
"Apa-apaan ini! Ini seperti waktu itu...!"
Aku sangat terkejut melihat pemandangan yang sangat buruk ini, terlihat rumah-rumah bahkan tanahnya pun hancur seketika.
Lalu ada api di mana-mana, terlihat kota ini sudah menjadi lautan api ditambah lagi ada banyak korban tak bernyawa di mana-mana.
"Hahaha!!! Apa hanya segini kekuatan dari pelindung tempat ini!"
"Pemandangan ini... sama seperti sebelumnya, tapi...."
Aku melihat ada delapan orang melayang di udara dan sama persis dengan waktu itu hanya jumlah mereka berbeda.
"Tak kusangka, 'Dewa hina' itu memberikan kekuatan sangat luar biasa ini kepada ciptaannya sendiri, kamu tahu kan kekuatan sebesar itu tidak akan bisa mampu menampung tubuh setengah-setengahmu itu."
Aku melihat seorang pria dengan tubuh ber-armor hitam abu-abu dan bersayap jubah dengan warna merah.
Terlihat dia terengah-engah di bawah sana dan tampak keadaanya sangat buruk.
"Sebelum kalian menghina kami... hok... hok...!" Terlihat dia muntah darah sangat banyak dan tampak kakinya sulit menopang tubuhnya itu. "Sebaiknya kalian lihat diri kalian sendiri dulu..., siapa yang paling hina di sini... tentu saja kalian! Kalian para 'Makhluk penjajah' datang ke sini hanya menjadikan kami sebagai mainan kalian..!!"
Aku terkejut melihat pria yang wajahnya dipenuhi lumuran darahnya sendiri yang berbicara sangat lantang dengan keadaannya sangat lemah itu.
"Dia kan... Aristoteles! Jadi, dia juga seorang 'Heredis' sepertiku?"
Aku sangat terkejut mengetahuinya, selain misteri kenapa dia mengetahui soal "Heredis" ternyata dia juga seorang "Heredis" itu sendiri.
"Sudah cukup omong kosongnya! Cepat berikan kekuatan itu kepada kami, kalau kau memberikannya maka kami tidak akan pernah mengusik dunia kalian lagi."
"Kalian pikir aku akan percaya... hah.!! Kalian akan tetap seperti ini terus sampai kami semua benar-benar tak berguna lagi bagi kalian wahai 'Makhluk asing yang mengakui dirinya sebagai Dewa!'"
Mengetahui fakta baru itu membuatku cukup terkejut mendengarnya, sebab orang-orang yang melayang di udara itu apa mereka benar-benar Dewa?
"Aris~, berikan saja kekuatan itu pada mereka, agar tempat tinggal indah kita ini tidak lenyap begitu saja~."
Tampak seorang pria berjalan santai di kobaran api besar itu, terlihat tubuhnya itu baik-baik saja seolah-olah kobaran api itu adalah rumah baginya.
Aristoteles melihat pria itu keluar dari kobaran api itu dan sangat terkejut melihatnya, sebab seorang pria yang sangat dekatnya sudah seperti saudara kandung baginya, kini berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan kosong sembari menunjukkan seringainya.
"Putoles! Tidak, kamu bukan dia... siapa kamu?! Keluar dari tubuh saudaraku...! Hok.. hoek...!" Darah semakin banyak keluar dari tubuhnya dan tampak tubuhnya semakin lemas.
"Pfft..., Hahahah!!! Tentu saja aku bukan dia, hanya saja aku menemukan wadah baru yang sangat tepat untuk kujadikan dia sebagai pewarisku."
"Apa! Pewaris...?"
Tampak Aristoteles terkejut mendengar itu.
"Tentu saja, pewaris. Seperti yang dilakukan 'Dia' untuk memberikan kekuatannya kepada makhluk lain, akhirnya kami memahami metodenya itu, tapi kami mengubahnya sedikit dan tak ingin kekuatan kami dimiliki sepenuhnya oleh makhluk lemah ini, maka kami memilih mengambil alih tubuh ini dan menghancurkan jiwanya."
Deg!
Mendengar itu membuat darah Aristoteles memanas dan berusaha tegar dengan tubuh lemahnya itu.
"Kamu..., kamu... aaahhh.!!!" Langsung berlari ke arah pria di depannya itu dengan tubuh hampir sekarat itu.
"Cih! Menyebalkan!" Sembari mengangkat satu tangannya ke atas.
Brak!
"Agh! Hok... hok..., sial..!!"
Seketika muncul tangan api dari punggung pria itu dan langsung menundukkan Aristoteles di tanah hingga dia kesulitan bergerak.
"Hei, kau itu sudah mau mati dan tidurlah di sana dengan tenang."
Bom! Bom!
Terlihat delapan orang itu menyerang berbagai arah dan tampak cahaya kuning berterbangan di langit.
"Ah, waktunya panen ya...," ucap pria api itu.
Aristoteles mendengar itu sangat terkejut dan tampak delapan orang yang melayang di udara menghisap semua cahaya kecil warna kuning terang itu.
"Tidak..! Kumohon hentikan...!"
Deg! Deg! Deg!
"...?"
Mereka semua melihat Aristoteles memancarkan energi yang sangat kuat, dan tangan api besar itu menghilang begitu Saja.
Pria api yang berada tepat di depannya sangat terkejut melihat pancaran energi ini dari dekat.
"Energi yang sangat kuat!" Pikir Pria api itu.
Wush...!
Angin berhembus sangat kencang dan membuat api-api yang berkobar di kota-kota ini semuanya terangkat mengikuti arus angin.
Aristoteles mengangkat satu tangan di atas langit dan meneriakkan sesuatu:
"Revwangrce-te..!!"
Wush... wush..!!
Angin bertiup semakin kencang dan di langit muncul sesuatu yang hitam berbentuk semacam bola hitam.
"Eh? Apa yang terjadi?"
Delapan orang yang bertugas memanen itu, bingung dan terkejut karena tiba-tiba jiwa-jiwa yang mereka hisap seketika kembali ke bawah.
"Hm? Apa yang terjadi? Apa ini ulah manusia itu?" Sembari melihat ke arah bawah. "Hei, sedang apa kamu diam mematung di sana, cepat bunuh manusia itu agar kita bisa memanen lebih banyak."
Ucap salah satu dari mereka yang tampak kesulitan menghisap semua jiwa-jiwa yang tertarik kembali ke bawah.
"Iya! Sabar! Aku lagi sedang bersiap juga ini," balas pria api itu. "Sial! Seenaknya saja mereka memerintahku, padahal mereka anak-anak yang barusan lahir kemarin. Mereka tidak tahu seberapa mengerikan kekuatan dari 'Penghianat' ini, aku tercipta bersamaan dengannya dan 'Dia' sudah membantai 20% dari kami dengan kata lain membantai rasnya sendiri."
__ADS_1
Keraguan muncul dari wajah pria api itu dan mau tidak mau dia harus menghentikan tindakan Aristoteles yang menghambat proses memanen jiwa-jiwa ini.
Tapi dia langsung mengarahkan bola api raksasanya ke arah Aristoteles yang masih mengangkat satu tangannya itu.
Swoosh...!
Bola api besar itu langsung dilempar ke arahnya, tapi....
"Nocnis..!!"
"Grrrhh..! Hoarrrgh..!!"
Tiba-tiba muncul makhluk hitam dari tubuh Aristoteles dan langsung menghancurkan bola api raksasa.
"Hoarrgh... auww..!!"
"Makhluk menjijikan apa itu?" Ucap pria api itu.
Tampak makhluk hitam itu menyerupai seekor anjing hitam, tapi tubuhnya berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya sebagai penopang dan dua kaki lainnya berubah menjadi tangan yang bisa menggenggam apa pun.
Set!
"Hoarrgh..!!"
"Anjing hitam itu pasti partner dari Aristoteles."
Partner Aristoteles langsung maju dan menyerang pria api itu.
"Dasar menjijikan! Aku sangat benci anjing!"
Langsung melemparkan beberapa bola api ke arah anjing hitam itu.
Set! Set!
Tapi, partner dari Aristoteles ini berhasil menghindari semua serangan itu dan langsung mengarahkan cakar panjang itu ke arah pria api itu.
Syut!
Crak!
"Apa! Aku terluka dari serangan makhluk rendahan ini?" Pikir pria api itu. "Dasar rendahan!! Beraninya melukai tubuhku!"
Bom!
Wussh..! Bur...!
"Hing...!"
Anjing itu langsung terlempar cukup jauh akibat serangan api berskala besar dari pria api itu.
Lalu pria api itu langsung mengarahkan serangan terkuatnya ke arah Aristoteles, tampak dia sangat marah.
Swuush...!
"Apa? Seranganku berhasil ditahan!"
Tiba-tiba muncul seseorang tepat di depan Aristoteles dan dialah yang menahan serangan api besar itu dengan sihir pertahanannya.
"Belial!"
"Tuan, sebaiknya Anda pergi menjauh dari sini agar Anda punya waktu untuk memikirkan cara bagaimana mengalahkan mereka, dan serahkan kepada pelayan-pelayanmu ini mengulur waktu untukmu."
Mendengar itu, Aristoteles tersenyum dan berkata:
"Terima kasih sudah mau berdiri di sisiku, tapi.. aku tak bisa, aku tak ingin mengorbankan siapa pun lagi."
"Apa maksud Anda? Kami sangat bangga mengorbankan diri kami kepada Anda."
"Tidak, aku sudah mengorbankan banyak dari kalian dan Belial...." Sembari memberikan sesuatu kepadanya. "Bawalah ini bersamamu dengan yang lainnya."
"Tapi, Tuanku...."
"Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku melawan mereka dan sekarang aku mengorbankan jiwaku, sebentar lagi jiwaku akan hancur maka dari itu... aku ingin kamu menjaga baik-baik 'Itu,' dan kamu akan bertemu dengan penerusku yang tepat, yang mewarisi semua peninggalanku ini."
Tampak pria bertanduk itu berat hati menerima benda "Itu" dan menundukkan kepalanya.
"Sekarang... aku membebaskan kalian dari belengguku!"
Seketika pria bertanduk yang melindungi Aristoteles menghilang dan tiba-tiba banyak keluar sesuatu hitam dari tubuhnya, dan ikut menghilang juga.
Aristoteles mengeluarkan tombak hitamnya dan langsung melemparnya ke langit.
Swush!
Delapan orang di udara itu mengabaikan lemparan tombak itu, dan tombak itu melewati mereka begitu saja.
"Hanya itu usaha terakhirmu, heh!" Ucap salah satu dari mereka.
Aristoteles tersenyum dan langsung mengepalkan tangan ke langit.
Swush! Bing!
Swush! Bing!
"Apa!"
Hujan tombak cahaya datang dengan cepat dari langit.
Ting! Ting! Ting!
Delapan orang itu langsung menahan semua serangan dadakan itu.
Set!
Tidak tinggal diam, pria api itu langsung bergerak maju ke arah Aristoteles.
__ADS_1
Dan....
Jleb!
Tangan panasnya itu langsung menembus dada Aristoteles.
"Hegh! Hok... hok...!"
Crak!
Aristoteles langsung tumbang dan berbaring di tanah kotor ini, tampak matanya masih menatap ke arah langit.
"Kalau mau mati, jangan bikin susah orang lain. Mati ya mati! Bikin repot saja!"
Mendengar itu membuat Aristoteles tersenyum.
"Kenapa dia tersenyum?" Pikir pria api itu.
Swush...!
Jleb!
"Egh..! Apa..!"
Tiba-tiba satu tombak cahaya itu berhasil menusuk pria api itu belakang.
"Maaf, tubuh itu bukan milikmu, tapi... punya Saudaraku."
Mendengar itu membuat pria api itu semakin kesal dan langsung mengarahkan tinju dengan panas seperti matahari.
"Dasar makhluk rendahan.!!!"
Pukulan itu semakin dekat ke arahnya dan itu hanya membuat Aristoteles semakin tersenyum.
"Paschimmu Destum...," gumam.
Bom! Bur...!
"Egh...!"
Aku menutup mataku dengan kedua tanganku, karena cahaya yang sangat menyilaukan ini tiba-tiba muncul di tengah kekacauan hebat ini.
"Apa..., apa yang sebenarnya terjadi?"
Tiba-tiba aku berada di tempat lain lagi dan kali ini tempatnya sangatlah damai.
"Sekarang di mana aku..., eh?"
"Eak... eak...."
Aku mendengar tangisan seorang bayi dan aku melihat dua pasangan suami istri itu tampak sangat bahagia melihat bayinya.
Karena penasaran aku maju dan melihat wajah kedua pasangan ini, sesaat melihatnya membuatku sangat terkejut.
"Mereka kan... Putoles dan Clearita! Kupikir mereka berdua sudah mati, dan lagi Putoles...."
Lalu aku melihat bayi itu menangis, sekarang aku mengerti, sekarang mereka sudah menikah dan tampak usaha Putoles ini tidak sia-sia mendapatkan cintanya.
"Sayang, nama apa yang cocok diberikan untuk Putra kecil kita ini?" Tanya Clearita.
"Nama ya, bagaimana kalau Aristoteles..., eh?" Jawab Putoles dan tiba-tiba air matanya keluar terus. "Eh? Hehe... kenapa, kenapa air mataku keluar, ya?"
Putoles melihat istrinya dan tampak Clearita menangis juga.
"Maaf, membuatmu menangis...." Sembari menghapus air mata istrinya itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya saja... kenapa aku sedih mendengar nama itu, apa kamu tahu dari mana kamu dapat nama itu?"
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba nama itu terlintas dipikiranku dan entah kenapa juga ini membuatku sedih mengingat nama itu. Tapi satu hal yang kuingat pengguna nama ini adalah, orangnya sangat hebat dan pintar."
Clearita tersenyum dan berkata:
"Begitu ya, bagaimana kalau memberikan Putra kita dengan nama itu, mungkin dia bisa menjadi orang yang kamu sebut tadi."
"Iya." Putoles langsung menggendong bayi kecilnya itu. "Mulai sekarang namamu adalah Aristoteles, orang yang akan mengubah sejarah umat manusia kelak nanti."
Dun....
Tiba-tiba aku sudah berada di tempat yang sangat gelap, tapi banyak pertanyaan terus terlintas dipikiranku, kenapa mereka bisa lupa sosok Aristoteles yang dekat dengannya? Kenapa tiba-tiba semuanya kembali ke sedia kala tanpa adanya sedikit pun kekacauan yang disebabkan oleh orang-orang itu?
"Jadi selama ini..., Aristoteles yang kita kenal sekarang adalah anak mereka berdua, bukan Aristoteles yang menjadi 'Heredis' itu."
Tiba-tiba muncul sebuah cahaya kecil, dan cahaya itu semakin membesar hingga menutupi seluruh pandanganku.
"Egh...!"
...•••...
...•••...
...•••...
"Eh? Sekarang aku ada di mana lagi?"
Tiba-tiba aku berada di ruangan asing lagi dan di depanku ada sebuah singgasana, ini mengingatkanku saat melawan harimau putih itu.
[Selamat, kamu telah melewati sembilan tantangan dan sekarang kamu berada di lantai 10.]
[Tantangan terakhirmu adalah...]
[Tunjukkan dominasimu di dunia ini.]
Tiba-tiba muncul jendela sistem dan itu membuatku bingung saat melihatnya.
"Dominasi...?"
__ADS_1