Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 106


__ADS_3

Aku benar-benar terkejut melihat tampilan dari anak muda bernama Arjuna ini. Kharisma, gestur tubuh dan bahkan wajahnya pun berubah drastis, banyak wanita melirik kegagahannya.


Hanya saja, tampak Arjuna acuh tak acuh dengan semua orang memandangi, apa yang diucapkan orang-orang tentang dirinya dan banyak dari mereka juga sangat iri akan sosok yang dipandang sempurna ini.


"Kalau dia pendahuluku, berarti dia menjadi Heredis berikutnya saat dirinya mencapai jurang kematian?"


"Itu benar. Di saat sekitarnya sudah tak ada rasa 'manusia'-nya kepada Arjuna, maka saat itulah 'Dia' datang untuk memberikan kesempatan padanya sekaligus menunjukkan bahwa bagaimana anak-anak yang dicintainya menunjukkan sosok 'manusia' yang diinginkan oleh 'Dia'."


Arjuna menuju sebuah ladang rumput, angin sepoi-sepoi lembut menerpa dan membuat rumput-rumput serta dedaunan pohon menari. Arjuna memandangi sekitarnya dan dia tersenyum tipis, menikmati udara ini.


"Ini baru namanya hidup."


Ia berjalan ke arah sebuah batu besar dan menggambar sebuah lingkaran di batu itu. Setelah selesai, ia mengambil sebuah panah serta beberapa anak busur.


Syut!


Piuh! Piuh!


Tab...! Tab...!


Dua tembakan beruntun dan semuanya tepat sasaran. Arjuna terus melakukan latihannya itu, ia hanya fokus memandangi satu titik, hanya memandangi lingkaran yang di gambarnya itu.


"Apa ini salah satu rutinitas kesehariannya?"


"Iya. Kan orang juga butuh namanya ketenangan diri. Dan mungkin memanah salah satunya."


Itu benar. Hobi bisa menjadi salah satu obat penenang jiwa dikala gelisah atau pun sesuatu membuat hati merasa tidak tenang.


Setelah beberapa tembakan anak panah, muncul seorang kakek yang sangat tua, dia berjalan dengan tiga kaki dan tubuh membungkuk. Tampak ia sedikit kesulitan berjalan, tapi hal ini membuatnya bersemangat juga karena melihat orang di depannya.


"Sudah kuduga kamu di sini, Nak."


Seketika latihannya dihentikan saat mendengar suara yang sangat akrab itu.


"Guru."


Arjuna langsung menghampiri sang guru sembari meletakkan alat latihannya itu dan menunduk sembari menyentuh kedua kaki gurunya itu.


"Panjang umur," kata guru.


Setelah itu Arjuna bangkit dan bertanya kepada gurunya :


"Guru..."


"Iya, Anakku?"


"Menurut Guru, orang hebat... bukan, orang paling hebat itu seperti apa?"


"Orang paling hebat ya..."


Sang guru berjalan ke arah sebuah batu rendah dan dibantu Arjuna menuju ke batu itu dan duduk di atasnya lalu Arjuna di bawah bersama rumput-rumput.


"Orang paling hebat itu... orang yang telah dianugerahkan oleh Dewa."


"Dewa..."


Arjuna langsung memandang langit biru di atasnya dan membuatnya berpikir sejenak. Menurutnya hal dikatakan gurunya tidak salah, hanya saja... ia masih merasa janggal menurutnya.


"Jika orang itu adalah hasil dari anugerah Dewa, maka orang seperti mereka seharusnya membuat dunia ini damai. Tapi, kenapa kebanyakan yang kulihat ini justru sebaliknya..." Arjuna membelai rumput-rumput sekitarnya dengan lembut dan sang guru masih memperhatikan dirinya. "Justru aku melihat orang-orang seperti mereka tidak damai sekali, terutama di hatinya. Jika anugerah itu diperuntukan untuk dirinya seharusnya mereka bahagia, tapi anugerah mereka terima justru hanya diperuntukan sekitarnya dan membuat dirinya menderita... sendirian."


Sang guru mengerti apa yang dimaksud Arjuna dan memberikan jawaban apa yang dipikirannya.


"Itu tidak salah, tapi terlalu dangkal."


Arjuna terkejut dan sang guru melanjutkannya :


"Ini bukan tentang mengenai anugerah mereka terima. Tapi melainkan bagaimana mereka memperlakukan anugerah itu untuk dirinya sendiri..." Sang guru mengangkat tangannya dan menunjukkan jari telunjuk dan tengah lalu mendekatkan kedua jari itu satu sama lain.


"Apa kamu pernah memikirkan apa yang menyebabkan orang-orang hebat bisa jatuh?"


Arjuna menggelengkan kepalanya dan sang guru menjawabnya :


"Itu karena perasaannya."


"Perasaan?"


"Penyebab yang mendasari mereka tidak bahagia sama sekali adalah karena perasaan mereka yang selalu dihubungkan dengan penderitaan orang-orang sekitarnya, sehingga mereka mengabaikan apa yang selalu pantas mereka rasakan atau inginkan untuk dirinya sendiri. Melihat penderitaan di hadapan kita wajar saja untuk merasa kasihan, karena itu adalah kebaikan yang mengagumkan. Tapi..."


Sang guru diam sejenak dan menundukkan kepalanya sementara, seolah-olah dia pun merasakan apa yang orang-orang yang dia sebut.


"Rasa iba mungkin membantu orang lain, tapi tidak untuk dirimu. Dalam kasus mereka mungkin memaksa dirinya melakukan itu karena diberi 'kepercayaan' oleh sang Dewa, sehingga mendorong rasa empatinya semakin kuat. Semakin kita berempati maka semakin kuat pula diri ini, hanya saja... semakin keras pula hal itu akan memukul dirimu. Jadi itulah sekarang kebanyakan orang-orang hebat tidak bahagia karena mereka meragukan perasaan untuk dirinya sendiri dan menganggap perasaan seperti itu... egois."


Arjuna mendengar itu dan mengingatkan dirinya yang dulu, naif dan terlalu baik pada sekitarnya. Dan sekarang semua kebaikan ia lakukan dulu malahan sudah seperti racun yang sulit dihilangkan lagi dalam dirinya.


Mendengar itu juga entah kenapa aku juga mulai tersentuh. Semua tindakan kita ini apakah sangat berarti bagi orang-orang sekitar kita atau hanya untuk diri ini saja? Semua itu masih hal membingungkan bagiku.


"Kalau saja mereka bisa memahami... bukan, mungkin lebih tepatnya mereka tak ingin memahaminya."


"Maksud Guru?"


"Mereka mengabaikan apa yang mereka Pandang dan Dengar. Padahal 'kebenaran' akan selalu duluan menghampiri Pandangan dan Pendengaran, di saat 'kebenaran' sampai ke Perasaan maka semua apa yang di Pandang dan di Dengar akan terabaikan. Maka 'kebenaran' sudah menjadi abu-abu (keraguan) dalam dirinya. Padahal semua yang dilihat oleh Pemandangan bahwa orang itu berbohong tapi tetap saja mereka percayai, semua yang di dengar oleh Pendengaran bahwa semua fitnah dan hinaan telah tersebar di belakangnya tapi semua hal ditutupi hanya demi sebuah hubungan. Itu karena Perasaan yang menjadi tiang utama dirinya dan berusaha memahami seperti apa Perasaan ini."


Aku terkejut apa yang disampaikan guru dari Arjuna ini, ini sama persis apa yang disampaikan Sadu kepadaku.


"Apa semua sifat Pertapa seperti ini ya?" Pikirku.


"Apa yang terjadi jika orang memahami ketiga hal ini?" Tanya Arjuna.


"Maka dia sudah menjadi 'manusia' sesungguhnya."


Arjuna terbelalak mendengar itu, seperti cahaya telah berhasil masuk ke dalam dirinya yang telah menyinari dirinya.


Bing!!


Tiba-tiba muncul cahaya menyilaukan dan membawaku ke tempat baru lagi.


"Tempat ini..."


Aku melihat istana besar dan megah, ada banyak penjaga dan pelayanan.


"Apa semua ini milik Arjuna?"


"Bukan. Tapi di sinilah awal mulai jalan 'manusia' ditempuh bersama seseorang."


"Seseorang?"


"Mungkin lebih tepatnya sahabat."


Sadu berjalan ke arah sebuah kamar dan saat kami masuk, aku terkagum melihat kemewahan kamar ini. Tidak terbesit bahwa kamar istana akan selalu semegah ini setiap negara mana pun.


Sesaat pandangan kami teralihkan ke seseorang yang santai duduk sembari menikmati buah-buahan. Saat kami mendekat lagi, aku cukup terkejut melihat hal ini. Ternyata orang yang menikmati buah-buahan ini ternyata Arjuna, tampak wajahnya mulai semakin dewasa dan tubuhnya semakin kekar.


"Menurutmu apa yang bisa membuat orang-orang bahagia?"


"Hah? Itu..." aku berusaha memikirkan jawabannya, tampaknya jawaban kutemukan sangatlah mendasar sekali. "Status tinggi, baju terbaik, makanan enak, pendidikan hebat dan... tempat tinggal yang nyaman."


Sadu hanya bisa tersenyum mendengar itu dan menganggap jawabanku itu sudah sangat wajar.


"Itu benar. Hal-hal kecil seperti itu bisa membuat orang-orang bahagia juga. Tapi untuk orang-orang memegang predikat 'manusia' apa akan bahagia dengan hal seperti itu?"


"..."


Aku bingung karena tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.


"Cih!"


Tiba-tiba perhatian kami teralihkan ke Arjuna yang tampak kesal dan langsung berdiri dari kursi nyamannya itu.


"Kalau bukan karena kemurahan hati berlebihan ini, mungkin aku tak akan berada di sini. Benar-benar menyebalkan!"

__ADS_1


Heran dan bingung, itu yang kurasakan melihat sikap Arjuna. Semua kemewahan dan kenikmatan justru membuatnya kesal dan marah.


"Kalau aku berada di posisinya mungkin aku tak akan sekesal itu dan malah sebaliknya, aku akan sangat menikmatinya."


"Haha..."


Sadu tertawa mendengar pernyataanku dan aku juga mengerti apa yang kuucapkan ini. Tapi inilah yang kuinginkan dari dulu juga, ingin punya kehidupan nyaman tanpa perlu bersusah payah lagi membeli sesuatu hal.


"Jangan tunjukkan kekesalanmu itu, terutama di kerajaan ini."


Seseorang masuk ke kamar Arjuna dan tampak pakaiannya pun mewah dengan emas dan berbagai perhiasan lainnya.


"Kamu pikir aku akan senang dengan semua ini!"


Arjuna masih kesal dan mengarahkan semua kekesalannya terhadap orang yang telah menyeretnya ke kehidupan nyaman ini.


"Ayolah Kawan, lagian kamu ini sahabatku dan lagi kamu juga beberapa kali telah menolong nyawa bangsawan-bangsawan kerajaan. Jadi wajar saja jika hadiah seperti ini diberikan kepadamu, atau jangan-jangan ada hadiah kamu inginkan. Sebutkan saja, kami akan memenuhinya."


Arjuna seketika tenang dan menampakkan wajah datar yang awalnya marah sekarang sedingin es ekspresinya.


"Jujur saja, aku muak mendengar kesombongan kalian."


"...!"


Tampak sahabatnya ini terkejut mendengarnya dan Arjuna mengangkat tangannya dan menunjuk langit.


"Kau bilang bisa memenuhi semua keinginanku. Kalau begitu, aku hanya ingin yang ini saja."


Sahabatnya mengikuti arah telunjuknya itu dan memandang langit biru itu.


"Langit? Sebaiknya kamu meminta yang masuk akal deh."


Mendengar itu, seketika tangan Arjuna diturunkan dan berkata :


"Katanya bisa memenuhi apa pun keinginanku."


Sahabatnya hanya bisa menghela napas dan menganggap hal ini hanya lelucon saja dari temannya ini.


"Kamu tahu kan, kami ini bukan Dewa. Jadi ada batas-batasan tertentu yang tidak bisa dilampaui manusia seperti kita."


"Manusia..."


"Kenapa?"


"Tidak, bukan apa-apa." Arjuna langsung mengarahkan pandangannya ke arah balkon dan melihat pemandangan sangat luas ini. Rumah-rumah serta berbagai macam orang lalu lalang di bawah sana. "Hei Indra, menurutmu apa kita ini benar-benar 'manusia'. 'Manusia' yang diinginkan oleh sang Dewa."


Indra pun tidak tahu apa yang dimaksud Arjuna tapi dia berusaha memberikan jawaban apa yang menurutnya saja.


"Tentu saja kita ini 'manusia' yang diinginkan oleh Dewa."


"Kalau kita memang 'manusia', lalu kenapa Dewa membiarkan sesama 'manusia' saling menghancurkan dan itu seolah-olah Dewa tidak menginginkan keberadaan kita sama sekali."


Indra maju dan menepuk pundak sahabatnya ini dan memandang dari atas balkon ini.


"Kamu tahu apa yang membuat dunia ini berwarna yaitu... perbedaan." Setelah itu ia menurunkan tangannya dan melanjutkan apa yang diucapnya. "Jika menurutmu 'manusia' bukan seperti itu, maka hanya Dewa yang tahu seperti apa 'manusia' itu yang diinginkannya."


Arjuna tersenyum mendengar itu dan menarik napas beberapa kali demi menenangkan jiwanya segenap.


"Baiklah, soal keinginanku aku kamu memberikan sesuatu yang bisa dicapai orang, tapi hanya segelintir saja orang-orang yang bisa mendapatkannya karena sangat sulit didapatkan."


"Dan apa itu?"


"Cahaya."


Indra berusaha memahami keinginan kawannya itu dan seketika dia menemukan maksudnya.


"Oh jadi kamu ingin Pencerahan?"


Arjuna hanya tersenyum dan mengisyaratkan bahwa itu benar.


"Baiklah, ikut aku ke kuil. Mungkin Pendeta bisa membantumu menemukan Pencerahan."


"Jadi Pencerahan macam apa yang kamu inginkan?"


"Mungkin..." Arjuna sekali lagi melihat langit. Awan-awan berkumpul jadi satu, segerombolan burung terbang bersama ke angkasa, cahaya matahari yang hangat menghidupi bumi dan udara yang tak terlihat tapi bisa dirasakan oleh kulit ini. "Yang kuinginkan hanyalah memahami dunia ini seperti apa diciptakan dan apa tujuannya."


Indra terkejut mendengar itu dan seketika pandangannya kosong. Pengetahuan asing tiba-tiba masuk begitu saja ke kepalanya.


"Indra?" Arjuna memanggil kawannya itu, tapi dia tidak merespon dan segera melihatnya. "Hei Kawan, kamu tidak apa-apa kan?"


Arjuna terus memanggilnya, tapi Indra masih terdiam dengan tatapan kosongnya.


"Buddhi... Manah... Ahamkara..."


Arjuna keheranan mendengar itu dan berusaha menyadarkan kawannya itu.


"Hei sadarlah, Indra!"


"Eh?" Tiba-tiba tatapannya kembali normal dan tampak kebingungan sikap Arjuna yang tampak khawatir ini. "Apa aku melakukan sesuatu?"


"Iya, kamu tiba-tiba melamun tadi dan mengatakan yang hal aneh tadi."


Mendengar itu membuat Indra tidak terkejut sama sekali, seolah-olah dia sudah tahu apa yang diucapkan barusan itu.


"Begitu ya, tampaknya aku kelelahan belakangan ini karena urusan kerajaan." Indra masih terus memikirkan apa yang dilihatnya barusan. "Tadi itu apa? Apa ini semacam yang disebut Pencerahan?"


Indra merasa yakin bahwa yang dilihatnya itu adalah Pencerahan untuknya. Dan Pencerahan-nya itu membimbing dia untuk selalu mengikuti Arjuna.


Setelah obrolan itu, Indra meninggalkan kamar ini dan segera mengistirahatkan tubuhnya karena merasa lelah.


"Apa yang terjadi barusan. Kenapa orang itu tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosongnya."


"Dia telah mendapatkan Pencerahan-nya."


"Jadi setiap orang memiliki Pencerahan berbeda-beda?"


Sadu mengangguk bahwa katanya Pencerahan tidak jauh dari satu makna kehidupan yaitu memperbaiki. Setiap makhluk punya perannya masing-masing dan ada pun satu makhluk hidup dengan Atma-nya yang besar memiliki banyak peran dan hanya sedikit dari mereka mengambil peran 'manusia' yang diharapkan sang Pencipta.


Tlak!


Bing!


Kali ini Sadu membawaku ke tempat lain lagi, tampak banyak merayakan semacam festival. Terlihat para warga kerajaan sangat senang dan bersuka cita merayakannya.


"Mereka merayakan apa sih?"


"Ada sebuah festival yang diadakan setiap tahunnya, festival ini bertujuan mengucapkan rasa syukur mereka atas Dewa yang telah memberikan mereka panen berlimpah."


Terlihat para warga antusias, hanya saja membuatku terheran-heran mereka melempar gandum, susu, telur dan berbagai makanan pokok sebagai mainan, layaknya anak kecil yang suka melempar bola air temannya saat bermain.


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi atas pemborosan bahan pokok ini. Kami berjalan ke arah sebuah penginapan mewah dan tampak di sebuah ruangan khusus, terlihat di sana ada Indra dan Arjuna menikmati hidangan mereka.


"Tumben kamu tidak turun merayakan festival. Biasanya kamu paling antusias akan hal ini."


"Aku ini seorang Pangerang, aku harus menunjukkan sikapku sebagai bangsawan kerajaan yang sesungguhnya."


Walau terdengar seperti itu, Arjuna merasa kawannya ini telah berubah semenjak perbincangan mereka beberapa waktu lalu.


"Bukankah ini sangat menyebalkan."


"Hm?"


"Mereka membuang-buang bahan pokok yang seharusnya dinikmati dan disimpang untuk ke depannya. Kita tidak tahu kapan akan datang musim paceklik yang akan merusak semua ladang nanti."


Arjuna sedikit terkejut mendengar itu, biasanya dia yang seharusnya berkata seperti itu. Tapi kali ini kawannya tampaknya mulai sejalan pikiran dengannya. Hal ini sudah dia katakan berapa kali tindakan festival ini sangat boros dan merugikan kerajaan juga, tapi hal ini tidak digubris oleh Indra dulunya.


"Akhirnya kamu paham kan, betapa pentingnya makanan itu. Seberapa subur pun hasil panen ini, belum menutup kemungkinan masa jaya itu bisa bertahan lama."


"Kamu benar."

__ADS_1


Indra masih menikmati hidangannya, hanya saja tampak dia kurang semangat menikmatinya. Seperti ada yang mengganjal pikirannya selama ini.


"Arjuna..."


"Iya?"


"Apa kamu ingin pergi mencari Pencerahan?"


Mendengar itu membuat Arjuna hampir tersedak biji jagung dan segera mengambil segelas air untuk diminum. Ia tak menyangka mendengar pertanyaan itu dari sahabatnya ini.


"Itu benar. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini."


Mendengar jawaban itu, Indra menghentikan menikmati hidangannya dan berkata :


"Kalau begitu, aku ikut bersamamu."


Sebuah pernyataan tak terduga dari Indra, dan tentu saja membuat Arjuna terkejut mendengar.


"Bentar, bentar. Kamu ingin ikut denganku?"


"Iya."


"Kamu ini keluarga kerajaan. Kalau kamu ikut denganku, bisa-bisa kepalaku dipenggal oleh ayahmu karena mengira aku telah menculikmu."


Indra tertawa mendengarnya dan membulatkan tekadnya akan ikut bersama Arjuna ke mana pun pergi. Arjuna sudah tak bisa menahannya dan menurutnya tidak ada buruknya ada seseorang menemaninya selama perjalanan.


"Baiklah. Tapi, perjalananku ini tanpa tujuan, aku akan pergi ke mana pun yang kuinginkan. Mengerti?"


"Iya, iya, aku mengerti kok."


Tlak!


Bing!


Setelah beberapa waktu berlalu, Sadu membawaku lagi ke suatu tempat asing lagi. Aku melihat Indra dan Arjuna dengan pakaian biasa, sedang bersantai di bawah pohon rindang. Tampak mereka sedang ngobrol-ngobrol masa-masa perjalanan mereka.


"Apa kamu ingat saat upacara pemakaman raja utara?" Tanya Indra.


"Iya, lalu?" Jawab Arjuna.


Mereka mengobrol kan tentang suatu raja yang telah meninggal dan mayatnya tak segera di makam kan, malah mayat sang penguasa di tempat kan di sebuah altar kuil agar para rakyat bisa melihatnya dan hal itu dilakukan beberapa hari lama.


"Kalau mereka tak segera mengubur mayatnya maka hal jauh lebih buruk bakalan terjadi," ucap Arjuna.


"Kamu benar, aku saja saat mendekati mayatnya, baunya sangat luar biasa busuk. Aku tak tahu sudah berapa lama mereka tak segera menguburnya..."


Hal ini sudah hal wajar bagi kerajaan di sana bagian utara. Katanya ketika sang raja mati, maka seluruh penjuru kerajaan utara berhak melihat tubuh sang raja sebelum di makam kan. Tapi karena letak geografis kerajaan mereka yang mengharuskan beberapa desa sangat jauh dari kerajaan dan butuh beberapa hari bagi rakyatnya menempuh perjalanan menuju kuil istana.


"Jadi itu segera kamu memintaku mendatangi mayatnya dan menaburinya bunga-bunga yang kamu petik di belakang gunung."


"Jika kita tidak melakukan hal itu segera maka wabah penyakit yang belum ada obatnya bakalan muncul," ucap Arjuna.


Seketika Indra bangun dan sedikit terkejut mendengarnya.


"Jadi itu alasannya kamu langsung membakar mayatnya. Kamu tahu kan, tindakanmu itu justru membuat kita jadi buronan kelas tinggi kerajaan."


Tampak wajah Arjuna tak mempedulikan hal itu dan menjawab :


"Biarin saja. Itu juga kulakukan demi kebaikan mereka juga."


Indra hanya bisa menghela napasnya dan sulit menebak pikiran sahabatnya ini. Tapi menurutnya hal dilakukan Arjuna sudah masuk akal.


Lalu mereka melanjutkan obrolannya mengenai pertapa tua yang menyiksa dirinya beberapa dengan tidak makan dan minum, katanya itu dilakukan agar bisa mendapatkan Pencerahan.


"Mana ada namanya Pencerahan jika melalui cara menyiksa seperti itu," kata Arjuna.


"Jadi menurutmu Pencerahan itu harus seperti apa?" Tanya Indra. "Katamu kita harus mendapatkan Pencerahan melalui jalan tersulit dulu."


Arjuna menghela napasnya dan berkata :


"Pencerahan itu..." sembari menatap langit yang biru, awan-awan bergerak seperti sungai. Dan angin sejuk membuat rumput ini terus bergoyang. "Aku pun tidak tahu. Tapi... menurutku Pencerahan itu tidak harus melalui dengan cara menyiksa dirimu setiap harinya."


Indra paham maksud Arjuna bahwasanya segala sesuatu yang ingin di dapatkan tidak harus melalui dengan cara menyiksa diri sendiri. Itu sama saja pembodohan dan tidak ada bedanya dengan orang yang berjalan di atas bara api yang panas tanpa alas kaki.


Lalu mereka melanjutkan obrolannya dan membahas mengenai sebuah desa yang mengalami kekeringan dan harus melakukan pengorbanan terhadap anak kecil yang polos.


"Sungguh... mereka sangat bodoh sekali," kata Arjuna yang menampakkan wajah kekesalannya.


"Bukankah hal itu sudah sangat wajar, apalagi terutama pengorbanan untuk sang Dewa," ucap Indra.


Seketika tatapan Arjuna mengarah ke Indra dan tatapannya itu menunjukkan kekesalan, bukan kesal dari ucapannya kawannya tapi mengenai tindakan bodoh orang-orang itu.


"Dunia serta seluruh isinya diciptakan oleh siapa?" Tanya Arjuna.


"Tentu saja Dewa, siapa kalau bukan dia?"


"Lalu, pengorbanan itu untuk siapa?"


"Tentu saja untuk--" seketika ucapan Indra terhenti dan teringat apa maksud pertanyaan sahabatnya ini. "Jadi itu maksudmu ya."


"Akhirnya kamu paham juga." Arjuna bangun dari tidurnya dan bersandar pada pohon di belakangnya. "Dewa telah menciptakan seluruhnya dengan sempurna di dunia. Tapi, jika pengorbanan diperuntukkan untuk Dewa, maka sama saja bahwasanya Dewa yang menciptakan semuanya ini tidak lebih hanya sekedar hewan buas yang kelaparan. Untuk apa Dewa menginginkan pengorbanan makhluk hidupnya jika dirinya saja bisa melakukan lebih dari itu."


Indra sedikit memikirkan perkataan temannya itu.


"Jika Dewa tidak menginginkan semacam pengorbanan, maka apa yang diinginkan sang Dewa dari kita atas penciptaan ini?"


Arjuna tersenyum dan berkata :


"Maka dari itu kita mencari Pencerahan, agar semuanya jelas bagi jiwa ini." Sembari bangkit dan mengulurkan tangannya ke sahabatnya.


Indra hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum dan menerima uluran tangan sahabatnya itu. Mereka berdua pun pergi ke suatu tempat lagi demi mencari Pencerahan mereka.


Aku dan Sadu masih memandangi punggung mereka yang telah menjauh.


"Dari sini apa kamu sudah paham?"


Tiba-tiba Sadu bertanya kepadaku dan aku pun menjawabnya :


"Hanya untuk beberapa hal."


"Begitu ya. Jadi... menurutmu, apa alasan menciptakan semua hal ini?"


Aku pun masih memikirkan jawaban itu, jika aku menjawab melindungi maka hal itu juga benar. Tapi, kayaknya itu bukan jawaban yang diharapkan Sadu dan aku pun menggelengkan kepala dan Sadu menjawabnya :


"Yang diinginkan sang Dewa dari kita adalah 'kebenaran'."


"Kebenaran?"


"Iya. Dewa hanya ingin kita Memandang dan Mendengar seperti apa itu 'kebenaran' bagi makhluk ciptaannya bernama 'manusia' ini. Semua ciptaan telah siap bagi satu makhluk yang memiliki Atma besar daripada makhluk hidup lainnya yaitu... kita (manusia). Setelah berhasil menciptakan makhluk bernama seperti kita, saat itu belum ada satu pun di antara mereka memegang gelar 'manusia', karena sebab di antara mereka--tindakannya tidak ada bedanya dengan makhluk hidup lainnya. Agar menciptakan variabel besar dalam hidup ini, akhirnya sang Dewa menanam salah satu hal penting dalam hidup ini yaitu Perasaan. Perasaan hampir ada di setiap makhluk ciptaannya. Hanya saja, orang seperti kitalah paling menonjolkan seperti apa itu sebuah Perasaan. Dari sinilah ujian predikat bagi orang yang ingin jadi 'manusia'. Di antara ribuan orang-orang, tidak sedikit dari mereka mengabaikan namanya 'kebenaran', sehingga dampak besar pun terjadi di kehidupan ini. Kebaikan dan kejahatan hanyalah simbolis saja, namun pada akhirnya tidak ada satu pun dari mereka bisa berdiri pada satu jalan. Mereka harus Melihat seperti apa 'kebenaran' itu sendiri, mereka harus Mendengar seperti apa itu 'kebenaran' itu sendiri. Setelah keduanya mereka pahami, maka dari itulah 'kebenaran' sesungguhnya bisa dirasakan oleh Perasaan ini. Setelah semua hal itu telah dilewati, maka tak ada halangan bagimu melangkahkan kakimu di kehidupan ini, itulah yang seharusnya dilakukan 'manusia'."


Aku masih terdiam dan tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tapi, entah kenapa aku mulai sedikit demi sedikit memahami maknanya.


"Jadi 'kebenaran' itu..."


"Iya, ada pada dirimu sendiri. Itulah 'kebenaran' itu sendiri, kamu harus memahami seperti apa dirimu sendiri, lalu sekitarmu dan setelah itu... barulah kamu melangkah lebih jauh untuk memahami seperti apa dunia ini."


Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih pada Sadu dan begitu pun Sadu tersenyum. Tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku.


"Itu semua hanya berlaku bagi orang-orang yang disebut 'manusia'. Tapi bukan orang sepertimu."


Tlak!


Bing!!!


Kali ini cahaya menyilaukan ini jauh lebih bersinar dan sungguh membuat mataku sulit dibuka karena silaunya ini. Tapi, terdengar suara-suara yang mengerikan dan banyak orang berteriak serta suara kehancuran berbagai hal.


Setelah beberapa saat, aku menyesuaikan penglihatanku dan sangat terkejut melihat hal. Ditambah aku sangat marah akan hal ini.


"Apa-apaan semua ini! Kenapa dia tega melakukan semua hal ini... Arjuna!!!"

__ADS_1


__ADS_2