
Dalam sekejap aku melihat waktu berhenti dalam sekian detik, ini mengingatkanku akan pertama kali menerima sistem warisan ini.
Duk..! Duk..! Duk..!
Seketika waktu berjalan lagi dan raja Goblin itu memasuki mode mengamuk dan berlari ke arahku dangan tampan seramnya itu.
Bussh...!
Seketika tubuhku mengeluarkan Aura-nya secara sendiri.
"Terima kasih, Aran. Berkatmu, sekarang aku bisa bergerak lagi."
Sesaat tubuhku terasa sangat ringan, walau aku telah memasuki mode Heredis tak sempurna ini.
"Haaarrrh...!! Matilah kau!!!"
Goblin itu sudah berada sejarak dua langkah denganku dan langsung melayangkan tinju besarnya itu.
Set!
Bur...!!
Tapi, dengan Aura milik Aran ini, membuatku menjadi sangat kuat dan berhasil menghindari serangannya itu dengan cepat.
"Eh? Di mana bajingan itu!"
Tampak raja Goblin ini sangat kesal dan langsung berbalik, dia melihat diriku yang mencoba menghentikan mode Heredis-ku, karena beban mode ini terlalu berat dan jika aku menggunakan Aura milik Aran untuk terus-menerus untuk memulihkan rasa sakit mode ini, selagi masih memasuki mode Heredis, itu hanya akan menyianyiakan Aura hebat ini.
"Baiklah, aku berhasil menonaktifkan sepenuhnya mode Heredis ini," pikirku, lalu menatap Goblin gila itu. "Aku rasa harus melakukannya secara perlahan dulu, karena sensasi Aura ini sangatlah luar biasa dan pengetahuan seni bela diri serta penggunaan Chi milik Aran sangatlah banyak. Aku tidak bisa mempraktekkannya satu persatu dengan Aura terbatas ini, aku akan menggunakan seni bela diri dasar saja dan menggabungkan beberapa gerakan lain dengan gayaku sendiri."
Aku bersiap diri dengan kuda-kuda seni bela diri dari Aran, ini salah satu kedasaran dari seni bela diri miliknya. Dengan tangan kanan berada di samping perut sembari mengumpulkan tenaga sekuat mungkin, dan tangan kiri aku angkat--dengan jarak lima centi dan sejajar dengan dadaku, agar aku bisa mengukur tempo tenaga yang dapat aku keluarkan melalui pernapasanku. Sebab, aku mengkonsentrasikan 30% Aura ini ke tangan kananku dan siap dilancarkan kapan pun.
"Seni bela diri Sîwáng, gerakan pertama...," gumamku.
Aku menutup mataku secara perlahan dan merasakan seluruh indraku sedalam mungkin.
...TEMPURUNG KURA-KURA HITAM...
Blip...
Seperti setetes air kecil yang jatuh di tengah danau yang besar, walau ia kecil, tapi setetes air ini mampu menggerakkan separuh danau yang tenang itu.
Seketika aku merasakan apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan mencium bau secara detail dalam radius delapan meter. Dan di luar dari radius itu, yang kurasakan hanya kehampaan saja. Dengan kata lain, aku mempertajam seluruh indraku dalam jarak tertentu, seperti seseorang yang mengalami mines pada matanya sehingga ia kesulitan melihat jarak jauh.
"Haahh...!!! Rasakan ini!!!"
Raja Goblin ini langsung melempar beberapa sihir bola api yang sangat besar dan dilemparkannya kepadaku yang masih terdiam diri.
Blip...! Blip...! Blip...!
Beberapa tetesan air telah jatuh dalam danau milikku. Aku yang berada di tengah danau itu, merasakan apa yang terjadi pada sesuatu yang telah memasuki radius delapan meter. Dalam jarak radius meter ini adalah domain milikku, seni bela diri Sîwáng gerakan pertama ini seperti skill "Langkah kematian" milikku. Kedua kemampuan ini sama-sama menggunakan energi sedikit demi sedikit setiap detiknya.
Wush...
Aku menghembuskan napasku dan berkonsentrasi apa yang ada di depanku.
"Ada tujuh bola sihir mengarah kepadaku dengan cepat.."
Setelah mengetahui jenis serangan apa yang datang kepadaku. Dengan ini aku langsung memfokuskan Aura-ku ke kaki dan bersiap-siap untuk bertindak.
"Seni bela diri Sîwáng, gerakan kedua...," gumamku.
Brak!
Seketika tanah yang kupijak retak, karena aku menekan kedua kakiku ke tanah sekuat mungkin.
...LANGKAH KUCING HITAM...
Set! Chin!
Bom! Bom! Bom!
Seketika seluruh bola sihir meledak setelah berhasil mencapai tujuannya, asap yang tebal membuat sang raja Goblin penasaran akan hal di balik asap itu. Apa serangannya berhasil atau tidak, itulah yang ada di benaknya saat ini.
"Apa?!"
Tiba-tiba ia terkejut, sebab target yang ingin ia hancurkan tidak ada sama sekali bekas akan dirinya telah hancur, dan hanya puing-puing tanah yang berserakan di sana.
"Seni bela diri Sîwáng, gerakan kelima...," gumamku.
Hawa yang terasa sangat berat telah terasa di belakangnya dan itu membuat dirinya spontan berbalik, dan sangat terkejut akan apa yang dilihatnya. Tampak pemuda itu berada di belakangnya dalam keadaan melayang dengan tangan yang diselimuti energi yang sangat kuat.
"Sial! Sejak kapan si Brengsek ini ada di belakang?! Dan lagi, aku tak merasakan Mana miliknya sama sekali!"
Tanpa pikir panjang dan dengan cepat, raja Goblin itu langsung memasang penghalang sihir tiga lapis dan tampak pertahanan ini terlihat tak bisa ditembus.
Akan tetapi...
...CAKAR ELANG HITAM...
Brak...! Bussh...!!
"Egh!! Kenapa pukulan ini sangatlah kuat!"
Sesaat tinjuku dengan perisai sihir miliknya bertemu, seketika terjadi ketidak keseimbangan energi Mana dan Aura. Aku merasakan penolakan kasar dan keras dari kedua energi ini, mereka berdua mencoba saling mengungguli satu sama lain.
Brak!!
Seketika salah satu penghalang sihir itu hancur dan aku sangat kagum akan Aura yang dipinjamkan ini kepadaku.
"Tak kusangka, jadi ini Aura yang sudah dilatih selama hidupnya."
Brak!! Brak!!
Sesaat semua perisai sihir miliknya hancur dan itu membuat dirinya sangat terkejut, karena tak menyangka sihir yang sangat kuat itu dikalahkan oleh sebuah pukulan yang tak memiliki Mana sama sekali.
Set!
Dengan cepat aku langsung maju ke arahnya sebelum ia melancarkan sihirnya lagi.
"Dia sangat cepat!"
Goblin itu sangat terkejut karena aku sudah berada di hadapannya dalam jarak setengah meter darinya. Aku langsung mengaliri lagi Aura ke tanganku dan kali ini aku langsung mengalirinya ke kedua tanganku dan siap memukul dirinya.
"Seni bela diri Sîwáng, gerakan keenam...," gumamku.
...SERIBU GIGITAN SEMUT HITAM...
Punch! Punch! Punch!
Punch! Punch! Punch!
Punch! Punch! Punch!
"Ergh...!!"
Aku langsung melancarkan pukulanku yang dilapisi Aura ini, aku melancarkan serangan secara bertubi-tubi tanpa henti dan aku tidak merasakan kelelahan sama sekali saat melancarkan serangan tanpa henti ini.
Punch!! Piuh! Bur...!
Klotak!
Pukulan terakhir aku mengerahkan Aura sebanyak mungkin dan itu membuat dia terpental cukup jauh, sehingga ia menghantam dinding dungeon cukup keras.
"Hm?" Aku sedikit terkejut saat melihat Aura yang dipinjamkan Aran mulai meredup secara perlahan. "Aku harus membereskan ini dengan cepat, karena waktunya tidak banyak."
Bussh...!
Bur...!! Klotak!
__ADS_1
"Aaaahhhh!!!"
Tampak raja Goblin ini belum menyerah dan aku merasakan energi sihir yang sangat melimpah darinya. Tapi, di sisi lain, aku melihat kesadaran dirinya mulai menghilang secara perlahan.
Shut! Piuh! Piuh!
Tiba-tiba muncul banyak pisau kecil di langit-langit dan itu membuatku sangat terkejut, sehingga membuatku sedikit terlambat menghindar dan menerima beberapa tebasan dari pisau itu di tubuhku.
"Dia semakin berbahaya. Aku harus membereskan ini dengan semua skill-ku..."
Saat ingin menggunakan skill milikku, tiba-tiba muncul peringatan dari sistem.
[Energi tak diketahui telah terdeteksi di dalam tubuh sang pewaris. Semua kemampuan sang pewaris telah terhalang oleh energi tak diketahui ini.]
Saat melihat peringatan sistem ini membuatku langsung terpikir, bahwa Mana dan Aura sangat tidak singkron sehingga mengalami penolakan dari kedua energi tersebut. Mengingat Aura hebat ini bukan milikku, jadi sistem mendeteksinya sebagai sesuatu yang asing di tubuhku.
"Begitu ya. Tapi, saat aku melihat Aran melancarkan serangannya ke arah gunung dan berhasil menghancurkan gunung itu. Di saat-saat itu juga, aku merasakan percikan Mana yang ada dipukulan yang dilapisi Aura sepenuhnya itu."
Karena tak ada waktu memkirkan ini, karena musuh sedang bersiap menyerangku dengan sihirnya lagi. Kali ini aku mengambil inisiatif duluan dan maju ke arahnya. Karena Aura milik Aran ini telah hampir mencapai waktunya.
"Aaaahhh...!!!"
Serangannya semakin membabi-buta dan berbagai serangan telah diarahkan kepadaku. Ratusan pisau kecil, beberapa sihir bola api, serta dua pisau besarnya telah dilempar juga. Di saat bersamaan juga, ia memasang Barrier di sekitarnya dan kali ini ia benar-benar sudah bersiap menghabisiku dengan cepat.
"Sudah saatnya menggunakan gerakan terakhir dari seni bela diri ini..."
Set! Set! Set!
Aku berlari ke arahnya sembari menghindari serangannya itu.
Shut! Piuh!
Bom! Bom!
Crak!
Walau berhasil terkena dan tergores beberapa serangan darinya, itu tidak membuatku goyah sedikit pun. Aku ingin mengambil jarak sedekat mungkin darinya, sebab... aku ingin menghabisi dia dengan gerakan terakhir ini, sekaligus mengeluarkan semua Aura milik Aran.
Bussh...!
Aku mengumpulkan semua Aura ini ke tangan kananku, dan saat jarak sudah hampir mendekati empat meter. Aku menapakkan kedua kakiku ke tanah cukup keras sehingga terdengar retakan di bawah kakiku.
"Wussh*..., sembari mengatur napas setenang mungkin," gumamku.
Aku semakin tenggelam ke dalam Qiánýishí, aku bisa merasakan setiap Aura yang menjadi kekuatanku saat ini, telah mengalir setiap pembuluh darah di tubuhku. Dan sebuah ingatan kecil milik Aran terlintas di pikiranku dan memberitahukan semua yang dirasakannya melalui ingatan ini.
..."Membenamkan kedua kaki sedalam mungkin ke tanah..."...
Brak!
Tanpa sadar pijakanku di tanah seperti menginjak kerupuk yang jatuh dan mendengar suara retakannya yang sangat keras.
..."Kirim kekuatan dari tanah langsung ke lutut, panggul, pinggang dan lengan kanan..."...
Bush!
Aku bisa merasakan tekanan pada suhu tubuhku semakin meningkat setiap saatnya.
..."Kemudian, kirim semua kekuatan yang sudah ditanam disetiap bagian tubuh tersebut, ke tinjumu..."...
Busssh...!!
Sesaat Aura yang sangat kuat dan melimpah telah berkumpul ke tangan kananku, sehingga membuat udara di sekitarku sedikit terkikis akibat tekanan energi ini.
Raja Goblin yang melihat itu sangat terkejut, dan tak sempat memberikan serangan balasan. Sebab jarak kami sangat dekat dan aku melakukan persiapan dengan cepat sebelum ia akan menyerangku.
..."Itu salah satu gerakan terakhir yang kuciptakan untuk mengenang dirinya, dan aku menamakan gerakan ini..."...
"Seni bela diri Sîwáng, gerakan terakhir, gerakan kesepuluh...," gumamku.
Aku langsung mengarahkan tinju kananku yang terisi penuh dengan Aura ini dengan perlahan ke depan.
...AUMANG NAGA HITAM...
...AUMANG NAGA HITAM...
Sebuah gelombang kejut tercipta dari pukulanku dan mengarah ke arah raja Goblin yang tampak gelisah itu.
"Jangan harap kamu bisa menembus Barrier-ku ini!"
Wussh...!!
Brak!!!
"A-apa! Tidak mungkin...!"
Serangan gelombang kejut tersebut telah berhasil menghancurkan satu persatu pertahanannya sihirnya.
"Tidak mungkin!!! Aaaahhh...!!!"
Bom!!!
Bur...!! Klotak! Klotak!
Sesaat terjadi ledakan yang sangat hebat yang disebabkan oleh gelombang kejut tersebut, sehingga mampu membuat dungeon ini bergetar lagi kedua kalinya.
Wussh...
Aku mengatur kembali napasku setenang mungkin dan memandangi arah seranganku barusan.
"Apa berhasil?" Tanyaku sembari menatap asap yang berkumpul itu. Lalu, aku melihat Aura milik Aran telah lenyap sepenuhnya di tubuhku. "Terima kasih atas bantuanmu."
Tiba-tiba muncul jendela sistem dan memberitahukan apa yang terjadi sekarang.
[Selamat, kamu telah mengalahkan Bos dungeon "King Goblin - Lord of the Goblin tribe".]
[Level up.]
[Level up.]
[Level up.]
"Akhirnya selesai juga. Dengan ini aku bisa..., eh? Apa itu?"
Aku terkejut melihat sesuatu yang keluar dari tubuh Goblin itu. Semacam cahaya kecil berwarnan kuning telah berterbangan dan bercerai-berai di mana-mana.
[Peringatan!
Dia telah memenuhi syarat menjadi The Arcana-mu.]
[Peringatan!
Jiwa dari target telah hancur secara perlahan. Kamu punya 70% keberhasilan untuk menjadikan dia pengikutmu. Dan keberhasilan akan semakin berkurang jika tak ditangani segera dengan skill milik sang pewaris yaitu "Pengabdian".]
Melihat peringatan itu, membuatku seketikan kesal dan langsung berlari ke arah mayat Goblin itu.
"Sial! Dia tidak boleh menghilang sekarang! Aku butuh informasinya."
Sesaat sampai, aku langsung menggunakan skill "Pengabdian" untuk membangkitkan dirinya. Ditambah lagi, skill ini hanya bisa digunakan satu sekali setiap jiwa dan tidak ada jaminan jika aku gagal melakukannya.
Bussh...!!
Seketika Mana miliknya keluar dan sangat banyak, dan tiba-tiba semua Mana itu telah masuk ke dalam tubuhku.
[Kamu berhasil menjadikannya The Arcana.]
[Peringatan!
Sebagian jiwanya telah hancur, maka separuh kemampuan sewaktu dia hidup telah menghilang. Silahkan berikan perintah pertamamu untuk membangunkan jiwanya yang telah tenggelam dalam kesengsaraan.]
__ADS_1
Berbeda dengan The Arcana yang lainnya. Saat aku membangkitkannya, mereka langsung bangkit begitu saja dan membungkuk ke arahku. Mungkin karena jiwanya telah hancur separuh, maka proses pembangkitannya sedikit terlambat.
"Sebelum itu, aku ingin mencari informasi mengenai 'Pria tua' itu dan majikan dari para Goblin ini."
Aku meletakkan tanganku ke arah kepalanya dan sesaat muncul sistem.
[Skill "Pengabdian" untuk menyelam dalam kesadaran jiwa target telah aktif.]
Bing!
Sesaat aku menutup mata, tiba-tiba aku berada di ruang hampa lagi dan aku melihat jendela sistem di atas kepalaku, dan bertulis sebuah peringatan waktu.
[59.58]
"Aku harus cepat mencari informasinya..."
Sesaat ingin mencarinya, tiba-tiba muncul berbagai macam gambar bergerak ke dalam sebuah kotak. Ini seperti aku menonton TV dalam jumlah yang sangat banyak.
"Aku tidak bisa memeriksa satu persatu semua ingatan ini."
Aku berjalan dalam kegelapan dan melihat semua ingatan itu.
"Hahaha! Aku menang! Sini bayarannya."
"Brengsek! Kembalikan dagingku!
"Bodoh! Kenapa juga aku harus turun tangan. Kan kalian bisa mengatasinya tanpaku."
Aku terus menyelami ingatan ini dan membuatku semakin terburu-buru adalah, waktu di atas kepalaku ini dan aku hanya diberi satu menit saja.
[30.24]
"Sial! Di mana ingatan mengenai orang itu!"
Aku semakin kesal karena waktunya semakin dekat. Tapi, sang dewi Fortuna memberikan aku berkahnya dan akhirnya aku menemukan informasi yang kuinginkan.
"Tuanku, berapa lama lagi aku harus ada di sini?"
Aku melihat melalui layar ini, tampak seorang pria dewasa dengan kumis khasnya dan menghampiri Goblin ini.
"Sebentar lagi kamu akan keluar. Oh iya, pasti kamu kesepian, bagaimana kalau aku ciptakan saudara-saudara untukmu, agar menemani dirimu di sini."
Pemilik ingatan ini hanya mengangguk saja dan pria itu--majikannya hanya tersenyum saja, dan tiba-tiba layar ini buram dan menghitam.
"Apa ini akibat jiwanya telah menghilang separuh?"
Karena keberuntungan masih dipihakku, ingatan mengenai "Pria tua" itu tepat berada di sampingnya dan itu menghemat waktuku untuk menemukannya.
"Kamu... kamu jangan bercanda! Mana mungkin Tuanku mati! Dia itu sangatlah kuat dan tidak siapa pun bisa mengalahkannya!"
Tampak sang pemilik ingatan ini marah terhadap seseorang di hadapannya. Aku melihat sosok pria itu, benar-benar seperti seorang raja dengan pakaian seperti bangsawan, dan wajahnya yang tua serta matanya merah mudah. Seperti langit yang diwarnai oleh darah.
"Aku tahu kamu pasti tidak percaya, tapi itulah faktanya yang bisa kuberitahukan..."
Pemilik ingatan ini masih tak percaya dan meneteskan air matanya, orang itu yang melihatnya menangis memberikan sebuah usulan untuknya.
"Kalau mau balas dendam, kamu boleh minta bantuan padaku."
"Serius?!" Tanya Goblin itu dengan harapan kecilnya. "Tapi... aku merasa ini tidak gratis. Jadi apa yang kamu inginkan dari tawaranmu ini?"
Pria tua itu melihat tatapan serius dari Goblin ini, membuat dirinya tersenyum dan berkata :
"Kamu sangat menarik. Pantasan saja, dia sangat memperhatikanmu. Seperti yang kamu katakan, tidak ada yang gratis. Dan bayaran yang kuminta darimu, hanya menginginkan jiwamu saja, bagaimana apa kamu mau? Tentu saja, aku akan memberikan kekuatan yang sangat besar."
Pemilik ingatan mendengar ini sangat marah dan merasa orang ini telah menginjak harga dirinya, hanya sebuah kekuatan yang tak jelas di matanya.
"Kamu pikir aku ini apa di matamu, hah! Kami memang hanya makhluk rendahan yang tak berarti di mata kalian! Tapi... Tuan kami lain hal memandang kami. Dia menatap kami seperti seorang prajurit tangguh. Tidak seperti tatapanmu, yang kau arahkan kepadaku. Benar-benar memuakkan!"
Bussh...!!
"Egh...!"
Pria tua itu hanya terdiam sesaat mendengarnya, tapi tiba-tiba ia mengeluarkan hawa mencekam dan mampu mengcekik siapa pun yang berada di dekatnya hanya dengan auranya ini.
"Sial! Apa-apaan tekanan ini!" Pikir Goblin itu, lalu mengangkat matanya dan menatap mata pria yang di hadapannya itu. "Sudah kuduga. Dia sangat berbeda dengan Tuanku, matanya menunjukkan seorang penguasa sejati."
Sesaat aura mematikan pria tua itu terhenti dan ia hanya menghela napasnya dan berkata :
"Baiklah, aku tidak memaksamu. Kamu sangat berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaannya yang lainnya, mereka mau menjual jiwanya kepadaku dengan imbalan kekuatan besar kuberikan. Sedangkan kamu...." Sembari menatap Goblin yang seperti anak kecil itu dengan tatapan berarti. "Kamu berbeda karena kamu tercipta dari energi kehidupan yang sangat berbeda."
Mendengar itu membuatku semakin penasaran, apa yang membuat Goblin ini sangat berbeda dengan monster yang lainnya.
"Apa maksudmu?"
"Jelas kamu berbeda, sebab kamu tercipta dari jiwa yang sangat murni, yaitu jiwa seorang manusia..."
Mendengar itu membuatku semakin terkejut, dan tak menyangka apa yang informasi kudapat ini.
"Asal kamu tahu, tuanmu, si Brengsek itu, telah melakukan banyak penelitian dengan menggunakan para manusia itu dan aku tidak tahu, sudah berapa banyak makhluk yang menyerupai dirimu--memiliki jiwa yang sama. Makanya dari itu, aku menginginkan jiwamu, karena aku tak ingin jiwa murni itu menghilang sia-sia. Di luar sana, ada banyak monster ciptaannya, tapi tak memiliki akal sama sekali, sesaat kamu dan sejenismu diciptakan, ia semakin menggila dan ingin mengambil semua manusia yang ada hanya untuk penelitiannya. Kami sangat menentang akan tindakkannya itu, karena tujuan kami yang sebenarnya yaitu... mencari 'Penghianat' itu, orang yang telah membunuh tuanmu dan kami akan langsung membunuh 'Penghianat' itu ketika sudah ketemu nanti."
Mendengar itu membuat Goblin itu sangat marah dan meminta orang itu memberi tahukan tentang "Penghianat" itu.
"Mungkin sebutannya untuk 'Penghianat' itu yaitu Heredis. Sebab dia sendiri yang mengatakannya kepada kami."
"Heredis? Bukannya kalian menyebut diri kalian juga sebagai Heredis?"
Saat mendengar itu aku sangat terkejut, apa maksud perkataan Goblin itu bahwa ada Heredis lain selain diriku sekarang?
"Itu memang benar. Aku dan tuanmu memang seorang Heredis, setidaknya itu sebutan untuk manusia yang meminjam kekuatan seorang Dewa. Tapi kami berbeda, tubuh kami memang manusia, tapi ingatan kami tetaplah sama dan bukan seorang manusia yang makhluk rendahan itu."
Tiba-tiba muncul peringatan sistem, bahwa waktuku telah habis dan otomatis aku dikeluarkan dari memori ini.
Sesaat membuka mata, aku kembali keadaanku yang sekarang. Tapi, semua yang informasi yang kudapat barusan membuatku sedikit shock. Aku tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.
"Jadi selama ini, orang yang melawan para pendahuluku hanya seorang manusia biasa yang meminjam kekuatan orang asing."
Ini mengingatkanku akan kejadian di mana sahabat Aristoteles tubuhnya diambil oleh "Mereka" dan mengendalikannya sesuka hati. Kupikir waktu itu, orang yang merasuki tubuh Putoles mungkin hanya sementara saja, sebab ia mengatakan bahwa ia tak ingin kekuatannya diambil alih sepenuhnya oleh pemilik tubuh itu, karena jiwa pemilik tubuh itu masih utuh dan sebuah tubuh akan tetap utuh jika jiwanya masih berada di dalamnya.
"Tapi tak kusangka, mereka telah sepenuhnya menjadi pemilik tubuh tersebut dan aku tidak tahu di ke mana kan jiwa pemilik tubuh itu, mungkin sudah diserap sepenuhnya oleh mereka."
Karena seiring berjalannya waktu, "Mereka" melakukan berbagai penelitian terhadap manusia agar mereka bisa bebas bergerak di Bumi ini. Sebab ada hukum yang ditanam di Bumi ini, sehingga separuh kekuatannya tersegel karena hukum tersebut.
"Saat menerima pertama kali kekuatan ini, di saat bersamaan juga muncul informasi di kepalaku mengenai hukum yang ditanam di Bumi ini. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Tapi hanya satu orang yang menurutku bisa melakukannya, mungkin 'Dia'. Dewa yang memberikan kekuatan ini kepadaku."
Karena masih banyak hal yang perlu dicerna, aku memandangi mayat Goblin itu dan memerintahkan dia untuk bangkit dan melayaniku.
[Sekarang kamu boleh memberikan dia nama.]
"Tak kusangka, kamu dibangitkan dengan tubuh kecilmu..."
Goblin ini langsung menundukkan tubuhnya kepadaku dan siap menerima panggilan baru dariku.
"Bagaimana kalau... Slayer. Itu sangat cocok untumu, mengingat dirimu yang sangat kejam."
[Nama telah berhasil diberikan.]
[Slayer (Level 30)
Evolusi : ... (Belum berevolusi).]
[The Arcana : 37.]
Walaupun tubuhnya kecil, tapi seluruh statistik-nya sangatlah hebat. Stats-nya hampir menyamai Lucifer.
Dur...!
Tiba-tiba dungeon ini bergetar dan pertanda dungeon akan tutup. Aku meminta Slayer masuk ke dalam tubuhku dan berlari ke arah portal yang sudah terbuka kembali, setelah mengalahkan bos dungeon.
"Mereka sudah dekat. Aku tak boleh buang-buang waktu lagi, aku harus menjadi sekuat mungkin yang melampaui semua pendahuluku."
__ADS_1