
Sebelum itu....
Haarrhh...!!!
Srupt!!
Seketika monster itu melempar racunnya ke udara.
"Sial! Aku tidak bisa ke mana-mana!!"
"Tidak... Tuan Arkha...!!"
"Hoarrgh...!!"
Aku langsung melirik ke arah Norum dengan cepat.
"Norum!!"
"Grrh... hoarrgh...!"
Dengan cepat Norum masuk ke tubuhku.
"Keluarlah!!"
Norum dengan cepat keluar dari tubuhku dan aku menginjak dia sebagai pijakan untuk melompat ke monster itu.
Set! Shut!
Aku berhasil menghindari lemparan racunnya dan Norum berhasil menghindari racunnya juga.
Haarrhh...!!!
Dengan cepat aku terbang ke arahnya dan langsung memukul belati yang tertancap di matanya
"Rasakan ini!!"
Punc! Crack!
Haarrhh...!!!
Monster itu meronta-ronta kesakitan dan langsung jatuh.
Aku maju dan mencabut belati yang tertancap di sana.
"Inilah akhirmu...."
[Skill partner
- Kerasukan (Aktif) (Level 1)
Partner bisa memasuki tubuh target yang jauh lebih lemah darinya atau target yang sudah melemah, lalu mengendalikan tubuh yang dimasukinya sesuka hati yang mati maupun yang hidup.
Penggunaan 100 point Mana permenit.
Cool down : 3 menit.]
__ADS_1
"Skill baru baru di saat begini?"
Aku langsung melihat Norum dan lalu melihat sekitar, tiba-tiba aku punya ide.
"Santia, aku...." Aku terkejut melihat dia sangat gelisah. "Kamu kenapa?"
"Ya? Eh... itu..., apa aku boleh memanggil kamu Abang?"
"Abang?"
"Jangan salah paham dulu..., itu... sebenarnya kamuĀ terlihat seperti Kakak Sepupuku."
"Kamu boleh memanggil apa saja."
"Jadi boleh..., terima kasih, Abang~."
"Aku bisa membayangkan kalau Rena besar bakal seperti Santia, mungkin."
(Dalam pandangan Santia, dia melihat Arkha bertarung seperti monster. Tapi, itu hanya sementara saja, saat Arkha meneriaki dia untuk jangan mendekat dari monster besar itu, seketika pandangan dia terhadap pria ini berubah yang awalnya sangat takut terhadapnya seketika berubah menjadi sangat kagum terhadapnya. Pikirnya Arkha terlihat seperti saudara atau kakak yang mati-matian melindungi adiknya dari mara bahaya.)
"Oh iya, aku butuh bantuanmu."
"Apa itu, Abang?"
"Apa kamu tahu orang yang dijuluki 'The Voodoo Master?'"
"Iya tahu, orang yang melawan salah satu orang Rank-S negara kita. Katanya belum ada yang tahu identitasnya, kelamin maupun ciri-cirinya. Kenapa Abang menanyakan hal itu?"
"Sebenarnya, aku ingin menghukum para bajingan itu dan sudah berapa banyak orang jadi korban mereka. Aku ingin kamu berpura-pura jadi 'The Voodoo Master.'"
"Sepeti kamu bilang, tidak ada siapa pun yang tahu mengenai dirinya dan itu akan menjadi penyamaran sempurna."
"Terus aku harus apa? Apa aku harus bertarung dengan berpura-pura seperti dia, skill-nya saja tidak ada yang tahu."
"Soal skill serahkan saja padaku dan kamu tetap mainkan peranmu. Ada satu skill miliknya yang sudah diketahui banyak orang yaitu 'The Live Doll,' skill yang mampu mengendalikan makhluk hidup apa pun mau yang mati atau yang hidup."
"Baiklah, aku mengerti. Kita melakukan ini agar bisa selamat kan."
"Iya."
Aku melakukan ini agar kita bisa selamat dari cengkraman orang yang ada di belakang bajingan itu terutama Gilang Himar, entah kenapa nama belakang dia sama dengan salah orang satu Rank-S di negara ini yaitu Gading Himar.
Aku mendekati monster kelabang raksasa ini.
"Norum, kendalikan monster itu."
"Grrh... harp...."
Norum langsung melompat dan memasuki tubuh monster ini.
[Skill "Kerasukan" telah diaktifkan.]
[Memulai proses mengambil alih tubuh target....]
Herrh...!
__ADS_1
Terlihat bos monster itu ingin memberontak, tapi apa daya seluruh tenaganya sudah habis saat bertarung denganku dan tampak dia hanya pasrah saja.
[Mengambil alih tubuh target berhasil.]
[Peringatan!
Saat tubuh target sudah diambil alih, maka seluruh skill dan kemampuan khusus dari target itu tidak bisa digunakan oleh partner yang mengambil alih tubuhnya.]
"Begitu ya, Norum hanya bisa mengambil alih tubuhnya, apa karena level skill 'kerasukan' masih rendah sehingga seluruh skill target yang dirasukinya tidak bisa digunakan."
Proses mengambil alih tubuh berhasil dan aku mundur beberapa langkah.
"Baiklah Kawan, sekarang coba kamu bergerak."
Norum mengendalikan tubuh Centipider dan dia bisa mengendalikannya dengan mudah tanpa ada kendala sedikit pun.
"Heh, monsternya bergerak!"
"Jangan takut, partnerku ini yang masuk ke tubuhnya dan mengendalikannya."
"Oh begitu ya, lalu sekarang apa?"
Semuanya persiapan sudah selesai, tinggal yang terakhir. Aku mengangkat belati milikku, dan langsung mengarahkan belati itu ke arah kiri perutku.
Jleb!
"Abang!! Apa yang kamu lakukan!"
Santia yang panik langsung mendekat ke diriku untuk mau menghentikan pendarahannya, tapi aku menghentikannya dan berkata:
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, lukanya tidak terlalu dalam."
"Tapi, tetap saja, darahnya keluar terus. Kalau begini kamu bisa mati!"
Yang dikatakannya ada benarnya, aku menusuk perutku bagian kiri sehingga nyaris menyentuh titik vital, tapi aku tidak perlu khawatir sebab ada skill Norum yang bisa dia gunakan untuk menyembuhkanku.
"Tidak usah takut, karena partnerku ini punya skill penyembuh yang bisa menyelamatkanku."
Santia menghela napasnya yang berat karena lega dan berkata:
"Seharusnya kamu bilang dari awal sebelum melakukan tindakan bodoh ini."
"Hehe, maaf. Norum, tidurlah!"
Norum menidurkan tubuh raksasa ini dan aku berjalan ke arahnya lalu duduk sembari bersandar ke tubuh monster besar ini.
"Dan kamu pergilah di ujung sana dan pasanglah ekspresi penuh ketakutan untuk mengelabuinya sementara, sebentar lagi mereka akan datang."
"Baik." Santia langsung berlari ke arah aku tunjukkan padanya.
Jujur saja, menusuk diri sendiri rasanya benar-benar mau mati dan rasa sakit ini terus berdatangan, ditambah lagi penyembuhan otomatis milik Norum yang menyembuhkan secara perlahan, malah mendatangkan rasa sakit itu kembali.
Bom!!!
Seketika sebuah ledakan cukup besar tepat di hadapanku dengan sekumpulan asap tebal, aku melihat siluet mereka di sana.
__ADS_1
"Akhirnya mereka datang."