Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 37


__ADS_3

[Boss


The Pawn 1 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Pawn 2 - The Damned Six


Level : ???]


Tring! Tring!


Para penjaga gerbang ini menggesekkan kedua pedangnya berulang kali dan mereka sudah siap mengambil posisi bertarung.


"Dua lawan satu, kayaknya ini akan sedikit merepotkan, tapi...."


Aku berbalik dan melihat Norum yang sibuk membersihkan para besi karatan itu.


Set!


Set!


Dengan cepat mereka berdua bergerak.


Chin!


"Cepat sekali...!"


Aku sangat terkejut karena salah satu dari mereka sudah berada tepat di depanku.


Tring...!


Kedua pedangnya itu aku berhasil menahannya dengan sabitku.


"Di mana yang satunya?"


Aku memutar bola mataku ke kiri dan kanan dengan cepat, untuk mengetahui keberadaan yang satunya.


Chin!


"Sial! Di belakang...!"


Tiba-tiba yang satunya lagi muncul dan langsung mengarahkan kedua pedangnya ke punggungku.


Aku langsung menggunakan skill "Pemilik sejati" dan memunculkan tangan hitam tak terlihatku untuk menahan serangannya.


Tapi....


"Apa?!"


Tiba-tiba tangan hitam tak terlihatku ini terblokir sebab ada sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari armor-nya itu.


Syut! Bur...!


Setelah tangan hitam tak terlihatku ini berhasil di blokir olehnya, seketika kesatria dua pedang itu terlempar cukup jauh.


"Norum!"


"Grrrgh..! Auuww..!!"


Dengan cepat Norum datang dan berhasil menyerangnya sehingga penjaga gerbang itu menjauh.


Tring...!


"Ternyata kamu gigih juga ya."


Aku menghilangkan sabitku saat kedua senjata kami masih saling benturan.


...?


Penjaga gerbang di depanku ini terkejut dan aku mengepalkan tanganku sekuat mungkin.


Punch! Ting...!


Aku berhasil memukul dia sekuat mungkin hingga membuatnya mundur beberapa meter dariku.


"Dalam jarak sedekat ini dia masih bisa menahan pukulanku dengan dua pedangnya itu, mereka benar-benar sangat cepat."


Setelah berhasil melakukan serangan kedua penjaga gerbang itu berkumpul lagi di depan gerbang, dan Norum berdiri di sampingku.


"Grrrgh...!"


"Ya, kita harus mengalahkan mereka secepat mungkin."


Set!


Dengan cepat Norum maju duluan menghadapi mereka.


"Hoarrrgh.!!"


Tiba-tiba tubuh kedua penjaga gerbang itu tak bisa bergerak sama sekali, ini berkat dari skill pasif Norum yaitu "Insting liar."


Set!


Aku langsung berlari dengan cepat ke arah mereka juga sembari memakai skill "Jalan bayangan," untuk melakukan serangan kejutan terhadap mereka.


Tring!


Tring!


"Eh? Apa skill Norum tidak mempan pada mereka atau efek skill-nya sudah berakhir?"


Kedua penjaga gerbang itu menggesek kedua pedangnya ke pedang lain satu kali, setelah itu mereka hanya terdiam saja tanpa sedikit pun bergerak dan apalagi mereka tidak bersiap dalam posisi tempur.


Duk... Duk....


Set!


"Hoarrrgh!!"


Norum langsung melompat ke arah mereka dan memunculkan cakar tajamnya berlapiskan Mana, ini berkat skill-nya "Konsentrasi hewan buas."


Set!


Aku sudah berada di sisi lain dari mereka dan tidak menyadari aku sudah berada di belakangnya.


Syut!


Swoosh..!


Secara bersamaan aku dan Norum melancarkan serangan pada mereka.


Tapi....


Ting!


"Hah? Apa itu tadi?"


Seketika seranganku tertahan oleh sesuatu dan begitu pun dengan Norum juga, tapi para penjaga gerbang itu hanya diam saja tanpa bergerak sedikit pun.


Syat! Crak!


"Egh! Sial! Ini sangat berbahaya!"

__ADS_1


Aku langsung mundur dengan cepat, karena tiba-tiba aku mendapatkan luka sayatan pedang yang sangat dalam di lengan kiriku.


"Hing..!!"


"Kawan...!"


Aku langsung mengangkat satu tanganku dan mengarahkannya ke Norum, lalu menarik dirinya dengan skill "Pemilik sejati."


Hap!


Aku langsung menarik Norum menjauh dari mereka.


"Kamu tidak apa-apa, Kawan?"


"Grrrgh...," jawab Norum sembari menggelengkan kepalanya.


Aku melihat Norum menerima juga sebuah serangan kuat entah dari mana, tapi Norum hanya sepotong jiwa dariku tanpa tubuh fana jadi dia tidak memiliki luka di tubuhnya, tapi tetap saja dia merasakan sakit juga.


"Apa yang mereka lakukan tadi?"


Aku langsung mengaktifkan "Mata Dewa" dan melihat mereka.


"Itu kan...."


Aku terkejut melihatnya, sebab ada sesuatu yang mengelilingi mereka dan luasnya hanya 2 meter dari mereka yang sebagai pusatnya.


"Jadi begitu ya, jadi ini yang dimaksud 'Area ketajaman.'"


Yang dimaksud di sini "Area ketajaman" adalah di mana setiap orang telah mencapai kesadaran yang sangat tinggi, sehingga seluruh indranya bisa merasakan dengan baik di sekitarnya.


Suara, getaran, bau, perasa dan penglihatan, semua indra itu akan semakin tajam tergantung setiap individu tersebut seberapa dalam dia memasuki kesadarannya.


Orang yang melatih ketajaman indra serta tubuh mereka sehingga melakukan refleksi yang sangat cepat jika target sudah mendekati individu tersebut. Rata-rata orang yang sering melatih ini adalah para pendekar pedang atau seorang yang sudah terlatih dengan pedang sejak lama.


Kedua monster di hadapanku ini memasang "Area ketajaman" mereka dengan menggunakan Mana miliknya, apalagi mereka adalah makhluk yang memiliki jumlah Mana yang sangat banyak sehingga itu bisa membantu memperkuat diri mereka dengan cepat.


"Pendekar pedang sejati, aku ingin tahu apa Pak Adrian bisa melakukan hal yang sama seperti mereka?"


Aku berbalik dan melirik Dami yang tampak menyiapkan sihirnya.


"Sebaiknya kamu tetap di sini, ada yang ingin aku coba."


Norum hanya mengangguk saja.


Set!


Aku langsung maju dan membuat sabitku membesar sedikit.


"Bola marah pada sabit ini bukan hanya sekedar pajangan saja."


Aku mengalirkan Mana-ku pada sabit ini, seketika bola merah pada sabit itu menyala.


"Baiklah, sekarang!"


Sesaat langkahku sudah memasuki "Area ketajaman" meraka, dalam sekejap salah satu ayunan pedang mereka mengarah padaku.


Swoosh..!


"Egh!"


Aku berhasil menghindari serangan pertamanya berkat memakai skill "Mata Dewa," hanya saja aku tak bisa melakukan pertarungan jangka panjang dengan mengandalkan skill ini, apalagi serangan berikutnya pasti sulit lagi dihindari.


Dengan cepat aku langsung mengayunkan sabit ini sekuat mungkin.


Swoosh..!


Tiba-tiba asap tanah bertebaran di mana-mana. Tapi, sabitku berhasil ditahan oleh mereka dengan cepat.


"Cih! Sudah kuduga, ini pasti ditahan!"


Swoosh..! Ting!


Kami saling membenturkan senjata masing-masing, hanya saja aku kalah cepat oleh mereka selain kalah jumlah, aku juga mengalami banyak luka sayatan pedang dari mereka.


"Egh..!!"


Karena sedikit kewalahan, aku langsung menggunakan skill "Pengondisian" untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan dan pertahananku.


Swoosh..! Ting!


Syat! Ting!


Swoosh..! Ting!


Syat! Ting!


Ayunan sabitku semakin kuat dan cepat, tapi mereka pun bertambah cepat juga. Sehingga asap tanah semakin berterbangan mengelilingi kami.


Wussh....


"Sepertinya sudah selesai...."


Swoosh..! Ting!


Syat! Ting!


Kami masih terus saling memberikan serangan masing-masing, tapi di belakang aku merasakan ada sesuatu mendekat dengan cepat ke arah kami.


Sesaat semakin dekat....


Bom! Wussh....


Seketika angin kencang muncul bagai bom sehingga menciptakan ****** beliung yang mengelilingi kedua penjaga gerbang itu.


"Sekarang...!"


Set!


Aku langsung maju lagi dengan cepat setelah mundur sesaat akibat serangan sihir angin itu, sihir itu berasal dari Dami sehingga "Area ketajaman" milik mereka terganggu berkat ****** beliung ini, yang mengganggu seluruh indra mereka.


Aku menerobos angin kencang itu, karena sihir angin Dami juga sudah mengelilingiku seperti Barrier, maka aku tak berpengaruh sama sekali dengan ****** beliung ini.


Swoosh..! Ting!


"Sial! Ternyata ini masih belum cukup...!"


Kembali menyerang mereka dengan bertubi-tubi, kali ini aku menggunakan skill "Jalan bayangan" di kombinasikan dengan "Mata Dewa" dan "Pengondisian."


Ketiga skill ini menurutku sangat cocok, hanya saja cukup membebaniku terutama "Mata Dewa" ini yang memiliki efek samping.


Swoosh..! Ting! Crak!


"Berhasil!"


Dengan cepat melakukan serangan lagi, tapi kali ini aku tidak sendirian.


"Hoarrrghh..!!"


Syut! Crak!


Norum berhasil mencakarnya sehingga kedua penjaga gerbang ini cukup kewalahan.


"Bongsor..!!"


"Aaahhh.!!!"

__ADS_1


Bongsor memasang kuda-kuda dengan kuat dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Syut! Swoosh...!


Dengan lemparan sangat kuat darinya, kedua kapak miliknya terbang dan berputar sangat cepat dan menuju ke arah ****** beliung itu.


Set!


Set!


Aku dan Norum langsung keluar dari ****** beliung itu.


Swoosh..! Ting! Bur...!


Kedua kapak itu berhasil mengenainya sehingga mereka keluar dari "Area ketajaman" buatannya, terlihat kedua penjaga gerbang itu berhasil menahan lemparan kapak dengan kedua pedangnya sehingga mereka hanya bisa mundur dari posisinya.


Set!


Tring...!


Tring...!


Dani langsung menyerang mereka dari belakang dengan dua belatinya, tapi kedua penjaga gerbang ini masih bisa menahannya.


Tring! Tring!


Tring! Tring!


Dani bisa mengimbangi mereka berdua dalam hal kecepatan juga.


Ting!


Senjata Dani terlempar dan siap ditusuk oleh mereka.


Tapi....


Bom!


Dami langsung melancarkan sihir apinya.


Set!


Aku langsung maju ke arah mereka sembari mengangkat sabit ini tinggi-tinggi.


Seketika sabitku mengeluarkan aura hitam kemerahan dan bola merahnya menyala berkat Mana yang aku kumpulkan di sabit ini.


Swoosh..! Crak!


Klotak! Klotak!


Seketika tubuh mereka berdua terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah.


Kraak! Kraak!


Aku berbalik dan tampak seluruh pasukan armor kosong itu hancur dan menghilang begitu saja.


Dun....


Terlihat gerbangnya terbuka lebar-lebar setelah berhasil mengalahkan kedua penjaganya ini.


"Fiuh*, akhirnya selesai juga, melawan mereka berdua saja membuatku kewalahan begini, bagaimana jadinya aku melawan penjaga setiap lantainya, pasti semakin kuat seiring aku berhasil naik sampai ke lantai sepuluh."


Seandainya jika tidak ada para The Arcana ini, mungkin aku dan Norum pasti sudah mati melawan mereka di sini. Apalagi ada pasukannya yang harus dilawan juga, berkat Bongsor dan Frankenstein serta pasukan Zombie-nya yang menghalangi para pasukan itu menuju ke arahku.


Sehingga Dani dan Dami bisa datang membantuku melawan kedua penjaga gerbang ini.


"Sebelum memasuki gerbang itu, aku ingin melakukan itu...." Sembari menatap tubuh terbelah dari penjaga gerbang itu.


Aku maju ke sana dan memperhatikannya.


"Aku rasa sistem ini juga menyegel skill khusus job-ku, sehingga aku tak bisa mengekstrak jiwa dari monster penjaga ini."


Aku mencoba memakai skill khusus Job yaitu "Pengabdian" beberapa kali di kedua mayat ini tapi tetap tak berhasil sama sekali, bukan hanya itu saja... aku juga mencoba memakai skill job yang kedua yaitu "Pengorbanan," tapi tetap saja tak bisa juga.


Tampak sistem ini membatasiku menggunakan kemampuan khusus dari job ini.


"Ya sudahlah, kalau memang tidak bisa, tapi sangat disayangkan jika monster sekuat ini tak bisa aku jadikan bawahan."


Sebelum meninggalkan lantai ini, aku mengambil dua item yang jatuh saat mengalahkan kedua penjaga gerbang itu, lalu aku memasukkan kedua item itu ke inventori.


"Saatnya melanjutkan perjalanan ini lagi. Kalian semua istirahatlah dulu."


Norum dan The Arcana menghilang dan masuk ke dalam tubuhku lagi.


Aku berjalan ke arah gerbang itu dan memasukinya.


...•••...


Sesaat memasuki gerbang, lantai dua dunia Hades...


"Hah? Tempat ini lagi."


Aku cukup terkejut melihat tempat ini, sebab tempatnya sama dengan lantai pertama yang aku masuki sebelumnya.


"Kalau tempatnya sama, berarti penjaganya...."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan melihat ke arah gerbang itu, tampak ada dua orang menjaga gerbang itu.


"Sudah kuduga, mereka lagi. Tapi, ada perubahan sedikit pada namanya."


[Boss


The Pawn 3 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Pawn 4 - The Damned Six


Level : ???]


Dur....


Seketika tempat ini bergetar.


"Hm, tampaknya sudah dimulai."


Kraaak! Kraaak!


Tiba-tiba seluruh benda-benda perang ini berkumpul membentuk sebuah prajurit yang isinya hanyalah kosong. Tapi, tampak bentuk mereka kali ini sangat berbeda, sebab ada beberapa dari mereka armor-nya besar dan bentuknya sangat berbeda dari sebelumya.


"Kayaknya, armor berkarat ini kelihatan sangat kuat dari sebelumnya, keluarlah!"


Seketika sesuatu hitam bermunculan secara bersamaan dari tubuhku.


"Grrrgh... auuww..!!"


"Harrrgh!!!"


Frankenstein menggunakan skill-nya untuk memanggil pasukan Zombie miliknya.


Tring! Tring!


"Hahaha..!!" Sembari menggesek kapaknya di kapak satunya berulang kali.

__ADS_1


Dami bersiap merapal sihirnya dan Dani mengangkat satu tangannya sehingga muncul cahaya dari tangannya, yang membentuk sebuah pedang panjang.


"Kalian semua... serang!"


__ADS_2