
Sesaat di lantai kota Amaravati...
[Selamat datang di reruntuhan kota Amaravati.]
Setelah melihat masa lalu dan mengerahui nama leluhurku, aku langsung dikirim kembali ke tempat pemilihan tangga tersebut setelah itu aku langsung melanjutkan memilih tangga lain.
Aku sampai di lantai yang medannya bisa dibilang sangat spiritual, di mana ada banyak kuil-kuil serta bunga-bunga yang bermekaran indah, ditambah alam yang sangat tenang dengan suara angin lembut yang menerpa setiap dedaunan pohon-pohon.
"Ini mengingatkanku pada film yang kutonton dulu."
Tempat yang mana diceritakan sebagai tempat surganya bagi suatu penganut agama tertentu.
Sesaat menelusuri tempat ini, muncul seseorang dari kuil besar tersebut.
Tap... Tap... Tap...
Ia berjalan dengan tenang dan tampak pakaiannya seperti pendeta kuil di India dengan warna emas yang dominan serta sebuah riasan bintik merah di dahinya.
[Siddha
Level : ???]
"U tka penr fcins xamn an? (Kamu datang untuk melaksanakan ujian kan?)"
Mendengar ia bertanya padaku dengan suara seraknya sedikit berat seperti kakek-kakek.
"Si a yis! (Iya!)"
Mendengar jawabanku yang tegas itu, orang ini langsung mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya.
Bush! Bush! Bush!
"...!"
Aku terkejut melihatnya, tiba-tiba muncul banyak orang dengan pakaian sama persis dengan orang itu, hanya saja ada sedikit perbedaan pakaian mereka. Mungkin menyesuaikan tinggi dan bentuk tubuh mereka. Mereka ada 20 orang dan membawa berbagai benda dan senjata.
"Benda-benda yang mereka pegang... apa itu artifak?" Tanyaku dalam hati saat melihat benda yang mereka pegang penuh dengan energi luar biasa.
"I xamn silu, u mu netudo ngere os abe. (Ujiannya sederhana, kamu hanya perlu mengalahkan kami semua.)"
Mendengar tantangan itu membuat semangatku sedikit naik, baru kali ini aku akan menghadapi makhluk-makhluk yang menurutku akan mustahil dikalahkan.
"Norum!"
Wush...!
Energi hitam menyeruak dari dalam tubuhku dan memunculkan serigala hitam besar.
"Garrrgh...!"
"Iya Kawan, baru kali ini kita melawan musuh yang melebihi seluruh kemampuan kita."
Aku merasa mereka memiliki stats yang mumpuni serta skill yang sulit diprediksi, apalagi mereka akan melakukan serangan yang penuh kekompakan. Ini akan menjadi yang sangat sulit bagiku, sebab aku tak bisa memanggil The Arcana, tapi masih bisa menggunakan skill dan potion pemulihan HP maupun MP-ku.
Bish...!
Aku langsung mengeluarkan sabit dan pistolku, ini akan jadi pertempuran yang akan memakan banyak waktu dan tenaga.
Set!
Set!
Aku dan Norum langsung maju menghadapi mereka.
...•••...
30 menit kemudian...
Aku berhasil mengalahkan mereka semua, setelah mengalahkannya mereka membukakan pintu kuil ini untukku dan jujur saja mereka semua lawan yang sangat sulit dihadapi.
"Prater pror watan cre pum dhe, u gi pror spent n prang, t az ing sempr ator u nying perlum. (Selain memiliki kekuatan yang sangat besar, kamu juga memiliki kebijaksanaan dalam pertarungan, sehingga hal itu selalu membantumu menghindari bahaya.)"
Mendengar pujian itu membuatku senang dalam hati dan tersenyum di balik masker hitam ini.
"Gramulmar tinun. (Terima kasih.)"
Aku langsung melangkahkan kaki ke dalam kuil dan tampak dalam kuil ada banyak tulisan-tulisan aneh dan gaya tulisannya seperti apa di batu itu--waktu aku menerima sistem ini.
"Aneh... padahal aku mengerti bahasa mereka dan bisa mengucapkannya juga, tapi kenapa aku tak bisa membacanya?"
Menggunakan "Mata Dewa" sekalipun belum bisa membaca tulisan ini, padahal waktu aku bisa membaca tulisan batu itu sebelum skill mata ini berevolusi.
Karena tak menemukan jawabannya, aku langsung menuju ke arah altar itu dan mengambil kepingan harta warisana leluhur.
Bing!
Sesaat benda itu bercahaya dan kali ini apa aku dikembalikan ke tempat semula atau berlanjut melihatnya lagi.
...•••...
...•••...
...•••...
Sepertinya aku dibawa kembali ke masa lalu lagi dan kali aku diperlihatkan seorang pria tua dengan janggut dab rambut yang sudah sangat beruban, ditambah dikepalanya ia memakai kain penutup yang biasa dipakai orang-orang Arab dulu.
"Apa dia Arasyid?"
Penampilannya sangat berbeda dengan apa yang kuperkirakan sebelumnya, kupikir para Heredis sebelumku akan berumur panjang dan memiliki tubuh yang sangat sehat. Tapi sebaliknya ia sangat tua dengan kekuatan fisik seperti orang berusia 60 tahun lebih. Dia sibuk menulis sesuatu di kertasnya itu dan aku mencoba melihat apa yang ia tulis dan ternyata tulisannya itu sama persis yang ada di dalam kuil itu.
"Apa maksud semua tulisan ini?"
Arasyid berdiri dari kursinya dan berjalan dengan sedikit membungkuk dibantu dengan tongkat yang ada di tangannya.
"Baiklah, dengan ini semuanya sudah selesai. Dengan izin 'Dia', aku bisa kembali ke waktu mana pun yang kuinginkan, selama belum bertemu dengan 'Mereka'."
Ia berjalan ke arah tembok polosnya dan tampak kediamannya ini sangat sederhana dan hanya dipenuhi buku-buku pengetahuan saja.
"Revwargece..."
Wiush...
Arasyid mengucapkan sebuah kata yang sulit dimenegerti, sesaat mengucapkan itu--tiba-tiba muncul sebuah portal dengan energi Mana yang sangat tenang.
"Portal..."
Aku cukup terkejut melihatnya, Arasyid langsung melangkahkan kakinya ke dalam portal.
Bing!
__ADS_1
Sesaat cahaya menyilaukan muncul dab beberapa saat aku sudah berada di luar ruangan dan Arasyid masih ada di sampingku.
"Aku kembali menjelajahi waktu lagi, kali ini aku kembali ke masa lalu..."
Mendengar itu hanya membuatku menganga sedikit dan tak tahu apa yang sudah kusaksikan dan kudengar ini.
"Kemampuan menjelajahi waktu sangat membebaniku, tapi ini sudah tugasku. Aku sudah mengunjungi semua waktu mau itu masa lalu, sekarang dan masa depan. Tapi waktu-waktu yang kukunjungi hanya waktu yang belum 'Mereka' ada menginvasi manusia lagi, dan di masa depan aku sudah melihat para penerusku yang penuh potensi melanjutkan usahaku."
Tersenyum setelah mengucapkan itu, seolah-olah usahanya sangat tidak sia-sia baginya maupun penerusnya.
"Melihat ini aku sangat berterima kasih pada mereka semua (Pendahuluku)."
Arasyid berjalan ke arah sebuah kota sedikit padat dan tampak ada banyak saudagar berlalu lalang di tempat ini dan bahkan aku juga melihat ada tempat memperdagangkan manusia dengan kata lain budak.
"Kalau di zaman sekarang mungkin hal ini sangat merendahkan kodrat manusia dan akan dihukum berat bagi yang melakukannya."
Arasyid masuk ke tempat itu dan saat masuk tempat itu seperti sebuah kedai makanan dan hanya saja dilayani oleh para budak wanita, dan tentu saja rata-rata pelanggan di tempat ini laki-laki.
Seorang wanita cantik menghampiri Arasyid dan tampak parasnya kayaknya dia bukan bagian dari para budak.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan?"
Arasyid memandangi wanita itu dan berkata :
"Aku ingin memesan tempat yang sepi, aku ingin makan dengan tenang tanpa suara berisik semua ini."
Mendengar itu, wanita itu menaikkan sedikit alisnya. Dia memandangi penampilan Arasyid dengan seksama dan tampak seperti orang tua yang sangat miskin, tapi memesan sebuah tempat VIP di tempat ini.
"Kalau boleh tahu, Tuan ini berasal dari mana ya?"
"Aku berasal dari arah Barat dan aku juga seorang penyair."
"Barat ya... berarti Anda berasal dari Bisha?"
"Iya," jawab Arasyid sembari mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, jika Tuan memesan ruangan yang sangat tenang dan terutup kami punya, hanya saja biayanya tidak sedikit."
"Tidak usah khawatir, aku punya banyak uang untuk dibayar."
Arasyid mengeluarkan sesuatu dari dalam kain bajunya yang tebal sembari meletakkan tas rotan bambu buatan tangan sendiri.
"Apa segini cukup?" Tanya Arasyid sembari memberikan sekantung berisikan uang.
Wanita itu mengecek isinya dan tampak dari raut wajahnya sangat terkejut melihat isinya, terlihat ada banyak koin tembaga emas tertumpuk di wadah kain kecil itu.
"Ini sangat cukup!"
Wanita itu sangat bersemangat setelah melihat semua uang itu dan segera membawa Arasyid ke tempat yang dituju, wanita itu juga meminta beberapa pria kekar nan sangar untuk menjaga di luar ruangan tamu VIP-nya, agar tak seorang pun bisa macam-macam terhadap orang sumber penghasilan besarnya ini.
"Saat dia memasuki tangannya ke dalam bajunya, aku merasakan ada sedikit energi sihir tadi. Apa dengan cara itu ia memunculkan uang sebanyak itu?"
Karena kekuatan ini sangat misterius, siapa pun pendahuluku memiliki banyak trik digunakan pada sihirnya. Setelah Arasyid berhasil dibawa ke tempat yang dimaksud, dan tampak tempat ini cukup mewah untuk pada zaman itu.
"Kami akan membawakan makanan dan minuman terbaik kami, dan beberapa wanita cantik kami akan menemani Tuan."
"Tidak perlu membawa banyak orang ke sini, aku hanya ingin waktu yang tenang saja dan cukup satu saja."
"Baik. Mohon ditunggu," kata wanita itu sembari membungkuk sejenak dan keluar dari ruangan ini.
Sesaat keheningan pun terjadi, Arasyid mengambil sesuatu dari tas rotan bambunya itu dan mengeluarkan sebuah kertas lebar dengan tulisan aneh itu.
Seketika aura hitam nan mengcekam ini menyelimuti Arasyid dan muncul sesuatu makhluk asing dari tubuhnya sembari menundukkan tubuhnya kepada Arasyid.
"Kamu pergilah ke semua tempat ini dan tandai dengan apa yang sudah kutulis di kertas itu, dan juga jika kamu merasakan kehadiran salah satu dari 'Mereka', langsung kembali ke sini walau tugasmu belum selesai."
"Baik."
Setelah mendapat perintah itu, The Arcana milik Arasyid menghilang begitu saja dari pandangan dan aku bisa merasakan aliran energi sihirnya di luar sana saat meninggalkan tempat ini.
"Dengan ini 'Hukum' yang diciptakan oleh 'Dia' bisa diperkuat lagi, sebab aku merasakan 'Hukum' yang dibuat olehnya mulai melemah dan berdasarkan pengalaman para pendahulu melawan 'Mereka', kekuatannya 'Mereka' semakin meningkat seiring waktunya dan tampaknya 'Hukum' yang diciptakan olehnya tak bisa mencegah kekuatan 'Mereka' keluar sepenuhnya. Dengan 'Hukum' baru ini, aku bisa mencegah kekuatan asli 'Mereka' keluar dan sangat memudahkan bagi penerusku mengurus semuanya."
Tok... Tok... Tok...
Arasyid kembali ke kursinya dan seorang wanita cantik masuk sembari membawa makanan dan minuman istimewa. Ia meletakkan semua jamuan itu di atas meja sembari menunjukkan senyuman manisnya kepada Arasyid.
Arasyid memulai memakan makanan itu, tapi wanita cantik ini langsung duduk di samping Arasyid sembari tersenyum dan menuangkan minuman untuk Arasyid. Mungkin dia seorang budak, melihat lagatnya yang mencoba merayu tamunya.
"Silahkan, Tuan."
Arasyid hanya diam saja sembari mengambil minuman itu, tapi tampaknya ia sedikit tidak nyaman berada di samping gadis itu.
"Sebaiknya kamu duduk di seberangku saja."
Mendengar itu membuat wanita ini terkejut dan tampak sedikit ketakutan dari raut wajahnya.
"Maaf! Jika tindakanku membuat Anda tidak nyaman!"
Arasyid melihat wanita muda cantik ini sangat ketakutan, bukan karena takut pada orang tua ini tapi ia mungkin takut apa yang akan menimpa dirinya jika tidak memberikan layanan terbaik tamu VIP ini, dan mungkin saja ia akan diperlakukan yang tidak semestinya di tempat ini.
"Tidak, aku hanya ingin mengobrol beberapa hal denganmu, jika kamu berada di sampingku, sulit bagiku untuk berbicara dengan seseorang."
Mendengar itu wanita muda cantik ini menurutinya dan duduk di seberang meja makan ini dan mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Siapa namamu?"
Wanita itu sontak tertegun dan langsung menjawab pertanyaan Arasyid.
"Khayzuran, Tuan! Al-Khayzuran!"
"Bambu? Namamu sangat unit ya."
Mendengar hal itu dari Arasyid, wanita itu hanya bisa menundukkan pandangannya karena malu dengan namanya itu.
"Aku sangat malu punya nama seperti itu, apa alasannya orang tuaku memberikan nama sejelek itu."
Arasyid mengerti kesedihannya ini dan berkata :
"Kamu salah, namamu itu penuh dengan makna..."
Medengar itu wanita itu mengangkat pandangannya dan melihat tatapan Arasyid padanya sangat tulus.
"Asal kamu tahu, pohon Bambu itu sangat kokoh dan subur, sudah beratus-ratus tahun Bambu sangat banyak manfaatnya bagi siapa pun. Dan kamu lihat sekarang..." sembari mengangkat sebuah gelas terbuat dari bambu. "Gelas ini juga terbuat dari bahan utamanya Bambu dan tas kerajinan buatan tanganku ini terbuat dari Bambu juga, dan Bambu juga sering digunakan sebagai alat menyalurkan air dari sungai ke pemukiman. Asal kamu tahu, di masa depan kelak kamu akan dikenang sebagai wanita paling hebat dalam sejarah dan begitu pun dengan anakmu juga. Karena kamu dan keturunanmu akan jadi pengaruh besar yang sangat baik bagi orang-orang."
Seolah-olah semua ucapan Arasyid itu hanya sebuah penyemangat menurut gadis ini. Tapi dalam hati gadis ini, ia sangat berharap semua yang diucapkan pria tua ini menjadi kenyataan agar kelak ia tak menderita beserta anak-anaknya.
"Dilihat-lihat juga kamu sangat suka belajar."
"Eh? Bagaimana Tuan bisa tahu?"
__ADS_1
Arasyid hanya tersenyum dan mengatakan bahwa semua sudah terlihat jelas di mata gadis itu. Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktunya dengan mengobrol dan Arasyid dengan senang hati juga mengajari berbagai macam ilmu pengetahuan dimulai politik, sosial, astronomi, geografi dan berbagai ilmu pengetahuan yang bisa diserap oleh wanita itu.
"Kalau boleh tahu, nama Tuan siapa?"
"Kamu boleh memanggilku... Arasyid."
Mendengar nama itu membuat wanita muda ini tersenyum dengan tulus dan baru kali ia akan tersenyum dengan perasaan senang tanpa sedikit pun paksaan.
"Nama yang indah."
Arasyid hanya bisa tersenyum mendengar itu dan mereka melanjutkan sesi guru dan muridnya.
Bing!
Munculnya cahaya itu yang menandakan bahwa waktunya habis.
...•••...
...•••...
...•••...
Aku kembali ke tempat memilih tangga tersebut dan baru kali ini perasaanku sangat senang. Ada banyak hal perlu dipelajari dalam makna apa pun.
"*Huff*..., aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi itu sangat hebat."
Aku langsung melanjutkan perjalananku ke tangga selanjutnya dan tersisa empat lantai lagi untuk ditaklukkan.
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai Pulau Avalon...
[Selamat datang di reruntuhan pulau Avalon.]
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai Pulau Buyan...
[Selamat datang di reruntuhan pulau Buyan.]
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai Kerajaan Reynes...
[Selamat datang di reruntuhan Kerajaan Reynes.]
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai Kota Agartha...
[Selamat datang di reruntuhan Kota Agartha.]
Sekarang aku berada di lantai terakhir dari dunia ini, tempat ini tidak jauh beda dengan Atlantis dan Asgard yanga mana kaya akan teknologi canggih dan aneh, semuanya sulit dimengerti olehku.
"Sekarang ini yang terakhir, aku sudah melewati lantai-lantai sebelumnya dan belum ada kilas balik aku dapatkan."
Entah kenapa aku bisa tahu arah mana kepingan harta warisan leluluhur ini. Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan yang peka buatku untuk merasakan energi yang tidak asing bagiku.
"Ah, ketemu..."
Aku berjalan ke arah altar kecil itu, tapi...
Shut! Slash!
Tring!
Tiba-tiba sebuah serangan yang sangat cepat dan sulit diprediksi olehku dan berhasil menahannya dengan sabitku.
"Padahal aku tadi menggunakan seni bela diri Fēng dari tadi untuk memperluas sensor milikku. Tapi serangan ini tidak terdeteksi sedikit pun."
Aku langsung melihat ke arah datangnya serangan itu dan tampak samar-samar kehidupan di sana.
"Keluarlah dari sana!"
Dor! Dor! Dor!
Brak! Set! Piuh!
Aku menembak terus sampai ia menampakkan dirinya dan lebih hebatnya lagi ia berhasil menghindari setiap seranganku.
"Hm... sudah kuduga itu pasti kamu."
Setelah melewati semuanya, tak ada satu pun penjaga yang aku lihat waktu Arasyid memberikan selembar kertas lebar itu. Dan perkiraanku mungkin ia akan muncul di lantai terakhir dan hal itu sudah terjadi sekarang.
"Di antara semua penjaga yang kulawan, cuma dia yang memiliki energi yang tidak bisa kubaca sama sekali."
[???
Level : ???]
[Peringatan!
Musuh sedang menggunakan kekuatan kepingan harta warisan leluhur.]
Melihat status namanya dan pesan sistem secara bersamaan membuatku terkejut, apa maksud dia mengatakan bahwa monster ini menggunakan kepingan harta warisan leluhur.
"Kalau sistem mengatakan hal itu, maka tidak ada apa-apa di atas altar itu."
Bush...!
Kami sama-sama memancarkan energi kuat masing-masing dan aku mengeluarkan Norum untuk membantuku menghadapinya.
"Tolong ya, Kawan."
"Grrrgh..."
Set! Set!
Dengan cepat kami berdua maju dan melawan monster aneh ini.
Pertarungan terakhir yang menentukan nasib pemuda ini, apakah ia akan memenuhi harapan dari pendahulunya ini?
__ADS_1