
Tring!
Set!
Dor! Dor! Dor!
"Apa! Makhluk macam apa dia itu?"
Aku sangat terkejut melihatnya, karena seluruh tembakan milikku menembus dirinya, seolah-olah dia hanya gumpalan angin yang terkumpul.
Tapi saat aku menyerang dia menggunakan sabitku, makhluk itu langsung menggunakan dua belati panjangnya untuk menghentikan serangan sabitku.
Wujud makhluk itu sepenuhnya berwarna hitam dan pakaiannya seperti assassin Persia dan matanya berwarnah merah menyeramkan, benar-benar menggambarkan sosok penghuni kegelapan itu sendiri.
"Ilusi kah?"
Entah kenapa aku berpikir ia menggunakan semacam ilusi, saat menyerang jarak jauh tubuhnya tertembus dan saat aku mendekat ia selalu menahan sabitku dengan belatinya itu.
"Jika itu kemampuannya, maka..."
Dor! Dor! Dor!
Aku langsung menembak dirinya dan sesuai dugaanku ia tak menghindarinya malah menghadangnya dan tertembus begitu saja.
"Harrrgh...!!!"
Norum langsung melompat ke arah samping itu cukup membuat makhluk ini terkejut, tapi kejanggalan terjadi saat Norum berusaha mencakar makhluk itu, aku melihat dia hanya seolah-olah hanya mencakar-cakar sosok bayangan tak terlihat, ditambah lagi peluru-peluru pistolku pun menembus dirinya.
"Kawan!"
Aku langsung menarik Norum kembali ke arah diriku dan seketika tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap hitam dan terbang ke arahku.
"Sekarang aku mengerti..." kataku sembari menatap makhluk hitam itu. "Sesaat Norum menyerang tiba-tiba dari samping dan bersamaan juga aku menembak ke arah berlawanan Norum, makhluk ini tiba-tiba mengambil posisi di mana ia bisa melihat dua arah serangan sekaligus, dan saat posisinya sudah tepat ia tak bergerak sedikit pun dan membiarkan dua serangan tersebut menyerang dirinya."
Aku mengerti jenis kemampuannya ini, jenis kemampuan yang sangat hebat sekaligus tak seorang pun bisa menggunakannya kecuali dia.
"Matanya," kataku yang masih sedikit ragu akan kesimpulanku. "Tak kusangka kemampuan itu berasal dari matanya."
Saat ia tiba-tiba mengambil posisi di mana ia bisa melihat dua serangan tersebut, saat itu juga matanya terus berfokus pada cakaran Norum dan saat ada jeda sedikit dari serangan Norum, ia langsung melirik sepersekian detik ke arah peluruh-peluruh pistolku dengan cepat dan kembali menatap Norum lagi.
"Entah apa alasannya ia terus menahan serangan sabitku dengan senjatanya, tapi yang pasti hal itu sangat merugikan menurutnya."
Saat aku mencoba menyerang dia terus menerus dengan sabitku dengan kecepatan tak terhitung, saat itu ia terus menggunakan dua belati panjangnya itu untuk menahan sabitku, walau sabit milikku menembus dirinya tapi ada saatnya ia terus menahan sabitku daripada mengandalkan kemampuan anehnya itu.
"Baiklah, berarti hanya kecepatan yang bisa menandingi dirinya, mengingat dia juga sangat mengandalkan kecepatannya."
Aku memulai menarik napas dalam-dalam dan bergumam :
"Seni bela diri Fēng, gerakan ketujuh..."
...HEMBUSAN ANGIN PANAS...
Wush...
Seketika aku langsung menghembuskan napasku dan seluruh tubuhku merasa sedikit kepanasan. Karena seni bela diri Fēng gerakan tujuh ini akan meningkat refleksiku terhadap hal bahaya di sekitarku sehingga sangat memungkinku menghindarinya kapan pun.
Set!
Dengan cepat aku langsung melesat ke arahnya dan siap menyerangnya dengan sabit ini.
Swoosh...!
Tring!
Seperti dugaanku ia lebih memilih menahannya dengan belatinya daripada menggunakan kemampuan anehnya.
Swoosh...! Swoosh...!
Slash! Slash!
Tring! Tring!
Dua besi kokoh ini saling berbenturan terus menerus dengan cepat dan suara bisingnya menggema di mana-mana.
"Harrrgh...!!"
Dengan cepat Norum muncul di belakangku dan memberikan juga dengan serangan cakar dibalut energi Mana-nya itu.
Swoosh...!
Slash!
Tring!
Tampak makhluk hitam ini mulai kewalahan menghadapi dua serangan secara bersamaan dan tak bisa mengandalkan kemampuan anehnya itu.
"Ini saatnya!"
Di saat momen yang tepat menyerangnya, di saat itu juga hal mengejutkan terjadi.
"!!!"
Crak!
"Aing...!!"
Tiba-tiba Norum tertusuk sesuatu di tubuhnya dan aku juga mendapatkan luka tusukan di lengan kiriku, aku berhasil menghindarinya tapi tidak bagi Norum yang sangat dekat dengan bajingan itu.
Set! Set!
Dengan cepat aku langsung mundur sembari menarik Norum kembali.
"Apa-apaan itu?!"
Tampak Norum mulai kelelahan dan HP miliknya berkurang drastis akibat serangan itu. Jika HP Norum habis maka otomatis ia akan kembali ke dalam tubuhku, dan lebih buruk aku akan menerima efek samping akibat HP Norum mencapai angka nol, yaitu menerima rasa sakit yang tak bia dibayangkan seperti sesaat waktu aku terbakar saat itu.
"Kembalilah Kawan, sisanya serahkan semuanya padaku."
Sebelum kembali, Norum memberikan semua MP-nya beserta sisa HP-nya dan hanya menyisakan 10% HP untuk dirinya saja.
"Skill macam apa itu, aku merasa disayat ribuan pisau dari tadi."
Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan saat memperhatikan makhluk hitam itu, aku dibuat terkejut sebab ada lima makhluk seperti dirinya hanya saja ia tak bisa terlihat sama sekali selain menggunakan kemampuan mata ini.
"Apa itu clone-nya?"
Aku kurang yakin jika itu sejenis kemampuan menggandakak diri, sebab Mana dalam diri makhluk tak terlihat ini sama besarnya dengan milik makhluk hitam itu.
"Apa itu sejenis kemampuan seperti Dopplegenger?"
Aku teringat dengan seseorang dan ia diberikan julukan "The Voodoo Master", ia salah seorang misterius yang menantang Gading Himar secara terang-terangan saat itu dan pertarungan mereka berhasil direkam oleh media kala itu. Pertarungan sengit di antara dua kekuatan besar dan "The Voodoo Master" menggunakan kemampuan aneh yang berhasil melukai Gading secara tiba-tiba saat itu, dan berkat kemampuannya itu ia berhasil melarikan diri sebelum para Rank-S lainnya berkumpul.
"Jika kemampuannya seperti itu, maka bajingan ini kemampuannya sudah sama seperti para pilar negara."
Karena HP dan MP-ku tak banyak aku harus menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin.
Set!
Kali ini makhluk hitam maju duluan dan menghadapiku bersama makhluk tak terlihat itu.
Tring!
"Sial!"
Karena menggunakan "Mata Dewa" membuat tenagaku terkuras dengan cepat karena efek sampingnya.
Tring! Tring! Tring!
Serangan bertubi-tubi terus berdatangan ke berbagai arah, yang bisa kulakukan hanyalah menghindar dan menahannya, tidak waktu bagiku menyerang balik karena kecepatan serangan ini.
Wush!
Aku langsung menggunakan "Langkah kematian" dan secara bersamaan aku juga menggunakan "Kehadiran kematian", dalam waktu singkat langkah mereka terhenti dan tentu juga aku mendapatkan buff berkat efek dari skill "Langkah kematian".
Swoosh...!!!
Di saat jeda singkat itu, aku langsung mengayunkan sabitku sekuat mungkin dan berhasil membuat mereka terhempas sesaat, aku langsung menonaktifkan "Mata Dewa" karena efek sampingnya mulai membuat kepalaku pusing.
"Hah... hah... apa berhasil? Kumohon berhasil lah."
Seluruh MP-ku tinggal kurang dari 10% lagi dan menggerakkan tubuhku mulai berat dan entah kenapa aku juga merasa sedikit pusing, apa ini efek dari "Mata Dewa"?
__ADS_1
"Kurasa bukan, aku merasa ini jauh lebih parah dari efek samping skill itu, sebenarnya apa yang terjadi?"
Napasku terus merasa berat, aku juga tak bisa menggunakan skill atau pun potion pemulihan HP dan aku juga sudah menggunakan seluruh Aura-ku pada waktu itu
Tap... Tap... Tap...
"!"
Aku sangat terkejut melihat makhluk hitam itu bangkit dengan keadaan prima.
"Bagaimana mungkin... egh!"
Aku berusaha bangkit tapi tiba-tiba tubuhku mulai ambruk.
"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?"
Semua pertanyaan dalam benakku ini langsung dijawab oleh sistem.
[Kamu telah terkena "Korosi jiwa", skill musuh telah berhasil mengenaimu dan efeknya mulai menyebar.]
Melihat itu aku hanya bisa terbelalak dan terkejut. Bibirku meronta, tapi tidak ada kata yang keluar. Aku hanya bisa terdiam dengan napas beratku sedangkan musuh sedang berjalan ke arahku dan siap menghabisiku.
"Kayaknya aku gagal diujian ini..."
Gedebuk!
Tubuhnya telah terlepas dari pikirannya, tetapi pikiran jernihnya terus memandang ke arah depan. Dia melihat makhluk hitam itu mendekat dan sesaat langkahnya terhenti tepat di depan pandangannya yang mulai tertutup sepenuhnya.
"Tuan..."
Sesaat suara serak itu dan di saat itu juga kegelapan telah berhasil menutup matanya dan bersama kesadarannya telah terbawa olehnya juga.
...•••...
...•••...
...•••...
"Huh?"
Saat matanya yang kabur itu mendapatkan ransangan cahaya, ia pun berkedip beberapa kali agar semua cahaya itu menampakkan gambar yang jelas di matanya.
"Bukannya di sini tempatnya Arasyid, aku ke masa lalu lagi?"
Aku masih bingung, padahal aku gagal mengalahkan itu penjaganya dan berakhir pingsan dengan skill anehnya itu. Sekarang aku berada di ruangan Arasyid lagi, yaitu tempat di mana ia selalu melakukan penelitiannya dan ada banyak buku-buku dan kerta di sini.
Terlihat Arasyid memandangi area luar rumahnya melalui jendela, tampak kesedihan dari tatapannya itu. Aku melihat dirinya terus menatap arah luar seolah-olah ia sedang memandangi sebuah kenangan yang tertampil di balik jendela ini.
"Sudah waktunya..."
Sesaat keheningan itu pecah saat ia mengeluarkan dua kata.
"Aku sudah memasang semua tanda 'Hukum' itu di mana-mana dan tinggal menunggu kedatangan 'Mereka' untuk mengurungnya selamanya."
Mendengar itu membuatku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi yang dialami pendahuluku ini.
"Sudah banyak waktu telah kulewati dan sudah banyak peristiwa yang kulihat. Sudah saatnya waktuku untuk melaksanakan tugas terakhirku..."
Setelah mengatakan itu, Arasyif berjalan ke arah meja yang sering ia gunakan untuk menulis atau pun mengerjakan berbagai hal penelitiannya.
"Tapi setidaknya aku telah berhasil mencegah 'Hukum' itu hancur sepenuhnya. Karena 'Hukum' yang dibuat olehnya sudah mulai melemah dan 'Mereka' yang terkurung dalam 'lingkaran waktu abadi' telah lepas satu-persatu. Pengorbanan yang dilakukan semua pendahluku terasa sia-sia, kali ini aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan mengurung 'Mereka' dalam 'lingkaran waktu abadi' lagi dan saat sudah terjebak, seluruh 'inti'-nya akan diserap oleh 'Dia' untuk memperkuat 'Hukum' yang sudah diperbarui ini."
Aku hanya bisa diam dengan perasaan sedikit terkejut, aku mendapatkan informasi yang sulit kupahami. Jadi selama ini "Mereka" terus bertambah ternyata sudah lepas dalam kurungannya. Mendengar itu membuatku berpikir bahwa seluruh pengorbanan dilakukan pendahuluku merasa sia-sia.
Tapi melihat tekad Arasyid yang tak menyerah ini membuatku termotivasi untuk berjuang keras lagi sebagai penerusnya. Aku merasa sangat malu karena kurang yakin akan kekuatanku sendiri, padahal mereka semua sudah mempercayakan semuanya padaku.
Bing!
Sesaat cahaya itu muncul lagi dan membawaku ke tempat lain.
Terlihat aku berada di sebuah gurun pasir yany tandus dan sangat panas. Tapi di atas langit yang panas itu tampak sebuah retakan dimensi yang sangat besar.
Lalu terlihat seorang pria tua berjalan sembari membungkuk sedikit dan dibantu oleh tongkatnya. Ia berjalaj ke arah retakan dimensi itu dan berdiri tepat dibawanya.
Tatapan Arasyid sangat berarti pada retakan dimensi itu dan dari tatapan itu mengisyaratkan bahwa ia saat ini sedang bersiap menghadapi sesuatu yang sangat besar dan berbahaya.
Crang! Krak!
"Akhirnya kalian semua muncul juga," gumam Arasyid.
Sesaat para makhluk asing dan penjaga bumi ini saling menatap satu sama lain, tidak ada satu pun dua kubu memancarkan aura permusuhan sama sekali.
"Kamu... apa kamu salah satu dari kami?" Tanya salah satu dari mereka.
Arasyid mendengar pertanyaan itu hanya bisa tersenyum.
"Kemarilah, Nak."
"!"
Seketika aku mendengar suara Arasyid dalam kepalaku dan lebih mengejutkan lagi, aku ketarik oleh sesuatu dan masuk ke dalam tubuh Arasyid.
"Ada apa ini?!"
Aku yang terkejut karena pandanganku berubah, sesaat mengamati keadaanku sesaat, ternyata aku berada di dalam tubuh Arasyid dan pandangan yang kulihat ini berdasarkan pandangan Arasyid.
"Aku tak bisa bergerak..."
Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa dan yang bisa kulakan hanyalah mengamati semua hal dari pandangan Arasyid, ini seperti seseorang menonton film di bioskop.
"Iya... itu benar. Aku datang ke sini karena menanti kalian semua."
Mendengar jawaban itu malah membuat semua para makhluk asing ragu akan pria tua ini.
"Haruskah kita mempercayai pak tua ini? Aku sangat tidak yakin dengan semua ini."
"Kamu benar, energi yang dipancarkannya sangat kecil, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang sama seperti bajingan yang kita lawan saat itu."
Mereka saling bertanya-tanya dan menatap satu sama lain, mereka semakin ragu dengan pria tua ini. Arasyid melihat hal ini langsung buka suara :
"Aku tahu kalian meragukanku, tapi apa kalian tidak merasakan sesuatu hal di tempa ini."
Mendengar itu mereka langsung menoleh ke berbagai arah dan mencoba merasakan sesuatu yang asing ini.
"Dia benar, baru kali ini aku merasakan Mana sebanyak ini masuk ke dalam tubuhku. Dan aku merasa seperti kembali ke kekuatan kita sepenuhnya."
"Aku berhasil menahan 'Hukum' yang dibuat 'Penghianat' itu. Dengan ini kita semua bisa mencari keberadaannya dan mengambil kekuatannya. Aku harus mengorbankan seluruh energi kehidupanku untuk menahan separuh 'Hukum' ini demi memunculkan kalian semua."
Aku yang mendengar ucapan Arasyid dibuat sangat terkejut dan bingung.
"Apa yang direncakan kakek tua ini?"
Tidak seperti para pendahulu yang kulihat sebelumnya, mereka semua mati-matian melawan musuhnya. Tapi lain halnya Arasyid, ia justru bernegosiasi dan berpura-pura menjadi bagian dari mereka, mengingat Arasyid sengaja menyegel hampir seluruhnya kekuatan Heredis miliknya demi terlihat lemah di mata mereka.
"Kalau begitu... kamu bagian mana?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Arasyid sedikit terkejut, pikirnya ia tidak mengethui apa pun soal tempat mereka. Arasyid tetap tenang di hadapan kesulitan ini dan mencoba mengutarakan apa yang ada dipikirannya, walau resiko kegagalannya sangat tinggi karena ia harus bisa mengelabui mereka.
"Itu... aku berada di tempat yang sangat rendah, Tuan."
Mendengar jawaban itu hanya bisa membuat mereka terdiam dengan seksama.
"Begitu ya... jadi kamu berasal dari 'Low Ground', tempat yang sangat tidak penting dan hanya dipenuhi orang-orang lemah sepertimu."
Mendengar itu membuat Arasyid lega dalam hatinya karena bisa lepas dari bahaya sementara sebelum rencananya jalan sempurna.
"Bukannya rata-rata orang yang ditugaskan mencari 'Penghianat' itu berasal dari 'Medium Ground' dan hanya sedikit berasal dari 'Tall Ground' ikut dalam hal ini. Tapi bagaimana rendahan sepertimu ikut dalam misi ini?"
Sekali lagi ancaman bahaya ini membuat Arasyid hampir memilih tindakan terakhirnya yaitu melawan mereka seperti para pendahulunya jika rencananya gagal, tapi ia lebih memilih untuk tenang dan tetap pada pendiriannya.
"Soal itu aku mengikuti Tuanku yang berasal dari 'Tall Ground', tapi seseorang asing muncul dengan aura mengerikan dan mencekam, membuat Tuanku dan yang lainnya terseret ke sesuatu tempat dan mereka semua menghilang begitu saja, dan aku tak merasakan jejak energi kehidupan mereka saat itu."
"Lalu bagaimana kamu bisa lolos dari orang itu?"
"Aku memiliki kemampuan yang bisa mengelabui seseorang tapi bayaran dari kemampuan itu aku harus menggunakan energi kehidupanku."
Dari percakapan ini akhirnya hubungan dua kubu saling terbuka, para makhluk asing membuka kewaspadaannya dan menganggap Arasyid bagian dari mereka.
"Hehe, tak kusangka kakek tua ini hebat juga bersandiwara."
Karena Arasyid dibesarkan dilingkungan yang mengharuskan melakukan perbuatan kotor demi kepentingan hidupnya, tak menyangka jika keahlian lamanya itu akhirnya bisa digunakan di situasi genting ini.
__ADS_1
"Oh iya, aku baru ingat, bukannya memang ada seseorang dari 'Tall Ground' membawa banyak orang-orang rendahan ini sebagai pionnya."
Mendengar itu membuat yang lainnya menyadarinya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku baru ingat juga, ternyata si Maniak itu ikut juga. Tak heran kenapa orang rendahan ini ada di sini."
Arasyid melihat mereka saling berbincang hanya bisa bersyukur dalam hatinya karena berhasil keluar sepenuhnya dari kewaspadaan mereka. Dan saatnya baginya ia melanjutkan rencananya.
"Apa aku bisa meminta tolong sesuatu?"
Saat pertanyaan itu dilontarkan Arasyid, membuat mereka semua terdiam sesaat.
"Katakanlah, apa yang kamu inginkan."
"Apa boleh aku meminjam sedikit energi kehidupan kalian. Kumohon! Ini demi bisa menemukan Tuanku dan saudara-saudaraku yang lain. Keberadaanku hampir lenyap sepenuhnya jika aku tak memiliki energi kehidupan yang cukup di tempat ini."
Mendengar permohonan itu hanya membuat mereka merasa tak perlu melakukan hal itu pada kasta yang rendah di bawahnya. Tapi salah satu dari mereka maju dan membuat yang lainnya terheran-heran.
"Kamu sedang apa?"
"Bukannya sudah jelas, aku ingin membantunya."
"Untuk apa kamu melakukan hal itu pada orang sepertinya."
Mendengar itu hanya membuat pria baik ini menghela napas dan berkata :
"Kalau orang ini tidak ada, maka kita semua akan kesulitan menembus 'Hukum' yang dipasang 'Penghianat' ini."
Mendengar itu tak ada yang bisa berkomentar, tapi menurut mereka tak ada yang perlu dibalas budi dari orang-orang yang berasal dari bawah mereka, menurutnya sudah hal semestinya orang-orang rendahan ini harus mengorbankan dirinya demi orang-orang yang ada di atasnya.
Pria baik ini turun dan mendatangi pria tua ini, Arasyid mendatangi pria itu dengan jalannya yang gemetar.
"Ulurkan tanganmu," kata pria itu sembari memberikan tangannya seperti salaman.
Arasyid melihat itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya yang gemetaran.
Hap...
"Apa ini?"
Tiba-tiba aku mendengar suara Arasyid di kepalaku, ia seperti merapal sesuatu.
...Vos cea lusuke ani mea...
...Vos cea dhuan ani mea...
...O vi prea kang sampyn...
...O qod Hel...
...(Engkau yang menyesatkan jiwa)...
...(Engkau yang menuntun jiwa)...
...(Kuserahkan kepadamu)...
...(Wahai sang Kematian)...
Sesaat tangan mereka bertemu, tiba-tiba cahaya muncul di antara tangan mereka.
"Argh!"
Tiba-tiba aku merasakan rasa sesak dan sakit di dadaku. Tiba-tiba Mana dalam diriku melonjak dan aku juga merasakan aliran energi yang sangat kuat saat Arasyid bersalaman dengan pria itu.
"Apa yang kau... lakukan, kakek... tua...!"
Energi kuat itu terus mengalir dalam diriku seperti air terjun yang jatuh tanpa henti.
"Hah!"
Pria ini sangat terkejut dan segera melepaskan genggamannya karena merasakan hal aneh pada dirinya, tapi cengkraman lemah pria tua ini tiba-tiba menguat dan sulit dilepas.
Arasyid melihat reaksinya ini hanya bisa tersenyum puas.
"Paschimmu destum..."
Bing!
Tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang dan murni yang menyelimuti medan ini.
...•••...
...•••...
...•••...
"Hoeh...! Hok... hok! Sial! Apa yang dia lakukan pada diriku..., eh?"
Tiba-tiba aku tersadar telah berada di tempat asing lagi dan terlihat tempat ini sangat mewah, aku melihat banyak pria dan wanita sedang menyiapkan sesuatu di suatu ruangan
"Sekarang di mana aku?"
Di sisi lain aku melihat ada prajurit denhan armor-nya dan tombaknya sedang berjaga di sebuah pintu.
"Oeek...! Oeek...!"
Terdengar suara tangisan bayi dan aku langsung menuju ke arah pintu yang dijaga prajurit itu. Saat aku masuk, aku melihat sepasang suami-istri yang sangat bahagia melihat buah hati mereka.
Tampak sang istri masih bersandar di atas kasur dengan keadaan lelah.
"Tak kusangka kamu memberikan aku putra lagi yang sangat sehat."
Wanita tersenyum mendengarnya dan berkata :
"Terima kasih, Yang Mulia."
Sang suami terus menggendong bayi mungilnya, setelah itu memberikannya kepada istrinya.
"Kali ini kamu yang akan memberikan jagoan kecil kita ini nama," ucapnya sembari memberikannya kepada istrinya.
"Kamu yakin? Alangkah sangat baiknya jika ayahnya sendiri yang memberikannya nama."
"Untuk kali ini, kamu saja. Aku merasakan firasat yang sangat baik saat kalian berdua terus bersama. Berikanlah, walau terdengar tidak bagus, tapi memiliki makna yang sangat dalam seperti namamu."
Wanita ini menganggukkan kepalanya dan menatap putra kecilnya dengan sangat bahagia. Ia terus menatap bayinya sembari mengelus pipi tembemnya dengan lembut.
"Harun..."
"Hm? Nama yang indah, hanya itu saja?"
"Masih ada, mulai sekarang nama dia adalah... Harun Ar-Rasyid."
"Ar-Rasyid ya... itu nama yang sangat indah, apalagi nama ini juga salah satu nama agung Tuhan kita. Bagaimana kamu bisa terpikirkan dengan nama ini?"
"Dulu sebelum bertemu denganmu, aku bertemu seseorang yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri dan sekaligus guru bagiku. Dia mengajari banyak hal dan membagikan semua ilmu pengetahuannya kepada wanita kotor sepertiku. Kupikir waktu itu dia hanya ingin menghiburku bahwa aku adalah wanita yang akan dikenang dalam sejarah katanya. Tapi entah kenapa semua perkataannya itu mulai terwujud satu-persatu."
Tak meneteskan air matanya sang suami segera membantunya menyingkirkan air mata itu sebelum membasahi wajah manis putranya.
"Terima kasih."
"Apa kamu sudah bertemu dengan dia lagi?"
"Sejak bertemu denganmu, aku tak menemukan keberadaan dia di mana lagi. Sudah banyak prajurit dan informasi aku minta untuk mencari keberadaannya, dan terakhir yang kutahui dia tinggal di Bisha. Tapi saat aku mencarinya tak seorang pun yang tinggal di sana mengetahui keberadaannya."
"Kalau boleh tahu nama orang tua itu siapa?"
"Arasyid, dia orang yang sangat hebat dan aku tak akan melupakan dirinya sampai ajal menjemputku."
Sang suami hanya bisa menghela napas dan berkata :
"Tak heran kenapa kamu sangat pintar dan membantuku mengurus urusan kerajaan. Dan kamu memberikan nama putra kita seperti orang yang kamu kagumi."
Wanita itu hanya bisa tersenyum dan kedua pasangan ini sangat bahagia atas kelahiran putranya yang sangat sehat.
Crang!
Tiba-tiba muncul portal tepat berada di sampingku. Melihat ini malah membuatku semakin heran, kenapa muncul portal dalam kilas masa lalu ini. Biasanya cahaya menyilaukan itu yang selalu membawaku.
"Aku tidak tahu apa ini, tapi aku ingin segera pulang."
Perasaanku semakin tenang dan lega saat melihat momen bahagia pasangan ini, yang awalnya kurasakan sesak dan sakit di dadaku, kini sudah membaik dan tak terasa sakit lagi.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku, tapi hal ini akan sangat berarti untukku ke depannya.