Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 95


__ADS_3

Sesaat diriku di umumkan menjadi pilar negara baru (Rank-S) kini media berusaha menyorot diriku dan bahkan meminta wawancara pribadi.


Karena ini sangat merepotkan, aku meminta asosiasi untuk selalu menjaga keluargaku dan kini aku fokus untuk mencari informasi mengenai orang tuaku dari asosiasi.


"Seperti yang kamu katakan, belakangan ini PT. Hanjar secara diam-diam melakukan sesuatu tanpa sepengatahuan kita," ucap Adam.


Saat ini posisiku berada di kantor Master Agus dan dia sendiri memintaku untuk langsung membahas masalah ini setelah evaluasi itu.


"Nak, walaupun kamu sekarang seorang Rank-S, aku minta kamu untuk tak bertindak gegabah," pinta Agus. "Kami memang sudah mengetahui bahwa orang tuamu ada hubungan bisnis dengan PT. Hanjar dan itu itu dilakukan atas perintah orang di belakangya."


"Anda tak perlu khawatir, aku tak akan merusak rencana ini karena aku juga berencana untuk masuk ke sana setelah status Venandi-ku diperbarui."


Mendengar itu membuat Agus dan Adam terkejut dan bertanya kepadaku alasan untuk masuk ke sana.


"Aku dengar mereka juga menerima barang yang dijual dari sisa-sisa bagian monster, aku berencana untuk menjual semua hasil buruanku pada mereka."


"Kamu yakin?" Tanya Adam.


"Memangnya kenapa?"


"Setiap dungeon yang sudah dikonfirmasi asosiasi akan mencatat setiap Venandi dan Protector yang masuk ke dalam dungeon. Dan data masuk dungeon kamu rata-rata Rank-D ke bawah, aku tak yakin mereka akan menerima kualitas monster dengan peringkat rendah," ucap Adam.


"Itu memang benar, PT. Hanjar salah satu perusahaan penghasil senjata sihir besar di negara ini dan sudah banyak uang mereka habiskan hanya untuk membeli banyak bahan langka," sambung Agus.


Yah... semua yang dikatakannya benar dan tak mudah bagi siapa pun untuk masuk ke sana walau hanya sekedar menjual barangnya, itu pun jika barang yang kamu jual melebihi standar mereka.


"Soal itu kalian tak perlu khawatir, belakangan ini aku sering pergi berburu dan mau aku apakan semua hasil loot-ku ini, di jadi kan Soul Poin tapi sayang, aku ingin menjadi kan semua barang ini jadi uang asli karena statusku sudah diperbarui."


Tanpa sadar aku blak-blakan dan membuat mereka bingung.


"Soul Poin? Apa itu?"


"Tidak perlu dipikirkan, aku hanya sedang bermain game tadi. Jadi intinya aku ingin menjual semuanya pada mereka."


"Kalau boleh tahu, kami bisa melihat semua barang itu? Mungkin ada barang yang butuhkan untuk asosiasi," ucap Agus.


Aku hanya mengangguk saja dan memulai membuka inventori milikku.


Brak...


"!"


Saat mengeluarkan semua hasil loot milikku, mereka sangat terkejut. Bukan karena barangnya saja tapi kemampuan memunculkan barangku ini membuat mereka sangat terkejut.


"Entah kenapa semua isi inventori-ku tiba-tiba tambah banyak, padahal di dunia sebelum-sebelumnya aku tak melihat ada loot monter di dalamnya selain senjataku dan potion serta kepingan harta warisan leluluhur. Tapi sekarang tiba-tiba muncul banyak dan mana lagi di mulai dari dunia Hades dan sampai dunia sekarang aku masuki sebelumnya."


Aku sudah memilah semua item-nya sebelum mengekuarkannya dan untung di antara item-item itu ada setiap senjata yang cocok diberikan pada The Arcana.


"Nanti aku akan memberikan mereka lagi hadiah."


Karena semua tingjat item ini sampah (bintang 1) maka aku tak terlalu memerlukannya selain menjadikannya Soul Poin, tapi ini mungkin akan sangat menguntungkan bagi perusahaan pembuat senjata sihir.


"Tuan, apa ini benar hasil jarahan Anda di dalam dungeon?" Tanya Adam yang masih tak percaya apa yang dilihatnya. "Tapi aku tak pernah melihat jenis monster dengan kulit tebal sebagus ini, apa ini benar berasal dari dungeon Rank-E?"


"Semua ini aku dapatkan dari hasil Hidden Dungeon, aku tak tahu berapa tingkatnya. Tapi yang pasti, aku merasakan energi kuat setiap memasukinya dan tentu saja monster-monster di sana melebihi semua perkiraanku."


Memberikan jawaban seperti ini sudah sangat tepat, walau aku sudah memperlihatkan saat aku memunculkan dungeon sendiri, tapi itu masih dalam kategori kemampuan manipulasi ruang dimensi yang seperti diceritakan orang-orang. Aku tak ingin membeberkan terlalu cepat mengenai situasi yang kuhadapi.


Tapi entah kenapa aku merasa aneh dengan sikap Master Agus padaku, sikapnya memang menghormati, tapi aku merasakan penghormatan yang jauh dari kata hormat sesama manusia.


"Baiklah, kami akan memilah item-item yang cocok untuk asosiasi kami."


Adam langsung memanggil bawahannya dan meminta mereka membawa semua item ini ke tempat penyimpanan dan akan memilah barang yang tepat untuk asosiasi.


"Saya permisi dulu Master, Tuan Arkha," pamitnya sembari membungkuk sejenak dan meninggalkan ruangan ini.


Keheningan terjadi di ruangan ini dan sudah berapa detik di antara kami belum ada buka suara. Tampak kami sudah mengerti apa yang perlu dibahas.


Wussh...!


Crang!


Sesaat energi Mana yang terpancarkan dari Agus memenuhi ruangan ini dan sesaat juga ruangan ini aku merasakan adanya Barrier di sekitarnya.


"Dengan ini kita bisa berbicara bebas tanpa gangguan luar."


"Kayaknya Anda ingin membahas sesuatu di luar masalahku."


"Itu benar, kali ini kita akan membahas masalah bagaimana cara menyelamatkan umat manusi dari kehancuran 'Mereka' sebentar lagi."


Wussh...!


Mendengar itu membuatku terkejut dan tanpa sadar aku memancarkan Mana gelapku dan memancarkan aura permusuhan dengan Agus.


"Kamu... apa kamu bagian dari 'Mereka' juga?"


Agus hanya bisa tersenyum dan berdiri dari kursi kantornya lalu berjalan ke arahku. Kami saling berhadapan dan dia benar-benar sangat tinggi seperti seorang atlet.


Bek!


"?"


Tiba-tiba ia menundukkan tubuhnya kepadaku dan sama seperti biasa dilakukan The Arcana padaku.


"Akhirnya... akhirnya aku bertemu denganmu sang 'Penyelamat'."


"Apa?"


Aku terkejut sekaligus bingung, kenapa pria tua ini tiba-tiba seperti ini.


"Tolong berdirilah, aku tidak paham situasinya."


Agus menurutinya dan segera bangkit, aku melihat ia menangis dan segera menghapus air matanya.


"Apa maksudmu aku ini sang 'Penyelamat'?"


Agus hanya bisa terbelalak mendengar itu dan tampak dia kebingungan untuk memulai semua ini yang terjadi secara tiba-tiba.


"Kamu sudah tahu kan '4 Pilar Bumi'?"


"Ya aku tahu, mereka organisasi besar yang sangat berpengaruh."


"Baguslah kamu tahu, dan aku adalah salah satu anggotanya... yang terakhir."


Aku cukup terkejut mengetahuinya bahwa dia adalah anggota dari organisasi itu yang berarti dia juga seorang Inkarnasi sepertiku, tapi apa maksud dia anggota terakhir?


"Kamu pasti bingung, aku akan memberitahukan semuanya secara perlahan..."


Agus menceritakannya bahwa semua berawal saat dirinya beserta keempat master dan tiga saudaranya melakukan pertemuan darurat, di sana dia melihat ramalan mengerikan yang sudah terjadi secara perlahan.


Sesaat ramalan itu terjadi, salah satu dari "Mereka" datang dan berhasil membunuh semua orang di organisasi tersebut dan hanya menyisakan Agus seorang yang masih selamat karena ketiga saudara lainnya berhasil ditangkap sang musuh.

__ADS_1


"Jadi ini alasan kenapa '4 Pilar Bumi' tidak memberikan tanda-tanda kemunculan lagi."


"Itu benar, sudah dua tahun lebih ini aku terus bersembunyi dan dari ramalan Masterku, ia melihatmu menghadapi 'Mereka' sendiri dengan kekuatanmu saja."


"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa aku orang dalam ramalan itu?"


"Itu sudah terlihat jelas saat evaluasi saat itu, aku melihat semuanya dan kamulah orangnya."


Aku masih tak percaya semua ini, tapi berdasarkan yang dia katakan barusan bahwa aku akan menghadapi "Mereka" semua nanti dan itu tidak bisa dibantah lagi, mengingat para pendahuluku juga harus menghadapi takdirnya.


"Jujur saja, aku masih sulit mempercayainya. Tapi semua hal itu benar-benar akan terjadi karena semuanya sudah ada di depan mataku."


Agus mengerti itu dan tersenyum, tiba-tiba ia menunduk lagi sambil memohon padaku.


"Aku Agus Supriyadi, 'Pillar Chair' ketujuh dari Master Koin. Memohon pada sang 'Penyelamat', untuk selalu berada di sisi umat manusia. Aku siap melakukan apa pun walau nyawaku harus diberikan sekalipun demi kelangsungan hidup umat manusia!"


Aku masih terkejut dengan tindakan nekatnya ini, tapi semua yang dia ucapkan itu sangat tulus. Aku hanya bisa menghela napasku dengan berat dan berkata :


"Kumohon berdirilah, itu membuatku tidak nyaman."


Agus menurutinya dan langsung berdiri.


"Tanpa diminta sekalipun aku akan tetap berada dipihak umat kita, memang awalnya aku membenci semuanya tapi itu hanya kebencian seorang remaja yang kehilangan arah. Sekarang semuanya sudah jelas bagiku dan tinggal menunggu waktunya tiba bagi mereka untuk hukuman."


"Terima kasih..."


Walau tubuhnya yang kekar ini, tapi hatinya tampaknya sangat sedih. Kali ini ia tak bisa menahan tangisannya dan kali ini tangisan akan sebuah harapan bersinar terang secara perlahan-lahan.


"Kamu tidak keberatan memberitahukan semuanya tentang 'Mereka' yang sudah dilihat oleh mastermu."


Agus mengangguk sembari menghapus air matanya. Ia tidak tahu banyak tentang "Mereka" karena semua informasi dibatasi dan hanya para master saja boleh mengetahuinya, tapi Agus yang sudah berada di samping masternya selama dua generasi, kini ia mendapatkan banyak informasi bahwa keberadaan "Artifak Sakral" berasal dari sang dewa katanya.


"Dewa?"


"Ya, saat insiden 'Terbukannya gerbang neraka', sang Dewa turun ke Bumi dan menyelamatkan kita semua dengan cahaya sucinya, dan dia juga menganugerahkan manusia dengan 4 'Artifak Sakral' dan orang pertama menerima artifak itu akan menjadi orang yang pertama menerima Beneficia juga."


"Jadi ini asal usul awal mula manusia bisa menggunakan Mana ya."


"Itu benar, sejak insiden itu, secara perlahan-lahan umat manusia mulai mengalami Terbangkitkan dan menerima Beneficia juga. Seharusnya kamu lebih tahu tentang ini karena kamu terhubung dengan sang Dewa."


"Apa kamu bisa mendeskripsikan penampilan Dewa itu, mungkin dia termasuk salah satu pendahuluku."


"Pendahulu?"


"Aku akan memberitahukannya dan tidak banyak, jadi intinya kami ini memang mendekati sosok Dewa. Mungkin lebih tepatnya masih calon karena kami biasa dipanggil pewaris dengan kata lain Heredis."


Agus terkejut mendengar fakta itu. Yah itu memang informasi besar untuk manusia biasa sepertinya, tapi ini adalah tanggung jawab besarku karena sudah menerimanya. Agus mengatakan penampilan dewa itu berdasarkan gambaran ingatan yang diucapkan masternya, bahwa dewa itu memiliki pakaian hitam dari abad-14 dan memakai sebuah topeng aneh berbentuk gagak.


"Topeng berbentuk gagak..."


Seketika aku teringat orang itu, orang pertama dari pendahuluku yang aku lihat masa lalu walau hanya sebentar saja. Orang itu benar-benar memiliki watak seperti seorang dokter baik dan mencoba menghentikan wabah mengerikan saat itu.


"Jadi dia ya, tak kusangka dia yang menyelamatkanku saat bayi."


"Apa 'Penyelamat' mengetahui tentang dia?"


"Aku mengenalnya dan bahkan kami pernah bertemu sekali."


Sebenarnya lebih tepatnya aku hanya melihat masa lalunya, karena aku belum pernah berinteraksi secara langsung dengan para pendahuluku selain Aran saja.


"Berarti 'Artifak Sakral' itu sekarang sudah jatuh di tangan 'Mereka'?"


"Itu benar, aku turut menyesal karena hal itu."


"Oh iya, masih ada satu lagi peninggalan sang Dewa untuk umat manusia."


"Dan apa itu?"


"itu adalah 'Guardian Spirit', ini adalah salah satu kemampuan tempur sangat hebat yang mampu memunculkan satu penjaga yang sangat hebat."


"Sekarang di mana pemilik kemampuan itu?"


"Sekarang ada pada dirimu."


"Aku?"


Aku terkejut mendengarnya karena belakangan ini aku tak pernah menerima kemampuan dari sistem mengenai memunculkan penjaga hebar selain The Arcana.


"Ya, kemampuan itu sekarang ada pada dirimu. Walau sangat kecil, tapi aku masih bisa merasakannya karena sudah bertemu sering kali dengan pemilik sebelum-sebelumnya."


Agus mengatakan bahwa "Guardian Spirit" ini berasal dari sosok dewa yang menyerupai dewa kematian. Dan dewa itu muncul dalam mimpi seseorang yang dikenal dengan nama Moris.


"Orang hitam dan tinggi yang kamu temui waktu itu sebenarnya adalah sosoknya Moris. Aku sangat terkejut saat kamu memberitahukan ciri-cirinya waktu itu dan sesuai perkiraanku ternyata itu dia, tapi sayang itu hanya sosok yang menyerupainya."


"Berarti orang yang mendatangiku waktu itu..."


"...Itu 'Guardian Spirit'-nya, saat ini tubuh asli Moris kami makamkan secara rahasia dan dijaga ketat. Kami tak ingin seseorang memanfaatkan tubuhnya hanya untuk meneliti kemampuannya itu, tapi untungnya 'Guardian Spirit' bisa dipindahkan atas kehendak pemiliknya dan kamu orang yang ketiga."


"Tunggu, ketiga? Lalu yang kedua siapa?"


"Tentu saja yaitu ayahmu, Angga Pranadipa."


Aku terkejut mendengar itu dan tak menyangka jika Ayahku memiliki kemampuan sehebat ini, tapi padahal diakan hanya manusia biasa.


"Moris dan Angga berasal dari panti asuhan yang sama dan mereka sudah seperti saudara, tak heran sebelum Moris mati ia langsung mempercayakan kemampuannya ke ayahmu tanpa disadarinya. Dan kemampuan ini hanya bisa diberikan kepada orang yang sangat dekat dan dipercayai sekaligus disayanginya."


Mendengar itu seketika membuatku sedikit sedih, mungkin tanpa sadar Ayah memberikan kemampuan ini kepadaku karena sangat berharap agar aku dan Adik-Adikku terlindungi dari mara bahaya apa pun.


Seluruh informasi yang kubutuhkan hanya sedikit, tapi setidaknya aku mendapatkan informasi baru mengenai kemampuan baru yang ditinggalkan oleh pendahuluku ini. Aku meminta ke Agus cara menggunakan "Guardian Spirit" ini, tapi ia tidak tahu apa pun tentang kemampuan ini, dan bahkan Moris pengguna pertamanya hanya kurang dari 30% saja ia bisa gunakan.


"Kalau 30% sudah sekuat itu, bagaimana jadinya sudah mencapai maksimal?"


Walau dibayangkan sekalipun ini sangat menggairahkan bagiku, karena akhirnya aku mendapatkan satu pasak untuk memperkuat diriku lagi dengan cepat.


Karena hal kubutuhkan sudah tidak ada lagi, aku ingin kembali segera dan menjemput si Kembar karena khawatir, para reporter akan menghampiri mereka.


"Tunggu..."


"Masih ada lagi yang ingin kamu katakan?"


"Itu benar, kuharap kamu ikut dalam penutupan dungeon tingkat bencana (Rank-S) ini, dengan kekuatanmu sekarang akan sangat membantu kami."


Dengan statusku sekarang sangat mudah untuk menyelesaikan dungeon rank tinggi, tapi aku langsung teringat sesuatu akan hal mengenai sistem ini. Bahwa ia akan membawaku secara tiba-tiba lagi ke dunia asingnya dengan waktu tak menentu.


"Tergantung..."


"Tergantung?"


"Tergantung apakah aku punya waktu, karena biasanya aku langsung dipanggil untuk melaksanakan ujian dari 'Dia'."


Setelah mengatakan itu aku langsung pergi.

__ADS_1


Agus hanya bisa bersandar lega dengan perasaan senangnya, karena akhirnya semua usahanya telah terbayarkan.


"Terima kasih atas semua dukungan kalian, sebentar lagi aku akan ikut bergabung dengan kalian semua."


Seolah-olah besok adalah akhir baginya, tapi pikirnya ini masih terlalu cepat untuk bisa merayakannya karena ini awal dari semua masalah besar yang akan menghujani umat manusia.


...•••...


...•••...


Di sebuah rumah sakit...


Klak... Ngek...


"Kak Susan!"


Sesaat pintu itu didorong, tampak dua anak kembar yang sangat bersemangat ingin bertemu seseorang.


"Ah, kalian..."


"Hehe, kami sangat rindu dengan Kak Susan. Apa Kakak sudah sembuh?" Tanya Reno.


"Iya, apa Kak Susan sudah baikan, saat kami sering datang ke sini Kakak masih tidur terus," terang Rena.


Susan hanya bisa tertawa melihat si Kembar dan aku meletakkan buah keranjang di sampingnya.


"Kak Susan, coba tebak, telah terjadi sesuatu hal luar biasa pada Kakak loh!" Ucap Reno yang semangat.


"Ya, saat ini Kakak sudah punya banyak uang dan sekarang rumah kami akan ada kolam renangnya," sambung Rena yang ikut semangat.


"Heh... sungguh?" Susan langsung melirik ke arahku. "Kuharap kamu tidak melakukan pekerjaan yang sangat membahayakan."


Padahal yang seharusnya yang khawatir di sini adalah aku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa saat Susan pingsan. Dengan sikap keras kepalanya itu, hanya bisa membuatku merasa senang karena akhirnya dia baik-baik saja.


"Tidak perlu khawatir, sekarang rank-ku sudah meningkat dan aku dapat banyak uang sekarang."


"Memangnya rank-mu sekarang apa?"


"Karena kamu tak melihat beritanya, maka aku beritahukan... rank-ku sekarang yaitu S."


"Heh?"


"Hm?"


Tampak Susan tak percaya dengan ucapanku dan menatap si Kembar, tampak si Kembar tak mengerti sama sekali tapi ia hanya mengiyakan saja apa yang kukatakan barusan.


"Serius?"


Aku hanya bisa menghela napasku dan menunjukkan lisensi Venandi-ku dan Susan melihatnya.


"Hehe, kamu benar-benar pandai berbohong ya."


"Hei! Apa maksud--"


Sesaat air matanya keluar dan itu membuatku tersentak sesaat melihatnya menangis.


"Kenapa kamu menangis?"


"Tidak... hiks! Aku hanya senang saja, akhirnya Paman dan Bibi tidak perlu khawatir melihatmu sering terluka lagi!"


Mendengar itu aku sangat senang dan tampak si Kembar mulai ikut menangis, Susan menyadari itu langsung memeluk mereka dan mencoba menenangkannya.


"Kalian ingin makan sesuatu? Sekarang Kakak punya banyak uang dan sekarang kita bisa makan apa pun yang kalian mau."


"Kalau begitu, aku ingin pizza!" Reno sangat bersemangat.


"Saat jalan tadi aku melihat ada es krim sangat lezat tadi, aku ingin itu Kak."


Karena Susan tidak diperbolehkan makan makanan luar dan hanya bisa memakan makanan sehat dari rumah sakit. Karena rumah sakit ini milik asosiasi dan mereka berjanji akan terus memantau keadaan Susan.


Klak... Ngak...


Aku langsung berjalan untuk membelikan si Kembar yang mereka inginkan. Dengan uang yang kudapatkan dari hasil menjual separuh item-ku ke asosiasi dan akhirnya aku bisa merenovasi rumah kami dan memberika kolam renang di halaman belakang rumah yang selalu diimpikan si Kembar.


"Untuk jaga-jaga sebaiknya meninggalkan beberapa dari mereka... keluarlah!"


Asap hitam menggumpal keluar dari tubuhku dan membentuk dua orang wanita dengan gaunnya masing-masing.


"Mulai sekarang kalian berdua akan selalu berada di samping Susan dan lindungi dia dari bahaya apa pun."


Set! Set!


Setelah mendengar perintah itu, mereka berdua langsung menghilang dan menuju ke arah Susan. Aku memanggil Sulastri dan Sukmawati untuk menjaga Susan, karena skill-skill mereka sangat cocok untuk melindungi keadaan Susan yang sekarang.


"Setelah naik level, mereka juga mendapatkan beberapa skill baru."


Satu hari ini aku habiskan waktuku hanya untuk bersantai bersama keluarga, sudah banyak hal kulalui untuk bisa mencapai sekarang, walau ke depannya aku harus berjuang keras lagi.


...•••...


...•••...


...•••...


Pukul 00.08


Di sebuah apartemen...


Saat ini aku dan si Kembar berada di apartemen Susan. Susan mengijinkan kami tinggal di tempatnya karena dia khawatir karena beberapa hari ia tak pulang dan takut ada barang-barangnya dicuri oleh maling nantinya.


Karena rumah Ayah dan Ibu direnovasi dan aku meminta mereka untuk tak merubah apa pun pada kamar Ayah dan Ibu, aku juga sudah memasang Barrier di kamarnya guna mencegah siapa pun masuk tanpa izin. Aku mendapatkan kemampuan aneh tak terdiskripsi oleh sistem dan sangat menggunakan kemampuan itu, tapi aku tak paham dari kata-kata yang kuucapkan saat menggunakannya. Dan kemampuan ini aku dapatkan saat menyentuh batu aneh milik Agus waktu itu.


"Mereka berdua tidur sangat nyenyak."


Aku membawa mereka berdua ke kamar Susan dan aku menghabiskan malamku melihat semua statsuku, Norum dan The Arcana.


Deg!


"Egh..."


Tiba-tiba penglihatanku kabur.


"Sekuat apa pun tubuhku, pada akhirnya menemui batasnya juga."


Mungkin efek kelelahan saat evaluasi waktu itu dan belakangan ini juga tidurku sangat kurang karena sibuk menjalani ujian sistem dan leveling.


"Sebaiknya aku tidur segera."


Tidur di atas sofa empuk dan memulai memejamkan mata. Sesaat kegelapan menyelimuti penglihatan ini dan raga pun merespon kegelapan itu dan ikut tertidur ke dalam kegelapan tersebut.


...Waktumu tidak banyak Nak......

__ADS_1


Suara asing bergema di antara kegelapan lelap ini. Kayaknya ketenangan tidak selalu datang dalam tidur, karena tidur selalu mendatangkan namanya mimpi. Dan mimpi sangat berkaitan dengan kegelapan dan kegelapan akan memberikan semua yang kamu impikan dan bahkan mimpi buruk seklipun akan menjadi suatu hal menyenangkan bagi sang kegelapan.


__ADS_2