Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 78


__ADS_3

Kisah berawal dari sebuah kerajaan yang dikuasai oleh keluarga kerajaan Han. Dinasti yang telah berdiri berabad-abad lamanya dan sudah ada sejak 221 SM, keruntuhan dinasti ini dimulai pada 202 SM karena pemberontakan dan 206 SM seluruh keluarga kerajaan dan keturunannya telah dimusnahkan sepenuhnya dari dinasti ini.


Kerajaan ini salah satu kerajaan terbesar dan berkuasa di tanah Cina sejak zaman itu dan masa kejayaan kerajaan ini menemui akhirnya semenjak salah seorang anak kekaisaran melakukan kudeta melalui hasutan dan berbagai tekanan lainnya terhadap rakyat kecilnya, sehingga para rakyat memberontak dan mengikuti apa yang dikatakan anak kaisar tersebut melalui salah satu pengikut setianya yang telah membantunya menjalankan rencananya.


Tapi, justru rencananya berbanding terbalik dan menjadi senjata makan tuan baginya, sebab ada rencana tersembunyi yang telah direncanakan sejak awal oleh kaum pemberontak. Para kaum pemberontak ini ialah para pelayan kekaisaran yang telah lama menyelinap dan melayani keluarga kerajaan sejak itu, para pemberontak mereka adalah rakyat biasa yang berada di kelas petani.


Pemimpin pemberontak dari kelas petani bernama Liu Bang. Ia berhasil menjatuhkan kerajaan ini dan berkuasa serta menjadi kaisar sejak itu.


Setelah Liu Bang mengambil alih kekaisaran dan naik takhta, ia mendapatkan gelar Kaisar Gaozu dan mendirikan sebuah ibu kota di Chang'an. Dan inilah awal mulanya berdirinya Dinasti Han.


Selain itu, Kaisar Gaozu juga mengganti sejarah para raja dari kerajaan China di zaman dulu dengan anggota dari Wangsa Liu. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan adanya pemberontakan, sebab tidak ada yang tahu bahwa di antara keturunan keluarga kerajaan Han, apa masih ada yang hidup setelah pembantaian itu.


Sebelum terjadinya pemberontakan, kaisar Han memiliki tujuh selir dan di antara selir itu memiliki anak-anak yang memiliki bakat-bakat masing-masing, dan di antara anak kaisar ada bernama Aran Han yang paling termuda di antara saudaranya.


"Tuan muda! Tunggu...!"


"Haha! Kejar aku kalau bisa!"


Terlihat anak kecil berlari dengan riang dan dikejar beberapa wanita pelayan di belakangnya. Dan tampaknya anak termuda kaisar ini tidak peduli akan urusan istana, tidak seperti saudara-saudara yang lainnya yang didik untuk mengurus kerajaan.


Brak!


"Aduh..!"


"Tuan muda! Anda tidak apa-apa?"


Seketika anak muda ini menabrak sesuatu dan tampak para pelayan ini sangat khawatir jika anak kaisar mereka kenapa-kenapa.


"Aku tidak apa-apa," ucap anak muda itu sembari bangkit dari jatuhnya. "Eh! Da Ge...!"


Ternyata orang ia tabrak salah satu saudaranya yang paling tua dan para pelayan itu segera bangkit dan membungkukkan badan mereka.


Kakak tertuanya hanya menggelengkan kepalanya sembari memegang kepalanya, dan berkata:


"Xiao Didi, apa kamu bolos lagi dalam pelajaranmu?"


Tampak sang kakak sedikit marah terhadap adik kecilnya.


"Itu..., aku minta maaf! Tolong jangan hukum aku!" Pinta anak muda itu sembari membungkuk.


Sang kakak yang melihat itu hanya menghela napas dan tersenyum, ia meminta para pelayan meninggalkan mereka dan pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kali ini aku akan membiarkanmu bebas sekarang, jika Ayah tahu kamu bolos lagi maka aku tak bisa menolongmu saat itu."


"Iya, iya! Terima kasih Da Ge!"


Tampak anak muda ini sangat senang kakaknya membiarkan ia bebas kali ini, tampak hubungan mereka sangat dekat dan tidak hubungannya dengan saudara-saudara yang lainnya.


"Kayaknya hubungan kalian sangat dekat."


"Iya, hubungan kami memang dekat, dia satu-satunya saudaraku yang paling peduli padaku," ucap Aran sembari tersenyum.


Aku melihat wajah Aran yang tampak sedikit sedih sesaat melihat kenangan ini. Kadang orang yang paling kita sayangi, merekalah duluan yang meninggalkan kita dengan cepat.


Aran membawaku lagi ke tempat di mana ia menghabiskan waktu masa kecilnya dan aku melihat semua itu, benar-benar masa keemasan bagi anak-anak jika berumur sepuluh tahun ke bawah yang mana hanya memikirkan bermain dan bersenang-senang saja.


"Di sinilah awal mula kehancuran keluargaku..."


Kali ini aku diperlihatkan di mana seluruh anak-anak kaisar berkumpul di sebuah ruangan khusus di istana ini, di samping kiri dan kanan ada masing-masing selir duduk di kursi mereka dengan kata lain mereka adalah ibu kandungnya.


"Aku adalah anak termuda di antara saudaraku, dengan kata lain aku anak terakhir dan ibuku seorang selir ketujuh dari kaisar."


"Pasti sulit rasanya mendapatkan perhatian kasih sayang dari orang tua sendiri."


"Ya begitulah, Ayah hanya selalu fokus terhadap kerajaannya dan kami anak-anaknya hanya sebuah alat politik untuknya, sedangkan Ibu hanya selalu bertugas memuaskan hasrat Ayah."


"Kenapa di antara selirnya tidak ada dijadikan permaisuri? Kan bagus untuk meringankan tugas sang kaisar."


"Tidak mudah mengangkat seorang wanita bahkan selir pun jadi seorang permaisuri kerajaan, itu di karena kan Ayah sangat waspada terhadap urusan kerajaan dan tidak mau menyerahkan sembarangan tugas ini juga."


"Itu benar sih. Permaisuri ibarat posisi istri sah dari raja itu sendiri, sedangkan selir bisa dibilang kalau di masaku sekarang hanya sebagai wanita sewaan dan hiburan...." Tiba-tiba aku merasakan sedikit hawa kemarahan darinya dan tanpa sadar aku malah keceplosan, yang mana aku menyinggung orang tuanya. "Maaf, aku mengatakan yang tidak-tidak."


"Kamu tidak perlu minta maaf, memang kenyataannya seperti itu. Para selir memang tidak ada bedanya dengan wanita malam, sebab mereka juga menerima bayaran dan bayarannya tidak sedikit, kamu pasti sudah tahu bayaran apa yang kumaksud."


Aku mengerti apa yang dimaksud bayaran untuk selir terhadap kaisar, tentu saja kehidupan nyaman dan mewah. Mereka tidak akan kekurangan dan kesusahan lagi selama hidup mereka, dan bayaran itu akan dilipat gandakan jika mereka melahirkan keturunan kaisar yang sangat jenius.


Aran memintaku untuk memperhatikan apa yang di diskusikan di ruangan ini dan katanya inilah penyebab Aran harus meninggalkan keluarganya dalam keadaan tak berdaya.


Aku melihat percekcokan antara selir, tampak para ibu dari anak-anak kaisar ini sangat tidak setuju akan hal sesuatu.


"Yang Mulia, kenapa harus Iao Yao yang menerima warisan utama, seharusnya Iao Da yang menerimanya kan dia paling besar di sini?"


Anak-anak kaisar hanya melihat ibu-ibu mereka protes dan di sisi lain banyak yang tidak mendukung Aran pemegang warisan utama keluarga, dan yang mendukung Aran tiada lain hanya ibunya sendiri.


Para selir terus menyerahkan protes mereka sekaligus mengucapkan masing-masing kelebihan anak-anak mereka masing-masing, guna keturunan mereka mendapatkan hak warisan juga.


"Tak kusangka, dibalik sifat dinginnya ternyata ayahmu sangat menyayangimu bahkan dia memberikanmu hak warisan utama, yang bahkan aku tidak tahu warisan semacam apa itu."


"Dia tidak seyayang itu kepadaku, melainkan hal ini sudah direncanakan olehnya bersama Da ge. Lalu warisan utama yang aku terima sebuah kunci rahasia, di mana kunci itu berupa harta leluhur yang mana hanya boleh diwariskan ke salah satu keturunan mereka, dan hal ini terus berlanjut hingga ke generasi Ayah."


"Memangnya apa yang mau dibuka dari kunci itu? Apa semacam harta rahasia gitu?"


"Itu benar, ini semacam harta rahasia. Nanti aku akan tunjukkan, hal ini ada kaitannya denganku setelah menjadi Heredis."


Aku masih penasaran akan apa yang disembunyikan dari balik kunci rahasia itu. Di sisi lain, sang kaisar meminta para selirnya untuk diam dan melarang semuanya membuka mulut sebelum diijinkan, hal ini dipatuhi dengan tenang oleh mereka dan suasana kembali dingin dan tegang.


Kata Aran bahwa alasan dia menerima warisan utama dari sang kaisar karena atas permintaan dari kakak pertamanya. Hal ini dilakukan guna mengawasi saudara-saudaranya yang lain, sebab yang dikatakan Aran bahwa kakak pertamanya memiliki firasat tajam dan intuisi hebat. Selama ini dialah yang membantu sang kaisar dari belakang sebagai penasihat gelapnya.


"Setelah pertemuan keluarga, ternyata semua hal ini sudah didengar oleh mata-mata," ucap Aran sembari melirik ke arah salah pintu.


Aran berjalan ke arah pintu itu dan aku mengikutinya saja, kami berdua menembus pintu bak seperti hantu dan ternyata ada dua pengawal yang sudah sedari tadi menjaga pintu ini.


"Mata-matanya ada di mana, apa kedua penjaga ini?"


"Bukan mereka, tapi di atas sana."


Aku melihat ke atas dan betapa terkejutnya aku melihat ini, ada seseorang di atas sana dan berkamuflase dengan kegelapan dengan sempurna.

__ADS_1


"Tak kusangka pembunuh profesional sudah ada di zaman ini."


"Hal itu sudah biasa, politik dan kekuasaan, pasti ada orang yang ingin merenggut mereka di balik kegelapan."


Aran mengatakan bahwa pembunuh profesional ini salah satu pelayan yang telah menyelinap ke kerajaan dalam waktu lama. Setelah itu, pelayan ini memulai rencananya melalui hasutan ke kakak kedua dari Aran, katanya dialah yang paling membenci keberadaan Aran itu sendiri dan Aran tidak tahu alasannya. Tapi satu hal yang pasti membuat kakak keduanya semakin membenci dirinya, Aran telah ditunjuk sebagai pewaris tahta.


"Berarti posisimu di sini sudah dijamin sejak awal, dong."


"Ya, orang yang telah menerima harta warisan utama atau harta leluhur, dia akan jadi kaisar berikutnya. Jujur saja, Ibu sangat tidak setuju aku ditunjuk sebagai pewaris tahta sebab katanya itu hanya membahayakan diriku, karena terlalu dini menurutnya diberikan kepadaku."


"Kekhawatirannya itu wajar sih. Mana ada seorang ibu melihat anaknya menanggung beban besar seperti itu, di saat ia sendiri saja belum tahu betapa kejamnya hidupnya itu."


Aran hanya diam mendengar itu, setelah beberapa saat ia menghela napasnya dan berkata :


"Kupikir saat itu akulah penyebab keluargaku jadi kacau. Tapi... Da Ge berusaha meyakinkanku dan Ibu, bahwa ia akan mendukungku sepenuhnya dan membantuku hingga menjadi kaisar. Sejak saat itu Da Ge mengajariku dan melatihku setiap hari untuk persiapan ke depannya. Tapi di saat itu juga musuh telah berhasil membuat langkah terakhirnya, karena Da Ge terlalu sibuk menjagaku dan pengawasan yang setiap hari dipantau olehnya di istana kini jarang dilakukan lagi."


Tlak...!


Bing...!


Aku langsung diperlihatkan sebuah pemandangan mengerikan, di mana istana ini mengalami pemberontakan massal oleh rakyatnya sendiri dan banyak korban berjatuhan dari pihak kerajaan maupun penentang.


Hal ini tidak akan pernah terjadi jika sang kakak tertua Aran selalu mengawasi istana ini, karena perhatian penuh ia berikan ke Aran dan itu membuat kakaknya mengalami kelengahan dan tidak menyadari hal ini terjadi.


Aku melihat Aran kecil digendong oleh ibunya dan tampak mereka dikejar beberapa gerombolan pemberontak. Sang ibu berlari terus dan menuju ke salah satu ruangan yang menurutnya akan membuat putranya ini aman.


Brak..!


Krak..!


Ibunya langsung membanting pintu itu dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.


Brak..! Brak..!


Pintu itu terus digedor dan tampak akan rusak kapan saja.


"Ibu ketujuh!"


"Iao Da! Bagaimana kamu ada di sini?"


"Aku langsung pergi ke sini karena firasatku mengatakan di sini tempat yang aman. Jadi, bagaimana keadaan Xiao Didi?"


"Jangan khawatir dia baik-baik saja," jawab ibu sembari menurunkan Aran kecil. "Sayang, tolong tunggu sebentar di sini ya."


Aran kecil hanya mengangguk saja dan sang ibu meminta bantuan ke kakak tertua untuk memindahkan semua tumpukan barang ini. Saat setelah berhasil menyingkirkan semua barang itu, sang kakak tertua terkejut melihatnya, sebab ada sebuah pintu rahasia menuju ke arah luar istana.


"Aku baru tahu ada pintu di sini," ucap kakak.


"Ibu baru mengetahui pintu ini sejak dua tahun lalu. Cepat kalian masuk!"


Sang ibu dengan sedikit panik langsung menggendong Aran kecil dan menyerahkan ke kakaknya.


"Kenapa Ibu hanya diam dan tidak turun?"


Mendengar pertanyaan polos itu membuat hati sang ibu sedikit sesak dan berat.


"Ibu harus menemui Ayahmu dulu. Jadi, tolong ikuti selalu Da Ge-mu ya."


"Xiao Didi, dengar Da Ge ya, mereka mengejar Ibu hanya untuk menjual senjata mereka ke Ibu. Kamu tahu sendiri kan Ibu punya banyak uang," ucap Kakak.


"Oh begitu ya, jadi Ibu hanya ingin membeli barang mereka sekaligus menyumbang juga. Seperti yang Ibu lakukan dari dulu."


Mendengar balasan polos itu membuat sang ibu dan kakak sedikit sesak dan tidak tahu harus menanggapi sikap polosnya ini.


Brak..! Brak...!


Terdengar pintu itu mulai rusak dan sang ibu segera menutup pintunya dan berpesan ke putra kecilnya ini.


"Sayang, dengarkan Ibu. Ibu pernah bilang kalau kamu bersuara keras maka orang-orang akan menjauhimu, kan?" Mendengar itu Aran kecil hanya mengangguk saja. "Jadi mulai sekarang kamu harus diam dan jangan bersuara keras selama bersama Da Ge-mu ya. Kamu boleh bersuara tapi harus kecil dan ikuti semua perintah Da Ge-mu. Mengerti?"


"Baik Bu."


"Anak pintar," balas ibu sembari mencium kening putranya itu dan mengisyaratkan ke kakak putranya ini untuk menjaga diri mereka baik-baik, dan pergi sejauh mungkin dari kerajaan ini.


Setelah pintu ditutup, Aran kecil dan kakaknya segera berlari menelusuri lorong gelap ini, dan hanya satu jalur dari jalan rahasia ini.


Sedangkan di sisi lain, sang Ibu berhasil menutup pintu itu dan menumpuk kembali semua barang-barang itu.


Brak!!!


Seketika pintu berhasil dirusak dan banyak pria bermuka sangar masuk sembari membawa senjata mereka.


"Wah, wah, kita benar-benar beruntung. Sesuai rumor, selir kekaisaran semuanya sangat mantap."


Tatapan para pria kelaparan tertuju pada satu angsa yang anggun yang tak berdaya. Sang ibu hanya diam menangis meratapi ini, tapi di dalam hatinya ia selalu berdoa untuk keselamatan putranya.


"Tidak...!!! Lepaskan...!!"


"Kau mau lari ke mana cantik!"


Sebuah pemandangan mengerikan dan sangat keji di mana tubuhnya dinodai dengan liar.


Tlak..!


Suara jentikan keras terdengar di sampingku.


"Kita lewati saja bagian ini!"


"Ya."


Aku merasakan kemarahan dicampur kesedihan mendalam darinya dan begitu pun aku rasakan sesaat melihat ini.


Bing...!


Kali ini aku diperlihatkan sang kakak berlari menelusuri ke dalam hutan sembari menggendong adiknya.


"Hm?" Aran kecil melihat beberapa orang berpakaian serba hitam berlari ke arah mereka. "Da Ge... ada banyak orang di belakang," ucap Aran dengan berbisik.

__ADS_1


Sang kakak mengetahui hal itu semakin merapatkan gigi-giginya dang sangat kesal di dalam hatinya.


"Sial! Aku sudah punya firasat beberapa kali mengenai hal ini dan aku malah mengabaikannya begitu saja," pikir sang kakak dengan penuh kekesalan. "Tapi, jika aku mengurus mereka terlebih dahulu maka Xiao Didi akan dalam bahaya dan itu akan mengancam nyawanya jika aku tidak ada selalu di sampingnya."


Setelah berlari cukup lama, akhirnya mereka berhenti dan menurunkan Aran kecil dari gendongannya.


"Xiao Didi, dengar Da Ge ya. Mulai sekarang Xiao Didi harus sembunyi di sana dan jangan bersuara sedikit pun sampai Da Ge datang menjemputmu. Mengerti?"


Aran kecil hanya mengangguk saja dan sang kakak mengelus kepala adiknya dengan lembut sembari menunjukkan senyumnya, setelah itu ia langsung pergi meninggalkan adiknya.


"Di sinilah salah satu hal paling buruk yang tidak bisa aku lupakan."


Setelah beberapa menit setelah kepergian kakaknya, Aran kecil tampak jenuh dan keluar dari persembunyiannya.


"Ibu dan Da Ge di mana ya? Aku lapar."


Anak kecil polos ini berjalan tanpa arah dan hanya berjalan terus ke depan. Sampai ia melihat bayang-bayang kakaknya dari kejauhan.


Melihat itu membuat Aran kecil bersemangat dan berlari ke arah sana. Tapi sayang, ia melihat hal paling terburuk dalam hidupnya.


"Da Ge..."


Sebuah pemandangan mengerikan, di mana yang ia lihat sebuah tubuh yang tidak ada kepalanya dan ada beberapa orang berpakaian serba hitam berdiri di sekitarnya.


"Akhirnya selesai juga." Sembari melempar sesuatu ke arah samping.


Klotak..! Klotak..!


Sesuatu telah terlempar ke arah tepat Aran kecil berdiri di balik semak-semak karena tubuhnya yang kecil.


Tak!


"Da... Ge..."


Deg! Deg! Deg!


Ternyata yang terlempar itu sebuah kepala yang telah terlepas dari tubuhnya. Aran kecil melihat sosok kepala yang tak asing itu, seketika napasnya semakin sesak dan raut wajahnya mulai sulit ia kendalikan.


"Aaaahh...!!!"


Tanpa sadar ia berteriak dan mengundang perhatian para pembunuh itu.


"Ternyata masih ada satu. Tangkap dia!"


Aran kecil yang merasa dirinya terancam langsung berlari sekuat mungkin. Dengan insting ingin bertahan hidupnya membuat tubuhnya bergerak sendiri tanpa pikirannya.


"Tangkap bocah itu!"


Para pembunuh itu masih mengejar dirinya dan di sisi lain Aran masih tak percaya apa yang ia lihat barusan.


"Da... Ge...!"


Air matanya mengalir deras dan ia harus berlari terus untuk bertahan hidup walau kakinya mulai terasa sakit.


Tanpa disadari, dirinya telah berada di ujung tebing sebuah gunung dan itu membuatnya terpaksa harus berhenti.


"Hah... hah...!"


Dengan napas terengah-engah dan berusaha mencari jalan lain. Tapi, orang yang memburu dirinya telah sampai di sini.


"Mau lari ke mana lagi anak kecil!"


"Tidak...!"


Klek..!


Aran kecil mundur secara perlahan dan tanpa disadar kakinya udah menyentuh ujung tebing itu, dan itu membuat dirinya sadar dan berbalik.


"Sudahi main kejar-kejarannya, Nak. Saatnya kamu mati!" Ucapnya sembari mengangkat tangannya ke atas.


Shut! Piuh!


Crak!


"Aaakh..!!"


Tiba-tiba sebuah panah kecil dan beracun telah menancam ke dada kirinya dan membuat Aran kecil tanpa sadar mundur dan terjatuh dari tebing tinggi itu.


"Mari kita kembali. Anak itu tidak akan selamat dengan kondisi seperti itu."


Para pembunuh itu meninggalkan lokasi dan pergi sejauh mungkin dari sini.


"Jadi, bagaiman kamu bisa selamat dari kondisi seperti itu?"


"Aku bisa selamat berkat Masterku."


"Master?"


"Ya."


Aran mengangkat tangannya lagi dan menjentikkan jarinya. Sesaat suasana berubah lagi dan aku melihat Aran kecil telah dirawat di sebuah rumah kecil yang berada di dalam hutan.


"Jadi di mana Mastermu?"


"Sebentar lagi dia akan datang," jawab Aran sembari melirik ke arah pintu rumah kecil ini.


Sesaat seorang wanita dewasa masuk dan membawa beberapa obat herbal. Tapi, aku sangat terkejut melihat sesuatu yang mengelilingi wanita itu.


"A... apa-apaan energi yang sangat mencekam ini!"


"Sudah kuduga kamu pasti akan terkejut melihatnya."


"Tentu saja aku sangat terkejut! Aku belum pernah lihat orang dengan energi semencekam seperti ini dan sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang aku lihat selama ini."


"Tentu saja energinya semakin mencekam, sebab ia sudah membunuh lebih dari sepuluh orang dari 'Mereka' pada saat ia hidup."


"Jadi maksudmu apa dia juga..."

__ADS_1


"Ya, dialah orang yang mewarisi kekuatan kematian kepadaku dan mengajariku cara menggunakan Chi. Sang Heredis of Death, Master Arum."


Mendengar itu membuatku sangat terkejut dan aku tak menyangka, ada orang sekuat ini di antara pendahuluku.


__ADS_2