Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 41


__ADS_3

Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Dur....


Set!


Kami semua menghindar dari pijakan raksasanya itu.


Dami langsung menggunakan sihir tanahnya sehingga tanah yang dipijak kedua kuda itu runtuh.


Bur...!


Set!


Kami semua langsung berlari ke arah kedua kuda itu yang kakinya tersangkut di bawah tanah.


Heengah..!!


Salah satu kuda itu tanduknya bercahaya dan tampak dia ingin melakukan serangan balasan kepada kami.


"Norum!"


"Hoarrgh...!"


Norum berusaha menarik perhatian mereka hingga pasif miliknya aktif jika target menatap dirinya.


Seketika kuda yang tanduknya bercahaya tadi tiba-tiba terhenti dan tampak Norum berhasil melakukannya.


Aku langsung mengeluarkan sabitku dan berlari secepat mungkin ke arahnya.


Tapi....


Heengah..!!


Kuda satunya membuat penghalang Mana dan sudah terlihat penghalang itu mulai menutupi di sekitar mereka.


"Tidak secepat itu!"


Syut! Swoosh....


Aku langsung melempar sabitku sekuat mungkin hingga sabit itu berputar dengan cepat, dan terbang dengan cepat ke arah kuda-kuda itu.


Sabitku berhasil memasuki penghalangnya sebelum tertutup sepenuhnya, lalu aku mengangkat satu tanganku untuk mengendalikan sabit itu dari jauh.


Woosh... Woosh....


Sabit itu terbang dan berputar dengan cepat, hingga menuju salah satu kuda itu.


Crak!


Heengah..!!


Kuda yang memasang Barrier itu langsung mengeram kesakitan, sebab salah satu matanya berhasil terkena serangan sabit terbang itu.


Seketika penghalang itu menghilang.


Set!


Set!


Set!


Aku berhasil mendapatkan kembali sabitku. Lalu aku, Norum dan Dani langsung lompat ke arah kuda-kuda itu dan melakukan serangan secara bertubi-tubi ke mereka.


Hap! Slash! Swoosh...!


Slash! Slash! Slash!


"Hoarrgh..!"


Syat! Syat! Syat!


Kami bertiga bergerak sangat cepat hingga seluruh tubuh kedua kuda itu mengalami luka di mana-mana.


"Aaahh..!!"


"Haarrrgh..!!"


Bongsor menggunakan skill "Tak pandang bulunya" yang mana meningkatkan seluruh stats miliknya sebanyak 70%, tapi dia tidak boleh menggunakannya terlalu lama nanti akan memasuki mode mengamuk yang tak kenal lawan atau kawan.


Mereka berdua langsung melayangkan serangan mereka masing-masing, Bongsor dengan dua kapak besarnya dan Frankenstein dengan palu besarnya.


Heengah..!!


Heengah..!!


Tampak kedua kuda ini ingin keluar dari situasi ini.


Tapi....


"Dami!"


Dami langsung memunculkan bola api raksasa sekali lagi, sebelumnya bola apinya miliknya terhisap akibat lubang hitam tadi, sekarang lubang hitam itu menghilang akibat Mana di dalamnya terserap oleh kuda-kuda ini lagi.


Set!


Set!


Set!


"Kalian berdua kembalilah!"


Aku memanggil Bongsor dan Frankenstein kembali kepadaku, Norum dan Dani berhasil menjauh dengan cepat dari kuda-kuda itu sebelum bola api raksasa ini meledakkan kedua kuda ini.


Bom..!!


"Apa itu berhasil melukai mereka?"


Tampak kobaran api besar dan asap api itu berterbangan di langit.


Ding... Ding....


"Kenapa suasananya tiba-tiba jadi aneh?"


Entah kenapa perasaanku jadi aneh, sebab situasinya tiba-tiba sangat hening tanpa terdengar suara sedikit pun.


"Dani...."


Aku meminta Dani saling mengais kedua belatinya itu secara bergantian.


"Eh, tidak ada suara?"


Semuanya semakin aneh, tidak ada tanda-tanda gerbang itu terbuka dan anehnya kedua kuda itu tidak menunjukkan reaksi sedikit pun dari tadi di balik kobaran api itu.


"Hoarrghh..!!"


Norum langsung mendorongku hingga aku menjauh dari pijakanku sebelumnya.


Crak!


Crak!


"Eh?"


"Hing...!"


Tiba-tiba Norum dan Dani tertusuk oleh sesuatu dan tiba-tiba tubuh mereka mengeras.


"Tidak, Kawan!"


Mereka berdua telah menjadi sebuah batu seperti patung.


Wush....


Dami langsung mendorong aku lagi menjauh dari sini dengan sihir anginnya.


"Egh, jangan bilang... kembalilah!"


Dengan cepat Dami menghilang dan kembali ke tubuhku.


Ding....

__ADS_1


"Apa itu?"


Entah kenapa tiba-tiba aku melihat sesuatu samar-samar saat Dami menghilang tadi, dan kayaknya itu yang membuat Norum dan Dani menjadi sebuah patung batu, dan mereka menargetkan kami berdua sekarang.


"Tampaknya para penjaga bajingan itu masih hidup, tapi mereka ada di mana?"


Kayaknya kedua penjaga gerbang itu memakai skill semacam "Stealth," tapi kejanggalan dari skill ini tidak memiliki jeda sama sekali dalam hal menyerang sembari menghilangkan keberadaannya.


Skill "Stealth" yang diketahui memiliki jeda dalam hal keberadaan dalam hal ingin membunuh targetnya, seperti skill "Jalan bayangan" milikku saat ingin menyerang seseorang maka keberadaanku akan terasa sekian detik sebelum menyerang musuh.


"Norum yang memiliki indra lebih peka dariku saja bisa merasakan mereka dan Dami memiliki kepekaan terhadap Mana di sekitarnya, mungkin itu penyebabnya mereka merasakan bahaya dengan cepat."


Ding....


"...?"


Tring!


"Egh! Apaan ini?!"


Karena instingku yang semakin kuat juga, dengan refleks yang sangat cepat membuatku berhasil menahan sesuatu dari depan dengan sabitku, dan membuatku terdorong mundur akibat benturan tiba-tiba itu.


Set! Set!


Aku mundur sejauh mungkin dan berlari dari lokasi itu untuk mengamati situasinya.


"Sial! Apa itu tadi, aku merasakan adanya kehadiran Mana kecil saat membenturkan sabitku ini dengan sesuatu tak terlihat itu."


Karena lantai ini belum selesai ditaklukkan yang berarti para penjaganya belum dikalahkan.


"Saat memanggil Dami kembali, Norum dan Dani tidak menghilang mungkin penyebabnya tubuh mereka jadi batu itu."


Karena terpikir mengeluarkan The Arcana akan merugikanku jika mereka bernasib sama seperti Norum dan Dani nantinya, jadi akhirnya memutuskan melawan mereka sendiri.


Ding....


"Lagi...!"


Dengan cepat aku menahan serangan dadakan tak terlihat itu dengan sabitku.


Crak!


Mereka berhasil melukai salah satu bahuku.


Set! Set!


Aku mundur lagi dan berlari sejauh mungkin lagi, aku merasa hanya terputar di tempat ini dan medan ini dikatakan luas menyebabkan perasaan dejavu muncul.


"Aku hanya kembali ketempat ini sebelumnya atau mungkin tempat ini memang dirancang seperti ini?"


Aku teringat perkataan seorang profesor dari Amerika yang sudah meneliti dimensi di dalam dungeon, bahwasanya dungeon itu seperti sebuah ruangan berbentuk lingkaran sehingga orang yang memasukinya akan terasa seperti pernah mengunjungi tempat tersebut.


Ding....


Crak!


Ting!


Swoosh...!


Aku langsung mengayunkan sabitku ke depan setelah mereka berhasil mengenaiku dengan serangan dadakan itu, instingku semakin kuat setelah melewati banyak rintangan yang membahayakan hidupku.


"Tidak ada apa pun di sini...."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa," sesaat menggunakannya aku tak melihat Mana kecil itu saat menyerangku tadi.


Lalu aku mengarahkan pandangan ke arah Norum dan Dani, tapi tatapanku tiba-tiba tertuju pada kobaran api itu.


"Kenapa apinya belum padam juga?"


Saat menggunakan "Mata Dewa" sekali pun aku tak bisa melihat sesuatu di balik api itu, atau lebih tepatnya penglihatan skill ini tak bisa menembus api itu.


"Aku rasa sihir api milik Dami tak sekuat ini...."


Ding...


Crak!


Crak!


Darah keluar dari tubuhku dan dua tusukan dari depan tepat mengenaiku, terlihat tubuhku mulai mengeras seperti Norum dan Dani.


"Akhirnya aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini..., 'Pemulihan instan!'"


Seluruh lukaku sembuh dan tubuhku tidak ikut mengeras juga.


Set!


Dengan cepat aku langsung berlari dengan cepat ke arah kobaran api besar itu.


Ding....


Karena merasakan bahaya aku langsung menggunakan "Pemilik sejati" untuk memunculkan tangan hitam tak terlihatku ini, lalu menggunakan tangan-tangan ini untuk membuat sabitku terputar di sekitarku dengan cepat menjadikan perlindungan juga.


Ting!


Ting!


"Sudah kuduga, mereka bereaksi sangat cepat jika aku menuju ke arah api itu, yang berarti ada sesuatu dibaliknya."


Ding....


Ting! Ting!


Ting! Ting!


"Sial! Mereka semakin cepat!"


Crak!


Tempo mereka semakin cepat saat aku semakin dekat dengan kobaran api itu, aku terus mendapatkan luka juga karena diserang bertubi-tubi.


"Kalau begini terus aku yang akan tumbang duluan."


Aku langsung menggunakan "Pengondisian" untuk mempercepat langkahku.


Set!


Ding....


Ting! Ting! Crak!


Aku semakin dekat dengan kobaran api itu.


Set!


Aku langsung melompat setinggi mungkin dan mengambil kembali sabitku, kukerahkan semua Mana-ku ke sabit ini dan siap mengayunkannya sekuat mungkin ke kobaran api itu.


"Sudah cukup main-mainnya!"


Swoosh..!!


Gelombang kejut besar yang dialiri Mana, meluncur dengan cepat ke bawah.


Bom..!!


Ledakan besar terjadi akibat gelombang kejut kuberikan dan asap bertebaran di mana-mana.


Tak....


"Hah... hah... apa kali ini aku berhasil?"


Aku sangat kelelahan dan kakiku kesulitan menopang diriku lagi.


Dun....


Tiba-tiba lantai ini bergetar dan pertanda bahwa gerbangnya terbuka yang berarti penjaganya berhasil dikalahkan.


"Fiuh*, akhirnya berakhir juga...."

__ADS_1


"Guk... Hing...."


Norum dan Dani berlari ke arahku, Norum langsung memeluk diriku dan tampak dia merengek-rengek.


"Kamu sangat khawatir ya." Sembari mengelus kepalanya.


Aku melihat Dani menundukkan tubuhnya, tampak dia sangat menyesali ini karena dia tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi majikannya.


"Kamu tak perlu menyesalinya, aku sangat senang kamu sudah ada di sisiku. Tolong ambilkan item yang jatuh di tubuh kuda-kuda itu."


Dani mengangguk dan segera pergi ke arah mayat kedua kuda itu.


"Kendali jiwa..., itulah yang membuatku kerepotan melawan kalian." Aku langsung melirik ke arah kiriku.


Tampak terlihat dua jiwa berbentuk kuda dan merekalah para penjaga itu.


"Terima kasih atas pengalamannya."


Setelah berkata begitu mereka menghilang begitu saja dan Dani kembali sembari membawakan item yang keluar dari tubuh kedua kuda itu.


Aku memasukkan item itu ke inventori.


"Kalian masuklah dulu, aku akan beristirahat sejenak di sini dan tempat ini sangat nyaman untuk istirahat."


Norum dan Dani menghilang lalu masuk ke tubuhku.


Karena sangat kelelahan aku langsung membaringkan tubuh ini ke rumput hijau yang tebal.


Wush....


Angin alam berhembus dengan lembut dan membuat tubuhku merasa ringan secara perlahan-lahan.


Aku mengangkat satu tanganku ke langit dan berkata:


"Aku tidak tahu apa tujuanmu memilihku, tapi... aku sangat berterima kasih atas usahamu ini kepadaku." Sembari mengepalkan tanganku ini. "Aku benar-benar akan menggunakan kekuatan ini untuk diriku saja dan mencari tahu semua kebenarannya, sudah banyak kejanggalan yang kupikirkan selama ini, kecelakaan tunggal yang menyebabkan orang tuaku mati, sistem ini dan penyebab terjadinya 'Insiden terbukanya gerbang neraka' yang membuatku jadi yatim piatu selama lima tahun, sebelum aku diadopsi oleh orang tuaku yang sekarang."


...•••...


...•••...


...•••...


Pukul 00.48


Di sebuah rumah sakit....


Krak... Ngak....


Seseorang mendorong pintu kamar pasien dengan perlahan.


"Susan, apa kabar?"


Seorang wanita dengan kacamata di wajahnya menyapa seseorang di dalam kamar pasien itu.


"Ah, Zara...."


Gadis yang disapa itu langsung bangkit dari duduknya dan segera memeluk teman lamanya itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Susan.


"Aku datang ke sini untuk menjenguk Pak Adrian sekaligus menyelesaikan tugasku yang belum selesai."


"Tugas? Tugas apa?"


"Ya, tugasku ini...." Zara berjalan ke kasur anak kembar itu dan meletakkan tangannya masing-masing di kepala anak kembar itu.


Terlihat dia bergumam, tampak dia merapal kan sesuatu mantra sihir.


Bing...!


Seketika cahaya muncul dari kedua telapak tangannya itu, setelah beberapa menit cahaya itu akhirnya menghilang. Tapi, tiba-tiba wanita kacamata ini terlihat sangat lelah dan langkahnya tertatih-tatih.


Melihat temannya terlihat lelah, dia langsung menghampirinya dan membawa temannya itu duduk di kursi.


"Apa yang kamu lakukan tadi dan itu membuatmu sangat kelelahan?"


"Aku hanya menghapus ingatan mereka yang berkaitan saat mereka berada di dalam dungeon, ini kulakukan untuk membuat anak-anak ini tidak trauma saat menjalani hidupnya dan mengingat mereka masih sangat kecil untuk menghadapi kerasnya hidup ini."


Gadis ini prihatin melihat temannya dan dia juga kagum atas usahanya ini.


"Jadi, kamu juga melakukan hal yang sama pada anak-anak yang terjebak dungeon barusan?"


"Iya, saat di dalam dungeon aku hanya menghapus separuh ingatannya karena saat itu aku terdesak, sekarang aku bisa menghapus seluruh ingatannya berkaitan dengan dalam dungeon itu dan kamu jangan khawatir, aku hanya menghapus ingatannya berkaitan dengan dungeon itu bukan hal lain."


Gadis berkacamata ini menatap temannya itu dengan perasaan sedikit gugup.


Merasa ditatap oleh temannya, dia pun langsung menatap balik dan berkata:


"Apa sesuatu yang ingin kamu katakan?"


"Itu... apa Arkha sudah memberitahukanmu sesuatu?"


"Memberitahukan sesuatu, apa itu?"


Seketika gadis ini terkejut dan terbelalak.


"Jadi belum ya, Pak Adrian memintaku untuk menyembunyikan kemampuan Arkha ini darinya, aku tidak tahu apa alasannya tapi... kupikir juga sebaiknya tidak mengatakannya, biarkan orangnya sendiri memberitahukan semua kebenarannya." Dia langsung bangkit dari kursinya. "Aku hanya ingin mengatakan, bahwa Arkha turun tangan sendiri juga menyelamatkan adik-adiknya itu."


Seketika gadis ini terkejut mendengarnya.


"Eh! Jadi itu penyebab keadaan dia tadi terlihat buruk tadi."


Gadis kacamata ini hanya tersenyum saja lalu berkata lagi:


"Melihat kamu sangat perhatian begitu padanya, apa kamu menyukai dia?"


Mendengar itu seketika pipinya terlihat sedikit memerah dan langsung memalingkan wajahnya dari temannya ini, tidak berkata sedikit pun untuk membalas pertanyaan tersebut.


"Jadi itu jawabannya, yah... sudah sangat jelas, sih."


Wanita kacamata ini langsung berjalan ke arah pintu.


"Eh? Sudah mau kembali?"


"Aku sangat capek dan ingin pulang untuk tidur, kamu juga jangan memaksakan diri begadang."


Gadis itu hanya mengangguk saja dan temannya sudah pergi melalui pintu itu.


"Apa perhatianku ini padanya karena menyukai dia?"


Dia langsung memegang pipinya yang memerah itu dan terasa sangat panas saat memegangnya.


...•••...


...•••...


Di kantor pusat asosiasi biro keamanan....


Terlihat seorang pria tua dan bawahannya sedang membicarakan sesuatu.


"Kamu yakin tidak apa pun di sana?"


"Tidak ada, Pak. Kami sudah mengeceknya lebih dalam lagi dan menggunakan detektor terbaik kami, bahkan bantuan dengan skill sensor seorang Protector Rank-A tidak menemukan apa pun di dalam hutan itu."


"Begitu ya...." Sembari berjalan ke arah jendela.


"Apa Mana yang dirasakan oleh Anda benar-benar sekuat itu? Padahal jaraknya sangat jauh dari sini untuk dirasakan, apalagi aku yang paling dekat dengan tempat kejadian tidak merasakan apa pun dari dalam hutan itu."


Mendengar itu pria tua ini sedikit terkejut.


"Jadi ini bukan tekanan Mana biasa, berarti ada kaitannya dengan 'Mereka' lagi," pikir pria tua itu. "Mungkin aku sudah sangat tua, sehingga mengira ada dungeon rank tinggi di sana."


"Tapi, Master, Mana yang Anda rasakan mungkin tidak salah, sebab kantor cabang dari guild Si jago merah yang dipimpin oleh Rian kasim, mengatakan bahwa detektor mereka melacak energi sihir tak terhitung jumlahnya dari dalam hutan itu juga."


"Karena bukti masih samar-samar, mungkin ini Hidden dungeon rank tinggi. Sebaiknya kamu melakukan penutupan di sekitar lokasi hutan itu, demi jaga-jaga jika benar-benar ada dungeon di sana yang mengalami retakan."


"Siap, Pak!"


Pria mudah berjas hitam dengan kacamata hitam, langsung pergi meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


"Sudah bertahun-tahun aku melarikan diri dari 'Tempat itu' dan memalsukan identitasku yang sekarang, ini kulakukan atas permintaan 'Sang Pemimpin' untuk menjaga diri ini sebaik mungkin agar orang yang dimaksud datang kepadaku membawa harapan kami semua."


__ADS_2