Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 64


__ADS_3

"Apa-apaan ini...!"


Pemandangan yang sangat mengerikan, sehingga membuat siapa pun pasti akan sangat marah dan ketakutan akan hal ini.


"Siapkan meriam..! Sekarang tembak..!!"


Piuh! Bom!


Aku melihat ada banyak prajurit yang melemparkan anak panah mereka dan menembakkan terus meriam mereka tanpa henti.


Roaaaarr!!!


"...!"


Aku sangat terkejut melihatnya, jadi yang mereka lawan selama ini adalah beberapa makhluk aneh dengan ukuran abnormal. Terlihat serangan dari berbagai arah yang dilancarkan prajurit-prajurit ini tak mempan sama sekali pada makhluk aneh itu.


"Bagaimana ini... serangan kita tidak mempan pada monster itu!"


Tampak para prajurit ini mulai putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi pada bencana di hadapannya.


Slash! Slash! Crak!


Tiba-tiba muncul seorang pria dengan zirah hitam corak abu-abunya dan zirah itu memiliki tudung di belakangnya sebagai pelindung kepalanya.


"Itu..., itu Jendral Arthur!"


Seketika wajah dari prajurit ini mulai tampak bersemangat lagi, karena orang yang menuntun mereka telah datang untuk memimpin mereka kembali.


Arthur sang raja kesatria telah muncul di medan perang dan kali ini lawannya adalah bukan manusia, melainkan makhluk-makhluk yang tidak dikenal sama sekali di dunia ini dan datang hanya untuk menghancurkan saja.


"Kalau begini terus, semua orang akan mati begitu saja melawan makhluk aneh ini...."


Arthur memandangi monster-monster itu dan jumlah mereka ada sangat banyak.


"Aku harus membasmi mereka segera, jumlah mereka tak ada habisnya dan bermunculan terus, sial!"


Tampak Arthur sangat kesal dan merapatkan semua gigi-giginya sekuat mungkin. Karena ancaman kepunahan umat manusia sudah di depan mata, dia langsung mengangkat pedang besarnya dengan bilah putih seperti rembulan dan gagang warna hitam kelam.


"Perdistruakak...."


Arthur menggumamkan sesuatu dan setelah itu tiba-tiba pedangnya bercahaya, cahayanya mampu menerangi seluruh medan perang ini.


Tampak Arthur siap-siap melakukan sesuatu dengan pedang cahaya itu.


Dan....


Swoosh...!


Dia langsung mengayunkan pedang itu ke arah depan dan muncul gelombang kejut diiringi cahaya itu mengikutinya.


Burn..! Bom!


Seketika serangan kejutan besar telah berhasil memusnahkan semua makhluk-makhluk aneh itu.


"Serangan sekuat itu pasti bisa memusnahkan apa pun yanga ada di depannya, tapi... memakan banyak energi sihir juga."


Aku melihat Arthur tampak terengah-engah, sepertinya serangan barusan yang ia lancarkan sangat menguras Mana dalam dirinya dan serangan itu tidak mungkin ia akan gunakan lagi untuk sementara ini.


"Dengan ini aku punya waktu untuk istirahat sementara, sebelum mereka muncul lebih banyak lagi."


Arthur langsung terbang ke arah tembok besar itu dan memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mundur dan berlindung di balik tembok itu.


Arthur berdiri tepat di atas tembok besar itu dan mengangkat satu tangannya di atas.


Bing...!


Seketika muncul cahaya yang menyilaukan di langit dan orang-orang yang di balik tembok besar itu tercengang dan kaget melihat cahaya itu.


Seketika cahaya membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi sekitar tembok besar itu dan tampak sesuatu yang transparan menutupnya dari luar.


"Barrier ya."


Zirah hitam yang dikenakan Arthur tiba-tiba menghilang dan tampak ia sangat kelelahan. Tapi, ia tak ingin menunjukkan wajah kelelahannya itu di depan orang-orang yang dilindunginya, ia langsung berbalik dan melihat orang-orang yang tersisa di dunia ini masih bisa ia lihat lagi.


"Cih...!"


Arthur yang tampak kesal dan terlihat kesedihan di matanya, terlihat tangannya ia kepal sekuat mungkin hingga berdarah.


"Sial..! Aku benar-benar sangat lemah!"


Dia terus menyalahkan dirinya atas semua kekacauan ini, aku tahu perasaan itu dan aku merasa sebentar lagi hal ini akan terjadi padaku juga.


"Apa aku juga bisa melakukannya?"


Melihat ini membuatku hampir terpengaruh dengan perasaan negatifnya ini. Tapi, semua itu terhalang sesaat seorang pria seumuran Arthur datang kepadanya dan langsung merangkul dirinya dari belakang.


"Saudaraku yang kukenal tak pernah menunjukkan tatapannya seperti ini pada orang-orang."


Arthur hanya diam saja saat pria itu tiba-tiba merangkul dirinya, tapi perasaan lega mulai muncul dari hatinya.


"Uther... apa aku benar-benar bisa melakukannya? Padahal aku punya kekuatan sebesar ini, tapi aku tak bisa menyelamatkan semua orang..., aku benar-benar sangat lemah...!"


Uther yang mendengar itu langsung menurunkan tangannya dan memandang sahabatnya dari samping. Tampak ekspresi Arthur sangat merasa sedih dan menurutnya hal itu tidak terhindarkan sekarang.


Uther langsung melihat semua rakyatnya yang tampak sangat ketakutan dan putus asa.


"Apa kamu ingat yang kamu katakan dulu?"


Arthur masih terdiam dengan perasaan beratnya itu.

__ADS_1


"Kamu pernah bertanya tentang apa yang akan dilakukan manusia biasa jika di hadapkan kekuatan yang sangat besar. Aku dan Merlin menjawab pertanyaan itu dengan hanya berdiam diri dan berharap saja, memang itu terdengar seperti jawaban keputusasaan, tapi...." Uther langsung menaikkan satu tangannya di atas bahu Arthur. "Angkat kepalamu dan lihat mereka...."


Arthur mengikuti perkataan sahabatnya itu dan mengangkat kedua matanya di depan sana. Terlihat manusia-manusia tersisa saling membantu satu sama lain, serta suara-suara dari mereka yang bercampuran keputusasaan dan harapan.


"Apa jawabanku dengan Merlin sama dengan apa yang terjadi pada mereka?"


Arthur terbelalak dan tampak matanya terbuka lebar sedemikian, terlihat dari pandangannya mulai hidup lagi.


"Memang kami selalu berharap, tapi kami tidak akan tinggal diam saja melihat semuanya berakhir begitu saja. Kami semua para manusia biasa akan maju terus walau banyak yang harus kita korbankan demi perkembangan itu, walaupun usaha kami terlihat sia-sia di mata kekuatan yang besar tapi... hal itu sangat membanggakan buat kami. Sehingga itu juga menunjukkan bahwa kami bukanlah makhluk yang selemah itu di mata mereka."


Uther menurunkan kembali tangannya dan mereka berdua hanya diam sesaat, sembari memandang orang-orang di bawah sana yang sedang berjuang keras untuk bisa mewujudkan harapan mereka.


Terlihat Merlin sedang berusaha keras untuk mengobati orang yang terluka dengan obat buatannya sendiri, di sisi lain masih banyak orang saling memangku tangan satu sama lain dan menyatukan harapan di dalam diri mereka masing-masing.


Arthur melihat itu dan mendengar semua ucapan sahabatnya itu juga membuat dirinya tersenyum dan langsung menghela napas, lalu berkata:


"Repot juga punya teman yang selalu mengkhawatirkanmu."


Uther merasa sangat senang melihat sahabatnya ini hidup kembali lagi dan tampak tatapannya menunjukkan semangat hidup yang besar. Mereka berdua memandang semua orang ini dan berharap agar semua ini berakhir dengan baik dan damai.


"Mungkin kamu benar, aku tak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak bisa aku gapai. Tapi, aku akan maju terus dan melindungi kalian semua sekuat mungkin dan aku berharap kalian semua membantuku dari belakang, dengan memberikan harapan kalian padaku dan aku pun juga akan menaruh semua harapanku pada kalian."


Uther tersenyum mendengar itu dan berharap juga bahwa dunia menemui kembali kedamaiannya.


Bing...!


Tiba-tiba cahaya menyilaukan itu muncul lagi dan membuat pandanganku tak terlihat sementara. Seketika cahaya menyilaukan itu membawaku ke tempat lain lagi dan waktu yang sangat berbeda.


"...!"


Aku sangat terkejut melihat pemandangan mengerikan ini karena ada banyak mayat manusia berserakan di tanah yang kering. Serta kota yang di balik tembok itu telah terbakar habis dan rata dengan tanah.


"Hok... hok...!"


"Hahaha!!!"


Aku melihat ada dua belas orang sedang mengahadapi seseorang.


Piuh! Bom!


Swoosh...!


Crak!


"Apa-apaan tekanan Mana ini...!"


Walau dalam keadaan wujud arwah, tapi aku merasakan tekanan Mana yang sangat kuat dari pertarungan mereka.


Tampak pria berzirah hitam itu kewalahan menghadapi kedua belas orang itu. Terlihat pertarungan ini berat sebelah dan membuatnya semuanya terlihat sangat mudah.


"Hok... hok... hoeh...!"


"Untuk ukuran makhluk rendahan sepertimu ternyata lumayan hebat juga bisa menampung kekuatan sebesar itu."


"Apa yang dipikirkan 'Penghianat' itu memberikan kekuatannya pada makhluk rendahan ini."


"Setidaknya sebentar lagi kita akan mendapatkan kekuatannya."


Aku melihat kedua belas orang itu menatap Arthur dengan tatapan merendahkan dan Arthur berusaha keras bangkit dari keterpurukannya itu.


Dia bangkit dengan dibantu pedang buatan kedua sahabatnya itu dan melihat pedang itu dengan tatapan kosong.


Tapi... dia tersenyum saat memandangi pedang itu sesaat dan mengangkat pedang itu mengarahkannya ke arah mereka.


"Oh, lihat, manusia itu berusaha untuk melawan kita lagi."


"Apa kamu bercanda, mana mungkin dia bisa melawan lagi, mengangkat pedang murahan itu saja sulit."


Mereka semua tertawa melihat ketidakberdayaan Arthur yang terlihat sangat kelelahan. Napasnya terengah-engah tapi... tatapannya menunjukkan semangat yang tak akan pernah goyah.


"Arthur...."


Aku prihatin melihat keadaannya dan di sisi lain aku juga marah melihat mereka memperlakukan umat manusia seperti mainan.


"Aku tak suka tatapannya itu." Dia langsung melihat ke arah bawah dan tiba-tiba menyeringai dan langsung mengangkat salah satu tangannya. "Bagaimana kalau kita bermain sedikit dengannya."


Arthur sangat terkejut dan terbelalak melihat hal itu, kedua orang yang sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri, tiba-tiba tubuh mereka terangkat di atas udara dan menuju ke arah orang yang mengangkat tangannya.


"Apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan mereka..!!"


Tampak Arthur sangat marah dan orang yang mengangkat kedua saudaranya itu menyeringai melihat ekspresi Arthur.


"Mereka berdua memiliki jiwa yang sangat hebat, mungkin ini akan jadi makanan terenak buatku." Sembari mengangkat kedua tangannya ke depan.


Jleb! Jleb!


"..!!"


Tiba-tiba kedua tangannya itu menembus dada kedua manusia yang ia angkat. Arthur melihat itu menampakkan wajah penuh keputusasaan dan tak berdaya sama sekali melihat kedua saudaranya mati di depan matanya.


Crak!


Secara bersamaan menarik kedua tangannya dan di kedua tangannya itu dia menggenggam dua buah cahaya kuning yang sangat terang.


"Sudah kuduga, mereka berdua sangat berkualitas."


Setelah mengambil apa yang didapatkannya, dia langsung melempar kedua manusia itu ke bawah sana.


"Tidak...!"

__ADS_1


Arthur yang berusaha melangkah dengan kedua kakinya, tapi tak bisa sama sekali karena kondisinya tidak mendukung. Tapi dia berusaha sekuat mungkin agar bisa berlari dan menangkap kedua sahabatnya itu.


"Kumohon... ayolah...!"


Semua itu hanya sia-sia saja dan air matanya mulai berjatuhan dan tak sanggup melihat kedua orang yang sangat berharga baginya mati seperti itu.


Swush..! Shut...!


Tiba-tiba sesuatu yang hitam terbang dengan cepat dan berhasil menangkap kedua manusia itu dengan kaki besarnya sebelum menyentuh tanah.


"Aahhk...!"


"Nocpiter...!"


Aku sangat terkejut melihat partner dari Arthur, dengan wujud seekor elang raksasa dan kedua cakarnya itu sangatlah besar dan bisa menggenggam apa pun.


Elang hitam besar itu berhasil membawa kedua sahabatnya ke Arthur, tapi tiba-tiba elang itu juga tumbang sesaat menginjakkan kakinya ke tanah.


"Nocpiter...!"


"Aa..hk...."


Terlihat keadaan mereka berdua sudah sangat memburuk dan ada luka besar pada tubuh partnernya ini.


Arthur langsung melihat keadaan kedua sahabatnya, dia sangat sedih melihat keadaan mereka yang sangat menyedihkan dan air matanya tidak berhenti keluar.


"Maaf... aku benar-benar minta maaf...."


Dia mengeluarkan kata-kata bersalahnya itu dengan air mata bercucuran.


"Cih, aku muak melihatnya. Hei, cepat selesaikan ini."


"Oke~."


Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah bola energi yang sangat besar dan siap dihantamkan ke bawah sana.


Wush...!


Bola energi besar itu langsung dilemparkan dan udara di sekitarnya terkikis akibat tekanan kuatnya.


Deg!


"Hm? Perasaan ini sama seperti waktu itu."


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama seperti waktu aku melawan penjaga kembar itu dan perasaan ini aku rasakan lagi. Aku langsung melihat ke arah Arthur dan tampak tatapannya sangat kosong menatap kedua sahabatnya.


"Aku benar-benar sangat lemah...!"


Arthur bergumam dan langsung menancapkan pedang Excalibur ke tanah, tepat di samping kedua sahabatnya itu.


Deg! Deg! Deg!


"Kenapa tubuhku tiba-tiba bergetar?"


Aku merasa merinding melihat Arthur yang tiba-tiba sangat tenang dan di atas kepalanya ada bencana yang sangat besar menghampirinya.


Arthur hanya diam menatap bola energi besar itu dan tatapannya sangatlah kosong.


"Evanispalang...."


"...!"


Kedua belas orang itu terkejut dan aku pun begitu, tiba-tiba muncul sebuah lubang hitam dan menghisap bola energi besar itu.


"Si brengsek itu ternyata masih punya kekuatan!"


Tampak mereka sangat kesal, tapi kekesalannya itu hanya sementara karena lawan mereka telah menunjukkan kejutan yang tak pernah mereka duga.


Wush...!


Tiba-tiba udara di sekitar medan ini terasa sesak dan aku melihat aura hitam yang sangat pekat mengelilingi Arthur.


"Tekanan ini...!"


Mereka semua gemetar sedemikian melihat tekanan Mana yang sangat kuat dipancarkan dari Arthur.


Chin!


"Apa! Di mana dia?"


Tiba-tiba Arthur menghilang dari pijakannya dan membuat medan pertempuran kembali tegang lagi.


Jleb! Crak!


Salah satu dari mereka tiba-tiba mendapatkan tusukan benda yang sangat tajam dari belakang dan mati.


"...!"


Tersisa sebelas dan mereka semua langsung menjauh dari sana, terlihat Arthur memegang dua buah cahaya kuning itu dan menatapnya dengan tatapan sedih.


Arthur langsung menatap mereka semua satu persatu dengan sangat tajam, terlihat mereka semua mulai waspada padanya dan bersiap mengeluarkan kekuatan penuh mereka.


"Aku tak punya kekuatan tersisa untuk melawan mereka lagi, tapi... masih ada satu hal yang bisa kulakukan untuk melawan mereka."


Seketika Arthur langsung menggumamkan sesuatu :


"Paschimmu destum...."


Bing...!

__ADS_1


Tiba-tiba cahaya yang sangat menyilaukan menyinari tubuh Arthur dan membuat semua pandangan menjadi terhalang seketika.


__ADS_2