Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 97


__ADS_3

Di suatu sisi kegelapan yang tak terbatas dan kegelapan itu perlahan-lahan membentuk dirinya. Sebuah pemandangan dengan hutan yang sangat menyeramkan.


"Hok! Hok! Hoek...!"


Terlihar seorang pemuda yang jatuh tak berdaya dan tubuhnya sulit untuk membangun.


"Sial! Apa itu tadi?!"


Tiba-tiba aku berada di tempat aneh ini dan lebih mengejutkannya lagi, di kepalaku muncul banyak ingatan aneh dan mengerikan.


"Ares..."


Ya itu nama yang teringat dan aku merasa telah berada dalam tubuh seseorang saat itu dan setelahnya itu aku sulit mencerna semua ingatan itu karena banyaknya waktu telah dilewati sampai-sampai sulit diingat lagi kapan dan berapa lama aku hidup saat itu.


"Lupakan itu, sekarang aku ada di mana?"


Tampak tempat ini seperti hutan di dunia Hades itu, horor dan penuh mimpi buruk.


"Apa ini dunia baru dari sistem?"


Aku berpikir ini perbuatan sistem, tapi hal aneh terlihat aku tak bisa memunculkan jendela sistem dan lagi saat ingin memasuki mode Heredis tak bisa juga. Seolah-olah ini dunia yang tak ada kaitannya dengan campur tangan sistem.


"Kamu tak bisa berbuat apa-apa di dunia ini, Nak."


Sebuah suara dari arah belakang dan aku berbalik untuk melihatnya.


"Kamu siapa?"


Aku cukup terkejut melihatnya, wujudnya menyerupai manusia hanya saja kepalanya seperti kelelawar dengan dua tanduk seperti iblis dan sebuah sayap serta ekor.


"Kamu bisa memanggilku Phobetor. Kamu sekarang berada dalam dunia mimpi."


"Mimpi?"


"Ya, lebih tepatnya mimpi buruk, karena ini adalah salah satu kemampuanku."


Maka tak heran kenapa sistem aku tak bisa munculkan, kalau ini dunia mimpi berarti saat ini aku sedang tertidur.


"Aku tak menyangka bisa tertidur nyenyak, sampai-sampai bermimpi pula."


Belakangan ini setiap aku tertidur, selain waktu tidurku berkurang tapi juga aku tak pernah bermimpi saat itu.


"Jadi kamu ini apa, monster? Iblis? Atau kamu salah satu dari 'Mereka'?"


Wush...!


Tanpa sadar energi hitam milikku keluar begitu saja dan itu berarti aku masih bisa bertarung menggunakan kekuatan Heredis-ku tanpa bantuan sistem.


Terlihat Phobetor terbelalak dan setelah itu wajahnya kembali tenang sambil tersenyum.


"Baru kali ini ada orang mengancam diriku di dunia buatanku sendiri." Phobetor berjalan ke arah depan dan mendekat ke arahku. "Kamu jangan khawatir, Nak. Aku tak ada niatan jahat apa pun padamu, aku hanya melakukan tugasku atas perintah dari ■■■■■■."


Mendengar nama yang disensor itu membuktikan bahwa dia adalah penjaga juga, berarti ini bagian dunia ciptaan sistem.


"Begitu ya, sekarang aku mengerti. Lalu ujian macam apa yang harus kulewati, kuharap kali ini ujiannya memudahkanku karena dunia sebelumnya aku gagal menyelesaikannya."


Mendengar itu membuat Phobetor tertawa dan berjalan ke arah lain. Aku mengikuti langkahnya dari belakang dan ia berjalan ke arah sebuah pohon raksasa dan duduk di depannya dengan santai.


"Apa kamu tahu hutan apa ini?"


"Tidak."


"Ini hutan biasa disebut 'Witch Forest'. Zaman dulu ada hutan seperti ini bagi praktek penyihir dan zaman itu penyihir dianggap sangat sesat."


Zaman itu aku juga tahu karena ada dalam sejarah, terjadi abad pertengahan di Eropa. Tapi alasan penjaga ini menceritakannya.


"Lalu apa alasan para penyihir dianggap sesat kala itu?"


"Sederhana saja, karena mereka membuat perjanjian dengan iblis."


Sesuai yang dikatakan sejarah juga, bahwa para penyihir kala itu membuat banyak perjanjian dengan iblis dengan meminta pengorbanan manusia.


"Apa kamu tahu apa yang disesali para penyihir yang ditangkap dan dibakar saat itu?"


Aku menggelengkan kepalaku dan Phobetor menjawabnya :


"Ia sangat menyesal. Ia menyesali segala hal sebelum nyawanya diambil, tapi bukan hanya para penyihir saja, tapi semua orang saat itu yang menyaksikan kematiannya juga sangat menyesal."


"Untuk apa warga menyesal melihat para penyihir dihukum mati?"


"Segeilintar di antara mereka menyesal melihat penyihir itu mati, karena menurut mereka bahwa mereka tidak melakukan perjanjian apa pun dengan ibli, melainkan mereka melakukan praktek untuk membuat berbagai macam obat, karena saat itu banyak penyakit melanda kala itu."


Yang dkatakannya ada benarnya, karena zaman modern sekarang bahwa saat itu ada banyak temuan penyihir zaman dahulu sekarang diterapkan untuk penyembuhan, orang-orang yang mati karena penyihir itu bukan karena perbuatan penyihir tersebut, melainkan penyakit yang diderita cukup lama oleh korban dan penyihir yang datang terlambat mengobati dituduh bahwa ia telah mengorbankan banyak orang untuk sang iblis.


"Sungguh menyedihkan. Lalu, apa hubungannya dengan ujianku?"


Phobetor hanya bisa menghela napasnya sembari memegang kepalanya, tampaknya ia merasa sedikit tertekan akan keras kepala pemuda ini.


"Kamu ini keras kepala juga," ucapnya sembari turun dari batu itu. "Ujianmu sudah selesai."


"Apa! Kapan aku melaksanakannya?"


"Bukannya kamu sudah mati beberapa kali untuk mengubah takdirmu."


Sontak aku terkejut mendengar itu, aku tak menyangka jika semua mimpi barusan ternyata ujianku.


"Kamu berhasil mengubah takdir sesuai keinginanmu, walau akhirnya takdir mereka akan berjalan kembali pada porosnya lagi."


"Jadi mimpi barusan ternyata ujian. Lalu kenapa aku berada di tubuh Ares saat itu? Kan seharusnya jadi pihak ketiga yang hanya bisa melihatnya dari belakang."


"Ujian kali ini bagaimana kamu merasakan namanya menyesal dan mengubahnya walau akhirnya akan berakhir buruk lagi..."


Walau terdengar aneh, tapi sungguh itu membuatku tersiksa. Saat menjadi Ares dan ingatan diriku yang sekarang tidak ada, aku harus menderita ribuan kali melihat semua orang-orang kusayangi mati mengenaskan, dan aku (Ares) berjuang keras mengubahnya semuanya walau hanya sedikit saja. Tapi takdir adalah takdir, segala ketentuan dan ketetapannya sudah ada setiap makhluk hidup sehingga tidak bisa diganggu gugat.


"Walau takdir tidak bisa diubah, tapi setidaknya kamu bisa mengetahui seperti apa takdir menuntunmu dan dirimu mengetahui itu sudah siap menghadapinya."


Ucapannya sangat masuk akal, melihat seperti apa takdirku di masa akan datang dan sudah bisa kubayangkan seperti apa. Tugasku sekaranh hanya bisa bersiap-siap untuk menghadapinya apa pun itu.


"Ada 10 penyesalan yang sangat melekat pada diri manusia dan ingin sekali mereka ubah lagi dari awal, tapi pada akhirnya semua itu sudah di luar kemampuan mereka..."


Cinta, tidak selamanya yang kamu sayangi dan melindunginya sepenuh hatimu, pada akhirnya semuanya akan lepas darimu dari segala hal. Dan pada akhirnya manusia akan menyesal karena tidak selalu berada di sisinya atau menjaganya hanya karena ia menjalankan tugasnya.


Ego, segala tindakanmu yang hanya mementingkan diri sendiri pada akhirnya akan menemui kebuntuan, dirimu sangat menyesal karena selalu sibuk pada diri sendiri dan akhirnya seluruh orang sekitarmu mengabaikanmu.


Kejayaan, segala kekayaan dan kekuasaan yang kamu miliki pada akhirnya tidak akan bertahan lama. Dirimu yang bersusah payah mengumpulkan semua materi mati itu pada akhir hangus begitu saja karena satu kesalahan kecil saja, dirimu sangat menyesal karena kenapa menghabiskan sisa hidupnya hanya mengejar materi dan pada akhirnya semua sirna termakan waktu.


Perbuatan, semua langkahmu yang hanya kamu tahu saja dan pada akhirnya diketahui semua orang seperti apa dirimu sebenarnya. Kamu sangat menyesal dan ingin mengembalikkan semuanya, tapi apa daya semua orang mengecap semua tindakanmu dan akan sulit diterima di sekitar mereka lagi.


Pikiran, segala kepingan ingatan terlintas begitu saja telah membuatmu berubah berdasarkan situasi. Akhirnya keputusanmu telah mempengaruhi sekitarmu dan segala kehidupanmu, orang-orang melihat hal itu sudah menganggap dirimu gila karena pikiran anehmu itu. Dan kamu menyesal karena selalu terpaku apa yang ada di pikiranmu tanpa mempedulikan sekitarmu.


Bentuk, selama tubuh masih sempurna, banyak manusia telah mengabaikan kesempurnaan itu dan akhirnya mengubahnya sesuka hati atau mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya harus menjalani kecacatan seumur hidup, namun akhirnya manusia tersebut menemui penyesalannya karena telah merusak tubuhnya dengan perbuatannya sendiri dan ingin dikembalikan seperti awal lagi, tapi apa daya walau sudah dikembalikan akan jauh lebih buruk saat merusaknya.


Perasaan, setiap manusia memiliki namanya nurani, tapi kalanya nurani yang kamu harus gunakan demi kebaikan malah mencelakai orang yang kamu tolong. Inilah penyesalan terbesar manusia karena ragu-ragu akan perasaannya sendiri dan namun akhirnya berakhir semakin buruk pada diri sendiri.


Waktu, segala hal telah terlewati dan tak bisa diambil lagi, inilah penyesalan sia-sia manusia karena mereka selalu mengharapkan waktu berputar kembali untuknya agar bisa memulai semuanya dari awal.


Kematian, soal ini tak perlu dijelaskan, seluruh penyesalan semuanya muncul dalam benaknya ketika sabit maut sudah mencapai kerongkongannya dan masih mengharapkan untuk menebus semuanya, walau ini sudah sangat sia-sia di telinga sang maut.


"Kamu boleh menyesal tapi jangan mengharapkan itu semua kembali hanya karena kamu sudah menyesalinya," lanjut Phobetor.


Memang semua sangat melekat pada manusia, bahkan diriku sendiri sangat menyesal juga karena sesuatu yang kuharapakan tak sejalan apa yang kuharapkan.


"Kamu bilang ada sepuluh, lalu yang terakhir apa?"


Phobetor menatapku dengan seksama dan berkata :


"Alangkah baiknya kamu melihat ini dulu."


"?"


Tlak!


Phobetor langsung menjentikkan jarinya dan terlihat kami sudah berada di tempat lain.


"Ini... ini di mana?"


"Kerajaan Olympus."


Mendengar itu aku langsung teringan dengan reruntuhan di dunia sebelummya yang mana rerutuhan Kerajaan Olympus yang jadi ujian pertamaku.


Kami berjalan ke arah sebuah istana di atas gunung dan tampak seorang pria kekar dan gagah sedang tunduk kepada sang raja.

__ADS_1


"Panjang umur Yang Mulia, Zeus!"


"Eh?"


Mendengar nama itu malah membuatku sangat terkejut, tidak seperti digambarkan dalam mitologi bahwa Zeus itu seorang dewa dengan tampan tua dan rambut putih.


"Kayaknya kamu terkejut karena tak sesuati bayanganmu."


"Tentu saja! Aku pikir Zeus itu Dewa Petir, tapi kenapa di sini yang ada malah seperti seorang anak muda berusia 25 lebih."


"Itu karena Kerajaan Olympus tak mempercayai namanya Dewa. Jadi, rakyat-rakyatnya lebih memilih menyembah dan menganggap semua orang-orang tinggi Olympus dan pahlawannya, sebagai Dewa mereka yang melindunginya dari mara bahaya."


Mendengar itu aku tak menyangka jika faktanya seperti itu, kupikir alangkah bagusnya aku tak perlu mengetahui faktanya karena mitologi-mitologi Yunani sangat populer dalam game dan salah satu game favoritku yang berkaitan dengan mitologi Yunani.


"Hehe." Phobetor tertawa dan tampaknya ia menertawaiku karena kecewa melihat semua ini. "Pikiran muda memang selalu sangat menyenangkan."


"Terima kasih pujiannya," balasku yang sedikit kesal karenanya.


Kami kembali fokus kepada pria itu lagi.


"Panglimaku, Ares..."


"Ya, Yang Mulia?"


"Karena dedikasimu pada kerajaan sangat besar, aku akan menghadiahkanmu sebuah wilayah yanh dekat dengan tepi sungai Olympus. Kuharap kamu bisa mengembangkan wilayah itu di atas kekuasaanmu dan akan jadi tempat makmur berikutnya bagi kerajaan kelak."


"Terima kasih atas hadiahnya Yang Mulia."


"Tunggu dulu, jika ada Ares di sini, lalu Ares yang ada dalam mimpiku apa hanya ilusi darimu saja?"


"Bukan, itu masa lalu Ares sebelum menjadi 'Heredis of Death'."


"Bukannya mati di tangan Har Megido dan lagi ia juga menerima berkah darinya juga."


"Memang Ares sudah menerima berkah darinya, tapi itu hanya umpan saja agar Har Megido bisa mengendalikan Ares sesuka hatinya. Itu dilakukan agar menjadikan Ares sebagai 'Wadah' sempurna untuknya. Soal dia mati di tangan Dewa ia sembah itu benar."


"Lalu bagaimana dia bisa selamat dan menjadi pewaris berikutnya?"


"Itu karena 'Dia' datang secara langsung untuk menyelamatkannya sebelum jiwa dan raganya diambil oleh Har Megido."


Aku tak menyangka jika "Dia" datang sendiri menyelamatkan Area, padahal dia dewa yang memiliki tujuan lebih berat daripada para pewarisnya.


"Untuk menyelamatkan Ares tidak mudah bagi 'Dia', karena 'Dia' harus mempertahankan dunia (Bumi) agar 'Hukum'-nya tidak bisa ditembus karena belum ada 'Heredis of Death' berikutnya."


"Jadi 'Dia' harus melawan Har Megido selagi melindungi Ares?"


"Iya, 'Dia' berhasil mengalahkan Har Megido dan memusnahkan sepenuhnya dari tempatnya."


Aku hanya kagum mendengar itu dan tak meyangka bahwa "Dia" sangat menyayangi semua umat manusia.


"Karena melihat tekad kuat untuk melindungi orang-orangnya, 'Dia' langsung mewariskan kekuatan 'Kematian' pada Ares dan setelah itu 'Dia' kembali ke tempatnya. Butuh waktu lama bagi Ares memahami kekuatannya sendiri, tapi dia sudah bertekad akan menghancurkan semua Dewa palsu itu."


Tlak!


Kami berpindah lagi dan aku melihat Ares benar-benar memusnahkan semua kuil dewa. Tapi tidak seperti dulu yang mana dia juga harus memusnahkan semua pengikutnya, kali ini tidak dia lakukan karena sudah menyadarinya sebagai Heredis yang bertugas melindungi dunia ini dan isinya.


"Ngeschimxue menkirea..."


Wuuss...


Tiba-tiba angin bertiup di tengah kekhawatiran ini tapi hal mengejutkan dipandang yaitu, semua para pengikut dewa tiba-tiba pikiran mereka berubah seolah-olah tidak dewa yang harus disembah dalam pikirannya.


"Apa ini hipnotis?"


"Bisa dibilang begitu, tapi ini lebih ke menyusun ulang semua ingatan dan memori target, dan membuang ingatan yang tak diperlukan. Ares menghilangkan semua keberadaan Dewa mereka diingatannya, agar tak ada lagi mau melakukan persembahan penuh darah pada Dewa palsu tersebut."


Kekagumanku semakin besar pada Ares, jika konflik besar bisa diselesaikan dengan cara sedingin ini tanpa api di mana-mana.


Ares kembali ke wilayahnya dan mulai sekarang ia menamakan kotanya yaitu Sparta. Dia memberikan nama kota ini yang tidak jauh dari kerajaannya yang dulu. Ares hanya selalu membawa 300 pasukannya saja untuk menghancurkan kuil-kuil dewa palsu yang tersebar di seluruh penjuru Yunani.


"Sekarang kita bagian akhir dan menyedihkannya."


"Ya."


Tlak!


Sekarang kami tiba diwaktu berbeda dan sekarang aku melihat pemandangan yang sangat menyedihkan seperti dikatakan Phobetor.


"Sudah kuduga, kamu akan marah melihatnya."


Melihat semua ini siapa yang tidak marah, bahkan para pendahuluku sekalipun meihat ini akan sangat marah juga. Ares hanya diam mematung melihat semua jiwa-jiwa manusia diambil oleh "Mereka".


Tatapannya menunjukkan keputusasaan, padahal dia sudah memasuki mode Heredis dengan perlengkapan ala Sparta.


"Hehe, ternyata penjaga tempat ini sangat payah."


"Tentu saja dia harus begitu, memang seharusnya makhluk rendahan seperti mereka ketakutan melihat kita."


"Merusak pemandangan dengan ekspresi bodohnya itu."


Salah satu dari mereka mengarahkan telapak tangannya ke depan dan muncullah cahaya membentuk panah.


Shoot! Piuh!


Crak!


Cahaya itu melesat dengan cepat menembus dada Ares, dan membuat sang Heredis ini jatuh ke tanah tanpa perlawanan sama sekali, atau lebih tepatnya sudah pasrah tanpa adanya usaha.


"Hahaha!!!"


"Mereka" hanya tertawa melihat Ares tak berdaya yang meregang nyawa.


"Sial!!"


"Kamu mau ke mana?"


"Aku ingin membunuh semua bajingan itu!"


"Percuma, ini hanyalah ilusi masa lalu."


"Cih!"


Phobeter melihat sikapku ini membuatnya semakin yakin dalam hatinya.


"Sesuai yang diharakan dari 'Sang cahaya harapan besar'. Kuharap kamu tidak berakhir seperti diriku yang menyedihkan ini."


Belum puas menertawai Ares, salah satu dari "Mereka" ingin main-main dengan Ares yang sekarat dan mencoba menghancurkan satu persatu tangan dan kakinya.


Shoot! Piuh! Piuh!


"Apa..."


Crang!


Tapi... tiba-tiba muncul retakan dimensi dan berhasil menghalau semua serangan itu mengarah ke Ares.


"Dasar kamu bajingan! Kamu ingin mati seperti ini hah!"


"Ma... maaf..."


"Kalau kau ingin mati! Setidaknya serahkan seluruh hidupmu untuk bisa mengalahkan semua bajingan itu! Kamu pewaris terburuk yang pernah kutemui!"


"Ma... maaf..."


Seorang wanita asing dan cantik dengan rambut panjang coklat hitam, memarahi Ares yang tak berdaya.


"Siapa wanita itu?"


"Dia adalah "Heredis of Gaia'."


"Apa, seorang Heredis juga!"


Terkejut mendengar fakta itu bahwa tak menyangka jika ada Heredis lain yang berpihak pada pendahuluku.


"Iya, dia juga seorang Heredis. Asal kamu tahu, 'Heredis of Gaia' dan 'Heredis of Death', kekuatan meraka berasal dari orang yang sama yaitu 'Dia'. Para Heredis dari 'Dia' dikenal sebagai 'Guardian Gaia'. Tidak seperti 'Heredis of Death' yang memiliki banyak pewaris, sedangkan 'Heredis of Gaia' masih pewaris kedua dan wanita itu yang sampai sekarang mengawasi setiap para pendahulumu."


"Begitu ya, bukannya saat Ares dalam bahaya saat 'Dia' melindunginya, seharusnya 'Heredis of Gaia' ini datang melindungi 'Dia'. Kenapa saat genting seperti itu dia tidak muncul?"


"Itu karena dia harus tetap menjalankan tugasnya."


"Tugas?"

__ADS_1


"Ya, Karena ada tiga ketetapan 'Hukum' yang diciptakan oleh 'Dia' dan diberikan para Heredis..."


Phobetor mengatakan ada "Hukum" yang sudah dipegang oleh peran masing-masing :


"Hukum penciptaan", hukum yang dipegang oleh "Dia" sekarang untuk mempertahankan keberadaan dunia (bumi) dan isinya.


"Hukum realita", hukum yang dipegang oleh "Heredis of Gaia", kemampuan hukum ini untuk mempertahankan sebuah dimensi labirin yang terletak di luar dimensi realita. Dia jadi penjaga utama untuk mencegah "Mereka" memasuki dimensi realita dan menghadapi "Mereka" semua dimensi abadinya.


"Hukum kehidupan", hukum ini adalah ada untuk mempertahankan eksistensi energi kehidupan di dalam dimensi realita, yang sekarang dipegang oleh "Heredis of Death". Tapi sayang, tidak semua para pewaris ini bisa menggunakan kemampuan "Hukum" ini karena kurangnya persiapan dan pemahaman karena "Mereka" datang lebih cepat dari yang diduga sehingga para pewaris kematian harus cepat menemui ajalnya. Kemampuan hukum ini bisa mengendalikan setiap energi kehidupan yang ada dan menyeret mereka semua ke mana pun yang dimau oleh sang Heredis.


"Mendengar itu rasanya..."


"...Tak percaya kan."


"Ya, jadi perjalananku masih panjang untuk menghadapi 'Mereka' semua."


"Kamu jangan khawatir, semuanya sudah dipersiapkan matang-matang dan segera kamu akan melampaui semua pendahulumu."


Mendengar itu aku sangat senang, ternyata semua pendahuluku memperhatikan hal-hal kecil demi semua penerusnya kelak, agar pewaris berikutnya tidak lagi harus mati sia-sia di atas perjuangan kerasnya.


"Wanita itu..."


"Tak kusangka dia sampai harus turun tangan menolong temannya. Berarti di luar sana seharusnya yang lain bisa masuk dengan mudah. Karena tak mudah menghadapi si j*l*ng ini."


"Heredis of Gaia" sangat kesal melihat semua ini yang mana teman seperjuangannya harus berakhir seperti ini.


"Ares! Gunakan 'itu' cepat agar aku bisa menyingkirkan semua bajingan ini!"


Ares masih terdiam dalam ketidakberdayaannya.


"Apa kamu ingin menyia-nyiakan usaha 'Dia', hah?"


Mendengar itu Ares terbelalak, karena dirinya ingat saat itu dia sudah menemui ajalnya tapi bantuan dari "Dia" yang harus mengorbankan sedikit energi kehidupannya agad Ares bisa hidup lagi.


"Ma... maaf..."


"Kalau kau ingin minta maaf ja--"


Tiba-tiba ucapan wanita itu berhenti saat Ares bangkit dengan sisa tenaganya.


"Aku minta maaf merepotkanmu. Sekarang kamu kembalilah, di sini biar kuurus semuanya."


Wanita itu hanya diam menatap Ares yang mulai mencapi batasnya.


"Baiklah, kumohon jangan sia-siakan semua perjuangan yang ada."


"Baik."


Crang!


Wanita itu memunculkan retakan dimensi dan kembali ke asalnya.


"Heh~, melihatmu sekarat begitu ternyata tangguh juga."


"Apa kita harus mempermainkan dia lagi?"


"Boleh."


Ares mendengar itu hanya bisa tersenyum, dia nyaris tertawa akan dirinya yang benar-benar sangat bodoh telah menyia-nyiakan semua takdirnya ini.


"Lomekam..."


Dur...!


"Apa yang terjadi?"


Setelah Ares bergumam seluruh tempat dan ruang ini mengalami guncangan.


Crang!


Tiba-tiba langit terbelah seolah-olah langit akan runtuh itu.


"I-itu... bukannya di luar!"


"Mereka" terkejut melihat ini dan tak percaya jika orang yang sekarat ini masih memiliki kekuata sebesar ini.


"Kuharap kalian semua menikmati hujan-hujanan ini... sekarang!"


Bing!


Piuh! Piuh! Piuh!


"Sial!!!"


Sesaat langit tebelah, menampakkan luar angkasa yang gelap dan diterangi bintang-bintang. Tapi semua cahaya bintang-bintang itu malah jatub dan menimpa "Mereka".


"Belum cukup... Norberus!"


Muncul sesuatu hitam dari kaki Ares dan menampakkan seekora anjing raksasa dengan tiga kepala.


"Hoarrrgh...!!!"


Ketiga kepala anjing itu langsung menembakkan bola sihir raksasa dan menyerang "Mereka".


"Tahan serangan itu!"


"Tidak sempat!"


Bom!!!


Sebelum salah satunya melepas penghalang untuk mencegah serangan hujan bintang, tapi serangan partner Ares jauh lebih cepat dan berhasil mengenai semua musuhnya.


"Apa berhasil?"


Wusshh...!!!


Seketika energi besar terpancarkan secara bersamaan dari "Mereka".


"Dasar makhluk rendahan!"


Ares melihat itu hanya tertawa kecil dan berkata :


"Kayaknya sudah waktunya untukku, terima kasih Kawan." Sembari mengusap kepala partnernya.


"Guk!!!"


"Ya."


Ares menatap "Mereka" dengan tatapan tajam dan bergumam :


"Pascimmu destum..."


Bing!!!


Seketika cahaya memenuhi ruang dimensi ini dan kami tiba-tiba kembali ke "Witch forest" lagi.


"Walau sudah berapa kali aku melihat para pendahuluku melawan 'Mereka', tapi ini selalu mengejutkan untuk dilihat lagi."


"Itu benar, akan ada waktunya kamu akan seperti mereka. Jadi, jangan sia-siakan semua yang diberikan kepadamu."


"Ya, akan kuingat baik-baik. Tapi... kamu belum menjawab pertanyaanku barusan."


Phobetor tampaknya lupa memberitahukanku penyesalan terakhir umat manusia.


"Maaf, aku hampir lupa. Penyesalan terakhir manusia yaitu takdirnya. Menyesali sebuah takdir sama saja kamu mengalami keputusasaan dalam hidupmu, menyesali takdir itu hal yang percuma karena segalanya sudah ditetapkan jadi kamu sebagai makhluk hidup hanya bisa menerimanya saja."


Yang dikatakan itu sangat benar, segala sesuatu pasti ada ketetapannya dan tidak bisa diganggu gugat. Tapi, takdir siapa yang mengendalikannya? Bahkan "Mereka" dan "Dia" yang disebut dewa tak bisa menyalahi takdirnya masing-masing. Jadi tak ada satu pun ciptaan di dunia tak lepas dari namanya catatan takdir.


"Terima kasih atas semuanya, sungguh, ini mimpi buruk menyenangkan yang kualami."


"Hehe, baru kali ini aku melihat ada manusia menikmati mimpi buruknya. Tapi memang mimpi buruk selalu memperlihatkan keburukan, tapi tak luput dari semua makna yang tersembunyi di dalamnya mau itu baik ataupun tidak. Baiklah, sudah saatnya kamu bangun, karena adik-adikmu terus memanggilmu dari tadi."


"Begitu ya, kalau begitu terima kasih lagi atas semuanya."


"Ya, ingat, jangan pernah menyesali semua yang sudah terlewati. Tapi sesalilah jika kamu tidak mampu menghadapi semua yang ada di hadapanmu."


Tlak!


Aku hanya mengangguk mendengar itu dan selepas itu Phobetor menjentikkan jarinya dan membawaku ke dunia sesungguh aku berada.


Tidak selamanya kegelapan harus berdampak buruk, adakalanya kegelapan selalu baik dan menyembunyikan segala hal yang seharusnya tidak boleh diketahui siapa pun, karena ketidaktahuan suatu hal yang harus dibanggakan. Karena begitulah kegelapan selalu penuh misteri.

__ADS_1


__ADS_2