
Bing...!
"Egh...!"
Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan dan membuat pandanganku terhalang. Sesaat cahaya menyilaukan itu mengirimku ke suatu tempat asing lagi.
"Sekarang aku ada di mana?"
Aku melihat di sekeliling dan terlihat tempat ini seperti sebuah tenda, tapi ukurannya sangat besar. Di tengah-tengah ruangan ini ada sebuah meja yang di atasnya semacam peta atau denah dari wilayah setempat.
"Apa ada kabar dari tim pengintai?"
Terdengar suara serak pria dewasa dan aku langsung berbalik ke arah suara itu, tampak ada tiga pria dewasa memasuki tenda besar ini. Terlihat ketiga pria dewasa itu memiliki penampilan masing-masing, ada yang memakai sebuah zirah yang lengkap serta pedang yang diikat di pinggangnya, lalu seseorang dengan pakaian sedikit terlihat mewah dengan mahkota di atas kepalanya, dan yang terakhir tampak seperti seorang pendeta bisa kutebak bahwa dia adalah penasihat sang raja.
"Belum ada kabar, Yang mulia," jawab pria zirah itu.
Mereka bertiga berjalan menuju ke arah ke meja ini dan terlihat mereka bertiga tampak serius memandangi peta itu.
"Kalau tidak ada, maka... kita harus segera menyusun strategi yang memungkinkan musuh tidak mengambil langkah duluan," ucap pria bermahkota itu. "Apa kamu ada ide buat ini, Mer?"
"Ada Yang mulia, bagaimana kalau kita mengirim pasukan memanah untuk ke bukit ini. Walau jaraknya agak sedikit jauh dari medan pertempuran, tapi lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan serangan pembuka karena lokasinya sangat dekat dengan hutan," jelas pria penasihat raja itu.
"Masuk akal, apa kamu ada pendapat lain, Art?"
"Aku ada sedikit masukan, aku sudah setuju dengan ide Merlin dan soal pemanah itu sudah tepat di sana, maka kita harus mengirim 500 pasukan milik kita yang tidak jauh dari bukit itu," ucap pria zirah itu.
Aku sangat terkejut melihat mereka bertiga, ternyata mereka sangat dewasa dengan tampang pria paruh baya. Aku mengamati setiap percakapan mereka dan apa maksud sistem ini ingin memperlihatkan aku lagi memori masa lalu.
"Untuk apa kamu ingin mengirim pasukan sebanyak itu di sana?" Tanya Uther.
"Sederhana saja, seperti pepatah yang mengatakan bahwa 'jika ratusan semut yang berkumpul di satu tempat maka tempat itu aman, jika tiga buaya berkumpul di satu tempat maka tempat itu tidak aman.' Dengan kata lain, musuh akan mengira jika kita telah mengirim pasukan kita ke sini...." Sembari menunjuk ke arah jalan peta itu. "Dengan jumlah sebanyak itu bahwa tempat kita yang lalui akan dikira sangat aman, dibandingkan jalur yang di sana hanya ada jurang yang berarti hanya sedikit yang bisa dilalui pasukan mana pun, dan musuh berpikir bahwa tempat itu akan penuh jebakan."
"Yang kamu katakan itu benar, Arthur," kata Merlin. "Di jalur ini hanya ada jalan bahaya dan kita bisa pasang jebakan kapan pun dan mengirim sedikit pasukan di sana, tapi... musuh tidak sebodoh itu mengambil jalur ini."
"Baiklah, kita akan mengikuti strategi ini," ucap Uther. "Sebenarnya masih ada jalur aman, tapi itu akan memakan waktu seharian untuk sampai ke sini dan itu hanya memperburuk situasi mereka jika mengambilnya, mengingat kita juga mengawasi jalur itu. Tapi, kita tetap akan mengirim pasukan ke sana untuk jaga-jaga jika mereka benar-benar mengambil jalan itu."
Uther memerintahkan Arthur untuk memimpin pasukan ini dan Arthur dengan senang hati menerima amanah itu. Aku sangat kagum melihat konsentrasi mereka, baru kali ini aku melihat strategi perang sesungguhnya di depan mataku, walau dulu hanya sering dilihat dari film-film yang ada dan kupikir itu hanya sekedar fiksi belaka.
Mereka bertiga membahas semuanya yang ada di medan perang nanti dimulai dari strategi, lokasi, jumlah serta iklim yang mempengaruhi kondisi fisik saat perang nanti.
Aku memperhatikan Arthur, dia tiba-tiba diam sembari memperhatikan kedua sahabatnya lagi sibuk membahas situasi perang. Perlahan-lahan raut wajah Arthur menurun dan terlihat sedih.
"Apa aku bisa melakukannya?"
"Hah?"
Aku mendengar pikiran Arthur ini seperti saat aku mendengarkan suara pikiran dari Aristoteles. Aku tidak tahu apa yang membuatnya terlihat sedih begitu, tapi aku tahu apa yang ia pikirkan, sebab... kami sama-sama menanggung sebuah tanggung jawab besar yang tidak ada satu pun manusia mengetahui hal ini.
"Arthur..., hei! Arthur...!"
Sang kesatria yang tenggelam dalam pikirannya membuat suara di sekitarnya tak sampai kepadanya.
Seketika Merlin yang ada di sampingnya langsung menepuk pundaknya dan membuat dia langsung terbangun dari mimpi sesaatnya itu.
"Maaf, aku banyak pikiran tadi."
__ADS_1
"Kalau kamu lelah istirahat saja dulu, aku akan minta yang lainnya untuk menggantikanmu sementara," ucap Uther.
"Iya, kalau prajurit terkuat sepertimu tumbang terlalu cepat di pertempuran maka itu hanya memperburuk situasi, bukan hanya kehilangan kekuatan tapi juga para prajurit yang kamu pimpin akan kehilangan semangat untuk bertempur lagi," dilanjut Merlin.
Mendengar itu membuat Arthur tersenyum, dia pikir bahwa ini juga bagian tugasnya sedari dulu.
Arthur menghela napas dan berkata:
"Repot juga punya teman yang selalu mengkhawatirkanmu."
Merlin dan Uther senang melihat temannya ini kembali tegar dan terlihat di matanya juga ada semangat kehidupan muncul lagi.
"Yah, mungkin ini sudah takdirku sejak lahir. Aku akan melindungi semuanya walau hidupku harus jadi taruhannya."
Mereka berdua memandangi Arthur dengan tatapan penasaran, Arthur yang menyadari itu ia langsung bertanya kepada mereka.
"Ada yang ingin kutanyakan sesuatu pada kalian...."
Merlin dan Uther langsung saling memandang, seolah-olah pikiran mereka tersampaikan kepada pria berzirah ini.
"Mungkin pertanyaanku ini sedikit aneh dan tidak logis, tapi... aku hanya ingin mengetahuinya saja tentang pendapat kalian mengenai hal ini...."
Arthur yang mencoba melihat respon kedua temannya ini hanya diam saja dengan tatapan serius, Arthur yang menyadari itu sedikit senang bahwa kenapa harus ragu memberitahukan isi pikirannya kepada kedua sahabatnya ini, walau ada rahasia yang disembunyikan sangat dalam dari mereka berdua.
"Bagaimana menurut kalian jika kalian diberikan sebuah tanggung jawab yang sangat besar, di mana tanggung jawab itu hanya kamu sendiri saja yang menanggungnya dan tanggung jawab itu mengenai semua hal yang ada di dunia ini termasuk nyawa manusia...."
Uther dan Merlin terbelalak dan mereka sudah tahu arah ke mana pertanyaan ini, tapi mereka tak ingin menyela di tengah pembicaraan itu karena mereka tahu bahwa kalimat yang diucapkan Arthur belum selesai.
"Kalian diberikan sebuah kekuatan yang sangat besar, kekuatan yang bisa menguasai dunia ini dalam sekejap saja dan membuat semua makhluk hidup yang ada tunduk padamu termasuk manusia. Tapi, kekuatan itu diberikan kepadamu karena ada tujuan, tujuannya yaitu melindungi semua yang ada di dunia ini termasuk semua nyawa yang hidup...."
"Di saat kekuatan besar nan misterius yang kalian terima, tiba-tiba muncul makhluk asing entah dari mana dengan kekuatan besar seperti kekuatanmu dan tujuan kedatangan mereka ke dunia ini hanya untuk menghancurkan dunia kita dan jumlah mereka sangat banyak, hanya kamu satu-satunya manusia yang memiliki kekuatan seperti mereka tapi... kamu diberikan sebuah tanggung jawab untuk melindungi dunia kita dari makhluk seperti mereka. Jadi, apa yang kamu lakukan jika berada diposisi orang itu, apa kamu akan berpaling dan bersama mereka atau tetap melaksanakan tanggung jawabmu yang sudah semestinya, lalu apa yang kamu lakukan jika sebagai orang biasa yang melihat pertarungan mereka kalau itu benar-benar terjadi?"
Setelah Arthur berterus terang dengan apa yang ada dipikirannya serta melemparkan sebuah pertanyaan juga. Merlin dan Uther hanya diam menanggapi semua ucapan Arthur, terlihat mereka sangat serius memikirkan sebuah jawaban, walau pertanyaan yang dilontarkannya bisa dibilang hanya sebuah imajinasi saja. Tapi, kedua orang ini tidak akan berpikir ke sana melainkan mereka menganggap hal ini serius jika hal itu berkaitan dengan saudara mereka.
Setelah cukup lama memikirkan jawaban yang tepat, akhirnya Merlin yang buka suara duluan dan memberikan jawabannya.
"Kalau aku diberikan kekuatan sebesar itu mungkin ini akan sangat memudahkan setiap penelitianku, tapi kekuatan sebesar itu pasti dibaliknya ada sebuah tanggung jawab besar dengan resiko yang sangat tinggi. Jika sang Pencipta mempercayakan tanggung jawab itu kepadaku, maka aku berusaha sebisaku walau kegagalannya sangat tinggi, tapi hal itu tidak akan membuatku akan putus asa--aku akan mewariskan apa yang bisa kuwariskan kepada generasi ke depannya, agar mereka bisa meneruskan perjuanganku. Jika pertarungan mereka terjadi, maka aku sebagai manusia biasa hanya diam dan berputus asa melihatnya, tapi... aku akan berjuang sebisaku untuk membantunya dari belakang, karena sang penyelamat atau pahlawan kita membutuhkan dukungan kita walau hanya sebuah harapan dan doa yang bisa kuberikan kepadanya, tapi hal itu sudah sangat membantunya karena... ia tidak pernah sendirian."
Sekian jawaban yang diberikan kepada Merlin, aku melihat Arthur sedikit terbelalak mendengar dan aku juga sangat kagum atas jawaban itu. Mungkin sang legenda ini hanya membutuhkan sebuah harapan untuk bisa maju dan tidak akan pernah meragukan dirinya bahwa dia sendirian di dunia ini.
Arthur langsung melihat ke arah Uther yang tampak memikirkan jawabannya, Uther yang menyadari itu langsung menghela napas dan tampak dia pusing kata apa yang tepat untuk sahabatnya ini.
"Sebenarnya jawabannya sudah terwakili semua oleh Merlin. Jika aku punya kekuatan sebesar itu dan bertujuan hanya untuk menghadapi makhluk asing itu, maka aku hanya bisa maju saja dan menghadapi mereka sampai nyawaku lepas dari tubuhku seperti kamu yang lakukan sekarang...." Sembari menempelkan tinjunya ke zirah Arthur. "Maju terus dan menerobos barikade musuh tanpa berpaling sedikit pun ke belakang karena kamu percaya prajuritmu selalu ada di sampingmu, dan aku yang selalu berada di belakang medan perang hanya bisa berdoa dan berharap kemenanganmu, itulah perasaan kita sebagai orang biasa hanya bisa berdiam diri dan berharap semuanya baik-baik saja. Seperti kata Merlin, yang hanya bisa kita lakukan adalah mewariskan apa yang bisa kita wariskan, seperti dirimu...."
Uther maju ke sebuah kotak kayu yang sangat besar dan membuka kotak itu, dia mengambil sesuatu di dalam sana dan itu adalah sebuah pedang. Dengan hiasan sedikit mewah dan di atas gagangnya dikelilingi warna emas dengan batu ruby warna merah darah di tengahnya.
Uther berjalan kembali ke poisi sebelumnya dan memberikan pedang itu kepada Arthur, Arthur sedikit bingung tapi dia menerima pedang itu dengan senang hati.
"Kamu mewariskan sebuah tekad yang sangat kokoh sehingga orang-orang yang melihat punggungmu tidak akan merasa khawatir dengan diri mereka sendiri, karena sosok kuat mereka telah menuntunnya untuk maju terus dan tekad itu kamu sudah wariskan sekarang. Warisanmu sudah terukir di jiwa mereka dan warisan itu tidak akan pernah pudar hingga ke generasi-generasi ke depannya...."
Arthur membuka sarung pedang itu dan melihat pantulan dirinya melalui baja yang tipis nan kokoh dan tajam itu.
"Pedang itu dibuat secara khusus untukmu dan tentu saja ada campur tangan kami berdua membuatnya," sambung Uther
Arthur tersenyum mengetahui dan di dalam hatinya sangat senang menerima, dia tak mengira bahwa kedua sahabatnya ini rela melakukan tak perlu mereka lakukan.
__ADS_1
"Kalau Merlin sih aku tidak terkejut kalau dia membuatnya, tapi kamu ini seorang raja masa rela mengotorkan tangannya demi prajuritnya."
"Aku membuat pedang itu bukan sebagai raja tapi sebagai saudaramu, kuharap kamu menjaga baik-baik pedang itu."
"Karena kalian membuatnya pasti pedang ini punya nama, kan?"
Saat Arthur mengatakan itu, tampak Merlin terlihat sedikit semangat dan langsung membuka suaranya.
"Tentu saja punya nama, namanya yaitu Caliburnus...."
Saat mengatakan itu, Uther langsung menyela dan tampak dia sangat keberatan.
"Heh! Apa-apaan nama itu!"
"Nama itu sangat keren loh, bagaimana kalau Chaliburn namanya tidak jauh beda sedikit dan malah terdengar jauh lebih keren," ucap Merlin dengan bangga.
"Malahan nama itu tambah jelek! Aku tahu kamu suka memberikan nama-nama aneh pada benda buatanmu."
Merlin mendengar itu mulai tampak kesal.
"Lalu apa nama yang cocok untuk pedang itu, hah?!"
"Tentu saja aku punya nama keren, namanya Escalibor yang terdengar seperti nama seorang pejuang."
"Hah..! Malahan nama terdengar nama itu jauh lebih norak."
Mereka berdua mulai sibuk berdebat soal nama pedang itu, Arthur yang melihat itu tak ingin menyela karena kedua orang ini selalu seperti ini sedari dulu.
"Ikatan pertemanan yang sangat erat. Bahkan berumur pun, mereka tetap seperti dulu."
Tiba-tiba aku sangat terkejut, karena Arthur tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke arah kanan dan tersenyum.
"Apa dia melihatku?"
Aku teringat pada Aristoteles yang langsung mengarahkan pandangannya kepadaku sembari tersenyum, mungkin karena mereka pendahuluku maka hal ini bisa terjadi juga.
Arthur langsung mengarahkan pandangannya ke arah kedua sahabatnya yang masih sibuk berdebat.
"Chaliburn dan Escalibor...," gumam Arthur sembari menatap pedang buatan kedua sahabatnya. "Bagaimana kalau... Excalibur."
Mereka berdua langsung berhenti berdebat dan saling memandang satu sama lain. Uther langsung menghela napas dan Merlin menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa membantah lagi," ucap Merlin.
"Karena kamu punyanya, maka kamu bebas memberikannya nama," dilanjut Uther.
Aku melihat kehangatan pertemanan dari mereka bertiga, tampak hubungan mereka sangat harmonis dan jabatan tidak mengganggu hubungan sahabat mereka sama sekali.
Tapi... ikatan itu tidak bertahan lama.
Bing...!
Tiba-tiba cahaya menyilaukan itu muncul lagi dan kali ini aku akan dipindahkan di tempat lain lagi.
Sesaat cahaya itu menghilang dan pandanganku mulai kembali normal lagi. Tapi, yang aku lihat sangat membuatku sangat terkejut dan marah.
__ADS_1
"Apa-apaan ini...!"