
GULP!
Aku menelan ludahku dan tanpa sadar keringat sudah membasahi keningku, apa ini karena aku ketakutan? Aku rasa benar-benar mulai takut, sebab bagian dalam dungeon sudah tidak seperti dulu.
"Pak Adrian, kurasa bagian dalam dungeon juga ikut berubah."
"Apa maksudmu, Tuan Peteng?"
"Aku rasa dungeon-nya benar-benar berubah, sebab depan sana cuma jalan kita satu-satunya...," kataku sembari membalik badan ke belakang dan hal yang terburuk telah terjadi.
Semuanya mengikuti arah pandangku juga, mereka membalik badan dan tampak seketika wajah mereka terkejut, karena jalan kita kembali telah tertutup sepenuhnya.
Semuanya mulai semakin panik dan Pak Adrian mulai sulit mengontrol anggotanya, karena ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Aku rasa tidak pilihan lain, Susan, tolong lepas tanganku sebentar."
"Heh? Baik."
Sebenarnya ia enggang melepas tanganku karena masih ketakutan, tapi kali ini mengerti apa yang kuinginkan.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan...
"DIAM!!!"
Seketika teriakanku menjangkau mereka semua.
"APA INI SOSOK ORANG-ORANG YANG LEBIH KUAT DARIKU, HAH!! Kita harus tenang dan bersama-sama menyelesaikannya, aku tahu ada orang yang kita cintai menunggu di rumah, aku pun juga sama! Aku tak ingin berdiam diri di sini sembari menunggu kematian, maka dari itu... aku akan berjuang sekuat mungkin untuk bisa keluar dari sini!"
Semuanya diam dan tertegun mendengar ucapanku, kali ini pertamanya aku berteriak kepada orang apa lagi banyak orang dan itu sudah cukup membuatku sangat gugup.
"Tak kusangka anak ini bisa menenangkan mereka, sebagai ketua aku malu tidak bisa menenangkan mereka semua," pikir Pak Adrian.
Pak Adrian tiba-tiba menepuk pundakku dan dia bilang menyerahkan sisanya padanya.
"Sebenarnya kita semua harus malu, orang yang selama ini kita anggap sangat lemah tapi ternyata dia yang paling tegar di antara kita. Maka dari itu, kita harus kuat dan bisa keluar dari sini."
Seketika semuanya langsung bangkit dari keterpurukan dan menampakkan ekspresi penuh tekad, tidak ada ketakutan terpampang lagi di wajahnya.
Sedangkan Susan terlihat wajahnya tidak seperti sebelumnya, terlihat wajahnya sedikit pucat dan agak mendingan--tidak terlihat terlalu ketakutan dari sebelumnya.
Sesaat semuanya kembali semangat, kami melanjutkan perjalanan. Satu-satunya jalan kami yaitu mengikuti nyala api yang tertempel di dinding.
Sesaat berjalan aku merasa hawa dari sini terasa semakin dingin, saat kita semakin masuk ke dalam walau api-api ini tidak mengubah suhunya sama sekali. Apa ini karena Mana di sini sangat tinggi, sehingga membuat tubuhku terasa menggigil seperti kedinginan.
Semakin kita jauh berjalan, semakin dirasa jalan yang kami lalui semakin luas. Sesaat berjalan cukup lama, akhirnya berhenti di suatu tempat yang sangat luas, kami mengira ini ujung dungeon-nya dengan kata lain tempat bosnya berada.
"Apa ini tempat bosnya berada?"
Terlihat Pak Adrian yang sangat kebingungan serta seluruh anggotanya, yang pernah menjelajah dungeon Rank-F hingga ke tempat boss tanpa membunuh boss-nya.
"Arkha... di sana, ada sesuatu tertulis."
__ADS_1
Susan yang menarik lengan bajuku dan menunjuk ke arah depan, tampak ia melihat sesuatu.
Kami semua maju ke arah yang dituju Susan, sesaat aku melihat sebuah batu berdiri tegak dengan sebuah tulisan.
"Tulisan apa ini?"
Semuanya terpaku dengan tulisan itu, di antara mereka tidak ada yang satu pun paham dan entah kenapa mataku tiba-tiba terasa sedikit panas.
"Ergh!"
Seketika aku mengerang kesakitan sembari menutup mataku dengan tanganku, dan semua orang langsung melihatku yang kesakitan.
"Arkha! Kamu kenapa? Hei!"
Susan yang panik pertama kali melihatku.
"Tiba-tiba mataku panas! Aku tidak tau kenapa!"
"Kalau begitu biar aku redakan."
"Jangan..!" kataku sembari menatap tulisan itu. "Mungkin ini efek skill baru yang aku dapatkan."
Semuanya terkejut mendengarnya dan Pak Adrian yang pertama bertanya mengenai skill yang aku dapatkan:
"Skill apa yang kamu dapatkan, Tuan Peteng?"
"Aku tidak tahu skill apa, tapi tiba-tiba aku bisa membaca tulisan ini."
"Tunggu sebentar biar aku coba..." kataku sembari memfokuskan penglihatanku ke tulisan itu dan aku bisa membacanya.
...Qod ava gimpi aeta via... gimpi qod dene sig sutatem, gimpi sig fo prosuern ingul....
...Qod mer jo antane inteseton... intoar te awa dewe u sap alan, e stabit abe his tis ia sap ani mea....
...Consu antane sap alan, e intoar te abe ad dem. Ropi uip sak sap ani mea, era indumat e alan ersu arf....
"Apa artinya itu, tuan Peteng?"
"Arti dari tulisan ini semacam syair, biar aku bacakan:
(Dia memiliki mimpi seumur hidup... mimpinya menjadi yang teratas, mimpi yang membuatnya bertekad.)
(Dia berjalan diantara persimpangan... menyerahkan dirinya ke tujuh jalan, dan menetapkan semua perbuatannya kepada tujuh jiwa.)
(Berdiri diantara tujuh jalan, dan menyerahkan semuanya kepadanya. Tetesan kehidupan dari tujuh jiwa, telah menuntunnya ke jalan menuju puncak.)"
"Aku rasa syair ini mengisyaratkan pengorbanan."
Seketika seorang wanita dari kelompok kami berbicara di belakangku.
"Apa kamu tahu maksud syair ini, Zara?" Tanya Pak Adrian.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa maksudnya, Pak. Karena aku sekolah di jurusan sastra melihat arah kalimat ini, menurutku semacam pengorbanan seseorang."
Kami hanya diam dan mendengarnya dengan seksama, jadi arti dasar syair ini adalah pengorbanan. Tapi... aku merasa masih ada maksud lain dari syair ini.
Wosh! Wosh! Wosh!
Seketika muncul api mengelilingi tempat ini dan terlihat tujuh gerbang setiap sudut dinding.
"Gerbang? Apa kita akan melawan bosnya?"
Aku juga berpikir seperti itu, tapi aku merasa dungeon ini tidak ada niatan melepaskan kita semua begitu saja.
SRET...!
Tujuh gerbang terbuka secara bersamaan, dan terdengar langkar berat di sana.
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiba-tiba muncul getaran hebat dan terdengar seperti langkah seseorang yang sangat besar di balik gerbang itu.
BOOM! BOOM! BOOM!
Setelah beberapa saat getaran itu semakin terasa dengan kata lain sesuatu akan keluar dari sana.
"Apa! Tidak mungkin..!"
Kami semua syok melihat sesosok makhluk aneh muncul dari gerbang-gerbang itu, selain ukuran mereka besar kira-kira 5 meter lebih serta menyerupai manusia setengah monster.
Kami hanya diam mematung dengan tubuh gemetar.
"Aaaahhh..! Aku ingin keluar dari sini..!"
Seorang dari kelompok panik dan berlari menuju jalan kami yang pernah lalui.
Akan tetapi....
SYUT...!
Seketika salah satu dari monster itu muncul secara tiba-tiba di hadapan pria itu.
"Eh?"
CREK..!
Satu tebasan pedang besar membelah dua tubuh pria itu.
"KYAAA!!!"
Kami hanya diam dan histeris melihat salah satu rekan kami mati di depan mata. Kakiku gemetaran melihat monster-monster itu.
"Menghadapi tujuh monster mengerikan dengan skill kami seadanya, apa aku atau di antara kami benar-benar bisa lolos dari sini?!"
__ADS_1