Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter103


__ADS_3

Pukul 20.08


Di sebuah kamar khusus tamu asing yang disediakan asosiasi biro keamanan. Tampak seorang gadis cantik hanya bisa duduk dengan tenang di sofanya sembari menatap rembulan bersinar terang di langit, dan sinarnya berhasil menembus jendela kaca ruangannya dan masuk menerangi kesunyiannya.


"Tadi itu apa ya. Aku tak bisa berhenti memikirkannya..."


Dia masih teringat pemandangan aneh dan asing baginya, seolah-olah dirinya diseret ruang waktu yang terpisah dari dirinya yang seharusnya berada.


"Lalu... anak itu, Arkha Peteng. Energi serta keberadaannya yang sangat mengejutkan bagiku, entah kenapa energi Mana miliknya samar-samar mirip dengan John."


Sesaat bibirnya mendecik kesal dan marah mengingat pria yang telah merebut kehormatannya, itu terpaksa ia lakukan demi keselamatan banyak orang, mau tidak mau dirinya juga harus berkorban.


"Entah kenapa selama 1 hari ini membuatku pikiran banyak hal."


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar terdengar dan itu membuat keheningannya pecah.


"Masuklah."


Krek... Ngek...


"Permisi."


"...Ada apa, Chloe?"


Tampak seorang gadis masuk sembari membawa beberapa lembar kertas.


"Ini Wakil ketua, asosiasi telah memperbarui data untuk yang akan ikut raid kali ini, aku harap Anda harus melihat..." tiba-tiba ucapannya ia hentikan melihat atasannya tampak pucak. "Aku rasa besok saja, Anda harus istirahat segera."


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah saja. Berikan itu kepadaku."


Chloe segera memberikan semua kertas data yang dibawanya dan Bindi segera membaca semuanya. Hanya saja ia terkejut, sebuah kertas dengan data tak terduga.


"Apa maksud mereka ini?"


"Sudah kuduga, pasti Anda akan sangat terkejut dan aku begitu pun juga saat membacanya."


"Ini sama saja mereka meremehkan kita dengan memberikan data tidak lengkap seperti ini! Dan lagi... apa-apaan maksudnya kelasnya bertuliskan 'None'. apa sesulit itu mengukur kemampuan anak itu?"


"Itu sudah keseluruhannya Wakil ketua, dan Master asosiasi sendiri memberikan datanya. Katanya itu sudah lengkap, awalnya dia ingin memasukkan kelasnya sebagai 'All' tapi katanya hal itu akan sangat mustahil karena akan banyak penolakan. Jadi katanya, biarkan kita sendiri menilai kemampuannya di medan tempur nanti, seperti apa dia posisinya nanti di sana."


Seketika Bindi langsung memegang kepalanya yang sedikit pusing, ia tak menyangka bahwa hal seperti ini masih membuatnya kerepotan.


"Tampaknya Master asosiasi sangat mempercayai kemampuannya, itu sudah terlihat jelas semuanya saat tes barusan. Dia sudah memenuhi segala aspek posisi untuk berada di kelas mana yang diinginkannya, ditambah lagi sihirnya yang bisa men-summon serigala hitam dalam sekejap tanpa jeda sedikit pun."


Menurutnya bahwa kemampuan summon makhluk mistis salah satu sihir langka mengingat konsumsi Mana-nya yang besar, serta memanggilnya butuh waktu lama agar makhluk yang dipanggil bisa keluar. Tapi semua pandangan itu telah dipatahkan oleh anak muda barusan sehingga dia sulit menilai seberapa hebat pemuda itu.


Bindi meletakkan semua kertas itu meja dan berkata :


"Tidak ada pilihan lain, kita percayakan saja pada kemampuannya."


"Baik."


Setelah laporan itu, Chloe keluar dari ruangan dan keheningan kembali menyelimuti Bindi.


"Ligravadas. Aku tidak tahu maksud kata itu, tapi entah kenapa aku merasa tenang, sesaat mengucapkan kata itu."


Seketika senyumannya menghiasi keheningannya dan menatap bulan dengan penuh arti.


...•••...


Sedangkan di sisi lain...


Di sebuah rungan khusus yang disediakan asosiasi biro keamanan untuk tamu asing lainnya. Tampak ada seorang wanita Melayu sibuk menghubungi pihak lain diseberang sana.


"Apa kamu yakin yang kamu katakan?"


"Tentu saja aku sangat yakin. Aku tak menyangka melihat bakat muda sehebat itu. Jadi, apa keputusanmu, Master?"


Keheningan sementara dan menunggu jawaban dilontarkan pihak seberang.


"Baiklah, lakukan saja. Tapi aku sangat berharap kamu membawa bakat muda ini ke guild kita untuk bergabung."


"Aku rasa itu sulit, sebab asosiasi sangat menjaga anak ini. Maka dari itu, kita hanya bisa meminta bantuan asosiasi untuk meminjam kekuatan anak ini jika raid ini berakhir."


"Aku percaya padamu. Tolong jangan lakukan tindakan merugikan guild kita."


"Jangan khawatir Master. Hal itu tidak akan terjadi kepadaku, hanya saja... partnerku ini sangat membuatku frustasi setiap saatnya. Sekarang bajingan itu entah pergi ke mana sekarang!"


Suara tawa telepon dan meminta perwakilan ini melakukan pekerjaannya sebaik mungkin dan panggilan pun diakhiri.


"Faisal! Kamu ada di mana sekarang, bodoh!"


...•••...


Pukul 20.44


Di sebuah rumah sakit...


Saat ini keadaan Susan sudah sangat cukup prima, sekarang ia diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


"Kak Susan, jangan lupa ini," ucap Reno sembari memberikan satu pakaian yang tertinggal.


Susan tersenyum dan menerima, aku serta bersama Si Kembar membantu Susan berkemas pakaiannya untuk siap-siap pulang ke apartemennya.


"Kamu yakin baik-baik saja sekarang?" Tanyaku. "Kan alangkah baiknya kamu tetap di sini sampai Aura-mu pulih sepenuhnya."


Mendengar itu Susan masih sibuk mengemas pakaiannya. Setelah terdiam cukup lama akhirnya ia buka suara :


"Kamu akan ikut dalam penaklukkan dungeon Rank-S itu?"


"Tentu saja aku harus ikut, bukannya yang seharusnya Pilar Negara sepertiku."


Mendengar jawaban itu membuat Susan menatapku dengan seksama, aku tahu dia khawatir padaku karena dungeon kali ini jauh sangat berbeda dengan dungeon biasa dulu kita masuki.


"Baiklah, begitu pun juga denganku. Aku juga harus melakukan hal bisa kulakukan..."


Aku bingung dan heran mendengarnya.


"Kalau kamu pergi, siapa yang menjaga mereka berdua?" Lanjutnya sembari menepuk lembut kepala Si Kembar.


Aku terbelalak dan menatap kedua Adikku ini. Aku tak mengira bahwa Susan jauh lebih mengkhawatirkan keadaan si Kembar dibanding dirinya. Sebenarnya, aku pun sangat berharap Susan yang menjaga si Kembar karena cuma dia satu-satunya yang dekat dengan si Kembar.


"Baiklah, sebenarnya aku pun tak bisa terlalu bergantung dengan asosiasi."


Mendengar itu membuat Susan tersenyum.


"Karena Kak Susan sudah bisa pulang. Bagaimana kalau kita makan-makan," ucap Reno yang semangat.


"Oh iya Kak, aku pernah melihat orang makan ayam goreng lezat. Katanya dia beli di restoran yang barusan kita lewatin. Ayo kita makan di sana!" Ajak Rena yang semangat juga.


Melihat kedua Adikku sangat senang membuatku sulit menolaknya. Akhirnya kami berempat menuju ke restoran yang dituju dan menikmati waktu keluarga ini. Karena waktu kecil ini sudah sangat berharga bagiku, karena waktuku yang sesungguhnya telat membawaku pada tanggung jawab besar yang harus ditempuh olehku saja... sendirian.


...•••...


...•••...


...•••...


...18-05-2030...


Pukul 07.08


Aku mengantar Rena dan Reno ke sekolahnya. Walau ada asosiasi yang ikut mengawasi mereka juga, tapi mereka belum menemukan orang mencurigakan yang mengintai si Kembar selama ini.


"Kak, kenapa diam saja?" Tanya Rena.


"Hm? Tidak ada apa-apa kok. Kakak hanya rindu suasana sekolah saja. Baiklah, berteman baik-baik dengan teman-teman kalian ya. Jangan membuat masalah juga," pesanku sembari mengeluh kepala mereka.


"Baik!" Balas semangat dari si Kembar.


Mereka berdua pun masuk ke lingkungan belajar mereka, aku hanya bisa berdiri di depan pagar sekolah ini.


"Eh, ternyata Mas toh yang ada di TV."


Seorang pria tua menghampiriku dan ternyata dia sekuriti sekolah ini.


"Aku tak menyangka anak semuda ini sudah menjadi pelindung kita, hehe," lanjutnya sembari tertawa.

__ADS_1


"Tidak juga kok Pak. Aku masih lemah dibanding yang lainnya."


Mendengar itu membuat pak tua menurunkan mimik wajahnya dan kembali bertanya lagi kepadaku :


"Tampaknya kamu mencari sesuatu di sekolah ini. Kalau ada sesuatu, tanyakan saja kepadaku. Aku akan membantumu, mengingat aku sudah cukup lama jadi sekuriti di sekolah ini."


Tampaknya dari jawabannya sangat meyakinkan. Memang benar, aku sedang mencari sesuatu, yaitu seseorang yang selama ini mengawasi Adik-Adikku. Apa dia berasal dari sekolah ini atau bukan.


"Begini Pak, apa belakangan ini ada orang yang terus mengawasi anak-anak sekolah ini?"


Pak tua itu terkejut dan berkata :


"Apa Mas mengetahui siapa orang itu?!"


Melihat wajah terkejutnya itu menandakan ia mengetahui sesuatu :


"Aku tidak mengetahuinya siapa dia, tapi belakangan dia terus mengikuti Adik-Adikku. Aku harus menemukannya segera sebelum mencelakai Adik-Adikku."


"Belakangan ini memang ada orang seperti itu, saat itu, ada orang mencoba masuk sekolah ini dengan dalih katanya ia mencari anak kembar."


Aku cukup terkejut mendengar itu, aku tak menyangka orang asing ini terang-terang ingin melakukan sesuatu pada si Kembar.


"Apa Bapak membiarkan orang itu masuk?"


"Tentu saja tidak, saat aku tanya apa sangkut pautnya dengan Adik-Adik Anda, dia tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja."


Karena cukup mendapatkan informasinya, akhirnya aku memutuskan pergi dari sekolah ini dan permisi sama bapak penjaga sekolah ini.


Setelah beberapa langkah, aku sudah cukup menjauh dari sekolah dan memasuki sebuah geng sempit.


"Jalan bayangan..."


Wush...


Seketika tubuhku transparan dan aku memasuki mode tak terlihat guna mengawasi sekitar sekolah ini. Aku juga meminta The Arcana Cer-Ber-Rus buat mencari jejak orang mencurigakan itu, tentu saja mereka bertiga memasuki mode tak terlihat berkat skill "Astral kematian" dan mendekati setiap orang berada dekat sekolah.


"Guk!"


Seketika salah satu anjing hitam ini mengirimkan pesan kepadaku dan tampaknya dia telah menemukan orang mencurigakan.


Set!


Dengan cepat aku langsung mengarah ke tempat itu dan masih dalam keadaan tak terlihat.


Tap...


Saat sampai di sana, aku melihat Ber sedang mengawasi mereka dan di sana ada dua orang mencurigakan di sana, ditambah lagi benda sihir mereka kenakan yang memancarkan energi Mana lemah.


"Akhirnya kalian ketemu juga..." aku langsung menonaktifkan skill ini dan menunjukkan diriku. "Oi! Kalian punya urusan apa dengan Adik-Adikku!"


"Grrrgh...!!!"


Mereka terkejut tiba-tiba ada seseorang muncul dari belakang ditambah tiga ekor anjing hitam juga ada di belakangnya.


"Sial! Kita ketahuan! Bagaimana ini?!"


"Kita gunakan 'ini' sekarang!"


Seketika mereka mengambil sesuatu yang menempel ke gelang mereka yang memancarkan energi Mana lemah itu.


Bing!!


"?!"


Slash! Crack!


"Aaaaghh...!!!"


"Tanganku!!!"


Tiba-tiba benda itu bersinar terang, karena aku tak ingin mereka melakukan sesuatu mencurigakan. Aku pun langsung memotong tangan mereka yang terikat gelang itu.


Chin!


"Hm?" Tiba-tiba tangan mereka yang terpotong serta terikat gelang menghilang dari pandangan. "Ternyata alat teleport ya."


Aku pun kembali fokus pada kedua bajingan ini, tanpa sadar energi gelapku keluar begitu saja dan membuat suasananya sangat mencekam.


Wush...!


Aku sangat marah, karena keluargaku hampir diapa-apain para bajingan ini.


"Jawab!!"


Wush.!!!


"Eehh...!!!"


"Kumohon...! Jangan bunuh kami!"


Karena energi besar ini, mengundang perhatian asosiasi yang mengawasi si Kembar.


"Tuan!"


Mereka langsung menghampiri kami, dan aku masih terpaku pada bajingan ini. Orang-orang asosiasi melihat situasinya langsung mengerti, dan memintaku meredam amarahku sementara.


"Jadi... apa kedua orang ini yang selama ini mengikuti adik-adik Anda?"


"Iya."


Orang-orang asosiasi langsung melakukan penahanan, dan memintaku untuk tenang. Katanya biarkan asosiasi mengurus mereka berdua dan akan memberikan informasinya setelah mereka menginterogasi berdua.


"Oh iya, apa kamu ingat benda sihir waktu itu yang dikenakan orang yang terekam CCTV."


"Iya aku ingat Tuan."


"Kedua bajingan ini tadi barusan menggunakan benda itu."


"Jadi itu sebabnya Anda memotong tangan mereka. Tapi... tangan mereka ada di mana ya?"


Aku memberitahukan seperti apa alat itu kepadanya, dan memberitahukan serta fungsinya. Dia sangat terkejut dan tak menyangka ada alat seperti itu, padahal asosiasi seluruh dunia sudah mengkonfirmasi tidak ada alat semacam itu diproduksi perusahaan mana pun.


"Aku tak menyangka, jika alat dengan energi selemah itu bisa melakukan sihir yang sangat hebat. Apalagi itu sihir teleport, yang mana membutuhkan banyak Mana untuk menggunakannya."


Yang dikatakannya itu benar, aku pun saat ini teleport membutuhkan banyak MP juga dan tergantung dari jaraknya seberapa jauh aku ingin teleport.


Setelah urusan di sini selesai, aku langsung pulang ke rumah buat bersiap-siap menghadapi dungeon Rank-S itu. Karena asosiasi meminta kami berkumpul pada tengah hari.


Tapi sebelum berangkat, aku masih teringat dengan alat sihir barusan. Terasa energi lemah tapi aku merasa itu bukan berasal dari energi dunia ini.


"Apa alat itu juga ada campur tangan dari 'Mereka'?"


Aku bisa menyimpulkan seperti itu, sebab energi Mana atau Benefecia yang kita terima berasal dari dewa yang menciptakan kita yaitu "Dia". Maka tak heran ada energi asing yang bukan berasal dari bumi.


"Itu sudah menjelaskan, kenapa banyak orang merasa aku memiliki energi aneh yang tidak seperti orang umumnya."


Karena petunjuknya samar-samar, aku hanya bisa mengetahui dasarnya saja dan apa alasannya "Mereka" mengincar "Dia". Dan lagi, "Dia" sudah dipanggil sebagai "Penghianat" oleh "Mereka".


"Kurasa sebentar lagi aku akan terjun lebih dalam--kehubungan dari kedua kubu ini."


...•••...


Pukul 10.03


Ada banyak media yang memberitakan mengenai dungeon Rank-S, serta mereka memberitahukan semua tentang makhluk yang muncul dari dungeon itu.


"Lihat! Bentuk tubuh monster ini. Sudah seperti manusia dengan postur tubuhnya sedikit membungkuk..."


Mereka terus memberikan semua informasinya yang mereka kumpulkan.


"...Dan pada tahap ini mereka mulai semakin terbiasa dengan gaya tempur modern kita dan mampu mempertahankan komando mereka tetap utuh."


Sebuah video serta gambar ditampilkan dan memperlihatkan para orang Terbangkitkan serta militer pemerintahan cukup kewalahan menghadapi mereka. Monster-monster ini semakin banyak dan banyak keluar dari portal.


"Lalu lihat video ini..." sembari memutar videonya. "Mereka juga mulai mengalami evolusi, tampak terlihat awalnya mereka berjalan dengan dua kaki. Kini mereka memunculkan kedua sayap bak kelelawar dan terbang menyerang helikopter kita saat itu."


Semua penonton sangat terkejut akan informasi ini, mereka tak menyangka bahwa monster-monster akan sangat sulit dihadapi orang-orang mengingat adaptasinya yang sangat cepat.


"Jadi mereka sudah bisa terbang ya."

__ADS_1


"Iya. Mungkin kita hanya punya kesempatan hari ini saja, sebab pulau Bali akan bernasib sama apa yang menimpa Australia satu tahun lalu."


"Jadi wajar saja banyak orang Terbangkitkan memilih kabur kalau melihat monster dengan energi setingkat Rank C-B, bahkan ada yang sudah mencapai tingkat A. Ditambah jumlah mereka yang banyak juga."


"Yah, untuk sekarang kita hanya bisa berharap pada Pilar Negara kita dan bantuin negara lain yang telah mengirim bantuannya."


Media ramai membincangkan hal ini dan mereka sangat khawatir bahwa apakah hal ini bisa diselesaikan tanpa adanya korban jiwa. Walau itu terdengar mustahil, tapi setidak ini masih harapan teguh yang dipegang.


[Oh iya, apa ada yang sudah tahu siapa Pilar Negara baru kita?]


[Loh, ada Pilar Negara baru ya? Aku baru tahu tuh.]


[Aku baru ingat juga, saat aku evaluasi kemarin. Ada anak muda dituntun oleh asosiasi dan katanya itu Pilar Negara baru.]


[Jangan lupa subscribe di channel...]


Ada banyak komentar dari banyak pihak mengenai Pilar Negara (Rank-S) baru ini, dan sampai saat ini asosiasi belum mengumumkannya karena kesibukan persiapan menghadapi dungeon tingkat bencana ini.


...•••...


Di sisi lain...


Aku memperhatikan berita di TV yang memberitakan mengenai dungeon itu serta di sosial media pun masih sibuk membahas hal ini juga.


"Tak kusangka mereka sangat penasaran dengan diriku," sembari mengecek Handphone.


Karena saat ini situasinya genting, aku dihubungi asosiasi buat datang segera. Karena persiapan raid telah tinggal sebentar lagi.


"Baiklah, dengan ini semua persiapan telah selesai."


Aku mengecek statusku serta Norum dan para The Arcana, lalu aku membeli item-item di shop sistem yang diperlukan. Mengingat ini dungeon Rank-S pertamaku maka bahaya sangat tinggi, item potion sangat dibutuhkan pasti.


"Eh?"


Tiba-tiba muncul pesan sistem yang sangat membuatku terkejut.


"Apa-apaan ini..., kamu bercanda kan? Kenapa di waktu begini!"


Aku terkejut sekaligus kesal karena sistem ini memberikan aku sesuatu yang seharusnya sangat tidak tepat.


[Kamu sekarang bisa memasuki dunia "Sea of Souls".]


...Batas waktu...


...00.00.10...


PERINGATAN!


kamu akan dikirim ke dunia ini secara otomatis jika waktu habis.]


[Go/No]


Aku sangat kesal membaca pesan ini dan kenapa harus sekarang.


"Jawab aku! Kau ingin aku menyelamatkan umat manusia kan! Kenapa harus sekarang kau memberikan aku ujian."


Walau aku marah sekalipun, sistem tak menggubris semuanya hitungan mundur telah berjalan terus sampai habis. Baru kali ini aku tak setuju mengikuti ujian sistem.


[Waktu telah habis, kamu akan dikirim ke dunia "Sea of Souls".]


Aku hanya bisa mengepal kedua tanganku dengan erat dan muncul lingkaran cahaya sihir di bawah kakiku.


"Padahal saat ini orang-orang bersiap menghadapi bencana, dan aku tidak di sana untuk membantu. Sial!"


Bing!!!


Cahaya menyilaukan telah membawa pemuda itu dan pemuda itu telah menghilang dari tempatnya.


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam sebuah dungeon...


Tampak banyak kerangka makhluk hidup berserakan di dalam goa dingin itu. Lalu ada banyak monster-monster bersisik reptil berjalan ke sana kemari dengan kedua kakinya, disertai senjata buatan mereka sendiri seperi tombak, pedang, perisai dan panah.


Ada satu individu yang sangat besar dan sangar berbeda dengan yang lainnya, semua makhluk reptil tunduk kepadanya.


"Bawakan aku lebih banyak makanan lagi!" Perintahnya.


Semua monster reptil pergi melaksanakan perintahnya. Wujud individu seperti wanita yang sangat cantik, hanya saja tubuh bagian bawahnya menyerupai ular sepenuhnya.


Tatapan matanya yang sangat tajam, hanya saja... perutnya yang membesar. Dia terus mengelus-elus perutnya itu.


"Sebentar lagi kita punya rumah bagus, Nak."


Wush...!!!


Energi besar terpancar dari pemimpin monster itu dan membuat goa ini sedikit gemetar.


"Seperti biasa, kamu tidak sabaran ya."


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara dari pojokan gelap, tampak seorang wanita dengan pakaian pendeta suci dan berwarna putih, disertai kerudung yang menutupi wajahnya.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Alah~, apa kamu tidak senang ketemu denganku~."


"Tentu saja aku tidak senang sama sekali, kamulah satu-satunya paling menyebalkan di antara 'kalian'."


"Ayolah cantik~, jangan marah begitu nanti kecantikannya luntur loh~."


Wanita kerudung itu terus menggoda wanita ular ini. Dan meminta wanita kerudung untum terus terang saja.


"Baiklah~, sebenarnya aku hanya datang ke sini memberikanmu ini saja," ucap sembari melempar sesuatu ke arah wanita ular itu.


Dia menangkapnya dan melihatnya dengan seksama.


"Koin? Untuk apa ini?"


"Kau akan merasakannya sendiri saat memakannya," ucap dengan senyum tipis dibalik kerudungnya itu.


"Hah! Kamu gila. Mana mungkin benda keras seperti ini bisa aku makan...," tiba-tiba tersentak saat memperhatikan dan mengetahui ekspresi apa yang ditampilkan wanita misterius ini dibalik kerudungnya itu. "Baiklah, aku percaya padamu."


Wanita ular ini langsung menelan koin itu.


Deg!


"Aakhhh...! Apa... yang..."


"Hehe~."


Mendengar tawa sinis itu membuat wanita ular ini terkejut dan rasa sakit semakin menjalar ke tubuhnya.


"Alah~, waktuku sudah habis. Maaf ya cantik, aku harus pergi karena yang lainnya menungguku. Bye~," ucap sembari melambaikan tangannya dan retakan dimensi muncul lalu membawa wanita ke tempat lain.


"Tu... tunggu dulu... aaaakhh!!! Kenapa rasa sakitnya semakin kuat!"


Deg! Deg!


Perutnya nampak bergoyang, seperti ada yang mau keluar secepatnya.


"Tidak! Nak! Tenanglah..."


Jlab! Crak!


"Aaakhhh...!!!"


Teriakan wanita ular semakin mengeras dan suaranya telah terdiam selamanya.


Tapi, muncul seseorang dengan tubuhnya seperti manusia remaja, ia melihat sekitarnya.


Wush..!!!


Energi besar memancar darinya serta dia memunculkan sebuah koin dari tangannya dan mengubah bentuk dalam goa ini seperti sebuah istana megah.

__ADS_1


Siapa sangka jika setiap individu telah memilih jalan terkuatnya masing-masing untuk menggapainya. Dan satu-satunya mempertemukan mereka adalah hanya takdir yang menuntunnya.


__ADS_2