Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 48


__ADS_3

Pukul 06.07


Paris, Prancis


Di sebuah gedung apartemen mewah....


"Apa kalian sudah menemukan informasi mengenai dua orang selamat itu, kirimkan sekarang informasinya padaku."


Tok... Tok... Tok....


Klak....


Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan seorang wanita masuk.


"Tuan Himar, kenapa Anda belum siap-siap, sebentar lagi Anda harus terbang ke Washington untuk menghadiri persiapan rapat di sana."


"Ningti, apa aku sekarang bisa kembali ke Indonesia? Karena aku harus menghadiri pemakaman Adikku!" Sembari berbalik dan menatap wanita itu.


"...!" Wanita itu terkejut melihat wajah pria itu. "Hanya dua hari saja yang bisa Anda dapatkan."


"Dua hari bahkan tidak cukup untuk pemakaman layak untuk Adikku."


"Maaf kalau lancang, tapi wajah Anda menggambarkan niat lain untuk kembali ke Indonesia."


Pria itu terbelalak dan menghela napas sembari tersenyum.


"Baiklah, kamu benar-benar mengerti diriku, kosongkan jadwalku mulai besok karena aku akan pulang langsung setelah urusan ini selesai."


Tubuh wanita itu tiba-tiba gemetar karena dia merasakan hawa membunuh yang kuat dari pria itu.


"Aku harus kembali ke sana, karena ada bajingan yang membunuh Adikku, jika aku tak pernah melihat mereka secara langsung aku tidak akan tenang selama ini."


"Tidak bisa ditahan lagi ya," pikir wanita itu. "Baiklah, aku akan menghubungi pihak klien untuk memindahkan jadwal Anda di waktu lain."


"Seluruh rekan tim Gilang meninggal termasuk dia juga dan hanya 2 dua orang selamat? Yang selamat hanyalah berada ditingkat Rank-E dan Rank-F, Gilang bukan tipe orang yang mempertaruhkan nyawanya demi orang yang lebih lemah darinya dan tidak berguna di timnya, dan juga mereka hanya sebagai pengisi anggota tambahan bukan anggota normal. Mereka pasti telah memasang jebakan lalu membunuh seluruh timnya termasuk Gilang juga, maka dari itu aku sudah memberitahukannya bahwa dia lebih baik mengurus cabang perusahaanku dari pada bermain-main dengan dungeon, dasar Adik tidak berguna!" Pikir pria itu. "Tolong ya."


Wanita membungkukkan sejenak tubuhnya dengan hormat dan berbalik sembari menutup pintu ruangan itu.


Klak....


Pin....


[Pak, inilah informasi dari dua orang itu...


- Santia Wati, Protector Rank-E


- Arkha Peteng, Venandi Rank-F.]


Pria itu langsung melihat Handphone-nya, sesuatu gambar dan beberapa informasi terkirim kepadanya. Sesaat melihat Handphone-nya itu, tiba-tiba dia menunjukkan wajah tersenyum mengerikannya itu.


"Hehe..! Hahahaha..!!"


Tawanya menggelegar di ruangan ini dan membuat suasana semakin terasa mencekam dan sesak bagi orang biasa jika ada di sini menyaksikannya.


Brak!


Seketika pria itu langsung meremas Handphone-nya dengan kuat dan Handphone itu remuk di tangan pria kekar itu.


"Aku harap bajingan-bajingan itu masih hidup sebelum aku datang ke sana!"


...•••...


Keesokan harinya....


Pukul 09.47


Di suatu tempat universitas....


"Ah, akhirnya kamu datang juga, Tuan Peteng."


Seorang pria dengan paras cukup tampan menghampiriku duluan, setelah berada di depan gerbang Universitas Sanjaya.


"Aku tak menyangka Anda sendiri ingin menyambutku secara langsung."


"Bukankah itu wajar, sebab kamu adalah tamu khususku dan... halo," Sembari melambai ke arah si kembar yang ikut denganku.


Rena dan Rena menyapa dia dengan sopan, lalu Rian ini juga memberikan salam pada Susan yang ikut juga, karena kebetulan dia juga ingin menghadiri event ini.


"Maaf, aku membawa Adik-Adikku juga."


"Tidak apa-apa, lebih banyak orang datang lebih bagus," ucap Rian.


Kami ngobrol cukup sedikit akrab sehingga orang-orang mulai memperhatikan kami.


"Kenapa Ketua Rian sopan begitu pada anak itu, apa dia seorang rank tinggi?"


Berbagai ucapan yang mereka lontarkan setelah melihatku, karena indra pendengaranku tajam maka aku bisa mendengar suara dari jarak 10 meter.


"Tampaknya kita terlalu menarik perhatian. Baiklah, sebaiknya kalian masuk saja dan nikmati acaranya, dan aku harap kamu mau menyempatkan waktumu sedikit untuk bertemu Master kami."


Setelah mengucapkan itu, Rian Kasim langsung pergi meninggalkan kami berempat.


"Tak kusangka kamu begitu santai berbicara dengannya, padahal aku saja sedikit gemetaran di hadapan orang yang sangat kuat," ucap Susan.


"Karena kamu memiliki kepekaan yang kuat terhadap Mana, maka hal itu sudah wajar bagimu."


"Kak! Lihat, di sana permen kapas, aku mau itu!"


"Aku juga mau, belikan!"


"Baiklah."


Tampak si kembar sangat bersemangat akan event ini, aku dan Susan hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


Sesaat kami memasuki universitas ini, tampak tempat ini sangat ramai pengunjung dan ada banyak kios-kios makanan dan hiburan di sini.


"Aku rasa harus melepaskan beban pikiranku dulu, sebelum melanjutkan lagi leveling."


Kami berempat menikmati setiap makanan dan hiburan yang disediakan oleh universitas ini.


Nging...!


"Tes... tes..., baiklah semuanya, tolong perhatiannya sebentar."

__ADS_1


Tampak seorang pria paruh baya sedang menaiki panggung sembari memegang sebuah mic.


"Kalau tidak salah dia adalah Arjuna, seorang Archer handal di guild Si jago merah dan seorang ketua juga di salah satu cabang."


Mendengar itu dari Susan, aku bisa merasakan kekuatan orang itu sangat hebat meskipun kita berada di jarak cukup jauh.


"Terima kasih para hadirin semuanya yang menyempatkan waktunya untuk acar kami ini, aku dan seluruh anggota guild mengucapkan banyak terima kasih pada semua orang yang ada di sini. Kami menyediakan semua ini selain untuk hiburan, tapi untuk menarik minat para calon mahasiswa baru yang ingin kuliah di kampus kami. Master kami ketua guild Si jago merah yaitu Pati Bagenas, membangun sarana pendidikan ini guna bagi anak-anak muda yang ingin belajar tapi tak punya cukup uang, maka dari itu bagi yang tidak bisa mengejar pendidikan karena kendala keuangan, silahkan datang ke sini karena semua biaya tidak akan dipermasalahkan jika kalian ingin benar-benar serius mengejar pendidikan. Tapi, jika ada yang datang ke sini hanya karena gaya-gayaan, maka kami akan menendang dia keluar secara langsung!"


Saat mendengar kalimat terakhir dari pidato itu membuat semua yang mendengar itu merinding, dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun


Pok... Pok... Pok....


Seketika tepuk tangan datang beriringan secara terus dan suara berbagai tepuk tangan orang-orang semakin keras, tampak pidato itu mendapatkan reaksi positif kebanyakan orang.


"Seperti kata Ayah, bahwa pondasi suatu negera adalah anak muda, jika anak mudanya rusak maka negara ini tidak akan berdiri lama lagi. Sepertinya Pati Bagenas ini orangnya sangat nasionalisme dan sangat peduli terhadap masa depan negara ini. Seandainya saja orang seperti dia ada seratus... tidak, sepuluh saja cukup, maka negara ini akan terkendali dengan baik."


Setelah mendengar pidato itu, semuanya kembali ke kegiatan masing-masing dan menikmati event ini.


"Abang...!"


Aku mendengar suara sangat tidak asing di telingaku dan aku berbalik melihatnya.


"Abang! Sudah kuduga itu kamu, aku pikir orang lain karena kamu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya."


"Oh, itu kamu, Santia. Apa kamu datang ke sini karena tertarik masuk universitas ini?"


"Iya, aku sudah mendengar tentang universitas ini dan kupikir ini kesempatan bagus untukku bisa mengejar pendidikan lagi. Dan... tak kusangka kamu sudah menikah."


"Hah?"


Aku bingung dari maksud ucapannya itu dan tampak wajahnya terlihat sedikit sedih, aku melihat arah pandangnya barusan ke Susan dan si kembar.


"Kamu salah paham, dia ini bukan istriku tapi sahabatku..."


Deg!


"...!" Susan mendengar itu sangat terkejut.


"Dan si kembar ini Adik-Adikku, ayo beri salam pada teman Kakak."


"Halo...." Sapa bersamaan dari si kembar.


"Halo, Adik-Adikmu manis juga ya, ini untuk kalian...." Sembari memberikan dua batang permen coklat.


"Wah, terima kasih!"


"Terima kasih!"


Tampak si kembar sangat senang menerima coklat itu dan Santia tersenyum melihat itu.


"Bagaimana keadaan ibumu?"


"Sekarang dia sangat baik dan kata dokter, tinggal dua bulan lagi dia bisa keluar dari rumah sakit dan itu berkat orang misterius yang membantu kami."


"Baguslah, pengorbananku tidak sia-sia."


Seketika Santia menatap Susan, dan tampak Susan sedikit tidak nyaman ditatap oleh Santia.


"Apa-apaan wanita ini! Kenapa dia menatapku seperti itu dan lagi... tampaknya dia sangat akrab dengan Arkha."


Entah kenapa aku merasakan ketegangan diantara kedua wanita ini, apa mereka saling kenal? Tampaknya tidak, sebab reaksi mereka saat saling ketemu tadi terlihat tidak saling kenal.


"Susan, apa benar itu kamu?"


Seketika kami semua berbalik ke arah suara itu dan tidak asing dengan suara itu bagiku.


"Ah, Zara...." Susan langsung memeluk Zara.


"Akhirnya aku menemukanmu, kupikir kamu tidak akan datang."


"Tentu saja aku datang, tapi tidak sendirian aku bersama mereka."


Zara melirik ke arahku dan si kembar.


"Apa dia termasuk juga?" Sembari menunjuk ke arah Santia.


"Tidak, dia hanya Pendatang baru (Pengganggu.)"


"...!" Santia mendengar itu sedikit terkejut dan memasang wajah tersenyum. "Apa-apaan dia! Aku tahu maksud dari perkataannya itu!"


Terlihat Susan dan Santia saling melemparkan tatapan penuh arti, Zara melihat itu langsung mengerti akan keadaan ini.


"Tampaknya saingannya sangat berat, apa aku masih punya kesempatan?" Pikir Zara.


Suasananya semakin tegang dan aku tak tahu harus berbuat apa, karena ini disebut masalah wanita jadi tidak baik ikut campur di dalamnya, itu yang dikatakan Ayah padaku.


"Kak...! Ternyata kamu di sini."


Datang seseorang dan dia seorang pemuda yang tampak sangat kuat di mataku, aku merasakan tekanan Mana yang kuat darinya.


"Semuanya perkenalkan ini Adikku, Brian," ucap Zara.


"Hm? Kenapa dia menatapku seperti itu?" Pikirku.


Adik Zara ini menatapku dengan tatapan tidak suka, aku tahu tatapan itu karena aku sudah melihat banyak tatapan seperti itu mengarah kepadaku dulu hingga sekarang.


"Jadi ini pria yang membuat Jakakku selalu meluangkan waktu untuknya, padahal Kakak tidak pernah sekalipun meluangkan waktunya kepada pria lain dan waktunya itu dia selalu gunakan untuk melatih sihirnya, dan lagi dia terlihat sangat lemah dariku," pikir Brian. "Kau pikir sangat layak bagi Kakakku, hanya karena dia sering meluangkan waktu untukmu!"


"..!!" Semua terkejut mendengar itu termasuk aku yang tidak tahu maksud perkataannya itu.


"Apa maksud dia, Zara sering meluangkan waktunya untuk bertemu, Arkha?!" Pikir Susan.


"Wah, sainganku bertambah lagi, nih." Pikir Santia.


Jitak!


Tiba-tiba Zara memukul kepala adiknya itu dan berkata kepadanya:


"Kau ini bicara apa, hah! Bikin salah paham saja."


Zara yang ditatap tajam oleh Susan, membuat dirinya tidak nyaman dan berpaling dari tatapan itu.


"Jadi, alasan dia ke rumah sakit dan mengunjungi si kembar bukan karena pekerjaannya, tapi hanya ingin bertemu Arkha," pikir Susan.

__ADS_1


Susan yang menatap tajam mereka berdua, Santia yang hanya tersenyum, dan Zara yang tidak berani menatap sedikit pun ke arah kami. Entah kenapa situasi ini sangat pelik kuatasi, aku pikir menghadapi para monster jauh lebih mudah dari pada harus berada di situasi ini.


Dun...!


Dun...!


"Hm?" Aku langsung berbalik ke berbagai arah.


"Kak, kenapa kamu terlihat cemas begitu?" Tanya Rena.


"Tidak, tidak apa-apa, hanya saja aku merasakan ada yang aneh di sini."


"Aneh? Apa Abang merasakan bakalan terjadi sesuatu?" Tanya Santia.


"Iya, sebaiknya kita semua keluar dari sini. Entah kenapa perasaan tidak enak ini semakin menjadi."


Dun..! Dun...!


"Heh! Kamu pikir tempat ini apa, ini tempak guild besar yang berarti keamanannya terjamin!" ucap Brian dengan nada sombong.


"Terserah kamu bilang apa, tapi aku sudah memperingatkanmu!" Sembari menatap tajam dia.


"Ha...!" Brian mundur selangkah dengan wajah sedikit pucat. "Apa itu tadi? Aku merasa maut siap memenggal kepalaku tadi."


"Susan, bawa Rena dan Reno keluar dari di sini cepat, dan Santia sebaiknya kamu ikut mereka juga."


Santia mengangguk dan Susan memegang tangan si kembar lalu berkata:


"Lalu kamu mau ke mana?" Tanya Susan.


"Aku harus menemui ketua Kasim perihal ini."


Zara menarik adiknya yaitu Brian menjauh dari sini dan tampak Brian sedikit menolak tindakan kakaknya itu yang sedikit berubah.


"Kak, kamu kenapa tiba-tiba berubah begini, apa karena ucapan orang itu tadi?"


"Iya, kamu benar."


Brian yang kesal mendengar jawaban itu langsung melepaskan genggaman tangan kakaknya itu dan berkata:


"Kakak ini kenapa, sih! Padahal Kakak orangnya tidak mudah menelan mentah-mentah perkataan orang sebelum memastikannya sendiri dengan mata kepala sendiri, sekarang Kakak terlihat sangat lembek dan terlihat juga kakak telah jatuh dalam rayuan pria itu!"


Zara yang mendengar keras kepala adiknya itu, dia menghela napas lalu menarik kerah baju adiknya itu sembari menatap tajam padanya dan berkata:


"Kamu pasti ingatkan dengan 'Dungeon parasit,' orang-orang bilang bahwa Kakakmu dan beserta seluruh timnya masuk ke dungeon itu lalu semuanya terbantai, tapi alasan Kakakmu masih selamat karena firasat tajam darinya (Arkha) dan dia juga orang terakhir keluar dari dungeon itu, sebab dia mengorbankan dirinya agar Kakakmu ini serta sisa tim yang ada bisa selamat!" Langsung melepas kerah baju adiknya itu. "Jadi, kamu jangan menilai orang dari sampulnya sebab dia orang yang jauh lebih kuat dari Pak Adrian, beliau sendiri mengatakan itu."


Brian mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa lalu menatap pria yang menurutnya lebih lemah darinya.


"Apa dia benar-benar sekuat itu?"


Dun..! Dun..! Dun...!


Cran! Wush...!


Tiba-tiba muncul sebuah portal besar dan menghisap semua orang yang ada di dekat portal itu.


"Kyaa.!! Kakak..!!"


"Kak..!!"


Tampak si kembar sangat ketakutan dan hisapan portal ini semakin kuat, sudah banyak orang-orang terhisap dan masuk ke dalam portal secara paksa.


"Susan, bawa mereka berdua cepat dari sini!"


Susan mengangguk dan membawa si kembar pergi dari sini, aku tetap berada di sini karena entah kenapa ada yang janggal dari portal ini.


"Kenapa aku tidak terhisap sama sekali oleh portal itu?"


"Kyaa! Abang..!!"


Aku terkejut mendengar teriakan itu dan ternyata Santia terbawa arus hisap portal itu, melihat dia kesulitan aku langsung ingin menghampirinya.


Tapi....


Set!


"Brian!"


Tiba-tiba adik Zara itu langsung melompat di tengah kekacauan ini dan menyelamatkan Santia.


"Egh! Pegang erat-erat tanganku!"


Tampak mereka berdua kesulitan, aku langsung maju ke arah mereka, tapi sesaat ingin menghampiri mereka berdua, tiba-tiba muncul tangan putih samar-samar.


"Apa itu?"


Aku melihat jelas semua tangan itu sedang menarik orang-orang masuk ke dalam portal, tampak dungeon ini memiliki kehendak sendiri atau seseorang ada dibalik semua ini?


Hap!


Salah satu tangan itu mengarah kepadaku dan menangkapku.


"Tampaknya tangan-tangan ini tidak bisa dilihat oleh mereka semua, aku harus masuk ke portal itu dan memastikan sesuatu."


Aku juga mulai terhisap ke portal itu tanpa sedikit perlawan sama sekali, dan orang-orang yang berusaha menahan diri akhirnya tak kuat dan terbawa masuk juga.


...•••...


Di dalam dungeon....


Ada sebuah rumah di tengah hutan belantara.


...Lingsir wengi.......


Di dalam rumah itu terlihat sesosok wanita cantik yang duduk di depan sebuah kaca cermin besar sembari menyisir rambutnya.


Dia menyandungkan sebuah lagu daerah sembari merapikan penampilannya, dengan gaun kebaya berwarna yang dikenakan di tubuhnya.


Di sebelah kanannya berdiri seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya, dia berdiri sembari memperhatikan wanita yang berkaca ini.


Dia memakai sebuah kerudung berwarna merah dengan gaun kebaya berwarna putih dan sebelah kirinya ada seorang gadis kecil yang tidur di pangkuannya dengan gaun berwarna putih.


Wanita gaun kebaya merah ini mengelus lembut rambut gadis kecil yang tidur pangkuannya dan menatap bayangan dirinya dengan seksama.

__ADS_1


"Akhirnya, waktunya telah tiba." Sembari menunjukkan senyumnya dan tampak giginya juga yang bertaring seperti hewan buas yang siap menghisap darah mangsanya.


__ADS_2