
Haaaahh...!!!
Wush...!
Seketika aku merasakan Mana miliknya semakin meningkat dan kuat, seluruh udara dingin yang ada di sekitarnya tersingkir dengan cepat karena tekanan kuat darinya.
Set! Chin!
"...!"
Seketika penjaga lantai itu sudah berada di depanku, gerakan dia semakin cepat dan bertambah kuat.
"Aku tidak bisa menghindari ini!" Pikirku. "Tameng..!!"
Aku memanggil Tameng datang kepadaku dan dengan cepat tubuh Tameng berubah menjadi hitam seperti asap yang berukuran kecil, dan dia langsung muncul tepat di depanku dan menggunakan tubuh mereka menahan serangan dadakan itu.
Tring..! Bush...!
Serangan demi serangan dilancarkan oleh penjaga lantai itu dan membuat Tameng sedikit kewalahan menahannya.
"Mereka bertiga bisa menahan serangannya untuk sementara, tapi setiap serangan yang dilancarkan olehnya semakin kuat...."
Aku memperhatikan dengan seksama penjaga lantai itu, dia menyerang terus menerus tanpa jedah dengan tombak es miliknya itu.
"Aku harus mendapatkan celahnya walau sangat kecil."
Swoosh..! Tring..! Bush...!
Serangannya semakin tajam dan terlihat Tameng mulai tidak kuat menahan serangan berikutnya.
Tapi....
"Aaaahh..!!
Aaaahh..!!
Aaaahh..!!"
Seketika serangan dari penjaga lantai berhasil ditahan dan membuat dirinya mundur sesaat, karena Tameng menggunakan skill miliknya yaitu "Pancasona," skill yang memberikan buff peningkatan pertahanan dan kekuatan.
"Kesempatan!"
Set!
Dengan cepat aku langsung berlari ke arah penjaga lantai itu dan melompat ke arahnya sembari siap mengayunkan sabit besar ini kepadanya.
Akan tetapi....
"...!"
Shut! Piuh!
Dengan cepat penjaga lantai itu langsung melempar tombak es miliknya dengan posisi dalam keadaan sulit bergerak, karena menerima serangannya sendiri karena dipantulkan oleh Tameng.
"Sial... aku tak bisa ke mana-mana karena berada di udara, kalau ada pijakan walau itu kecil aku bisa bergerak menghindarinya...."
Tombak itu semakin mendekat dan hawa dingin dari tombak itu mulai terasa, dan membuat tulang-tulangku sedikit menggigil.
"Tunggu! Pijakan?"
Tiba-tiba aku teringat pernah mengalami situasi seperti ini, saat melawan Centipider yang menyerangku saat berada di udara dan saat itu aku menggunakan Norum sebagai pijakan, tapi kali ini berbeda karena aku sudah punya banyak skill bisa digunakan.
"Cuma skill ini yang terpikirkan di kepalaku...."
Aku langsung menggunakan "Pemilik sejati" dan memunculkan dua tangan hitam tak terlihat dari punggungku, mengarahkan kedua tangan itu ke bawah kakiku.
Tap....
"Baguslah, ternyata ini bisa."
Set!
Push! Piuh!
Aku bisa menghindari dengan cepat serangan tombak melayang itu, ini berkat tangan-tangan tak terlihat ini--karena aku bisa menginjaknya dan lagi... ini membuatku melayang di udara.
"Aku tak menyangka jika skill ini bisa digunakan seperti ini."
Aku melihat ke arah bawah dan terlihat penjaga lantai itu sudah bisa bergerak, dan dia memunculkan kembali tombak esnya itu.
"Aku tidak tahu serangan apa yang bisa melukainya, tapi aku merasa dia bisa dikalahkan dengan serangan terkuat...."
Aku mengamati sekitar dan hanya ada es di mana-mana, itu membuatku sedikit kesulitan karena tak ada sesuatu bisa digunakan di medan ini untuk mengalihkan dia sementara.
"Kalau begitu cuma ini rencana yang kupikirkan." Sembari menatap ke arah Kuyang dan Dami.
Set!
Dengan cepat aku langsung maju menghadapi penjaga lantai itu secara langsung, dan terlihat dia langsung mengarahkan tombaknya kepadaku.
__ADS_1
Swuush..! Tring!
Swoosh..! Tring!
Aku berhasil menahan serangan itu dengan sabit ini dan terjadi pertarungan antar senjata panjang. Terdengar suara yang keras dari benturan kedua senjata kokoh ini, setiap serangannya menciptakan gelombang kejut yang mampu membuat di sekitarnya tersingkirkan.
Swuush..! Tring!
Swoosh..! Tring!
Selang beberapa waktu pertempuran ini berjalan, kami masih saling melancarkan serangan masing-masing. Setiap serangan kami saling menghindari dan menahan, setiap serangannya itu bisa membuat lawannya membeku jika berhasil terkena.
Aku mencoba mengulur waktu walau terkena serangan dia beberapa kali dan itu rasanya sakit sekaligus sangat dingin.
Wush....
Aku merasakan hawa panas tepat di atas kepalaku.
"Sudah waktunya ya...."
Set!
Dengan cepat aku langsung menjauh dari medan pertempuran, aku melihat Kuyang dan Dami telah selesai merapal sihirnya dan di belakang mereka ada Prudens yang memberikan bantuan.
"Sekarang!"
Wush... Bom!
Seketika muncul bola api raksasa tepat di atas kepala penjaga lantai itu dan sesaat juga kepala penjaga lantai itu melihat ke atas, walau dia sangat terlambat menyadarinya.
Set!
Aku langsung maju sembari mengisi sabitku dengan Mana milikku.
Haaaahh..!!
Terlihat penjaga lantai itu tidak mempan atau berhasil menahan serangan bola api sangat panas itu. Dia langsung membekukan di sekitarnya dan hawa dingin semakin menusuk tulang-tulang.
Tapi....
...!
Dia sudah terlambat untuk mendapatkan kesempatannya, karena tepat di belakang lehernya sudah ada sabit malaikat maut siap mencabut nyawanya.
"Sudah berakhir."
Slash! Crak!
Aku berhasil memenggal kepalanya sesaat dia sibuk dengan amarahnya, dan kesempatan sangat kecil ini aku dapatkan karena tak ada rencana lain yang bisa kususun untuk melawan dirinya.
Dun....
Seketika gerbangnya terbuka dan aku merasakan Mana yang kuat dari dalam sana.
"Jika penjaga keenam sekuat ini maka...." Sembari menatap gerbang itu. "Penjaga kali ini sangat merepotkan kayaknya."
Setelah melewati banyak pertempuran, seketika hawa dingin di tempat ini terasa sangat hangat walau es-es ini tidak hilang sama sekali.
"Kurasa aku butuh istirahat seje---"
Deg!
Tiba-tiba kepalaku sangat pusing dan entah kenapa ini muncul lagi seperti waktu itu.
"Sakit kepala ini aku pernah merasakannya dan itu membuatku tidak sadar seketika, dan lagi...." Aku langsung melirik ke arah Dami. "Sesaat tak sadarkan diri tadi, Dami sangat ketakutan melihatku waktu itu. Apa terjadi sesuatu pada diriku saat tak sadarkan diri?"
Aku berpikir jika waktu itu aku melakukan sesuatu selagi tak sadarkan diri, ini seperti aku mengalami kesurupan dan seolah-olah tubuhku diambil alih oleh sesuatu.
"Aku harus istirahat sekarang."
Aku menyandarkan diri di batu es itu, esnya tidak terasa dingin sama sekali dan melainkan rasanya seperti batu biasa pada umumnya.
Setelah bersandar beberapa menit, tanpa sadar aku tertidur dan baru kali ini aku merasakan namanya tidur nyenyak selama aku menerima kekuatan misterius ini.
...•••...
...•••...
...•••...
Di sebuah apartemen...
Tok... Tok... Tok...
Klak... Ngek...
Sesosok wanita membuka pintu dan sedikit terkejut karena yang mengetuk pintunya adalah orang yang sangat ia tidak duga.
"Ah, kita ketemu lagi, Nona."
__ADS_1
"Anda kan ketua Kasim, ada apa ya?"
Terlihat dua orang pria mengunjungi kediaman seorang wanita muda dan tujuan mereka ke sini karena ada alasan membuat mereka harus melakukannya.
"Maaf datang secara tiba-tiba, apa anda tahu di mana Tuan Peteng?" Tanya Rian. "Aku datang ke rumahnya dan tidak siapa pun di sana kata tetangganya, dan kami datang ke sini karena kamu kenal dia."
"Sebenarnya dia pergi lima hari yang lalu."
"Kalau boleh tahu dia pergi ke mana?" Tanya Rama.
"Aku juga tidak tahu dia pergi ke mana, dia langsung pergi begitu saja setelah meminta tolong menjaga adiknya."
"Begitu ya." Rian melihat ke arah dalam dan tampak si kembar lagi asik bermain-main di dalam sana. "Aku pikir kalian ini suami-istri dan si kembar itu kukira anak kalian, tapi kata Tuan Peteng bahwa si kembar adalah adiknya."
Mendengar itu membuat Susan sedikit malu dan tampak dari wajahnya memerah sedikit. Melihat itu membuat kedua pria ini saling tatap dan tampaknya mereka mengerti situasinya.
"Baiklah kalau begitu, kami akan pergi sekarang, maaf mengganggu waktumu," ucap Rian.
Susan mengangguk saja dan segera menutup pintunya kembali. Rama dan Rian segera meninggalkan apartemen ini, dan tampak raut wajah mereka sedikit kecewa.
"Kayaknya kita tidak akan ketemu dia beberapa hari ke depan," ucap Rama.
"Banyak keanehan bagi orang yang memiliki kekuatan misterius," ucap Rian.
"Jadi, kita harus bagaimana Ketua, apa kita terus pergi mencarinya?"
"Tidak perlu," jawab Rian sembari mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya dengan sihir apinya. "Kita akan melakukan pelacakan padanya, dari penggunaan kartu kredit dan debit serta tanda-tanda dia keluar negeri atau kota."
"Hah? Anda bisa melakukan hal itu?"
"Yah, tentu saja bisa, karena guild kita memiliki banyak koneksi, kan."
"Iya juga sih. Jadi, Anda akan melacaknya sekarang?"
Rian mengangguk lalu berkata:
"Kita akan melihat seluruh CCTV yang ada di daerah ini dulu sementara dan ke mana dia pergi."
"Kalau dia menghilang tiba-tiba begitu, apa dia sedang diculik?"
Mendengar itu membuat Rian menganggap itu hanya sebuah candaan di telinganya.
"Kalau ingin menculik dia seharusnya ada Venandi atau Protector kelas tinggi, dan pasti pertempuran penuh kekacauan tak terhindarkan dan pasti ada banyak media menyiarkan pertempuran mereka. Seharusnya kamu lebih tahu kekuatan Tuan Peteng."
Mendengar itu membuat Rama sedikit gemetaran, dia tidak bisa membayangkan pertempuran macam apa yang akan terjadi jika orang sekuat itu bertarung dengan orang rank tinggi lainnya.
"Itu sangat masuk akal, kita harus merekrut dia secepat mungkin sebelum orang lain mengambilnya."
Rama sangat semangat akan hal ini dan itu membuat Rian sedikit tersenyum mendengarnya.
"Ya... kita harus mendapatkannya. Tapi, dia pergi ke mana?"
Kedua pria ini berjalan keluar dari apartemen dan pergi ke arah mobil yang mereka parkir di depan apartemen, dan pergi meninggalkan tempat ini.
...•••...
...•••...
...•••...
Satu jam telah berlalu...
Di dalam dunia "Purgatory", lantai 6...
Tempat yang dikelilingi es tapi tidak terasa hawa dingin sama sekali di tempat ini.
Terlihat seseorang sedang bersandar dengan tenang di bongkahan es itu dan tampak dia sedang tertidur pulas.
"Hmm?"
Dia membuka matanya secara perlahan dan cahaya perlahan masuk di kedua matanya, dia mengedip beberapa kali agar menyesuaikan cahaya itu dengan matanya.
"Aku tertidur ya..."
Sesaat dia mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya dia saat melihat yang ada di depannya.
"Ini kan... item. Apa ini dari penjaga lantai itu?"
Dia mengarahkan matanya ke arah monster penjaga itu dan tampak dia sudah mati. Dan lagi di samping kirinya ada seekor serigala besar dengan bulu di sekujur tubuhnya berwarna hitam dan surai berwarna merah sedang tertidur.
Lalu dia mengarahkan pandangannya ke depan dan tampak ada banyak makhluk aneh sedang berlutut kepadanya.
"Tampaknya kita semua benar-benar kelelahan..."
Aku langsung bangkit dari sandaranku dan bersiap untuk memulai lagi misi ini.
"Kalian semua istirahatlah dulu."
Aku meminta mereka kembali ke dalam tubuhku dan mereka semua menghilang dalam wujud kegelapan, lalu aku memandangi sejenak gerbang itu lagi.
__ADS_1
"Aku harus segera keluar dari sini."
Langsung berjalan ke arah gerbang itu dengan perasaan yang sulit ditebak, karena perasaan tenang ini langsung menyelimuti diriku lagi.