Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 70


__ADS_3

Haarrhh...!


"Mereka datang..!"


Sekumpulan Goblin dan Hob Goblin langsung maju menyerang kelompok manusia itu.


Haarrrh...!


Bur..! Thing!


Dengan cepat sang ketua tim yaitu Bambang langsung menahan dengan perisai ampuh miliknya dari serangan kapak dari Hob Goblin yang menyerangnya.


"Aaahh..!!"


Jleb! Crak!


Eghh...!


Dengan cepat ia langsung membalas balik serangan itu dan berhasil menusuk tepat titik vital bagian depan tubuhnya, sehingga itu membuat monster raksasa setinggi dua meter itu langsung tumbang tak bernyawa.


Set! Chin!


"Sial! Di belakang..!"


Tiba-tiba muncul dua Goblin kecil tipe Assassin dan kali ini kedua monster berhasil menemukan titik yang bisa membunuh Bambang dengan cepat.


Tapi....


Shut! Shut! Crak...!


"..?!"


Datang serangan yang sangat cepat tepat di belakang kedua Goblin itu dan berhasil membunuh mereka. Tampak ketua tim ini sangat lega karena bisa selamat dari situasi itu, ia melihat orang yang menyelamatkannya dan tersenyum ternyata dia salah satu anggotanya, dengan posisi sebagai Damage Dealer jarak jauh dengan senjata berupa panah.


Bing...!


"Semuanya..! Cepat menjauh dari sana!"


Seketika muncul sebuah cahaya dari bawah dan cahaya-cahaya itu berbentuk lingkaran dengan simbol sihir. Semua anggota memahami hal itu dan langsung menjauh dari medan tempur dan segera menuju ke arah wanita yang disekelilingnya diliputi banyak Mana kuat.


"Pilar Api..!"


Burn..! Burn..! Burn..!


Dengan cepat waniat Mage Rank-C itu langsung melepaskan sihir terkuatnya dan muncul banyak semburan api panas dari bawah tanah dan berhasil menghanguskan separuh pasukan monster itu.


Brak...!


"Hah... hah... Mana-ku, terkuras sangat banyak."


Dia langsung tersungkur dan sulit berdiri untuk sementara ini. Dengan kekuatan sihir sekuat itu mampu bisa membakar monster tingkat C sekalipun tanpa tersisa.


"Aku akan membantumu."


"Terima kasih, Susan."


Susan hanya mengangguk saja dan dia mengangkat kedua tangannya ke depan, dan muncul sebuah cahaya putih yang hangat dan menyinari tubuh wanita Mage itu.


Setelah beberapa menit, akhirnya Mage itu berhasil pulih kembali walau Mana miliknya yang terkuras banyak itu belum pulih sepenuhnya.


"Apa-apaan monster itu? Kenapa dia tersenyum-senyum begitu?"


Tampaknya kemenangan ini hanya sesaat saja, sebab pemimpin Goblin itu tak bergerak sedikit pun dan hanya menampakkan seringai mengerikannya kepada manusia-manusia itu.


"Kikiki... Hahahah..!!"


Tiba-tiba ia tertawa dan membuat suasananya semakin mencekam. Di sampingnya semua pasukannya, semua Goblin yang tersisa ikut menyeringai juga.


"Kenapa... kenapa dia tertawa?"


Kebingungan sekaligus rasa takut mulai menyelimuti semua manusia itu. Mereka tak tahu hal apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh monster-monster itu.


"Hahaha...!! Menarik! Ini sangat menarik, manusia!"


"..!!"


Ketua dan seluruh anggota timnya terkejut mendengar itu, terkejut bukan karena suaranya, tapi terkejut karena monster itu bisa berbahasa seperti mereka yaitu bahasa manusia.


"A-apa! Dia bisa berbahasa manusia?"


Rasa terkejut itu semakin merayap ke dalam tubuh mereka dan membuat suasananya semakin mencekam dan sangat dingin.


"Ini sangat menarik wahai manusia...."


Sekelompok manusia itu langsung membentuk formasi siap menyerang lagi walau dengan kondisi sedikit lelah. Goblin yang membawa tongkat itu maju dengan santai dan terlihat ia ingin berbicara pada mereka.


"Kemampuan kalian sangat menarik," katanya sembari menancapkan tongkatnya di tanah dan duduk tepat di samping tongkatnya itu. "Aku jadi tak sabar ingin menelitinya."


Glup!


Manusia-manusia itu semakin waspada dan sang ketua tim mencoba untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


"A-apa maumu?"


Walau kata-kata dikeluarkannya sedikit terbata-bata, tapi ia mencoba tegar guna menjaga semangat timnya.


"Hm?" Balas Goblin itu sembari tersenyum dan itu membuat Bambang semakin tidak nyaman. "Kami hanya ingin kalian saja."


Mendengar jawaban itu membuat mereka sangat bingung dan Bambang kembali bertanya lagi, mengenai tujuannya menginginkan dia dan beserta anggota timnya.


"Bukankah sudah jelas, itu demi kesenangan kami."


Deg!


Mereka semua terkejut mendengar itu dan Bambang langsung memerintahkan anggotanya untuk menyerang Goblin yang terlihat santai itu, dan berbagai serangan langsung dilancarkan secara bersamaan.


"Hmph! Bodoh, Imperio!"


Bun..! Dur...!


"Agh! Apa yang terjadi?"


"Tubuhku sulit digerakkan..!"


Goblin penyihir itu mengucapkan satu kata aneh dan itu membuat semua manusia itu sulit mengangkat tubuhnya dan semakin menunduk di tanah.


Bom..! Bush..!


"Serangan kita...."


Seluruh serangan mereka mulai dari jarak jauh dan sihir semuanya berhasil ditahan hanya dengan mengangkat satu tangannya di langit. Tampaknya Goblin itu menggunakan semacam sihir penghalang untuk menghalau semua serangan itu.


"Sudah cukup, manusia."


Goblin penyihir itu menyuruh bawahan membawa manusia-manusia ini, dan semua manusia dimasukkan ke sebuah jeruji besi yang sudah oleh mereka dari tadi.


Bambang berusaha bangkit, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali bak dirinya ditindih oleh batu raksasa. Ketua tim ini berbalik dan melihat seluruh anggotanya beserta wanita yang dicintainya, terlihat mereka semua tak berdaya sama sekali dan tidak ada perlawanan lagi.


"Sial! Hanya sampai di sinikah?"


Satu persatu dari mereka diangkat oleh para Goblin itu dan dimasukkan ke dalam jeruji besi, terlihat seperti para pemburu telah berhasil menangkap beberapa mangsanya.


"Arr... Harrkah... Garrr... (Kita mendapatkan mangsa yang sangat menarik.)"


Para Goblin itu berbincang sambil membawa buruan mereka dan di sisi lain, para manusia itu hanya diam saja mendengar mereka berbicara, walau tidak tahu bahasa mereka tapi manusia-manusia itu tahu apa yang inti pembahasan mereka.


Tenggelam dalam keputusasaan dan air mata terus mengalir, suara sulit dikeluarkan karena ada semacam menahan suaranya untuk keluar.


Setelah beberapa langkah, akhirnya terlihat sebuah cahaya terang diujung lorong gelap ini.


"Kita sampai, lihat baik-baik wahai manusia...."


"Inilah tempat tinggal kami." Sembari menjentikkan jarinya dan sesuatu yang menahan manusia-manusia itu akhirnya terlepas. "Kalian akan jadi pusat kesenangan kita."


Deg! Deg! Deg!


"Tidak... tidak! Aku ingin pulang..!!"


Terlihat wajah keputusasaan dari mereka dan itu membuat semua Goblin yang ada di sini semakin kegirangan melihat mangsa mereka.


Dung... Dung... Dung....


Tiba-tiba terdengar suara drum yang menyeruak di tempat ini dan itu membuat semua sorakan dari Goblin itu semakin keras, seperti mereka merayakan pesta panen yang datang setiap tahunnya.


Sedangkan di sisi para tahanan ini pemandangan yang sangat mengerikan, mereka sudah membayangkan nasib mereka di sini seperti apa.


Sesaat drum memukul beberapa kali akhirnya berhenti, dan berhentinya suara drum karena beberapa sosok mengerikan di antara mereka muncul satu persatu di balik gerbang besar itu tepat di hadapan mereka.


"Akhirnya mereka keluar juga dari sana, aku sangat bosan berada di sana terus."


Ucap Goblin penyihir itu yang membuat para manusia ini bingung apa yang dimaksudnya.


Setelah berkata seperti itu, Goblin penyihir itu berjalan ke arah gerbang itu. Sesaat melangkahkan kakinya di tengah keramaian ini, tiba-tiba seluruh Goblin yang bersorak langsung terdiam dan menundukkan kepala mereka terhadap sosok yang berjalan di tengah-tengah mereka.


Tampak Goblin penyihir itu posisinya sangatlah tinggi di antara mereka.


Tak... Tak... Tak....


Dur....


Setelah sampai tepat di depan gerbang itu, ia menghentakkan tongkatnya beberapa kali di atas tanah dan muncul sesuatu dari balik tanah itu. Sesuatu yang keluar dari tanah itu ternyata beberapa kursi bak bangsawan yang dihiasi corak ala Goblin dengan tulang dan tengkorak serta kulit sebagai hiasan utamanya.


Ada lima kursi di sana dan salah satunya telah diduduki oleh Goblin penyihir itu. Setelah gerbang terbuka lebar, muncul sosok Goblin lain yang tampak sangat kuat.


"Mana ini... apa-apaan Mana kuat ini..!"


Manusia-manusia sangat terkejut sesaat merasakan Mana milik kelima Goblin yang duduk di singgasana itu. Pikir mereka bahwa tak ada kesempatan untuk bisa lolos dari sini lagi, keputusasaan semakin menjalar di tubuh mereka dan tak tahu harus berbuat apa lagi.


"Gurra..!! (Akhirnya..!!)"


Salah satu Goblin yang duduk di singgasana itu berdiri, tampak sosok dia seperti seorang pendeta di antara kaumnya dengan jubah berwarna ungu cerah dan sebuah bola kristal berwarna oranye di tangannya.


"Setelah sekian lama, akhirnya kita bisa merasakan kesenangan lagi. Kali ini kita mendapatkan pengorbanan baru yang sangat bagus, serta wanita yang kita tangkap kali ini sangatlah mengesankan...."

__ADS_1


Pidato dari Goblin pendeta itu membuat semua Goblin yang ada semakin semangat dan memandangi buruan mereka yang di balik jeruji besi ini.


"A-aku sangat takut... kenapa mereka memandangi kita seperti itu."


Tampak tatapan Goblin-Goblin ini membuat para manusia itu semakin ketakutan, dengan lidah menjulur dan air liur berjatuhan yang tampak menjijikan sekaligus mengerikan.


"Dengan adanya manusia perempuan ini, kita bisa memiliki keturunan lagi dan memuaskan hasrat kita yang sudah lama terpendam, maka dari itu...."


Bola kristal oranye milik Goblin pendeta itu tiba-tiba bersinar dan ia mengangkat satu tangannya di atas.


Brek... Brek...


"Apa ini? Kyaaa..!!"


Seketika atap jeruji besi ini terlepas dan para wanita yang di dalam tiba-tiba terangkat dan mengeluarkan mereka dari penjara itu.


"Lihatlah, mereka yang akan melahirkan keturunan kita." Sembari mengeluarkan sebuah sihir dan seketika seluruh pakaian wanita itu robek dan hanya menyisakan pakain dalamnya, setelah itu langsung melempar semua wanita itu di tengah kerumunan Goblin kelaparan itu. "Nah, silahkan dinikmati."


Kikikik... Harr...!


"Tidak..!!"


Bak angsa di tengah rawa penuh buaya, para wanita dalam bahaya mau itu nyawa mereka serta kesuciannya siap direnggut.


"Sial!! Lepaskan mereka! Jangan sedikit pun kalian menyentuhnya!"


Bambang yang sangat marah melihat itu dan kali ini ia sulit mengontrol emosinya lagi, sebab selain temannya ada juga wanita yang sangat dicintainya di sana yang siap dinodai oleh para monster ini.


Punch! Bur..!


Punch! Bur..!


Bambang terus memukul besi kokoh itu dan tak mempedulikan rasa sakit yang dirasakannya, dengan tangan berdarah dan teriakan yang tak henti-hentinya meminta mereka untuk berhenti.


Tapi sayang, semua sia-sia saja dan air matanya berjatuhan tak henti dan menyalahkan dirinya atas semua masalah ini.


"Kumohon... lepaskan mereka...."


Tampak kesedihan menghujani ketua tim ini dan sisa anggota yang menemaninya di penjara sangat putus asa dan tak sanggup melihat pemandangan ini.


Di sisi lain para Goblin bangsawan itu menyeringai melihat ini dan tampak ini hanya sebuah hiburan semata di mata mereka.


"Kayaknya mereka tak semudah itu ditundukkan," ucap Goblin penyihir itu.


Terlihat para wanita ini tak menyerah akan keadaan mereka, mereka melawan balik dengan sisa Mana miliknya. Tampak Susan harus bertarung dan memaksakan dirinya menggunakan Aura lagi dengan tubuh yang mulai jatuh itu.


"Susan, mundurlah," ucap Mage Rank-C itu.


Ada lima wanita berjuang melawan balik ratusan Goblin kelaparan itu.


Shut! Crak!


Tiba-tiba ada sebuah serangan panah kecil dan menancap di tubuh mulus mereka.


"Tidak... aku tak bisa bergerak..!"


Perlahan-lahan tubuh mereka mulai melemas dan kakinya tak kuasa lagi untuk berdiri, sedangkan Susan harus berakhir pingsan karena energi miliknya terkuras banyak.


"Susan!"


Sesaat mangsa tak ada perlawanan lagi, akhirnya mereka semua langsung maju dan siap menyantap wanita-wanita itu. Dalam pandangan wanita-wanita itu hanya bisa pasrah saja dalam keadaan mereka.


"Aku minta maaf... Arkha."


Pandangannya semakin kabur dan sulit menahan kesadarannya lagi. Tapi, sesat mata mulai tertutup ia merasakan sentuhan yang sangat hangat dan tidak asing baginya lagi, ia mencoba melihat sosok yang menyentuhnya itu dan berusaha mengangkat matanya.


"Ar... kha...."


Terlihat jelas wajah orang yang tidak asing baginya dan suaranya sulit ia keluarkan. Tapi, dia sangat lega bahwa pada akhirnya ia tak berpisah dengan orang yang sangat dicintainya itu begitu cepat, dan akhirnya kesadarannya tak kuat lagi untuk menahan dirinya dan tertidur dengan lelap.


"Dia pingsan," kata pria asing itu dan menatap wanita-wanita yang setengah telanjang itu. "Apa ada yang terluka?"


Mereka hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Terlihat di sekitar mereka, para Goblin itu sangat ketakutan karena separuh dari mereka telah terbantai dengan cepat oleh delapan prajurit perak itu.


"Kalian semua pakailah ini dan minum ini juga."


Pria asing itu mengeluarkan beberapa jubah untuk menutupi tubuh mereka dan meminum MP potions yang diberikan. Mereka sangat terkejut melihat kemampuan pria asing itu, tapi di antara mereka tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan sebab pria asing itu menatap tajam Goblin-Goblin bangsawan itu, dan tampaknya ia juga sangat marah.


"Berani-beraninya kalian...!"


Bush...!


Seketika Mana milik pria asing itu keluar dan membuat semua yang ada di sini merasa merinding, sebab Mana yang dipancarkan pria asing itu sangat mencekam dan dingin.


"Gorrr... Arrr... Raarrr..!! (Sedang apa kalian, serang dia cepat..!!)"


Tampak kegelisahan mulai tampak dari Goblin bangsawan itu dan langsung memerintahkan seluruh pasukannya menyerbu pria asing itu.


"Menyebalkan, KELUARLAH KALIAN SEMUA!!!"


Teriak pria asing itu dengan lantang dan seketika aura hitam nan dingin mengelilingi dirinya dan muncul berbagai makhluk aneh dari tubuhnya.

__ADS_1


"Makhluk macam apa itu? Dan... Mana milik mereka sangatlah kuat," ucap wanita Mage Rank-C itu.


Melihat makhluk Summon ini membuat suasana semakin panas dan pertarungan sengit serta penuh kehancuran tidak akan terelakkan lagi.


__ADS_2