
Pukul 06.56
"Egh..! kepalaku masih pusing...." Sembari bangun dari lantai dingin dengan memegang kepalanya yang berat itu.
Semuanya terlihat kabur dan mengedipkan beberapa kali matanya agar semuanya terlihat jelas. Dia melihat ke arah dinding untuk melihat jam.
"Pukul tujuh...."
Aku bangkit dan berdiri, lalu aku berjalan ke arah jendela dan membukanya.
"Matahari sangat cerah, aku harus pergi ke rumah sakit sekarang, Rena dan Reno pasti sudah bangun."
Aku langsung pergi ke kamarku dan bersih-bersih untuk siap berangkat ke rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian....
"Baiklah, semuanya sudah beres dan aku juga harus membelikan mereka sesuatu untuk dimakan di sana. Tapi, sebelum itu...."
Aku mencoba jendela sistem lagi, saat membukanya tadi di kamar mandi sungguh membuatku terkejut, sebab aku mendapatkan penalti karena tidak menyelesaikan quest harian.
[Peringatan!
Kamu menerima hukuman karena gagal menyelesaikan quest harian. Seluruh hak warisan diberikan kepadamu disegel sementara sampai waktu hukuman habis.
...Batas waktu...
...01.45.55...
...(05.00.00)...
(Shop, pemulihan, inventori, skill, level up telah dinonaktifkan.)]
"Memang benar aku tak bisa menggunakan skill-ku sama sekali dan tidak bisa memanggil Norum juga. Tapi, kekuatan fisikku tidak menurun sama sekali."
Aku keluar dari rumah sementara dan melakukan beberapa gerakan beladiri Taekwondo dan gaya tarung bebas.
Punch!
Dimulai dari tinju....
Kuk!
Kaki....
Punch! Kuk!
Dan aku melalukan itu terus selagi pemanasan sementara.
Tiga menit kemudian....
"Kekuatan fisikku benar-benar tidak menurun melainkan bertambah kuat setelah menyelesaikan quest 'Hades' itu."
Aku mencoba bermeditasi dan merasakan aliran Mana dalam diriku.
"Perkembangan Mana-ku seperti waktu dulu hanya mengalami sedikit perkembangan." Aku langsung berdiri dan melihat kedua tanganku. "Lagian, kekuatan ini bukan milikku melainkan hanya pinjaman saja."
Sekarang aku merenungi diriku sementara bahwa aku kembali diriku seperti dulu lagi pecundang, lemah, dan tidak bisa apa-apa.
Mengingat itu membuatku sedikit lega dan menghela napas, setidaknya ini bisa membuatku sadar bahwa segala sesuatu yang besar pasti ada timbal baliknya.
"Setidaknya hukuman ini bisa memberikan aku istirahat sementara ini. Tapi, apa 'Mereka' akan datang untuk membunuhku juga? Jika itu memang tujuan mereka, berarti orang yang sudah mewarisi kekuatan ini adalah orang-orang yang memiliki kecintaan sangat besar terhadap manusia. Apa aku memiliki perasaan seperti itu juga?"
Mengingat kembali semua beban yang aku terima ini membuat sedikit pusing dan merasa sangat terbebani tanggung jawab besar.
"Hm?"
...•••...
"Nak, lelaki sejati adalah lelaki yang bisa memikul beban besar yang ada dipundaknya dan berhasil menyelesaikan masalahnya. Jika ada sebuah tanggung jawab besar yang tiba-tiba datang padamu, jangan mundur... tapi hadapi! Inilah satu-satunya menunjukkan kekuatan sejatimu."
...•••...
Tiba-tiba perkataan Ayah terlintas begitu saja di pikiranku dan itu membuatku sedikit lega mengingatnya.
"Ayah, kamu benar-benar orang yang bodoh." Sembari tersenyum. "Tapi, aku suka sikapmu yang kuat itu."
Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya aku pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rena dan Reno.
...•••...
...•••...
Sesaat tiba di rumah sakit....
__ADS_1
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan menuju di sebuah kamar pasien dengan nomor 210-A.
Tok... Tok... Tok....
Krak....
"Permisi...."
Aku membuka pintu secara perlahan setelah mengetuknya berapa kali.
"Ah, Kakak!"
"Yeah, Kakak datang!"
Aku tersenyum dan senang melihat kedua Adikku ini baik-baik saja, aku langsung maju ke arah mereka dan memberikannya hadiah.
"Ini makanlah, maaf Kakak hanya bawa satu saja."
"Wah.., pizza!"
"Rena, bagi dong, jangan ambil sendiri."
"Sudah, sudah, kalau habis nanti Lakak belikan lagi..., hm?" Aku langsung melirik ke arah sofa di samping dan tampak seorang wanita dengan kacamatanya. "Zara! Maaf, aku tidak menyadari kamu ada di sini."
"Tidak apa-apa, aku juga tak ingin mengacaukan suasana keluarga ini."
"Kamu sedang apa di sini?"
"Sebenarnya Susan yang memintaku ke sini menjaga mereka, sebab dia ada kuliah dadakan karena dosennya tiba-tiba pindah jadwal."
"Begitu ya, jadi keadaan Rena dan Reno bagaimana?"
"Jangan khawatir, tidak ada efek samping sama sekali dari sihirku ini, justru aku sangat bersyukur mereka bisa melupakan tentang dungeon itu."
Setelah mendengar itu membuatku sedikit lega, tapi... orang yang bisa masuk ke dungeon hanya orang-orang telah berhasil membangkitkan sepenuhnya Beneficia di dalam dirinya.
Karena kasus anak-anak bisa masuk ke dalam dungeon sudah sering terjadi di mana-mana dan dikatakan mereka bisa Terbangkitkan kapan pun, sebab sudah ada Mana yang tertanam di dalam diri mereka.
"Berarti mereka berdua bisa Terbangkitkan kapan pun saja, padahal aku sangat berharap Rena dan Reno bisa menjalani hidupnya dengan tenang tanpa harus terlibat bahaya dengan dungeon."
Zara memperhatikanku dari sudut lain, tampak aku sangat sedih tapi kesedihan itu tidak terlihat jelas di wajahku. Karena Zara tipe wanita bisa memahami karakteristik seseorang jika dia memperhatikannya dengan serius.
"Aku sudah mendengar sepenuhnya dari Susan, bahwa katanya Arkha ini tidak menyukai atau lebih tepatnya sangat membenci orang-orang Terbangkitkan, Susan mengatakan bahwa Arkha tidak ingin memberitahukan alasannya dan bahkan mengutuk dirinya sendiri karena telah Terbangkitkan juga." Sembari melirik kedua anak kembar itu yang lahap memakan pizza. "Pasti dia sangat terpukul mengetahui adik-adiknya sudah menjadi seperti dirinya kelak nanti."
"Arkha, kamu punya waktu luang?"
"Sebenarnya aku luang selama satu hari ini, apa ada yang ingin kamu beritahukan padaku?"
"Baguslah kalau begitu, sebenarnya Pak Adrian berpesan padaku bahwa jika kamu punya waktu luang, dia ingin kamu menjenguknya sementara karena ada yang ingin dia bahas denganmu."
"Aku mengerti, tapi bagaimana dengan mereka?" Sembari melirik ke arah si kembar.
"Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga mereka."
Aku hanya mengangguk saja lalu mencium kening kedua Adikku ini.
"Kakak mau pergi ke mana?" Tanya Reno.
"Kakak harus pergi mengurus biaya pengobatan kalian, jangan khawatir, ada Zara menemani kalian."
Mereka berdua mengangguk dan sekali lagi aku meminta Zara menjaga mereka baik-baik, lalu aku pergi ke arah pintu dan keluar.
Krak....
"Dia benar-benar sangat berbeda dan lagi... sangat berkharisma. Susan bodoh itu, tidak menyadari perubahan drastis cowoknya ini, jika dia tidak cepat orang lain akan merebut dia darinya."
...•••...
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit ini lagi dan mencari ruangan Pak Adrian, aku sudah mendengar bahwa semua korban dari dungeon di sekolah itu berada di rumah sakit ini.
"Kata suster itu Pak Adrian berada di ruangan 204-A... ah! Ini dia."
Tok... Tok... Tok....
Aku berdiri tepat di depan pintunya dan mengetok pintu itu beberapa kali.
"Masuklah!"
Setelah mendengar suara dalam kamar ini, aku membuka secara perlahan pintu itu. Sesaat membukanya cukup membuatku terkejut melihat ini.
"Pak! Bukankah sebaiknya Anda istirahat dulu, kenapa malah latihan?"
"Ah, Tuan Peteng, akhirnya kamu datang juga." Sembari meletakkan pedang kayunya itu. "Jika aku diam saja dan tidur mulu, hanya akan memperlama penyembuhanku."
__ADS_1
Yang dikatakannya ada benarnya, orang-orang seperti kita ini yang telah Terbangkitkan sepenuhnya akan memiliki regenerasi atau pemulihan cepat tidak seperti orang biasa, mengingat orang-orang yang telah Terbangkitkan harus berkembang terus menerus sampai dirinya sendiri memutuskan berhenti.
Pak Adrian atau nama lengkapnya Adrian Handaru salah satunya, dia orang yang memiliki sejuta potensi hebat dan tak ingin melemahkan sedikit pun potensi itu jika hanya satu halangan saja.
"Anda benar-benar hebat, dengan satu tangan seperti itu masih leluasa mengayunkan pedang dengan hebat. Jadi, apa yang ingin Bapak ingin bahas denganku?"
"Benar, sudah waktunya aku mengatakan ini." Pak Adrian pergi ke arah kasurnya dan duduk di tepinya. "Apa kamu ingin jadi muridku?"
"Murid?"
"Iya, mengingat perkembanganmu barusan saat di dungeon itu mungkin kamu berpikir tak ingin menerima guru siapa pun. Memang aku akui, aku tidak pantas mengguruimu seenaknya. Tapi... ada potensi hebat yang tersembunyi dalam dirimu dan aku tak ingin menyia-nyiakan potensi besar itu."
Mendengar itu membuatku sedikit tersanjung dan penasaran potensi apa yang tersembunyi dalam diriku selain kekuatan sistem ini. Di saat aku berpikir bahwa akhirnya orang kuat mengakui keberadaanku, konon katanya jika orang-orang hebat mengakui dirimu maka tak ada siapa pun yang akan menghalangimu menjadi kuat lagi.
"Aku akan menerimanya jika yang Bapak ajarkan kepadaku sangat berguna."
Pak Adrian tersenyum mendengar itu dan berkata:
"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu, sebenarnya yang ingin aku ajari kamu adalah cara menggunakan Aura. Bagaimana kamu tertarik?"
Mendengar itu membuatku sedikit terkejut, aku sudah mendengar dari Susan bahwa pengguna Aura dan Mana hampir sama. Tapi, penggunaan Mana jangkauannya luas dan bisa di lepas kapan pun, sedangkan Aura hanya digunakan sebagai pelindung diri dari luar maupun dalam karena Aura digunakan hanya untuk pertahanan saja dan memperkuat tubuh serta benda yang digenggam di tangan.
"Aku sudah mendengarnya dari Susan, tapi... bagaimana dia tahu betul semua itu, apa dia juga mempelajarinya dari Anda?"
"Itu benar, Susan tahu kelemahan dirinya bahwa dia tidak bisa terlalu bergantung pada kemampuan teman-temannya untuk melindungi dirinya. Dia memintaku cara menggunakan Aura agar bisa menjaga dirinya sendiri."
Mendengar itu membuatku semakin yakin kenapa Susan begitu hebat saat menghajar monster-monster itu, padahal dia seorang Support yang bertugas menjaga punggung temannya, tapi malah aku selalu dilindungi olehnya.
"Baiklah, aku terima, mengingat aku juga harus menjadi sangat kuat secepat mungkin!"
"Semangat muda, aku suka itu," pikirnya sembari tersenyum. "Kalau begitu, kita lakukan sekarang."
"Eh, sekarang?"
"Bukannya kamu bilang ingin menjadi lebih kuat secepat mungkin. Duduklah di lantai dan meditasi dengan pengaturan napas dengan tenang, aku akan memasukkan sedikit Aura-ku ke dalam tubuhmu untuk membuka titik jalan Aura dalam dirimu."
Aku mengangguk saja dan mengikuti arahannya, setelah meditasi dengan tenang, Pak Adrian meletakkan satu tangannya di punggungku.
"Sedikit panas, tapi... hangat juga."
Seketika perasaan panas itu mulai menyebar ke tubuhku.
"Sudah kuduga, anak ini benar-benar berbakat. Metode ini hampir sama dengan Gratias, tapi bedanya dengan Gratias harus memberikan sepenuhnya kemampuan miliknya ke orang lain. Tapi, metode yang kugunakan ini disebut 'Kaimu,' metode yang sudah lama dipraktekkan di Tiongkok kepada murid-muridnya, metode yang digunakan untuk membuka aliran Chi di dalam diri murid-muridnya, aku bersyukur menjadi orang yang berhasil diajari oleh guru-guru di sana."
Buh...!
Seketika muncul cahaya yang mengelilingi diriku dan rasanya tubuhku semakin panas seperti mandi air mendidih.
"Aura yang sangat hebat!" Pikir Pak Adrian. "Tahanlah, Tuan Peteng! Sebentar lagi selesai."
"Ya!"
Aura yang mengelilingi pemuda ini semakin besar dan Adrian Handaru semakin kesulitan mengendalikannya.
"Aku harus bisa menyentuh inti kesadarannya agar Aura miliknya tidak lepas kendali, aku harus mengirim jiwaku menyelami kesadarannya."
Pak tua ini melakukan sesuatu dan Aura miliknya juga keluar dari tubuhnya, lalu masuk ke tubuh pemuda itu.
...•••...
"Akhirnya aku bisa masuk, tapi... apa-apaan di dalam dirinya ini! Sangat gelap dan hampa."
Pak tua ini terkejut sesaat berhasil memasuki kesadaran pemuda itu, tanpa sadar dia telah berurusan dengan kegelapan yang tidak bisa dia bayangkan.
"Apa-apaan kegelapan menyelimuti Tuan Peteng ini, apa selama ini dia hidup dengan Aura seperti ini? Tapi... Aura yang dia keluarkan di luar barusan terlihat sangat putih dan tenang, di dalam dirinya sangat gelap dan gelisah."
Pak tua itu semakin bingung harus bagaimana membantu pemuda ini, dia tidak tahu apakah harus melanjutkan ini atau berhenti begitu saja? Sebab dia tidak pernah melihat hal seperti ini dalam hidupnya.
"Tidak ada manusia dengan dua Aura dalam hidupnya, karena manusia hanya memiliki satu jiwa setiap tubuhnya. Tapi, bagaimana Tuan Peteng punya dua Aura sekaligus?"
Semakin dipikirkan semakin membuat dia bingung, tapi di tengah kebingungannya itu sesuatu menghampiri.
"Grrrgh...!"
"Aaah..!!"
Pak tua itu kaget dan mundur, sebab sesosok mengerikan telah muncul dari dalam kegelapan.
"Serigala!"
Sosok hewan buas itu semakin mendekati Pak tua itu dan terlihat siap menerkam mangsanya.
"Aku tidak bisa bertarung dengan sosok jiwa tanpa tubuh ini, aku harus bagaimana menghadapi sosok mengerikan itu?"
__ADS_1