Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 77


__ADS_3

"Kayaknya kamu kesulitan, Nak..."


"Hah?"


Saat ingin bangkit lagi, tiba-tiba suara asing terdengar di kepalaku. Aku langsung melirik ke berbagai arah dan mencari tahu siapa orang yang mentelepati diriku ini.


Duk..! Duk..! Duk...!


Di sisi lain bos Goblin itu sedang memasuki mode mengamuk dan berlari ke arahku dengan penuh amarah dan kegilaan.


"Sial! Bukan waktunya memikirkan itu!"


Aku berusaha bangkit dengan tubuh yang semakin melemah ini, karena efek samping mode Heredis.


"Eh? Di mana aku ini? Kenapa semuanya menjadi gelap?"


Tapi... saat aku mengedipkan mata satu kali, tiba-tiba di sekitarku menjadi gelap dan sangat hampa. Ini mengingatkanku saat ingin memasuki dan melihat masa lalu para pendahuluku.


"Akhirnya kita bertemu secara langsung."


Tiba-tiba muncul suara seseorang tepat di belakangku, saat mendengarnya itu membuatku sangat terkejut dan langsung berbalik ke arah suara itu.


Saat berbalik aku dibuat terkejut lagi akan sosok dia ini, pakaiannya seperti pakian cino kuno abad sebelum masehi serta rambut panjang dan jenggot panjang berwarna putih.


"Kamu sangat terkejut melihatku. Ya itu wajar, sebab ini pertemuan pertama kita."


"Kamu...." Entah kenapa aku merasa gugup saat bertemu orang ini, padahal ini pertama kalinya aku melihat dia dan ditambah lagi... aku melihat Aura miliknya yang sangat kuat, dan tidak merasakan sedikit pun pancaran Mana darinya. "Apa kamu pendahuluku?"


"Hm?"


Aku bertanya seperti itu padanya dengan suara sedikit gemetaran. Saat dia mendengarnya malah itu membuatnya tertawa terbahak-bahak dan membuatku semakin kurang nyaman akan sikapnya itu.


"Maaf, maaf, aku tak bermaksud tertawa keras seperti itu. Tapi, aku tertawa karena sangat senang bisa bertemu secara langsung salah satu pewarisku. Padahal selama ini aku tak pernah berkomunikasi secara langsung dengan para pewarisku selama ini."


Mendengar itu sudah menjawab pertanyaanku, tak kusangka dia salah satu pendahuluku yang mewarisi kekuatan kematian ini. Saat mengetahui bahwa ada Heredis lain selain diriku di masa lalu itu membuatku sangat terkejut saat mengetahuinya, dan tidak tahu ada berapa Heredis of Death selama ini.


Tapi satu hal yang pasti bahwa jumlah orang yang mewarisi kekuatan ini sangatlah banyak dan aku tidak tahu bahwa Heredis of Death ke berapa aku ini.


"Baiklah, kita tidak punya banyak waktu jadi kita langsung ke permasalahannya."


Orang tua itu mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya di langit-langit.


Bing...!


"Egh...!"


Tiba-tiba cahaya putih yang sangat menyilaukan pandangan ini membuatku sontak menutup mataku dengan kedua tanganku.


"Eh? Angin?"


Setelah beberapa saat, aku sudah berada di tempat lain lagi dan kali ini aku melihat sebuah ladang hijau yang sangat luas, dan di seberangnya ada sebuah sungai panjang diiringi pegunungan tinggi dan air terjun.


Wussh...


Angin gunung benar-benar sangat membuatku nyaman, aku melihat pemandangan sekitar dan tak kusangka bahwa diriku berada di salah satu gunung tinggi ini.


"Bagaimana perasaanmu, Nak. Apa sudah baikan?"


"Eh, itu...." Aku memegang dadaku yang jantungnya berdetak secara normal dan lagi tubuhku merasa sangat ringan, serta tak ada rasa sakit lagi yang aku rasakan semenjak berada di sini. "Iya, aku sudah baikan. Tapi... ini di mana?"


Orang tua ini maju ke depan dan berjalan ke arah salah satu pohon yang menurutku cukup besar untuk ukuran pohon zaman sekarang.


"Kita berada di tempat di mana aku menghabiskan separuh waktu hidupku di sini."


"Berarti kita berada di..."


"Ya, kita berada di masa lalu."


Mendengar itu membuat sedikit terkejut sebab tempat indah dan penuh alam yang cerah ini, tidak ada sama sekali di temukan selama aku hidup.


"Untuk apa kamu membawaku ke sini?"


"Pengalaman..."


"...?"


"Aku hanya ingin kamu merasakan pengalamanku semenjak aku hidup," ucap kakek tua itu lalu berbalik ke belakang.

__ADS_1


Aku mengikuti arah pandangnya itu dan melihat seseorang dengan tubuh kekarnya sedang berjalan ke arah kami.


"Kamu tak terlalu terkejut saat dia melewatimu begitu saja."


"Tentu saja tidak, karena sudah beberapa kali aku merasakan hal begini."


Orang itu melewati kami begitu saja dan tampaknya kami hanya arwah bebas yang menjelajahi ruang dan waktu.


"Husp*..., Wush*..., baiklah ini saatnya aku melepaskan semua hasil kerja kerasku ini."


Aku melihat orang itu beberapa kali menarik dan menghembuskan napasnya, tampaknya ia ingin melakukan sesuatu di atas tepi gunung ini.


"Apa yang dilakukannya?"


"Sebaiknya kamu perhatikan dia saja."


Aku melihat pria kekar itu hanya diam saja sembari mengatur berapa kali napasnya dan memasang kuda-kudanya.


"Hiat..! Aaaaahhhh...!!!"


"...?!"


Wissh...!!


Tiba-tiba udara di sekitarnya tersingkir dan aku merasakan tekanan yang sangat kuat dari pria itu. Dan lebih mengejutkan lagi, pria itu dikelilingi oleh sesuatu yang berwarna putih di sekujur tubuhnya.


Srek...!


Dia mengubah kuda-kudanya dan tampak kali ini kuda-kudanya siap untuk meninju sesuatu di depannya.


Punch! Wiss..!! Piuh! Bom!


Aku terbelalak dan sangat terkejut melihat apa yang dilakukan pria itu. Dia hanya berdiam diri di tempatnya dan meninju udara di depannya sekuat mungkin, dan pukulannya barusan menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat sehingga gunung yang jauhnya 200 meter lebih darinya terbelah menjadi dua.


"Bagaimana menurutmu kekuatan orang itu?"


Orang tua ini bertanya kepadaku sembari tersenyum memandangi pria itu, aku hanya masih sedikit terpaku pada gunung yang hancur itu karena pukulan pria itu barusan. Aku masih tak menyangka jika ada orang sekuat ini di masa lalu.


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi dia melakukan hal yang sangat luar biasa. Apa jangan-jangan orang itu...." Aku langsung memandangi orang tua yang ada di sampingku ini.


Orang tua ini diam sesaat lalu memandangiku dan berkata :


Aku melihat sekali lagi pria itu dan memperhartikan seksama pada dirinya. Satu hal yang kurasakan darinya saat melancarkan pukulan kuat barusan, tidak adanya Mana yang dipancarkan dari pukulannya itu melainkan sesuatu yang sangat kuat aku rasakan darinya yaitu Aura-nya.


"Aku merasakan tekanan Aura yang sangat kuat darinya. Apa pukulan yang barusan tadi berasal dari Aura-mu?"


Orang tua ini hanya mengangguk saja dan itu membuatku terkejut, aku tak menyangka jika Aura bisa sekuat ini dan bisa melepaskannya seperti Mana, dan pria itu barusan sudah membuktikannya barusan.


"Sekarang kamu mengetahuinya kan. Yang kulakukan barusan tadi kekuatan sejati dari umat manusia."


"Kekuatan sejati?"


"Ya, sebelum ada Mana, Chi-lah yang membuat kita menunjukkan potensi sejati umat manusia. Kalau di zamanmu sekarang menyebutnya Aura."


Aku masih tak yakin akan kekuatan Aura ini, tapi dia ini pendahuluku seorang Heredis juga, maka tak mungkin hal seperti ini bisa terjadi pada manusia biasa.


"Kamu pasti berpikir bahwa karena aku seorang Heredis maka hal seperti ini bukanlah hal mustahil lagi."


"Ya, menurutku jika manusia biasa punya kekuatan sekuat ini, maka kami tak perlu kerepotan melawan para monster itu."


"Yang kamu katakan itu benar, tapi yang kutunjukkan barusan memanglah diriku sepenuhnya sebagai manusia biasa bukanlah Heredis. Aku telah menyegel sepenuhnya kekuatan Heredis untuk mengeluarkan kekuatan ini."


Orang tua ini berjalan ke arah lain dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa langkah, kami berhenti di sebuah air terjun yang turunnya sangat derasa seperti hujan.


Aku melihat pria itu lagi dan kali ini dia sedang bermeditasi di bawah air terjun deras itu.


"Saat itu aku berusia empat puluh tahun dan aku mengahabiskan sepuluh tahunku di tempat ini, hanya untuk mengasah Chi-ku."


"Aku pikir cerita semacam kultivasi atau tenaga dalam super yang terjadi di zaman dulu hanyalah sebuah dongeng belaka, tapi tak kusangka hal seperti itu benar-benar ada."


Orang tua ini hanyan tertawa kecil dan kami melihat lagi pria itu yang sedang menunjukkan sebuah reaksi dari meditasinya itu.


"Egh...!"


Buss...!!


Seketika Aura yang dipancarkan dari tubuhnya telah berhasil membuat atau menyingkirkan air terjun yang telah membasahi dirinya, dan kini air terjun itu hanya melewati pria dari dua arah dan tidak mengenai setetes pun pria itu.

__ADS_1


"Kalau soal tenaga dalam super itu memang benar, tapi soal di mana seseorang pengguna tenaga dalam super akan abadi, bisa menghidup orang mati dan segalanya itu hanyalah omong kosong. Justru sebaliknya malah semakin memperpendek umurmu."


"Maksud kamu?"


"Jika manusia biasa menggunakan kekuatan ini maka hanya akan menguras energi jiwanya, sebab kekuatan utama dari Chi ini adalah jiwa itu sendiri. Seberapa keras kamu berlatih maka kekuatan besar kamu dapatkan juga, tapi bayarannya setimpal jadi sedari awal orang pengguna kekuatan ini siap menerima konsekuensinya."


Saat mendengar itu sangat berbeda dengan pandangan zaman sekarang, sebab dalam konsep Chi zaman sekarang mengandung arti udara, napas atau energi vital.


Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa hidup ini hanya dimungkinkan dengan adanya Chi yang terdapat pada udara dan nafas. Dalam teorinya Chi terdapat dimana-mana di alam semesta ini.


Tanpa Chi tidak mungkin manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan hidup berkembang, demikian pula Matahari, Bumi dan bintang-bintang semuanya mengandung Chi.


Sedangkan menurut orang tua ini, Chi berasal dari dalam dirinya manusia itu sendiri dan seperti yang dikatakan Pak Adrian padaku. Katanya Aura atau Chi dikelola dari dalam diri manusia itu sendiri, yang lebih simpelnya Mana buatan sendiri.


Sedangkan konsep Chi Zaman sekarang hampir sama persis dengan konsep Mana, yang mana sama-sama menyerap energi berasal dari alam itu sendiri.


"Begitu ya, maka tak heran kenapa saat menggunakan beberapa saat rasanya sangat berat, jadi itu salah satu proses pengurangan energi jiwa ya."


"Ya itu benar, tapi ada banyak cara mengurangi resikonya dan yang kamu lakukan barusan..."


Jitak!


"Aduh..!"


Orang tua ini langsung memukul kepalaku dan rasanya aku dipukul sebuah palu raksasa, dan lebih untungnya aku ini seorang Heredis jadi rasa sakitnya tak terlalu berat.


"Sangatlah berbahaya sehingga membahayakan nyawamu kapan saja!"


"Maaf..."


Aku merasakan kemarahan dari pukulannya barusan. Yah... ini marah orang tua terhadap anak-anaknya, sebuah kemarahan yang menunjukkan kasih sayang yang tersembunyi di dalamnya.


"Untuk menggunakan Chi secara efisien yaitu fisik dan mentalmu haruslah kuat dan kokoh. Kamu telah memenuhi syarat pertama yaitu fisikmu sudah kuat dan bahkan lebih kuat lagi, karena kamu telah menjalani latihan menjadi seorang Heredis. Dan kedua, mentalmu sangatlah stabil tapi ada satu hal yang aku sembunyikan dan belum kuberitahukan ke keturunanku, yaitu perasaan."


Saat mendengar itu aku langsung mengerti dan tanpa sadar aku memegang dadaku yang sedikit sesak. Yah... sebuah perasaan yang tidak pernah aku rasakan sejak dulu dan kini telah muncul semenjak dua tahun terakhir ini, sebuah perasaan bersalah yang selalu ingin aku curahkan kepada siapa pun.


"Untuk menstabilkan penggunaan Chi-mu yaitu salah satunya perasaanmu haruslah tenang. Kamu boleh marah, kami boleh senang dan sebagainya. Tapi, kedua sisi itu kamu harus seimbangkan, jika kamu terlalu positif maka hanya akan membahayakan dirimu sendiri karena kepedulianmu terhadap sekitarmu sehingga mengabaikan dirimu sendiri. Sedangkan jika kamu terlalu negatif maka hanya membahayakan sekitarmu karena kepedulianmu terhadap dirimu sendiri jauh lebih utama dibanding di sekitarmu, jika mengabaikan sekitarmu maka hanya ada keburukan jika kamu mendekati mereka. Makanya, hidup ini harus berada dalam keseimbangan Yin dan Yang, kamu boleh menjadi jahat dan kamu boleh menjadi baik. Itulah yang harus dilakukan manusia, mereka harus mengambil dua peran itu sekaligus agar dirinya tidak terjerumus ke salah satunya, dan manusia sesungguhnya ialah mereka mampu mengenali dirinya sendiri."


"Seimbang ya..."


Aku melihat salah satu tanganku dan entah kenapa aku mulai semakin merasa tenang. Tapi, perasaan yang selalu mengganjal ini tak pernah sekalipun kulepas, sebab aku ingin perasaan ini yang akan menjawab pertanyaanku jika sudah waktunya.


"Baguslah kalau kamu sudah mengerti. Satu hal yang ingin kutekankan padamu yaitu... jangan terlalu memaksakan perssaan itu mendorongmu terlalu jauh, aku tak ingin pewaris mudaku ini mati terlalu cepat."


Mendengar itu membuat tersenyum dan perasaan tenang telah mengusaiku saat ini.


"Ya, aku tak akan terjerumus terlalu jauh. Tapi aku tak ingin melupakan perasaan ini, karena perasaan inilah yang telah membawaku sampai di sini."


Sebuah perasaan bersalah menghantuiku sejak orang tuaku pergi meninggalkan aku dan kedua Adikku. Pikirku saat itu bahwa akulah yang menyebabkan mereka pergi walau aku tahu itu bukan kesalahanku, tapi aku hanya ingin menanamkan rasa bersalah itu di hatiku agar aku punya tujuan untuk membalaskan dendam mereka.


Menurutku menanamkan rasa bersalah jauh lebih berarti daripada menanamkan rasa ingin balas dendam ke seseorang, sebab rasa balas dendam hanya sesaat jika sudah terpenuhi sedangkan rasa bersalah ini akan selalu mengikatmu selamanya, dan itulah kulakukan sekarang menjaga kedua keturunan mereka agar tetap hidup sampai akhir hayatku.


"Baiklah, mari kita pergi ke tempat lain."


"Ke mana?"


"Kamu penasaran akan masa laluku kan. Aku hanya akan menceritakan separuhnya saja, karena aku tak ingin membebani kepalamu. Oh iya, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Aran Han. Aku akan memperlihatkanmu awal mula diriku hingga sekarang, anggap saja ini pengetahuan baru untukmu."


Aku hanya mengangguk saja dan Aran sang pendahuluku mengangkat tangannya ke langit-langit dan menjentikkan jarinya.


Bing...!


Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan di sekitarku dan mengubah tempat ini lagi. Sesaat aku berada di tempat asing lagi, dan kali ini aku berada di sebuah tempat yang mana banyak orang lalu lalang di sini.


"Tak kusangka kamu tinggal di rumah sebesar ini."


"Kita berada di istana kerajaan. Dan aku memang tinggal di sini."


Aku berbalik ke berbagai arah dan istana ini benar-benar sangat besar dan megah. Aku merasa berada di ruang terbuka istana, aku berjalan ke arah tepi istana dan melihat kota dan orang-orang dari sini.


"Tuan muda! Tunggu...!"


"Haha! Kejar aku kalau bisa!"


Aku melihat anak kecil berlari dengan riang dan dikejar beberapa wanita pelayan di belakangnya.


"Itu adalah aku waktu berumur sepuluh tahun. Kita akan memulai kisanya dari sana dulu."

__ADS_1


Kisah ini akan diawali dengan anak kecil yang sangat periang.


__ADS_2