
"KYAAA!!!"
"Semuanya cepat bersiap!!"
Teriakan Pak Adrian membuat semuanya tersadar dan segera mengambil tindakan siaga, dan aku menggenggam erat tangan Susan.
BOOM! BOOM!
Langkah demi langkah berat dari ketujuh monster itu, seketika darah kami membeku dengan keringat dingin keluar dari kening serta kaki tiba-tiba gemetaran.
BOOM!
GULP!
Aku menarik nafas dalam-dalam dan Pak Adrian sudah siap dengan aba-abanya:
"Sekarang!"
Seketika kami semua terpecah segala arah, kami hanya lari dan mengitari setiap monster itu.
"AAAAHHH!!!"
Teriakan sudah memenuhi tempat ini kematian, kesedihan dan perjuangan sudah memenuhi semuanya. Lari, lari dan lari itulah yang kami lakukan saat ini.
Aku berlari sembari menggenggam erat tangan Susan, tampak dia mengeluarkan air mata yang banyak, aku tahu saat ini dia menangis dan ketakutan.
BOM!
Suara ledakan terdengar dari belakang, seseorang telah berhasil melancarkan serangannya ke salah satu monster itu, tapi terlihat monster itu tidak bergeming sama sekali.
Monster itu mengangkat salah satu tangannya dan yang dipegang adalah kapak besar, terlihat dia mengayunkannya ke depan.
"Semuanya! Menunduk!"
PUSH!
Sebuah kapak raksasa terbang ke arah kami, karena sinyal darurat barusan aku dan Susan langsung menunduk ke bawah hingga posisi kami seperti bersujud.
Seketika kapak raksasa itu menghantam dinding dungeon dan tertancap di sana, aku mengangkat kepala dan melihat bahwa betapa besarnya benda itu.
"AAAHH!!!"
Tiba-tiba Susan berteriak dan langsung memeluk diriku, betapa terkejutnya aku melihat dua orang berhasil terkena lemparan kapak raksasa itu, tubuhnya terbagi menjadi dua dan darahnya mengalir ke arah kami berdua.
"Sial!"
Aku hanya bisa mendesis kesal karena tak berdaya mengahadapi situasi ini.
BOOM! BOOM!
"Tuan Peteng! Kalian harus pergi dari sana!"
Teriakan Pak Adrian membuatku tersadar, pemilik dari kapak raksasa ini sedang menuju ke arah aku dan Susan.
"Susan, kita harus pergi dari sini segera."
"Tidak, kamu saja yang pergi..."
"Apa yang kamu katakan?!"
"Aku... aku tidak bisa... hiks...," katanya dengan air mata membasahi kedua pipinya.
Aku berusaha mengamati keadaannya, tampak kakinya sudah tidak kuat lagi berdiri dan lari.
BOOM! BOOM!
Monster itu semakin mendekat.
"Cih...," aku langsung membalik badanku. "Cepat, naik ke punggungku."
"Ta... tapi...."
"Cepat!! Tidak usah banyak bicara! Kita berdua bisa mati di sini!"
Susan tertegun dan langsung naik ke punggungku, aku pun berlari ke arah berlawanan dari monster itu, aku tidak bisa berpikir jernih yang kupikirkan hanya menjauh darinya.
Paru-paru rasanya mau meledak dan kaki mulai terasa sakit, aku tidak akan berhenti karena... aku tak ingin mati sekarang!
TEK!
__ADS_1
Saat berlari aku tersandung sesuatu dan aku menjatuhkan diri dan Susan.
"Argh..! Sial!"
"Arkha... cepat, tinggalkan aku...."
"Bodoh! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Tapi... kakimu... terluka."
Kakiku memang terluka dan terkilir akibat tersandung dan memaksa kaki ini berlari tanpa henti.
BOOM!
Seketika semuanya menjadi gelap dan aku berbalik ke belakang dan ternyata...
"Apa... ini akhir bagiku?"
Sesosok makhluk besar telah berdiri di belakangku dan mengangkat kakinya.
Aku langsung menutup erat kedua mataku.
Dan...
BOOM!
Setelah beberapa saat aku kembali membuka mataku.
"Hah... hah... aku masih hidup..!"
Aku langsung melihat ke arah Susan terlihat ia baik-baik saja, aku pun langsung mengarahkan pandanganku ke depan.
Terlihat monster itu mengambil kapaknya dan berjalan ke arah gerbang tepat di depanku ini, monster itu langsung berdiri di sana bak penjaga gerbang. Ini mengingatkanku pada salah satu cerita fiksi yang terkenal itu yaitu "The Gate Guardian."
"Kalian berdua tidak apa-apa?"
Pak Adrian serta sisa anggota tim menghampiri kami, terlihat beberapa anggota party kami telah dibantai habis-habisan dan hanya menyisakan delapan orang sudah termasuk aku.
"Aku tidak apa-apa, tolong lihat keadaan Susan dulu."
Zara langsung menghampiri Susan yang meringkuk ketakutan di sana, sesaat Zara menepuk dirinya seketika Susan melihat ke arahnya dan langsung memeluknya.
Dia terlihat sangat syok, aku tahu ini memang hal paling mengerikan dalam hidup kami--mimpi buruk yang tak akan terlupakan.
Aku melihat ketujuh monster berdiri dan diam di depan gerbang mereka masing-masing, tampak mereka terlihat seperti patung yang tidak bergerak sedikit pun.
Aku melihat senjata yang mereka bawa ada cambuk, panah, perisai, pedang, lilitan benang ditangannya, tombak, dan yang terakhir kapak. Terlihat mereka punya senjatanya masing-masing untuk membantai kami semua.
"Tuan Peteng, sini mari aku bantu."
Pak Adrian mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Pak, bisa bantu aku sebentar."
"Bantu apa?"
"Tolong, bawa aku ke batu itu," kataku sembari menunjuk batu bertulisan itu.
"Baik."
Pak Adrian membopongku menuju ke sana, sesaat sampai di sana aku melihat seksama lagi tulisan itu untuk memahami apa yang dimaksud tulisan batu ini.
"Apa kamu mengetahui sesuatu, Tuan Peteng?"
"Tidak, aku belum tahu apa pun, tapi aku merasakan ada yang sesuatu dari tulisan ini."
"Awas! Kalian berdua menjauh dari sana cepat!"
PUSH!
Seketika panah melayang ke arah kami, aku langsung mendorong Pak Adrian dan panah besar itu berhasil mengenaiku walau berhasil menghindar. Panah itu mengenai perut bagian kiri sehingga aku kehilangan banyak darah.
"Argh... aaahhh...!!!"
"Tidak..! Arkha!"
Susan langsung berlari ke arahku, dia memaksa dirinya dengan kaki masih sakit.
"Tidak! Kumohon bertahanlah!"
__ADS_1
Dia langsung menggunakan seluruh Mana-nya untuk menyembuhkan diriku walau dia Venandi Rank-A, tapi sebenarnya skill penyembuhan miliknya masihlah tahap awal--masih pemula.
"Sudah... hentikan...."
"Tidak! Kamu jangan bicara!"
Dia berusaha terus menyembuhkanku dengan air mata terus membasahi pipinya.
Tapi, dia sudah mencapai batasannya, darah terus keluar dari hidungnya.
"Susan, hentikan! Bisa-bisa kamu nanti pingsan!"
Zara yang berusaha menghentikannya, tapi dia tidak mau mendengar apa pun.
"Tidak! Aku masih bisa..."
Walau dia berkata begitu, tapi tetap saja sudah tidak sanggup. Seketika Susan muntah darah yang sangat banyak.
"Kumohon... hentikan..."
"Tidak... aku masih... bisa... hoekk..!"
Tampak benar-benar sudah mencapai batasnya dan aku melirik setiap orang yang ada lalu aku meminta tolong ke mereka:
"Tolong, apa kalian... bisa membantuku... bersandar... di batu itu."
Semuanya saling memandang dan hanya mengangguk saja, dua dari mereka mengangkatku secara perlahan dan membawaku ke batu itu untuk bersandar.
Seketika batu itu bersinar.
"Apa! Kenapa ini?"
Semuanya terlihat kaget dan bingung apa yang mereka lihat.
"Sudah kuduga...."
Pak Adrian menyadari apa yang aku gumam kan.
"Tuan Peteng, apa kamu mengetahuinya sekarang?"
"Iya, sekarang... dengarkan apa yang... aku katakan..."
Mereka semua diam dan mendengarkan apa yang akan aku ucap.
"Aku... akan mengorbankan... diriku."
Raut wajah terkejut terpampang jelas dari mereka.
"Tidak!"
"Susan... tolong... jaga... Rena dan Reno."
"Tidak... kamu pasti bisa selamat, jadi kumohon bertahanlah..!"
Tiba-tiba Pak Adrian menepuk pundak Susan.
"Susan, kita jangan menyia-nyiakan usaha, Tuan Peteng."
"Tapi, Pak...."
"Kumohon mengertilah! sekarang dia juga sudah tahu sendiri keadaannya."
Susan mendekap mulutnya dan menggelengkan kepalanya sembari air mata terus mengalir, Zara berada di sampingnya langsung memeluknya.
"Terima... kasih Pak..."
"Tidak, justru kami yang harus berterima kasih, jadi apa yang harus kami lakukan?"
"Kalian...masing-masing... masuklah... ke gerbang itu."
Mereka terkejut dan takut mendekati monster itu lagi.
"Jangan khawatir... kalian... akan baik-baik saja."
"Setelah kita masuk, apa yang kami lakukan?"
"Teteskan darah... kalian di sana... setelah itu... kalian bisa keluar... dari sini."
Mereka hanya mengangguk saja dan setelah itu langsung berpencar menuju gerbang masing-masing. Sedangkan Susan masih diam memaku menatapku yang lagi menyedihkan, Zara yang ada di sampingnya langsung menarik dirinya dan pergi meninggalkanku.
__ADS_1
"Aku tak menyangka berakhir seperti ini. Rena, Reno, maaf, Kakak tidak bisa menepati janji kalian."