
Haarrhh...!!
[Boss
King Zombie - The lord of the graves
Level : 48.]
Seketika monster yang tingginya tiga meter lebih itu, langsung mengangkat kedua tangannya dan menghantamkannya di tanah.
Bur..! Swoosh!
"Tuan Peteng! Awas!"
Set!
Set!
Kami berdua berhasil menghindari hempasan gelombang kejut yang ada di tanah, akibat pukulan boss monster itu.
"Tak kusangka serangannya akan sekuat itu," pikirku.
Pak Adrian langsung maju menghadapi raja Zombie itu, dan melancarkan serangan pertamanya.
Syut...!
Tring!
"Apa?!"
Pedangnya berhasil ditahan oleh monster itu.
Haarrhh...!!
Bos monsternya langsung melayangkan tangan besarnya ke Pak Adrian.
Tapi....
"Tidak semudah itu!"
Syut..! Syut..! Crak!
Seketika tiga jari dari monster itu terpotong.
"Hebat...!"
Haarrhh...!!
Monster besar itu kesakitan dan tiba-tiba muncul sesuatu berwarna hijau dari setiap tubuhnya.
"Jangan-jangan itu...." Aku langsung melirik ke arah Pak Adrian. "Pak! Menjauh dari sana!!"
"Hah?!"
Set!
Pak Adrian berhasil menjauh dari sana sebelum Zombie besar itu menyemburkan cairan berbahayanya di mana-mana.
Raja Zombie itu seketika mengeluarkan semua cairan beracun dari tubuhnya.
"Bahkan tanahnya benar-benar meleleh dalam sekejap, racunnya ini jauh lebih mematikan dari pada serangga besar yang kulawan sebelumnya."
Pak Adrian semakin mundur dan tampaknya dia kesulitan mendekat, sebab monster besar itu membuat kolam racun di sekitarnya.
"Pak, kamu tidak apa-apa?" Sembari menghampirinya.
"Aku tidak apa-apa, kalau bukan peringatan daruratmu, mungkin aku sudah berendam di kolam itu."
Kami memperhatikan dengan seksama monster itu dan tampak racunnya mulai semakin menyebar di ruangan ini.
Aku memperhatikan sekitar dan hanya dinding rata yang tidak memiliki sedikit pun pijakan.
"Pak, kurasa tempat ini akan jadi kolam pemandian dia sendiri."
Pak Adrian terkejut mendengarnya dan memperhatikan cairan racun itu yang mulai semakin melebar.
"Kamu benar, kalau begini terus kita hanya menunggu kematian mendekat dan lagi... di antara kita tidak ada yang memiliki serangan jarak jauh."
Sebenarnya aku bisa memanggil Dami untuk menggunakan sihir tanah miliknya, tapi aku tak ingin terlalu menonjolkan kemampuan sistem ini dulu dan belum waktunya, sebelum aku benar-benar merasa sangat kuat.
Haarrhh...!!
Tiba-tiba bos monsternya bergerak dan kami bersiap menghadapi kemungkinan terburuknya.
"Sekarang apa yang dilakukanya?"
Pak Adrian bingung melihat apa yang sedang dilakukan monster besar itu dan begitu pun aku juga bingung melihatnya, seketika kolam beracun itu berhenti menyebar dan malah terlihat gelembung-gelembung muncul dari sana dan meletus satu persatu.
"Hm! Bau ini...."
[Kamu telah menerima efek negatif dari racun ini.]
[HP-mu akan berkurang terus-menerus hingga tak tersisa.]
"Ini gas beracun!"
"Apa!!"
Tiba-tiba monster besar itu langsung beranjak dari tempatnya.
Boom! Boom!
Dia berlari ke arah kami dengan tubuh yang masih di kelilingi racun juga.
Set!
Aku langsung berlari dengan cepat menjauh dari sana.
Tapi....
"Egh! Tubuhku...!"
Tiba-tiba Pak Adrian tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Sial! Aku lupa kalau racun itu akan mempengaruhi dia dengan cepat!"
Set!
Aku langsung berbalik untuk menyelamatkan pak Adrian.
Srup...!
Tiba-tiba monster besar itu menyemburkan cairan racunnya, yang mana mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan beracun.
"Kalau begini terus..., aku tak bisa menggapai dia."
Set!
Boom! Srup!
Monster itu sambil lari dia terus menyemburkan racunnya terus sehingga membuat langkahku terhambat, sebab tanahnya membentuk lubang kecil yang mana di situ ada genangan racun miliknya.
Boom! Boom!
Bos monsternya semakin mendekat ke Pak Adrian.
"Pak..! Cepat menjauh dari sana!!"
Terlihat Pak Adrian berusaha menggerakkan tubuhnya.
"Sial! Aku harus membantu dia!"
Aku terjebak di tengah-tengah genangan-genangan racun ini, seperti aku terjebak di tengah lautan yang luas.
Boom! Boom!
Haarrhh...!!
Bos monster itu sudah mendekat dan ingin menangkap Pak Adrian.
"Jangan... remehkan aku!!"
Syut..!
Tiba-tiba Pak Adrian terkejut, sebab pedang miliknya melebur seketika saat menusuk perut raja Zombie itu.
"Apa?!"
Monster itu menunjukkan senyum lebarnya dan membuat Pak Adrian merinding melihatnya.
Hap!
__ADS_1
"Aaahhh!!!"
Seketika monster besar itu menangkap salah satu tangan Pak Adrian dan terlihat tangan Pak Adrian berasap.
"Aaahh!! Lepaskan..!!"
Monster besar itu semakin tersenyum.
Krak!
"Aaahh!!"
Cengkeramannya semakin kuat hingga terdengar tulang tangannya retak, monster itu langsung melempar Pak Adrian sekuat mungkin hingga membentur dinding itu dengan keras.
Bur...!
"Hok... hok... hah...!"
"Pak!!"
Pak Adrian kesulitan mengangkat dirinya dan menatap aku dengan pandangan kabur.
"Dasar tubuh tua ini! Jika aku bisa lebih mudah sepuluh tahun lagi, maka aku bisa mengalahkan dengan mudah monster itu. Maaf Tuan Peteng, kamu harus berusaha tanpaku."
Mata Pak Adrian langsung tertutup dan tidak bergerak sedikit pun.
"Apa dia pingsan?"
Aku merasa lega sementara ini, sebab aku masih bisa merasakan Mana milik Pak Adrian masih aktif yang berarti dia masih hidup.
Haarrhh...!!
Boom! Boom!
Monster besar itu belum puas menghajarnya, dia langsung berlari ke arah Pak Adrian.
"Sial!"
Aku langsung mengeluarkan kedua belatiku dari inventori.
"Aku sudah mengingat Mana bajingan besar itu..., Pengikat jiwa!"
Chin!
Dalam sekejap aku sudah berada tepat di atas monster itu dalam keadaan melayang dan mengangkat kedua tanganku.
Slash! Slash! Crak!
Aku berhasil menggores lehernya sedalam mungkin dengan belati ini.
[Target terkena efek pasif dari "Belati taring hitam," target mengalami pengurangan 1 poin HP perdetik.]
[Target terkena efek Pasif dari "Belati Taring hitam," target tidak bisa bergerak sama sekali selama dua detik.]
[Target mengalami kerusakan berat berkat dari efek pasif kedua dari "Belati taring putih."]
"Bagus!"
Setelah berhasil mendarat di tanah, aku langsung memanggil Norum keluar.
"Grrgh..! Hoarrrgh...!"
Set!
Set!
Dengan cepat kami berdua langsung maju dan menghadapinya.
Haarrhh...!!
Monster besar itu langsung mengamuk dan menyemburkan semua racunnya ke arah kami, karena efek pasif dari belatiku sudah lenyap sehingga dia bisa bergerak lagi.
Set!
Set!
Kami berhasil menghindari semuanya.
"Norum!"
"Grrgh...!"
"Hoarrrgh...!!"
Seketika Zombie raksasa itu tidak bisa bergerak lagi berkat pasif Norum aktif saat target menatap dirinya yaitu "Insting liar."
"Hoarrrgh...!!"
Set!
Dengan cepat aku langsung maju.
Tapi....
Grrrrh..! Haarrrh!!
"Apa!!"
Bom!!
Tiba-tiba tubuh Zombie besar itu membesar dan meledak seketika, sehingga cairan racun itu mengenaiku.
"Egh! A... hah..., sial! Tak kusangka dia bisa melakukan itu juga!" Sembari berbalik ke belakang. "Syukurlah, Pak Adrian tidak terkena cipratan racun itu."
Sisss...!
"Egh!"
[Kamu terkena racun mematikan, 5% HP-mu akan menghilang setiap detiknya.]
Racun ini membuat tubuhku sulit bergerak dan Norum mencoba memulihkan aku dengan mengorbankan HP-nya, tapi aku meminta dia untuk jangan melakukannya sekarang.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
"Hing...."
Aku langsung memakai skill "Pemulihan instant."
Bring! Bring!
Seketika cahaya putih mengelilingiku dan sangatlah hangat.
"Baiklah, dengan ini aku sudah pulih lagi, tapi...." Sembari melirik ke arah Pak Adrian yang pingsan. "Sebaiknya aku harus cepat menyelesaikan ini."
Dur...!
Seketika dungeon bergetar dan seluruh racun serta gas beracunnya berkumpul menjadi ke tubuh Zombie yang meledak itu.
"Aku pikir sudah selesai sebab dia meledakkan dirinya, karena tidak ada pemberitahuan dari sistem maka... ini masih berlanjut!"
Setelah semuanya terkumpul, seketika monster besar itu bangkit lagi dengan wujud yang sangat berbeda.
"Benar-benar menjijikan!"
"Grrgh..!"
Empat tangan dengan kuku tajam serta kepala tumbuh menjadi dua dengan gigi-gigi tajamnya.
Haarrhh...!!
"Sebenarnya aku ingin memanggil mereka semua (The Arcana), tapi jika mereka muncul maka tempat yang cukup sempit ini akan hancur seketika, jika mereka bertarung secara agresif."
Haarrhh...!! Srup!
Seketika monster besar itu menyemburkan racun secara bertubi-tubi.
Set!
Set!
Aku dan Norum berhasil menghindarinya terus menerus.
"Menyebalkan juga ya!"
Aku meminta Norum mundur dan menjaga pak Adrian di sana. Norum menurutinya dan langsung menuju ke arah Pak Adrian.
"Baiklah, saatnya mempersingkat waktunya!" Sembari menatap tajam Zombie besar itu.
Set!
Dengan cepat aku langsung berlari ke arahnya.
__ADS_1
Haarrhh...!! Srup!
Set! Set!
Aku berhasil menghindarinya dan langsung menggunakan skill "Jalan bayangan."
Hah?
Monster itu langsung kebingungan dan mencari keberadaanku.
"Aku ingin mencoba ini...."
Aku menggunakan skill "Pemilik Sejati" untuk mengeluarkan tangan tak terlihat, dan tangan itu tiba-tiba muncul di belakang punggungku berwarna hitam.
"Hanya dua, apa cuma ini batasku mengeluarkannya?"
Aku langsung mengarahkan tangan-tangan hitam itu ke kaki monster itu.
Hap!
"Jatuhlah!!"
Gedebur!!
Aku memunculkan kembali keberadaanku dan langsung menggunakan skill "Pengondisian."
[Kamu mendapatkan buff, seluruh STR, AGI, dan VIT meningkat 20% dalam kurung waktu enam menit.]
"Saatnya mengakhiri ini!"
Set!
Slash! Slash! Slash! Crak!
Tiga tangannya berhasil terpotong.
Haarrhh...!!
Zombie besar itu ingin meledakkan dirinya lagi dan tampak tubuhnya semakin mengembung.
Set!
Aku langsung menggunakan tangan tak terlihatku dan mencengkeram dengan erat kedua kepalanya, lalu menghantamkannya ke tanah sekuat.
"Jangan harap kamu bisa melakukan itu lagi!" Ucapku yang berdiri tepat di hadapannya
Slash! Crak!
Slash! Crak!
Klotak! Klotak!
Seketika kedua kepalanya lepas dari tubuhnya dan terlempar cukup jauh.
[Kamu berhasil mengalahkan boss dungeon " King Zombie - The lord of the graves".]
[Level up.]
[Level up.]
[Level up.]
"Aku naik tiga level sekaligus..., hm?!"
Tiba-tiba sekumpulan Mana berkumpul ke mayat zombie itu.
"Jangan bilang ini lagi...."
[Dia telah memenuhi syarat untuk menjadi The Arcana-mu.]
"Sudah kuduga." Aku langsung menatap tubuhnya. "Kalau begitu... aku menerimamu melayaniku."
Seperti biasa Mana yang mengelilinginya barusan tiba-tiba masuk ke dalam diriku, dan seketika aku merasakan dingin di dalam tubuhku.
[Kamu telah berhasil mengikat jiwa tersesat, sekarang jiwa mereka telah menyatu dengan jiwamu.]
Tiba-tiba dia bangkit dan langsung menundukkan dirinya kepadaku.
[Sekarang kamu boleh memberikan dia nama.]
Dur....
"Aku rasa sebaiknya keluar dari sini secepat mungkin."
Aku menatap Zombie itu masih menundukkan badannya.
"Masuklah dulu, nanti aku akan memberikanmu nama."
Seketika dia menghilang dan langsung masuk ke tubuhku.
Aku langsung berlari ke arah Pak Adrian.
"Norum, istirahatlah, biar aku membawanya keluar dari sini."
"Grrrgh...."
Norum langsung menghilang dan masuk ke tubuhku, sedangkan aku menggendong pak Adrian ke punggungku.
"Kumohon bertahanlah Pak, kita akan keluar dari sini."
Set!
Aku langsung berlari secepat mungkin.
...•••...
Saat di luar dungeon....
"Zara, kamu yakin Pak Adrian akan baik-baik saja dengan bocah itu?"
Sekumpulan orang-orang Terbangkitkan berkumpul dengan perlengkapan pemburunya.
"Itu...." Tampak gadis kacamata ini ragu-ragu memberitahukannya. "Pak Adrian memintaku untuk tutup mulut mengenai kemampuan Arkha, aku tidak tahu alasannya tapi... dia benar-benar sangat serius memintanya."
"Semuanya, lihat!"
Semua orang langsung tertuju ke arah portalnya.
"Portalnya..., portalnya mulai menghilang!"
Mereka semakin terkejut lagi, sebab seseorang telah keluar dari portal itu sembari menggendong orang di punggungnya.
"Lihat! Itu... Pak Adrian!"
"Tidak mungkin..., Pak!"
Semua orang yang mengenal orang tua ini, langsung berlari menuju pemuda yang menggendong ketua mereka.
"Kamu... apa yang kamu lakukan kepada Ketua kami, hah?!"
Semuanya melemparkan tatapan yang sangat tajam ke pemuda ini.
"Dari pada menuduhku, lebih baik kalian memberikan pertolongan dengan cepat kepadanya, dia sangat sekarat sekarang."
"Apa kamu bilang!!"
Pemuda itu mengucapkan itu dengan tenang dan menghiraukan tatapan mereka.
"Semuanya tenanglah! Sebaiknya kita menolong Ketua sekarang!"
Seorang gadis berkacamata berhasil menenangkan mereka, dan seluruh anggotanya langsung mengangkat ketua mereka ke ambulans yang sudah disiapkan untuk menuju rumah sakit secepat mungkin.
"Zara, Adik-Adikku sekarang ada di mana?"
"Eh! Mereka langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulans."
"Begitu ya, terima kasih."
Pemuda itu langsung berjalan begitu saja.
"Seharusnya kami yang berterima kasih padamu, kalau tidak... semua anak-anak ini akan...."
"Tidak, aku melakukan ini hanya untuk melindungi Adik-Adikku dan kebetulan saja kalian ada di sana membantu, jadi... ini hanya saling memberikan keuntungan masing-masing."
Pemuda itu melanjutkan jalannya dan meninggalkan semua yang ada di sini.
"Dia benar-benar sangat berbeda."
Sembari berjalan pemuda ini melihat banyak orang tua menangis beserta keluarganya, tampak mereka adalah keluarga dari anak-anak yang di tumbalkan oleh para bandit itu.
"Aku tak ingin terlalu berurusan dengan mereka, sebab aku sendiri belum menyadari kemampuanku ini yang sebenarnya."
__ADS_1