
Tring!
"Hehe... ini sangat menyenangkan manusia."
Set!
Set!
Swoosh..! Tring!
Slash! Slash! Tring!
Kami bertarung dengan sangat sengit, pedang Excalibur milikku dan kedua pisau besar melengkung miliknya saling benturan satu sama lain.
Tring! Swoosh..!
"Ergh..!!"
Setelah beberapa saat adu pedang ini, aku langsung mengeluarkan skill Excalibur dan memasukkan separuh Mana-ku, sehingga Goblin itu terhempas sejenak.
"Sudah cu---"
Bing! Bom!
Tiba-tiba muncul bola api dari samping dan mengarah kepadaku, aku berhasil menghindarinya sesaat bola panas itu hampir mengenaiku. Aku langsung berbalik dan yang ternyata melemparkan bola sihir itu ternyata Goblin penyihir itu.
"Berani-beraninya kau menyerang Tuanku!!"
Bush..!!
Belial sangat marah bukan karena diabaikan tapi musuh di hadapannya ini malah ikut campur dalam pertarunganku.
Seketika Belial langsung mengeluarkan sebuah sihir pengahancur, terlihat sebuah bola hitam besar disalah satu tangannya.
Wussh..!
Belial langsung melempar bola penghancurnya itu ke arah Goblin penyihir itu.
Tapi...
"Imperio!!"
Goblin penyihir itu langsung mengangkat salah satu tangannya ke depan.
Bush..! Trak! Bom!
Tiba-tiba sihir bola penghancur milik Belial berhenti dan hancur seketika sesaat Goblin penyihir mengucapkan mantra sihir.
"Berani-beraninya kamu berpaling dariku! Hiat..!!"
Swussh..! Piuh!
"Apa!!"
Dua buah pisau besar tiba-tiba terbang ke arahku dan yang melemparnya adalah Goblin yang aku hadapi saat ini.
Set!
Dengan insting semakin kuat, aku berhasil menghindari dua boomerang tajam itu.
"Kikiki..!"
Aku melihat Goblin yang kulawan ini tertawa dan di saat bersamaan jendela sistem tiba-tiba muncul juga.
[Skill berhasil di copy, sekarang skill ini berhasil disimpang dalam catatan "Buku ilmuwan sejati."]
Wush..! Wush..!
"Hoarrgh..!"
Aku mendengar Norum berteriak, tampak dia ingin memberithukan aku sesuatu hal.
"Terima kasih peringatannya Kawan. Tapi aku sudah tahu hal itu."
Aku langsung mengarahkan tanganku kiriku ke samping dan Goblin yang melempar pisau besarnya langsung bingung seketika.
"Imperio..."
"Apa?!"
Wush..!
Tring! Bur...!
Seketika kedua pisau besar boomerang itu langsung jatuh dan tertancap tepat di belakangku, sesaat sebelum mengenaiku.
"Bagaimana kamu bisa menggunakan kemampuan kami? Kemampuan itu hanya bisa digunakan oleh kami saja, yang sedarah dengan kami saja. Kamu ini siapa sebenarnya?"
Terlihat Goblin pemilik kedua pisau besar sangat terkejut karena kemampuan mereka bisa aku gunakan.
"Aku bisa menggunakannya kalau bukan harta warisan ini..."
Aku melirik ke arah kiriku dan ada sebuah buku melayang-layang, tapi buku itu tidak dilihat oleh mereka dan hanya aku saja bisa melihatnya.
"Kayaknya skill yang bisa ditiru hanya bisa dipakai satu kali saja."
Karena skill yang sudah disimpang lalu dipakai, akan menghilang dari catatan buku ini.
Karena pikirku skill "Imperio" ini perbedaannya sangat tipis dengan skill "Pemilik sejati" milikku, sama-sama pengguna telekinesis tapi skill milikku tidak bisa menyentuh sihir yang sudah dilepas, sebaliknya skill mereka bisa menyentuh dan menghancurkan sebuah sihir yang sudah dilepas, seperti sihir bola pengahancur Belial.
"Sederhana saja..."
"Hah?"
Aku langsung menggunakan skill "Pemilik sejati" dan mengangkat kedua pisau besar itu lalu memutarnya sekencang mungkin. Angin putarannya sudah seperti putaran baling-baling helikopter.
"Karena aku spesial."
Syut! Swoosh..!!
"Egh..!!"
Aku langsung mengembalikan senjatanya itu ke pemiliknya lagi. Putaran senjata boomerang sangat kencang dan melesat dengan cepat, dengan kecepatan seperti itu bisa memotong apa pun yang dilewatinya.
"Imperio!!!"
Dengan panik, Goblin pemilik kedua pisau besar itu langsung mengarahkan kedua tangannya ke depan dan menggunakan kemampuannya.
Tring! Bur...!
"Hah... hah..., kamu... kamu benar-benar kuat."
Setelah berhasil menghentikan senjatanya, dia sangat kelelahan mungkin sihir tersebut memakan banyak Mana-nya, terutama makhluk yang memiliki Mana sedikit dalam dirinya.
"Mereka sama seperti Dark Elf itu..."
Aku berbalik sementara dan melihat The Arcana terkuatku melawan para Goblin bangsawan itu.
"Aku tak melihat nama dan status mereka, apa mereka menjual jiwanya kepada 'Orang-orang itu?'"
Lalu aku melihat The Arcana lain sangat kewalahan melawan para Goblin itu, selain kalah jumlah mereka juga harus meregenerasi tubuh mereka dan MP-ku sangat terkuras ketika mereka terluka.
"Aku ingin menanyakan sesuatu?"
"Apa?!!"
Tampak Goblin itu sangat kesal dan mengambil kedua senjatanya.
__ADS_1
"Apa kamu... tidak memiliki jiwa?"
"Apa maksudmu?"
Aku terbelalak, tampaknya ia tidak mengetahui mengenai hal ini, lalu aku menanyakan hal ini lagi padanya :
"Apa kamu mendapatkan kekuatan sebesar ini atas mengorbankan jiwamu pada 'Mereka?'"
"Hah..? Aku dan saudara-saudaraku tak pernah melakukan hal terendah seperti itu dan hal seperti itu sangat melukai harga diri kami! Lalu kamu... sama seperti pria tua brengsek itu..!"
Aku sangat terkejut mendengar itu, apa maksud dia aku sama seperti orang yang dimaksudnya.
"Mana dalam dirimu sangat mirip dengannya gelap, dingin dan mencekam."
Berbeda dengan Dark Elf itu, Goblin itu memberikan informasinya dengan lancar tanpa harus tertahan oleh sesuatu yang menghambat informasi keluar dari mulutnya.
"Sudah cukup bicaranya!"
Set!
Goblin itu langsung maju ke arahku sembari mengangkat kedua pisau besarnya.
Tring..!
Kedua senjata kami saling benturan dan suara nyaring mulai tercipta dari kedua senjata ini.
Slash! Tring!
Swoosh..! Tring!
Kami terus saling memberikan serangan tanpa jeda sedikit pun.
"Dia semakin cepat..!"
Setiap serangannya sangat cepat dan kuat, sehingga membuatku sulit mencari celahnya.
"Pengondisian," gumam.
[STR, AGI, dan VIT naik 20% dalam kurung waktu enam menit.]
Swuush..! Swuush..! Tring!
"Egh..!!"
Aku langsung membalas serangan cepatnya itu, setiap benturan pisau besarnya yang mengenai Excalibur maka aku menbalasnya dua kali-lipat. Ini berkat skill Excalibur yang mampu menyerap serangan apa pun dan mengembalikannya lebih kuat.
"Egh..!! A-apa?! Kenapa setiap serangannya semakin kuat?!"
[Skill "Pengorbanan" digunakan, meminjam skill The Arcana - Lucifer, "Harga diri."]
Di sisi lain, Lucifer tidak kesusahan sama sekali mengahadapi Goblin Assasin itu malahan dia sangat tidak peduli saat melawannya.
"Tuanku... kamu benar-benar terlihat sangat indah walau sedang bertarung...."
Chin!
Dengan gerakannya yang sangat cepat tiba-tiba Goblin Assasin itu muncul tepat di depan Lucifer saat Luficer teralihkan sementara.
"Berani-beraninya kamu menggangguku, dasar hama!"
Tring!!
"Kikk..!!"
Dengan refleksnya atau memang insting Lucifer yang sangat hebat, berhasil membalas dengan cepat sesaat Goblin itu ingin menusuknya ketika dirasa punya peluang melukai musuhnya.
"Kayaknya aku tak bisa menikmati pertunjukan indah Tuanku jika hama sepertimu masih terus berkeliaran di sini. Serangga sepertimu belum layak mengotori pedangku ini dengan darahmu, aku akan mengeluarkan rekan setiaku untuk menggantikanku melawanmu. Keluarlah!"
Cahaya putih melingkat tepat di depan Lucifer dan muncul sesuatu dari balik cahaya itu.
"Hoaaarrgh..!!"
Duk... Duk... Duk....
Singa putih langsung berlari ke arah Goblin Assasin itu dan Goblin Assasin bersiap menghadapi hewan buas itu.
Set!
Slash! Slash! Crak!
"Hoaarrrgh..!!"
Tapi... singat putih itu masih belum tandingannya Goblin Assasin ini, dengan gerakannya yang sangat secepat dan dalam sekejap juga ia menancapkan pisau miliknya di tubuh singa putih itu. Terlihat singa perkasa itu tidak berdaya di hadapannya dan menerima banyak luka sekaligus.
"Kikiki...!"
Goblin Assasin sangat senang menggores setiap tubuh singa itu dengan pisau miliknya. Lucifer yang melihat rekannya tak berdaya, ia langsung membatalkan kembali Summon-nya dan seketika singa putih itu menghilang.
Cap..!
Krek! Krek!
Lucifer menancapkan pedangnya di tanah dan menekuk setiap jarinya hingga berbunyi, tampak dia sangat kesal terhadap Goblin itu.
"Kamu harus bersyukur, karena tangan suciku ini ingin menyentuh tubuh kotormu itu."
Set!
Dengan kecepatan yang sangat hebat, Lucifer muncul di hadapan Goblin itu siap memukulnya.
"Kik..?!"
Bur..!
Set!
"Wah, wah, serangga sepertimu cepat juga menghindari tanganku ini."
Goblin Assasin itu berhasil menghindari pukulan Lucifer dan langsung membalas serangan itu dengan melempar beberap pisau miliknya.
Piuh! Syut!
Piuh! Syut!
Luficer berhasil menghindari semua dengan wajah tenangnya itu.
Tapi...
Crak!
"Hah?"
"Kikiki..!"
Salah satu pisau itu berhasil menggores wajah mulusnya, Lucifer memegang wajahnya yang terluka sesaat tatapannya berubah drastis terhadap bajingan di hadapannya ini.
"Sudah cukup main-mainnya!"
Lucifer mengangkat satu tangannya ke depan dan seketika tangan itu mengeluarkan Mana yang terkumpul.
"Perbandingan..!"
Bur..!
"Kik..!"
Tiba-tiba tubuh Goblin itu merasa terbebani dan langsung melihat Lucifer yang menatap dirinya dengan sangat rendah.
__ADS_1
"Dasar penjajah..! Imperio!!"
Bur..!
Tiba-tiba tubuh Lucifer merasa berat juga. Tapi... tampak hal itu tidak mempengruhinya sama sekali.
"Boleh juga untuk hama sekuranmu, tapi... ini belum cukup menundukkanku!"
Lucifer langsung mengepal tangannya yang terselimuti Mana itu dan Mana yang terkumpul di tangannya tiba-tiba menghilang.
"Kik..!"
Deg!
Sesaat Lucifer mengepal tangannya itu, Goblin Assasin itu tiba-tiba diam dengan tatapan kosongnya.
"Aku memberikanmu kematian penuh kehormatan yaitu mati oleh pisau kesayanganmu itu sendiri."
Tampak Lucifer berhasil mengendalikan sepenuhnya Goblin Assasin itu dan memerintahkan Goblin itu mengambil salah satu pisaunya dan menusuknya dirinya tepat di lehernya.
Jleb! Crak!
Gedebuk..!
Lucifer berbalik dan melihat rekan-rekan lainnya dan tuannya masih bertarung dengan lawannya masing-masing.
"Kalian semua... benar-benar sangat indah."
Di sisi lain, Suzanna melawan Goblin pendeta itu, tampak dia sedikit kesulitan melawannya sebab lawannya memiliki banyak sihir Debuff dan AOE yang membuatnya kesulitan mendekatinya.
"Hahaha!! Sekarang apa yang kamu lakukan lagi, dasar penista!"
"Hehe~."
Suzanna hanya tertawa dengan senyum tipisnya itu dan membuat musuhnya sedikit bingung akan sikap tenangnya ini.
"Kenapa? Kenapa kamu tertawa, apanya yang lucu?!"
Tampak Goblin pendeta itu mulai kesal terhadap wanita di hadapannya ini.
"Tentu saja aku tertawa, karena... semuanya sudah ditentukan."
"Apa maksudmu?"
"Semuanya sudah ditentukan kapan kamu siap mati."
Sesaat mendengar itu, seketika Goblin pendeta memancarkan Mana yang sangat kuat dari tubuhnya dan orang-orang akan peka terhadap Mana pasti akan langsung pingsan.
"Alah~, apa kamu sedang marah?"
"Dasar kamu..! Datanglah wahai para pengikutku! Bantulah aku!"
Tiba-tiba ada banyak Goblin yang berdatangan ke arah Suzanna.
"Menggunakan teman-temanmu yang sudah mati sebagai bantuanmu."
"Kenapa, apa sekarang kau takut?"
Mendengar itu membuat Suzanna tersenyum dan membuat Goblin pendeta semakin geram.
"Keluarlah..."
Seketika banyak lingkaran cahaya merah muncul dari bawah, dan memunculkan banyak sosok-sosok aneh.
"Apa!"
Goblin pendeta itu sangat terkejut akan hal ini dan seketika tubuhnya sedikit gemetaran.
"Bicara soal pengikut kurasa aku tak perlu khawatir juga. Tapi, jumlah munculnya pengikut ini tergantung dari Tuanku juga, seberapa banyak imajinasi dia bisa ciptakan dari skill-ku ini."
[Pengikut kegelapan (Aktif) (Level 2)
Pengguna memanggil seluruh para pelayan kegelapan dan mengikuti seluruh perintahnya.
Efek baru :
Jumlah pasukan tak terbatas tergantung dari majikan sang pengguna seberapa banyak pasukan ia ciptakan dipikirannya.
Cool down : 30 menit.]
Suzanna memerintahkan seluruh pasukannya ini untuk menghalau para mayat berjalan itu.
"Sekarang tinggal kita berdua~."
"Kik..!"
Dengan wajahnya yang pucat Goblin pendeta itu mundur beberapa langkah dan Suzanna maju dengan tenang ke hadapannya.
"Jangan mendekat! Ontis..!"
Goblin pendeta itu memunculkan sihir AOE-nya lagi dan tampak lingkaran sihir sejauh 5 meter, dan Suzanna masuk dalam radius sihir itu sehingga dia kesulitan bergerak lagi.
"Ah~, kamu melakukan hal sia-sia lagi."
"Sia-sia? Hahaha!! Kamu jangan remehkan sihirku ini! Ketika kamu sudah terjebak oleh sihir ini maka seluruh Mana dalam diri akan dikuras sampai kamu mati!"
Mendengar itu membuat Suzanna terkejut dan langsung melirik ke arah tuannya.
"Mana ya...." Lalu melihat kedua tangannya yang tampak mulai samar-samar menghilang. "Berani-beraninya kamu!"
Bush..!
Seketika Suzanna memancarkan niat membunuh yang sangat kuat sehingga lawannya pun gemetaran melihatnya.
"A-apa yang dia lakukan?!"
Suzanna mengangkat kedua tangannya dan di langit-langit muncul banyak benda kecil berwarna merah dan menyatuh menjadi satu dan menyerupai tombak yang sangat runcing.
"Kau bilang sihirmu itu berasal dari keurunan darah kalian, bagaimana jadinya jika aku menggunakan darah-darah saudaramu ini untuk melawan sihirmu? Apakah efektif?"
Mendengar itu membuat Goblin pendeta ini sangat marah dan mengumpat kan sesuatu tidak jelas pada Suzanna.
"Dasar kamu makhluk hina! Dewa kami akan datang menghukum kalian!!"
"Dewa? Kapan dia datang. Aku rasa tak perlu takut terhadap Dewa kalian, sebab kami ini adalah pelayan langsung dari Dewa itu sendiri. Dan kau ini... siapa di mata dewamu itu, budak? Anak? Atau pelayan setianya yang bisa mendengar suaranya dan menerima perintahnya secara langsung?"
Saat mendengar itu membuat Goblin pendeta ini diam seribu bahasa dan memikirkan setiap kata wanita itu. Sebenarnya dia ini apa? Anak dewa? Pelayan setianya? Selama ini ia mengabdikan dirinya terhadap dewa yang dipercayainya, tapi... kenapa dirinya tak menerima perintah darinya atau mendengar suaranya saja tidak, apa benar dewa itu ada?
"Tidak ada jawaban, berarti dewamu selama ini hanya sebuah kebohongan saja."
Piuh! Piuh! Syut!
Piuh! Piuh! Syut!
Piuh! Piuh! Syut!
Suzanna langsung meluncurkan ratusan tombak darahnya itu dan mengarahkan ke Goblin pendeta itu.
"Oh Dewa, apa kamu benar-benar ada?"
Sebuah pertanyaan terlintas dipikirannya, tapi jawaban dari pertanyaannya itu ia takkan pernah dapatkan karena sabit malaikat maut sudah diujung lehernya.
Bur..! Bur..! Bur..!
Serangan bertubi-tubi datang dari langit, terlihat pemandangan ini seperti hujan darah, tapi darah ini sangat kokoh dan mampu merusak apa pun di depannya. Terlihat mayat Goblin pendeta itu tertusuk oleh tombak darah tak terhitung ini.
"Akhirnya selesai, apa aku harus membantu Tuanku?"
__ADS_1
Suzanna melihat tuannya sedang bertarung, tapi ia menyadari sesuatu bahwa tatapan tuannya ini sangat serius, bukan serius karena pertarungan tapi serius akan hal sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Sepertinya tidak, karena tampaknya Tuan sedang mencari sesuatu."