Zara yang tampak masih belum selesai merapal mantra-nya.


"Cepat suruh hentikan penyihir itu!!"


Ketua bandit itu berteriak meminta kami menghentikan Zara merapal sihirnya, dan Zara mulai berhenti merapal karena dia melihat Reno sedang terancam.


"Jangan berhenti!!"


"Tapi...."


"Jangan berhenti! Cepat lanjutkan!"


Aku meminta Zara tetap melanjutkan mantranya dan dia pun melanjutkannya, lalu aku langsung menatap tajam bajingan itu.


"Hei... kamu tidak takut dia akan mati, hah! Belatiku ini memiliki efek racun yang mematikan! Sekali gores sedikit saja, dia akan langsung sekarat, apa lagi bocah kecil sepertinya pasti langsung mati!"


"Jadi belati itu ya, yang membuat orang-orang di luar sana sekarat. Sangat bagus, tapi sayang, harus jatuh di tangan yang tidak tepat. Aku harus mengambilnya."


Aku melihat Reno yang sangat ketakutan dan tubuhnya gemetaran hebat.


"Reno, tenanglah, percayalah pada Kakak."


Sejenak Reno tenang dan aku melirik Zara masih belum selesai.


"Tidak ada waktu lagi ya, terpaksa menggunakan ini...."


[Pemilik sejati (Aktif) (Level 1)


Tidak ada penggunaan Mana.


Cool down : None.]


Aku mengangkat satu tanganku.


"Kamu pikir aku bercanda, hah!!"


Seketika ketua bandit itu mau langsung memotong leher Reno, tapi tangan tiba-tiba berhenti bergerak.


"Apa? Apa yang terjadi? Kenapa tanganku tidak bergerak sama sekali?" Dia melihatku dan sangat geram. "Kenapa kalian hanya diam saja! Cepat bunuh semua bocah-bocah itu!!"


Seketika semua bawahannya ingin menyerang semua anak-anak yang di sanderanya.


Akan tetapi....


Beam!


Seketika muncul cahaya putih yang terang dan membuat semua pandangan jadi buta sementara, tampaknya Zara sudah selesai dengan sihirnya.


Set!


Aku langsung maju ke arah pria yang menyandera Reno.


Hap! Krak...!


Dengan kuat aku langsung meremas wajahnya.


"Jauhkan tangan kotormu dari Adikku!"


"A.. ha!! (Apa!!)"


Sekuat tenaga aku langsung melemparnya menjauh dari Reno hingga dia membentur dinding dungeon dengan keras.


Bur...!


"Aa..! Hah... hok... hok...!"


Set!


Setelah membaringkan Reno yang tertidur, aku langsung maju mengahadapi seluruh bawahannya dan mengeluarkan kembali belatiku.


Slash! Slash! Slash!


Crak!


Seketika kepala mereka lepas dari tubuhnya dengan darah mengalir tanpa henti dari tubuhnya.


Aku melihat Pak Adrian dan Zara yang tampak kelelahan menggunakan sihirnya barusan.

__ADS_1


"Aku tak menyangka Tuan Peteng, mengalami perkembangan sedrastis ini."


"Hok... hok...!"


Melihat Zara kelelahan, Pak Adrian langsung menghampirinya.


"Zara, kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, Pak. Aku hanya kelelahan saja, karena menggunakan dua sihir sekaligus."


"Dua? Sihir apa yang kamu masukkan lagi?"


"Selain sihir tidur, aku juga memasukkan sihir penghapus ingatan dan sihir ini aku baru mempelajarinya semenjak kita tiba-tiba lupa dengan 'insiden itu.' Aku tidak tahu sampai mana sihir ini menghapus ingatan anak-anak ini, tapi bisa kuperkirakan bahwa ingatan mereka terhapus satu menit ke belakang."


Aku mendengar percakapan mereka, berkat pendengaranku yang semakin tajam, aku mendengar semua ucapan mereka.


"Berarti mereka akan melupakan kejadian satu menit yang lalu," pikirku sembari menatap semua anak-anak yang tertidur pulas akibat sihir Zara.


"Hok... hok..., sial! Dasar kamu bajingan!!"


Orang itu bangkit lagi setelah aku melempar dia sekuat mungkin hingga menghantam dinding dengan keras.


Ketua bandit ini mengambil semacam kuda-kuda.


"Aaahhh!!!"


Teriakannya bergema di dungeon ini dan seluruh Mana di tubuhnya tiba-tiba keluar, dan membentuk semacam armor tak terlihat.


"Tampaknya dia mulai kehilangan kendali." aku langsung melirik ke arah Pak Adrian. "Pak! Tolong bawa semua anak-anak ini keluar dari sini cepat! Orang ini akan mengamuk!"


Tanpa bertanya sedikit pun, Pak Adrian dan Zara langsung membawa semua anak-anak itu, dengan sihir udara milik Zara lalu Pak Adrian mengangkut dua orang di tangannya.


"Bagaimana denganmu, Tuan Peteng?!"


"Jangan khawatirkan aku, aku akan mengulur waktu. Cepat bawa mereka keluar dari sini!"


"Tuan Peteng, kamu..., kamu melakukan ini lagi seperti sebelumnya." Dengan berat hati dia langsung pergi. "Tuan Peteng! Kumohon bertahanlah, aku akan datang membantumu!"


Aku hanya mengangguk saja dan mereke berdua pergi sembari membawa anak-anak itu.


"Dengan ini aku bisa bebas menghajarmu!"


Pria ini semakin menekan dirinya dengan Mana miliknya, sehingga tubuhnya membesar sedikit demi sedikit.


"Aaahh..!!"


Set!


Aku terkejut tiba-tiba dia muncul di belakangku.


"Cepat sekali...!"


Dengan cepat dia melayangkan tinju besarnya itu ke arahku.


Tapi....


Punch! Bur...!


"Hah?"


Dia terkejut karena serangannya tidak mengenaiku, sebab ada yang menghalangi tinju besarnya itu.


"Ini tugas pertamamu melayaniku, Dani."


Seorang kesatria dengan full set armor hitamnya tiba-tiba muncul di belakangku, dan dia adalah salah satu The Arcana-ku yaitu Dani, dia berhasil menahan serangan dari pria itu dengan satu tangannya.


Krak!


Punch!


Dengan cepat Dani langsung melayangkan tinju kerasnya tepat di wajah pria itu, sehingga sang ketua bandit itu terlempar cukup jauh dan darah keluar dari hidungnya.


...•••...


...•••...


Di sisi lain....


Pak Adrian dan Zara sudah berada tepat di depan portal keluar.


"Pak, tolong kembalilah ke sana dan bantu dia, aku tak ingin dia berkorban lagi kedua kalinya untuk kita."


"Baiklah, tolong jaga mereka baik-baik."


"Serahkan saja padaku."


Adrian Handaru berlari sekuat mungkin untuk kembali ke pemuda bernama Arkha Peteng itu.


"Tuan Peteng, kumohon bertahanlah!"


Tampak wajah kecemasan dari pak tua ini, dia sangat khawatir bahwa pria yang hanya dikenalnya dalam beberapa kali pertemuan saja, harus mengorbankan diri lagi demi dirinya beserta anggota guild-nya.


Setelah beberapa saat berlari dan dia cukup hafal jalannya, sebab dia sudah menandai setiap jalan dengan menggores batu atau dinding dungeon dengan pedangnya.


"Seberkembang apa pun dia, dia tidak akan cukup kuat melawan orang itu."


Setelah berlari cukup lama, akhirnya dia melihat sebuah cahaya dan tempat itulah yang ia tuju sekarang.


"A-apa?!"


Sesaat sampai di sana, dia cukup terkejut melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

__ADS_1


__ADS_2